The Witch pt.1

image

Title : The Witch
Author :     Jukijuk
Cast :     Bae Suzy, Kim      Myungsoo, Choi Minho
Genre :    –     Fantasy
Length :    –     Chaptered
Rating :    –     General

Summary :
Siapa sangka kehidupan seorang Bae Suzy yang semula biasa saja menjadi tidak biasa manakala gadis Bae itu menginjak usia 18 tahun. Membuat gadis tinggi semampai ini harus meninggalkan bibinya sendiri untuk berkumpul dengan kaumnya di semenanjung antabrantah.

Satu

Awalnya, kami hanya rakyat biasa yang berkeja sebagai petani. Maksudku, bibiku yang bekerja, bukan aku. Dan sedikit ralat, maksudku sebelum semua kejanggalan yang menjangkit diriku disadari oleh bibiku.

Awalnya, aku hanya gadis biasa yang melakukan semua aktivitas selayak gadis pada umumnya. Aku juga bangun pagi, bernapas, mandi, makan, dan hey! Semua manusia pasti melakukan itu, jadi lupakan tentang aktivitas itu. Pokoknya, aku sama seperti kebanyakan gadis di luaran sana. Yang membedakan hanyalah; satu, ternayata aku beda dengan mereka. Dua, ternyata aku tidak sama seperti mereka. Tiga, ada perbedaan antara aku dan mereka. Dan yang keempat, aku bukan sekaum dengan mereka.

Awalnya, aku sering membantu bibiku membereskan rumah. Mulai dari menyapu, mencuci piring atau baju, memasak, menata jerami di gudang, bahkan sampai membajak sawah sudah pernah kulakukan untuk membantu bibiku. Sebagai rasa terimaksihku teruntuk bibi. Bukankah aku gadis yang kuat? Dan dari sini, terlihat perbedaanku dengan gadis yang lainnya, kan?

Dan akhirnya, semua berubah ketika usiaku menginjak delapanbelas tahun, tepat tiga bulan yang lalu. Aku tanpa sengaja, bahkan aku tak tahu bagaimana bisa gelas yang kugenggam pecah menjadi serpihan-serpihan kecil menyerupai debu, itu salah satunya.

Salah duanya, aku, tanpa kontrol dari kesadaranku sapu yang semula kupakai untuk menyapu, tiba-tiba bergerak tanpa kendali. Saat itu, karena tanganku sedang keseleo karena bermain tanpa was-was.

Dan salah tiganya adalah saat aku melihat teman sekelasku diganggu oleh segerombol siswa barbar yang hendak memukulinya. Bukan sok pahlawan atau apa, dan ini juga tak kusadari. Tiba-tiba aku menerobos gerombolan itu, meninju satu-persatu perut mereka. Dan yang mengerikan, aku menerbangkan mereka. Terbang! Bagaimana mungkin manusia bisa terbang, kan? Dan itu semua karena ulahku.

Dan akhirnya, bibiku, bibi Shin yang harus menanggung malu. Bibi ku dipanggil oleh kepala sekolah karena perbuatanku. Dan karenaku, dia harus memecah tabungannya untuk membiayai perawatan para korbanku itu. Meskipun begitu, bibi tidak pernah memarahiku atau memukulku. Yah, setidaknya tidak dengan perbuatan fisik. Melainkan dengan menatap ku tak suka seakan aku adalah beban hidupnya, ya meskipun itu benar.

Dan salah yang keempat adalah, saat itu aku baru pulang sekolah, hari akhir ujian kenaikan kelas. Aku lelah, sangat lelah. Tapi, bibiku terus menyuruhku ini-itu. Ada tamu, katanya. Aku tak tahu jika aku dan bibi mempunyai kerabat. Setahuku kerabat bibi ya, aku. Dan kerabatku ya, bibi seorang.

Karena sangat kelelahan, dan bibi terus saja menyuruhku, aku kesal. Tidak biasanya aku kesal dengan bibi. Lantas saja aku berapi-api, dan kali ini kusadari mataku memerah. Dan dengan sengaja tiba-tiba api keluar dari tanganku dan, blum! Api melahap rumah bibiku yang malang ini. Tersadar dengan ini semua, aku membawa bibiku keluar rumah. Nyawa lebih mahal dari apapun didunia ini!

“bibi, maafkan aku.” Sesalku. Yah manusia mana yang tidak menyesal jika melakukan kesalahan. Apalagi ini kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.

Bibiku terus saja menghela nafas. Aku semakin bersalah saja. Dia lalu masuk kerumahnya yang sudah menjadi arang itu. Menyelamatkan barang yang masih tersisa.

“sungguh Bi, aku tidak tahu kalau aku bisa memba- maksudku tidak sengaja membakar rumahmu. Aku bahkan tidak tahu kalau aku bisa membakarnya. Maksudku, manusia mana yang bisa membakar sepetak rumah dengan tangan kosong.”

Bibi tak menjawab. Sibuk dengan mengantongi benda-benda yang dirasa masih bisa digunakan.

“ada. Dan itu kau”  kata bibi yang masih tetap sibuk dengan pekerjaan mengantongi barang-barang nya.

Aku sungguh mengerti perangai bibiku. Terlampau mengerti. Dia sedang marah saat ini. Nada bicaranya begitu dingin dan kentara rasa tidak sukanya padaku. Belum lagi dia bersikap acuh saat aku mencoba menjelaskan semuanya.

“maafkan aku, Bi.” Lirihku

Berakhir di gudang tak begitu buruk. Setidaknya aku dan bibi masih bisa berteduh dimalam yang menyesakkan ini. Bibi hanya duduk diam di tumpukkan jerami, menopang dagu sambil mengetukkan jari telunjuk di pipi kanan.

“bibi mau makan apa? Aku hendak pergi ke pedesaan membeli beberapa makanan.” Tawarku pada bibi.

“memangnya uang yang bagaimana yang bisa ditukarkan dengan makanan? Daun?” tanya bibi yang beralih menatapku. Hey! Sudahkah aku mengatakan kalau rumah bibiku berada jauh dari perumahan warga? Jika belum, kalian sudah mengetahuinya barusan

“aku masih menyimpan sisa uang didalam saku, Bi”

“oh, jadi kau sudah merencanakannya semua?”

Setelahnya diam, aku tidak ingin berdebat dengan bibi dan merasa semakin bersalah. Langsung saja aku jalan menuju pedesaan. Mencari beberapa makanan untukku dan bibi. Tidak jauh, hanya sekitar satu jam pergi-pulang dengan berjalan kaki.

Satu roti jahe, satu sup rumput laut, dan dua teh hangat. Oh dan satu lagi, sebungkus biskuit pemberian dari Jinyoung -teman yang tempo lalu kutolong itu- dengan memaksa menyodorkan biskuit ini. Awalnya aku memang menolak, tapi dia terus memaksa dan setelah dipikir-pikir, aku dan bibiku memang membutuhkannya

“terimakasih sudah membantuku, Suzy. Aku harap kita bisa menjadi teman akrab mulai saat ini.” kata Park Jinyoung dengan senyum merekah yang terus menghiasi wajah tampannya, menampakkan deretan gigi besarnya. Aku terkekeh, pemandangan lucu melihatnya tersenyum seperti itu

“sama-sama, Jinyoung. Aku senang membantumu.” Aku juga tersenyum setulus mungkin. Jinyoung lalu pamit pulang. Ibunya sedang sakit katanya, dan ia harus segera pulang.

Aku tentu saja juga langsung bergegas pulang. Mungkin bibi sudah kelaparan menungguku di rum- maksudku gudang. Ah- kenapa aku sering bermaksud ya?

Kaki-kaki jenjangku terus melangkah, tangan terus menggenggam kantong plastic berisi makanan, bibirku terus bersenandung, mataku terus menatap jeli jalanan. Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah bibi. Eh, tunggu. Apa aku barusan mengatakan rumah? Bukankah rumah bibi sudah kubakar? Aduh, maksudku tak sengaja kubakar. Kenapa rumah bibi kembali seperti semula? Bahkan terlihat lebih bagus.

“bi, bagaimana bisa rumah ini kembali seperti semula?” tanyaku begitu masuk ke rumah bibi

Oh, kudapati tamu yang sedang bercengkrama dengan bibi sedang duduk sambil menyesap tehnya. Garis wajahnya terlihat tegas, matanya menajam dibagian ujungnya, bibirnya tipis, hidungnya mancung, terlihat badannya tinggi besar meskipun sedang duduk seperti itu. Bukankah selama ini bibi tak pernah mempunyai tamu? Bukan, bibi bukan seorang yang antisosial. Hanya saja aku jarang melihat bibi bercengkrama dengan penduduk desa. Bahkan mengundang tamu untuk singgah di rumahnya.

“Suz, beri salam pada Mr. Kim.” Perintah bibi menyuruhku menyambut tamunya yang tak kutehaui siapa itu

“selamat malam, Mr. Kim” ucapku sambil membungkuk hormat sesuai interuksi dari bibi

“Duduklah.” Kata laki-laki itu

“Suz, kemasi barangmu sekarang. Mulai besok pagi, kau akan ikut Mr. Kim ke Florie.” Kata bibi. Mata ku serasa mau copot. Seumur-umur, aku tidak pernah mendengar daerah yang bernama Florie. Atau, aku saja yang kurang pengetahuan?

“Florie? Di mana itu? Dan, kenapa aku harus pergi bersama Mr. Kim ini, bi?”

“Suzy, turuti saja perintah bibimu. Besok pagi-pagi buta, kita akan pergi ke Florie. Dan sesampainya di Florie, aku akan menceritakan semuanya.” Jelas Mr. Kim yang seakan menghipnotisku untuk menuruti kata-katanya.

Dan di sinilah aku sekarang. Di kamarku yang sudah kembali seperti semula untuk mengemasi barang-barangku. Memasukka baju yang ada di lemari yang entah sejak kapan sudah kembali dari arang, menjadi bentuk lemari seperti semula. Sepertinya, aku berfirasat jika petualangan baru akan segera di mulai, esok pagi-pagi buta

TBC

Akhirun kata, maafkan jika ceritanya jelek, ribet, atau apalah. Aku cuma iseng iseng hehe🙂
Semoga kalian suka aja deh yaa

Do comment!🙂

32 responses to “The Witch pt.1

  1. Ahh keinget lagi sama harry potter gara2 baca ini kkkk
    Mr. KIM itu Myungsoo? Klo dari deskripsinya sih myungsoo kaliyaa haha. Nextnta dtunggu thor..

  2. aku mikirnya kaya moorim school padahal mungkin kaya harpot hihi *sotoy*
    cerita pertama menarik bikin penasaran, mr. kim siapa? myungsoo kah?? ditunggu next chapternya🙂

  3. aku mikirnya kaya moorim school padahal mungkin kaya harpot hihi *sotoy*
    cerita pertama menarik bikin penasaran, mr. kim siapa? myungsoo kah?? ditunggu next chapternya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s