Oh My Ghost! Chapter 7

© Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

Myungsoo membuka matanya perlahan. Hal yang pertama kali ditangkapnya adalah ibunya kini sedang menggenggam tangannya dengan berlinang air mata.

“Sayang! Cepat panggilkan dokter! Anak kita sudah bangun!” seru wanita itu parau.

Mendengar ucapan istrinya, Tuan Kim segera berlari ke luar kamar, berusaha menemukan dokter yang bertugas mengurus Myungsoo. Tak lama, lelaki berambut putih itu kembali dengan dokter dan beberapa perawat.

Dokter Han yang memang bertugas untuk merawat Myungsoo, segera mengambil alih tubuh pria itu. Setelah memeriksa kedua mata Myungsoo dengan sebuah senter kecil, lelaki itu berdeham. “Kim Myungsoo, kau tahu sekarang berada dimana? Mereka ini siapa?”

Myungsoo mengangguk kecil. “Ayah… Ibu…” suaranya terdengar parau. Tentu saja. Lelaki itu sudah tak sadarkan diri selama kurang lebih tiga puluh hari!

Dokter Han tersenyum mendengar jawaban Myungsoo. Ia lalu menoleh ke arah Tuan dan Nyonya Kim. “Ini sebuah keajaiban bahwa Myungsoo bisa kembali pulih. Dan untungnya, ia tak mengalami amnesia seperti yang biasanya pasien alami. Untuk sekarang, biarkan dia beristirahat dulu. Jangan terlalu memaksanya.”

Dokter Han kemudian pergi diikuti dengan perawat.

“Terima kasih, Dokter!” Kedua orangtua Myungsoo membungkukkan badannya.

“Sayang, sebaiknya kau hubungi Jung Soojung. Gadis itu pasti akan senang dengan kabar ini.”

Tuan Kim mengangguk. Ia segera merogoh ponsel yang ia letakkan di kantong celananya lalu mulai menghubungi Soojung seperti yang diperintahkan Nyonya Kim.

Myungsoo hanya menatap kedua orangtuanya dalam diam. “Soo…jung?”

“Apa? Myungsoo sudah sadar?” kaget Soojung. Ia sontak menoleh pada Minho yang kini sedang menyantap sarapan disampingnya. “Ah, baiklah, Paman. Aku mengerti. Aku akan segera kesana.” Soojung segera mematikan sambungan teleponnya dengan Tuan Kim. “Bagaimana ini, Oppa? Apa yang harus kita lakukan kalau Myungsoo ingat dengan apa yang telah kita lakukan?”

“Kau tenang saja,” ujar Minho seraya memegang kedua pundak Soojung, berusaha menenangkan gadis itu. “Lebih baik, sekarang kita pergi ke rumah sakit. Kita lihat apakah lelaki itu ingat semuanya atau tidak.”

Soojung menarik nafasnya dalam-dalam. Disampingnya, Minho mengusap pundak gadis itu lembut. Soojung lalu mulai membuka pintu kamar inap Myungsoo. Disana sudah ada ayah dan ibu Myungsoo yang menemani.

“Oh, Soojung-ah, Minho-ya, kalian datang bersama-sama?” tanya Nyonya Kim ramah.

Soojung menggeleng kecil.”Tidak. Kami hanya kebetulan bertemu di depan saja, Bi,” bohongnya. Gadis itu lalu menoleh ke arah Myungsoo. Lelaki itu hanya tersenyum simpul padanya. Aneh. Bukankah harusnya ia marah padanya?

“Bagaimana keadaan Myungsoo, Bi?” tanya Minho seraya duduk di kursi kosong di sebelah Tuan Kim.

“Baik. Hanya saja, ia tidak ingat dengan kejadian sebelum kecelakaan.Maka dari itu, kita tidak boleh memaksanya. Kita harus menunggu Myungsoo sampai ia benar-benar pulih.”

Soojung dan Minho mengangguk mengerti. Dalam hati, mereka sangat bersyukur karena posisi mereka untuk saat ini aman.

Sooji masih menatap secarik kertas digenggamannya tanpa berkedip. Ini…

Sooji… Bae Sooji… Chagi-ah… Kekeke~ Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?

Chagi-ah, saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah kembali ke tubuh asalku. Terima kasih. Ini semua berkatmu. Tiga puluh hari yang kita habiskan bersama benar-benar sempurna. Aku bahagia. Tapi, aku sadar kebahagiaan itu tak akan berlangsung lama. Karena aku harus kembali ke tempatku. Jangan cari aku. Kumohon. Aku tak mau kau terluka. 

Mungkin ini memang jalan takdir kita, Sooji. Tapi, percayalah. Tepat di lubuk hatiku yang paling dalam, selalu tersimpan tempat khusus untukmu. Aku mencintaimu.

L

Sooji mengusap kasar pipi bulatnya yang mulai basah. Gadis itu menangis. Kenapa kau pergi, Kim Myungsoo?! Disaat Sooji sudah menemukan arti cintanya padamu, kenapa kau malah pergi?!

Myungsoo menatap tajam Soojung yang kini sibuk menyuapinya. Soojung tahu lelaki itu menatapnya lekat, maka dari itu ia bertanya,”Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Soojung terbelalak begitu Myungsoo memeluknya erat. “A… ada apa, Oppa? Kenapa kau bertingkah seperti ini?”

Myungsoo menggeleng kecil, masih dalam pelukan Soojung. “Tidak ada. Hanya saja… aku sangat merindukanmu. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Rasa bersalah tiba-tiba saja melingkupi perasaan Soojung. Ia benar-benar tak enak hati. Myungso jelas sangat mencintainya, tapi apa yang telah ia lakukan? Namun, mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur. Yang sekarang harus Soojung lakukan adalah kembali ke rencana awal hingga tujuan mereka tercapai.

Tiba-tiba saja pintu kamar inap Myungsoo terbuka, membuat lelaki itu sontak melepaskan pelukannya. Ia tersenyum begitu mendapati ibunya berjalan kearahnya.

“Ibu ada berita bagus. Dokter bilang, kau sudah boleh pulang. Kau pasti senang bukan?”

Myungsoo hanya menggumam.”Ya, aku sudah tidak sabar ingin pulang.”

Sooji menarik nafasnya panjang. Rasanya lelah sekali. Padahal, yang sedari tadi gadis itu lakukan hanyalah mengelap meja. Untung saja Tuan Bang sedang tidak ada. Kalau tidak, habislah ia!

Tiba-tiba saja, pikirannya melayang pada L. Ini sudah tiga hari semenjak L pergi meninggalkannya. Omong-omong, apa yang sedang lelaki itu lakukan? Lelaki itu pasti sedang bermesraan dengan tunangannya! Ch! Harusnya Sooji tak semudah itu terpancing rayuan L!

Sooji kembali terdiam. Sebenarnya, di lubuk hati Sooji yang paling dalam, gadis itu benar-benar merindukan L. Sebenarnya, bisa saja Sooji menemui L. Bukankah L adalah anak dari pengusaha terkenal di Korea? Seharusnya, tak sulit mencari lelaki itu. Namun, Sooji sadar bahwa jika dibandingkan dengan Jung Soojung yang adalah tunangan sah dari L, ia tidak ada apa-apanya.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

Sooji tersentak begitu merasakan Mark Tuan menyikut lengannya. Lelaki itu kini duduk dihadapan Sooji.”Tidak baik melamun di siang bolong begini,” lanjut lelaki itu.

“Aku tidak melamun!” bantah Sooji, yang langsung dibalas Mark dengan kekehannya.

“Omong-omong, pulang kerja nanti kau ada acara?”

Sooji menggeleng.

“Bagaimana kalau kita menonton film? Kudengar ada film yang bagus.”

“Maaf,” ujar Sooji menyesal. “Aku sedang tidak ingin keluar.”

“Kau sakit?” tanya lelaki itu khawatir. Mark segera menempelkan punggung tangannya ke kening Sooji. “Tidak panas,” gumamnya.

“Tidak. Aku hanya sedang banyak pikiran.”

“Kau sedang ada masalah? Cerita padaku. Aku bisa jadi pendengar yang baik. Percayalah!”

Sooji hanya memaksakan senyumannya. Cerita pada Mark bahwa ia jatuh cinta pada seorang hantu? Yang ada, ia malah dianggap gila!

Kim Myungsoo hanya diam sambil menatap kamarnya yang kosong. Ya, saat ini Myungsoo sudah kembali ke rumahnya. Rumahnya yang aman dan tentram. Lelaki itu menarik nafasnya panjang.

Tiba-tiba saja, sekelebat bayangan kejadian malam itu terputar rapi dibenaknya. Bagaimana mesranya Jung Soojung dan Choi Minho. Dan juga apa yang mereka rencanakan pada keluaga Myungsoo. Ya, Myungsoo memang masih mengingat peristiwa malam itu. Namun, saat ini ia memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu sampai ia mengetahui apa rencana Soojung dan Minho selanjutnya.

Noona, tolong ambilkan nasi untukku.” Sangmoon melirik ke arah Soooji. Ia melengos begitu mendapati kakak perempuannya itu tak bergeming sedikitpun Gadis cantik itu kini sibuk mengaduk-aduk nasinya dengan sumpit.

“Aduh!” Sooji meringis kesakitan begitu Sangmoon memukul kepalanya dengan sumpit.

“Hey! Apa yang kau lakukan?! Tidak sopan,” gerutunya.

“Siapa suruh kau melamun?” Sangmoon menjulurkan lidahnya. ” “Kau masih memikirkan L? Sudahlah, lupakan saja dia. Dia pasti sedang sibuk bermesraan dengan tunangannya yang cantik itu?”

Sekarang giliran Sooji memukul kepala adiknya itu dengan sumpit. “Aku tahu. Tidak usah kau perjelas.”

“Dari pada kau memikirkan lelaki yang sekarang entah  berada dimana, lebih baik kau pikirkan perasaan Mark hyeong. Dia masih menunggumu. Kau tahu?”

Sooji hanya menatap adiknya yang kini mengangkat piringnya untuk dicuci di wastafel. Sepertinya, karena pembicaraannya dengan Sooji, ia bahkan lupa bahwa ia berniat tambah tadi.

“Aku tahu.”

Myungsoo saat ini sedang sibuk membaca laporan keuangan perusahaannya. Ia yakin Minho dan Soojung pasti mengutak-atik perusahaannya selama ia tak ada.

“Ini laporan yang kau minta, Pak.”

Myungsoo mengangkat kepalanya lalu mengangguk. “Letakkan saja disitu,” titahnya. Ia kembali sibuk dengan aktivitasnya.

“Oh iya, Pak. Tadi ada surat untukmu.”

Surat? Myungsoo mengernyitkan keningnya. Tumben sekali. Biasanya juga kalau ada surat, pasti diantar kerumahnya. Myungsoo langsung mengambil surat yang diantarkan sekretarisnya. Tidak ada nama pengirimnya. Paling juga ini ulah orang iseng. Namun, meskipun begitu, Myungsoo tetap membuka surat tersebut. Myungsoo membulatkan matana. I… ini…

Kim Mungsoo… Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau tahu adalah aku mengenalmu dan aku tahu Minho dan Soojung merencanakan sesuatu padamu. Maka dari itu dengarkan aku.

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya kuat seraya terus membaca isi surat tersebut.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Minho saat melihat beberapa petugas suruhan Myungsoo menyita beberapa dkumennya.

“Anda ditahan atas tuduhan penggelapan dana perusahaan dan juga percobaan pembunuhan,” polisi yang baru datang segera memasangkan borgolnya pada kedua tangan Minho.

“Apa… yang kalian bicarakan?!”

“Kau pikir aku tidak tahu kau menggelapkan dana perusahaan kita? Kau bahkan memindahkan beberapa aset perusahaan atas namamu! kau juga bukan yang merusak rem mobilku?” ujar Myungsoo akhirnya buka suara.

“Kau… Bagaimana kau tahu?”

“Aku tidak bodoh, Choi Minho.”

“Ayo. Ikut kami,” tuntun petugas pilisi.

“Ah, dan bilang pada Jung Soojung, aku melepaskannya kali ini karena aku pernah mencintainya dengan tulus.”

“Kau ingat semuanya?”

Myungsoo hanya diam seraya menatap kepergian Minho yang dipaksa oleh petugas kepolisian. Ia menghembuskan nafasnya lega. Sepertina,ia bisa sedikit tenang sekarang. Setidaknya, ia sudah mulai menemukan sedikit titik cerah dari maslahnya karena surat sing ini. Ia jadi penasaran, siapa yang mengirim surat itu untuknya?

L mengepalkan kedua tangannya sebelum akhirnya memasuki tubuh salah seorang karyawannya yang bertugas untuk melakukan komputerisasi pada perusahaan mereka. Lelaki itu memejamkan matanya. Lalu membuka matanya perlahan. Ia tersenyum begitu mendapati bahwa kini ia sudah berada di tubuh lelaki itu. Dengan cepat, Myungsoo langsung mengetikkan nama CHOI MINHO. Ia mengutak-atik data Minho. Sedetik kemudian matanya membulat begitu melihat aset yang atas nama Minho. 

L lalu meraih ponsel si lelaki lalu menghubungi nomor seseorang. Setelah panggilannya terhubung, ia langsung berdeham, berharap dengan begitu suaranya akan menyerupai suara ayahnya.

“Ini aku. Aku ingin kau mengecek rekening Choi MInho. Aku yakin kau akan menemukan sesuatu.”

L terdiam sebentar, menunggu seseorang dari seberang sana.

“Kau benar, Tuan. Belakangan ini Tuan Choi sering mendapat kiriman uang dalam jumlah yang tidak sedikit dari orang yang tidak dikenal.”

L tersenyum miris. Seperti dugaannya.

Kim Myungsoo menghembuskan nafasnya perlahan seraya menatap lampu lalu lintas yang kini berwarna merah. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Dengan malas, diraihnya ponselnya yang ia letakkan di atas dashboard mobil. Jung Soojung? Untuk apa lagi gadis itu menghubunginya?

Myungsoo kemudian mengelus perut ratanya. Ah, ia lepar sekali. Benar. Karena beberapa masalah, iabahkan lupa bahwa ia belum makan dari tadi pagi. Myungsoo melirik arlojinya sekilas. Sudah jam empat. Pantas saja.

Myungsoo kemudian tersenyum begitu melihat sebuah restoran cina yang cukup besar di pinggir jalan. Sudah lama ia tak menicipi makanan cina. Tidak ada salahnya mencoba. Setelah lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, Myungsoo segera melajukan mobilnya.

“Selamat datang!”

Myungsoo mengangguk kecil begitu seorang pelayan menyambutnya. Pelayan tersebut segera menuntun Myungsoo ke tempat kosong, tepatnya di sebuah kursi di pojok restoran yang berada di dekat jendela.

“Seilahkan dilihat dulu menunya,” ujar sang pelayan seraya menyerahkan daftar menu dan meninggalkan Myungsoo sendirian. Myungsoo hanya tersenyum seraya mulai membaca satu persatu nama makanan. Sebaiknya, apa yang ia pesan?

Ya! Bae Sooji,cepat terima pesanan dari pengunjung kita.”

“Baik,” seru Sooji. Sooji yang tadinya sibuk membersihkan meja . Kenapa Tuan Bang suka berteriak-teriak? Sooji lalu membalikkan badannya untuk melayani tamu mereka yang baru tiba. Namun, seketika tubuh wanita itu menegang begitu menyadari siapa yang kini ada dihadapannya. Itu…

“L.”

TO BE CONTINUED

Buat yang masih bingung, surat yang dikirim ke kantor Myungsoo itu dia sendiri yang ngirim ke kantornya. Ingat kan waktu Myungsoo masuk ke tubuh Soojung? *mungkin nggak ingat, karna aku lama banget lanjutnya .-.* Myungsoo nulis 2 surat. Satu untuk Sooji, satu lagi untuk dirinya sendiri.

59 responses to “Oh My Ghost! Chapter 7

  1. hoh biar tau rasa minho makanya jgn berkhianat…omo myungzy bertemu apa myung akan ingat suzy?,…

  2. udah lama banget ngga ke wp ini udah ada lanjutannya tapi belom selesai jga hehe
    jadi myungsoo udah sadar… syukurlah…
    kasian suzynyaaa dia galau dehh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s