Oh My Ghost! Chapter 8

© Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

Kim Myungsoo masih asik membolak-balikkan daftar menu makanan saat seorang gadis berjalan kearahnya. Setelah menemukan apa yang ingin dimakannya, Myungsoo mengangkat kepalanya. “Aku pesan…”

“L…”

Belum sempat Myungsoo menyelesaikan ucapannya, pelayan wanita yang kini ada dihadapannya memotong perkataannya. Lelaki itu mengernyit. L? Nama aneh apa itu? Myungsoo lalu tersenyum tipis.  “Maaf, kau salah orang.”

“Tidak! Mana mungkin aku salah orang! Kau L bukan?”

Myungsoo menarik nafasnya panjang. Ada apa dengan gadis ini? Apa ia gila? “Aku Kim Myungsoo. Bukan L!”

Sooji sontak terdiam. Tentu saja yang ada dihadapannya ini bukanlah L, tapi Kim Myungsoo, anak seorang jutawan di Korea. Tapi… Kenapa lelaki itu tak mengenalnya?

Ya! Aku ini Sooji! Bae Sooji! Kau bahkan pernah menci…” Sooji menghentikan perkataannya begitu menyadari semua mata menuju padanya. Ia sontak mengucapkan kata maaf tanpa suara. Ia kembali menoleh pada Myungsoo yang masih menatapnya kebingungan.

Jangan cari aku. Kumohon. Aku tak mau kau terluka. 

Sooji sontak tertegun begitu mengingat isi surat L untuknya. Sedetik kemudian, ia tersenyum lirih. Jadi, ini maksud L? Lelaki itu melupakannya? Bahkan setelah apa yang mereka lakukan? Ch! Tak bisa dipercaya!

“Sooji-ah, apa yang kau lakukan?” Mark yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kedua insan itu sontak menghampiri gadis itu. “Lebih baik kau mencuci piring saja. Biar aku yang melayani pelanggan ini.”

Sooji menatap Myungsoo sebentar sebelum akhirnya meninggalkan kedua lelaki tampan tersebut.

Myungsoo menatap lekat punggung Sooji yang mulai menjauh. “Gadis aneh.”

“Jadi, apa yang ingin kau pesan, Tuan?”

Sooji mengintip Myungsoo yang kini sedang asik menyantap makan siangnya dari pintu dapur. Semuanya benar-benar sama. Matanya… Hidungnya… Yang tidak sama ialah, dia tidak mengingat Sooji.

“Kau mengenalnya?”

Sooji sontak menoleh ke arah Mark yang kini berdiri disampingnya seraya memperhatikan Myungsoo. Sooji memaksakan senyumnya lalu menggeleng. “Tidak.”

“Benarkah? Lalu L itu siapa?”

Sooji sedikit mengernyit begitu mendengar pertanyaan Mark. Oh, ternyata lelaki itu menguping pembicaraannya dengan L, atau lebih tepatnya Kim Myungsoo. “Bukan siapa-siapa. Ya! Sebaiknya kita pergi. Kalau Tuan Bang melihat kita bersantai, kita bisa dipecat!” ujar Sooji seraya mendorong pelan punggung bidang Mark, berusaha mengalihkan pembicaraan.

 “Aku pulang!”

“Oh, kau sudah pulang?” tanya Sangmoon yang baru saja keluar dari kamarnya.

Sooji hanya mengangguk kecil seraya membaringkan tubuhnya di sofa. Melihat itu, Sangmoon mengernyitkan keningnya.

“Kau kenapa? Sakit?”

“Tidak,” jawab Sooji. Sooji terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara. “Sangmoon-ah…”

“Apa?” tanya adiknya itu seraya beringsut duduk di lantai, dekat Sooji.

“Sebenarnya… Tadi… Aku bertemu L.”

“Benarkah? Kapan? Dimana?”

“Tadi saat makan siang di tempat kerjaku.”

“Terus, bagaimana? Apa katanya?”

Sooji tersenyum lirih. “Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia bahkan tak mengenalku.”

Heol! Bagaimana bisa?”

 “Entahlah. Aku juga tidak mengerti.”

Sangmoon mendesis. “Dasar pria itu! Lihat saja! Kalau aku bertemu dengannya aku akan menghajarnya. Kau tenang saja!”

Sooji hanya tersenyum kecil lalu mulai memejamkan matanya. “Terserahmu saja.”

Myungsoo memarkirkan mobilnya rapi tepat di dalam garasi rumahnya. Namun, leaki itu mengernyitkan keningnya begitu melihat sebuah monil lain berwarna hitam terparkir disebelah mobilnya. Apa mereka sedang kedatangan tamu? Tapi siapa? Kenapa rasanya mobil ini tidak asing untuknya? Tunggu dulu! Tanpa menunggu lebih lama lagi, leaki itu segera berjalan menujupintu depan rumahnya. Dan benar saja! Begitu ia melihat seorang gadis sedang asik mengobrol dengan ibunya di ruang tengah, lleaki itu melengos. Seperti dugaannya!

“Jung Soojung! Apa yang kau lakukan disini?”

Nyonya Kim dan juga Jung Soojung sontak menghentikan pembicaraan mereka lalu menoleh pada Myungsoo.

“KIm Myungsoo! Kenapa kau berteriak seperti itu? Apa salah Soojung datang untuk melihat tunangannya?”

Tunangan? Myungsoo melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. “Ibu! Apa ibu tidak tahu kalau…”

Belum sempat Myungso menyelesaikan perkatannya, Nyonya Kim sudah terlebih dahulu memotong,”Ibu sudah tahu. Soojung sudah menceritakan semuanya.” Nyonya Kim tersenyum lalu menoleh pada Soojung. “Kau pasti selama ini merasa tertekan sekali karena Choi Minho yang terus memaksamu untuk menurutinya. Benar begitu?”

Soojung tersenyum lalu mengangguk. “Benar, Bibi.”

Ya Tuhan! Apa yang sedang terjadi sekarang?! Pintar sekali Jung Soojung karena telah mencuci otak ibunya! Harusnya ia penjarakan saja Soojung bersama dengan Minho! Ia tak menyangka gadis itu akan berbuat senekat ini.

“Lebih baik kau pulang saja, Jung Soojung. Aku tidak ingin melihatmu!”

Myungsoo kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.

“Kau tenang saja. Bibi akan berbicara padanya agar dia mengerti. Jangan terlalu dimasukkan ke hati perkataan anak itu.”

“Iya, Bi. Aku mengerti.”

Myungsoo saat ini sedang berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan Korea ketika langkah kakinya berhenti di sebuah toko buku. Ya, lelaki itu meang memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk melupakan kepenatannya. Myungsoo tersenyum simpul sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.

 ∞

Sangmoon menatap heran lelaki yang kini berdiri dihadapannya. Choi Youngjae, salah satu teman sekelasnya. “Untuk apa kita kesini?” tanyanya heran begitu Youngjae menariknya menuju sebuah toko buku.

“Untu mencari buku. Apa lagi memangnya?”

Sangmoon melengos. Sejak kapan temannya ini hobi membaca? Setahunya, satu-satu buku yang temannya itu baca adalah majalah dewasa! Hush! Jangan bilang pada Sooji kalau adiknya ini juga sering meminjam majalah dewasa milik Youngjae!

“Ya sudah. Tapi, jangan lama-lama!” gerutu Sangmoon akhirnya, mengalah pada Youngjae.

Youngjae tersenyum kecil sebelum akhirnya meninggalkan Sangmoon. Sedangkan Sangmoon lebih memilih untuk melihat-lihat buku yang tertata rapi di etalase tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun, saat sedang asik melihat-lihat, ia tertegun begitu melihat pungung bidang seseorang yang sangat tak asing baginya. Entah ada dorongan apa, hingga Sangmoon akhirnya untuk menghamipiti lelaki yang masih memunggunginya itu. Sangmoon menahan nafasnya sejenak lalu menepuk pelan pundak lelaki tersebut.

Myungsoo sedang sibuk membaca salah satu buku yang kebetulan plastiknya sudah dibuka begitu merasakan sebuah tangan menepuk pelan undaknya. Lelaki itu sontak menoleh. Ia mengernyit begitu mendapati seorang lelaki yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya kini berada dihadapannya. Ia bisa merasakan lelaki itu cukup terkejut melihatnya. Mata sipit lelaki itu bahkan membesar.

“L hyeong…”

Oh, tidak! Jangan lagi! Ada apa dengan semua orang! Kenapa mereka memanggil namanya dengan L?! Ia Kim Myungsoo, bukan L! “Aku Kim Myungsoo. Bukan L,” seru Myungsoo, menahan amarahnya.

Lelaki dihadapannnya tampak tertegun mendengar ucapan Myungsoo. “Kau… tidak mengenalku?” tanyanya hati-hati.

“Haruskah aku mengenalmu?” tanya Myungsoo balik.

Lelaki itu menggeleng. “Tapi, setidaknya kau mengingat kakakku. Dia benar-benar terluka.”

“Aku tidak mengenalmu, kakakmu ataupun seluruh anggota keluargamu! Ada apa dengan semua orang sebenarnya?!” tanya Myungsoo dengan nada tinggi.

“Hei, apa yang kau lakukan disini? Ayo! Aku sudah menemukan buku yang kucari!” Lelaki lain yang entah datang dari mana kini sudah berdiri disamping lelaki itu.

Lelaki itu mengangguk mengerti. Ia kemudian menoleh sekilas pada Myungsoo. “Harusnya dari awal kami tidak pernah terlibat denganmu,” gumamnya sebelum pergi.

Myungsoo mengernyitkan keningnya mendengar ucapan lelaki tersebut. Terlibat? Terlibat apa?

Sooji saat ini sedang sibuk membersihkan meja. Mungkin karena sudah lewat jam makan siang maka dari itu restaurant ini tak begitu banyak pengunjung. Sooji melirik kesal ke arah hantu cilik yang sedari tadi menganggu pekerjaannya dengan berlari-lari disekelilingnya. Oh ya, Sooji memang tak terlalu takut lagi dengan makhluk bernama hantu. Mungkin karena ia sudah bergaul dengan L. Ia bahkan pernah mencium hantu tampan itu!

“Permisi, Nona.”

Sooji menoleh ke belakang. Ia mengernyit begitu melihat seorang pemuda berpakai serba coklat kini berada dihadapannya.

“Ya? Ada yang bisa ku bantu?”

Lelaki itu tersenyum. “Aku ingin mengantarkan paket atas nama Tuan Bang Joo Hyuk.”

“Ah,” Sooji mengangguk mengerti. “Tuan Bang sedang pergi keluar sebentar. Mungkin sebentar lagi ia datang.”

“Kalau begitu, apa kau tak keberatan untuk memberikan paket ini padanya?”

“Oh, tidak masalah.”

“Kalau begitu, silahkan tanda tangan disini,” lelaki itu meberikan secarik kertas dan juga sebuah pena pada Sooji.

Setelah Sooji selesai menandatangani kertas tersebut, barulah lelaki itu pergi, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

Sooji melihat paket tersebut sebentar lalu segera berjalan menuju ruangan Tuan Bang. Sebaiknya ia meletakkan paket ini disana. Sooji mengetuk pintu berwarna putih itu tiga kali sebelum akhirnya masuk. Walaupun ia tahu tak ada orang di ruangan itu, tetap saja ia mengetuk pintu. Rasanya aneh sekali masuk ke ruangan seseorang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Baru saja Sooji meletakkan kotak persegi panjang itu di atas meja Tuan, Bang, matanya melirik ke arah pigura yang berada tak jauh dari tempat ia meletakkan kotak tersebut. Sooji tersenyum begitu melihat Tuan Bang sedang tersenyum seraya memangku seorang bocah lelaki. Mungkin umur anak itu sekitar 5 tahun. Tapi… Tunggu dulu! Kenapa rasanya wajah anak tersebut tidak asing. Sooji segera meraih pigura tersebut. Matanya membulat begitu mulai mengenali wajah bocah tersebut. Bukankah ini…

“Sooji-ah, apa yang kau lakukan disini?”

Mendengar suara berat Mark, Sooji sontak menoleh. Gadis itu hanya diam seraya menatap lekat Mark. Mark mengernyit heran, namun begitu melihat pigura yang kini ada digenggaman gadis itu, mark tertegun.

“Kau…”

“Ingin menjelaskan sesuatu, Mark Tuan?” potong Sooji langsung.

Mark menarik nafasnya panjang lalu menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Sooji. “Tuan Bang sebenarnya adalah pamanku, begitu aku menyebutnya. Dia adalah orang kepercayaan ayahku, termasuk dalam hal mengolah restaurant ini,” jelasnya.

Sooji menatap Mark Tuan tak percaya. “Jadi, selama ini kau membohongiku?”

Mark mendesah lau mengangkat kepalanya. “Semua ini kulakukan untukmu. Kau sedang membutuhkan pekerjaan saat itu dan aku tidak mungkin bisa hanya diam melihatmu kesulitan. Maka dari itu aku…”

“Bukankah kau tahu aku benci dibohongi? Apapun alasannya!”

“Sooji-ah…”

Mark berjalan menghampiri Sooji. Namun lelaki berwajah blasteran itu cukup terkejut begitu melihat Sooji malah berjalan mundur, menghindarinya.

“Cukup, Mark Tuan. Aku kira kau berbeda.” Sooji tersenyum sarkastik. “Besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku. Sampaikan ucapan terima kasihku pada Tuan Bang karena dia menerimaku kerja disini, meskipun aku tahu bahwa ini semua karenamu.”

Mark mengepalkan kedua tangannya begitu Sooji berjalan melewatinya begitu saja. Tak ia sangka Sooji semarah itu padanya. Padahal ia hanya ingin membantu Sooji. Itu saja.

Sooji berjalan disepanjang pinggiran kota Seoul seraya menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia merasa sedikit keterlaluan pada Mark. Bagaimanapun juga Mark hanya ingin menolongnya. Harusnya ia tak semarah itu dan mengucapkan terima kasih pada Mark. Tapi… Entah kenapa, kepala Sooji rasanya tak bekerja dengan benar. Rasanya otaknya ingin pecah saat itu juga.

Karena sibuk dengan pemikirannya, Sooji tak menyadari bahwa seorang lelaki dari arah berlawanan kini berjalan ke arahnya. Sooji sontak meringis kesakitan seraya mengusap puncak kepalanya begitu ia bertubrukan dengan lelaki yang kini ada dhadapannya.

“Maaf,” ujarnya seraya membungkukkan tubuhnya. Ia bahkan tak melihat ke wajah lelaki tersebut. Gadis itu memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya yang semat terhenti, meninggalkan si lelaki. Sedangkan lelaki tersebut hanya mengernyit heran, tersenyum lalu mulai mengikuti langkah Sooji.

Sooji duduk di bangku panjang yang ada di halte lalu mulai memukul kepalanya berkali-kali. Entah kenapa, belakangan ini kepala Sooji sakit sekali. Mungkin karena gadis itu kelelahan, atau mungkin karena banyak sekali yang ia pikirkan belakangan ini.

Tanpa Sooji sadari, lelaki yang sedari tadi mengikutinya kini duduk disebelahnya. Cukup dekat. Entah kenapa, perasaan Sooji menjadi tidak enak begini. Hei! Kursi ini masih cukup panjang! Kenapa lelaki disebelahnya lebih memilih untuk duduk berdekatan dengannya? Lagipula, hanya ada mereka berdua disini! Tiba-tiba Sooji mebesarkan matanya. Ba… Bagaimana kalau makhluk disebelahnya ini punya niat buruk terhadapanya? Bagaimana kalau setelah ini ia diculik lalu disekap disebuah ruang buah tanah dan lelaki itu akan mengeluarkan seluruh organ tubuhnya?

Oh, baiklah, Bae Sooji! Sepertinya kau terlalu banyak menonton film horror! Sooji menrik nafasnya panjang lalu mengeluarkan perlahan. Diberanikannya diirnya untuk menoleh ke arah lelaki asing disebelahnya. Namun, sedetik kemudian ia menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya kini.

“Kau?!”

Kim Myungsoo tersenyum begitu Sooji mengeluarkan suaranya. Ya, benar. Myungsoo memang sedari tadi mengikuti Sooji. Jangan tanya kenapa. Lelaki itu juga tidak tahu dengan alasan pastinya. Memang benar kesan pertama mereka terbilang cukup tidak baik. Bagi Myungsoo, gadis yang ada dihadapannya ini hanyalah seorang gadis aneh yang seolah mengenalnya. Namun, hal itu yang membuat lelaki itu penasaran akan sosok gadis yang duduk disampingnya ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooji akhirnya setelah keheningan menyerang mereka selama kurang lebih satu menit.

“Memangnya aku tidak boleh kesini? Bukankah ini tempat umum?”

Sooji melengos. Ya, ia tahu ini tempat umum. Tapi, apa yang lelaki ini lakukan disini? Di halte bus! Bukankah dia anak seorang jutawan.? Sooji yakin bahwa L – oh bukan – Kim Myungsoo memiliki mobil lebih dari satu dan harganya pasti sangatlah mahal. Mungkin, meskipun Sooji bekerja keras seumur hidupnya, ia tak akan sanggup membeli mobil seperti milik Myungsoo.

“Tapi ini halte bus! Kalau dilihat dari penampilanmu, kau pasti memiliki mobil bukan?” Sooji menatap keji Myungsoo seraya memperhatikan setelan jas mahal yang kini dikenakannya.

Myungsoo hanya terkekeh. Gadis itu pintar juga. “Aku hanya bosan mengendari mobilku,” bohongnya. “Omong-omong, kita belum berkenalan. Aku Myungsoo. Kim Myungsoo. Dan kau?” Myungsoo menjulurkan tangannya.

Sooji terdiam sebentar seraya menatap uluran tangan Myungsoo, membuat Myungsoo mengernyit heran.

“Tenang saja. Aku sudah mencuci tanganku. Kau tidak perlu khawatir,” candanya.

“Aku Bae Sooji,” ujar Sooji seraya menyambut uluran tangan Myungsoo. Ya Tuhan! Kalau tidak ingat bahwa lelaki yang ada dihadapannya sekarang bukanlah diri L yang sebenarnya, Sooji sudah pasti memeluk lelaki itu erat agar tak pergi meninggalkannya. Namun kenyataannya, lelaki dihadapannya ini bukanlah L.

Sedangkan Myungsoo terdiam sejenak. Sepertinya nama itu tak asing baginya. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, dimana? Dan… Kenapa rasanya nyaman sekali berada didekat gadis ini?

Myungsoo kemudian berdeham setelah merasa keduanya berpegangan cukup lama. Sadar akan hal itu, Suzysegera melepaskan genggaman tangannya.

“Jadi… apa yang kau lakukan? Tidak bekerja?” tanya Myungsoo.

“Tidak. Aku… Sebenarnya aku baru saja berhenti dari pekerjaanku.”

“Benarkah? Kenapa?”

Belum sempat menjawab, dering ponsel Myungsoo sontak menghentikan Sooji. “Tunggu sebentar,” ujarnya. Ia segera meraih ponselnya dari dalam saku celana. “Halo.”

Sooji dapat merasakan lelaki disampingnya terkejut mendengar ucapan dari lawan bicaranya. Myungsoo bahkan langsung beranjak berdiri. “Hei… Tunggu dulu! Kau serius?” Myungsoo memindahkan ponselnya ke telinga kirinya. “Tapi, kenapa tiba-tiba? Kau tidak tahu betapa sulitnya mencari orang sekarang ini?” Tiba-tiba saja pandangan mata Myungsoo terhenti pada Sooji. Sedetik kemudian, ia tersenyum. “Oh, sepertinya aku sudah menemukan solusinya. Sudah dulu.”

Sooji mengernyitkan keningnya begitu melihat Myungsoo memutuskan panggilannya lalu kembali duduk disebelahnya seraya menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

“Ke… Kenapa?” tanyanya takut-takut seraya melipatkan tangannya di depan kedua dadanya. Bisa saja bukan kalau Myungsoo mempunyai niat buruk terhadapnya? Bagaimanapun juga, Myungsoo tetaplah lelaki – yang sangat tampan.

“Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganmu.”

“Maksudmu?” tanya Sooji masih tak mengerti.

“Bukankah kau bilang kau baru saja berhenti dari pekerjaanmu. Bagaimana kalau kau bekerja denganku?”

TO BE CONTINUED

47 responses to “Oh My Ghost! Chapter 8

  1. ternyata myungsoo nggak inget sama suzy, kasian suzy, ishh ishh soojung nggak tau malu di tambah eomma’a myungsoo lg yg percaya aja sama soojung, yah rahasia mark kebongkar, apa suzy mau kerja sama myungsoo? kerja jd apa ya?

  2. Waaaaaj acting soojung bener 2 kelewatan, myunsoo jga kasihan kan suzynya….. Hei thooor ditunggu kelanjutannya yaaa mksiiih ^^

  3. Apa myung akan ingat sama suzy?? itu jung sujoong keterlaluan skali, cpat lah myung inget biar smua nya terbongkar apalagi kejahatan sujoong

    semamgatt nulis lanjutannya d tunggu sangat next part nya

  4. Jangan” myung mau merekrut suzy sebagai salah pegawainya lagi,,,,,
    Ini kesempatan agus jadinya kan nanti myungzy bisa sering ketemu lalu perasaan mereka berdua tumbuh kembali

  5. aku ngerasanya kok sekertaris pekerjaan buat sooji dari myungsoo…
    senyum2 baca ending part ini hehehe..
    kasian sama mark sebenernya, yah kan dia bermaksud baik…
    sepertinya biarpun myungsoo ngga inget kejadian pas dia koma, tapi jauh dilubuk hatinya dia inget suzy…
    next ditunggu

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s