Cinderella Sister [ Chapter 8 ]

cinderella sisterTitle : Cinderella Sister || Author : Mnandhini || Main cast : Bae Suzy, Kim Myung Soo, Oh Sehun, Oh Sehun || Genre : Sad, romance (?). || Rating : –
.
.
.
Sumarry : “Can you make me smile and happy?”

NB : Jangan lupa kunjungin blog pribadiku ya nananandhinidream.wordpress.com

Mian for Thypos and Happy Reading.
Langkah Sehun terlihat tersendat sendat saat dirasanya ia sama sekali tak menemukan jejak tempat tingal Suzy, ia sangat yakin alamat yang disebut ayahnya saat mabuk adalah tempat ini namun pastinya letaknya dimana Sehun tak tau.

Tak berputus asa Sehun kembali mengedarkan pandangannya kesegala arah dan hasil kerja kerasnya akhirnya berbuah, Sehun dapat menangkap sosok Suzy yang tengah berjalan dengan seorang pria. Tak ingin kehilangan jejak Suzy, Sehunpun terus mengikuti Suzy hingga ia sampai disebuah rumah tradisioanal yang sangat luas jauh berbeda dengan rumahnya dulu.

Sehun tak langsung masuk, ia berfikir sejenak jalan apa yang harus ia tempuh? Haruskah ia kembali kerumahnya yang dulu dan harus menjalani hidup dengan dipukuli terlebih tanpa Suzy, atau ia mulai masuk kedalam kehidupan baru Suzy ikut bahagia dengan keluarga baru Suzy.

Jujur Sehun sangat benci saat ayahnya memukuliya, potongan potongan ingatan yang menyakitkan membuatnya memilih dengan pasti pilihan kedua yaitu masuk kedalam kehidupan baru Suzy dan hidup bahagia dengan Suzy.

Sehun melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu dan sudah nampak keluarga harmonis yang berisikan ayah yang berhati lembut. Sehun bisa merasakannya, merasakan kelembutan dari sorotan mata Tn. Jung .

“Suzu –ah” panggil Sehun . Suzy membalikan tubuh perlahan.

“Oh Sehun!” lirih Suzy, Suzy berjalan menghampiri Sehun dengan langkah lambat seakan akan tak percaya apa yang baru saja ia lihat.

“Kwenchana?” satu kata yang sudah lama ingin Suzy tanyakan padanya. Sehun hanya tersenyum tipis.

“Aku tak apa apa” ucap Sehun. Namun ada yang janggal dari wajah Suzy, matanya berkaca kaca dan terlihat seakan akan menahan tangisannya.

“Suzy –ah, waegeurae?” tanya Sehun.

“Ayahmu, ayahmu sering memukuli keutchi?”

Sehun hanya tersenyum tak berniat menjawab pertanyaan Suzy, ia lebih memilih mengelus pucuk kepala Suzy seraya mengacak acak rambutnya.

“Oppa pria itu siapa?” tanya Soojung berbisik kepada Myungsoo.

“Dia kakak tirinya Suzy, Oh Sehun. Ck entah mengapa aku sedikit tak suka dengan nama itu” lirih Myungsoo dengan suara yang kecil namun Soojung dapat menangkap suara itu.

“Mengapa eppa tak menyukainya?”tanya Soojung polos.

“Anioo, oppa tidak mengatakan oppa tak menyukainya. Jung Soojung pendengaranmu sangat buruk” ucap Myungsoo kikuk.

.
.
.

Suzy dan Sehun kini berada dikamar Suzy, hanya berdua. Suzy menatap tajam kearah Sehun sedangkan yang ditatap hanya diam menunduk, “Kau benar benar tidak apa apa? Appamu mengaku telah memukulmu, bukan hanya sekali tapi berkali kali” ucap Suzy yang kesekian kalinya.

“Sudahku bilang aku tidak apa apa. Wahhh Bae Suzy kau banyak berubah ya sejak tinggal disini, kau lebih banyak bicara. Dulu kau sangat dingin dan irit bicara tapi sekarang kau sedikit berubah.” Ucap Sehun sambil menatap Suzy tak percaya.

Suzy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Entah mengapa, dia sekarang lebih bisa mengeluarkan ekspresinya, tidak hanya memendamnya sendiri, “Bukankah itu bagus?” tanya Suzy sambil tersenyum.

Dan Sehun kembali dibuat terkejut karena sikap baru Suzy, “Wooahhh, Bae Suzy sudah berkembang banyak” Sehun mengelus lembut pucuk kepala Suzy. Sama seperti apa yang sering Myungsoo lakukan ke dia, namun Suzy merasa rasanya berbeda. Saat tangan Myungsoo dengan tangan Sehun yang mengelus lembut kepalanya, ia merasa tangan Myungsoo lebih hangat dan memabukan (?) baginya.

“Suzy –ah!!” paggil Soojung yang tiba tiba membuka pintu kamar Suzy.

“Mwo?” tanya Suzy.

“Appa memangil dia” ucap Soojung sambil menunjuk Sehun, tepat didepan wajah Sehun.

“Baiklah, kajja biar kuantar” ucap Suzy.

“Biar aku yang mengantarkannya” ucap Myungsoo yang tiba tiba berada didepan kamar Suzy.

“Ne.” ucap Suzy pasrah.

Setelah Sehun pergi mengikuti Myungsoo, Soojung yang masih dikamar Suzy menatap si pemilik kamar dengan tatapan menyelidik

“Pria itu siapa? Kekasihmu?” tanya Soojung polos.

“A –anio, dia kakak tiriku. Dia tinggal bersamaku selama ini” ucap Suzy.

“Yakk, Suzy –ah” ucap Soojung sambil memegang jidat Suzy seakan mengecek suhu badan Suzy.

“Ada apa denganmu?” tanya Soojung.

“Mwo ? Apa maksudmu?” tanya Suzy tak mengerti.

“Kau berbeda dari biasanya. Kau tau wajahmu sedikit lebih berbeda dari biasanya tidak dingin dan judes tapi ngat hanya sedikit sedikit .” ucap Soojung.

“Apa maksudmu berbeda, aku merasa sama saja. Sudahlah kau keluar saja, aku ingin belajar.” Usir Suzy.

“Aisttt, si kutu buka Suzy kembali muncul.” Ucap Soojung .

“Bae Suzy –ssi ini hari libur sebaiknya kau bersenang senang saja tidak usah belajar” Soojung menepuk pundak Suzy seakan sedang menasehati Suzy.

“Jung Soojung –ssi aku bukan tipe orang yang malas belajar sepertimu” Suzy membalikan, ia membalas menepuk pundak Soojung.

“Chkkk. Baiklah aku akan pergi, bisa bisa kau tertular sepertimu” ucap Soojung sambil berdecak.

“Bukankah itu baik” teriak Suzy. Well mereka sekarang lebih akur dari biasanya.

.
.
.

Kini Suzy dan Myungsoo tengah belajar, dan tak lupa dengan Sehun yang terus saja menatap tajam kearah Myungsoo.

“Huhh.” Ini yang kesekian kalinya Myungsoo mengehembuskan nafas kasarnya.

“Waeyo?” tanya Suzy.

“Oh Sehhun –ssi bisakah kau keluar? Maaf ebelumnya karena memgusirmu, tapi aku sama sekali tak bisa fokus mengajar Suzy jika kau terus memandangku seakan aku hendak memakan Suzy hidup hidup. Aku tau kau mengawasiku” ucap Myungsoo masih dengan nada yang sedikit lembut namun denga tatapan mata yang sangat tajam.

“Maafkan aku, aku tak akan mengulannya lagi. Tapi biarkan aku diam disini” ucap Sehun sopan.

Suzy menatap Myungsoo, namun Suzy mengerti maksud dari tatapan mematikan Myungsoo, “Sebaiknya kau berkeliling saja Sehun –ah, bukankah kau belum mengenal tempat ini”

Hanya perlu sekali Suzy berbicara dan Sehun langsung mengiyakannya, “Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu.” Sehun menundukan kepalanya sebelum menghilang dari balik pintu.

“Aisttt, dasar dia sama sekali tidak mengerti situasi.” Ucap Myungsoo.

“Kau terlalu jahat, dia bahkan tak mengenal siapapun disini kecuali aku dan eommaku tapi kau malah menyuruhnya keluar.” Ucap Suzy sambil fokus kebukunya.

“Kau membelanya? Yak Bae Suzy bukankah kau sendiri yang bilang kau tidak suka jika belajar ada orang lain.” protes Myungsoo.

“Itu hanya berlaku untuk Soojung, Sehun bukan orang yang cerewet seperti Soojung jadi jika ada dia aku tak keberatan.” Ucap Suzy polos.

“Sudahlah, jangan dibahas lagi.” Ucap Myungsoo.

“Ahh, iya. Myungsoo apa yang dikatakan Tn. Jung tadi kepada Sehun?” tanya Suzy.

“Tn. Jung memintanya untuk tinggal disini. Hanya itu” jawab Myungsoo datar.

“Ahh, syuruhlah.” Ucap Suzy.

“Apanya yang syukur?” tanya Myungsoo tidak suka.

“Ahh, sudahlah jangan dibahas.” Ucap Suzy.

Kini Myungsoo tengah menatap tajam Suzy yang sedang mengerjakan tugas yang Myungsoo berikan. Sesekali Suzy jeda untuk menulis, berfikir sambil sesekali mengigit kuku jarinya saat tidak menemukan jawabanya. Myungsoo tertawa melihat tingkah Suzy, “Apa kau selalu mengigit kuku saat kebingungan?” tanya Myungsoo.

Suzy hanya mendongak menatap Myungsoo bicara setelah itu, Suzy kembali fokus pada tugasnya yang membingungkan itu.

“Bae Suzy!” panggil Myungsoo pelan namun Suzy sama sekali tak menjawab, seakan Myungsoo kalah daya tariknya dari pada soal soal itu.

“Bae Suzy aku memanggilmu!” nada bicara Myungsoo sedikit tinggi dan tu membuahkan hasil. Suzy mengangkat kepalanya. Poni poninya sedikit menutupi matanya, dan membuat tangan Myungsoo reflek merapikannya.

Deg~ jantung Suzy seakan ingin loncat dari tepatnya saat ia wajahnya berdekatan dengan Myungsoo, Suzy cepat cepat menepis tangan Myungsoo dan Suzy buru buru merapikan poninya itu sendiri.

“Ada apa ?” tanya Suzy sewot.

“Ehmm, sebenarnya pertanyaanku tidak begitu penting.” Ucap Myungsoo.

“Kalau begitu katakana apa pertanyaanmu?”

“K –kau me nyukai Sehun?” tanya Myungsoo.

“Tentu saja, mengapa aku harus membencinya? Dia yang selalu melindungiku saat masih tinggal bersama ayahnya.” Ucap Suzy.

“Mwo? I –itu maksudku menyukai sebagai lawan jenis.”

Dan pertanyaan itu berhasil membuat Suzy gelagapan untuk menjawab, “Sudahlah, mengapa kau membahas hal yang tidak penting, lebih baik aku melanjutkan mengerjakan soal ini. Aku tak ingin mendengarkan omelanmu.” Ucap Suzy mulai meraih bolpoinnya.

Myungsoo merampas bolpoin yang dipegang Suzy, “Jawab aku!” perintah Myungsoo.

“Entahlah!” jawab Suzy ragu.

“Kau seharusnya tidak boleh menyukai Sehun, karena itu akan merusak keturunan. Kau menikah dengan saudaramu sendiri.” Ucap Myungsoo sedikit mengintimidasi.

“Tapi aku dan Sehun bukan saudara kandung, kita hanya saudara tiri.” Ucap Suzy dan berhasil membuat myungsoo menjitak jidatnya.

“Yakk! Mengapa kau memukulku?” tanya Suzy.

“Karena kau terlalu banyak bicara, cepat lanjutkan pekerjaanmu.” Ucap Myungsoo beralasan.

“Aisttt, Kau mengambil bolpoinku.!” Pekik kesal Suzy dan Myungsoo segera mengembalikannya keSuzy.

Dan semua pembicaraan Suzy dan Myungsoo tadi didengar oleh Sehun. Ia tak benar benar pergi, ia hanya duduk didepan kamar Suzy mendengar apa saja yang mereka bicarakan.

.
.
.

Lima menit sebelum Myungsoo keluar dari kamar Suzy, Myungsoo tengah bersiap siap membereskan bukunya.

“Kau tak keluar?” tanya Suzy yang melihat Myungsoo masih santai duduk dihadapannya.

“Jamku masih lima menit lagi.” Ucap Myungsoo sambil melihat arloji yang terpasang ditangan kirinya.

“Lalu apa yang sekarang akan kau lakukan?”

“Memandang wajahmu.” Dan ucapan Myungsoo tadi berhasil membuat pipi Suzy memanas, ia memalingkan wajahnya agar Myungsoo tak melihat rona merah dipipinya. Sedangkan Myungsoo yang melihat gelagap aneh Suzy hanya tertawa puas.

“Apa yang lucu?” tanya Suzy.

“Tidak ada.”

Dan hening~ 3 menit berlalu hanya tanpa suara apapun, Myungsoo hanya menatap Suzy sedangkan yang ditatap melihat kelain arah.

“Yakk Kim Myungsoo!” panggil Suzy.

“Hmmm?” gumam Myungsoo.

“Benarkah aku sedikit berubah?” tanya Suzy.

“Berubah? Berubah apa?”

“Soojung bilang aku berbeda dari biasanya, wajahku sedikit berhenti dingin dan judes. Sehun juka bilang aku lebih banyak berbicara dari pada sebelumnya.” Ucap Suzy.

“Dan aku juga mengaku kau berubah.” Ucap Myungsoo sambil tersenyum.

“Mwo? Berubah macam apa?” tanya Suzy.

“Kau sekarang sudah mau membuka pembicaraan, aku yakin kau menanyakan hal ini untuk menghilangkan rasa canggung yang kita rasakan tadi.” Ucap Myungsoo.

“I –itu karena kau bilang selalu merasa canggung saat bersamaku, aku hanya ingin membuatmu nyaman.”

Myungsoo tersenyum, ia mengambil bukunya dan bangkit dari tempatnya, “Itu bagus, kau sudah mulai berubuhah.” Myungsoo mengelus pucuk kepala Suzy lalu keluar kamarSuzy karena waktu belajarnya telah habis.

Suzy masih terdiam ditempatnya, ia memegang kepalanya yang baru saja dielus oleh Myungsoo dan lengkungan indah yang disebut senyuman itu tertera diwajah Suzy.

Myungsoo baru saja membuka kelop pintu kamar Suzy namun langkahnya telah dihadang oleh Sehun, “Myungsoo –ssi bisakah kau berbicara denganku?” tanya Sehun.

“Ne, tentu saja. Tapi tunggu duku, aku menaruh bukuku dulu.”

.
.
.

Myungsoo dan Sehun berjalan berdampingan dihalaman luas rumah Tn. Jung.

“Aku akan langsung ke poinnya Myungsoo –ssi.” Ucap Sehun.

“Ne, katakanlah apa yang ingin kau katakan!”

“Kau menyukai Suzy, bukan?” tanya Sehun.

“Ne.” jawab Myungsoo pasti.

“Kau pria sejati, bukan? Jika bagaimana kita berkompetisi dengan sportif.” Ucap Sehun.

“Kompetisi apa maksudmu?” tanya Myungsoo tak mengerti.

“Berkompetisi untuk memenangkan hati Suzy. Aku tidak bermaksud untuk mempertaruhkan Suzy, aku hanya ingin memberika yang terbaik untuk Suzy. Biarkan Suzy memilih dan apapun pilihan Suzy akan kuterima.” Ucap Sehun.

“Tentu saja, kita lihat akhirnya siapa yang akan Suzy pilih. Tapi sampai kapanpun aku akan tetap melindungi Suzy.”

“Aku juga.” Ucap Sehun.

“Ini persaingan secara sehat, jadi kita perlu bersikap seakan kita bermusuhan. Karena aku akan tinggal disini aku harus akur denganmu.” Ucap Sehun.

Sehun pergi meninggalkan Sehun namun sebelumnya ia mengehentikan langkahnya, “Terimakasih karena sudah melindungi Suzy dan mengubah sikap Suzy saat aku tidak ada.” Ucap Sehun lalu pergi.

.
.
.

Suzy baru saja masuk kekamarnya, ia melihat Sehun yang tertidur dikasurnya. Sepertinya Sehun ketiduran disini, Suzy hendak menyelimuti Sehun namun tangannya serasa kaku saat ia melihat sebuah lebam dileher Sehun.

Selama ini Suzy tidak benar benar memperhatikan Sehun hingga membuatnya tak tau jika Sehun terluka, Suzy memberanikan diri untuk membuka satu kancing kemeja Sehun dan setelah Suzy membukanya, ia dapat melihat luka luka yang tampat bertumpukan didada Sehun. Itu menyayat hati Suzy, disaat Sehun dipukuli oleh ayahnya tidak ada satu orangpun yang berada disisinya sekedar untuk mengobatinya atau menghiburnya. Sedangkan selama ini Sehun selalu melindungi Suzy namun Suzy tak dapat membalasnya.

Suzy keluar dari kamarnya, Suzy melihat Myungsoo yang sedang mengambil air putih didapur. Tanpa perintah, kaki Suzy mengayun kearah Myungsoo dan Suzy memeluk Myungsoo.

Myungsoo sedikit menoleh melihat siapa yang memeluknya dari belakang dan ia tak bergerak saat mendengar isakan Suzy.

“Siapa yang membutamu menangis?” llirih Myungsoo, ia hendak membalikan badannya namun segera ditahan oleh Suzy.

“Kumohon diam seperti ini untuk beberapa menit.” Ucap Suzy .

Dan betul, Myungsoo diam tak bergerak. Ia hanya mendengar isakan tertahan yang keluar dari bibir Suzy.

Suzy melepaskan pelukannya, “Maaf membuat bajumu basah dan terima kasih karena telah meminjamkan punggungmu.” Ucap Suzy lesu.

Myungsoo menahan lengan Suzy, “Mengapa kau menangis?” tanya Myungsoo.

Kini mata Suzy kembali berkaca kaca, ia memilih untuk membungkam bibirnya untuk mengatakan alasan itu ke Myngsoo. Ia matanya kini kembali meluncur bebas dipipinya dan itu membuat hati Myungsoo sakit melihat Suzy menangis.

Myungsoo memeluk Suzy, mengelus kepala Suzy dengan penuh kasih sayang, “Kwenchana, aku disini. Jangan menangis.” Ucap Myungsoo.

Suzy membalas pelukan Myungsoo dan Suzy menangis didada bidang Myungsoo.

Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan tatapan kebencian.

Tbc.
Haiii. Sebelumnya aku ngucapin selamat hari raya Nyepi bagi yang merayakan, hehehehe. Oke ini ff semakin lama semakin gaje dan ancur, pendek pula. Mianhae, jujur aku puyeng lanjutinnya kaya gimana karena sama sekali gak ada gambaran dan bentar lagi aku T.O kedua dan semesteran jadilah ff ini semakin ancur, mungkin juga effek aku yang lagi dimabuk cinta sama IKON hehehe. Oh, iya part 9 nya bisa dipastikan updatenya bakal ngaret, sudah kubilang aku T.O plus semsesteran jadi selesainya seminggu lebih dan aku pastikan updatenya lama. Mianhae semoga kalian gak lupa deh sama ffku karena bakal lama update dan semoga kalian selalu suka sama ff ku ini. Jangan lupa RCLnya ya.

60 responses to “Cinderella Sister [ Chapter 8 ]

  1. Wahwah thor myungsoo sama sehun suka sama suzy berati cinta segitiga dong thor. Yangngeliatin mereka dengan tatapan kebencian siapa ya thor penasaran banget 😢😢. Sehun atau krystal ??? Kayanya krystal deh soalnya sehun kan tidur, ato sehun ya ? Dia kan bisa aja kebangun. Ahhh ga tau lah pokoknya aku penasaran banget thor!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s