[Oneshoot] I Choose You

L Infinite, Suzy Miss A & Mark GOT7 (7)

© Poster Channel by: hanhra

Title : I Choose You | Author : dindareginaa | Genre : Friendship, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Mark Tuan & Bae Sooji | Other Cast : Find by yourself!

Read before

Buy One Get One Free

1 | 2

If I could choose again, I’d still choose you

25 Desember 2015

Merry Christmas, Bae Sooji!”

Merry Christmas too, Kim Myungsoo, Mark Tuan!”

“Ini hadiah untukmu.”

Sooji tersenyum seraya menatap bergantian kedua lelaki tampan yang kini ada dihadapannya. Mereka adalah kekasih-kekasihnya. Jangan terkejut kalau Sooji punya pacar lebih dari satu. Di zaman modern ini, bahkan ada orang yang memiliki istri atau suami lebih dari satu. Jadi, kenapa Sooji tidak boleh? Lagi pula, bukankah ia masih berumur 17 tahun?

“Jadi, hadiah siapa dulu yang harus aku ambil?”

“Ambil punyaku dulu,” ujar Myungsoo seraya makin mendekatkan hadiah darinya pada Sooji.

“Punyaku saja,” Mark tak mau kalah. Ia juga mendekatkan hadiah darinya pada Sooji.

Sooji menggelengkan kepalanya. Mereka tetap saja tak pernah akur jika berhubungan dengan dirinya. Namun, meskipun begitu, mereka tetaplah dua sahabat yang tak bisa dipisahkan.

“Baiklah, baiklah. Aku akan mengambilnya langsung.” Sooji lalu mengambil hadiah yang diberikan oleh kekasih-kekasihnya. Pertama, ia membuka hadiah dari Kim Myungsoo. “Wah,” ujar Sooji dengan mata berbinar. “Cantik sekali.” Sooji menatap kagum sebuah kalung dengan bandulan gembok dengan beberapa berlian. sebagai aksesorisnya “Tapi, kenapa sebuah gembok?” tanyanya sedikit bingung.

Myungsoo tersenyum kecil. “Itu artinya, hatimu sudah dikunci dan hanya boleh dibuka oleh si pemegang kunci. Aku,” serunya seraya menunjukkan kalung berbentuk kunci yang kini tengah dipakainya.

Mark mendesis. “Norak sekali. Ya! Hadiahku juga tak kalah bagus darinya.”

“Baiklah, sekarang giliran Mark.” Sooji lalu membuka sebuah bungkusan besar yang tadi Mark berikan padanya. “Wah!” Sooji menatap tak percaya dengan apa yang kini ada ditangannya. Sebuah buku tentang manajemen berjudul Good to Great karya Jim Collins. Buku ini edisi terbatas. Maka dari itu, Sooji terkejut karena Mark bisa mendapatkannya dengan mudah. Sooji bahkan berkeliling untuk mencari buku ini. Tapi hasilnya sama saja. Nihil. “Da… Dari mana kau tahu aku sangat menginginkan buku ini?” tanya Sooji masih tak percaya.

Mark menyunggingkan senumnya, brusaha untuk sedikit sombong. “Bukankah kau bilang kau ingin kuliah di  jurusan manajemen?”

“Wah, terima kasih, Mark Tuan!”

Beginilah kisah percintaan mereka. Jika Myungsoo yang memang mantan seorang player itu adalah seorang yang romantis, lain halnya dengan Mark. Mark adalah orang yang lebih serius dibandingkan Myungsoo dan lebih memperhatikan cita-cita Sooji. Jadi, jika kau jadi Sooji, siapa yang akan lebih kau pilih?

Juli 2016

“Bersulang!”

Sooji, Myungsoo dan Mark menempelkan gelas mereka bersamaan lalu meminum soju mereka dalam sekali teguk.

“Wah, aku tak menyangka kita lulus dengan nilai yang cukup baik,” ujar Sooji memulai pembicaraan. “Apalagi Mark Tuan. Kau lulus dengan nilai sempurna!” Sooji menyikut lengan Mark yang duduk disampingnya. “Selamat!”

Myungsoo bertepuk tangan. “Seperti yang sudah ku duga. Kau memang yang terhebat.” Myungsoo mengacungkan jempolnya ke arah Mark.

Mark hanya tersenyum simpul. “Tentu saja nilaiku harus sempurna. Kalian tahu bukan betapa sulitnya masuk Seoul National University. Apalagi fakultas kedokterannya.” Mark lalu menuangkan soju ke gelas Sooji dan Myungsoo. “Bagaimana dengan kalian?”

“Aku masih tetap pada pendirianku. Aku akan kuliah di jurusan manajemen. Bagaimana denganmu?” Sooji mengalihkan pandangannya pada Myungsoo yang duduk dihadapannya.

“Aku? Aku akan mengambil jurusan fotografi.”

“Kenapa fotografi?” tanya Sooji penasaran.

“Aku hanya ingin melanjutkan hobiku. Lagipula, aku tidak sepintar kalian berdua!”

“Ch. Kenapa kau memilih hobi sebagai masa depanmu? Cobalah dewasa seperti Mark.”

“Kenapa kau cerewet sekali?” balas Myungsoo.

Ya! Sudahlah. Lebih baik kita minum saja,” Mark berusaha menengahi perdebatan Sooji dan Myungsoo, seperti biasa.

Januari 2018

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan, lalu melirik arlojinya sekilas. “Kenapa Mark lama sekali? Tidak biasanya dia terlambat begini.”

“Sabar saja. Mungkin saja dia sedang terjebak macet. Lagipula, kenapa kau kahawatir sekali? Kau tidak pernah begitu saat aku yang terlambat.”

Ya! Itu karena sudah kebiasaanmu selalu terlambat.” Sooji mendelik kesal ke arah Myungsoo.

“Maaf aku terlambat. Ada yang harus ku urus di kampus. Apa kalian sudah lama menunggu?”

Mendengar suara Mark, Sooji dan Myungsoo sontak menoleh. Keduanya tersenyum. “Oh, kau sudah datang? Ayo! Filmnya akan segera dimulai!”

“Ini popcorn-mu.”

“Ini sodamu.”

Sooji tersenyum seraya mengambil makanan dan minuman yang disodorkan kedua kekasihnya padanya. Beruntungnya ia memiliki kekasih yang sangat perhatian padanya.

Ya! Kenapa kalian memilih film yang romantis?” gerutu Myungsoo seraya menatap layar besar dihadapannya. Meskipun Myungsoo adalah sosok yang romantis, tetap saja ia malas jika disuruh menonton film dengan genre yang cengeng.

“Sst, filmnya sudah dimulai!”

“Sedih sekali ya,” ujar Sooji seraya mengusap pelan pipinya yang mulai basah.

“Iya,” jawab Mark.

“Bagaimana filmnya menurutmu, Kim Myungsoo?” Sooji menoleh pada Myungsoo. Namun, sedetik kemudian ia melengos begitu melihat Myungsoo kini tengah tertidur pulas disampingnya. “Ya! Bagaimana kau bisa tidur disaat filmnya sudah mencapai klimaks?!”

“Hei, aku punya ide.”

Sooji mengernyitkan keningnya begitu melihat senyuman Mark yang sangat misterius.

Myungsoo menutup mulutnya yang menguap begitu terbangun. “Oh, filmnya sudah habis?”

Sooji mengangguk. “Iya. Lihat! Kau bahkan tak sadar bahwa filmnya sudah habis!”

“Siapa suruh mengajakku menonton film cengeng itu? Sebaiknya kita segera keluar dari sini.”

Keduanya mengangguk sambil terkekeh melihat wajah Myungsoo.

Myungso mengernyit heran begitu melihat orang-orang yang berpapasan dengannya tertawa cekikikan. Apa ada yang salah dengan dirinya? Kenapa perasaannya jadi tidak enak begini?

“Sooji-ah, apa kau membawa kaca? Aku boleh pinjam?”

Sooji hanya menggumam lalu mengeluarkan kaca dari tas sandangnya. Myungsoo segera mengambil kaca dari tangan Sooji. Mata Myungsoo terbelalak kaget begitu melihat bayangan wajahnya di cermin. Wajahnya yang tampan kini sudah dipenuhi coretan dengan spidol warna merah. Ia sontak melemparkan tatapan mautnya pada Sooji dan juga Mark. “Kalian…”

Sooji dan Mark terkekeh. “Ayo, lari!” seru Mark seraya menggandeng tangan Sooji.

“Hei, kalian mau kemana?!”

Oktober 2020

Cekrek!

“Ya, sudah. Sekarang siapa lagi yang ingin di foto dengan orang yang wisuda?”

“Aku!” seru Myungsoo dan Mark serempak. Keduanya sontak bertatapan. “Ya! Aku dulu!”

Sooji yang kini tengah memakai baju toga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalian… Bisakah sehari saja tak membuat keributan?”

“Jadi, bagaimana? Siapa yang akan di foto selanjutnya?” tanya sang fotografer tak sabaran.

Myungsoo dan Mark saling menatap tajam, lalu membuang muka, membuat Sooji mendesah pasrah. Kenapa hidupnya dipenuhi oleh lelaki tak dewasa seperti mereka? Sooji kemudian memutuskan untuk berdiri ditengah-tengah Myungsoo dan Mark. “Foto sekarang saja, Paman,” seru Sooji seraya menggandeng tangan keduanya.

“1… 2… 3… Katakan kimchi!”

Kimchi!”

Cekrek!

Juni 2023

Bel rumah Sooji berbunyi, pertanda bahwa keluarga Bae telah kedatangan tamu di pagi hari yang cerah ini.

“Tunggu sebentar!” seru Nyonya Bae. Wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu berlari kecil ke arah pintu. Ia tersenyum begitu menyadari siapa yang menjadi tamu pertama mereka. “Oh, Mark Tuan. Kau sudah datang?”

Mark tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya. “Annyeonghaseyo, eomeoni.”

“Masuklah dulu. Sooji sedang bersiap-siap di kamarnya.”

Mark mengangguk lalu mulai mengikuti langkah Nyonya Bae. Baru saja Nyonya Bae mempersilahkan Mark duduk di ruang tamunya, bel rumah mereka kembali berbunyi.

“Tunggu sebentar ya. Aku akan membuka pintu.”

Nyonya Bae lalu meninggalkan Mark sendiri kemudian mulai membuka pintu. Ia kembali tersenyum begitu menyadari siapa yang datang. “Oh, Myungsoo-ya.”

Annyeonghaseyo, eomeoni,” Myungsoo membungkukkan tubuhnya.

“Masuklah dulu. Mark juga baru datang. Sooji masih bersiap-siap di kamarnya.”

Myungsoo tersenyum simpul lalu mengangguk. Ia kemudian mengikuti langkah Nyonya Bae yang menuntunnya ke ruang tamu. “Kalian tunggu saja disini,” ujar wanita tua itu.

“Baik, eomeoni,” seru keduanya serempak.

“Bagaimana pekerjaanmu, Mark?” tanya Myungsoo memulai pembicaraan.

“Ya begitulah. Tidak ada yang spesial. Aku tetap memiliki banyak pasien. Bagaimana denganmu? Kudengar kau diterima sebagai fotografer freelance di sebuah majalah fashion yang cukup terkenal?”

Myungsoo mengangguk kecil. “Baru freelance. Doakan saja mereka puas dengan hasil kerjaku dan akan mengangkatku menjadi pegawai tetap.”

Sooji mematut bayangannya di cermin. Ia tersenyum simpul lalu memoleskan lipstick berwarna soft pink ke bibir mungilnya. Baru saja gadis itu beranjak berdiri saat tak sengaja pandangannya tertuju pada sebuah pigura foto. Itu foto saat Sooji wisuda. Tangan Sooji segera meraih pigura tersebut. Ia terkekeh begitu melihat ekspresi Myungsoo dan Mark. Meskipun Sooji menggandeng mereka, kedua lelaki itu tetap saja membuang muka.

Waktu berjalan sangat cepat sekali. Tak terasa hubungan mereka yang awalnya Sooji kira hanyalah main-main, kini sudah berlangsung selama kurang lebih 8 tahun. Semenjak kehadiran kedua lelaki hebat tersebut, tak pernah sekalipun Sooji merasakan hidupnya sepi. Selalu saja ada yang mereka lakukan untuk membuat Sooji tersenyum.

“Sooji-ah, kekasih-kekasihmu sudah datang!”

Sooji yang mendengar ucapan ibunya dari lantai bawah segera menjawab,”Baik, bu!”

Setelah memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya, Sooji segera turun ke bawah. Ia tak mau membuat kekasih-kekasihnya menunggu lebih lama lagi.

 “Sudah lama menunggu?”

Myungsoo dan Mark yang sedang asik berbicara sontak menoleh ke arah Sooji yang kini sudah berdiri dihadapan mereka.

“Tidak juga,” ujar mereka serentak lalu mulai beranjak berdiri.

“Ayo, Sooji. Biar kuantar.”

Mendengar ucapan Mark, Myungsoo sontak melemparkan tatapan mautnya pada lelaki tampan itu. “Ya! Dia berangkat denganku!”

“Denganku!”

“Aku bilang denganku!”

Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa mereka tak pernah bersikap dewasa? Umur mereka bahkan hampir menginjak 24 tahun. “Kalian…” desah Sooji. “Tak bisakah kalian membuat duniaku tenang sehari saja? Kalian lupa kalau aku ada rapat penting pagi ini? Lebih baik aku berangkat sendiri!” Sooji merogoh kunci mobilnya dari dalam tas dan beranjak meninggalkan kedua lelaki tampan tersebut.

Ya! Tunggu, Bae Sooji!”

“Terima kasih atas kerja sama Anda,” ujar Sooji lalu menjabat tangan wanita yang kini duduk dihadapannya.

Wanita itu hanya tersenyum lalu mengangguk kecil.

“Silahkan diminum, Nyonya.”

Nyonya Lee yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun dari ayah Sooji itu lalu meraih hot americano-nya dan menyeduhnya pelan-pelan. “Omong-omong, Sooji-ssi, apakah kau sudah menikah?”

Sooji tertegun. Menikah? Sejujurnya, tak pernah sekali pun terbersit dibenaknya bahwa suatu hari ia akan menikah. Ia masih menikmati hidupnya bak seorang remaja. “Belum, Nyonya.”

“Ah, begitu? Sudah punya kekasih?” tanya wanita itu lagi.

Sooji lagi-lagi tersenyum kecil. Kenapa wanita tua ini ingin tahu sekali tentang kehidupan pribadinya? “Sudah, Nyonya.”

“Baguslah. Kulihat kau sudah cukup umur untuk membina suatu hubungan yang lebih serius. Siapa tahu kekasihmu sedang mempersiapkan lamaran untukmu.”

Benarkah? Ia bahkan tak pernah sekali pun menyinggung tentang pernikahan dengan Myungsoo dan Mark. Bagaimana mungkin mereka akan melamar Sooji?

Sooji memarkirkan mobil hitamnya ke garasi. Ia tersenyum begitu mendapati mobil yang sudah tak asing baginya terparkir disamping mobilnya. Dengan segera, gadis itu berlari kecil, masuk ke dalam rumah.

“Irene unnie!” panggilnya.

“Kau sudah pulang?” seru seorang wanita yang usianya lebih tua beberapa tahun diatas Sooji.

Sooji menoleh pada Irene. Bisa ia pastikan bahwa gadis itu sedang membantu ibunya memasak di dapur jika dilihat dari celemek yang kini melekat ditubuhnya.

“Kapan kau datang?” Gadis itu berjalan menghampiri kakak sepupunya.

“Baru saja. Kami tidak akan lama. Hanya ingin makan malam disini. Sudah lama aku tidak mencicipi masakan bibi.”

Aigoo. Ini pasti permintaan dari keponakanku. Benar ‘kan?” Sooji mengelus perut buncit Irene. Irene yang memang menikah bulan Agustus lalu kini tengah mengandung dan usia kandungannya kini menginjak bulan ke-3.

“Sudah! Ganti bajumu dulu. Setelah itu kita makan bersama,” titah Nyonya Bae yang entah sejak kapan sudah berada diantara kedua gadis cantik itu.

Sooji terkekeh lalu mengangguk. “Siap, bos!”

“Bagaimana hubunganmu dengan Myungsoo dan Mark?”

Sooji yang saat ini sedang mencuci piring menoleh sedikit pada Irene yang kini tengah memperhatikannya sambil memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya.

“Baik-baik saja.”

“Wah, aku tak menyangka hubungan kalian bisa berlangsung cukup lama.”

“Benar,” Sooji setuju.

Ya! Tapi, kau tak bisa terus-menerus begini. Kau tidak berencana untuk menikahi dua pria sekaligus bukan?”

“Ya Tuhan! Kenapa hari ini semua orang sibuk membicarakan pernikahan? Aku bahkan tak pernah memikirkannya.”

“Oktober ini umurmu sudah 24 tahun. Sudah cukup untuk menikah. Kau harus berpikir lebih matang.”

“Aku tahu,” ujar Sooji mengalah.

“Aku pulang!”

“Oh, So Hyun-ah, kau sudah pulang?”

Gadis yang masih menginjak bangku SMA itu tersenyum pada Irene. Jangan terkejut jika usianya terlampau jauh dengan Soji. Kehadiran Bae So Hyun memang bisa dibilang tak terduga. “Unnie, kau datang?”

Irene tersenyum lalu mengangguk. Sooji yang baru saja selesai mencuci piring  segera duduk dihadapan Irene. “Kenapa lama sekali kau pulang?” tanya Sooji.

“Aku tadi diajak Jin Goo ke luar,” jawab So Hyun.

“Ya Tuhan! Padahal baru kemarin kau menangis karena Sungjae selingkuh dengan sahabatmu, sekarang kau sudah jalan dengan yang lain.”

“Kau tak pernah dengar istilah patah tumbuh hilang berganti? Memangnya aku sepertimu yang hanya berhubungan dengan dua lelaki dalam waktu yang lama?” So Hyun menjulurkan lidahnya.

“Kau ini!”

Mendengar perdebatan Bae bersaudara itu, Irene hanya menggelengkan kepalanya. “So Hun-ah, ganti bajumu setelah itu makan.”

“Baik, unnie,” patuh So Hyun lalu segera beranjak ke kamarnya yang berada di lantai dua.

“Lihat itu! Dia patuh sekali denganmu,” gerutu Sooji yang disambut kekehan oleh Irene.

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan seraya memandangi pemandangan dari balkon rumahnya. Yang bisa dilihatnya hanyalah gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi Seoul.

“Apa yang kau lakukan?”

Sooji menoleh kebelakang lalu tersenyum begitu mendapati So Hyun berjalan kearahnya. “Hanya memikirkan sesuatu.”

So Hyun mengangguk mengerti lalu ikut menatap lurus ke depan.

“So Hyun-ah…”

“Apa?”

“Bagaimana kau tahu kalau kau menyukai Jin Goo?”

So Hyun mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Sooji. Namun, ia sedang tak ingin berdebat dengan kakaknya itu. Ia menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menjawab,”Saat berada dengan Jin Goo, rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku.”

“Lalu?”

“Disaat kau senang atau sedih, kau selalu memikirkannya.”

“Begitu ya?” gumam Sooji.

So Hyun mengangguk. “Kenapa? Kau sedang ada masalah dengan kekasih-kekasihmu?” tanyanya penasaran.

“Tidak. Hanya saja…” Sooji menggantungkan ucapannya. “So Hyun-ah, kalau kau jadi aku, siapa yang akan kau pilih? Kim Myungsoo atau Mark Tuan?”

So Hyun terdiam beberapa saat. “Aku akan pilih… Mark Oppa.”

Sooji mengernyitkan keningnya mendengar jawaban So Hyun. “Kenapa?”

“Karena dia baik, tampan dan pintar. Aku tidak suka lelaki sembrono seperti Kim Myungsoo. Dia mengingatkanku pada Yook Sungjae,” geram So Hyun kesal.

Ah, begitu ya?

“Selamat pagi!”

Sooji mengangkat sebelah alisnya begitu melihat Mark sudah datang ke rumahnya pagi-pagi sekali. Ia seikit heran begitu mendapati lelaki itu datang sendirian. “Dimana Myungsoo?”

“Ah… Dia sudah berangkat kerja. Kami sudah membagi jadwal kami. Aku yang bertugas untuk mengantarmu sedangkan Myungsoo akan menjemputmu nanti.”

Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu saja ada kejutan yang diberikan oleh kekasih-kekasihnya ini.

“Jadi, tunggu apa lagi? Ayo! Kau bisa terlambat nanti!”

“Sooji-ssi, kau dipanggil Tuan Park ke ruangannya,” seru Soojung, salah satu teman kantor Sooji.

Sooji mengangguk kecil. Setelah menyimpan file yang baru saja ia ketik, Sooji segera berjalan menuju ruangan Tuan Park. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh si empunya ruangan, barulah Sooji masuk.

Sooji melebarkan senyumnya begitu keluar dari ruangan Tuan Park. Apa ini mimpi? Sooji mencubit kuat lengannya. Gadis itu meringis kesakitan. Berarti ini tidak mimpi. Tuan Park akan mempromosikannya sebagai manager berhubung Nyonya Kim yang sebelumnya menjabat menjadi manager perusahaan mereka mengundurkan diri karena alasan pribadi. Tuan Bang mengatakan bahwa ia sangat puas dengan kinerja Sooji, apalagi gadis itu berhasil menjalin kerja sama dengan Nyonya Lee yang dikenal sangat susah untuk “ditakhlukkan”.

Sooji segera meraih ponselnya yang ia letakkan di saku roknya. Namun, baru saja gadis itu membuka kontak telepon, ia tertegun.

Disaat kau senang atau sedih, kau selalu memikirkannya.

Jadi, siapa yang harus lebih dulu ia kabari? Kim Myungsoo atau Mark Tuan? Sooji menarik nafasnya panjang, sebelum akhirnya menyentuh layar ponselnya.

Sooji menghentakkan kakinya berirama sambil berkacak pinggang. Diliriknya arlojinya sekilas. Sudah jam 7! Harusnya ia tahu, kalau Mungsoo yang menjemputnya, ia pasti akan lama menunggu! Dasar tuan terlambat!

“Sudah lama menunggu?”

Sooji mempoutkan bibirnya begitu Myungsoo sudah berada dihadapannya. Namun, alisnya terangkat sebelah begitu menyadari sesuatu. “Mobilmu dimana?”

Mendengar pertanyaan Sooji, Myungsoo terkekeh. “Sengaja kutinggalkan. Aku ingin pulang denganmu dengan naik bus. Bukankah terdengar romantis?”

Sooji menggelengkan kepalanya. Benar-benar! Sifat Kim Myungsoo yang player ini memang tak bisa disembuhkan. “Bilang saja kau irit bensin,” gerutu Sooji. “Oh,” Sooji tersentak begitu menyadari tetesan air hujan mengenai kepalanya. “Hujan. Jadi ini yang kau bilang romantis?” sindir gadis itu tajam.

“Tenang saja,” Myungsoo tersenyum lebar. Ia kemudian mengeluarkan sebuah payung lipat dari dalam tas sandangnya. “Ta-da!”

Heol! Apa Kim Myungsoo itu seorang peramal cuaca? Ia bahkan sudah mempesiapkan payung sebelumnya.

“Omong-omong, selamat karena dipromosikan oleh atasanmu!”

Sooji tersenyum lalu mengangguk.

“Ayo,” seru Myungsoo sambil menggenggam tangan Sooji.

Deg… Deg… Deg…

Ada apa dengannya? Kenapa jantungnya berdetak cepat sekali? Ini bahkan bukan pertama kalinya Myungsoo menggenggam tangannya.

“Awas!”

Sooji membulatkan matanya begitu Myungsoo menarik lengan Sooji kuat hingga ia jatuh ke pelukan lelaki tampan itu.

Ya! Kalau naik motor hati-hati!” teriak Myungso pada seorang pengendara motor yang hampir menabrak Sooji. “Kau tidak apa-apa?” tanya khawatir.

“I… Iya.”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan lalu mengganti posisi tidurnya. Ini sudah lima belas menit sejak Sooji berbaring di ranjang empuknya, namun matanya tak kunjung terpejam. Kejadian tadi kembali terngiang dibenaknya. Kenapa ia jadi gugup begitu dihadapan Myungsoo? Sudah lama ia tak merasakan ini. Pasalnya, meskipun Sooji dan Myungsoo serta Mark berkencan kurang lebih 8 tahun, ia tak pernah segugup ini. Oh, Tuhan! Sooji pasti sudah gila!

“1… 2… 3…”

Cekrek!

“Sudah selesai,” ujar Myungsoo pada seorang wanita yang kini menjadi modelnya. Myungsoo lalu mengecek foto-foto yang berhasil diabadikannya lewat kamera profesionalnya. “Bagus,” pujinya pada diirnya sendiri.

Myungsoo kemudian mengelap peluhnya begitu dirasakannya keringatnya bercucuran. Jam sudah menunjukkan pukul 4, tapi matahari tetap tak segan-segan memancarkan sinarnya.

Myungsoo melirik sekelilingnya. Meskpun hari sangat panas, tetap saja banyak orang yang berbelanja di Myengdong. Myungsoo lalu memutuskan untuk berjalan sebentar sebelum pulang. Hingga langkahnya terhenti pada sebuah toko jewelry. Pandangannya tertuju pada sebuah cincin emas putih tipis yang dipajang di etalase toko. Ia tersenyum lalu memutuskan untuk masuk.

Baru saja ia masuk, ia sudah disambut oleh si empunya toko.”Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

“Aku ingin membeli cincin itu,” tunjuk Myungsoo pada cincin yang sedari tadi menarik perhatiannya.

“Tunggu sebentar.”

Myungsoo mengangguk kecil. Selagi ia menunggu wanita muda tersebut membungkus pesanannya, Myungsoo memutuskan untuk melihat-lihat perhiasan yang ada di toko tersebut. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Myungsoo lalu merogoh saku langsung menempelkan ponselnya pada telinganya.

“Halo.”

“…”

“Kebetulan sekali, Markeu. Aku juga ingin mendiskusikan sesuatu denganmu. Baiklah. Aku tunggu kau di tempat biasa satu jam lagi.”

Setelah memasukkan kembali pnselnya ke dalam saku celana, Myungsoo lalu pergi ke kasir. Setelah membayar belanjaannya, barulah lelaki itu pergi.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myungsoo seraya mengaduk kopinya lalu menatap lekat Mark.

“Kau saja dulu.”

“Kau saja.”

“Baiklah. Bagaimana kalau kita sama-sama mengucapkannya?”

Myungsoo mengangguk setuju. Sepertinya boleh juga. Myungsoo lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

“1… 2… 3…”

“Aku akan melamar Sooji.”

Myungsoo yang baru saja akan mengucapkan kalimat yang sama sontak terdiam. Menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkannya. Tangan kanannya mengepal erat cincin yang tadi dibelinya. Untuk melamar Sooji.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Mark sedikit bingung karena lelaki dihadapannya tak juga mengeluarkan sepatah kata.

“Ah, aku lupa. Mungkin karena hal itu tak begitu penting,” bohongnya.

“Begitu? Omong-omong, bagaimana denganmu? Kau tak berniat melamar Sooji?”

Myungsoo memaksakan senyumnya lalu menggeleng. “Kau seperti tidak mengenalku saja. Bukankah kau tahu bahwa aku bukanlah tipe orang yang bisa menjalin suatu hubungan serius seperti pernikahan?”

“Baguslah kalau begitu. Aku jadi kehilangan saingan,” Mark terkekeh. “Aku akan melamarnya nanti malam. Aku sudah memberitahunya bahwa aku akan menjemputnya nanti. Doakan aku ya!”

“Pasti.”

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Banyak hal yang harus ku kerjakan. Sampai jumpa, Myungsoo-ya!”

“Semoga beruntung, Mark Tuan,” ujar Myungsoo seraya memperhatikan punggung Mark yang keluar dari cafe langganan mereka.

Dalam hati, ia tak rela melihat Sooji akan bersanding dengan Mark. Namun, ia sadar bahwa dibandingkan dengan Mark Tuan yang adalah seorang dokter, tentu saja ia tak ada apa-apanya. Ia bahkan belum mendapat pekerjaan tetap. Ia tak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan hal yang pasti. Sooji pasti lebih memilih Mark dari dirinya.

“Ada apa ini? Kenapa kau mengajakku makan malam di luar? Tumben sekali?” tanya Sooji curiga begitu Mark membukakan kursi untuknya. Ia mengernyitkan keningnya. Kenapa di restoran mewah nan klasik ini tidak ada penghuninya kecuali mereka berdua? “Kenapa sepi sekali?”

“Mungkin para penghuni Kota Seoul sedang ingin bermalas-malasan,” bohong Mark. Tentu saja lelaki itu bohong. Ia memang sudah menyewa tempat mahal ini khusus untuk hari spesialnya.

Selanjutnya, sambil menikmati makan malam mereka yang diiringi oleh permainan biola, mereka asik bercengkrama. Mengenang masa lalu. Bagaimana dulu Mark dan Myungsoo memperebutkan Sooji sehingga gadis itu memiliki dua kekasih hingga tentang masa-masa percintaan mereka.

Setelah menyelesaikan makan malam mereka, salah seorang pelayan memberikan dua buah ice cream rasa coklat dengan selai coklat diatasnya dan juga cream serta buah strawberry sebagai hiasan.

“Maaf. Tapi, kami tidak memesan ini,” ujar Sooji sedikit bingung.

Wanita itu tersenyum. “Ini adalah hadiah spesial dari kami untuk pasangan yang sedang berbahagia. Kalau begitu, silahkan dinikmati.”

Mark tersenyum kecil melihat ekspresi Sooji. “Ya sudah. Ayo dimakan sebelum mencair.”

Sooji mengangguk kecil lalu mulai memakan ice cream-nya. Namun, baru disuapan ke-2, Sooji mengernyit heran begitu menemukan sesuatu yang keras dari dalam ice cream miliknya.

“Apa ini?” gumam gadis itu. Namun, sedetik kemudian, ia membulatkan matanya begitu menyadari bahwa itu adalah sebuah cincin dengan berlian mungil ditengahnya. Ia sontak menatap Mark.

Mark tersenyum simpul lalu memegang tangan Sooji. “Bae Sooji, menikahlah denganku.”

Myungsoo membuka matanya perlahan. Matanya yang memang sipit itu semakin menyipit begitu sinar matahari memasuki celah-celah jendela kamarnya. Ia melirik sekilas jam weker yang ada di atas meja di samping ranjangnya. Sudah jam 10? Untung saja hari ini hari minggu. Kalau tidak, ia bisa dimarahi habis-habisan oleh atasannya!

Aku akan melamar Sooji.

Myungsoo menghela nafasnya begitu teringat akan kata-kata Mark semalam. Sebenarnya dari semalam Myungso berniat menelepon Sooji untuk menanyakan jawabannya atas lamaran Mark. Namun, diurungkannya niatnya itu. Sudah pasti Sooji akan menerima lamaran Mark.

Dari pada sakit kepala, lebih baik ia mandi saja. Lelaki itu lalu beranjak ke kamar mandi setelah sebelumnya mengambil handuk hitamnya yang ia gantung di atas kursi.

Myungsoo kini sedang asik menyiram tanaman kesayangan ibunya dengan selang.. Sebenarnya ibunya sempat heran begitu Myungsoo menawarkan diri untuk menyiram tanaman. Tak biasanya anak lelakinya itu menawarkan bantuan.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Myungsoo sedikit terkejut begitu melihat Sooji datang ke rumahnya. Tumben sekali. “Sedang main bola. Ya! Kau tak lihat aku sedang menyiram bunga?”

Sooji terkekeh mendengar jawaban Myungsoo. “Tumben sekali. Ya! Bukan begitu caranya menyiram bunga!” seru Sooji seraya merebut selang dari tangan Myungsoo.

Myungso sedikit tersentak begitu Sooji tak sengaja menyentuh tangannya. Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Myungsoo memutuskan untuk bertanya tentang pertanyaan yang sedari tadi menganggu pikirannya.

“Omong-omong, bagaimana semalam?”

“Semalam apanya?” tanya Sooji masih fokus menyiram bunga.

“Kudengar Mark melamarmu. Jadi, apa jawabanmu?”

“Menurutmu, apa yang ku jawab?” Bukannya menjawab, Soji malah balik bertanya.

Myungsoo terdiam sejenak. “Tentu saja kau akan menerimanya. Bodoh sekali aku karena menanyakan hal yang sudah pasti. Selamat!” Myungsoo mengulurkan tangannya.

Sooji tersenyum simpul seraya menatap tangan Myungsoo yang terulur kearahnya. “Tak perlu memberi ucapan selamat.”

Myungsoo mengeryitkan keningnya, tak mengerti dengan perkataan Sooji. “Maksudmu?”

Sooji kembali tersenyum.

“Maaf,” ujar Sooji seraya mengembalikan cincin tersebut pada Mark.

“Kenapa?”

“Kau ingat saat aku mengatakan bahwa umur kita masih tujuh belas tahun dan aku tak bisa memilih seorang dari kalian?”

Mark mengangguk.

“Kurasa sekarang saatnya aku memilih. Dan aku memilih untuk menjadi sahabat baikmu, Mark Tuan.”

“Kenapa?” tanya Myungsoo masih tak mengerti.

Ya! Kau masih tak mengerti juga? Aku menunggumu untuk melamarku! Apa perlu aku yang lebih dulu melamarmu?” gerutu Sooji.

Mark tersenyum simpul. “Tidak perlu.” Lelaki tampan itu lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“I… Ini…” Sooji menatap tak percaya begitu melihat apa yang Myungsoo pegang sekarang.

“Menikahlah denganku, Bae Sooji.”

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Tentu.”

Suara tepuk tangan terdengar cukup meriah di gedung gereja yang berada di pusat kota Seoul begitu mempelai pengantin selesai mengucapkan janji suci.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Myungsoo lalu mengecup lembut bibir mungil Sooji.

“Selamat, Kim Myungsoo, Bae Sooji!”

Myungsoo dan Sooji tersenyum lalu menyambut uluran tangan Mark Tuan secara bergantian.

“Wah, kau benar-benar cantik sekali!” puji Mark seraya memandangi Sooji dari atas sampai bawah.

Mendengar itu, Myungsoo berdeham. “Ya! Dia itu milikku sekarang!”

Mark terkekeh. “Aku tahu!”

“Kau kapan menyusul kami?” tanya Sooji.

Mark mendesis. “Ya! Kita sudah berpacaran selama 8 tahun dan sekarang dengan mudahnya kau menyuruhku menyusul kalian?”

“Ya! Kau jadi membuatku merasa bersalah!” seru gadis itu.

“Aku hanya bercanda, adikku!” seru Mark seraya mencubit pelan pipi bulat Sooji. “Ya sudah, kalau begitu aku makan dulu ya. Aku tak ingin membuat antrian panjang ini menunggu lebih lama untuk mengucapkan selamat pada kalian.” Mark lalu pergi meninggalkan kedua sejli itu.

“Selamat, unnie!”seru So Hyun seraya memeluk erat Sooji. Disampingnya, Jin Goo hanya tersenyum simpul.

“Jadi, ini yang membuat adikku bisa melupakan mantan kekasihnya?” goda Sooji. “Jaga adikku baik-baik, Jin Goo-ssi. Kau tak tahu dia sangat menyukaimu? Dia bahkan mengatakan bahwa ada kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya jika ia sedang bersamamu.”

Unnie!” tegur So Hyun dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus. “Kau juga, Myungsoo Oppa! Kalau kau membuat kakakku menangis, kau akan berhadapan denganku! Mengerti?”

“Baik, nona manis,” ujar Myungsoo.

So Hyun dan Jin Goo lalu pergi. Sooji dan Myungsoo kembali melanjutkan acara salam-salaman mereka. Sooji sadar bahwa tak mungkin ia selamanya mempunyai kekasih lebih dari satu. Karena ia bukan gadis berumur 17 tahun lagi. Dan jika ia diberi kesempatan untuk memilih lagi, ia tetap akan memilih lelaki yang kini berdiri disampingnya. Kim Myungsoo.

“Kenapa kau memilihku? Aku hanyalah serang fotografer freelance, sedangkan Mark adalah seorang dokter.”

“Entahlah. Tapi, kurasa aku lebih suka menghabiskan sisa hidupku sambil meperhatikan sifat konyolmu. Lelaki serius seperti Mark sebenarnya bukan tipeku.”

THE END

24 responses to “[Oneshoot] I Choose You

  1. Kalo dihadepin sama mark sm myung srasa dilema…rela suzy dipasangin sma siapa aja slm gak ada myung di ff trsbut…klo ada myung brasa ati pemgennya sma myung..tpi klo rivalnya mark serasa gak tega..kasian mark..hiks..hehheh

  2. Daebak.. 8 tahun loh.. luar biasa..
    Tapi akhirnya suzy memutuskan untuk memilih 1 jd pendamping hidup. Wkwkwkwkwk..
    Untung udh bisa milih..
    Kirain bakal milih Mark. Eh ternyata milih Myungsoo.. hahahahaha.. biar selebor sembrono, ttp myung yg bisa membuat ribuan kupu berterbangan..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s