Season In The Sun [1]

season in the sun

Beside the story, I own nothing. All cast belongs to God and their family.

-dina-

.

.

Korea, musim gugur 1994.

“Bagaimana?”

“Apanya?”

“Hubungan kalian?”

“Sst! Jangan membahasnya di sini, Boomi-ya!”

“Ah, mian!”

Sooji menarik tangan Boomi untuk menjauh dari toko roti milik Cha halemoni, tempat dimana ia bekerja selama dua tahun terakhir.

“Dia mengirimiku surat lagi, ige!” Sooji mengambil surat dari balik celemeknya, lalu menyodorkan pada Boomi dengan wajah riang.

“Apa isinya?”

“Baca saja sendiri!”

Kedua mata Boomi menyusuri kata per kata yang tertulis di sebuah kertas putih harum milik Sooji. perlahan wajahnya mengerut lalu menatap Sooji dan kertas bergantian.

“Kau mau melakukannya?”

“Menurutmu?”

“Yya! Neo jugule?”

“Sst!” Sooji membungkam mulut Boomi yang terkenal lugas, selayaknya wartawan berita tivi lokal yang sering ia tonton.

“Lihat Boomi-ya, ini fashion terbaru saat ini. Trend baju musim dingin 1994! Aku ingin mengunjungi tempat ini!” Sooji mengedipkan kedua matanya, menatap foto yang datang bersama surat yang diterimanya tempo hari.

“Tapi, ini jauh Ji! Kau harus menginap di sana. Bagaimana jika appa-mu tahu? Lalu kau hanya berdua bersama dirinya? Shirreo!” Boomi menggeleng keras.

“Huh!” Sooji mengambil paksa surat dan foto dari kekasihnya, lalu dengan sombong melipat kedua tangan di depan dadanya. “Dengar, Boomi-ya! Aku wanita dewasa saat ini. Appa tidak lagi sepenuhnya berhak mengaturku.”

Yya! Kau masih 24 tahun, Ji!”

“Tapi usia 24 tahun sangat cukup untuk menikah.”

“Lalu? Kau akan menikah dengannya?”

Sooji mengangguk mantap.

“Tapi, kau bahkan belum bertemu keluarganya. Kalian sangat berbeda, Ji. Itulah mengapa appa-mu melarangmu berhubungan dengannya.”

Sooji mendengus kesal. Bukan ini respon yang ia harapkan dari sahabatnya. Nasehat selayaknya eomma yang membuatnya kalang kabut. Sooji dan sikap keras kepalanya yang menginginkan hidup dan menikah bersama Lee Jaehyun, seorang pemuda anak orang berada di kota mereka.

“Kami bukan kaum miskin, Boomi-ya! Jaehyun oppa menerima keberadaanku. Kami saling mencintai!”

“Cinta?” Boomi menautkan kedua alisnya. “Apa kau yakin?”

“Tentu saja! Dan besok kami akan buktikan jika hubungan ini bukan main-main.” Sooji mengangguk mantap sembari melipat kedua tangannya, angkuh.

“Tapi..” Boomi bergumam pelan, pikirannya sangat berkebalikan dengan Sooji.

“Ji!”

Sooji spontan melongokkan kepalanya dari balik jendela, lalu dengan cepat berlari memasuki toko roti Cha halemoni.

“Boomi-ya, bimil!” Bisiknya dari kejauhan sembari menempelkan jari telunjuk di bibir merahnya.

Aigoo, kau akan terkena masalah lagi, Ji!”

——-

Myungsoo memandang lepas lautan yang akan segera ia arungi bersama kapal ferry penumpang dari Fukuoka, Jepang menuju Busan. Pandangannya tertuju pada deretan kursi tunggu dimana penumpang dengan budget ringan ikut menunggu panggilan seperti dirinya.

“Apa yang kau pikirkan, hyung?” Junghan menepuk pundak Myungsoo, meletakkan tas koper beratnya di sisi bawah kursi.

Aniya, aku hanya seperti melihat Busan semakin dekat dengan kita.” Myungsoo tersenyum kecil.

Yya, Busan masih jauh di sana, hyung. Kau ini bisa saja!” Seloroh Junghan dengan wajah teduhnya.

“Aku masih tidak habis pikir, mengapa menyanggupimu naik kapal ferry ini. Coba kalau kita anak berada, pasti sekarang telah duduk nyaman di dalam pesawat, keutchi?”

Myungsoo menggeleng pelan sembari terkekeh geli. “Kita tidak bisa saat ini, tapi suatu saat nanti kita akan merasakan bagaimana nikmatnya duduk di atas awan!” Telunjuk Myungsoo menangkap udara kosong di atasnya.

“Hem, kuharap seperti itu, hyung.”

Yya! Kau harus optimis, jangan sia-siakan beasiswa yang kita dapatkan saat ini Han!”

Junghan menatap wajah sunbae-nya dengan raut heran. Selalu, ia merasa jika lelaki Kim di sampingnya ini tidak pernah kehabisan mood boaster. Di era 90’an seperti saat ini, banyak pemuda lokal yang rela bekerja di sektor domestik. Sama halnya dengan teman-teman mereka di Busan. Tapi Junghan cukup beruntung ketika Myungsoo mengajaknya mendaftarkan diri pada sebuah perguruan tinggi di Kyushu University Jepang yang menyebar program beasiswanya ke negara asing.

Dengan berbekal kecerdasan, Junghan berhasil lulus ujian beasiswa dengan mudah. Beda dengan Myungsoo yang harus belajar ekstra keras dan berhasil lolos tiga tahun setelah kelulusannya dari sekolah menengah atas. Tidak heran jika Myungsoo yang notabene sunbae bagi Junghan beralih menjadi teman kuliah. Bersama-sama berjuang meluluskan diri tepat waktu, bekerja paruh waktu sebagai pelayan kedai dan loper koran di sela-sela jadual kuliah mereka.

Appa kemarin mengirim telegram padaku.”

Jinca?” Myungsoo memutar penutup botol air mineral yang baru saja ia terima.

“Hem, beliau mengatakan kalau noona kembali membuat masalah.”

“Noona? Nugu?”

Noona-ku, hyung. Di satu setengah tahun lebih tua dariku.”

Myungsoo meneguk air mineral, mengusap bibirnya yang basah. “Memang ulah apa?” lanjutnya.

“Dia dan kekasihnya. Heol! Terkadang aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Seharusnya ‘kan laki-laki yang memberontak, tapi tidak dengan noona-ku. Jika kuingat, sepertinya Tuhan memberikan ruh yang berkebalikan pada kami berdua.” Kening Junghan mengernyit, tiba-tiba terlihat lucu di mata Myungsoo.

“Apa maksudmu?” Myungsoo terkekeh geli.

“Dia pelindungku saat sekolah. Terkadang menjadi kakak lelakiku meskipun sebenarnya aku cukup sebal dengan omelannya.”

“Bukankah dia perempuan? Hal yang wajar ‘kan?”

“Yap!”

Ting Tong!

Bunyi sirine pemberitahuan berbunyi, diiringi suara perempuan yang menggema, menjelaskan prosedur keberangkatan penumpang menuju Busan dengan memakai dua bahasa. Internasional dan Jepang.

Myungsoo meraih tas ranselnya, sebelah tangannya menjinjing koper kuno milik appa-nya. Ia berdiri menunggu dalam antrean di belakang garis kuning pemeriksaan keberangkatan counter. Ketika gilirannya tiba, Myungsoo menunjukkan paspor, boarding pass, dan kartu keberangkatan yang ditulisnya dengan memakai huruf hangul sesuai prosedur.

Inspektur tidak menanyakan banyak hal dan langsung membubuhkan cap di paspornya, begitupun dengan kartu keberangkatan yang telah dicap dan disimpan oleh mereka. Visa milik Myungsoo masih berlaku sehingga mempercepat proses imigrasi. Sama halnya dengan Junghan, ia tidak mengalami kendala yang berarti.

Dan ketika saat itu nantinya tiba, kedatangan mereka di Busan mengawali babak baru kehidupan keduanya selepas kurang lebih empat tahun merasakan perjuangan hidup di Jepang. Sebuah perjalanan panjang yang akan mereka rintis, cita-cita pemuda Kim yang ingin mewujudkan impiannya memiliki sebuah usaha nantinya. Berbekal ilmu bisnis yang didapatnya ketika menempuh ilmu di Jepang.

——

Sooji melonjak tatkala melihat Junghan telah berdiri mematung bersama koper dan tas jinjing besar entah berisi apa di dalamnya. Seakan tidak percaya, Sooji berteriak sekencang-kencangnya. Memanggil eomma dan appa mereka, menyambut kedatangan Junghan.

Yya! Kau tidak mengabariku kapan pulang, huh?!” Sooji mengacak rambut hitam Junghan.

Aigoo, noona! Aku ini baru sampai sudah kau siksa, heol!” Sungut Junghan, memasang wajah pura-pura kesal pada kakak perempuan satu-satunya. Namun dua detik kemudian, ia mengalungkan lengannya di leher Sooji. Bagaimanapun, Junghan juga merindukan kekonyolan kakak perempuannya.

“Junghan-ah, wasseo?” Nyonya Bae memeluk putra satu-satunya, tampak raut bangga tercetak di wajahnya, sama halnya dengan Tuan Bae yang tersenyum simpul.

“Selamat datang, adeul!” Sambutnya kemudian.

“Kau bawa apa, Han?” Sooji meraih tas jinjing Junghan, mengobrak abrik tas yang tadinya rapi.

“Lihat sendiri, noona. Kuharap kau suka..” Junghan menghampiri Sooji, tenggelam dalam kesibukan menceritakan apa saja yang dialaminya selama di Kyushu.

Tidak beda dengan kehangatan keluarga Bae, Myungsoo mendapatkan sambutan sederhana eomma-nya. Tuan Kim belum pulang dari dinas luar sebagai pegawai pemerintah. Mengantarkan dokumen dengan menggunakan kapal ferry yang berjarak puluhan kilometer dari rumah mereka, pinggiran kota Busan tepatnya. Desa nelayan yang tertinggal. Demi menjalankan program pemerintah yang diembannya saat itu, Tuan Kim mendedikasikan dirinya bagi masyarakat nelayan yang masih belum terjamah teknologi.

“Kapan appa pulang?” Myungsoo mencomot kimbap buatan eomma-nya di atas meja, kemudian duduk bersila menghadap televisi.

Berita akhir-akhir ini dipenuhi isu perselisihan Korea Utara dan Korea Selatan yang tidak kunjung reda. Belum lagi pemberitaan internasional yang mulai membandingkan ketertinggalan Korea Utara dari Korea Selatan dari segi ekonomi. Myungsoo yang selalu mengikuti berita negaranya, cukup prihatin dengan sikap pemerintah Korea Utara, namun bukan itu fokusnya saat ini. Ia hanya ingin memiliki usaha sendiri, berbeda dengan konsep bekerja orang kebanyakan yang lebih memilih bekerja di perusahaan dibandingkan membuka lapangan kerja mandiri.

“Besok mau kemana, Soo?”

“Hem? Belum tahu, eomma. Mungkin ke sekolahku.”

“Sekolah?”

Nde, aku ingin bertemu Lee songsaenim.” Myungsoo mendongakkan kepalanya, menatap Nyonya Kim yang berjalan mendekatinya. Mengusap surai hitamnya perlahan.

“Soo.”

“Nde?”

“Kau bisa melamar di perusahaan kecil milik pamanmu.”

Myungsoo mengerutkan keningnya, perlahan ia menolehkan wajah menghadap eomma-nya.

Eomma tahu kau sangat ingin memiliki usaha, bahkan modal yang kau kumpulkan juga masih utuh. Tapi tidak ada salahnya kau menjadi pegawai pamanmu sementara waktu.”

Myungsoo menghela nafas panjang, belum satu hari ia di Busan, sebuah rintangan menghadang niatnya.

“Bukan berarti kami melarangmu, hanya saja sembari menunggu kau mencari ide, tidak ada salahnya ‘kan mencoba peruntungan di perusahaan pamanmu. Kurasa ilmumu akan membantunya.”

Myungsoo bergeming, mencoba berkompromi dengan kondisinya saat ini. Ia sangat tahu kekuatiran eomma-nya menghadapi pertanyaan tetangganya kelak yang akan menanyakan apa hasil ia menempuh ilmu di luar negeri. Sementara teman sebayanya mulai bekerja, meskipun kebanyakan di sektor perikanan dan kelautan sebagaimana penduduk kota Busan.

“Bagaimana, Soo?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada televisi, sesaat kemudian ia mengangguk. Tidak ada salahnya mencoba ide orang tuanya, toh ia masih harus memutar otak bersama Junghan untuk merintis usaha apa yang berprospek bagus bagi mereka.

——

Myungsoo berjalan santai memasuki gerbang sekolah dengan bangunan kuno dan dinding yang tampak mengelupas. Pohon besar berusia puluhan tahun masih berdiri kokoh di tengah-tengah halaman sekolah, mengotori tanah sekitarnya dengan daun berwarna kecoklatan khas musim gugur. Rencananya hari ini Myungsoo ingin memberikan pelukan hangat ala dirinya pada Lee saem, guru yang terkenal galak dan sering menghukumnya kala itu.

Tap! Langkah Myungsoo berhenti di depan sebuah pintu kelas, tepat di koridor yang memisahkan ruangan dengan halaman depan bangunan.

“Annyeonghasimika, songsaenim!”

Seisi kelas menolehkan kepalanya tatkala Myungsoo dengan wajah riang memekik di depan kelas.

“Nugu?”

Lee saem memelorotkan kacamatanya, menatap tubuh tamu tak diundangnya.

Nan, Kim Myungsoo!” Myungsoo membungkuk sopan, lalu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.

“Kim Myungsoo?” Lee saem tampak berpikir, kakinya melangkah mendekati Myungsoo selepas melayangkan tatapan mautnya pada para murid yang terpecah konsentrasinya akibat kedatangan Myungsoo.

Nde, murid kesayangan nomor satu di sekolah ini, dulu.”

Lee saem berdecak kecil, lalu menepuk keras pundak Myungsoo.

Aigoo, kau sudah kembali rupanya!”

Myungsoo tertawa kecil, seperti yang ia bayangkan, sambutan kaku ala Lee saem berhasil dibuktikannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Myungsoo memegang tengkuknya, “Saya mengobrol dengan para guru tadi di halaman depan. Lalu tiba-tiba saya teringat jika guru yang sangat tampan ini harus saya temui.”

Lee saem membulatkan mulutnya, menyadari jika Myungsoo menyindirnya secara halus. Bagaimana bisa seorang guru dengan tubuh tambun dan kepala yang hampir botak dikatakan tampan.

“Kau tidak berubah, Soo!”

Myungsoo tergelak, lalu pandangannya tertuju pada siswa yang sibuk memencet game watch di sela-sela tugas yang diberikan Lee saem.

Aigoo, anak sekarang lebih berani, keutchi saem?” Tatapan Myungsoo tertuju pada ruang kelas, diikuti kedua mata Lee saem yang mengikutinya.

Yya! Kau!” Lee saem segera membalikkan tubuhnya, mengeluarkan omelan khas yang Myungsoo rindukan.

“Aigoo!” Myungsoo terkekeh geli melihat kenakalan adik kelas yang jauh di bawahnya, kemudian dengan cepat sebuah ide gila melintas begitu saja.

“Dimana?” Myungsoo mengedarkan pandangan hingga senyumnya terbit tatkala melihat benda favorit para siswa.

“Waktunya pulang!”

Suara bel akibat dentingan logam menggema keras di seluruh koridor. Membuat kericuhan sendiri di dalam ruangan. Myungsoo memainkan tongkat besinya pada sebuah bel logam penanda pulang.

“Yeay!” Murid berhamburan keluar ruangan, tidak lagi mempedulikan para guru yang kebingungan.

“Kim Myungsoo!” Pekik Lee saem satu menit kemudian.

——-

Sooji duduk di dalam ayunan rotan di teras rumahnya, kakinya menggantung bebas, pikirannya melayang. Empat minggu sudah ia merencanakan ide gilanya selepas menerima surat yang dikirimkan Jaehyun.

“Aku harus siap. Apapun resikonya!” Sooji menggumamkan dalam hati jika keputusannya benar, lari bersama Jaehyun ke luar kota. Membangun sebuah keluarga baru bersama kekasih yang telah bersamanya tujuh bulan terakhir.

Katakan saja Sooji bodoh, tapi ia tidak peduli. Cinta telah membutakan mata hatinya. Bahkan teguran kedua orang tuanya, sahabat –kecuali Junghan yang baru tiga minggu yang lalu sampai, tidak menyurutkan niatnya menjalin kasih dengan Jaehyun. Dan esok pagi buta, ia akan menjalankan misinya. Melarikan diri bersama Jaehyun.

“Bi..” Sooji menengadahkan kepalanya ke atas, gumpalan mendung menghiasi langit Busan. Bukan Sooji namanya jika tidak berperilaku aneh. Ia berlari menuju halaman rumah, berputar di bawah hujan yang turun di musim gugur ini.

“Selamat datang, Oktober!”

“Ji, apa yang kau lakukan?” Terdengar pekikan dari dalam rumah tatkala hujan semakin deras.

“Menikmati hidupku, eomma!”

“Astaga!”

——-

Myungsoo bangun lebih pagi dari biasanya, kedua matanya mengerjap berkali-kali menatap jam weker di samping meja kamar tidurnya. Dengan langkah menyeret, ia memasuki kamar mandi. Pagi ini ia akan bertolak ke Seoul dengan bis paling pagi, rencananya ia akan menemui salah seorang teman yang ia percaya mampu membantunya merintis usaha di sana.

“Soo?”

“Nde?”

“Kau sudah bangun?”

“Hem!”

Eomma siapkan sarapan ya?”

“Nde, eomma!”

Myungsoo dengan cepat menyikat giginya, membasuh tubuh dengan sabun batang dan mengelap sisa air setelahnya. Jemarinya cekatan mengambil kemeja putih dengan celana katun yang akan ia pakai, berpakaian rapi menjadi agenda wajibnya sedari dulu. Rambut hitamnya ia sisir, tak lupa mengecek kelengkapan koper kecil yang akan ia bawa nantinya.

“Sepagi ini?” Tuan Kim dengan piyama yang masih menempel, menatap wajah putranya yang telah rapi. Jam masih menunjukkan pukul 04.20 pagi, bahkan cahaya mentari belum menampakkan senyumnya.

Nde, appa. Aku akan pulang memakai bis paling malam nantinya.”

Aigoo, appa hanya bisa mendukungmu, Soo!”

“Nde, gomapta appa. Ah iya, aku sudah mengatakan pada paman jika hari ini tidak masuk.”

Arra, cepatlah berangkat. Waktumu tersisa dua puluh menit sebelum bis pertama berangkat menuju Seoul!”

Myungsoo mengangguk, jemarinya meraih koper kecil berisi dokumen-dokumen. Di luar sana, Jimin telah menunggunya dengan vespa buntut milik Myungsoo.

Kajja, berangkat!” Myungsoo menepuk bahu Jimin, lalu melaju di tengah gelapnya pagi kota Busan.

——-

Sooji menatap sekitar, gelap masih menemaninya duduk di bangku terminal bis. Rencana telah ia jalankan, membawa tas jinjing berisi baju seadanya, lalu mengendap keluar rumah berbalut mantel cokelat tebal. Tak lupa menyelipkan surat di meja makan tempat biasa keluarganya berkumpul.

“Dimana kau, oppa?” Sooji memainkan jemarinya resah, pandangannya ia edarkan. Berkali-kali ia duduk dan berdiri selayaknya orang tidak sabaran. Udara dingin musim gugur berusaha ia kalahkan, merapalkan dalam pikiran jika yang ia lakukan tidak akan sia-sia, sebuah pengorbanan demi mengejar cinta.

Tin tin!”

Sooji terkesiap tatkala sebuah bis berjalan mendekatinya bersama tiga orang yang sama menunggu bersamanya. Cahaya mentari perlahan naik, membuatnya semakin panik.

“Chogiyo!” Sooji menolehkan kepalanya tatkala seorang anak kecil menarik dres selututnya.

“Ne?”

“Apakah eonni, Bae Sooji?”

Sooji menatap dalam diam, hatinya mulai tidak nyaman. “Iya..”

“Seorang oppa menyuruhku mengantarkan surat ini.”

Oppa? Dimana dia?”

“Tadi di sana!” Perempuan kecil tadi menunjuk pada satu tempat yang sepi, tanpa seorangpun di sana.

Jemari Sooji sedikit bergetar, dadanya berdegup semakin kencang tatkala membaca surat yang berisi untaian kalimat permintaan maaf dari kekasihnya.

“Sial!” Sooji meremas kertas surat, mengeluarkan sumpah serapahnya dalam hati. Hatinya hancur saat itu juga. Benar kata Boomi, Jaehyun tidak serius ingin membawanya pergi.

Tin tin!

Sooji berada dalam dilema, meninggalkan Busan atau kembali dalam keadaan malu.

“Anda mau naik, nona?” Suara lelaki memecahkan konsentrasi Sooji. Tanpa pikir panjang, demi menjaga harga dirinya, Sooji menenteng tas jinjingnya, berjalan menuju pintu bis yang masih terbuka.

“Berangkat!”

Sooji duduk sembari menatap jendela, dadanya naik turun menahan rasa amarah dan malu. Ia akan menelepon keluarganya nanti setibanya di terminal bis berikutnya.

“Kau menyebalkan!” Sooji menghentakkan kakinya tanpa sadar. Membuat lelaki di seberangnya menolehkan wajah, memandangnya heran.

“Kalian para lelaki sangat menyebalkan!” Rengeknya kemudian selepas mengalihkan pandangannya yang sempat terkunci oleh lelaki di seberang kirinya.

“Eotthoke!” Sooji mengetukkan kepalanya berkali-kali di sandaran kursi depan.

“Ada apa denganmu?” Lelaki tadi mengedikkan bahunya, menatap Sooji yang tengah frustasi.

“Bisakah anda tidak melihatku, Tuan?”

Suara parau Sooji membuyarkan lamunan lelaki tadi, perlahan ia tersenyum kecil sembari memalingkan wajahnya menatap jendela bis. Tampak matahari mulai naik, menemani perjalanan 4 jam menuju Seoul nantinya.

“Kau bodoh, Ji! Bodoh!”

Lelaki tadi kembali menoleh tatkala mendengar lirihan Sooji, lalu ia berpikir jika wanita di sampingnya benar-benar dalam masa sulit.

“Mungkin anda memerlukan ini.” Lelaki tadi menjulurkan sebuah botol berisi air mineral ke arah Sooji.

“Sudah kubilang jangan mengangguku, tuan!”

“Myungsoo, panggil saya Myungsoo. Tanpa tuan.”

Sooji mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Matanya memerah, hidungnya tersumbat akibat tangisan.

“Hua!” Sooji kembali terisak.

Myungsoo ingin sekali tertawa keras-keras, entah mengapa melihat Sooji menangis justru terlihat lebih manis.

“Terima kasih!” Tangan kiri Sooji terulur menerima botol minuman.

“Nde, gwenchana, Ji-ssi?”

Sooji mengacuhkan kalimat Myungsoo. Ia melayangkan pandangan pada jendela luar sembari mengusap sisa air matanya. “Bodoh!” lirihan kembali terdengar dari bibir Sooji.

“Manis,” gumam Myungsoo kemudian.

TBC

Hai! Saya kembali membawa ff berchapter. Mungkin akan slow update mengingat 2 ff masih on going di wp saya, Brunette dan The Ocean. Jadi, komen kalianlah yang menentukan cepat lambatnya posting selanjutnya. Berikan apresiasi kalian yah. Terima kasih!!

54 responses to “Season In The Sun [1]

  1. Aaaaaaa ini nanti kira2 akan berlanjut ke jaman sekarang apa tetep settingnya ya…kkkkkkkk…myungzy udah ktemu…suzy dibohongi…haaahaa dasar…

  2. Suzy sih udah diblangin ortu sama temennya nya malah bandel, tuh kan jae hyun ga serius…myung ternyata temen dongsaengnya suzy…
    suzy malu kl balik kerumah jd tetep ke seoul dech untung ketemu myung di bis…kekeke…ditunggu kelanjutannya eon

  3. heol, ff author selalu sukses menarik perhatianku..!😀 aku suka.. haha! myungpa nakal banget, ngerjain gurunya. aigo,, sooji eonni dibohongin tuh sama pacarnya. padahal baru pacaran tujuh bulan udah berani kabur bareng, ckck. dan karena malu kalo sooji eonni nggak jadi kabur, akhirnya dia mutusin buat tetep kabur. keputusannya mempertemukan dia sama myungpa. myungpa langsung tertarik tuh sama sooji eonni, tapi ji eonninya ketus banget. aww, gumaman myungpa “manis.” bikin aku langsung senyum.. ceritanya sangat menarik.. sangat ditunggu nextnya ya thor.. Hwaiting!^^

  4. aku suka ff perjuangan perjuangan seperti ini, maksudnya perjuangan pendidikan trus myungsoo mulai dari bawah rasanya bisa termotivasi.
    pembelajaran hidup juga kalau cinta ga segalanya, suzy lebih milih pacarnya dan berakhir penyesalan. tapi beruntungnya ia kecewanya di awal engga diakhir.
    kelanjutannya ditunggu

  5. Kyny sooji soo cocok hehe serasi eon sm” keras kepala bandel ….. Apa mrk bakal py momen seru menuju busan ??? Next fighting eon

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s