[Freelance/Oneshoot] Sweetness Ssst!

miss-a-suzy-swarovski-commercial

Title : Sweetness Ssst! | Author : QueenAnn | Genre : Romance, School-life | Rating : PG-17 Cast(s) : Suzy Miss A, Kai EXO & Others

.

.

.

.

Kata yang terlintas saat mendengar nama Bae Suzy?

Satu, sempurna!

Dua, sempurna!

Tiga, materialistis!

Dan sialnya lagi, Kim Kai sangat menyukai gadis itu.

Kim Kai dan Bae Suzy itu…

Lulusan dari sekolah dasar yang sama, daerah tempat tinggal sama, rute transportasi pulang-pergi sama, tapi sejauh ini—secara formal, belum pernah saling sapa. Sesekali mereka bicara, dan itu pun hanya untuk perdebatan kecil yang menyisakan rasa sebal di hati masing-masing. Seperti berebut pintu bus, berebut kotak susu strawberry terakhir di toko kelentong dekat rumah mereka, atau beberapa hal sepele lain.

Kai kadang senghaja mencari cara agar Suzy bicara dengannya meski harus berupa perdebatan.

.

Kim Kai bertopang dagu di atas meja barunya. Ia biasa duduk di sudut kelas agar bisa fokus belajar, tapi kali ini mungkin sia-sia.

Ini pertama kalinya Kai satu kelas dengan Suzy setelah enam tahun berada di sekolah dasar yang sama, setelah dua tahun berada di SMA yang sama pula. Dan begitu Suzy masuk ke kelas, siapa sangka gadis itu membawa serta gerombolan si berat?

Maksudnya, orang-orang populer yang tidak Kai sukai. Tidak, bukan benci, Kai tidak punya alasan untuk membenci mahluk-mahluk perfect itu. Hanya saja, jika mereka berkumpul, pasti sosok itu juga turut hadir.

Do Kyungsoo.

Tiap bercermin, Kai selalu merasa lebih tampan dari Kyungsoo, lebih gagah, lebih jantan, bahkan lebih pintar darinya—yah, Kai terlalu percaya diri. Jika memang begitu adanya, lantas kenapa…

Do Kyungsoo yang merangkul mesra bahu Suzy sekarang?

Karena pria itu kaya! Dan sebagai lelaki, Kai merasa kalah sebelum berperang. Mau setampan, setenar, atau sepintar apa pun, jika berdompet tipis apa gunanya? Harusnya anak SMA tidak mempermasalahkan materi jika saja Suzy merupakan pemeran utama Cinderella.

Sayangnya, Suzy tidak sebaik Cinderella.

Kai tahu itu. Sangat tahu!

“Ini satu tahun hari jadi kami! Kalian harus ikut merayakannya agar bidadariku makin bahagia!”

Kyungsoo berkata riang pada kelompok orang-orang populernya. Dan Kai sudah tahu Kyungsoo pasti…

“Malam ini kuteraktir kalian di club biasa!”

Yah, tahun lalu Kai sekelas dengan pria itu dan tahu betapa royalnya Do Kyungsoo. Untungnya sekarang kelas mereka terpisah. Kai tidak mau melihat dua orang itu lengket!

.

Kai tidak miskin.

Dia tinggal bersama orang tua yang harmonis dengan seorang adik laki-laki. Menempati sebuah rumah turun-temurun yang cukup luas. Ada empat kamar dan rumah itu terletak tiga blok dari rumah Suzy.

Tapi Kai selalu merasa apa yang ia miliki tidaklah sesempurna apa yang Kyungsoo miliki. Pria itu punya rumah di kawasan elite, mengendarai mobil pribadi, dan parahnya mengencani gadis yang bagi Kai paling sempurna.

Bae Suzy!

Hyung, wajahmu kusut.”

Kai mendengar suara adiknya dan mendengus.

“Kau pikir wajah belepotan tanahmu itu tampan?!” Kai menyindir. Adiknya sekarang sedang berjongkok di halaman depan rumah sambil memegang sekop dan ember. “Eomma akan memarahimu karena bermain tanah!”

Kim Ilki, adik Kai, menjulurkan lidah.

“Aku sedang berburu harta karun. Kau ingat kotak peninggalan nenek lima tahun yang lalu? Di dalamnya kutemukan kertas-kertas dan peta ini.” Usai menunjuk apa yang ia maksud, bocah sebelas tahun itu menyeka keringat dengan tangan kotornya.

Kai yang tadinya ingin bergegas masuk ke dalam tertahan sebentar. Kotak peninggalan nenek? Kai dapat yang seperti Ilki, tapi isi milik Kai hanya kepingan piring hitam yang kini jadi hiasan kamar, tidak pernah sekali pun Kai dengarkan.

Jadi yang adiknya dapatkan peta ya? Lebih tidak berguna. Kai melipat tangan di dada sambil melihat Ilki yang sibuk menggali.

“Kuberi kau ice cream jika harta karunmu itu bisa membuatku kaya.” Kai menghela napas. Tuhan, dia ingin kaya jika hal itu bisa membuat Suzy ada di sisinya.

“Benarkah?”

Kai mengangguk. Tsah… dia sudah gila. Dari pada berharap pada hal konyol itu, Kai akhirnya masuk ke dalam rumah. Begitu membuka pintu, aroma masakan tercium dan Kai tersenyum untuk itu. Perutnya lapar…

“Ah, syukurlah kau pulang! Eomma kehabisan beberapa bahan untuk memasak, bisa kau belikan?”

Kai mendesah lemah.

.

Lucky!

Tidak senghaja Kai melihat sosok sempurna itu di supermarket. Bae Suzy sedang berdiri di sampingnya sambil mengamati produk olahan susu. Dari samping, Suzy nampaknya tidak menyadari kehadiran Kai. Bahkan tidak menyadarinya dalam sisi mana pun.

Itu bagus. Kai jadi lebih leluasa mengamati Suzy.

Belanjaan titipan sang ibu tidak banyak. Bahkan sudah semuanya masuk dalam keranjang milik Kai. Tapi, Kim Kai tetap berada di supermarket. Diam-diam berjalan di belakang Suzy yang sibuk belanja. Memilah berbagai produk untuk akhirnya masuk dalam keranjang.

Suzy gadis yang teliti soal harga. Kai tersenyum tanpa sadar untuk semua itu.

Hingga mereka berada di luar, barulah Suzy sadar kalau Kai ada di dekatnya. Suzy dan Kai sudah sering berpapasan, sering berjalan depan-belakang jika hendak ke sekolah, sering juga bertemu mata tak senghaja seperti sekarang. Tapi tidak ada alasan untuk mereka saling menyapa atau bicara.

Harusnya kau lebih berani lagi, Kim Kai!

Kai menghela napas sejenak. Nekat, dia semakin mendekat pada Suzy. Membuat mau tak mau Suzy harus menyapanya dengan senyuman tipis.

“Kau mau pulang?” Kai sebenarnya gugup.

Suzy diam sebentar, memastikan kalau seorang Kim Kai baru saja mengajaknya bicara. Mereka bahkan tidak pernah berkenalan formal selama ini. Hanya saling tahu.

“Yap.” Suzy mengangguk.

“Mau kuantar?” Kai mengusap tengkuk dengan satu tangannya yang bebas. “Rumah kita searah, kan?”

Suzy terlihat menimbang-nimbang. Bagaimana ya? Masalahnya…

Tiiittt!

Suara klakson mobil membuat perhatian mereka teralih. Satu yang berwarna silver menepi di samping trotoar tempat Suzy dan Kai berdiri. Jendelanya turun ke bawah dan menunjukan wajah Do Kyungsoo. Tersenyum pada kekasihnya.

“Cepat!”

Kyungsoo pernah sekelas dengan Kai, dan tersenyum pula pada pria itu. Suzy menganggukan kepala, menatap Kai sekilas dan melambaikan tangan sedada.

“Bye!”

Ah… Kai tetap pada posisinya. Berdiri sambil menenteng sepelastik belanjaan. Menghela napas saat mobil silver Kyungsoo melesat pergi. Bodoh… Kai harusnya tahu kalau Suzy pasti dijemput Kyungsoo. Dengan mobil…

Mana mau gadis secantik Suzy jalan kaki?

“Matre…” Kai bergumam sebal.

.

“Aku pulang!”

Kai melepas sepatu, memakai sandal rumah dan membawa belanjaannya ke atas meja makan. Dia kesal karena harus mengalami kejadian menyebalkan tadi. Tapi bukannya di sambut sang ibu, Kai malah mendapat keheningan. Semuanya terasa janggal.

“Eomm—

“Kami di sini!”

Kai mengikuti arah suara ibunya, masuk lebih jauh ke dalam rumah dan berhenti di depan kamar milik Ilki.

Apa yang membuat ibunya meninggalkan dapur dan memilih masuk ke kamar Ilki? Mungkin bocah itu dimarahi karena menggali lubang di halaman depan. Sepulang dari supermarket, Kai melihat hasil galian Ilki sudah jauh lebih dalam. Adiknya benar-benar kurang kerjaan.

Hyung…”

Kai mendekat saat Ilki dan ibunya memasang wajah… sumeringah?

“Aku menemukan harta karun!”

.

Keluargaku tersayang, kuharap kalian mendengar rekaman suara ini. Aku sudah tua renta dan bisa saja mati. Akan kukisahkan pada kalian tentang pengalaman masa mudaku, tentang seorang pria kaya raya yang menyerahkan semua hartanya hanya untuk aku seorang. Tapi dia tidak pernah kembali. Karena itu kukubur harta ini bersama cintanya

Kai tidak lagi mendengarkan isi dari piringan hitam yang neneknya berikan. Sampai situ, semua orang tahu dari mana asal kekayaan sang nenek.

Tuhan! Ini keajaiban!

Ilki menggali tanah di halaman depan hampir sedalam satu meter. Sekopnya tiba-tiba membentur sesuatu yang keras. Sebuah kotak hitam berukuran sepuluh x sepuluh sentimeter. Masalahnya kotak itu…

Penuh dengan berlian!

Semuanya di luar nalar sungguh. Mereka bisa saja dituduh mencuri, tapi untungnya surat-surat berlian itu tersalip pada peta yang Ilki temukan. Harta karun dari sang nenek dengan masa berlaku pajak hingga beberapa tahun ke depan!

Nenek! Kau yang terbaik!

.

Hari ini, Suzy berangkat sendirian.

Dia sedang berjalan santai sambil mendengar musik ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di sampingnya. Suzy menoleh karena jendela mobilnya langsung terbuka. Dan pengemudi di dalamnya adalah…

“Butuh tumpangan?”

Kim Kai!

Suzy menelan ludah. Dia tidak salah lihat?

Setelah berpikir tiga detik, Suzy mengangguk sambil tersenyum. Kai keluar dari mobilnya hanya demi membukakan pintu untuk Suzy. Dan gadis cantik itu tiba-tiba merasa istimewa. Perlakuan Kai… rasanya aneh? Perasaannya saja atau memang benar?

Kai tersenyum, duduk di kursi kemudi dengan lagak penuh gaya.

Hening.

Suzy memutar mata sambil berpikir, mencari-cari bahan pembicaraan agar tidak terkesan memanfaatkan situasi—pedahal memang benar adanya.

“Sebulan terakhir, rumahmu direnovasi?” Tanya Suzy, ia beberapa kali melihat rumah Kai dan sadar ada perbedaan.

“Aku sudah pindah.”

Suzy berkedip, menatap Kai. Dia terkejut sungguh.

“Benarkah?”

“Yap. Karena ayahku baru merintis bisnis, jadi aku sibuk membantu eomma mengatur segalanya. Mungkin kau tidak sadar, tapi aku sering membolos beberapa minggu ini.”

Ah… Suzy membulatkan bibir. Apa yang membuat Kim Kai tiba-tiba berubah ya? Pria itu jadi lebih percaya diri untuk mengajak Suzy bicara, jadi terlihat lebih rileks, jadi terlihat sangat keren, dan entahlah.

“Kita jarang bicara sebelumnya.” Suzy tersenyum tipis. Canggung. “Aku terkejut saat tiba-tiba kau memberi tumpangan.”

Kai tersenyum.

“Di supermarket waktu itu, aku tidak bisa mengantarmu. Jadi kali ini, anggap saja hutangku lunas.”

Di supermarket?

Jadi… Kai masih ingat peristiwa sebulan yang lalu ya? Suzy menelan ludah. Bagaimana kalau pria itu tersinggung? Suzy tidak bermaksud kasar dengan menolak ajakan Kai. Hanya saja, saat itu dia memang sudah membuat janji dengan Kyungsoo. Ah, mungkin benar Kai tersinggung. Astaga… Suzy jadi makin canggung berada di dekat pria itu.

“Aku tidak bermaksud untuk—

“Lupakan saja.”

Suzy menghela napas dan Kai tersenyum melihat raut menyesal gadis itu.

.

Bukan hanya Suzy tapi hampir semua orang yang mengenal Kai terkejut. Pria sederhana yang biasa duduk di pojok kelas itu tiba-tiba saja pulang pergi dengan mobil mewahnya. Lebih luar biasa, dari ujung rambut sampai kaki, semua yang melekat pada tubuh Kai adalah barang bermerk!

Dan status pria itu makin melejit. Mulai banyak surat cinta bermunculan dari dalam lokernya.

“Kudengar ayah Kim Kai baru-baru ini membuka bisnis perhiasan.” Salah seorang teman dekat Suzy bersuara. Yah, kini gadis itu tengah berkerumun bersama teman-teman popularnya.

“Ah! Ayahku bilang tiba-tiba saja ada investor baru di perusahaan, dan itu ayahnya Kai! Pedahal nama mereka tidak pernah tercantum dalam dunia bisnis sebelumnya.”

“Sulit dipercaya, ya?”

Benar, sulit dipercaya. Siapa sangka sekotak kecil berlian mampu merubah nasib keluarga Kim? Tentu saja bisa. Berlian mungil yang ada dalam cincin saja harganya bisa mencapai puluhan juta Won. Apalagi satu kotak penuh?

“Eh, bukankah tadi pagi dia berangkat bersamamu?”

Salah seorang bertanyaa dan Suzy mengangguk, membenarkan.

“Woah beruntung sekali! Jangan-jangan dia tertarik pada Suzy!”

“Ssst!” Salah seorang menempelkan telunjuk di bibir. “Jangan keras-keras, nanti Kyungsoo dengar. Bisa putus mereka!”

Putus?

.

Dari sudut pandang Kai, pria itu bisa melihat kalau Suzy sedang kesal.

Tak senghaja, ia berjalan di belakang gadis itu untuk sama-sama menuju basement. Nampaknya Suzy sedang berusaha menghubungi seseorang tapi tak mendapat respon. Kai hampir saja menabrak punggung Suzy karena gadis itu berhenti tiba-tiba. Suzy tidak sadar ada Kai di belakangnya.

Mereka sekarang sudah ada di basement sekolah. Sepi. Mungkin tidak ada siapa pun di sana selain mereka… eh tidak. Pada salah satu mobil yang terparkir, ternyata ada dua orang yang lain.

Do Kyungsoo dan seorang gadis yang entah siapa.

Sedang berciuman panas dalam mobil silver yang terparkir tepat di samping mobil milik Kai. Wow…

Dan gadis yang kini berdiri di depan Kai menghela napas.

“Bodoh, pantas ponselnya mati.”

Kai bisa mendengar gumaman Suzy. Dan tiba-tiba saja gadis itu berbalik, nyaris menjerit saat sadar ada Kim Kai di belakang tubuhnya. Sejak kapan? Apa jangan-jangan Kai juga melihat apa yang Suzy lihat? Atau bahkan mendengar gumamannya barusan?

Kai juga sama terkejutnya dengan Suzy. Tapi untuk alasan yang berbeda. Gadis itu melihat penghianatan kekasihnya dan hanya diam? Itu yang membuat Kai berdecak heran.

“Kau mengejutkanku.” Suzy mencoba biasa saja, tersenyum tipis dan hendak pergi.

Tapi Kai tidak bisa membiarkannya pergi.

Sesuatu dalam dirinya berontak. Menghalau logika yang harusnya memilih untuk tidak ikut campur urusan Suzy. Sayang sekali, Kai semakin merasa bahwa ia lebih baik dari Kyungsoo, semakin merasa bahwa Suzy memang lebih pantas bersamanya. Apalagi yang kurang dari Kai sekarang?

“Putuskan Do Kyungsoo dan jadilah milikku.”

Kim Kai tiba-tiba saja menarik tangan Suzy, membawa gadis itu untuk memasuki mobilnya yang terparkir di samping mobil Kyungsoo. Karena pergerakan mereka, dua orang yang sedang berciuman panas di mobil sebelah terganggu, melepas tautan bibirnya, dan Kyungsoo terkejut begitu melihat Suzy berada dalam mobil Kai.

Suzy tersenyum tipis pada Do Kyungsoo. Gadis itu melambaikan tangan dengan bibir yang bergerak mengatakan…

Break up!”

.

Kalau dibilang dendam, sebenarnya tidak.

Kai tidak punya alasan untuk dendam pada gadis sesempurna Suzy. Jika dulu gadis itu tidak melihatnya, wajar. Dulu Kai memang tidak menonjol. Tapi kalau disebut kecewa, mungkin benar. Kai tidak menyangka hanya karena berubahnya status si sederhana menjadi si kaya, maka dengan mudah jarak mereka menipis.

Suzy putus dengan Kyungsoo kemarin. Tapi hubungannya dengan Kai juga belum pasti. Belum ada pembahasan lebih lanjut meski sekarang ini… Kim Kai sedang asyik menikmati bibir wanita idamannya.

Sama-sama bukan ciuman pertama, tapi ini ciuman terdalam yang pernah mereka rasakan. Pagutan bibir, lumatan, hisapan, yang membuat Kai dan Suzy memilih untuk tidak berhenti. Mereka ada di dalam kamar baru Kim Kai sekarang. Ruangan luas dengan furniture mahal. Berdua saja, tanpa ada yang bisa mengganggu mereka untuk kenikmatan lebih lanjut.

Kaki Suzy sudah melingkar pada pinggang Kai sejak tadi. Dan Kai yang pegal berdiri inginnya membawa Suzy ke atas ranjang.

Hyungeomma memintamu turun ke bawah.”

Shit!

Kenikmatan itu terhenti. Suzy turun dari gendongan Kai begitu mendengar suara Ilki dari balik pintu, berdiri tegap dan merapihkan rambutnya yang berantakan, dia bersandar di dinding dalam kondisi gelisah sejak tadi. Selain itu, beberapa kancing seragamnya juga sudah Kai lepas. Suzy sekarang susah payah membenahi pakaiannya.

Kai juga sama.

Mereka bertatapan sebentar setelah merasa cukup rapih.

“Ibuku pulang.” Kata Kai.

Ah sebentar, dia menaikkan lagi kerah seragam Suzy agar bekas kemerahaan dari Kai tertutupi. Dan Suzy memalingkan wajah karena merasa malu. Bagian mana saja yang sudah Kai jamah? Suzy tidak sadar karena terlalu fokus pada permainan bibir. Ternyata Kai berbakat. Suzy tidak pernah sehanyut ini sebelumnya.

“Kau akan tinggal untuk makan malam kan? Di luar hujan.”

Suzy melirik jam tangan sekilas, sudah lebih dari jam tujuh.

“Tidak masalah. Orang tuaku tidak ada di rumah hari ini, tapi bagaimana kalau ibumu tidak menyukaiku?”

Kai tersenyum, mengecup ujung hidung mancung Suzy. Membelai bibir merahnya.

“Kau sangat cantik. Dia pasti menyukaimu.”

.

Benar apa yang Kai bilang. Begitu Suzy turun dari lantai dua untuk menemui nyonya besar di rumah itu, dia langsung mendapat sambutan hangat. Keluarga Kai nampak sangat menyukainya, Suzy seperti porselen yang dimanjakan setelah selama ini keluarga Kim hanya punya dua anak lelaki.

Berbeda dengan keluarga Kyungsoo yang dingin, Suzy merasa lebih dihargai di sana. Mungkin karena sebelum mendadak kaya, keluarga Kim tetaplah berasal dari rakyat biasa.

“Mulai besok, tunggu aku menjemputmu.”

Kai bersuara begitu kakinya menginjak rem. Menepi di depan rumah sederhana milik Suzy.

Di luar masih gerimis.

“Tidak merepotkan?” Suzy basa-basi.

Kai menggeleng mantap. Menarik dagu Suzy dan mencium bibirnya dengan mata terbuka.

“Kau kecanduan?” Suzy bergurau. Sejak Kai menarik Suzy masuk ke dalam mobilnya di basement kemarin, pria itu tak henti menjamah apa saja yang bisa dijamah. Kai terlalu tergila-gila.

“Aku menahan ini sejak lama. Kau tahu? Aku mencintaimu sejak masih sekolah dasar sebenarnya.”

Suzy agak menyesal mendengar itu. Selama ini dia menganggap Kai sebagai pria pendiam yang tidak terlalu asyik. Jujur saja, Suzy suka pria yang memberinya ketegangan. Termasuk saat Kai nekat mengajaknya bicara di supermarket, atau pun tiba-tiba menepi untuk memberinya tumpangan, Kai yang kemarin-kemarin memang lebih asyik dari pada Kai yang malu-malu.

Gengsi Suzy terlalu besar kalau harus mengajak pria bicara duluan. Kan?

“Aku menyukaimu baru-baru ini.” Suzy bicara jujur.

Kai tidak marah mendengarnya. Dia mengakui kalau keberaniannya memang ciut sebelum menjadi kaya.

“Jadi bagaimana?” Kai bertanya dengan raut memelas.

“Apanya?” Suzy tersenyum lebar, pura-pura tak paham.

“Aish, sudahlah. Pokoknya setelah ini kau milikku. Paham?”

Kai menawarkan kelingking, dan Suzy menepisnya dengan wajah sebal.

“Kau pikir aku mau dinikmati pria yang bukan siapa-siapa?” Suzy menantang.

“Jadi aku siapamu?” Kai tak mau kalah.

Suzy menggigit bibirnya sendiri.

“Kau mau jadi siapa?”

Ah astaga, percakapan ini jadi berbelit-belit. Kai gemas, merengkuh kedua pipi Suzy dan mencium lagi bibirnya dalam. Suzy meremas bahu Kai. Berusaha mengimbangi permainan pria itu yang lihai.

Di luar gerimis.

Dan di dalam mobil itu terasa panas.

“Kalau tidak salah, orang tuamu tidak ada di rumah, kan?” Kai bertanya usai melepas pagutan bibirnya dari Suzy. Masih dalam jarak dekat, pria itu melanjutkan. “Bagaimana?”

Suzy berkedip.

“Aku belum pernah… kau tahu?” Suzy menyentil hidung Kai, merasa risih sendiri mendengar pertanyaan pria itu.

“Kau pikir aku pernah?” Kai mendesis. Mengusap hidungnya.

Hening.

Pikiran mereka jadi bercabang.

Kai bodoh…

.

Tiap kali melihat kamarnya yang dipenuhi nuansa peach pink, Suzy selalu teringat kejadian malam panjangnya bersama Kai. Diam-diam pria itu menyematkan cincin berlian pada jari manis Suzy. Dengan seenaknya bilang bahwa Suzy sudah terikat pada Kim Kai. Itu benar… mana mungkin Suzy mengelak jika Kai membisikannya saat mereka mencapai kebahagiaan sejati bersama?

Suzy berbaring di atas ranjang. Mendekap bantal sambil mengingat tiap-tiap hal yang Kai lakukan padanya.

Bagai hipnotis. Semudah itu Suzy luluh?

Satu pesan masuk membuyarkan lamunan Suzy. Dari… Do Kyungsoo?

.

.

.

“Kau marah?”

Suzy bertanya pada pria yang kini memasang wajah dingin di hadapannya.

Sudah tiga tahun hubungan mereka terjalin. Usia mereka bertambah, sedikit banyak fisik juga ikut berubah. Mereka tidak memakai seragam lagi, mereka bukan remaja lagi, semakin banyak kesempatan bertemu setelah mereka lulus. Masuk universitas yang sama, dan menjadi tetangga lantai apartement yang sama.

Suzy mendapat apartementnya cuma-cuma, dibelikan sang kekasih yang begitu lulus turut membantu ayahnya mengelola bisnis perhiasan. Sekarang sudah punya uang sendiri dan menjadi menanggung semua keperluan si gadis cantik. Apa pun.

Kai mengangguk.

“Aku marah.” Akunya tegas.

Suzy menghela napas. Beringsut naik ke dalam pangkuan pria tercintanya. Menyandarkan kepala dengan manja. Kai masih tidak bereaksi. Diam.

“Ayolah, kejadian itu sudah tiga tahun yang lalu.” Suzy membujuk.

“Dan kau baru menceritakannya padaku sekarang?”

Suzy mengangguk sambil tersenyum bodoh. Benar juga… harusnya Suzy lebih lihai lagi menutup rahasia. Seandainya saja Kai tidak membawa coklat Swiss—separsel besar, sebagai hadiah anniversary mereka, mungkin Suzy tidak akan keceplosan dengan mengaku bahwa Kyungsoo pernah datang ke rumahnya untuk memberikan coklat serupa—jumlahnya tidak sebanyak yang Kai berikan. Tiga tahun yang lalu, meski sudah resmi dengan Kai, gadis itu masih menerima pemberian mantannya?

“Itu coklat kesukaanku. Sungguh, aku tidak bisa menolak—

“Kau bisa mendapatkannya dariku Suzy!” Kai menegur. Memegang bahu Suzy dan menatap gadis itu tegas.

“Dan kita bertengkar hanya karena coklat?!” Suzy juga kesal.

“Bukan hanya coklat! Kau ingat tahun pertama kita kuliah? Kau dengan ringan menerima sepatu hadiah dari seniormu—

“Itu limited edition.”

“Suzy!”

Suzy mengatupkan bibir. Dia tidak menyangka Kai akan semarah ini. Suzy itu, tidak bisa menolak barang pemberian orang lain. Kalau beli sendiri kan mahal. Apa Suzy salah? Tidak! Hanya saja, kalau hadiah itu diberikan dengan maksud tertentu, apa Kai bisa terima?

Kai tidak mau Suzy berhutang pada pria lain… Kai tidak mau Suzy tergiur pada pria lain… sejujurnya amarah Kai sekarang cendrung pelampiasan dari rasa takut. Bagaimana jika Suzy bertemu pria yang lebih kaya dari Kai?

“Aku tidak akan mengambilnya kalau kau tidak lupa membeli tas yang kumau!” Suzy mengelak lagi. Dia turun dari pangkuan Kai, duduk memunggungi pria itu.

“Kurasa kau yang lupa, barang pesananmu itu dari luar! Perlu pengiriman dan kau tidak bisa sabar menunggunya.”

“Aku tidak suka disalahkan!” Suzy berdiri, hendak pergi sebelum Kai menariknya. Suzy terhempas jatuh ke dalam pangkuannya lagi. “Lepas!”

“Kenapa jadi kau yang marah?”

“Tentu saja aku marah, kau terus menyudutkanku sejak tadi. Pedahal kau sudah tahu kalau Bae Suzy itu memang materialistis!” Suzy membentak dengan nada menyindir.

Kai menghela napas. Merengkuh erat tubuh Suzy sambil mengecup singkat daun telinganya.

“Baiklah-baik… aku minta maaf.”

.

.

.

Kai bisa apa?

Suzy itu materialistis. Suzy itu tidak mau kalah. Suzy tidak suka disalahkan.

Kai bisa apa?

Dia sangat mencintai Suzy. Pada akhirnya semarah apa pun Kim Kai, pertengkaran mereka akan berakhir dengan ucapan maaf dari pria itu juga. Kalau tidak begitu, jangan harap Kai bisa menyentuh Suzy seujung jari pun. Dan Kim Kai, akan tersiksa untuk itu.

Anehnya, Kai tidak bisa selingkuh meski berkencan dengan gadis semerepotkan Suzy.

Kenapa?

Karena dia terlalu mencintai gadis itu.

Sialan ya?

.

.

.

Epilog.

Suzy menyuapkan sepotong coklat untuk Kai.

Dan ini yang paling Kai sukai dari Suzy, yang paling membuatnya lemah, yang membuatnya candu, yang membuatnya tidak bisa jauh, yang membuatnya melayang.

Suzy lantas mencium bibir Kai, merebut coklat itu dari bibir ke bibir sambil tersenyum menang. Tidak mau kalah, Kai merebut kembali coklat dari bibir gadisnya. Terus seperti itu hingga habis sekotak penuh. Hingga mereka tidak lagi terlihat di sofa ruang tengah. Pindah menuju tempat yang lebih private.

Coklat ampuh membuat damai perasaan. Jadi, jika Kai menikmati coklat dengan cara seperti itu… sedamai apa perasaannya sekarang?

.

END

.

.

.

35 responses to “[Freelance/Oneshoot] Sweetness Ssst!

  1. Suzy sematre itu dan kai cuma bisa pasrah.
    Hah. Sebesar itukah cintanya kai ? Gimana dengan cintanya suzy ? Apa sebanyak hartanya kai, gimana kalau hartanya kai semakin berkurang terus cintanya suzy makin berkurang. Aish.

  2. Kehidupan kai berubah dan akhirnya ia mendapatkan apa yg sangat ia inginkan yaitu menjadi kan suzy sebagai miliknya…..so lucky

  3. Sumpah gue bacanya merinding sendiri…. karna suka sama pasangan kaizy jadi masuk banget kehati ngga peduli walau mereka idah punya pasangan tapi kalo baca ff kaizy ngena banget kegue hahaha…#baper

  4. Kaii sweetttt xD
    Omg beruntung banget suzyyy disukai sma kaiiii xD dia menerima suzy apa adanya xD
    Bagusss bangett chinguuuu xD aku sukaa ceritanya sweeet bangett xD
    Ditunggu ff lainnya hwaitinggg ^o^)9

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s