You, I Love You

Untitled-1

Title :You, I Love You

Author :Mrs. Bi_bi

Main Cast :Oh Sehun, Bae Suzy

Support Cast : Krystal Jung, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Kris Wu, Park Chanyeol, Choi Hana (OC)

Genre : School Life, Sad

Rating : G

Length : Oneshoot

Disclaimer : All story is mine

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Untukmu cinta yang tidak pernah aku sebut,

sekali saja aku berharap untuk dapat memanggilmu

.

.

Suzy duduk di kursi yang langsung menghadap ke lapangan sekolahnya, melihat kerumunan siswa laki-laki yang asik bermain bola di tengah teriknya musim panas. Suzy tersenyum melihat satu sosok siswa yang sudah di sukainya secara diam-diam selama hampir 3 tahun ini, satu-satunya pria yang berhasil membuatnya untuk datang ke sekolah yang sebenarnya tidak dia sukai.

Oh Sehun, nama siswa laki-laki itu. Di terlihat berlari ke sana kemari mengikuti arah bola yang terus menggelinding. Tawa dan keringat yang menempel di tubuhnya entah bagaimana membuatnya makin terlihat tampan dan tentu saja makin membuat Suzy tidak bisa memalingkan pandangannya dari Sehun, apalagi saat pria itu menoleh pada Suzy yang makin membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.

Suzy tersenyum pada Sehun yang lebih dulu tersenyum padanya, rasanya tidak ingin waktu seperti saat ini berlalu begitu saja. Gurauan dan suara olokan yang menggoda mereka berdua dari teman-teman Sehun membuat keduanya kembali tersenyum dengan perasaan campur aduk, antara senang dan malu.

Suzy masih tersenyum bahkan saat Sehun mulai kembali fokus pada bolanya, masih dilihatnya Sehun yang sesekali juga memandangnya dan kembali melempar senyum padanya. Suzy menghela nafas dalam sebelum akhirnya memutuskan pergi dari tempatnya sejak beberapa menit lalu, atau memang tempatnya duduk selama 3 tahun ini untuk melihat sosok Sehun lebih lama.

Suzy merapikan buku dan hedset yang di bawanya, rasanya sudah cukup melihat Sehun selama waktu istirahat, toh nanti mereka akan kembali bertemu di kelas. “Suzy-ssi”. Suzy membalikkan badannya saat mendengar seseorang memanggilnya, seolah ada rasa mint menyegarkan yang memenuhi dirinya saat mengetahui bahwa orang itu adalah Sehun, pria yang di sukainya diam-diam itu kini sudah berdiri dengan nafas memburu dan peluh yang entah bagaimana makin membuatnya lebih tampan di mata Suzy.

Suzy bisa merasakan saat degupan kencang memenuhi dadanya dan itu sungguh sangat mengganggu di saat seperti ini, tidak bisakah degupan kencang ini datang lain kali saja? Saat tidak ada Sehun atau kapan-kapan mungkin, hingga dirinya tidak perlu merasa gugup dan takut jika sampai bertingkah bodoh . “Ada apa?”. Tanyanya kemudian.

“Semalam kau berjanji untuk membantuku mengerjakan ujian hari ini”.

“Ah—”. Suzy menganggukkan kepalanya dengan senyum yang kembali membingkai wajah cantiknya. “Aku tahu, aku akan membantumu. Tenang saja”. Ucapnya berusaha sesantai mungkin meskipun nyatanya jauh dari kata itu. Sehun ikut  mengangguk dan segera berbalik setelah mendengar jawaban Suzy yang membuatnya lega, dengan langkah panjangnya Sehun segera kembali pada teman-temannya untuk bermain bola. Sementara Suzy kembali menghirup udara yang tiba-tiba begitu menipis untuknya, dilihatnya Sehun yang sesekali berbalik dan tersenyum padanya hingga kembali menjadikan mereka berdua bahan olokan teman-teman Sehun dan itu membuat hati Suzy berdesir aneh.

“Khm—khm…..”. Krystal menarik rambut panjangnya ke belakang sambil menyenggol Suzy, menggodanya yang sudah makin memerah. “Kau benar-benar menyukainya?”. Suzy menoleh pada sahabatnya itu dan mengangguk. “Aku menyukainya”. Akunya dan kembali menoleh pada Sehun yang kebetulan kembali menoleh padanya. Krystal makin melebarkan tawanya dan segera menarik Suzy dari lapangan sekolah mereka, khawatir jika temannya itu akan makin di mabukkan oleh pesona seorang Oh Sehun.

“Tapi kau sadar kan status kalian?”. Krystal merangkul lengan Suzy dan mereka berjalan beriringan menuju kantin sekolah.

“Aku tahu Krys, aku tidak akan melangkah melewati ini. Dia hanya akan menjadi namja yang aku sukai, hanya seperti itu dan tidak lebih”.

“Good girl”. Krystal mengacungkan jempolnya segera dan makin menarik Suzy menuju kantin sebelum jam istirahat berakhir.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Suzy membuka lembar demi lembar kertas ujian yang berada di hadapannya tenang, dengan lancar tangannya menuliskan jawaban pada lembar ujian itu seolah tidak ada kesulitan berarti. Tepat di bangku samping terhitung nomor dua dari depannya, Sehun sudah menggoyangkan kakinya khawatir. Di tolehnya Suzy yang masih asik menghitung, sementara kertas jawabannya benar-benar kosong dan demi apapun Sehun membutuhkan jawaban yang sudah Suzy janjikan padanya agar bisa terbebas dari hukuman guru killer yang akan menghukum muridnya jika mendapat nilai jelek.

“Oh Sehun!”. Teriak guru killer yang Sehun benci, mengganggu aktivitasnya menoleh pada Suzy untuk meminta bantuan. “Apa yang kau lakukan! Soal milikmu ada di meja depanmu, bukan dibelakang!”.

“Ne”. Ucapnya mengiyakan saja daripada harus dikeluarkan dari kelas oleh guru tidak punya hati itu.

“Suzy-ssi…….”. Panggil guru itu masih dengan suara nyaring.

“Ne—ne seonsaengnim”.

“Jika sudah selesai langsung kumpulkan”.

“Ne”. Suzy mengiyakan ucapan guru itu dan melirik Sehun yang juga meliriknya. Sehun merengut sekaligus memelaskan wajahnya, tidak lupa menunjukkan betapa kosongnya saat ini kertas jawabannya jika Suzy tidak segera membantunya.

“Tunggu sebentar”. Mulut Suzy komat kamit tanpa suara saat mengatakannya pada Sehun agar tidak ketahuan oleh guru mereka, Sehun mengangguk dan kembali melihat kertas jawabannya yang kosong, tangannya bergerak seolah-olah tengah mengisinya agar guru killer itu tidak kembali menegurnya.

Tepat sepuluh menit kemudian, kertas jawaban Suzy sudah berpindah tangan pada Sehun entah bagaimana. Dengan cepat Sehun segera menyalinnya, dan sekali lagi Suzy hanya melihatnya sambil tersenyum. Senyum terkembang Suzy tidak bertahan lama, kebahagiaan dan bunga yang mengelilinginya lenyap saat seorang gadis yang dua tingkat di bawahnya berdiri didepan pintu kelasnya, seolah menunggu seseorang.

Suzy tahu siapa yang dia tunggu, namja yang sudah di sukainya selama 3 tahun ini. Nyatanya seperti ini, kau tidak pernah melihatku dan tampaknya memang tidak akan pernah. Jika saja kau mau melihatku meskipun hanya akan kau jadikan simpanan seperti gadis itu, aku tidak masalah Sehun.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Dering ponsel Suzy berbunyi saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah karena keramas. Dilihatnya nama yang terpampang jelas di layar ponselnya itu dan Suzy pikir dirinya cukup sadar, matanya masih normal, serta dirinya cukup pintar membaca untuk menyadari bahwa nama Sehun yang muncul.

 

Oh ayolah Bae Suzy, ini bukan pertama kalinya Sehun menelfonmu malam-malam begini. Jika tidak karena untuk membantunya mengerjakan tugas, PR, atau ujian, maka dia akan meminta nomor ponsel teman-temanmu. Berhentilah berpikiran dangkal bahwa Sehun menelfonmu karena tertarik padamu, dan hentikan detak jantungmu itu. “Yeobseo?”.

“Suzy-ssi?”.

“Ne, Sehun-ssi. Ada apa?”.

“Ng—”. Tampaknya pria itu sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu padanya, dan Suzy tidak ingin dirinya ikut berpikir bahwa saat ini Sehun benar-benar mulai melihatnya.

“Sehun-ssi?”.

“Ne—ne, begini”.

“Iya?”.

“Bisakah kau memberikan nomor Krystal padaku?”.

“Krystal?”. Ah, jadi diam menelfonku untuk meminta nomor ponsel Krystal? Apakah Sehun tertarik padanya dan ingin mendekatinya?

“Temanku menyukainya”. Lanjut Sehun cepat

 

Kenapa tidak katakan saja jika kau menyukainya? Aku tidak apa dan cukup terbiasa dengan itu. Kau selalu menelfonku untuk menanyakan nomor teman-temanku dengan alasan teman-temanmu yang nyatanya tidak satupun dari mereka mendekati teman-temanku setelah kau meminta nomornya.

 

“Suzy-ssi?”.

“Ne, aku akan segera mengirimkannya padamu”. Suzy mematikan panggilan Sehun sepihak dan segera diketiknya nomor ponsel Krystal, kemudian mengirimkannya pada Sehun.

Suzy berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kamarnya, dilihatnya suasana malam yang tampak begitu cerah dengan bulan dan bintang yang menghiasinya. Lama Suzy berdiri menatap pemandangan langit itu, diliriknya kalender di meja samping tempat tidurnya dan segera di ambilnya, memperhatikan waktu dan tanggal yang akan segera berakhir untuknya sebagai seorang siswa sekolah menengah atas, artinya dirinya akan kesulitan bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu Sehun lagi.

Lalu bagaimana dengan hatinya? Haruskan dia diam saja dan terus menjadikan ini cinta sepihak, cinta tanpa ungkapan, cinta yang bahkan tidak pernah dikatakan? Atau haruskah dirinya mengatakan kebenarannya pada Sehun? Haruskah dirinya mengaku bahwa semua yang selama ini dilakukannya, mulai dari membantu tugas sekolah, hingga selalu duduk ditempat yang sama saat jam istirahat karena cintanya pada Sehun? Pria bertunangan dengan banyak selingkuhan, haruskan dirinya melakukan itu?

Lalu bagaimana jika dirinya melakukan itu? Akankah Sehun menertawakannya, atau menjadikannya salah satu simpanannya?

 

 

 

 

 

Tiga bulan berlalu sejak hari itu dan tidak ada kejadian apapun. Tidak ada pengakuan akan cinta yang awalnya ingin Suzy lakukan pada Sehun, begitupun Sehun yang tetap melihat Suzy sebagai seseorang yang akan selalu membantunya untuk kesulitan tugas sekolah.

“Sehun-ssi”. Panggil Suzy akhirnya menghampiri Sehun yang saat itu berkumpul bersama teman-temannya di kantin.

Tangan Suzy saling berpautan erat menekan hatinya yang tidak karuan, dia akhirnya memutuskan untuk mengakui perasaannya pada Sehun setelah memikirkannya hampir 3 bulan ini tidak peduli seperti apa tanggapan bahkan jawaban Sehun. Suzy tidak berharap dan tidak ingin Sehun membalas cintanya, dia hanya ingin mengatakan perasaannya yang telah tersimpan indah selama 3 tahun ini. Suzy tidak ingin perasaannya menghilang begitu saja bahkan saat belum bersuara.

“Ne, Suzy-ssi. Ada apa?”. Tanya Sehun langsung berdiri, sontak suasana kantin yang memang ramai makin ramai ketika keduanya saling berhadapan. Teman-teman Sehun yang berjumlah 11 orang itu tampak seperti suporter sepak bola saat melihat tim kesayangannya berhasil mencetak gol ketika melihat Sehun dan Suzy berhadapan.

“Hei, jangan di ganggu. Ayo kita pergi”. Ajak Luhan, pria dengan kulit seputih susu dan wajah cantik itu pada 10 temannya yang lain agar menjauh dari mereka.

“Tapi—”.

“Sudah ayo”. Ajaknya lagi langsung menarik Baekhyun yang sepertinya tidak ingin ketinggalan tontonan menarik dalam hidupnya.

“Ada apa?”. Tanya Sehun sekali lagi saat mereka sudah duduk berdua dan berhadapan tanpa 11 orang pengganggu yang sebenarnya mengintip mereka dari jauh.

“Apakah nanti ada acara?”.

“Aku?”. Suzy langsung mengangguk saat Sehun menunjuk dirinya sendiri. “Ada apa memangnya?”.

“Ada yang ingin aku katakan padamu”.

“Apa itu? Katakan saja”. Suzy tersenyum dan Sehun melihatnya dengan ekspresi yang tidak bisa dikatakan tenang juga terkejut, tapi yang jelas adalah ekspresi di antara dua hal itu.

“Aku akan mengatakannya nanti, saat pulang sekolah. Aku akan menunggumu di kelas”. Ucap Suzy kemudian berdiri dan segera meninggalkan Sehun yang terdiam di tempatnya, membuat kesebelas teman Sehun yang bersikap layakanya mata-mata kembali berkumpul bersamanya.

“Tampaknya dia akan menyatakan cintanya padamu”. Kris, salah satu teman Sehun dengan tubuh tinggi menjulang itu merangkul bahunya, ikut melihat arah pandang Sehun pada Suzy yang makin menjauh.

“Aku tahu”. Sehun menopangkan dagunya sambil melihat kepergian Suzy dengan hembusan nafas dalam dan meminum minumannya hingga habis.

“Apa yang akan kau lakukan?”.

“Entahlah”. Jawabnya menanggapi Chanyeol dengan helaan nafas berat yang kembali terdengar.

 

 

Ini adalah saatnya, ini adalah kesempatan pertama dan terakhirnya untuk mengatakan pada Sehun bagaimana perasaannya selama ini sebelum akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Hanya tersisa 3 hari sebelum mereka resmi meninggalkan bangku sekolah dan Suzy ingin mengatakannya pada Sehun, tidak peduli seperti apa tanggapannya Suzy hanya ingin mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Sehun.

 

Namun……

 

“Dia tidak akan datang, aku melihatnya bersama salah satu wanitanya di taman kota”. Krystal berdiri di ambang pintu kelas Suzy dan Sehun. Suzy melirik jam tangannya, waktu memang sudah menunjukkan pukul 05:00 sore dimana kedatangan Sehun adalah tidak mungkin. “Dia pasti tahu kau akan menyatakan cinta, ini adalah penolakan Suzy-ah. Ayo pulang”. Tangan Krystal terulur berharap Suzy menggapainya dan segera pergi dari sini. “Lupakan dia, banyak yang menyukaimu dan kau tidak harus menerima hal seperti ini. Bersyukurlah dia tidak datang hingga kau tidak akan mempermalukan dirimu sendiri di hadapan pria brengsek sepertinya”.

Suzy tertunduk, mendengarkan ucapan Krystal yang tidak bisa di sangkalnya adalah kebenaran. Mungkin ini memang jalannya, tidak akan pernah bersama dengan pria brengsek seperti yang Krystal katakan.

 

 

 

 

 

Hari itu adalah hari terakhir Suzy mendatangi sekolahnya, tidak pernah lagi dirinya menginjakkan kaki disana meskipun saat hari kelulusan dimana teman-temannya berkumpul untuk merayakannya bersama. Suzy lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar dengan tumpukan buku menggunung untuk mempersiapkan dirinya masuk universitas, meskipun alasan utamanya adalah agar tidak bertemu dengan Sehun.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Waktu berjalan begitu cepat hingga setelah beberapa waktu terlewati, Suzy bertemu dengan seseorang yang sebenarnya ingin dia ambil posisinya 4 tahun lalu.

“Sunbae-nim”. Panggil gadis yang 2 tahun di bawahnya itu. Dengan senyum yang Suzy pikir adalah alasan kenapa Sehun memilihnya, dia mendekat. “Sunbae mengingatku? Aku dua tingkat di bawahmu saat di high school”.

“Aku ingat, Hana-ssi”.

“Oh, sunbae tahu namaku?”. Tanya Hana terkejut.

“Aku mengetahuinya”. Angguk Suzy dan membersihkan bukunya yang berserakan di meja kantin kampusnya, tidak ingin berlama-lama berbicara dengannya dan berharap ini adalah pertemuan terakhir mereka meskipun tampaknya gadis ini juga kuliah di fakultas yang sama dengannya, dan adalah tidak mungkin jika mereka tidak bertemu. “Sunbae ada kelas? Kenapa terburu-buru?”.

“Tidak apa, hanya saja—”.

“Sunbae sangat menyukai Sehun oppa?”. Ucapan Hana itu berhasil menghentikan gerakan tangan Suzy yang akan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. “Aku benar bukan? Karena itu sunbae bisa tahu namaku”. Hana menyunggingkan senyum di bibirnya seakan baru saja mendapatkan undian berlibur ke Hawai dengan fasilitas VIP. Tapi nyatanya gambaran bahagia di wajahnya itu bukan karena undian tersebut tapi karena melihat bagaimana sikap Suzy yang membenarkan ucapannya.

“Maaf Hana-ssi, aku rasa kita tidak cukup dekat untuk membicarakan hal seperti itu”. Suzy segera memasukkan buku-bukunya kembali dan berbalik untuk meninggalkan kantin, namun suara Hana kembali menghentikannya, benar-benar menghentikannya hingga serasa tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. “Sehun oppa sangat mencintaimu, Suzy sunbae”.

 

Sehun menyukaiku?

 

“Duduklah sunbae, aku akan menceritakan kisah menggemaskan untukmu”. Suzy menurut saja saat tangan Hana menariknya untuk kembali duduk. “Sehun oppa sangat menyukai, bahkan sangat mencintai Suzy sunbae”. Lagi, kalimat itu terdengar begitu indah sekaligus memilukan untuk Suzy. Bagaimana jika nyatanya gadis didepannya ini berbohong? Tapi bagaimana jika justru yang dikatakannya adalah benar? Jika benar, sungguh demi apapun Suzy tidak ingin bangun dari mimpi indah ini karena nyatanya apa yang dirasakannya untuk Sehun belum pernah berubah.

“Oppa tidak ingin membuat sunbae tampak sebagai wanita simpanan dan murahan, sunbae tahu kan saat itu oppa dijodohkan dan memiliki tunangan?”. Mata Suzy menatap Hana dan tampaknya yang dikatakannya adalah benar, tentu saja benar. Saat itu Sehun memang memiliki tunangan karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya. “Oppa ingin menolak pertunangan itu tapi tidak tahu bagaimana caranya kecuali tunangannya sendiri yang meminta untuk di batalkan. Sayangnya tunangan oppa mencintai oppa dan tidak ingin berpisah. Oppa mencari cara bagaimana agar tunangannya itu membatalkan perjodohan mereka, karena itu oppa memacari beberapa gadis sekaligus secara terang-terangan. Apa sunbae tahu kenapa oppa tidak bisa menerima pertunangannya itu?”.

“Dia pria bebas yang tidak ingin di kekang oleh hal semacam itu?”. Jawab Suzy yang nyatanya lebih mirip pertanyaan. Hana kembali tersenyum melihat bagaimana penasarannya Suzy juga keinginannya untuk mendengar cerita ini lebih lanjut.

“Karena Sehun oppa mencintai Suzy sunbae”. Bantah Hana dan itu makin membuat alis Suzy menyatu. “Sehun oppa tidak bisa menyatakan cintanya pada Suzy sunbae karena tidak ingin orang tua juga tunangannya menyentuh Suzy sunbae. Lagipula, bukankah hampir setiap malam Sehun oppa menelfon sunbae? Menurut sunbae untuk apa itu semua?”.

“Meminta nomor ponsel teman-temanku untuk didekatinya?”. Jawabnya lagi penuh tanda tanya.

“Untuk bisa berbicara di telfon bersama sunbae”. Jelas Hana kembali membantah sekaligus mengagetkan Suzy, apakah anak ini sudah gila hingga berbicara aneh seperti saat ini? Jelas-jelas itu tidak mungkin, apalagi saat Sehun tidak datang saat itu.

“Saat sekolah mengadakan study tour dan oppa tidak ikut, bukankah saat itu oppa selalu mengirim pesan dan menelfon sunbae untuk menanyakan kabar sunbae layaknya kekasih? Juga saat beberapa murid sekolah yang mendekati sunbae, bukankah oppa akan langsung marah-marah dan mendiamkan sunbae? Kemudian saat seluruh siswa laki-laki dan seluruh siswi perempuan di kelas sunbae bertengkar hingga tidak saling bicara, bukankah oppa hanya bersikap biasa saja pada sunbae?”.

“Kau sedang bercanda padaku?”.

“Aku serius sunbae”. Hana memegang tangan Suzy, berusaha meyakinkannya bahwa apa yang dikatakannya memanglah benar.

“Lalu kenapa?”. Dia tidak datang?

“Apakah sunbae membicarakan hari itu? Saat Sehun oppa tidak menemui sunbae di kelas sepulang sekolah seperti permintaan sunbae?”. Suzy seperti dipermainkan dan dipermalukan. Dia bahkan tidak tahu bahwa apa yang dikatakan gadis didepannya ini adalah kebenaran atau tidak, lalu bagaimana bisa Hana tahu segalanya bahkan hal yang tidak ingin Suzy ingat? Apakah Sehun yang menceritakannya? Apakah Sehun menjadikannya bahan lelucon?

“Saat itu oppa tidak datang karena memang tidak ingin datang”. Suzy melirik Hana dari sudut matanya, hatinya kembali sakit seperti hari itu saat Hana mengiyakan bahwa Sehun memang tidak ingin datang. Lalu untuk apa sejak tadi Hana mengatakan padanya bahwa Sehun mencintainya jika ending ceritanya adalah seperti ini? Apakah gadis ini benar-benar ingin mempermalukannya? Tapi alasan yang kemudian Hana katakan makin menambah luka di hati Suzy lebih dari sebelum-sebelumnya, bagaimana bisa Sehun mencintainya dalam kesakitan dan pikiran seperti itu?

“Alasannya adalah karena oppa tidak ingin sunbae menyatakan cintanya terlebih dahulu, oppa tahu sunbae juga menyukai oppa, tapi oppa tidak ingin jika akhirnya hubungan kalian berakhir dengan meyakitkan karena posisi oppa saat itu”.

“Kau bercanda padaku?”.

“Tidak sunbae, sungguh aku serius mengatakan ini padamu”.

“Kenapa? Bukankah kau mantan kekasihnya?”.

“Aku memang mantan kekasihnya, tapi sama seperti Sehun oppa, aku juga tidak serius padanya. Aku mengatakan ini pada sunbae karena kasihan pada kisah kalian. Kalian saling mencintai tapi untuk bersatu sangat sulit”. Suzy terdiam dan menarik tangannya dari genggaman Hana, dia tidak ingin hiburan dari orang lain. Dia hanya ingin Sehun untuk menjelaskan semua yang Hana baru saja katakan padanya. “Setiap malam saat menelfon sunbae, oppa bersembunyi di pinggir jalan untuk melihat sunbae yang selalu berdiri didepan jendela. Begitupun saat hari itu, oppa juga ikut menunggu didepan sekolah berharap agar sunbae segera pulang dan tidak menunggunya lebih larut lagi karena bagaimanapun juga oppa tidak akan datang untuk menemui sunbae”.

 

Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah aku tidak bisa menemuinya dan semua ini terlambat?

 

“Darimana kau tahu?”.

“Oppa sendiri yang mengatakannya padaku. Jangankan aku ataupun kesebelas temannya, hampir seluruh sekolah tahu kisah kalian. Krystal sunbae sekalipun, bahkan Sehun oppa yang memintanya agar menjemput sunbae dan membawa sunbae pulang”. Benarkah? Benarkah seperti itu Sehun? “Sunbae ingat cita-cita oppa?”. Sadar Hana dengan kegamangan tersisa dalam diri Suzy.

Cita-cita? “Polisi”.

“Oppa menolak masuk kepolisian dan memilih menjadi pria yang bekerja dengan jas seperti ucapan sunbae. Sunbae selalu mengatakan tidak menyukai pria berseragam dan ingin pria berjas untuk menjadi suami sunbae, dan oppa melakukannya”.

 

Sehun, apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau tidak mengatakannya jika benar-benar mencintaiku? Kenapa tidak kau biarkan aku menanggungnya bersamamu?

 

“Dia dimana sekarang?”.

“Entahlah”. Hana menaikkan bahunya tidak tahu. “Kabar terakhir yang aku dengar oppa di usir dari rumahnya karena membatalkan pernikahannya, juga karena menolak untuk masuk kepolisian. Sunbae tahukan jika seluruh keluarganya adalah anggota polisi? Seperti kewajiban untuk mereka masuk anggota polisi”.

 

Sehun, aku ingin mengatakannya meskipun hanya sekali padamu bahwa aku mencintaimu. Kenapa tidak kau biarkan aku mengatakannya bahkan hingga hari terakhir? Kenapa tidak kau biarkan aku mengetahui semuanya dari mulutmu sendiri? Kenapa tidak kau biarkan aku mengetahui perasaanmu? Kenapa tidak kau biarkan aku untuk berkata betapa aku mencintaimu selama ini?

 

.

.

.

Untukmu cinta yang tidak pernah aku sebut,

sekali saja aku berharap untuk dapat memanggilmu.

END…

 

ini adalah postingan pertamaku disini, ff ini sebenarnya sudah lama dan pernah aku pos di blogku

47 responses to “You, I Love You

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s