It Must Be Love Chapter 13

Title: It Must Be Love | Author: @reniilubisCast: Kim Myungsoo, Bae Suzy | Genre: Drama, Romance | Rating: Teen | Length: Chaptered

Disclaimer:

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

 

Happy reading~^^

 

 

Suzy berbelok ke kanan, lalu bersandar didinding. Nafasnya tersengal-sengal diakibatkan karena ia berlari kencang diselingi dengan tangisan. Suzy terduduk begitu saja di lantai. Air matanya terus mengalir semakin deras, dan ia semakin merasa takut. Suzy dengan perlahan memberanikan diri untuk mengintip, meyakinkan diri bahwa Jongin sudah tidak mengikuti dirinya lagi. Suzy bisa sedikit bernafas lega saat ia tidak mendengar suara teriakan Jongin lagi. Namun air matanya terus saja mengalir dengan deras. Ia benar-benar takut sekarang. Dengan tergesa-gesa, Suzy mengeluarkan ponselnya mencoba untuk menghubungi Myungsoo, namun air matanya kembali lolos begitu saja dari pelupuk matanya saat bola mata indahnya melihat dengan jelas sepasang kekasih sedang berciuman mesra di salah satu koridor tidak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Ia menjatuhkan ponselnya begitu saja.

Bukan karena mesranya mereka berciuman yang membuat Suzy tidak mampu lagi untuk berkata-kata, tetapi ia dengan jelas mengenal siapa namja yang sedang berciuman dengan seorang yeoja itu.

“M-Myungsoo-ya….”

“MPHH!!” Suzy sedikit meronta saat seseorang membekap mulutnya dengan kuat, kemudian menyeretnya menjauh dari tempat itu. Namun beberapa saat kemudian ia bernafas lega saat Minho melepaskan bekapan tangannya dari mulutnya.

“Suzy-ya, gwaenchana? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Minho dengan menyerbu Suzy dengan pertanyaan-pertanyaan khawatir. Ia segera mengambil sapu tangannya lalu menghapus air mata Suzy.

“Ya, Suzy. Apa yang terjadi?”

“Minho-ya, tadi Jongin mengejarku. Makanya aku ketakukan.” jawab Suzy sambil sesenggukan. Sekarang yang ia pikirkan bukan tentang Jongin lagi, melainkan masih memikirkan kejadian yang barusan dilihatnya tadi. Myungsoo sedang berciuman dengan seorang yeoja. Itu sungguh sangat membuatnya sakit hati.

“Kenapa kau tidak menghubungiku? Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Minho semakin panik, namun kemudian teringat sesuatu.

“Apa yang kau lihat tadi disana?” tanya Minho lalu menggeser tubuhnya sedikit berusaha melihat apa yang terjadi di balik sana. Namun dengan cepat Suzy menariknya mecegah namja itu untuk melihatnya.

“Minho-ya, aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu takut. Bisa kita pergi dari sini sekarang?”

Minho mengangguk lalu membantu Suzy berdiri. “Suzy-ya, kau baik-baik saja, kan? Aku khawatir padamu.”

“Aku baik-baik saja, Minho-ya.” Suzy tersenyum meyakinkan Minho kalau dirinya baik-baik saja.

 

 

*

 

“Ya, Son Naeun! Apa yang kau lakukan?” teriak Myungsoo sambil mendorong tubuh Naeun menjauh darinya. Ia kemudian menggosok bibirnya dengan punggung tangannya, benar-benar kaget melihat perbuatan Naeun yang sudah diluar batas.

“Oppa, aku merindukanmu~” katanya, kemudian berjalan mendekati Myungsoo.

Myungsoo berjalan mundur menghindari pelukan Naeun saat gadis itu mencoba memeluknya.

“Naeun, sebaiknya kau pergi dan jangan temui aku lagi.” Myungsoo berbalik lalu berjalan cepat meninggalkan Naeun, namun gadis itu menarik tangan Myungsoo dan menghentikan langkah Myungsoo.

“Oppa, ada apa denganmu? Kau berubah.” ujar Naeun kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher Myungsoo, bermaksud akan mencium Myungsoo lagi.

“Ya! Lepaskan aku!” teriak Myungsoo dengan suara keras, lalu menghempaskan tangan Naeun begitu saja. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera berjalan cepat meninggalkan Naeun yang berdiri terpaku menatap kepergiannya.

 

 

*

 

 

Sesampainya di rumah, Myungsoo segera masuk ke kamarnya lalu menyalakan lampu kamar. Ia sedikit heran karena ia tidak melihat Suzy ada di dapur. Biasanya di jam seperti ini ia sedang memasak untuk menyiapkan makan malam.

Myungsoo mengangkat bahunya sekilas, kemudian mengambil sebotol soda dari dalam kulkas. Penasaran juga, Myungsoo dengan perlahan berjalan menuju kamar Suzy, lalu menempelkan telinganya di pintu. Merasa ia tidak mendengar apapun dari dalam, Myungsoo mengetuk pintu itu beberapa kali. Hingga ketukan yang keempat kali Suzy sama sekali tidak membuka pintunya, akhirnya pun Myungsoo masuk begitu saja ke dalam kamar Suzy.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya pertanda ia heran karena kamar Suzy gelap gulita. Ia meraba-raba dinding lalu menyalakan lampu. Myungsoo menemukan Suzy sedang tertidur di ranjangnya. Ia mendekati Suzy yang sedang tertidur pulas, memandangi wajah Suzy beberapa saat, lalu menyelimuti tubuh Suzy. Ia terpesona melihat wajah damai Suzy ketika sedang tertidur, sampai tidak sadar kalau ia tengah tersenyum saat ini. Sebelah tangannya terangkat untuk membelai rambut Suzy, kemudian menyingkirkan poni gadis itu yang menutupi matanya.

Merasa ada yang menyentuhnya, Suzy menggerakkan tubuhnya sebentar sambil bergeser sedikit ke tepi tempat tidur. Myungsoo kembali tersenyum, menyadari kalau Suzy tertidur sangat pulas. Hingga beberapa menit kemudian, tampaknya Myungsoo enggan untuk meninggalkan kamar Suzy. Ia sangat betah memandangi wajah Suzy yang sedang tertidur. Suzy kembali bergerak. Kali ini ia bergerak semakin bergeser ke tepi tempat tidur, nyaris saja terjatuh kalau Myungsoo tidak menahan pinggang dan kepala Suzy. Myungsoo berjongkok sambil tetap menahan tubuh Suzy agar tidak terjatuh.

“Aish, yeoja ini…” keluhnya sedikit panik. Takut juga bila tadi ia terlambat sedikit saja maka Suzy akan jatuh dari tempat tidurnya.

Masih dengan posisi berjongkok, Myungsoo masih setia menahan tubuh Suzy meskipun tangannya sudah merasa pegal. Hingga beberapa saat kemudian, Suzy kembali bergerak, dan bingo! Ia terjatuh dari tempat tidur, dan dengan sigap Myungsoo menangkap tubuh Suzy. Suzy sontak terbangun, dan kaget setengah mati saat melihat Myungsoo.

“Mwo? Myungsoo-ya, apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyanya sambil berdiri.

“Ah, ani. Aku…aku…” Myungsoo sangat gugup saat akan menjawab pertanyaan Suzy, tidak tahu harus berkata apa. Lalu ia berdiri, dan tersadar kalau mata Suzy membengkak pertanda ia habis menangis.

“Suzy-ya, ada apa dengan matamu? Apa kau menangis?”

“Aniyo, aku hanya sangat mengantuk saja.” Jawab Suzy berusaha untuk tidak menatap wajah Myungsoo. “Myungsoo-ya, sebaiknya kau keluar. Aku ingin beristirahat.” Suzy berlalu dari hadapan Myungsoo, membuka pintu kamarnya untuk mempersilahkan Myungsoo segera keluar.

Myungsoo merasa ada yang aneh dengan sikap Suzy tidak banyak berkomentar, kemudian ia keluar kamar Suzy dengan diam. Tepat saat Suzy menutup pintu kamarnya, Myungsoo berbalik untuk melihat kamar Suzy sekilas. Ia menyentuh pintu itu pelan, kemudian berjalan menuju kamarnya.

Suzy berjalan pelan menuju tempat tidurnya, lalu menangis perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes keluar juga.

“Hiks…kenapa rasanya sesakit ini?”

 

 

*

 

 

Keesokan paginya, saat Myungsoo terbangun, ia menyadari kalau Suzy sudah tidak ada dirumah.

Apa dia sudah pergi?’ batin Myungsoo dalam hati. Ia kemudian menuju ke kamar mandi, membasahi tubuhnya, lalu mulai berpikir. Ia bingung dengan sikap Suzy. Ada apa dengan yeoja itu? Myungsoo merasa kalau Suzy sengaja menghindarinya. Apa itu karena Myungsoo melarang Suzy dekat dengan Minho? Ani. Kalau karena itu, kenapa Suzy mau menyetujui permintaannya saat ia menyuruhnya jangan terlalu dekat dengan Minho lagi?

“Aish! Molla! Yeoja itu benar-benar membuatku gila!” teriak Myungsoo gusar. Ia keluar dari kamar mandi, lalu memakai baju yang akan ia pakai ke kampus.

Sementara itu di kampus, Suzy sedang menikmati sarapannya di kantin tanpa semangat. Ia hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa berniat untuk memakannya. Sedari tadi ia hanya melamun dengan tatapan kosong. Tak berapa lama kemudian, Minho datang sambil membawa cokelat panas dan menyuguhkannya di hadapan Suzy. Suzy sedikit kaget dengan kedatangan Minho yang secara tiba-tiba hanya balas tersenyum lalu mengambil cokelat panas itu dari tangan Minho. Minho duduk tepat di sebelah Suzy sambil menatap gadis itu dengan serius.

“Suzy-ya, apa kau sakit? Kau terlihat tidak bersemangat hari ini.” Tanya Minho sambil terus memperhatikan Suzy.

“Aniya. Aku hanya kurang tidur saja.” Jawabnya berbohong, kemudian menyeruput cokelat panas yang ada di tangannya.

“Sebaiknya kau banyak beristirahat. Lihat, kantung matamu terlihat sangat jelas sekali.” Minho mengangkat tangannya lalu menyentuh mata sebelah kiri Suzy. Ia kemudian tersenyum sambil mengacak rambut Suzy pelan.

“Suzy!” Minho dan Suzy menoleh ke belakang secara bersamaan dan melihat Jonghyun sedang berlari tergesa-gesa ke arah mereka.

Minho mengernyit heran, mengingat sepertinya ia pernah bertemu dengan namja ini sebelumnya.

“Ada apa?” tanya Suzy santai bercampur dengan rasa khawatir.

“Ya, Suzy. Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Jongin akan segera datang.” Jelas Jonghyun sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk.

“Mwo?” Suzy sontak berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Minho agar segera pergi dari sini sebelum Jongin sempat melihatnya disini. “Minho-ya, ayo kita pergi dari sini!”

Minho bangkit dari duduknya, kemudian memandang sekilas pada Jonghyun. “Gomawo.” Katanya singkat, lalu berlari mendahului Suzy dan menarik tangan gadis itu.

Minho berjalan cepat sedangkan Suzy sedikit berlari karena ia tidak bisa menyeimbangi langkah Minho, dan Minho yang menarik tangannya otomatis membuatnya mau tidak mau harus berlari.

“Suzy-ya, sebaiknya kita bersembunyi di ujung gedung sana saja.” Kata Minho di tengah perjalanan mereka, lalu menatap Suzy yang sepertinya sudah kelelahan berlari.

“Eoh? Ne.”

Myungsoo yang baru saja memasuki area kampus tidak sengaja matanya melihat Minho dan Suzy sedang berlari. Ia mendengus pelan, lalu mengikuti kedua orang itu dengan langkah santai.

Apa yang akan mereka lakukan?’ batinnya, lalu semakin mempercepat langkahnya.

Myungsoo terus saja mengikuti mereka dan melihat mereka berhenti di balik salah satu gedung. Myungsoo mempercepat langkahnya untuk menghampiri kedua orang itu.

Di tempat lain, Minho dan Suzy berhenti di balik tembok di ujung gedung. Nafas mereka tersengal-sengal karena terlalu banyak berlari. Minho sedikit kaget karena melihat Suzy yang mulai menangis.

“Ya, Suzy. Ada apa? Kenapa kau menangis?” katanya panik sambil mengelus-elus kedua bahu Suzy.

“Minho-ya, aku takut…” jawab Suzy dengan air mata yang menetes deras.

“Suzy-ya, kau tenang saja, ne? Ada aku di sini. Aku akan melindungimu.” Dengan gerakan refleks, Minho menarik tubuh Suzy lalu memeluknya. Ia semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar Suzy semakin terisak. Ia bisa merasakan kalau bajunya basah karena terkena air mata Suzy.

Suzy kaget setengah mati saat merasa tangannya ditarik dengan kuat, dan matanya melebar saat melihat Myungsoo dengan tatapan marahnya.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini? Dan kenapa kau menangis?” tanyanya dengan tak sabaran. Ia semakin menguatkan genggamannya pada tangan Suzy, membuat Suzy meringis kesakitan karenanya.

“Myungsoo-ya…”

“Ya, Choi Minho! Sudah ku tegaskan padamu jangan pernah mendekati Suzy lagi!” teriak Myungsoo kepada Minho.

“Ya, lepaskan Suzy!” kata Minho sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Myungsoo pada Suzy. Namun dengan sigap Myungsoo menghindarinya.

“Jangan pernah kau mendekati Suzy lagi.” Kata Myungsoo dengan nada dingin. Ia menatap Minho dengan tatapan emosi, namun dibalas Minho dengan tatapan yang tak kalah emosi.

“Aku hanya melindunginya dari Jongin!” teriak Minho dan dengan gerakan cepat menarik tangan Suzy dari genggaman Myungsoo.

Myungsoo yang mendengar perkataan Minho sempat terdiam beberapa saat, namun ia menarik kembali tangan Suzy dan membawa Suzy menjauhi Minho.

“Ya! Kau mau membawa Suzy kemana?” teriak Minho lagi sambil mengejar Myungsoo dan Suzy.

Suzy meringis kesakitan saat merasa Myungsoo menggenggam tangannya dengan kuat. Myungsoo membalikkan tubuhnya dan menatap Minho lagi.

“Jangan ikuti aku!” Katanya dengan nada penekanan, membuat Minho mau tidak mau menghentikan langkahnya dan mematung melihat kepergian mereka berdua.

 

 

*

 

 

“Mau sampai kapan kau menangis?” tanya Myungsoo mulai bosan. Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu Suzy berhenti menangis, namun faktanya Suzy masih saja terus menangis.

Saat ini hujan deras, dan mereka sedang berada di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Suzy menolak pulang saat Myungsoo mengajaknya, dan menolak makan saat Myungsoo mengajaknya ke warung ramen.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Myungsoo lagi berusaha untuk sabar. Namun ia menunggu hingga beberapa menit Suzy tak kunjung menjawab setiap pertanyaannya.

“Ya, Kim Suzy.” Panggil Myungsoo lagi, namun lagi-lagi Suzy sama sekali tidak meresponnya.

Myungsoo menghela nafas mencoba meredam emosinya, kemudian membuka jaketnya dan menyerahkannya pada Suzy.

“Suzy-ya, pakai ini. Udara sangat dingin.” Kata Myungsoo. Namun sama sekali tidak ada respon dari Suzy. Akhirnya Myungsoo menarik tangan Suzy, dan dengan perlahan memakaikannya di tubuh Suzy.

Beberapa manit kemudian, suasana menjadi sepi. Hanya terdengar suara hujan yang cukup deras dan suara isak tangis Suzy.

“Jujur saja, aku tadi sangat marah melihat kau berpelukan dengan Minho.” Kata Myungsoo mencoba mengusir suasana sepi yang terjadi di antara mereka. Myungsoo menatap Suzy, lalu tersenyum tipis. Lagi-lagi Suzy tampaknya tidak berniat untuk berbicara padanya.

Suzy mengangkat kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela. Melihat hujan lebih menarik menurutnya dari pada meladeni Myungsoo. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“Aku bahkan tidak marah saat kau berciuman dengan yeoja lain.” Katanya tiba-tiba sambil terus menatap ke luar kaca mobil.

Myungsoo sontak membeku mendengar pernyataan Suzy barusan. Ia mematung untuk beberapa saat, dan akhirnya mengerti apa penyebab Suzy belakangan ini selalu menghindarinya. Ternyata Suzy melihat adegan ciumannya dengan Naeun beberapa waktu lalu. Myungsoo tersenyum geli saat menyadari ternyata Suzy cemburu.

“Kau melihatnya?” tanya Myungsoo sedikit gugup, takut membuat Suzy semakin menangis.

“Aku hanya merasa tidak adil. Aku hanya berpelukan dengan Minho tapi kau sudah sangat marah. Bahkan kau berciuman dengan seorang yeoja aku sama sekali tidak menggubrisnya.” Jawab Suzy dengan suara bergetar. Air matanya menetes lagi.

Myungsoo tidak tahu harus berkata apa lagi. Ingin menjelaskan yang sebenarnya pada Suzy kalau ciuman itu terjadi tanpa adanya unsur kesengajaan, namun takut Suzy tidak percaya akan penjelasannya mengingat kalau Naeun menciumnya dengan penuh hasrat menggebu-gebu(?) saat itu.

“Aku bahkan tidak pernah melarangmu berteman dengan yeoja manapun, tapi kenapa kau melarangku berteman dengan Minho?” tanya Suzy lagi dengan berlinang air mata. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya. Menahan sakit ini. Ia ingin menumpahkan semua kekesalannya pada Myungsoo.

“Bukan begitu maksudku…” ujar Myungsoo mulai salah tingkah.

“Kau tahu kenapa aku marah setiap kali kau bersama Minho?” tanya Myungsoo hati-hati, lalu diam sejenak memberi jeda. “Itu karena aku cemburu.”

Suzy spontan memalingkan wajahnya dari kaca mobil dan menatap wajah Myungsoo dengan ekspresi tidak percaya. Ia merasa kalau tadi ia salah dengar.

“M-mwo? Kau bilang apa?” tanyanya sambil melebarkan matanya dan otomatis tangisnya berhenti.

Myungsoo rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kaget Suzy, namun ditahannya dan ia hanya tersenyum lebar.

“Aku bilang kalau aku cemburu.”

“T-tapi kenapa kau harus cemburu?” tanya Suzy dengan wajah memerah. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang.

“Eoh? Pertanyaan macam apa itu?” tanya Myungsoo pura-pura marah, namun akhirnya ia tersenyum juga.

Suzy sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi dan masih dalam ekspresi terkejutnya.

“Ya, Myungsoo-ya. Katakan apa alasan kau cemburu.” Kata Suzy mendesak.

“Mwo? Kenapa aku harus memberitahumu?”

“Ya, katakan!” kata Suzy memaksa. Ia akui kalau ia sangat bahagia sekarang.

“Ani.” Jawab Myungsoo singkat sambil menatap wajah Suzy.

“Ya, cepat katakan!”

“Kau mau aku memberitahumu?” tanya Myungsoo sambil memikirkan sesuatu. Ia tersenyum lagi saat melihat Suzy mengangguk antusias.

“Berikan aku ciuman disini.” kata Myungsoo sambil menunjukkan bibirnya dan memaju-majukan bibirnya dengan genit.

“MWO? YA!!!” dan Myungsoo mengaduh kesakitan saat Suzy melemparinya dengan segala barang-barang yang ada di dalam mobil.

 

**********

 

The next week later~

 

 

Hujan turun sangat deras. Seolah-olah ia memuntahkan semua isi perutnya ke bumi. Dan disinilah Suzy sekarang. Duduk termenung di depan ruang kelasnya sambil memandang hujan yang sepertinya tak akan berhenti dalam waktu dekat. Ia bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang sedang ia dengarkan melalui headset yang tersambung ke handphonenya. Ia sedang menunggu Myungsoo. Karena baru saja Myungsoo menghubunginya dan memperingatkan Suzy agar tidak pergi kemana-mana. Cukup tunggu di depan ruang kelasnya karena ia akan segera datang. Suzy otomatis tersenyum saat mengingat wajah Myungsoo. Wajah yang selalu membuatnya terpesona, wajah yang selalu membuat jantungnya berdetak tak karuan saat melihatnya. Perubahan sikap Myungsoo yang drastis membuat hari-hari Suzy semakin menyenangkan. Ia bahagia.

Tanpa ia sadari, Minho datang secara diam-diam dan dengan cepat menutup mata Suzy. Suzy  yang sedikit kaget lalu memegang tangan itu dan menebak kalau itu adalah Myungsoo.

“Myungsoo-ya~”

Minho mematung ditempatnya. Ia kemudian melepaskan tangannya dari mata Suzy, dan menatap Suzy dengan tatapan yang sulit diartikan. Perasaan sakit hati? Entahlah.

Suzy berbalik dan seketika berdiri kikuk saat melihat Minho yang mematung dihadapannya.

“M-minho-ya… apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy basa-basi. Ia benar-benar tidak enak pada Minho, takut membuat namja itu tersinggung.

Minho tersenyum pada Suzy untuk menutupi ekspresi kekesalannya.

“Ani. Aku hanya ingin menemanimu disini. Aku juga sedang menunggu hujan reda.” Ujarnya sesantai mungkin. “Kau akan pulang dengan Myungsoo?”

“Ne. Dia akan segera datang kesini sebentar lagi.” Jawab Suzy sambil berusaha tersenyum.

“Suzy-ya, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ne? Eoh, kau mau bertanya apa?” Suzy melepaskan headset dari telinganya, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Myungsoo?”

“N-ne?” Suzy berusaha bersikap sebiasa mungkin.

“Kami sudah dijodohkan.” Dan suara yang amat sangat Suzy kenal terdengar, membuat Suzy melebarkan matanya tak percaya.

 

 

T

B

C

 

Note: Annyeongggggg~ aduh maaf banget yaaa ff ini selalu telat update T,T maafkan sayaaaaaaa. Well, semoga puas sama chapter ini. Maaf juga kalau ini terlalu pendek, sekali lagi maafkan >< Terima kasih banyak bagi yang selalu setia menunggu ff ini, aku harap kalian masih ingat sama ff ini hehehe Aku tunggu komentarnya yaaaa~^^ oh iya, mau numpang promote boleh dong ya hehe bagi yang berkenan mohon mengunjungi WP pribadi saya, masih baru kkkkk (reniilubis.wordpress.com), saya akan memposting ff baru disana as soon as possible. Terima kasih banyak~ SARANGHAEYO~^^

 

 

42 responses to “It Must Be Love Chapter 13

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s