[Chapter One] Love Nation

love-nation-promotional-poster

… Orang gila itu tidak ke mana-mana. Dia ada di dalam kisah ini, dia itu aku. Bae Suzy.

March 2016©

.

.

.

Previous, click here!

Sekilas, aku memandang rupa yang berteriak melalui cermin di hadapanku.

Dia memakai celana jins panjang hitam. Kemeja longgar sepanjang siku berwarnah susu menyembul kerahnya di balik sweter rajut cokelat tua yang ujung lengannya terjuntai benang sisa jahitan. Di atas wajahnya tidak ada sapuan bedak atau cairan pelindung sinar matahari yang mengandung SPF 15 atau apapun namanya itu. Bibir merah muda dibiarkan tanpa polesan lipstick. Serta rambut hitam tidak terlalu panjang yang dibiarkan tergerai lantaran masih basah habis keramas.

Benda bulat berdiameter tidak lebih dari lima senti duduk manis dekat lampu belajar, berkicau dalam detik yang menghunus heningnya pagi. Waktu di bagian barat negeri menunjukkan pukul setengah enam pagi. Matahari masih belum nampak. Mendung menggelar di langit daerah penyangga ibukota; indekos tempat aku tinggal.

Ritual pagi hari yang biasanya tersaji di ruang lingkup indekos mulai menapakki mode sibuk. Dari jendela yang tersibak gordennya, lalu lalang pemuda-pemudi dengan handuk di leher atau gayung dan perkakas mandi mengalahkan aktivitas kendaraan yang mulai memadati jalan protokol di pusat kota.

Adapula yang sudah bersiap dengan setelan kerja dan segera mendobrak macetnya jalanan kota untuk sampai tiba di kantor tepat waktu. Sebagian dari mereka ada juga yang mahasiswa. Sama sepertiku. Bagi yang mendapatkan jadwal kuliah pagi, pada pukul sebegini mereka sudah sedia berdandan dan segera meluncur ke kampus tujuan masing-masing.

Oh, aku sepertinya belum memperkenalkan diri kepada kalian. Biasanya orang-orang di sekitarku memanggilku Suez (dibaca Suz). Padahal nama asliku Bae Suzy. Entah mengapa mereka memarodikan nama pemberian orangtuaku serupa dengan terusan yang membelah benua Afrika dengan Asia. Tidak pernah aku tanya juga.

Aku baru berusia duapuluh dua tahun. Tercatat resmi sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Sastra Indonesia di salah satu universitas prestisius pinggiran ibukota. Dan satu lagi, aku orang Korea selatan yang menetap sementara di Indonesia.

Jika kalian penasaran dengan alasan mengapa aku lebih memilih untuk kuliah di luar negeri dbandingkan dengan negaraku sendiri, aku akan memberitahukannya. Selepas lulus dari SMA, program beasiswa kuliah di luar negeri mencantol diriku seperti umpan pancing yang strike. Aku tidak ambil pusing oleh negara mana yang dituju, mau negara berkembang, maju atau terbelakang sekali pun.

Dan akhirnya aku memilih negara dengan beberapa statistik data yang mencengangkan dan menurutku pribadi memiliki salah satu daya tarik yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang spesial sepertiku. Indonesia.

Setelah melalui proses cukup panjang, dari mulai tahap pendaftaran, seleksi, hingga pengumuman, akhirnya aku mendapatkan kesempatan emas mengemban ilmu di luar negeri. Tiga bulan mengambil kursus bahasa Indonesia, aku berhasil mencapai level Master.

Kemampuan berbahasa Indonesia yang setara dengan penutur aslinya. Aku mengambil bukan jurusan terlaris dalam panji perkuliahan—fakultas ekonomi dan ilmu sosial politik—ini bukan tak beralasan. Mengapa pula mahasiswi asing sepertiku sudi bersusah payah untuk menimba ilmu bukan bahasa ibu.

Sederhana saja, bukankah sebuah ilmu itu tidak memiliki batasan? Siapapun mereka, berapapun umur yang dipunya, dari mana mereka berasal, tidak peduli apapun, ilmu tidak mengenal itu semua. Ilmu hanya mengenal mereka yang mau beramal. Yang serius dan konsisten. Ilmu adalah tentang keinginan dan kemauan juga pengulangan. Aku mencoba untuk berpikir tidak seperti kebanyakan orang. Dan sampai sekarang aku pun masih mencoba.

Namun aku juga tidak menampik kalau biaya kuliah di Korea yang mahalnya bukan candaan. Selain faktor ekonomi, ada satu dua hal yang menjadi pertimbanganku untuk hijrah ke Negara Maritim ini. Dan untuk satu dua hal yang itu, belum bisa kuberitahukan kepada kalian untuk saat ini.

Dan aku memilih Indonesia dengan seribu macam kultur yang dimiliki sebagai dermaga untuk melabuhkan kapal layarku.

***

***

***

Menu makan malam kali ini adalah mi instan yang sudah mengalami proses peleburan kultur menjadi ramyun yang disajikan langsung dengan panci. Ditemani pula semangkuk nasi yang baru tanak dan sepiring kecil sayur yang terdiri dari irisan wortel, buncis, dan bayam yang aku oseng-oseng.

            Sumpit stainless yang memangku sesuap nasi tiba-tiba terhenti di udara. Dering ponsel menghentikan kegiatan makan yang belum kumulai seutuhnya. Melihat nama pemanggil di layar, aku menghela napas setelah menaruh kembali sumpit ke atas mangkuk nasi. Kakak perempuanku menelepon.

            “Ha—“

            Suzy-a, uang bulanan sudah aku kirim, lho. Sudah kamu cek belum? Kurang atau tidak? Kamu sehat-sehat saja ‘kan? Kuliahmu bagaimana, lancar-lancar saja ‘kan?”

            Kakakku adalah Bae Joohyun atau yang lebih dikenal oleh publik Korea selatan sebagai Korean National’s Sister, si aktris papan atas, Bae Irene. Belum selesai aku mengucapkan ‘halo’, Kak Joohyun sudah mendahuluinya dengan peluru kata-kata mirip senapan Rambo. Well, aku anggap kecepatan berbicaranya adalah perhatian yang dimiliki oleh Kak Joohyun kepadaku. Entah, apa hal yang satu ini masuk ke dalam alasan mengapa publik Korea menjulukinya seperti itu.

Aku takut. Dua minggu tidak ada kabar darimu dan itu membuatku cemas. Suzy-a, aku—

            “Kak Joohyun!” seruku agak kesal. Cerocosan Kak Joohyun di seberang telepon pun berhenti. “Pelan-pelan kalau ingin bertanya. Kalau Kakak bertanya seperti tadi, aku bingung harus jawab yang mana dulu. Bagaimana bisa Kakak dijuluki sebagai Korean National’s Sister kalau kenyataannya kakak tidak manis dan ugh, cerewet seperti ini?”

Helaan napas pun terdengar di seberang telepon.

Maaf, habis aku cemas dan rindu sama kamu di sini, Suzy-a.” balas Kak Joohyun dengan suara yang pelan. Mendengarnya sontak membuatku merasa bersalah karena sempat mengomentarinya dengan kata-kata yang sedikit kasar.

“Kakak tidak salah, tidak perlu minta maaf. Maaf aku tidak sempat meneleponmu, soalnya minggu-minggu ini aku disibukkan dengan tugas kuliah.” Aku membuka suara kali ini lebih lunak, tidak sekasar barusan.

“Aku juga rindu Kakak. Aku juga merasa kuatir. Apa Kak Joohyun sehat-sehat di sana? Kak Joohyun pasti bekerja dengan sangat keras. Apa ada yang merawat dirimu, mengingatkan agar Kak Joohyun berisitirahat dengan baik? Kak Joohyun..”

Kamu juga cerewet. Malahan lebih cerewet dari aku.” ceplos Kak Joohyun di seberang telepon. Kemudian derai tawa terdengar seiring dengan senyum yang mengembang di atas bibirku.

Aku baik-baik saja di sini. Kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku bekerja dengan baik, istirahatku juga cukup. Ada manajer juga para fan yang selalu menjagaku. Aku harap kamu juga baik-baik di sana, Suzy-ku yang Manis.”

Aku balas tertawa. Memori bersama dengan Kak Joohyun sewaktu kecil berputar dalam otakku. Aku melihat kedua orangtuaku yang tertawa lepas lantaran tingkah laku kami yang kala itu berusaha mengejar kupu-kupu. Kak Joohyun terjerembap tetapi dia tidak menangis. Aku yang melihatnya kemudian segera membantu. Setelah itu kami pun kembali mengejar kupu-kupu bersayap renda berwarna biru yang terbang tidak jauh di atas kepala kami.

“Suzy-a, apa kamu mendengarkanku? Kamu masih di sana ‘kan?

Seruan perempuan bertubuh mungil di seberang telepon memapahku kembali ke dalam realita. Aku tersenyum dengan sedikit jarak. Momen bahagia yang telah melintasi ruang dan waktu akan selalu dikenang, diingat, dan dirindukan. Begitu juga dengan momen bahagia ketika kedua orangtua, Kak Joohyun, dan aku bersama. Meskipun sekarang ibu dan ayah telah tiada, aku menganggap keduanya masih hidup dan selalu bersamaku.

Andai kamu tidak pergi ke Indonesia dan menetap di sini, aku pasti tidak—

“Aku tahu.“ tegasku, memotong ucapannya yang belum selesai. Sekonyong-konyong perasaanku memburuk. “Aku tidak ingin membahas ini lagi, Kak. Sudah larut malam, sebaiknya Kakak istirahat. Jaga kesehatanmu, aku menyayangimu. Aku tutup, ya.”

Yaa, Suzy-a! —”

Pip!

Aku melempar ponsel persegi berwarna hitam itu ke atas kasur begitu saja. Leherku tiba-tiba terasa berat. Seketika aku merasa lelah. Aku tidak menyukainya, yakni ketika Kak Joohyun mulai membahas keputusanku meninggalkan Korea. Bukannya aku tidak ingin orang lain mencampuri urusanku—Kak Joohyun juga bukan orang lain. Hanya saja hal tersebut tidak dibenarkan oleh seseorang yang berada di dalam diriku lantaran persoalan di masa lalu.

Entah, aku tidak ingin memusingkan hal yang satu itu. Sumpit stainless yang tergeletak tak berdaya di atas mangkuk nasi aku berdayakan kembali. Mengantarkan sesumpit mi instan yang sudah dingin dan menyusut kuahnya.

***

Satu bulan menjelang Ujian Tengah Semester berbagai tugas mulai memasuki alur puncak. Plot-nya pun berisi setumpuk tugas kajian dan presentasi baik individu maupun kelompok yang hampir memasuki masa tenggang untuk dikumpulkan.

Memasuki pukul sepuluh pagi waktu Indonesia bagian barat, ruang belajar yang berada di lantai enam gedung IV disibukkan dengan aksi bergurau bersama layar laptop dan diktat mata kuliah Ilmu Pengantar Kajian Sastra Anak guna menyusun satu makalah dengan judul yang berbeda.

Mengisi jam kosong lantaran dosen Kebudayaan berhalangan hadir, beberapa mahasiswa di kelas memilih untuk merampungkan tugas baik itu berlabel individu ataupun kelompok. Sebagian mahasiswa yang terlampau rajin, sudah menyelesaikan tugas makalah, memilih untuk mengerjakan tugas yang lain.

Dan anehnya aku termasuk ke dalam bagian yang terlampau rajin itu. Padahal aku tipikal manusia yang malas. Aku bukan mahasiswa yang rajin. Tapi mengingat minggu ini adalah jadwal kelompok untuk presentasi adalah kelompokku, mau tidak mau, suka tidak suka, makalah beserta salinan dan power point-nya harus selesai. Begitu juga dengan kelompok yang lain, yang mana deadline semua kelompok disamaratakan.

Vero dan aku tidak pernah berada dalam satu kelompok yang sama. Dan sedikit aku sungguh menyayangkan hal itu karena satu-satunya yang bisa dibilang dekat di kelas ini adalah dia. Dan sial bagi Vero karena dia selalu ditempatkan dalam kelompok yang anggotanya luar biasa—malasnya—yang sering dikeluhkan olehnya.

“Suez, “

Aku menengok ke arah suara dan menemukan sesosok perempuan mungil dengan sepasang lesung pipi, Mia. Anggota satu kelompok Kajian Sastra Anak yang usianya di atasku dua tahun.

“Ya?”

“Nanti kita presentasinya lompat-lompat atau gimana?” tanya Mia sambil memegang kopi makalah tanpa kover dan stabilo hijau neon.

Ngga bisa lompat-lompat, Mi. Kalau presentasinya lompat-lompat nanti capek.” jawabku singkat. Mungkin ini terdengar aneh, tapi barusan aku bergurau. Mencoba ragam cakapan bahasa Indonesia yang sudah aku pakai selama kurang lebih dua tahun ini.

“Ha?” Mia menyahut kurang mengerti, namun sepersekian detik kemudian ia tertawa sambil bertepuk tangan. “Pragmatik. Presentasinya sambil loncat-loncat ya pasti bakalan capeklah. Aduh, anak Sastra emang.”

Aku ikut tertawa kemudian membalik badan dan mengambil alih makalah yang dipegang Mia. Kemudian aku membuka Bab II, berisi pembahasan mengenai Unsur-unsur yang Membangun Sastra Anak. Stabilo hijau yang menganggur di tangan Mia aku pinjam sebentar untuk menggarisi kalimat pokok yang nanti akan menjadi bagian presentasi Mia.

“Kamu bahas bagian Tema Sastra Anak secara Universal. Materinya ‘kan dari kamu, pasti kamu bisa untuk menjelaskan ini di depan.”

“Oke, siap. Thanks, Suez. Maaf ya aku cuma bisa bantu kirim materi doang.” ungkap Mia dengan ekspresi menyesal.

Ngga apa-apa. It’s okay.

Sejujurnya aku menghargai kontribusi yang diberikan oleh anggota kelompok yang lain, seberapa kecil atau besar jumlahnya. Namun di satu sisi, aku juga tidak memaksa mereka untuk ikut bekerja. Aku hanya ingin kesadaran hati dan pikiran mereka saja.

Jika mereka tidak ingin berkontribusi, aku tidak memaksa. Aku juga tak sampai hati menghapus nama mereka dari kover makalah. Dan aku tidak mengerti mengapa soal sikapku yang satu ini. Vero bilang kalau aku orang yang tidak tega karena merasa kasihan. Dia juga membenarkan kalau tak baik memberi orang banyak ‘hati’.

“Sudah dikasih hati, minta jantung. Itu namanya kurang ajar dan ngga tahu terimakasih.”

Begitu ucap Vero ketika dia menghadapi anggota kelompok luarbiasanya yang selalu membuat hati perempuan itu menangis tersedu-sedu.

“Suez, “ panggil Vero setelah kembali dari perkumpulan kelompok luar biasanya. Wajahnya kusut seperti bungkusan kudapan habis diremas.

“Hm, “ sahutku sambil mengambil jurnal kuliah dari dalam tas.

Kemudian Vero berujar dalam bahasa Korea sambil memangku dagu, matanya dibuat berkedip dengan suara anak kucing kejepit. Aku hafal soal tabiat teman Indonesia yang satu ini.

“Hari ini kamu kok cantik, Suez. Malahan kamu makin hari makin cantik, tahu ngga.”

“Ah, serius deh orang ini. Mau apa, sih?” sahutku pula dengan cakapan bahasa Korea.

“Pulang kuliah nanti temani aku, ya. Please, mau dong.”

“Ke mana dulu?” tanyaku sambil membuka lembar demi lembar jurnal kuliah kepunyaanku, mencari lembaran berisi rangkuman materi presentasi hari ini.

“Choco Bank!” seru Vero dengan semangat dan kedua tangan yang terjulur ke depan, hampir menampar pipiku. Tatapan yang datar kemudian aku lempar untuknya.

“Tempat apa? Penyimpanan cokelat? Kamu bisa buka rekening cokelat, begitu?”

Giliran perempuan dengan kacamata minus melempariku pandang datar. Dia membuang napas dengan prihatin, meneleng kepala sembari melipat lengan. Tuhan, mungkin dia berpikir kalau aku ini makhluk kudet nomor sekian yang masih ada di era modern.

“Kamu kudet­-nya keterlaluan, Suez. Asli deh.” Benar ‘kan dia berpikir begitu. “Choco Bank itu kafe serba cokelat. Cake, milkshake, ice cream, pastry dan pastinya cokelat. Surga penikmat cokelat. Tempat hangout paling hits.” jelas Vero berapi-api.

Sedari tadi kedua tangannya tak tinggal diam, dengan mereka menggambarkan makna sebenarnya dari tiap frasa yang diucap. Animasi cokelat beraneka bentuk mungkin menari-nari di dalam tempurung kepala Vero. Dan itu cukup terwakilkan melalui ekspresi cerah wajah perempuan itu. Girang bukan main tertuang dengan jelas di tiap inci kulit selnya, melupakan beban kelompok luar biasa yang membuatnya banyak makan hati tiap hari. Dan terkadang itu membuatku tidak habis pikir.

“Ya terus?”

“Kok, ‘ya terus’ sih. Kamu harus ikut temenin akulah.” Vero bersikukuh. “Aku yang traktir.”

 “Tapi aku ngga begitu suka cokelat.” tukasku sambil melihat wajah Vero. Kemudian kembali membaca catatan dalam jurnal sambil berusaha konsentrasi.

“Ah, mau ya pergi sama aku, please. Aku mohon banget.” pinta Vero lagi-lagi dengan bahasa Korea.

Perlu kalian tahu, Vero adalah seorang Korean freak. Berteman dengannya memang ada plus minus. Plus, seperti barusan, dia cukup mahir berbahasa Korea—kekuatan seorang idol kepada para penggemarnya—sehingga bisa berkomunikasi baik denganku. Kukira hanya itu nilai plus-nya. Sedangkan nilai minus-nya; seperti juga yang barusan, dia mampu memanasi-manasi siapa saja dengan gaya komunikasi yang persuasif. Tanpa ragu dia juga bisa mengikuti gaya komunikasi persuasi orang Korea dengan permainan facial expression. Seperti yang selalu dia lakukan kepadaku.

Ngga mau pergi sama aku?” ulang Vero menggunakan bahasa pergaulan Korea dengan wajah anak kecil mau menangis.

Stop it. Ya sudah, aku mau pergi sama kamu.”

Sedetik kemudian pesta kembang api melebur di atas kepala Vero. Gadis libra itu senang bukan main. Kalau tidak kucegah, dia bisa kalap dan menari Gangnam Style di muka kelas. Di lain sisi gagal sudah aku berkonsentrasi membaca ulang materi presentasi nanti.

“Pada dasarnya kamu memang Bae Suzy yang gemar menolong sesama.” Vero mengangkat kedua telapak tangan, mengajak untuk ber-high five tapi aku tolak. “Lagipula, bukan hanya cokelat alasannya. Pemiliknya kebetulan juga orang Korea, satu spesies sama kamu.” lanjut Vero santai dengan suara yang pelan namun masih mampu didengar.

“Ha?”

“Pokoknya nanti kamu bakal ketemu sama saudara jauhmu.”

***

            Kisaran pukul setengah dua siang, di selatan ibukota, lebih tepatnya di sebuah bangunan beraksen vintage dengan jendela yang besar-besar, terdampar dua makhluk berkromosom XX. Vero dengan segelas milkshake cokelat dengan toping yang entah apa saja isinya, tak dapat kudeskripsikan dengan jelas. Aku bukan penikmat minuman ringan yang modelnya begitu. Sementara dalam diam sambil mengagumi dekorasi ruang, aku ditemani secangkir kopi hitam yang anehnya tersedia di dalam kafe serba cokelat.

            “Jauh-jauh ke sini kamu pesan kopi hitam doang, kamu pergi ke warkop dekat kampus juga bisa. Aku udah bilang ‘kan aku yang traktir.” cibir Vero dengan bibir yang belepotan buih dari milkshake.

            “Bersihin dulu mulut kamu, baru ngomong.” Aku menyodorinya tisu. “Lagian, aku udah bilang juga ‘kan, aku ngga suka cokelat.” tegasku seraya mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya.

            “Kamu ngga asyik, Suez. Asli.”

            Vero memberengut. Seorang pelayan dengan seragam polo berwarna cokelat muda dengan apron berwarna senada namun lebih tua datang membawa pesanan Vero. Sepotong kue yang pastinya berbahan dasar cokelat berbentuk segitiga sama kaki bervolume. Di atasnya tersebar cokelat beku berbentuk pipih. Dari layer-nya tersusun gradasi warna kuning muda dengan cokelat. Satu lagi masih cokelat yang dialihwahanakan menjadi sebuah kue. Lapisannya terdiri dari keik spons yang disusun apik dan diguyur oleh cokelat cair dengan hiasan stroberi.

            “Chocolate Cheese satu dan The Rain Chocolate satu. Jika ada tambahan lagi, jangan sungkan untuk panggil kami. Selamat menikmati!”

            “Wow, dua-duanya kamu makan sendiri? Hebat.”

            Vero tersenyum girang. Lantas dia pun segera menyuap sepotong Chocolate Cheese dengan garpu kecil. Mulutnya menguyah dengan bahagia, seakan gigi gerahamnya dapat tertawa. Menambah kesan dramatis, Vero memejam dan membuka mata berulang kali. Seolah kenikmatan yang ia terima dari suntikan dopamine berlemak itu mengesani suasana hati hingga langit ketujuh.

            “Cobain, deh.” tawarnya setelah efek dopamine itu menghilang dari mulut. “Bilang ‘A’.”

            Aku membuka mulut. Membiarkan sepotong kue cokelat dan keju itu juga meninggalkan rasa namun tidak sedramatis Vero.

            “Lumayan.” Aku menilai. “Cokelat dan kejunya tidak bikin enak.

            Vero mengangkat jari telunjuk dan menggoyangkannya. “Koreksi. Enek bukan enak. You misspelled the vocal.

            Aku mengangkat ujung bibir, tersenyum canggung, berkata maaf. Kemudian kembali menyesap larutan kafein dalam cangkir putih berornamen bunga tulip berbagai warna di luaran. Aneh memang, tak pernah aku menggemari cokelat segila Vero.

Mataku mulai menggerayangi ruangan dalam kafe: perabot serba kayu dan berwarna cokelat, langit-langit yang digantungi oleh kandil-kandil kristal berukuran sedang yang menambah kesan glamour di samping kesan rumahan yang tercipta dari dinding bata yang kerap ditemui pada rumah-rumah di kota London. Potret lawas ibukota yang sempat berganti nama menjadi Batavia terpasang pada pigura kayu mengisi titik hampa di separuh dinding. Kursi dan meja kayu yang entah jati atau mahoni menjadi tumpuan para pengunjung. Ada juga sofa beledu berwarna merah tedas namun tidak sebanyak kursi kayu. Lantainya terbuat dari parket, tegel kayu, dan berkilap lantaran disemir kayu.

            “Suez, jangan diam aja dong. Ajak aku ngomong, kek.” tegur Vero setelah menandaskan seporsi Chocolate Cheese. Lagi-lagi mulutnya belepotan. “Kamu ngga suka sama tempatnya?”

Aku menyuruk tisu kemasan plastik ke arahnya, “siapa bilang? Aku justru nyaman di sini. Suasannya seperti di rumah sendiri.”

            “Tuh apa aku bilang, tempat ini emang keren.” katanya dan kali ini sambil menyendok potongan besar The Rain Chocolate.

            “Omong-omong, kamu tahu dari mana kalau pemilik kafe ini orang Korea?” tanyaku, kemudian ikutan mencolek kue pesanan Vero.

            “Social media, temanku, ya begitu. Anyway, tulisan Hangeul di logo kafe ini cukup membuktikan. Kamu ngga lihat?” Vero kemudian mengangkat gelas milkshake, menunjukkan logo kafe dengan aksara bikinan Rasa Sejong yang tersemat. Aku mengamatinya lekat lantaran Vero menyodorkan gelas terlalu dekat dengan mata.

            “Dan kamu udah pernah ketemu sama pemiliknya? Kamu ke sini hanya ingin melihatnya ‘kan.” tebakku pasti.

            “Kamu cenayang? Kok tahu sih. Well, sebenarnya aku su—“ ucapan Vero terputus oleh intro lagu Superman milik Super Junior. Ponsel gadis penggemar boyband sejuta umat asal Korea itu pun berbunyi. “Tunggu ya, Suez. Halo, Mama?”

            Tanpa besuara, melalui gerakan bibir aku meminta diri ke toilet kepada Vero. Perempuan Sunda itu mengiakan. Dan aku pun lenyap di balik dinding merah bata, sisi yang menyembunyikan pintu toilet wanita.

***

            Selepas mencuci tangan di wastafel, dalam refleksi kaca, aku melihat sesosok pria berkulit putih cenderung pucat dengan sepasang alis mata yang tebal. Dia mengangguk kepada seseorang di seberang telepon. Dari sepasang mata yang segaris, aku berani menebak kalau dia bukan Pribumi. Bisa jadi Indo atau Totok.

            “Iya, aku mengerti Eomma. Baiklah, nanti aku telepon lagi. Aku tutup, ya.”

            Deg!

            Barusan dia bercakap di telepon menggunakan bahasa Korea. Aku mengamati pria itu lebih lama melalui kaca wastafel. Dari tampang wajahnya memang mendukung sih. Apa jangan-jangan dia yang dimaksud Vero. Pemilik kafe ini.

Dari pakaian yang dikenakan, sebuah setelan kemeja dengan celana satin, dan di saku tersemat sebuah nametag bertuliskan Suho. Dan dalam bahasa Korea itu berarti pelindung.

            Wajah Vero bergelimang di alam pikiranku. Perempuan berlabel Korean freak itu pasti akan senang jika dapat berkenalan dengan pemilik kafe ini. Dua tahun bersama dengan Vero, tidak jarang aku berlaku kurang baik terhadapnya. Dia gadis Indonesia yang baik, sangat baik. Dan sekali-sekali aku ingin membalas kebaikan Vero. Entah, apa usahaku ini bisa dibilang begitu.

            “Kenapa yang namanya ibu-ibu itu cerewet ya?”

            Pria yang tidak terlalu jangkung itu mengotak-atik jari di atas ponsel. Sejujurnya aku sedikit ragu. Lebih tepatnya aku tidak tahu harus bagaimana caranya mengenalkan pria Korea ini dengan teman yang gila Korea seperti Vero. Aku menggeleng. Tidak, aku harus menghilangkan tindak-tanduk kurang pergaulan ini. Demi Vero, teman Indonesia, simak itu baik-baik.

            Separuh napas aku ambil kemudian aku keluarkan melalui mulut. Ya Tuhan, semoga tindakanku ini sudah benar.

            “Permisi.”

***

            Tuhan, tindakanku sudah benar ‘kan?

            Pria yang diketahui memang benar bernama Suho mengikuti di belakang. Aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya. Dia terlihat bingung dan heran. Orang gila mana yang menyeretnya untuk dikenalkan kepada teman yang fanatik terhadap segala hal berbau Korea dan Oppa. Orang gila mana pula yang berani berbuat sejauh itu di negeri orang. Orang gila itu tidak ke mana-mana. Dia ada di dalam kisah ini, dia itu aku. Bae Suzy.

            “Permisi, Nona, tapi saya bu—“

            “Tenang saja, Anda tidak akan saya suruh untuk menari seperti Super Junior atau siapapun itu. Sesama warga negara Korea yang tinggal di sini, tolong bantu saya, kali ini saja. Saya tau ini sangat lancang tapi kita bersaudara. Saudara setanah air.” jelasku panjang. Dan aku sendiri pun tidak percaya kalau aku mampu berkata seperti itu.

            Suho mematenkan ekspresi bingung ditambah pasrah. Lidahnya seperti ingin berkata sesuatu namun aku dengan tidak tahu malu malah memotongnya. Tidak memberikan kesempatan berbicara kepadanya. Karena aku tahu, jika dia berbicara dia pasti akan menolak.

            Dari belakang aku dapat mendengar Suho mendesah. Tidak salah kalau dia merasa kesal atau perasaan aneh lainnya jika diminta tolong oleh kompatriot seperti aku.

            Dari kejauhan, di tempat duduk kami, aku melihat Vero sedang berbincang dengan seorang pria. Dia mengenakan apron berwarna cokelat tua yang menyembunyikan kemeja putih yang lengannya digelung sampai siku dan sepotong celana hitam. Oh apa itu pakaian chef? Bahkan Vero juga tidak sungkan berkenalan dengan orang dapur dari kafe ini.

            Namun mendadak aku merasa janggal. Entah apa kejanggalan itu uap dari keraguan sebelumnya. Aku tidak tahu.

            “Vero-ya, “ panggilku menggunakan sufiks agar terkesan lebih akrab ketika aku tepat berada di balik pria yang memunggungiku.

            “Oh, Suzy-a. Mengapa di toiletnya lama sekali?” Vero membalas menggunakan cakapan pergaulan Korea. “Oh ya, ini teman Korea yang sering aku ceritakan padamu. Suzy ini Jongin, Jongin ini Suzy. Jongin ini yang punya Choco Bank, lho.”

            Segera setelah Vero berucap, pria yang ternate lebih tinggi beberapa senti dariku berbalik menghadapku. Pria itu atau yang disebut sebagai Jongin tersenyum singkat. Otomatis aku pun menganggukkan kepala, memberi salam kepadanya. Ah, tunggu. Apa barusan Vero bilang kalau Jongin pemilik Choco Bank?

Berarti aku salah orang dong.

Aku mengangkat pandang kepada Jongin singkat, kemudian kepada Vero yang mengangkat bibir tinggi, dan kembali kepada Suho yang masih seperti rusa kehilangan sang induk. Dalam hati aku pun berharap kalau lantai tegel kayu yang kupijak ini bisa segera menelanku bulat-bulat dari sini.[]

****

End of Chapter One

18 responses to “[Chapter One] Love Nation

  1. Maafkan aku yang bari bisa komen di chapter satu ini.
    Suzy udah ketemu sama jong in ya.. Berarti kisah cintanya akn segr di mulai.
    Ceritany aku ska penulisanya juga tapi di setiap percakapan aku aga gimana gtu soalnya jarang baca cerita yang menggunakan bahasa yang tdak baku.
    Tapi keseluruhan aku suka

  2. Entah kenapa kak bagian awal kok aku ketawa sendiri ya bayangin mb suzy di kos kosan liatin cowo-cowo anak kos bawa gayung gitu WKWK

    IH terus kakanya mb irene lagi duh semacam sister goals ga sih plus visual mereka yang hitz gitu keterlaluan emang.

    Eh terus percakapan pake bahasanya asik ih. Mb suzy sarkastik ngedh wkwk.

    TERUS DESKRIPSI DI BAGIAN CAFE bikin laper. Terlalu detail asli membuatku ingin berjejak di choco bank punya mz jongin.

    Udah ah. Komenku gajelas semua wkwk.

  3. aku pikir awalnya emang suho yg pemilik choco bank eh ternyata jong in yaa trus suho itu siapa? Kalo misalnya suho itu bawahan jong in bolehkah aku sebut merek rakjel yg tertukar hahaa. Pertemuan pertama suzy sama jong in nya lucu lucu sweet gmnaa gtu… ijin baca chap 2nya ya kak ^^

  4. Bwahahaha jadi suzy salah orang
    Aigoo betapa malunya kekekeke
    Cukup menarik ffnya karena berlatar di indonesia karena itu sangat jarang

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s