[Vignette] If The World Was Perfect

Untitled-1

January 2016©

Miss A Bae Suzy and EXO Park Chanyeol with slight mentions from EXO Kim Jongin/Kai and INFINITE Kim Myungsoo/L | AU!Siblings, Angst, Comfort/Hurt, Failed-romance, Family | Vignette, Song-fiction | PG 15 |

.

please read these before kindly Wonderwall -Florida: Stadium, Wonderwall Season 2: Chapter 1, A Yell and Pretty Smile

.

Jika saja dunia ini adalah tempat yang sempurna, dibanding berhadapan dengan telunjuk yang saling memancarkan kebencian satu sama lain kita pasti akan saling mengakui keindahan yang ada pada dalam diri kita. –If The World Was Perfect by Verbal Jint (feat. Taeyeon of Girls Generation)

.

.

.

Musim dingin bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan liburan ke pantai. Sekiranya itulah yang dipikirkan oleh Bae Suzy sekarang. Dengan raut wajah bosan, wanita yang menempati kursi tepat di samping pengemudi menyilangkan kedua tangan di atas dada. Memilih untuk menyalurkan kekesalan pada bibir lautan yang menyapa.

Sister, kau seperti troll di film Harry Potter dengan wajah seperti itu, tahu. Ouch, menyeramkan.”

Mencibir sang bungsu sembari mengemudi menjadi opsi yang dijalankan Chanyeol semenjak empatpuluh lima menit ke belakang. Guna mengusir awan mendung yang tidak beranjak dari wajah adiknya semenjak tiga hari yang lalu, sebagai saudara yang baik tentu ia ingin menenangkannya. Bagaimanapun caranya.

“Diam. Mengemudi saja, ” ucapnya tanpa melihat Chanyeol.

Kancing yang terbuka pada mantel berwarna merah marun yang membungkus tubuh perempuan itu dilirik oleh Chanyeol melalui kaca tengah. Tangan kirinya melepaskan diri dari kemudi, beralih menuju penghangat udara yang disetel di depan Suzy. Memastikan kalau pemanas udaranya bekerja dengan baik.

GPS yang terpasang pada dashboard mobil Chanyeol menampilkan titik yang berpendar. Menandakan kalau mereka berdua telah sampai di pantai Daebu-do. Sepintas, aroma laut khas musim dingin merambat penghidu milik Chanyeol ketika ia membuka kaca jendela mobil sedikit.

Yaa, tutup kacanya. Dingin.” Interupsi dari Suzy pun memaksa pitcher rookie LA Dodgers tersebut menekan tombol yang berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan daun jendela.

“Baiklah, begitu saja kok marah,” sahutnya sambil melirik Suzy yang memejam.

Mendapati tanggapan hati yang dimiliki oleh Suzy sedang dalam kondisi tidak baik, Chanyeol memilih mode hening. Dia banyak berubah, pikir Chanyeol. Setelah melalui berbagai macam kesakitan pun tidak serta-merta membuat adik perempuan berstatus tiri itu menjadi kuat ataupun rapuh. Entahlah. Chanyeol sendiri tidak pernah berpikir sejauh itu, nyatanya memang kapasitas kerja lobus milik pemuda Park itu yang terbatas.

Ingin rasanya Chanyeol menggenggam jemari Suzy untuk sekedar menghangatkan dan menenangkannya–walaupun itu tidak membantu sama sekali–dan menghapus gurat kesedihan yang tanpa sadar mewarnai paras wanita yang terkenal flamboyan itu. Namun pemuda itu terlalu takut untuk melakukannya lantaran ancaman mental dan fisik yang tidak segan-segan wanita muda itu layangkan kepadanya.

Setelah puas memandangi raut wajah adiknya yang begitu dingin dan suram, Chanyeol beralih pada garis pantai yang memanjang di depannya. Sejumput sinar mentari sehabis menaikki peraduan membias pada permukaan air laut. Keempat roda yang menggelinding di bawah kerangka mobil mengangkut keduanya menuju tengah pantai. Dengan sengaja, si sulung memarkirkan mobil di sana.

Mesin mobil dimatikan. Tanpa berbicara apa-apa lagi, Suzy pun segera keluar dengan sebelumnya membebaskan sabuk pengaman yang melilitnya.

Nyanyian burung camar yang menggelembung di udara menyapa Suzy ketika ia menempatkan bokong di atas kap mobil. Distorsi yang mengacuu pada zona konvergensi gadis itu perlahan memudar tatkala pemandangan alam di hadapannya menunjukkan pesona. Sejenak membuatnya lupa akan sesaknya dada yang ia rasa.

Tersenyum dengan kecut, Suzy mengempaskan napas ke udara. Sebagai tipikal manusia yang berkehidupan dan berkebangsaan yang bebas, baru kali ini Suzy merasakan sesak yang membelengu seluruh rongga dada. Kenangan dari masa lalu yang begitu pelik, mungkin bisa dijadikan salah satu alasannya. Juga kenyataan dari buah simalakama yang ia tanamkan dalam sosok Kim Jongin terdahulu yang kini harus ia panen seorang diri.

Bagaikan seekor kucing yang bebas pergi jalan ke mana-mana, seperti itulah Suzy ingin menghindari semua orang. Bibirnya begitu kelu untuk berucap kalau ia sudah lelah menjalani masa-masa yang diarunginya seorang diri.

Secangkir kopi yang diperoleh Chanyeol dari vending machine ia berikan kepada Suzy tanpa berucap. Kemudian menyelimuti kaki sang bungsu dengan sepotong selimut bermotif kotak-kotak, mencegah angin laut yang dinginnya menusuk-nusuk meninggalkan jejak rematik dalam tubuh Suzy.

Sebut saja, Chanyeol ingin sekali membawa Suzy ke dalam pelukannya. Chanyeol ingin memecah kegundahan yang dirasakan oleh adiknya. Ia ingin menawarkan pundaknya sebagai sandaran namun lagi-lagi ia mesti siap dengan unsur kontrastif yang akan didapat kalau ia sampai berlaku seperti itu; makian dan ancaman.

“Sudah selesai berpikiran yang tidak-tidaknya, Brother Park? Huh?” cetus Suzy setelah menyesap kopi dalam cangkir.

“Memangnya apa yang kupikirkan?”

Something disgusting as always.

“Hm, I wonder how it would have been nicely heavenly perfect if I was a ‘top player’ over Lyn not a crazy driver who took you to Daebu-do. Now I regret it so much.”

“I thought you were a bad player, either top or below.”

Chanyeol menarik ujung bibirnya sedikit,  “you know me so well, Sist. How can I not love ‘ya?

Tck, suck it, Park Chanyeol.” tukas Suzy dengan senyuman sinis andalannya.

Sesaat perasaan lega turut mewarnai peraasaan pria itu. Suzy masih dapat tersenyum dengan sinis itu sudah lebih dari cukup.

Kesulitan berekspresi yang dialami oleh gadis itu sebenarnya yang membuat Chanyeol merasa kelimpungan. Pasalnya, gadis berkepribadian tegas dan sengit juga obsesif itu kerap seperti ini apabila ia sedang dirundung suatu masalah. Sehingga, langsung menuju persoalan tanpa basa-basi juga menjadi gaya Bae Suzy dalam menyelesaikan perkara.

“Sister, you know how much I love you, ‘rite?”

So, ” tukasnya kepada Chanyeol yang mendekatkan diri kepadanya.

Just tell me, “ bisiknya seraya mendekati daun telinga sang bungsu, “which is guy that ought to be surprised by my rhythm punches; Kim Jongin or Kim Myungsoo?” lanjut Chanyeol dengan senyum miring yang menjadi warnanya.

Ekspresi si bungu sejenak kaku. Sejemang, Suzy kembali mematenkan poker face yang menjadi ujung tombaknya dalam melawan serangan verbal halus yang dilancarkan oleh Park Chanyeol barusan.

Who do you like better? Kim Jongin or Kim Myungsoo?” Chanyeol meluluhkan sederet tawa kecil yang terdengar meremehkan,  “feels like you are tangled by stupid guy and lemon guy. Ouch, mama can’t help but –“

Damn it, Park Chanyeol.” potong Suzy dengan satu tarikan napas dan mata yang memicing namun masih dengan bibir yang mencuat tipis. Menunjukkan betapa ia menikmati penghiburan yang Chanyeol berikan kepadanya. “Aku pikir, kaulah yang begitu memahamiku luar dalam. sampai hal-hal yang begitupun kau tahu. Wow, aku kehabisan kata-kata. Luar biasa kau, Park Chanyeol.”

Sepasang kaki jenjang yang dibungkus oleh denim buatan rumah desainnya, Suzy bawa ke dalam pelukan, seraya duduk dalam posisi memeluk lutut.

“Jika saja dunia ini adalah tempat yang sempurna, dibanding berhadapan dengan telunjuk yang saling memancarkan kebencian satu sama lain kita pasti akan saling mengakui keindahan yang ada pada dalam diri kita. Benar begitu?”

Yang tadinya termangu, Chanyeol membeo pelan, mengiakan. Hati kecilnya pun tidak mampu berbohong. Jika saja dunia ini memang sempurna, cukup ada kau saja di sisiku, Sister. Itu sudah cukup bagiku.

“Jika saja aku sempurna, mungkin sekarang aku sudah bersama dengannya. Bukannya menjadi kelewat batas seperti ini.”

“Oh, kau terlihat seperti orang yang menyesal, Sist. Ada apa denganmu? Ini bukan gayamu sekali.”

“Benarkah?”

Memberantas hawa menggigil di pagi hari, Chanyeol membawa Suzy ke dalam dekapannya. Hatinya boleh berdentum tidak karuan, akan tetapi ini bukan saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi yang ada. Hanya saja, intuisi yang ia punya membawanya untuk berupaya menghilangkan kegelisahan yang tak berwujud dalam diri Suzy.

“Jangan mengharapkan kesempurnaan, Sue. Well, aku memang tidak tahu benar mengenai biduk permasalahanmu makanya aku tidak bisa membantu banyak. Tetapi, ada satu hal pasti yang bisa kaulakukan.”

“Apa itu?”

Chanyeol tersenyum cerah seraya berbisik, “If you could only pray.”

Mendengarnya lantas membuat gadis itu menghembuskan elemen udara dengan kasar. Suzy pikir, jika dunia ini adalah tempat yang sempurna maka orang seperti Chanyeol seharusnya sudah punah sejak zaman Megalitikum.

Ouch, aku menyesal mendengar itu darimu. Alkitab saja jarang kausentuh, berdoa katamu? Ah, sudahlah, lupakan saja ucapanku yang tadi.” ujar Suzy dengan nada mencibir. Ia pun menggedikkan sebelah pundak, mengusir rangkulan Chanyeol yang sedari tadi mengurungnya. “Lepaskan. Masih saja mencari-cari kesempatan, huh?”

Derai tawa keluar dari bibir Chanyeol. Dihadiahi cibiran sinis khas Bae Suzy pun membuat perasaan pria itu sedikit lega. Sehingga tanpa sadar debaran yang selalu muncul ketika ruang lingkup yang ia miliki dijamah oleh presensi Suzy, mengambil alih kemudi perasaannya.

If the world was perfect, you’d be with me right now. And all the bad things that happen to these poor guys, would never happen at all. These poor guys; Kim Jongin and Kim Myungsoo.”

.

.

.

Shut up, Stupido!”

.

.

Tamat(?)


Miss of Beat R, terimakasih atas izinnya untuk mendebutkan Happy-virus Siblings rekaanmu di sini❤🙂

9 responses to “[Vignette] If The World Was Perfect

  1. Chanyeol memang yang paling mengerti suzy luar dalam… ah, sayang nya cinta nya terlarang…
    Ditunggu kelanjutannya miss…
    Fighting… ^^

  2. Ommoo virus lemon guy sm stupid guy sudah mnyebar hihihi…
    Hmmm…chanyeol memang sangat sangat mngerti keadaan suzy luar dlam. Saat suzy sdih, chanyeol selalu brusaha untuk menghiburnya wlaupun dia tau kalau pada akhirna usahanya itu hanya akan mendpatkan cibiran dr sang adik,

  3. Lagi ngebayangin tiap-tiap ekspresi Chanyeol di sanaaa… err? aku suka haha
    jadi gimana akhirna? Suzy sama Baekhyun aja lah #haha

  4. aaaaah keren chanyeol oppa sangat mengerti suzy😄
    ceritanya tentang seorang kakak yang menyayangi sang adik xD
    enaknya pasti punya kakak kayak gtu xD
    baguss kok chinguu😀 ditunggu ff kamu lainnya ya hwaiting ^o^)9

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s