Flawless and Hope [Chapter 1]

image

image

image

Flawless and Hope
By jalilfunny

Pernah tidak sih kalian merasa jatuh cinta sejak berumur 5 tahun? ya ampun umur yang sangat belia sekali dan sangat kecil. Pasti di umur segitu anak kecil lagi senangnya bermain dan juga happy dengan teman sebayanya yang lain. Tapi ini serius, aku pernah bilang pada Sehun kalau aku sudah besar nanti maka aku harap Sehun yang akan menjadi suamiku kelak. Dengan kepolosan pria itu(Sehun) hanya mengiyakan perkataanku dan dia tersenyum. Mungkin awalnya bisa dibilang kalau ucapan aku itu hanyalah ucapan anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa soal cinta, tapi dari kepolosan hatiku bahwa aku sudah menetapkan hatiku pada Sehun, si pria lucu temanku sejak kecil.

Saat SMP aku sekolah di satu gedung yang sama dengan Sehun namun beda ruang kelas, aku di kelas seni dan Sehun di kelas remaja biologi. Awalnya aku berpikir mungkin suatu saat guruku akan menempatiku di kelas yang sama dengan Sehun, tapi entah kapan aku pun juga tidak tahu. Sampai tiga tahun lamanya dan kami pun lulus tanpa pernah mendapat kelas yang sama. Tapi setidaknya selama tiga tahun aku masih bisa melihat Sehun dari dekat ketika dia sedang di dalam kelas atau sedang latihan sepak bola di lapangan sekolah. Aku juga jarang berinteraksi dengan Sehun, karena memang teman kita berbeda. Sampai suatu ketika aku menangis karena jarang sekali bermain dengan Sehun akhir-akhir kelulusan, aku berlari menuju rumah Sehun dan memeluk erat Nyonya Oh(Ibunda Sehun) karena rasa sedihku yang tidak pernah satu kelas dengan anaknya. Di waktu yang sama Sehun juga ada di rumah dan Nyonya Oh memarahi anaknya yang belum tahu apa-apa tentang mengapa aku bisa menangis.

“Kamu apakan Suzy nak? Ibu sudah bilang kan sebelumnya, jangan pernah jauhi Suzy meski kalian beda kelas!” Suara Nyonya Oh terdengar lantang dan memang seperti memarahi.

Tapi Sehun diam dan masih bingung, “Maaf, ibu. Aku tidak menjauhi Suzy, cuman aku bingung harus mengatur waktu dengan teman sekelas dan juga Suzy.” Sehun mendekati ibunya dan juga menatap dengan senyuman ke arahku. “Mungkin saat kita SMA nanti ruang kelas kita bisa sama. Sudah, jangan menangis Suzy.” Lanjut Sehun yang mendekatiku dan mengusap bulir cair yang menempel di pipiku.

Aku pun tersenyum dan aku harap Sehun bisa berjanji, ucapannya itu sungguh membuat tangisku terhenti saat itu. Kelulusan SMP kala itu membuat aku sadar kalau Sehun masih menjadi sahabatku sampai sekarang. Jangan sampai hanya karena dia punya teman baru maka Sehun melupakan aku. Jangan.

***
***
***

Kemudian kami berdua masuk di SMA Genie High School, di sana memiliki fasilitas lengkap dan ruang belajar yang full dengan pendingin ruangan. Murid di sana juga berasal dari keluarga yang mampu dan mapan, aku dan Sehun termasuk, karena kularga kami juga memang cukup mampu dalam segi harta Serta keuangan.

Tiga hari kami berdua menjalani Masa Orientasi sebagai murid baru, jadi ingat saat aku menangis ketika ada kakak kelas yang sengaja memarahi aku untuk sekedar bercanda, saat itu Sehun marah besar dan bahkan mau melawan kakak kelas tersebut. Untung Sehun cepat mengerti dan menahan emosinya. Sehun sudah seperti sosok super hero bagiku.

Kemudian hal yang sangat ditunggu datang, saat pemilihan kelas.

“Ya Tuhan, aku harap bisa satu kelas dengan Sehun.” Ucapku ketika melihat kertas yang menempel di dinding, di sana ada semua daftar nama murid sekaligus kelas dimana mereka akan belajar nantinya.

Duk duk duk!

Ternyata semuanya sirna, harapanku tidak terkabul lagi. Sehun ada di kelas Reguler 1 dan aku ada di kelas Reguler 2. Dekat sih, tapi sama saja kalau tidak sekelas aku jadi sedih. Awalnya aku mau menangis, tapi ketika Sehun berkata, “Tenanglah Suzy, jangan menangis. Kelas kita bersebelahan, tidak jauh kalau kita mau bertemu, iya ‘kan?” Katanya yang hanya membuatku menganggu karena aku percaya pada Sehun.

Hari Masa Orientasi di SMA sudah selesai, aku pun pulang pada sore harinya dan langsung menutup pintu kamarku rapat-rapat. Ibu yang mendengar suara pintu langsung mencoba masuk kedalam kamarku namun telat, aku sudah menguncinya.

“Nak? Kenapa? Apa kau senang hari ini? Apa kakak kelas mu nakal? Atau apakah kamu satu kelas dengan Sehun?” Ibu berteriak di luar, bertanya padaku soal semuanya.

Aku tidak menjawab, aku langsung terjun ke atas ranjang tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal agar suara tangisanku tidak terdengar. “Aku capek bu..” jawabku yang agak samar-samar.

“Baiklah. Bangun saat makan malam ya…” sahut Ibu lagi yang terdengar langkah kakinya mulai menjauh dari arah kamarku.

Aku menangis sejadi-jadinya, meski Sehun sudah menenangkanku sebelumnya tapi tetap saja kelas kita berbeda. Tidak menutup kemungkinan kalau Sehun akan sibuk juga dengan teman barunya nanti. Apakah aku terlalu posesif? Ah, masa sih? Aku pikir kalau Sehun hanyalah milikku, dan akan selalu menjadi milikku.

Kemudian esok harinya aku merasa wajahku membengkak karena mungkin efek menangis, ayah dan ibu mungkin sudah tahu sebelumnya dan hanya menertawaiku karena mereka tahu kalau aku pasti beda kelas dengan Sehun. Menyebalkan.

Aku berjalan menuju kelas reguler 2. Aku tidak berangkat ke sekolah dengan Sehun pagi ini, karena itu pasti akan membuat Sehun bertanya kenapa wajahku membengkak, kalau dia tahu aku menangis pasti Sehun akan sedih dan aku tidak mau membuat dia sedih.

“Namaku Yeri, oh ya? Salam kenal Sehun. Semoga kita bisa jadi teman yang akrab.”

“Oke, Yeri.”

Sebelum aku sampai di depan kelas Reguler 2 ternyata aku melihat Sehun yang sedang berdiri dengan cewek, mungkin itu teman sekelasnya. Ya ampun mereka kenalan, teman akrab? Hah, centil banget cewek itu. Namanya Yeri. Sok cantik.

“Ayo bro! Kita ke kelas.” Ada dua cowok yang mengajak Sehun, aku kenal satunya, dia Kyungsoo. Oh jadi Kyungsoo di kelas Reguler  1 dengan Sehun. Tapi aku kesal dengan Yeri itu, bagus deh langsung ada Kyungsoo yang ngajak pergi Sehun, biar Yeri itu tidak kegenitan.

“Awh!!..” aduh apaan sih, ada seseorang yang menabrakku. Padahal lagi asik mengintai.

“Oh maaf, aku tidak sengaja.” Seorang pria yang berseragam, mungkin dia murid baru juga sepertiku. Pria itu menabrakku dan langsung minta maaf. Bagus.

“Iya tidak apa.” Kataku dengan  senyuman. Aku mau langsung segera pergi untuk ke kelas reguler 2 namun pria itu menahanku.

“Oh iya, aku murid baru. Namaku Kim Myungsoo. Aku di kelas reguler 2.” Oh si pria itu juga di reguler 2, sama dong. Di lihat pria itu sopan banget. Dia ngenalin dirinya duluan. Wajahnya tampan berhidung mancung, aduh apaan sih! Kok jadi ngelantur.

“Eh iya, aku Suzy. Aku juga di kelas Reguler 2. Mau bareng ke kelas?” Ajakku.

“Boleh.” Kata pria bernama Myugsoo itu.

-Bersambung-

Note:  cuman minta doanya semoga biarpun sibuk tetap masih bisa lanjutin ff ini. Hehhee gitu aja. Ditunggu komentar panjangnya hahaha.

20 responses to “Flawless and Hope [Chapter 1]

  1. panjaaaaaaaaaaaaangggggg(kn ktnya komentar panjang) XDDDDD V. suzy di sini kekanak2an dan lebay hihi,tp untungnya suzy baik. suka pertemuan suzy dan myungsoo.kira2 stlh knl dg myung,suzy bkln ttp brfikir sehun sdlh soulmate’a gk yh?

  2. aigooo suzy posesiv sekali sn sehun. disini suzynya manja bgt. gmn klo sehun punya pacar itu kkk. kayaknya seru. ditunggu nee

  3. Asik seru seruuuu….. cinta segiempat kykx nih bakalan. Berharap bgt myung naksir Suzybtrs sehun gimana gitu….hahahuhu

  4. hohhhh….seru nih….ada myung nih….bsa2 suzy beralih dr sehun ke myung….kkk
    lanjut thorrr….;)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s