Faith (Sequel of You, I Love You)

faith

Faith (Sequel of You, I Love You)

Title : You, I Love You More

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast : Oh Sehun, Bae Suzy

Support Cast : Lee Minho, Krystal Jung

Genre : Romance, Sadnes

Rating : G

Length : Sequel You, I Love You

Sebelumnya, terimakasih banyak untuk respon kalian yang sangat baik sama aku. WOW. Tiga huruf itu gambarin perasaanku yang sama sekali gak percaya dengan keadaan baru gabung ini tapi sudah dapat respon yang sangat baik. Sekali lagi terimakasih banyak sudah menunjukkan dibacanya karyaku dengan memberikan komentar+like dan ini adalah bentuk rasa terimakasihku yang lain untuk kalian. Melihat bahwa banyaknya permintaan untuk meminta sequel dan pertanyaan tentang kemana Sehun, aku akan menjawabnya disini.

Ff yang sudah setahun lebih gak aku sentuh ini akhirnya aku buat sequelnya. Hampir beberapa bulan ini aku kehilangan gairah menulisku (* alay -_-) tapi kalian bangkitkan lagi dengan adanya respon yang baik ^^. Jika sebelumnya ada yang berkata bahwa pernah membaca ff ini, aku jawab iya. Sebelumnya ini sudah pernah aku posting di salah satu situs ff juga.

Sebelumnya aku juga memohon maaf, tapi aku author yang entah kenapa tidak bisa mengakhiri kisah dengan pasti apalagi happy ending. Maaf untuk yang membaca ini dan kemudian kecewa, part ini hanya untuk menjawab kemana perginya Sehun selama ini.

.

.

.

.

.

 

-oo—ooooooo-

.

.

.

Aku mencintaimu tanpa pamrih, syarat,

Bahkan keinginan untuk memiliki

.

.

Suzy terdiam setelah kepergian Hana, gadis itu mematung dengan wajah pucat dan kedua tangan yang saling berpautan erat hingga menampakkan ruas jemarinya. Wajah cantik yang selalu mengumbar bahagia itu mengeras, menahan marah juga kecewa lebih dari yang pernah ditunjukkanya sebelum-sebelum ini sepanjang dirinya hidup.

 

Oh Sehun, nama pria yang sudah lama tidak disebutnya kembali itu ia sebut pada akhirnya setelah segala ucapan Hana, ucapan indah yang sudah tidak berguna lagi untuk sekarang apalagi saat sentuhan tangan hangat yang menyadarkan keadaannya saat ini. Lee Min Ho.

“Kenapa kau diam saja? Aku memanggilmu sejak tadi.”

Masih dengan jas mahalnya Min Ho duduk begitu saja dihadapan Suzy, mengabaikan beberapa mahasiswa yang membungkuk hormat padanya selaku dosen Universitas tersebut. Pria yang bahkan belum genap berusia 30 tahun itu sudah sangat dihormati disana meski bukanlah dosen fakultas Suzy menimba ilmu saat ini, statusnya sebagai dosen artis karena kepandaian, ketampanan, juga kekayaannya membuat siapapun mengenalnya.

“Hei—hei—hei— apa yang kau lamunkan?” Tanya Min Ho lagi menggerakkan tangannya didepan mata kekasihnya, menarik perhatian mata indah itu pada akhirnya untuk kembali bertatapan dengannya. “Ada masalah?”

“Tidak.” Geleng Suzy pelan, menyembunyikan kebenaran yang dijawab oleh mata gusarnya.

“Jangan membohongiku jika tidak bisa mengatakan kebenarannya, cukup katakan bahwa aku tidak perlu tahu.”

“Minahe oppa.”

“Gweanchana.” Potong pria dewasa itu cepat dengan senyum lebar menenangkan dan mengusap punggung tangan putih kekasihnya. “Ayo nonton, kita sudah lama tidak keluar. Semalam kau bilang tidak ada acara apapun hari ini setelah jam kuliah pagi kan?” Tanpa menunggu jawaban Suzy, Min Ho menariknya dan menggandengnya hangat seperti biasa, membuat gadis itu tidak bisa menjawab tidak ataupun menggeleng. Membiarkan semua hal berlaku sebagaimana seharusnya seperti beberapa mahasiswa yang melirik Min Ho iri karena bisa bersama Suzy, dan lirikan sinis mahasiswi yang melihat Suzy karena ingin berada di posisinya.

Pada akhirnya Suzy hanya bisa tertunduk, bukan karena pandangan tidak suka dan iri beberapa teman kuliahnya disana, tapi karena ucapan Hana yang masih terngiang dalam kepalanya tentang kebodohan Sehun hingga hari seperti ini dilaluinya bersama Min Ho. Andai saja pria itu mau membagi sedikit saja kisahnya, maka dirinya tidak akan berakhir dalam rangkulan tangan Min Ho seperti ini namun dalam genggamannya, melalui hari indah seperti yang Suzy inginkan tanpa cacat dan sakit hati seperti yang terlanjur ditoreh beberapa tahun lalu.

 

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Sehun merentangkan kedua tangannya selebar yang dirinya mampu sembari menarik nafas dalam, merasakan hawa dingin yang menerpa kulit wajahnya sekaligus merasakan udara Seoul yang hampir 4 tahun ditinggalkannya demi sesuatu yang bahkan tidak pernah disentuhnya. Sejauh dirinya melangkah hingga saat ini, Sehun cukup yakin bahwa semuanya akan sempurna seperti dalam bayangannya.

“Berhenti bersikap seolah kau tengah menikmati hidup.” Dorongan lumayan keras hingga membuatnya terjungkal berlanjut sindiran merusak ketenangan hati Sehun yang baru saja dibangunnya. Pria bertinggi tubuh menjulang dengan stelan hitam bagai mafia itu berdiri dibelakangnya dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya seolah tengah menjalani pemotretan majalah untuk saat ini.

“Bersikaplah biasa saja Kris.”

“Aku yang harusnya berkata seperti itu padamu.” Ujarnya menarik sedikit ujung bibirnya kemudian mendahului Sehun, berjalan dengan sebelah tangan yang dijulurkannya kedepan dengan tubuh miring menghadap mobil yang kemudian berjalan ke arahnya.

“Wow, kau membeli mobil baru? Disini? Kapan? Kita baru saja sampai bahkan.”

“Aku membelinya seminggu lalu tapi baru tiba dan aku minta untuk di antarkan kemari. Koenigsegg CCXR Trevita, hanya diproduksi sebanyak 3 unit di dunia dan aku pemilik salah satunya. Harganya USD$4.8M, dilapisi berlian—.”

“Wow—wow—wow! Stop! Kau sedang sombong dihadapanku?”

“Aku mengatakannya agar kau ceritakan ini pada Alexa.”

“Melakukan ini agar dia kembali padamu?”

“Tentu saja, aku akan menghabiskan seluruh uangku untuk membuatnya melihatku lagi. Dia tidak suka aku mengeluarkan uang untuk hal macam ini.”

“Dan kau pikir dia akan kembali padamu setelah melihatmu jatuh?”

“Bukankah dia memang tipe seperti itu? Aneh dan sama sekali tidak bisa dimengerti. Menemaniku saat susah dan meninggalkanku saat sukses.”

“Hhh?” Sehun menggelengkan kepalanya lelah mendengar omelan Kris yang tidak pernah berakhir tentang mantannya itu.

“Kau sudah mendapatkan alamat baru Suzy?” Tanya Kris mengganti topik pembicaraan, menegangkan tubuh Sehun seketika begitu mendengar nama itu. “Apa yang akan kau katakan setelah bertemu dengannya? Maaf dan cinta? kau pikir dia akan menerimanya?”

“Diamlah.” Pukul Sehun pada dada Kris tidak suka, ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa di ungkapkannya jika berbicara mengenai Suzy.

Mobil yang awalnya mereka bicarakan sudah berhenti sempurna didepan mereka, sopir bertubuh tambun yang membawanya langsung keluar dan menyerahkan kuncinya pada Kris, mempersilahkan pemilik aslinya mengendarai tunggangan barunya tersebut dengan wajah masam jika mengingat alasan membelinya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Krystal menyelesaikan lukisannya saat pintu apartment terbuka, lirikan matanya pada jam dinding tidak jauh dari tempatnya berada menunjukkan waktu yang hampir tengah malam. “Darimana saja?” Tanyanya pada orang yang baru saja masuk, sudah pasti orang tersebut adalah Suzy karena mereka tinggal bersama di apartment ini sejak kuliah di Universitas yang sama.

Suzy diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Krystal, pikirannya masih dipenuhi kenapa Krystal tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Sehun dan andai saja Min Ho tidak mengajaknya menonton, makan kemudian jalan-jalan hingga selarut ini, tubuhnya tidak akan lelah hingga tentu masih memiliki energi untuk bertanya pada gadis yang duduk membelakanginya dengan rambut berwarna pirang tersebut kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya mengenai Sehun?

“Suzy-ah, bagaimana menurutmu lukisanku ini? Apa bisa diikutkan kompetisi kampus kita?” Krystal yang tidak mengetahui apapun segera berdiri dari duduknya dan menunjukkan hasil karyanya seharian ini, berharap bahwa Suzy akan memberikannya respon mapun saran bagus seperti biasa. “Bagaimana? Indah?”

“Krystal-ah.”

“Hm? Wae? Apakah ada yang jelek atau kurang? Tapi aku rasa ini sempurna.” Krystal tetap berfokus pada lukisannya, memperhatikan karyanya tersebut tanpa tahu bagaimana Suzy sudah menatapnya marah dan juga terluka namun tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya kecuali dengan perkataan bergetarnya kemudian. “Kenapa kau berbohong padaku tentang Sehun?”

 

Krystal tidak lupa dan tahu artinya hingga kuas ditangannya terlepas begitu saja, jatuh di atas lantai porselen yang tidak lagi sebersih dan seputih beberapa detik lalu. Perkataan, atau bahkan pertanyaan Suzy terlalu menyentak batin Krystal hingga bahkan untuk sekedar menoleh dan melihat keadaan sahabatnya itupun tubuhnya terasa kaku.

Krystal tidak bodoh, ia langsung mengerti arah pembicaraan Suzy tentu saja mengingat bahwa topik ini selalu membuatnya merasa bersalah selama bertahun-tahun. Sesuatu yang dirinya sembunyikan padahal harus dikatakan, sesuatu yang selalu membuatnya melihat Suzy dan Sehun dengan tatapan kasihan.

Air mata Suzy mengalir begitu saja tanpa permisi, menambah beban dalam hati Krystal yang menyaksikannya dan ia terduduk pada kursi yang seharian ini di dudukinya kembali. “Kau sudah tahu?” Tanyanya gamang tidak kalah terkejut dari Suzy yang mendengar penuturan Hana tadi pagi di kampus. Krystal sama sekali tidak menyangka bahwa Suzy akan mengetahui hal itu secepat ini. Tidak. Bukan secepat ini, tapi Krystal tidak menyangka bahwa Suzy akan mengetahuinya sekarang, dan, dari siapa? Dari siapa Suzy mengetahuinya? “Siapa yang memberitahumu? Sehun? Dia sudah menemuimu?”

“Sehun?”

Krystal rasa bukan. Pandangan dan pertanyaan yang baru saja Suzy lemparkan menunjukkan bahwa bukan Sehun yang memberitahunya. Lalu siapa? Siapa jika bukan Sehun?

“Kebohongan apa saja yang kau katakan padaku?”

Krystal menelan ludahnya kuat, ada rasa perih dan sakit disana ketika mendengar pertanyaan Suzy yang menanyakan segala ucapannya selama ini, seolah apa yang dirinya katakan adalah kebohongan semua. Namun Krystal tahu, dirinya tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan Suzy atas itu, benar dirinya berbohong dan bahkan telah ikut melukainya seperti sekarang.

Pandangan Krystal menurun, tangis Suzy yang di dengarnya benar-benar membuat ia bagai sahabat terburuk dan tidak seharusnya tetap berada disampingnya selama ini dengan topeng sahabat terbaik.

“Bagaimana bisa kau setega ini padaku? Bukankah aku adalah sahabatmu? Tidakkah kau kasihan padaku? Tidakkah kau ingin menjelaskannya padaku HINGGA TIDAK MENDENGAR DARI ORANG ASING?! BAGAIMANA KAU BISA SETEGA INI PADAKU?!”

“Suzy-ah, mianhe, mianhe Suzy-ah.” Mohonnya sedih dengan mata berkaca-kaca, melihat Suzy yang kini menundukkan tubuhnya sembari menangis kencang melukai hatinya karena ia ikut andil dalam hal ini.

Pelukan dan permintaan maaf Krystal tampak tidak berguna, Suzy menangis dan bahkan meraung bagai anak kehilangan orang tuanya di tengah rimba. Ia keluarkan segalanya yang sudah ditahan selama bertahun-tahun ini, menunjukkan apa yang belum pernah ditunjukkannya dan menjadikan Krystal sebagai pelampiasan di saat memang dialah yang berada dihadapannya dan ikut campur pada apa yang terjadi.

Suzy merasakan sakit dan sesak dalam dadanya, ia tidak tahu apakah tangis yang dikeluarkannya dapat berguna mengurangi sesak itu atau tidak karena nyatanya semua makin rumit dan tidak jelas. Sehun sama sekali tidak pernah muncul dihadapannya bahkan. Untuk apa dirinya menangis? Itulah yang Suzy tanyakan, apakah untuk Sehun yang pengecut, cintanya yang menyesakkan, atau kebohongan yang semua orang lakukan padanya. Sungguh Suzy merasakan pusing dalam kepalanya, dalam ruangan itu hanya terdengar tangis juga permintaan maaf Krystal yang tidak ada ujungnya. Mereka saling mengencangkan suaranya seolah tengah melakukan kontes, namun dari situlah semua hal tampak makin menyedihkan.

Krystal hanya melakukan apa yang Sehun minta. Tidak langsung setuju tentu saja, membohongi Suzy pada hari itu juga melukainya apalagi cinta Suzy tidaklah bertepuk sebelah tangan. Namun kala Sehun berkata bahwa dirinya melakukan ini karena tidak ingin menjadi beban bagi Suzy, apa yang bisa Krystal lakukan selain ikut berbohong?

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Sehun dan Kris memasuki apartment yang sudah dibeli dan dipersiapkan jauh-jauh hari oleh salah satunya. Dua koper berbeda warna itu sudah diletakkan bersandingan didepan kamar utama dan Kris membuka mantelnya, mengernyitkan kening Sehun untuk sesaat melihat sahabatnya itu.

“Mau kemana kau?”

“Keluar dan berfoto dengan banyak gadis kemudian menunjukkannya pada Alexa.”

“Kau tampak menyedihkan.” Sindir Sehun kemudian ia nyalakan televisi dan duduk di sebuah sofa empuk berbentuk bulat.

Kris menarik sebelah alisnya, ia tersenyum licik pada Sehun. “Tapi lebih menyedihkan dirimu.”

“Ya, aku tahu bahwa akulah yang paling pengecut di antara semua teman-teman kita. Aku sudah kebal dengan ucapan macam itu.” Ujarnya tidak terlalu memusingkan kata pancingan Kris. Namun Sehun harus segera memperbaiki sikap acuhnya kala Kris berhasil memancing pikirannya hingga mungkin tidak akan pernah kembali ke perairan seperti ikan yang sudah sepenuhnya terpancing. “Apartment Suzy ada didepan.”

 

Sedetik,

Dua detik,

Tiga detik?

 

Tidak. Butuh waktu lebih lama dari itu untuk Sehun tersadar dengan ucapan Kris barusan, saat tawa kencang pria itu terdengar di telinganya, barulah Sehun menoleh namun masih dengan kepala kaku. “Be—benarkah? Benarkah? Kau serius?”

“Sumpah demi Alexa aku serius.” Kris berjalan membuka kopernya dan mengambil beberapa lembar kertas disana kemudian menunjukkannya pada Sehun yang masih termangu, pria itu tampaknya bingung harus bagaimana sekaligus tidak tahu dengan apa yang harus dilakukannya setelah ini. “Itu adalah copyan percakapanku dan Krystal tentang Suzy. Kau terlalu pengecut dan aku sudah lelah menampungmu, maka kau harus segera menemui Suzy, menata hidupmu, dan berhenti lari.”

“Kris. Kau—.”

“Ya—ya—ya—aku tahu aku baik. Aku hanya melakukan ini agar kebaikanku berubah menjadi kebaikan untuk hidupku juga. Tapi aku ada kabar buruk untukmu.”

“Apa?” Tanya Sehun masih dengan wajah antara sadar dan tidak. Kris membanting pantatnya untuk duduk disamping Sehun, memperhatikan wajah tampan itu dengan prihatin.

“Aku tidak tahu apakah ini adalah hukuman untukmu yang telah menyakiti hati Suzy atau tidak, tapi dia sudah memiliki kekasih sejak 4 bulan lalu.”

Belum hilang keterkejutan Sehun tentang kedekatan tempat tinggalnya dengan gadis itu, kini ia mendengar kenyataan bahwa gadis yang selama ini dicintainya telah memiliki pria lain. Pria dengan banyak kelebihan seperti yang saat ini Kris ceritakan dan yang terpenting adalah pria itu tidak pengecut, mempermainkannya, serta tidak menyakitinya.

Pada akhirnya cerita Kris tentang pria bernama Lee Min Ho berakhir dengan pertanyaan—“Apakah kau tetap akan mendatangi Suzy dan menyatakan perasaanmu?”

Tidakkah itu melukai hati Suzy? Pikir Sehun. Dirinya tidak pernah mengatakan cinta pada gadis itu meski kenyataan seluruh hatinya di isi oleh Suzy sama sekali bukan kebohongan. Tapi tidakkah dirinya membuat Suzy bingung dengan posisi tidak nyaman setelah itu? Bisakah dirinya? Setega itukah dirinya pada Suzy yang kini telah bahagia? Mungkinkah dirinya bisa berlaku jahat lagi pada Suzy?

Akan bagus jika Suzy memilihnya, tapi jika tidak? Tidak. Dirinya tidak siap dengan itu.

Sehun mengerutkan keningnya dengan kepala tertunduk, bunyi pintu yang tertutup sebagai pertanda bahwa Kris sudah keluar seperti yang dikatakannya tadi membuat ia sendiri dalam apartment itu dan tidak tahu harus bagaimana dengan isi kepala begitu. Serasa semua yang sudah diperjuangkannya rusak namun tidak bisa menyalahkan Suzy karena adalah pilihannya untuk bahagia, dirinya bahkan tidak pernah memberinya kepastian. Bukan salah Suzy sama sekali jika saat ini sudah bersama pria lain, bukan salah Suzy pula jika dirinya merasa menyesal telah kembali ke Korea karena gadis itu adalah alasannya, dan Sehun bahkan tidak bisa menahan sesak dalam hatinya jika mengingat kepergian dirinya saat itu dari rumah dengan tangis menjadi eommanya. Apa yang sudah kulakukan? Gusarnya meremas rambut hitam lebatnya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Takdir mulai melirik dengan mata tajam dan rasa kasihannya, tidak seperti yang dipikirkan bahwa Sehun akan mendatangi Suzy atau mereka tidak sengaja bertemu karena jarak tempat tinggal yang dekat, pilihan Sehun dengan mengurung diri dalam kamar dan Suzy yang meminta Min Ho malam itu juga agar bisa tinggal bersamanya menghalangi pertemuan mereka selama satu minggu kedatangan pria tersebut.

Keduanya terlalu terluka dan sakit dengan kenyataan masing-masing. Memikirkan apa yang telah dilakukan dan dilepas bahkan dengan menumpang hidup pada Kris selama 4 tahun di Canada hinga sukses sebagai pemilik cafe seperti sekarang membuat Sehun merasa tidak berguna. Dirinya pergi dari rumah, menyakiti hati kedua orang tuanya, hidup susah mengembangkan bisnis cafenya hingga sesukses sekarang dan berharap bisa berdiri dihadapan Suzy dengan jas seperti yang di inginkannya tampak tidak berguna. Ada pria lain di sisi gadis itu, membuatnya harus sadar bahwa kisahnya dan Suzy bahkan tidak pernah terjadi.

Sehun tersenyum tipis, perkataannya dulu saat pertama kali melihat Suzy dan langsung mencintainya muncul, seakan apa yang kala itu ia katakan merupakan ungkapan ajaib hingga bisa menjadi kenyataan. Aku mencintaimu tanpa pamrih, syarat, bahkan keinginan untuk memiliki.

 

Cukup untuk Sehun, dirinya sudahlah harus tahu diri, tidak ada kesempatan untuknya bisa bersama Suzy, semua sudah terlambat dan dirinya sendirilah penyebabnya. Benar-benar menyedihkan dirinya ini, bersikap layaknya pria sesungguhnya namun bukan hal seperti ini yang harusnya ia lakukan sebagai pria sesungguhnya.

Pada akhirnya, pandangan nanar pada koper yang masih berada di pojokan kamar menjadi pemandangan Sehun. Entah harus kembali ke rumah dan mendapat amukan appanya seperti dulu, atau kembali ke Canada dan mengembangkan bisnis yang terlanjut dirintisnya, Sehun tahu bahwa dirinya harus pergi dari tempatnya saat ini berada karena berdiam diri seperti ini membuatnya makin sesak, merasa bersalah, dan menyedihkan.

 

 

 

 

Aku ngetiknya sambil buru-buru ngerjain tugas, maaf kalau mengecewakan dan feel gak dapet –“

30 responses to “Faith (Sequel of You, I Love You)

  1. Kasihan suzy baru mengetahui kenyataan setelah 4 tahun berlalu..

    Kasihan sehun berjuang menjadi pria berdasi selama 4 tahun demi mendapatkan suzy..

    Dan kasihan lee minho yang tidak dicintai kekasihnya sendiri…

  2. Sehun sama suzy kan belum bertemu, sehun kan udh mengorbankan banyak hal tapi msh pengecut untuk ngungkapin perasaannya ke suzy..

  3. Huaaaaa..😭😂udah ceritanya sedih..ini lagi dibikin mewek sama authornya..knp ceri anya gantung??😭padahal mereka belum ngungkapin perasaanya satu sma lain bahkan ketemu jg belon..jebal thor..bikin kepastian tentang hubungan ini..😀😁

  4. Huaaaaa..😭😂udah ceritanya sedih..ini lagi dibikin mewek sama authornya..knp ceritanya gantung??😭padahal mereka belum ngungkapin perasaanya satu sma lain bahkan ketemu jg belon..jebal thor..bikin kepastian tentang hubungan ini..😀😁

      • Tapi ff ini paling berkesan penyampaiannya..
        Aku berharap akan akan ada sequel berikutnya, dimana mereka bisa saling bertemu. Gapapa deh, kalo sad ending again.^^
        Karena aku pikir ff ini agak gantung^^

        Keep Fighting!^^

  5. ini ada squelnyakan? aaah aku maunya sehun sama suzy😦 karena pengorbannya sebenarnya dia salah sih tp apa boleh itu demi melindungi suzy dan aku paham cara pandanngya😦 need sequel😦

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s