Abnormal Parents Series Chapter 3

abnormal-parents-reniilubis

Title: Abnormal Parents | Author: reniilubis | Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Kim Hyun Gi (OC) | Genre: Family, Drama | Rating: Teen | Length: Chaptered

Disclaimer: All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

 

 

Happy reading~^^

 

 

Suzy memperhatikan alat testpack itu dengan tangan bergetar. Perutnya kembali mual. Ia menatap bayangan dirinya dicermin, wajahnya tampak pucat.

“Aish! Bagaimana cara menggunakan alat sialan ini?” Suzy melemparkan alat testpack  itu ke tempat sampah dengan kasar. Ia keluar dari kamar mandi, mejatuhkan tubuhnya yang lemas keatas ranjang. Ia berpikir, dirinya tak mungkin hamil. Jadwal menstruasinya masih berjalan normal. Ia pasti terlalu kelelahan hingga masuk angin seperti ini. Suzy termenung. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya kalau dia benar-benar hamil. Bagaimana karirnya?

 

*

*

*

 

Hyun Gi duduk dengan santai disalah satu kursi taman, ia menunggu Jong Soo, mereka sudah sepakat untuk bermain bersama hari ini. Hyun Gi sebenarnya tidak terlalu tertarik, tapi saat Jong Soo mengatakan ia akan membawa Jong Ae juga, Hyun Gi tak bisa menolaknya. Ia bahkan lebih ingin bertemu dengan Jong Ae dibandingkan bermain bersama Jong Soo. Hyun Gi memicingkan matanya saat melihat Jong Soo yang kini sedang berjalan ke arahnya, menggandeng adik kecilnya yang masih berumur 5 tahun yang terlihat menggemaskan berjalan sambil memakan es krim. Hyun Gi tersenyum pada Jong Ae yang terlihat malu-malu. Jong Soo mengangkat tubuh Jong Ae untuk duduk disebelah Hyun Gi.

“Kau tidak sedang menyogokku dengan membawa Jong Ae kemari karena aku anak dari Myungsoo dan Suzy, kan?” Hyun Gi menatap Jong Soo, Jong Soo mendengus.

“Eomma yang menyuruhku membawa Jong Ae jalan-jalan, bukan karenamu.” Jong Soo mencibir, ia mengelap mulut Jong Ae dengan tissue.

“Kau bahkan membuatnya takut hanya dengan tatapanmu itu. Ya! Berhenti menatapnya seperti itu!” Jong Soo menoyor kepala Hyun Gi. Jong Ae bukan tipe anak yang pemalu, tapi entah kenapa setiap kali bertemu dengan Hyun Gi, Jong Ae selalu menundukkan kepalanya.

“Aku hanya menatapnya saja. Apa yang salah dengan itu?” Hyun Gi tidak terima atas tuduhan Jong Soo yang mengatakan bahwa ia menakuti Jong Ae, ia hanya menatap Jong Ae dengan tatapan datar. Apa yang menakutkan dari situ?

“Ku bilang berhenti menatapnya seperti itu atau ku buat matamu keluar dari tempatnya!” Hyun Gi menatap sinis Jong Soo. Ia merasa Jong Soo mengidap penyakit brother-complex. Dia terlalu berlebihan.

“Aish! Menyebalkan sekali.” Hyun Gi memilih mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Jong Soo kini sedang sibuk membersihkan mulut Jong Ae akibat es krim yang dia makan.

“Aku akan membeli minuman sebentar. Kau jaga Jong Ae dan jangan membuatnya menangis!” Hyun Gi malah berharap Jong Soo tidak usah kembali lagi. Bocah itu selalu saja berlebihan, benar-benar idiot. Jong Soo mulai menjauh, dan Hyun Gi kembali menatap Jong Ae yang terlihat kesusahan membersihkan mulutnya sendiri.

Hyun Gi dengan cepat mengambil tissue yang dipegang oleh Jong Ae, ia membersihkan mulut Jong Ae dengan perlahan-lahan.

“Makan pelan-pelan, jangan terburu-buru. Aku bisa membelikanmu lebih banyak lagi kalau kau masih ingin memakannya lagi.” Hyun Gi tersenyum tipis. Wajah Jong Ae memerah, entah karena cuaca dingin atau malah tersipu karena perlakuan Hyun Gi. Jong Ae mengangguk kecil, sangat menggemaskan menurut Hyun Gi.

Hyun Gi mengelus rambut Jong Ae saat rambut itu tertiup angin. Rambut lurus yang panjangnya sepunggung dan sedikit bercampur dengan warna pirang itu sangat halus dan harum. Keluarga Jong Soo memang memiliki campuran dari neneknya yang berada di New York. Tak heran jika keduanya terlihat seperti bukan orang Korea asli, mereka berparas rada bule.

Jong Soo selalu mengatakan bahwa Jong Ae adalah anak yang cerewet jika berada dirumah. Tapi faktanya, setiap bertemu dengan Hyun Gi, Jong Ae berubah menjadi anak yang pemalu, ia lebih banyak diam bahkan pada oppanya sendiri.

“Apa kau kedinginan?” tanya Hyun Gi saat melihat hidung Jong Ae yang memerah. Entah kenapa cuaca di sore hari ini tiba-tiba saja menjadi sedikit dingin. Matahari sore bahkan masih menunjukkan sinarnya. Jong Ae menatap Hyun Gi, ia menggeleng pelan. Hyun Gi tersenyum tipis, ia selalu suka menatap bola mata bening milik Jong Ae. Dia sangat cantik.

“Aku haus.” Ujar Jong Ae tiba-tiba. Hyun Gi berdecak. Kemana perginya si idiot Jong Soo itu? Kenapa hanya membeli minuman saja lama sekali?

“Tunggu sebentar lagi, ne? Jong Soo akan segera datang.” Jong Ae kembali mengangguk. Ia kemudian mencoba turun dari kursi bermaksud untuk membuang bungkus es krimnya yang sudah kosong. Hyun Gi yang tidak terlalu fokus melihat Jong Ae yang hendak turun, ia masih memperhatikan sekelilingnya untuk melihat Jong Soo, tidak sadar kalau sekarang Jong Ae sudah melompat turun.

BRUGH—

Suara dentuman benda terjatuh terdengar, Hyun Gi dengan cepat menoleh ke arah sumber suara, ia melotot tak percaya saat melihat Jong Ae yang kini tengah bersimpuh ditanah dengan lutut yang memerah. Hyun Gi segera berjongkok menghampiri Jong Ae yang tampak ingin menangis, genangan air matanya sudah tampak tertahan dipelupuk matanya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyun Gi sedikit panik, Jong Ae tampak bersusah payah menahan isakannya.

“Jangan menangis.” Seru Hyun Gi datar, ia merengkuh dagu Jong Ae dan mendongakkan kepala Jong Ae dengan perlahan. “Kau akan tampak jelek jika menangis.” Katanya lagi, membuat Jong Ae serasa terhipnotis dan menganggukkan kepalanya, dia tidak jadi menangis.

Hyun Gi segera menggendong tubuh Jong Ae dan mendudukkannya kembali diatas kursi. Ia meraih beberapa tissue dan dengan cekatan membersihkan kotoran yang menempel dilutut Jong Ae, untung saja lututnya tidak berdarah, hanya memerah saja akibat benturannya diatas tanah. Hyun Gi juga membersihkan kedua telapak tangan Jong Ae, gadis kecil itu hanya terdiam sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Hyun Gi.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyun Gi sambil mendongakkan kepalanya menatap Jong Ae yang hanya terdiam sedari tadi. Jong Ae balas menatapnya, ia mengangguk kecil.

“Apa ada yang sakit?” Hyun Gi menundukkan kepalanya untuk meniup lutut Jong Ae yang masih memerah, ia meniup-niupnya secara bergantian dikedua lutut Jong Ae, sekedar untuk menghilangkan rasa sakitnya. Jong Ae kembali menggelengkan kepalanya.

Hyun Gi tertegun saat melihat hidung Jong Ae yang kembali memerah, sangat jelas sekali kalau Jong Ae sedang kedinginan. Dengan cepat Hyun Gi meraih tangan Jong Ae dan menggenggamnya, jari-jari tangan Jong Ae juga terasa dingin.

“Setelah Jong Soo datang sebaiknya kalian langsung pulang. Cuacanya sudah mulai dingin.” Hyun Gi melepas jaketnya dengan cepat, ia menarik tangan Jong Ae dan memakaikan jaket itu dengan paksa ditubuh Jong Ae. Jong Ae tidak protes ataupun menolak, dia hanya diam saja, membuat Hyun Gi kesal. Semua perkataannya tak satupun dibalas oleh Jong Ae. Hyun Gi mengancingkan jaketnya yang kebesaran ditubuh Jong Ae, setidaknya itu bisa mengurangi rasa dingin karena kini tangan Jong Ae tertutup oleh lengan jaketnya yang kepanjangan ditangan Jong Ae.

Detik berikutnya, Jong Soo datang dari arah belakang, ia menenteng 2 buah cokelat panas ditangannya. Jong Soo memberikan 1 buah kepada Hyun Gi, ia kemudian melirik Jong Ae yang tertunduk.

“Kau apakan adikku?” Tanyanya sinis, seolah-olah ia menginterogasi Hyun Gi atas perbuatannya pada Jong Ae.

“Sebaiknya kalian pulang saja. Jong Ae sudah kedinginan.” Hyun Gi kembali menatap Jong Ae, gadis kecil itu masih betah menunduk, entah apa yang dia pikirkan.

“Dia bahkan belum bermain sama sekali. Dia ingin mencoba ayunan itu.”

“Kita bisa bermain lain kali. Sebaiknya kau antarkan dia pulang.” Desak Hyun Gi tak sabaran. Ia paling benci jika berdebat dengan Jong Soo.

Jong Soo tampak terdiam. Ia memberikan cokelat panasnya pada Jong Ae yang langsung diterima oleh adiknya.

“Kalau kau tidak pulang sekarang, aku yang akan mengantarkannya pulang.” Penuturan Hyun Gi barusan sukses membuat Jong Soo terdiam. Ia merasa kesal—kesal karena dirinya tak pernah bisa menang melawan Hyun Gi. Hyun Gi benar-benar seorang rival yang berat.

 

 

**

 

 

Suara derap kaki yang  masuk ke dalam kamar dan mendekat ke arahnya membuat Myungsoo menghentikan aktivitasnya membuat lagu. Ia tahu itu Suzy, ia menatap sang istri tercintanya yang kini sedang meletakkan segelas cokelat panas diatas mejanya tepat disebelah kertas-kertas berharga miliknya.

“Jangan terlalu bekerja keras.” Suzy berdiri disamping Myungsoo. Myungsoo melirik segelas cokelat panas yang masih mengepulkan asap, ia meraihnya.

“Hm.” Myungsoo menjawab dengan gumaman. Dia menyeruput cokelat panasnya.

Suzy merasa suaminya itu sedang tidak menggubrisnya. “HEI! JANGAN MENCUEKIKU!” teriaknya murka.

Myungsoo nyaris menyemburkan cokelat panasnya ketika Suzy tiba-tiba berteriak. Suzy kelabakan sendiri, ia dengan cepat mencari sapu tangannya, mengelap mulut sang suami yang belepotan cokelat panas karena ulahnya.

“Maaf, maaf…” dan berakhir cokelat panas Myungsoo tumpah membasahi berkas-berkas  lagunya yang terlihat penting karena Suzy tak sengaja menyenggol gelas yang diletakkan Myungsoo diatas meja.

“Astaga!” Suzy jadi kelabakan sendiri. Dia cepat menyingkirkan gelas cokelat panas tersebut dan tanpa sengaja menjatuhkannya.

PRANGG—

“Ba—bagaimana ini?” Suzy memucat. Dia cepat-cepat menunduk, bahkan dia tak berani menatap Myungsoo yang pasti marah besar dengan kecerobohannya. Suzy cepat merunduk—membersihkan pecahan gelas itu. Tapi Myungsoo cepat menahan tangannya.

“Tanganmu akan terluka.” Myungsoo berbicara dengan nada yang begitu berat. Suzy terdiam. Wajahnya sungguh dekat dengan wajah Myungsoo. Apakah baru saja Myungsoo mencemaskannya? Harusnya Myungsoo marah. “Dasar ceroboh.” Ujar Myungsoo lagi dengan nada datar.

“Kau harusnya marah.” Suzy menatap Myungsoo dengan tatapan bersalah. Myungsoo pasti bekerja mati-matian untuk membuat lagu itu, tapi Suzy malah mangacaukannya begitu saja. Myungsoo berhak marah, dan Suzy mengakui kalau dirinya memang bersalah dan ceroboh.

“Untuk apa?”

“Karena aku merusak berkas-berkas lagumu.” Myungsoo tersenyum.

“Aku lebih marah jika istriku yang terluka hanya karena segelas cokelat panas.”

Hening—

Suzy bahkan berdegup hebat. Ia selalu saja tidak tahan jika menatap mata tajam Myungsoo, mata itu terlalu sempurna untuk ia selami. Suzy tersentak kaget saat Myungsoo berdiri dan menarik lengannya lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Suzy jelas bisa melihat bahwa suaminya itu kini tengah menyeringai, Myungsoo meletakkan kedua telapak tangannya disisi kepala Suzy, ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar dirinya tak menimpa tubuh Suzy.

“Tapi—selalu ada hukuman bagi orang yang melakukan kesalahan, kan?” Suzy menatap Myungsoo penuh harap, antara berharap agar Myungsoo tidak ‘bermain’ terlalu keras, atau malah berharap Myungsoo tidak melakukannya malam ini.

“Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya Myungsoo sedikit khawatir. Ia sudah mendengar keluh kesah istrinya tentang ia yang mual-mual dipagi hari. Suzy mengangguk.

“Aku rasa aku hanya terlalu kelelahan.” Tentu saja Suzy tak memberitahu Myungsoo perihal alat testpack yang akan ia gunakan untuk mengecek kehamilannya, dan berakhir dengan membuang alat tersebut karena Suzy tidak tahu cara menggunakannya. Ia yakin kalau dirinya tidak hamil, terbukti malam ini perutnya sudah kembali normal.

“Kita akan melakukan press conference dalam waktu dekat mengenai status hubungan kita dan Hyun Gi. Apa kau siap?” Myungsoo masih dalam posisinya semula menghimpit tubuh Suzy.

“Apapun itu demi kebahagiaan keluarga kita.” Suzy tersenyum lebar. Myungsoo merasa puas dengan jawaban Suzy. Ia dengan cepat menundukkan kepalanya dan meraup bibir Suzy dengan rakus. Suzy mendorong tubuh Myungsoo saat ia merasa hampir kehabisan oksigen.

“Kenapa kau tidak mematikan lampunya terlebih dahulu?” Suzy mengerling nakal ke arah Myungsoo. Myungsoo seakan mengerti maksud Suzy, ia bergerak dengan cepat dan tangannya menekan tombol lampu dengan gesit. Lampu mati, dan gelap seketika.

 

 

**********

 

 

“Kau dapat berapa?” Jong Soo bertanya dari kursinya. Ia menatap Hyun Gi yang kini sudah melipat kertas ujiannya dan memasukkannya dengan tenang kedalam tasnya.

“Kenapa kau masih menanyakannya?” Hyun Gi akan bersikap sombong dan arrogan hanya didepan Jong Soo saja. Dia suka membuat Jong Soo kesal dan merasa kalah.

“Hanya menjawab nilai saja apa susahnya?” Jong Soo mencibir. Tapi sejujurnya Jong Soo tidak akan pernah bisa marah pada Hyun Gi bagaimanapun menyebalkannya bocah sok tampan itu. Mereka bersahabat baik hingga saat ini, walaupun sering bertengkar mengenai hal-hal kecil.

“Tidak perlu ditanyakan lagi, aku mendapat nilai sempurna. Dan aku yakin kau pasti dibawahku lagi, Lee Jong Soo.” Hyun Gi menatap Jong Soo dengan tatapan meremehkan, ia bahkan tersenyum sinis. Persis seperti tokoh-tokoh jahat di drama-drama yang sering ditonton ibunya.

Jong Soo hanya balas menatapnya datar, ia melipat kertas ujiannya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia akui Hyun Gi memang pintar bahkan jenius, tapi dirinya juga tidak bodoh. Ia hampir sama pintarnya dengan Hyun Gi. Jika Hyun Gi selalu mendapat peringkat pertama, maka peringkat kedua akan selalu ditempati olehnya.

“Kita akan pergi ke rumah Minsoo sepulang sekolah?” Tanya Hyun Gi sambil bangkit dari kursinya, ia berjalan menuju keluar kelas diikuti Jong Soo disebelahnya. Saat ini sedang jam istirahat makan siang, mereka berdua akan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.

“Tugas Mr. Cho selalu saja merepotkan.” Jong Soo mendumel, Hyun Gi mengiyakan dalam hati. Mereka akan pergi ke rumah Minsoo sepulang sekolah nanti untuk mengerjakan tugas itu bersama-sama.

 

 

*

 

 

“Apa Hyun Gi belum pulang juga?” Myungsoo bertanya saat ia baru saja sampai dirumah. Ia melihat Suzy yang tampak mondar-mandir diruang tengah dengan wajah panik, ponselnya tak henti-hentinya ia tempelkan ditelinganya.

“Hyun Gi tidak bisa dihubungi.” Myungsoo menggeram. Belakangan ini Hyun Gi sudah mulai membangkang. Ia sering pulang malam, sama sekali bukan waktu jam pulang anak Sekolah Dasar. Ia bahkan sering tak mengabari mereka kemana ia pergi sepulang sekolah, benar-benar membuat khawatir. Myungsoo tidak bermaksud untuk mengekang Hyun Gi, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan Hyun Gi terlalu bebas. Tapi Myungsoo tetap saja tidak bisa marah pada Hyun Gi, bagaimanapun juga ia sangat menyayangi Hyun Gi. Seharusnya Myungsoo tidak perlu terlalu khawatir karena Mr. Park akan selalu bersama Hyun Gi, tapi tetap saja itu mencemaskannya.

“Dia sudah mulai nakal rupanya.” Myungsoo menghempaskan tubuhnya di sofa ruang televisi, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Hyun Gi juga. Ia menelepon Mr. Park, tetapi sama saja seperti ponsel Hyun Gi, tidak bisa dihubungi. Ini jelas membuat Myungsoo luar biasa panik.

“Jangan memarahinya atau menghukumnya saat dia sampai dirumah nanti.” Ujar Suzy lembut sambil duduk disebelah Myungsoo. Myungsoo melirik Suzy dan dia hanya mengangguk sekilas.

Tak berapa lama kemudian, suara pintu apartemen mereka terbuka, Hyun Gi masuk ke dalam dengan langkah santai.

“Aku pulang!” teriaknya keras.

Suzy langsung berdiri dan menghampiri Hyun Gi, menerjang tubuh anaknya itu dan memeluknya erat.

“Kau dari mana saja?” Suzy bahkan sudah hampir menangis, Myungsoo bangkit berdiri dan berjalan mendekati Suzy dan Hyun Gi.

“Dari mana?” Hyun Gi mendongak dan mendapati wajah datar appanya sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hyun Gi langsung tersadar apa yang sedang tejadi. Ia langsung teringat pada kondisi ponselnya yang sudah mati total sejak berada di rumah Minsoo tadi, dan bodohnya ia tidak mengabari orang tuanya. Ia melakukan kesalahan lagi hingga membuat orang tuanya khawatir dan selalu sukses membuat eommanya menangis histeris. Hyun Gi jadi merasa takut menatap mata appanya.

“Aku—aku minta maaf, appa. Aku lupa memberitahu kalau sepulang sekolah tadi aku pergi ke rumah Minsoo bersama Jong Soo untuk mengerjakan tugas bersama. Ponselku mati.” Hyun Gi merogoh saku celana sekolahnya untuk mengambil ponselnya dan menunjukkannya dihadapan Myungsoo. Suzy sudah berhenti menangis, ia mengelus kepala Hyun Gi sayang.

“Tidak apa-apa. Yang terpenting kau baik-baik saja.” Suzy menuntun Hyun Gi menuju kamarnya, sengaja mengabaikan Myungsoo yang masih menatap ke arah Hyun Gi, agar dia tidak marah. Hyun Gi hanya menundukkan kepalanya, takut menatap Myungsoo yang kini hanya terdiam.

“Eomma, maafkan aku.” Ujar Suzy saat memasuki kamarnya. Ia sungguh merasa bersalah, merasa bersalah karena membuat eommanya kembali menangis.

“Tidak apa-apa. Sebaiknya kau mandi dan segera ke meja makan.” Hyun Gi mengangguk patuh, ia meraih handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.

“Apa setelah ini aku akan dihukum?” Hyun Gi berbalik dan bertanya pada Suzy saat melihat wanita itu hendak keluar kamar. Suzy tersenyum lalu menggeleng.

“Tidak akan ada yang menghukummu, sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Myungsoo hanya terlalu lelah bekerja.” Hyun Gi mengangguk, ia masuk ke dalam kamar mandi.

 

 

*

 

 

“Myungsoo-ya, jangan terlalu keras pada Hyun Gi. Dia masih anak-anak.” Suzy menyandarkan kepalanya didada Myungsoo, ia menarik selimut tebal lalu menutupi tubuh mereka berdua diatas ranjang mereka.

“Sesekali dia perlu diberi pelajaran.” Myungsoo menghela nafas berat.

“Kau tidak boleh memarahinya ataupun menghukumnya lagi.”

“Wae?” Myungsoo mengernyitkan dahinya. Dikeluarganya, prinsip yang salah harus dihukum sudah mendarah daging hingga saat ini. Tak ada yang pernah menghilangkan tradisi itu sebelumnya, tradisi itu sudah ditanam oleh nenek moyang mereka, hingga harus dijalankan seumur hidup.

“Pokoknya tidak boleh!” Suzy melotot, Myungsoo memilih mengalah kali ini. Ia segera memejamkan matanya, tidak peduli pada Suzy yang kini sedang mendumel tidak jelas.

“KIM MYUNGSOO!” Myungsoo terpaksa harus membuka matanya lagi saat mendengar suara teriakan Suzy. Hingga malam menjelang tidupun Suzy selalu saja sukses merusak moodnya.

“Ada apa?” tanya Myungsoo datar.

“KAU MENCUEKIKU! KAU BAHKAN TIDAK MENCIUMKU SEBELUM TIDUR!” Myungsoo mendesah panjang. Suzy kembali manja. Entah kenapa Myungsoo merasa belakangan ini Suzy selalu manja berlebihan, dia juga lebih sensitif. Myungsoo tak ambil pusing, ia kembali memejamkan matanya.

“KIM MYUNGSOO!!”

“Bisakah kau kecilkan volume suaramu itu, Kim Suzy?” Myungsoo berusaha untuk tidak membentak Suzy, ia sama sekali tidak mau menyakiti perasaan Suzy nya. Suzy menatapnya sinis, ia bangkit dengan cepat bermaksud untuk turun dari tempat tidur, tetapi Myungsoo menarik lengannya dengan cekatan.

“Kau mau kemana?” tanya Myungsoo, ia masih menahan lengan Suzy, Suzy mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Myungsoo.

“Aku akan tidur dikamar Hyun Gi. Kau sudah tidak mencintaiku lagi.” Suzy memulai lagi aksi ngambeknya. Jurus itu memang tidak akan ampuh bagi Myungsoo, tapi Myungsoo juga tidak suka melihat Suzy yang bersedih.

“Kembali berbaring disini.” Perintah Myungsoo, Suzy tampak ragu sejenak, namun ia menurutinya juga. Ia berbaring kembali disebelah Myungsoo, menatap wajah Myungsoo yang kini sudah mendekat ke wajahnya. Suzy terkesiap selama beberapa detik saat menatap wajah tampan Myungsoo yang tanpa ekspresi itu.

Suzy mengerjap beberapa kali saat Myungsoo mengecup bibirnya singkat.

“Apa ini cukup?” Suzy hanya terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Melihat Suzy yang terdiam, Myungsoo kembali mengecup bibir Suzy.

“Apa kau masih marah padaku?” Kali ini Suzy menggelengkan kepalanya. Myungsoo tersenyum, membuat Suzy terpaku saat melihat lesung pipi itu tercetak secara otomatis dikedua pipi Myungsoo.

“Tidurlah.” Myungsoo menyelimuti tubuh Suzy dan tubuhnya sendiri, ia memiringkan tubuhnya untuk memeluk Suzy yang langsung membalas pelukannya.

 

 

**********

 

 

Ini terjadi lagi. Suzy kembali muntah-muntah dipagi hari. Perutnya terasa mual sejak ia bangun dari tidurnya. Suzy sangat yakin ia sudah menjaga pola makannya secara teratur semenjak insiden ia muntah-muntah untuk pertama kalinya beberapa waktu yang lalu. Apa masalahnya kali ini?

Tubuh Suzy sudah melemas, wajahnya memucat. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi, yang ia pikirkan hanya satu. Testpack.

Suzy mengambil satu buah alat testpack dari dalam lemarinya, ia melangkah dengan cepat menuju kamar mandi. Ragu-ragu ia membuka bungkusannya, sebelumnya ia sudah bertanya pada ibunya bagaimana cara menggunakan alat ini. Suzy menyibukkan dirinya dengan alat tersebut. Saat sudah selesai dan ia melihat hasilnya, kakinya serasa tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri, dunianya terasa berputar.

Suzy kembali memperhatikan alat itu dengan tangan bergetar, alat itu tetap menunjukkan hal yang sama—dua garis yang artinya ‘POSITIF’.

“Sialan.”

 

 

-TBC-

 

 

Note: Annyeonggggg~~~ Maaf yaaa ff ini lama hehehehe maklum, masih rempong sama ujian-ujian yang tak kunjung selesai hehehehe maaf banget kalau chapter ini terlalu pendek dan kurang memuaskan, maafkan T,T ~ oh iya mau numpang promote kkkkk yang berkenan mohon kunjungi WP pribadi aku yaaa ( reniilubis.wordpress.com ) masih baru dan masih seger(?) kkkkkk ada ff baru juga disana, yuk yuk ramaikanlah bersama-sama~~ Well, makasih banyak bagi yang selalu setia nungguin ff ini, silahkan komentar yg sebanyak-banyaknya yaaaa~!! SARANGHAEYOOO~^^

74 responses to “Abnormal Parents Series Chapter 3

  1. ya ampun hyun gi sifatmu sama kaya ayahnya dingin. duh suzy bkl ngmuk sepertinya myungso harus hati-hati nih. author boleh saran aku aga terganggu sama kata2 ‘dicuekin” knp ga di gnti sama kata “diabaikan” menurutku lbih enk di denger ma di bca tpi cma saran sih hehe

  2. Omo omo kenapa jong ae jadi pendiam jika ada hyun gi,masa iya takut sama hyun gi,hyun gi kan baik jong ae .kekekeke
    Aku juga heran kenapa suzy sangat suka berteriak jadi kasian juga sama myungsoo dan hyun gi yg tiap hari diteriaki sama suzy.
    Kenapa malah kata “sialan” yg terucap dari suzy apa suzy tdk bahagia akan kehamilannya?apa dia khawatir dgn karirnya nanti?
    Aigoo semoga suzy bahagia dgn kehamilannya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s