[Freelance] A Game Chapter 1

baee804b-49ca-4c27-8f6a-4ee0a0b2fc16

Title : A Game  | Author : Dali&Picasso | Genre :  Angst, Romance | Rating : G | Main Cast :  Bae Suzy & Kim Myungsoo

When We Meet Again

.

(Suzy’s)

Aku selalu menyukai permainan. Bukan permainan biasa tepatnya tetapi suatu ‘permainan’ dimana hanya akulah pemainnya, dimana dalam ‘permainan’ itu pula tidak ada peraturan yang membatasi segala tindakanmu termasuk tindakan curang sekalipun. Aku adalah seorang pemain laki-laki. Bagiku, laki-laki tidak lebih dari sekedar objek permainan yang dapat kuambil dan kubuang sesuka hatiku. Aku benci laki-laki. Dimulai dari rasa benciku pada ayahku sendiri yang tanpa rasa bersalah berselingkuh dibelakang ibuku. Rasa benciku memucak ketika ayah dan ibuku memutuskan untuk bercerai sebelum aku genap berusia tujuh tahun. Seketika impianku untuk memiliki keluarga sempurna hancur tak bersisa. Mereka bilang aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Tetapi mereka salah besar. Mereka selalu salah mengenai apapun dalam hidupku. Nyatanya aku yang paling mengerti apa yang terjadi saat itu.

Satu hal lagi yang kudapat dari pengalaman pahit itu bahwa cinta adalah kebohongan terbesar yang pernah ada dalam hidup manusia. Aku tidak percaya cinta. Tidak sampai kenyataan itu mengubah hidupku.

“Aku sudah didepan” ujarku pada seseorang diseberang sana sebelum orang tersebut mengakhiri panggilan singkat kami di telepon.

Aku keluar dari mobil dan melemparkan kunci mobilku pada salah seorang valet yang berjaga di depan pelataran hotel. Grand Hyatt Seoul kini berdiri megah dihadapanku dengan desain bangunan klassik yang diperindah dengan pilar-pilar khas bangunan romawi serta lampu emas yang digantung pada langit-langit aula utama ketika aku melangkah masuk kedalamnya. Beberapa turis yang baru datang terlihat sibuk di meja resepsionis, sisanya hanyalah orang-orang yang berlalu lalang tidak peduli dan beberapa pelayan pembawa koper. Aku berlalu melewati meja resepsionis yang kini mulai ramai dan berbelok ke kanan pada pertigaan lorong hotel yang senggang. Aku menemukan Jung Soojung dibalut gaun malam cantik berdiri didepan pintu bar hotel dengan raut bosan.

“Kenapa lama sekali” gerutunya ketika aku sudah berdiri dihadapannya.

“Traffic Jam” jawabku sekenanya.

Ia memutar matanya tidak peduli dan segera menarikku untuk masuk. Jung Soojung adalah sepupuku sekaligus sahabatku. Berbeda denganku, dia adalah seorang gadis manis yang mempercayai cinta sejati. Ia bahkan percaya bahwa cepat atau lambat, seorang pria baik-baik akan muncul dalam hidupku dan membuatku kembali ke jalur yang benar. Saat dia berkata seperti itu aku hanya bisa menjawab dengan kata ‘mungkin’. Ya, mungkin saja itu benar. Mungkin saja malam ini pria itu akan muncul dan menyelamatkanku dari mimpi burukku selama ini, membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada. Tapi kembali lagi, semua itu hanya ‘mungkin’. Yang juga dapat berarti mungkin saja itu semua hanya mimpi, mungkin saja yang akan kutemui malam ini adalah pria brengsek kesekian dalam hidupku dan itu tidak akan merubah apapun. Klise memang.

 “Dia adalah pria yang baik, jadi kuharap kau dapat menghargai pilihanku kali ini dengan tidak bersikap dingin padanya”

Soojung mulai membahas pacar barunya yang akan kami jumpai ketika kami memasuki bar yang minim akan pencahayaannya itu. Untuk sesaat ia hanya mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dipujanya itu dibawah cahaya remang dari meja bar dan lampu-lampu pendar berwarna merah keunguan yang ditempel pada dinding. Sebuah lagu berjudul you’re beautiful karya James Blunt mengalun lembut, membuat suasana didalam bar terasa nyaman.

            “Soojung-ah, disini” teriakan kecil itu membuat kami berdua menoleh ke sudut kanan meja bar –tempat suara itu berasal.

Dan disanalah pangeran pujaan Jung Soojung duduk. Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam pendek yang jatuh hingga menutupi dahinya tersenyum manis seraya melambaikan tangannya pada kami. Tunggu! Bukankah dia..

 Sial!

            Aku menarik tangan Soojung sebelum ia berhasil membawaku kesana, membuat Soojung berbalik dan memandangku dengan pandangan bingung.

“Aku harus ke toilet” dalihku cepat menjawab kebingungannya.

 Soojung menghembuskan nafasnya dan berkata dengan nada sabar, “Cepatlah”

            Aku mengangguk sebelum akhirnya berlalu dari hadapannya. Kenapa bisa malam ini berubah menjadi malam yang penuh kejutan? Tentu saja kejutan yang tidak menyenangkan. Aku melangkah memasuki lorong bar yang gelap dan hanya diterangi oleh dua lampu neon pink berbentuk bunga yang ditempel di dinding lorong yang dilapisi oleh karpet. Pikiranku kacau, seakan ditarik kembali pada suatu hal yang terjadi dua bulan lalu. Tanpa sadar aku sudah berdiri didepan pintu toilet namun tidak ada sedikitpun niatku untuk masuk. Hanya ada satu suara yang mengema dalam pikiranku, kabur! Ya hanya itu. Hingga tangan pria yang menjadi sumber masalah itu menarikku.

“Aku tidak tau kalau kau sepupu  Soojung” ujarnya ringan, seolah tidak pernah terjadi apapun diantara kami sebelumnya.

Aku menatapnya tajam. Jika saja tatapanku itu bisa membakarnya, ia pasti sudah berubah menjadi abu sekarang.

“Dan aku juga tidak tau kalau kau adalah pria brengsek yang mengencani Soojung” balasku, tidak mau kalah membuat pria itu tertawa kecil.

“Kau benar, aku memang brengsek. Tapi bagaimana jika Soojung tau bahwa sepupu kesayangannya ini sudah pernah mencium kekasih barunya?” godanya penuh ancaman.

 Aku menatap pria itu tidak percaya. Baiklah. Aku memang pernah menciumnya. Itu karena aku sepenuhnya dipengaruhi oleh alkohol.

“Saat itu kau adalah pria asing yang duduk disebelahku dalam pesawat. Aku bahkan tidak tau bahwa kau adalah pacar Soojung. Ah! atau bahkan belum menjadi pacarnya” jawabku seraya menepis tangannya yang masih melingkari pergelangan tanganku.

Aku sudah mengambil ancang-ancang untuk meninggalkanya ketika tangan itu kembali menarikku, kali ini  dengan kekuatan besar yang tidak dapat kulawan. Ia membalikkan badannya dan menghempaskan tubuhku pada dinding lorong serta menghimpitku agar tidak  pergi kemana-mana.

“Kenapa kau pergi begitu saja waktu itu, Suez?” tanyanya dengan nada mengintimidasi dan dengan sorot mata tajamnya yang khas bagai elang.

 Pertanyaan itu seperti bom yang jatuh didalam benakku, membuatku kembali mengingat kejadian dua bulan lalu yang setengah mati berusaha kulupakan.

“Karena aku cukup pintar untuk tidak jatuh dalam perangkap mautmu, Kim Myungsoo” jawabku ringan, seolah karena memang itulah alasan utamaku pergi meninggalkannya ketika itu.

“Kau bohong. Bahkan dari pertama kau melihatku, kau tau bahwa aku adalah seorang playboy. Bahwa kau bermain dengan orang yang salah” bantahnya kesal.

Aku terdiam. Memang bukan karena itu alasanku meninggalkannya di malam itu –malam dua bulan lalu, malam penuh gejolak dalam hidupku. Kim Myungsoo adalah pria pertama yang entah bagaimana kehadirannya selalu membuatku merasa gugup. Awalnya, ya, awalnya, ku kira ia hanyalah seorang pria kurang kerjaan yang menjadikan wanita sebagai objek kesenangannya. Aku tidak pernah tau ada rahasia lain dibalik itu. Ketika rahasia itu menguak keluar, aku tau aku terlalu takut menghadapinya.

Pikiranku lagi-lagi buyar ketika tangan Myungsoo menyentuh pipiku dengan lembut. Ia kini menatapku penuh arti, menunggu jawaban yang sejujurnya keluar dari bibirku. Aku menepis tangannya ketika tangan itu berhenti pada bibirku. Membuat matanya membulat tidak percaya akan penolakan tegas yang kuberikan.

“Aku tidak sama dengan wanita yang pernah kau permain..

Myungsoo membungkam bibirku dengan ciumannya. Ia menarik daguku secara paksa. Membuatku memberontak dan berusaha mendorongnya dengan semua tenaga yang kumiliki. Tetapi sia-sia. Myungsoo memperdalam ciuman itu. Ciuman yang memberikan efek perih sekaligus panas pada bibirku. Myungsoo menutup matanya, berusaha mengabaikanku yang tidak membalas ciumannya itu.

“Suez..?”

Hanya satu suara itu yang berhasil membuat Kim Myungsoo berhenti menciumku. Aku menoleh dengan perasan campur aduk dan mendapati Soojung mematung memandang kami di ujung lorong. Ada sinar kebencian yang terpancar dari sorot matanya dan seketika duniaku terasa hancur. Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti satu-satunya orang yang paling kusayangi didunia ini? Soojung berlalu dari hadapan kami dengan mata yang mulai basah tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dan itu berhasil menghantamku pada kenyataan bahwa akulah orang yang menjadi penyebab masalahnya disini.

“Soojung” panggilku frustasi, hendak mengejarnya sampai lagi-lagi tangan itu menarikku.

Aku berbalik hendak mengeluarkan seluruh kemarahanku pada pria itu, hendak mengancamnya jikalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Soojung, aku tidak akan memaafkannya, namun dalam hitungan detik semuanya itu menghilang dan berubah menjadi perasaan khawatir yang seharusnya tidak muncul. Myungsoo menatapku dengan tatapan marah yang tidak pernah ditunjukannya padaku. Sedetik kemudian, ia menarikku secara paksa keluar dari bar melewati orang-orang yang kini memandang kami dengan tatapan aneh karena aku terus memberontak dan berusaha melepaskan tangannya daripadaku.

Myungsoo membawaku ke parkiran di lantai bawah dan memaksaku masuk kedalam mobilnya. Setelah itu ia duduk disebelahku di tempat pengemudi tanpa berniat menyalakan mesinya. Aku meringis memegang pergelangan tanganku yang kini berhiaskan bekas merah, sesekali mengutuki diriku sendiri karena tidak mampu mengejar Soojung dan menjelaskan apa yang terjadi. Myungsoo berbalik menghadapku, tatapannya jatuh pada pergelangan tanganku yang ditariknya tadi, namun sedetik kemudian ia sudah kembali menatapku dengan pandangan marahnya.

“Kenapa kau meninggalkanku waktu itu?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada tidak sabaran, membuatku kembali merasa terusik.

“Aku tidak perlu alasan untuk meninggalkanmu. Kau adalah orang asing yang masuk kedalam hidupku” jawabku dengan nada berani, seolah pandangan marah yang dilemparkannya tidak lebih dari sekedar gertakan.

“Kau berbohong lagi” ungkapnya penuh dengan tuduhan.

Myungsoo menghembuskan nafasnya frustasi, tapi ia tidak menyerah. Ia menarik kedua pergelangan tangaku dan membuatku menghadapnya. Kini kami saling berhadapan. Tangan Myungsoo seakan tidak mau lepas dari pergelangan tanganku dan entah bagaimana sentuhan itu terasa lebih lembut dari sebelumnya, walaupun tatapan elangnya yang tajam masih terlukis dalam kedua pantulan matanya.

“Apa aku masih orang asing ketika kau menciumku dipesawat? Apa aku masih orang asing ketika ternyata kita menginap di hotel yang sama dan secara tidak sengaja  kamar hotel kita berhadapan? Apa aku masih orang asing ketika kita memutuskan untuk jalan-jalan di kota yang menurut orang adalah kota paling romantis di dunia tapi bagi kita tidak? Apa aku masih orang asing ketika kau menciumku lagi di club  walaupun saat itu kita dalam keadaan mabuk? Apa aku masih orang asing ketika setelahnya aku bermalam di kamar hotelmu? Atau..”

            Myungsoo menggantungkan kalimatnya. Ia kehabisan nafas namun rahang diwajahnya masih mengeras, seakan kalimat terakhir yang ingin diucapkannya adalah kalimat yang juga tidak ingin diucapkannya. Sedangkan aku hanya bisa diam membisu. Terlalu banyak kenangan janggal yang terjadi diantaraku dan Myungsoo dalam waktu yang terlampau singkat. Tapi kenangan yang paling menyakitkan adalah kenyataan itu.

“Atau apa aku menjadi orang asing ketika ayahmu memperkenalkanku sebagai saudara tirimu?”  lanjutnya dengan suara jelas tanpa nada bergetar sedikitpun.

            Aku tercekat. Mataku membulat dan tatapanku padanya berganti tatapan marah. Aku tidak ingin mengingat itu. Myungsoo yang melihat reaksiku seketika menampakkan kekecewaan, ia melepaskan tanganku dan membuang pandangannya kedepan.

“Mungkin memang seharusnya kita tidak bertemu lagi” ujarnya setelah diam selama beberapa menit.

Aku tidak menjawab. Untuk pertama kalinya setelah kejadian dua bulan lalu perasaanku hancur.

 “Turunlah. Mengenai Soojung, aku akan menjelaskan semua padanya”

            Myungsoo masih tidak menatapku ketika ia memintaku turun dari mobilnya. Bahkan nama ‘Soojung’ tidak dapat membuatku merasakan amarah lagi, semua berubah menjadi rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan. Tanganku bergerak membuka pintu mobil ketika tangan Myungsoo kembali meraih tanganku. Aku berbalik menatapnya tanpa berniat membuka suaraku sedikitpun.

“Kau bisa lari kemanapun, tapi kau tidak bisa lari dari kenyataan itu, Suez” ujarnya hampa.

Setelah itu Myungsoo melepaskan tanganku membiarkanku turun dari mobilnya dengan perasaan terluka dan meninggalkanku berdiri menatap mobilnya yang melaju meninggalkanku.

Kenapa aku meninggalkannya waktu itu? Mungkin karena aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Bahwa dugaan Jung Soojung benar, pria itu telah datang mengubah hidupku. Hanya saja dia bukan pria baik-baik, dia hanyalah pria yang menyimpan luka yang sama denganku, yang kemudian menyembunyikannya dibalik topeng bernama senyuman.

When We Meet Again’s End

.

.

 Hai.

Aku cuma mau bilang jangan lupa komen. Karena komen kalian berharga walau aku ga bisa bales satu-satu. Aku ngerjain project ini pake hape, jd blm bisa buat posternya. Tadinya aku mau buat romantic comedy, tp kok tiba2 nyasar ke sad romance ya? Bagus kan tp? Klo di romantic comedy tdnya tuh pengen suzy sama myungsoo taruhan saling ngedapetin satu sama lain. Tp jdnya gini deh hehe, ditunggu aja sequelnya ya🙂

46 responses to “[Freelance] A Game Chapter 1

  1. Eum dulu suzy dan myung udah pd kenal ada hubungan apa ya, sudah pacaran kah?
    tpi itu myung anak dri selingkuhan appa nya ya, yg d knalin ke suzy? ah d tunggu next nya

  2. omo pacar soojung adalah myungsoo?dan suzy mengenalnya,,apa hubungan myungzy yg sebenarnya?apakah myungsoo memacari soojung brdasarkan cinta?jika iya,,,entah kenapa ada perasaan tidak rela dalam hatiku.

  3. Saat baca part 2 nya bingung sama alur ceritanya, ternyata belum baca part 1 nya… dan setelah baca part 1 nya sekarang, jd ikutan sedih dengan hubungan mereka yg mengalami banyak hambatan…
    Semoga masih ada jalan keluar untuk mereka, karena mereka saling mencintai dan berharap bisa bersatu…
    Langsung komen di part 2 nya, cerita yg bagus, gomawo🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s