Mistakes and Regrets #12

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

 Genre:  Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

 Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

 Poster by animeputri

 

I don’t own anything besides the storyline

 

 Revealed

Previous chapter: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |

 Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback dan mohon perhatikan tahunnya.

Seoul 2010

“Kajima, Soo..” ucapan Sooji terdengar begitu lirih di telinganya. Gadis itu kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap manik matanya.

“Jebal, kajima…” bisik Sooji. Myungsoo mengalihkan pandangannya dari Sooji, tangannya terkepal dan dihela nafasnya perlahan.

“Soo…., aku membutuhkanmu” Myungsoo diam. Hatinya kembali bimbang. Saat tangan kecil Sooji menggenggamnya, Myungsoo berusaha mati-matian meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang diambilnya sudah tepat.

Saat tangan Sooji menekan pipinya perlahan, Myungsoo tahu, dia tidak bisa lagi lari. Myungsoo dapat melihat dengan jelas aliran air mata di kedua pipi Sooji.

“Nan, Nan neol saranghae.. Soo-ya.., na saranghae?” ” ucap Sooji lirih. Myungsoo memejamkan matanya dan kembali menghela nafas. Tangannya kemudian bergerak meremas tangan Sooji yang masih bertengger di pipinya.

Saat kedua matanya kembali dibuka, Myungsoo dapat melihat dengan jelas Sooji yang menatapnya penuh harapan. “Mianhae Sooji-ah. Mianhae…”

Dan Sooji menangis. Lagi. Karena dirinya. Karena Kim Myungsoo. Myungsoo menahan egonya untuk tidak menarik Sooji ke dalam pelukannya. Tidak. Myungsoo sudah memilih, Soojung lebih membutuhkannya dibanding Sooji.

Dan bertahun-tahun kemudian Myungsoo menyesali keputusannya. Karena pada akhirnya, Sooji lah yang dia butuhkan. Sooji lah yang dia cari. Dan pada akhirnya, Myungsoo lah yang kehilangan Sooji.

Myungsoo bangun dengan tampang berantakan dan mood buruk. Semalaman dia sulit tidur karena ucapa Woohyun, memikirkan Sooji, memikirkan Sunggyum memikirkan Sooji, dan memikirkan Sooji. Myungsoo sangat menyadari bahwa seorang Sooji sukses mengusai sebagian besar isi kepalanya. Dan karena itulah, Myungsoo tidak terlalu heran begitu Sooji muncul di mimpinya. Sayangnya, buikan Sooji yang tersenyum manis yang terputar dalam mimpinya semalam, melainkan pertemuan terakhirnya dengan Sooji sebelum gadis itu tiba-tiba menghilang. Pertemuan terakhirnya dimana dirinya dengan kejam memilih Soojung dan membuat Sooji menangis.

Myungsoo menghela nafas. Kepala berdenyut hebat. Diliriknya cepat jam digital di atas nakas di samping tempat tidurnya. Pukul 04.30. Myungsoo mendengus, tidurnya yang singkat, yang hanya berdurasi kurang dari 3 jam, ditambah mimpi –buruk, tentu saja bukan tidur yang berkualitas.

Myungsoo kemudian bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju dapur. Diteguknya dengan cepat segelas air dingin kemudian dilangkahkan lagi kakinya menuju meja kerjanya. Sebelum menyalakan laptopnya, mata Myungsoo menjelajahi barang-barang di atas meja kerjanya yang sedikit berantakan. Senyum tipis kemudian muncul di bibirnya begitu dia menemukan apa yang dia cari. Sebuah foto berbimngkai coklat. Foto terakhirnya bersama Soojung, Sopji, dan Sungyeol. Sungyeol dengan senyum lebar dan tangan kanannya yang membentuk huruf V dan tangan kirinya merangkul Soojung yang berada di sebelah kirinya dengan protektif. Soojung yang tersenyum lepas dengan tangan kanannya yang memeluk pinggang Sungyeol. Sooji yang berada sedikit lebih di depan dibanding yang lain dengan kedua tangan terentang lebar. Dan dirinya.. yang menatap Soojung yang berada di sebelah kanannya dengan tatapan lembut. Myungsoo menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa Soojung tidak mengetahui perasaannya saat Myungsoo menunjukkannya secara gamblang dan bagaimana Sooji bisa bertahan menyukainya saat Myungsoo sering sekali menyakitinya. Tangannya kemudian bergerak mengelus permukaan kaca bingkai. Matanya tak lepas menatap namja jangkung yang tersenyum lebar. “Hey, Yeol. Aku teman yang buruk, geutchi? Mianhae, aku menyakiti Sooji-mu. Jeongmal mianhae. Tapi, aku akan menbusnya kali ini. Kau akan mendukungku ‘kan?”

“Selamat pagi, yimo. Selamat pagi, samchon. Selamat pagi, oppa.” Langkah kaki Sooji berderap di ruang makan. Dengan tergesa, Sooji mengambil sepotong roti, menggigitnya, kemudian mengancingkan lengan kemeja maroonnya. Tuan Nam berdeham pelan, “Kau terlihat terburu-buru, Sooji”

Sooji melepaskan gigitannya pada roti, “Ada yang harus aku bicarakan dengan teamjangnim untuk proyek suite di Jeju-do sebelum rapat dengan investor, samchon. Jadi aku harus lebih cepat sampai di kantor.”

Sooji mengambil gelas susunya, meminumnya dalam sekali tenggak kemudian ditatapnya Woohyun yang masih sibuk dengan omletnya, “Oppa, kau akan mengantarku kan?”

Woohyun mendengus, “Untuk apa aku mengantarmu? Kau ‘kan bisa bawa mobil sendiri, Sooji-ah. Jangan manja.”

Sooji merengut, “Mobilku di bengkel, oppa. Kau tahu ‘kan kalau kemarin aku diantar pulang busajangnim”

“Kalau begitu minta dijemput lagi saja”

Oppa, kau-“

“Jwesonghamnida, Nona. Ada teman nona yang menjemput di depan”

Sooji mengerutkan alisnya sedangkan Woohyun tersenyum kecil. “Daebak, Hyung sungguh mengerti dirimu, Sooji-ah. Tatapan Woohyun kemudian beralih pada bibi Ham, “Kenapa tidak diminta masuk?”

Jwesonghmanida, Tuan. Bukan Kim Sunggyu-shi yang ada di depan tapi..” Bibi Ham terlihat sedikit ragu melanjutkan ucapannya.

“Tapi?” tanya Woohyun

“Kim Myungsoo-shi, Tuan. Dia bilang dia hendak menjemput nona Sooji”

Sooji membelalakkan matanya sedangkan woohyun mendesah pelan. Woohyun kemudianmeletakkan garpu dan pisaunya kemudian menatap Bibi Ham, “Bilang padanya Sooji berangkat bersamaku, Bi.”

“Baik Tu-“

“Jangan bi, biar aku menemuinya” potong Sooji cepat, Woohyun mendelik pada Sooji sedangan Sooji hanya tersenyum manis.Waeyo, oppa? Aku sedang terburu-buru sedangkan kau masih makan. Lebih baik jika aku berangkat dengan Myungsoo ‘kan?” 

“Aku berangkat, oppa. Yimo, samchon, aku berangkat” ucap Sooji sambil mengecup pipi yimonya.

Begitu Sooji meninggalkan ruang makan, Nyonya Nam menatap Woohyun dengan sorot mata khawatir, “Kim Myungsoo? Kim Myungsoo kekasihnya dulu saat SMA?”

Woohyun mengangguk pelan, “Ne, omma. Kim Myungsoo yang itu”

“Apa Sooji akan baik-baik saja? Aku tidak menyukai Sooji kembali dekat dengan namja itu, Woohun-ah. Bisa kau peringati Sooji?”

Woohyun diam saja tidak merespon ucapan ommanya.

“Apa kau mau melihat adikmu terpuruk kembali?”

“Sooji sudah dewasa, omma

“Tapi-“

“Woohyun benar, yeobo. Sooji sudah dewasa. Dia pasti tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Melindungi Sooji bukan dengan cara membatasi lingkaran temannya.”

Nyonya Nam mendengus mendengar pembelaan suaminya terhadap Woohyun, “Kalau sampai Sooji kenapa-napa maka-“

“Maka Woohyun akan menghabisi Myungsoo. Lagi. Dan sepertinya kali ini Myungsoo juga akan berhadapan dengan kakaknya, geutchi?” potong Tuan Nam cepat.

Woohyu tertawa, “Ne, abeoji. Kurasa hyung tidak akan tinggal diam jika Myungsoo macam-macam dengan Sooji.”

Sooji memperhatikan Myungsoo yang bersandar pada Hyundai hitamnya. Sooji tersenyum tipis. Jika Myungsoo menjemputnya saat SMA dulu mungkin Sooji akan berteriak kegirangan namun saat ini Sooji merasa..bersyukur. Entahlah, kehadiran Myungsoo belakangan ini cukup membuatnya senang. Myungsoo membuatnya nyaman tidak tersa mengintimidasi seperti dulu.

“Hey” sapa Myungsoo sambil tersenyum, menampilkan kedua lesung pipinya.

Sooji tertawa pelan kemudian menepuk bahu Myungsoo ringa, “Ada angin apa kau menjemputku?”

“Tidak ada apa-apa. Aku tahu mobilmu sedang di bengkel, jadi kurasa kau butuh tumpangan.”

Sooji mengangguk, “Geurae, kajja.”

Myungsoo kemudian membukakan pintu penumpang untuk Sooji yang mebuat gadis itu tertawa, “Yya, kau berlebihan sekali Kim Myungsoo.”

Sooji memperhatika isi mobil Myungsoo dengan seksama. Sooji menemukan setumpuk buku tentang design serta jas dan jaket yang disampirkan di bangku belakang. Terdapat pula beberapa tabung gambar. Aroma jeruk dan pappermint yang begitu menenangkan serta i-pod yang terpasang pada tape.

Myungsoo melirik Sooji dari sudut matanya. “Mian, pasti tidak senyaman mercedesmu atau bugatti Woohyun hyung.” Atau audi milik Sunggyu hyung

Sooji tertawa, “Tidak, tidak. Mian, bukan maksudku menyinggungmu, Soo. Tapi, mobil ini begitu… Myungsoo”

Myungsoo tersenyum lebar begitu mendengar Sooji yang menyebutny Soo. Begitu nostalgic.

Geurae? Wae? Apa ada yang aneh?”

Sooji tersenyum kecil sambil melirik kursi belakang, “Ani, hanya sedikit err.. berantakan”

Myungsoo tertawa, “Mian. Kau tidak perlu melirik ke belakang kalau begitu. Buku-buku itu aku perlukan sebagai referesi dan inspirasi.”

Sooji mengangguk, matanya kemudian melirik Ipod, “Bolehkah?”

Myungsoo tersenyum, “Silahkan, nona Bae”

Tangan Sooji kemudian terjulur, “Passwordnya, Soo?”

Myungsoo berdeham pelan, “Tanggal ulang tahun ….Soojung.”

Sooji tersenyum tipis, “Aahh tentu saja.”

Myungsoo mengutuk dalam hati, bagaimana bisa dirinya lupa mengganti password ipodnya. Myungsoo melirik Sooji, mengira gadis itu akan mendiamkannya atau berubah marah. Namun, nihil. Sooji tetap mengotak-atik ipodnya, mencari lagu yang ingin diputarnya. Myungsoo tersenyum miris. Entah Myungsoo harus senang atau sedih melihat reaksi Sooji. Kenyataan bahwa Sooji yang tidak lagi peduli hubungannya dengan Soojung mengganggunya. Bagaimana jika Sooji benar-benar sudah tidak merasakan apaapun padanya?

“Selera musikmu berubah, Soo. Sejak kapan kau menyukai lagu ballad?

Myungsoo tertawa kecil namun tidak menjawab pertanyaan Sooji. Bagaimana mungkin Myungsoo menjawab bahwa kembalinya Sooji lah yang membuatnya menyukai lagi-lagu ballad. Kembalinya Sooji membuatnya menjadi pria melankolis yang patah hati. Menyedihkan sekali.

Begitu sampai di depan gedung Hwajae Property, Myungsoo melepaskan seat beltnya hendak membukakan pintu bagi Sooji namun tangan Sooji menahannya, “Yya, sudah kubilang tidak perlu melakukan itu.”

Myungsoo tersenyum kecil, “Mian. Kukira Tuan Putri sudah terbiasa.”

Sooji merengut, “Kurasa aku tidak perlu membiasakan diri untuk hal seperti itu, Soo.”

Geurae, sana turun. Aku harus ke kantorku.”

Sooji kembali mencibir, “Yya, kau ini niat memberi tumpangan tidak?”

Kali ini Myungsoo tertawa, “Aigoo, Tuan putri ternyata sensitif sekali, ya”

Sooji mendengus, “Berhenti memanggilku Tuan Putri!”

Myungsoo mengacak rambut Sooji pelan, “Sana, turun. Jangan lupa makan siang, Sooji-ah.”

Sooji tersenyum kecil, “Gomawo, Soo!”

Myungsoo mengamati gadis itu turun dan tersenyum pada stpam. Saat Myungsoo hendak kembali menjalankan mobilnya, Sooji mengetuk kaca mobilnya.

“Yya, Sooji-ah?”

“Salam untuk Jiyoung! Dan jika kau sudah bosan bekerja di sana kau bisa mengirimkan cvmu ke sini Soo! Aku yakin aku bisa membujuk HRD untuk menaikkan gajimu!”

Myungsoo tertawa, “Yya, apa kau baru saja menyuruhku berkhianat dari tempat kerjaku? Aku ini pegawai setia, Sooji.”

Sooji tertawa kemudian melambaikan tangannya, “Himnae, Kim Myungsoo-ssi!”

Begitu selesai rapat dengan investor terkait dengan pembangunan suite di Jeju-do, kini Sooji bersiap kembali untuk meeting dengan tim marketing membahas konsep cluster baru untuk perumahan elit di Busan dengan konsep green living yang kini menjadi produk andalan Hwajae Property.

Sooji membaca ulang dengan cepat proposal serta contoh design yang kini bertumpuk di mejanya.

Tok tok tok

Sooji melirik pintu ruangannya sebentar, kemudian kembali memfokuska dirinya pada lembaran kertas di hadapannya begitu melihat Hyeri yang melangkah masuk.

Sajangnim, Anda diminta menghadiri rapat pimpinan di Hwajae Corporation setelah makan siang nanti.”

Sooji menghela nafas, “Bisa aku tidak mengahdirinya, Hyeri-ah? “

Hyeri tersenyum kecil, “Tidak bisa, sajangnim. Ini perintah langsung dari Huijang-nim”

Sooji mendengus, “Kenapa dia tidak memberitahuku saat di rumah sih? Menyebalkan sekali tiba-tiba membaritahu ada rapat pimpinan. Ini rapat petinggi pertamaku, kau tahu dan aku tidak ada persiapan sama sekali”

Hyeri berdeham kecil, “Sebenarnya surat dari pusat sudah aku letakkan di mejamu sejak seminggu yang lalu Sooji-ah. Aku juga sudah mengirimkannya ke e-mailmu.Tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan proyek Jeju-do dan Busan jadi melupakannya.”

Sooji terhenyak kemudian menatap Hyeri yang sedang menatapnya prihatin, “Astaga, mianhae Hyeri-ah. Sungguh. Aku tidak melihat undangannya.”

Hyeri bergerak maju kemudian menarik sebuah map berwarna merah  yang terjepit di antara dua tube tempat alat tulis, “Ige, sajangnim.”

Sooji tersenyum kikuk, “Emm, gomawo.”

Hyeri tertawa, “Aigoo, kau harus sedikit rileks Sooji-ah. Belakangan ini kurasa kau terlalu memaksakan diri.”

Sooji tersenyum tipis, “Ini batu loncatan untuk Hwajae, Hyeri-ah. Proyek Jeju-do dan Busan adalah proyek dengan design unik, jika kita berhasil menarik investor dan memboost penjualan unit, maka kenaikan laba bersih kita pasti signifikan.”

Hyeri mengangguk mengerti. Mengerti yang diucapkan Sooji, mengerti pula mengapa Sooji begitu bersemangat mengerjakan proyek ini –ralat, tepatnya mengerjakan setiap proyek yang ada. Sooji begitu berambisi menunjukkan bahwa dirinya kompeten. Awalnya, Hyeri ragu begitu mendengar Sooji akan mengambil alih jabatan sebagai sajangnim tapi hanya dalam waktu kurang dari tiga bula, Sooji berhasil menunjukkan bahwa dirinya mamppu dan merupakan seorang pebisnis handal. Sooji sangat cerdas melihat peluang bisnis, Sooji juga berani mengambil resiko. Tak hanya itu, selera Sooji yang terbilang tinggi dalam memilih design pun membantunya mengambil keputusan yang brilian.

Tok tok tok

Klek

Woohyun mendongakkan kepalanya dari  tablet di tangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, “Tumben sekali seorang Bae Sooji mengunjungiku.”

Sooji mendengus kecil. “Kau tidak mengingatkanku soal rapat pimpinan, oppa. Untung saja ada Hyeri.” Sooji meletakkan tas dan mapnya di sofa kemudian ikut menghempaskan tubuhnya. Dipejamkannya matanya sebentar, setidaknya masih ada waktu 45 menit sebelum rapat dimulai.

Woohyun terkekeh kecil melihat tingkah Sooji, “Kau tidak perlu khawatir, proyek di Hwajae Property berjalan lancar bahkan kurasa salah satu penyumbang laba bersih tertinggi bagi Hawajae di kuartal ini.”

Seketika Sooji menegakkan tubuhnya, “Jinjjayo?”

Woohyun kembali terkekeh melihat mata Sooji yang membesar, “Yee, abeoji pasti senang mendengarnya.” Kursi direktur utama memang sudah diberikan pada Woohyun tapi tetap saja pemegang saham tertinggi masih Tuan Nam dan nama Tuan Nam berada di urutan teratas  si jajaran komisaris Hwajae.

“Kau sudah makan siang, Sooji-ah?”

Ajig, tapi aku sudah makan banyak coklat.”

Diletakannya tabletnya di atas meja kemudian mendudukkan dirinya sendiri di sebelah Sooji. “Coklat bukan menu makan siang yang baik, Sooji.” Ucap Woohyun sambil mengelus rambut Sooji perlahan. Nyatanya, gadis itu sudah memejamkan matanya lagi.

Sooji berdecak, “Aku bilang ajig -belum, oppa. Tandanya aku akan makan siang tapi nanti, setelah rapat. Aku takut mual jika kenyang saat rapat, apalagi kalau mendengar komentar pedas samchon.”

Spontan Woohyun tertawa keras mendengar ucapan Sooji membuat Sooji mendesis dan membuka matanya kesal, “Yyaa, jangan ganggu aku, oppa. Aku masih punya waktu 30 menit untuk tidur sebentar.”

Ye, ye, ye, mian. Sini tidur.” Woohyun menarik kepala Sooji untuk tidur di bahunya. Sooji tersenyum kecil kemudian membetulkan posisinya, “Jalja, oppa.”

Woohyun tersenyum tipis kemudian mengelus rambut Sooji pelan.

“Laba bersih Hwajae Group meningkat signifikan sebesar 71% dibandingkan kuartal yang sama dari tahun lalu. Selain itu, anak perusahaan Hwajae yang bergerak di bidang properti dan dan perbankan merupakan penyumbang laba bersih tertinggi. Dari sisi perbankan, kita masih dipercaya sebagai bank swasta nomer 1 di Korea Selatan. Dari segi prorperti, Hwajae Property kembali menunjukkan taringnya dan berhasil mengejar ketertinggalan kita dari Jaesan selama dua tahun belakangan.Pembangunan resort dan suite kita terus diimbangi oleh permintaan tinggi dari pasar. Pembangunan cluster berkonsep green living hasil kerjasama dengan Taipan Group mendapat respon luar biasa bahkan 83% dari unit yang akan dibangun sudah atas nama hak milik….” spokesperson Hwajae Group memaparkan kinerja Hwajae Corporation kuartal ini.

Tuan Nam yang juga turut hadir dalam meeting tersebut tersenyum pada rekan-rekan kerjanya. Putra semata wayangnya Woohyun, yang menjabat sebagai direktur utama di usia muda,  diharapkannya dapat mengembalikan kejayaan Hwajae ternyata berhasil melampaui ekspekatsinya. Woohyun bukan hanya berhasil membuatnya bangga sebagai seorang direktur muda yang dapat mengelola 43 anak perusaahaan, tapi juga sebagai kakak yang dapat membimbing Sooji berhasil di bidangnya. Tuan Nam tersenyum kembali melihat Sooji yang terlihat serius mengikuti jalannya rapat.

Begitu rapat mendekati akhirnya, Tuan Nam berdeham pelan. Dengan wibawa yang begitu kentara, Tuan besar itu berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju tengah ruangan. Tuan Nam tersenyum kecil begitu mendapati hampir semua orang yang berada di ruangan itu memasang wajah tegang, “Sebelumnya, terimakasih kepada rekan-rekan sekalian yang menyempatkan hadir pada rapat pemegang saham kali ini. Seperti yang kalian ketahui, kenaikan laba bersih kita meningkat signifikan. Putraku tidak mengecewakan kalian ‘kan?”

Woohyun tersenyum simpul kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya begitu para dewan memberikannya applause.

“Tentu saja dia tidak bisa dan bukan apa-apa tanpa kerja sama kalian semua, semua bagian Hwajae Corporation. Semua direktur, CEO, COO, dan seluruh pegawai Hwajae Corporation. Selamat pada direktur Hwajae Prime Bank dan Hwajae Property sebagai penyumbang laba bersih tertinggi.”

Tuan Nam memberikan sedikit anggukan kepada Kang Tae Hyun, direktur Hwajae Prime Bank, dan memberikan senyum lebarnya kepada Sooji. Applause kembali menggema di ruangan.

“Dan untuk direktur lainnya, Hwajae Corporation sangat berterimakasih memiliki orang-orang hebat seperti kalian. Kontribusi kalian tentunya bukan hanya dari kenaikan laba bersih tapi juga dedikasi dan loyalitas.”

Sooji tersenyum begitu kembali mendengar riuhnya tepuk tangan. Tuan Nam, samchonnya, memang begitu berwibawa. Tuan Nam memang keras kepala dan terkesan cuek, tapi di dunia bisnis, namanya sendiri membuat orang-orang berdecak segan akan wibawanya.

“Seperti yang kita tahu, Direktur Hwajae Property merupakan orang baru terjun di bidang ini. Saya yakin, anda semua terkejut begitu melihat hasil kerjanya yang ternyata membuat kita semua terpukau. Sebelum ini, saya belum sempat memperkenalka secara resmi direktur muda kita. Persilahkan saya memperkenalkan direktur Hwajae Property, Bae Sooji, keponakan saya serta putri tunggal Bae Sunghoon dari Jaesan”

Seketika ruangan senyap namun beberapa detik kemudian bisik-bisik mulai terdengar. Sooji menggigit bibir bawahnya, bingung dan resah. Kini punggungnya mulai merasakan lirikan dan tatapan dari orang-orang di sekelilingnya. Hwajae dan Jaesan memang memiliki riwayat kerja sama yang buruk belakangan ini dan Tuan Nam menyebutnya sebagai putri Jaesan. Oh, Sooji ingin sekali menendang Tuan Nam saat ini.

Abeoji, Kenapa memperkenalkan Sooji seperti itu? Memperkenalkan Sooji sebagai putri Jaesan di depan para petinggi Hwajae yang loyalitasnya tak diragukan. Sooji bisa tak aman di kantor, abeoji.”

Tuan Nam tertwa mendengar gerutuan Woohyun. Woohyun di seblah kanannya terlihat menggerutu dan bergumam sebal sambil melirik Sooji yang berada di sebelah kiri Tuan Nam. Sooji sendiri hanya tersenyum kecil meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat.

Abeoji, kenapa tertawa? Ini masalah serius. Abeoji malah meminta yang lainnya mengajari Sooji. Apa mereka tidak akan marah? Kita ini seperti membesarkan peliharaan musuh.”

Bibir Sooji mengerucut sebal mendengar ucapan Woohyun dan mendengar suara tawa yang lainnya, “Maksudmu apa, oppa?”

Tuan Nam dan Sunggyu –yang berdiri di belakang Tuan Nam tidak dapat menghentikan tawa mereka begitu saja.

Samchon!” Sooji merengek.

Aigoo, mianhae. Tapi aku tidak menyesali perbuatanku. Itu langkah tepat Sooji. Sudah saatnya, Hwajae mengenal siapa si direktur muda Hwajae Property yang kecantikannya bahkan terdengan sampai ke kantor pusat. Dan aku permisi, kau pulang dengan Hyeri ‘kan Sooji?  Biar samchon berkencan dengan direktur utama kita.”

Tuan Nam kemudian menggandeng putra semata wayangnya yang terlihat masih menggerutu, tidak peduli tatapan dari para pegawainya yang menahan tawa.

Sooji melirik Sunggyu yang terlihat tampan dengan jas dan kemeja abu-abu. Sooji merasa bodoh, bukankah Sunggyu selalu berpakaian seperti itu saat ke kantor? Tapi mengapa Sooji merasa Sunggyu terlihat lebih tampan hari ini.

“Kenapa?”

Sooji menaha nafasnya sebentar ketika tertangkap basah sedang menatap Sunggyu.

“Tidak, tidak ada apa-apa.”

Sunggyu tersenyum, “Tidak usah pucat begitu. Menurtku tepat sekali Tuan Nam memperkenalkanmu sebagai keponakannya dan penerus Jaesan. Hubungan Jaesan dan Hwajae sebelumnya sangatlah baik, tentu saja itu karena Ibumu yang putri Hwajae dan founder Jaesan. Hanya saja semenjak ibu tirimu menduduki posisi tertinggi, mereka sulit sekali mencapai kata sepakat dan kerja sama yang sebelumnya terjalin akhirnya berantakan dan merugikan kedua belah pihak. Petinggi Hwajae yang loyal pasti mengerti tujuan Tuan Nam adalah untuk kembali menjalin kerja sama dengan Jaesan melewatimu.”

Sooji mengerucutkan bibirnya namun menganggukan kepalanya tanda mengerti. Sunggyu yang melihat tingkah kekanakan Sooji hanya tertawa kecil kemudia menepuk kepala gadis itu ringan, “Tidak perlu khawatir, prasangka Woohyun itu tidak berdasar. Mana ada pegawai kantor yang berani mengusik keponakan Tuan Nam.”

Ehm

Dehaman pelan Hyeri membuat Sooji tersadar dan menatap Hyeri heran sedangkan Sunggyu hanya tersenyum kecil dengan tangannya yang masih menempel di atas kepala Sooji. “Kenapa, Hyeri-ssi? Kepalamu juga ingin kutepuk?”

Hyeri membelalakkan matanya, “Tidak, busajangnim. Terimakasih. Tapi harap tidak mengumbar kemesraan di tengah loby Hwajae Corporation.”

Sooji mengedarkan pandangannya, menemukan orang-orang yang menatapnya penasaran. Pipinya kontan memerah. Sial. Dan lagi-lagi Sunggyu hanya tertawa mendengar penjelasan Hyeri, “Geurae, jwesonghmanida yeorobun.” Ucap Sunggyu lantang sambil membungkukkan tubuhnya, membuat pegawai lainnya tertawa kecil. Sooji bergumam kecil karena malu, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari gedung, “Ayo, Hyeri-ah. Temani aku makan! Aku belum makan siang.”

Sooji mengunyah bulgoginya dengan perlahan. Ditatapnya Sunggyu yang masih sibuk mmenyesap kuah sollongtangnya. Kemudian ditolehkannya kepalanya menatap Hyeri yang sibuk dengan bingsunya. Sooji terus memperhatikan hingga Sunggyu mengelap bibirnya dengan serbet kemudian berdeham pelan, “Setelah ini kau langsung pulang atau kembali ke perusahaan, sajangnim?”

Sooji menusuk-nusuk dagingnya dengan sumpit kemudian menghela nafas, “Aku harus kembali ke perusahaan, ada beberapa proposal yang harus aku baca.” Setelah itu Sooji menyudahi makanya dan menegak habis minumnya.

“Kau bagaimana, Hyeri-ssi?”

“Aku akan menemani sajangnim, sampai jam kantor selesai.” Jawab Hyeri lugas.

Sunggyu melirik jam tangnnya kemudian mengangguk. Rapat pimpinan tadi memang tidak terlalu memakan waktu, masih ada waktu dua jam lebih hingga jam kantor selesai.

“Kalau begitu, kajja, aku antar.”

Begitu sampai di gedung Hwajae Property, Sooji melepakan seatbeltnya kemudian menatap Sunggyu, “Gamsahamnida, busajangnim.” Sooji melirik ke kursi belakang, melihat bahwa Hyeri sudah membuka pintu dan melangkah keluar.

“Sooji”

Sooji sudah setengah berbalik hendak membuka pintu saat suara Sunggyu kembali terdengar.

“Yye?”

“Jangan dibiasakan makan terlambat, tidak baik untuk lambungmu.”

Pipi Sooji merona, “Ah iye, gamsahamnida.”

Sunggyu tersenyum kecil kemudian membiarkan Sooji keluar. Dilajukkan kembali mobilnya begitu Sooji melambaikan tangannya, dirinya masih harus ke Yongsan memastikan pembangunan shopping mall terbaru garapan Hwajae.

Sooji sedang mengobrol santai dengan security di loby kantornya ketika ponselnya berbunyi. Sooji tersenyum kecil saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Busajangnim.

Yeoboseyo?”

Kau dimana Sooji?”

“Aku masih di kantor..” Sooji melirik seklias jam kecil di tangannya dan ternyata sudah lewat jam kantor,  “Oppa.” Senyumnya melebar. Bahkan memanggil Sunggyu dengan sebutan oppa masih membuatnya berbunga-bunga.

Kau pulang dengan siapa?”

“Aku menunggu Pak Jang menjemputku. Mobilku ‘kan masih di bengkel”

“Kalau begitu tunggu aku, sebentar la-“

Sooji membelalakkan matanya begitu melihat mobil hyundai hitam yang berhenti di depan pintu masuk kantornya. Myungsoo. Sooji berlari-lari kecil menghampiri Myungsoo. Dirinya bahkan tidak sadar bahwa ponselnya masih menyala. “Hey!” Panggil Sooji begitu Myungsoo turun dari mobilnya.

Myungsoo tertawa kecil melihat Sooji yang menghampirinya dengan sebuah ponsel di genggaman tangannya. “Panggilannya masih berjalan, Sooji.”

Sooji mengerutkan dahinya kemudian melirik ponselnya, “Ah iya, astaga. Sebentar, Soo.” Myungsoo mengangguk kemudian hanya mengamati punggung Sooji yang membalikkan tubuhnya berbicara di posenlnya.

Yeoboseyo? Sooji?”

“Ah Oppa jwesonghamnida.”

“Kau tidak kenapa-napa ‘kan?”

“Aniyo, temanku datang menjemputku. Aku sedikit terkejut jadi sempat lupa kau sedang menelfon. Jwesonghamnida.”

“Ah, Tadinya aku akan menjemputmu tapi kalau ternyata temanmu sudah tiba, kau pulang dengan temanmu saja ya”

Sooji menggigit bibir bawahnya, sedikit merasa kecewa tidak bisa pulang dengan Sunggyu. Gadis itu kemudian menghela nafas, “Ne, oppa. Aku pulang dengan temanku saja.”

Sooji bisa mendengar Sunggyu yang tertawa di seberang telfon, “Kenapa kau terdengar kecewa begitu?”

A..ani. Siapa yang kecewa?”

“Kalau begitu hati-hati, Sooji-ah. Kututup ya.”

Sooji mengangguk namun begitu menyadari Sunggyu tidak bisa melihatnya, gadis itu berseru, “Ne. Oppa juga hati-hati.”

Sebelum menutup telfonnya, Sooji masih bisa mendengar suara tawa kecil Sunggyu, membuat pipinya mau tak mau menghangat lagi.

Sooji membalikkan tubuhnya dan menemukan Myungsoo yang sedang bersandar pada mobilnya dan mengamati Sooji. Sooji tersenyum kecil kemudian berjalan menghampirinya, “Yya, kau tidak dimarahi security parkir di sini? Ini tepat di depan pintu masuk, neo arra?”

Myungsoo tersenyum kecil kemudian berjalan ke arah pintu kursi kemudia, “Ini sudah lewat jam kator Sooji. Sudah sepi. Lagipula aku hanya menunggumu mengangkat telfon. Kajja, pulang.”

“Aku tidak menyangka, kau benar-benar akan menjemputku. Kukira kau hanya bercanda tadi pagi.”

Saat mobilnya keluar dari pelataran kantor Sooji, Myungsoo melihat sebuah audi hitam yang berhenti di seberang Hwajae group. Myungsoo tersenyum kecil, merasa menang begitu menyadari siapa yang duduk di balik kemudi audi hitam itu. Kim Sunggyu.

-TBC-

 

Ada yang masih inget ff ini? Kkk

Kalo inget gomawo, kalo masih mau baca double gomawo, kalo nulis comment triple gomawo hihi

Mian, jedanya lama bangettt. Maafkan yah, biasala skripshit :” doakan aku yaa haha

Di chapter ini, pelan-pelan, aku munculin lagi masalah di ff ini yang beberapa chapter kemarin berasa raib, masalah Jaesan da Hwajae, semoga pada inget ya hehe

Semoga tulisan aku mengalami perkembangan ya

See you in the next chapter! Dan aku bisa jamin ga akan selama yang kemarin-kemarin hehe🙂

 

 

 

64 responses to “Mistakes and Regrets #12

  1. Pingback: Mistakes and Regret #12 | Splashed Colors & Scattered Words·

  2. Aigoo persaingan kakak beradik -_-
    oh iya, aku kalau nanti komen aku double gpp kan? Karena aku udah baca part ini, part sebelm dan sebelmnya jga. Tpi aku usah lupa jln ceritanya, makanya akubaca lagi hehe…

  3. crty seru jd pnsaran ljutany,,,aq emg suka myungzy tp dsini myungsoo jht s5 suzy,,,suzy s5 sungyu aj y thor,,,biar rasain myung,,y,,,hhhh
    ljutin lg y thor jgn lma”
    hwaiting,,,👍👍👍

  4. Hai hai baru nongol lg ini reader yg ini.wkwkwk
    Astaga makin galau ni. Gyu bikin pusing aja niiiu
    Sooji ga mau ama myung lg.wkwjwk

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s