[Chapter Two] Love Nation

love-nation-promotional-poster

Tidak ada peringatan sebelumnya, tahu-tahu di hadapanku terduduk Kim Jongin ditemani oleh sepiring croissant cokelat mini dua potong. …

.

.

.

March 2016©

“Saya permisi, Suzy-ssi.“ Aku yakin kalau Suho pasti sedang menagih penjelasan dariku. Dia berjalan di sisi, kemudian mengangguk hormat kepada Jongin. Aku menunduk singkat penuh maaf tanpa berbicara kepada Suho.

            “Yaa, mengapa diam saja? Ayo beri salam juga, dong.” tegur Vero halus. Dia menyeretku agar berdiri di sampingnya. Tuhan, gantian kini aku seperti orang bingung. Aku balas tersenyum setipis filamen kepada Jongin. Kemudian berbisik dengan suara pelan kepada Vero.

            “Kamu ngga bilang kalau kamu sudah kenal dengan pemilik kafe ini.”

            “Apa?” Vero terenyak kemudian dia tertawa kecil. Sementara Jongin menatap kami sedikit ingin tahu, senyum masih merekah di atas bibirnya. “Tadi aku mau bilang begitu tapi keburu aku mengangkat telepon dari Mama.”

            “Yaa, Vero kamu tuh—“

            “Kami sudah saling kenal sebelumnya, dia langganan butik Mama, Suez. So that’s why.

            Oh ini memalukan sekali. Aku bahkan belum meminta maaf kepada Suho. Baiklah, aku akan coba untuk melupakan kejadian memalukan barusan.

Tiba-tiba Jongin menarik suara. Menghentikan rapat singkat kami berdua. Ia masih belum melepas senyum dari bibirnya.

            “Girls, maaf sekali aku tidak bisa berlama-lama di sini. Chef kami sedang ada dinas di luar, aku harus kembali.”

            “TIdak apa, Jongin-a. Maaf sudah mengganggmu juga.”

“Bukan masalah. Dan oh untuk kalian, aku sudah menyiapkan menu spesial. Semoga kalian suka ya.”

            “Serius? Whoa, kamu keren banget! Terimakasih!” Vero berseru dengan bahasa Korea bernada sok imut. Kalau aku tidak menahan bahunya kuyakin dia sudah akan berselebrasi dengan menari-nari kegirangan. Vero balas memandangku sebelum ke arah Jongin.

            “Tapi temanku ini tidak begitu suka cokelat, Jongin-a.”

            Oh bagus, sekarang gadis maniak cokelat dan Korea ini menyeretku. Kepala gadis itu ingin rasanya kuberi laser krypton.

Jongin meneleng tidak percaya, menatapku sekilas. Senyum manis yang bertengger pun lepas dari bibirnya. Merasa tidak enak karena menyinggung perasaannya sebagai pemilik kafe ini, aku pun segera tersenyum meski agak sungkan.

            “Bukan begitu, aku hanya—“

            “Tidak suka cokelat sekarang tidak apa-apa, tapi aku yakin kalau suatu hari nanti kamu akan menyukainya.”

Kembali Jongin memasang senyum lampu pijar di atas wajah; mengangguk kilat seolah memaklumi. Senyuman yang enggan mewaktu itu pun turut serta meninggalkan kami, menyembunyikan sosok tegap berkulit agak sawo matang di balik pantry menuju ruang dapur. Hanya berucap tak banyak juga membuatku merasa bersalah terhadap Jongin.

***

Satu hal yang tidak kusukai dari dosen bahasa Inggris bertubuh mungil yang sekarang sedang mengampu kelas Sastra Indonesia 3A pada pertengahan siang kali ini adalah kebiasaannya yang suka menujuk mahasiwa seenak jidat untuk menjelaskan formula di depan kelas.

Aku tidak mengatakan kalau aku bodoh dan benci bahasa Inggris. Hei, kalau aku tidak bisa berbahasa Inggris aku tidak akan mengantongi beasiswa penuh ini, Kawan. Hanya saja metode yang sebagian besar diterapkan beberapa dosen yang pernah mengisi mata kuliah di dua semester sebelumnya cenderung memberatkan mahasiswa.

Misalnya, jika kalian diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai Teori Psikoanalisis Freud tanpa ujuk-ujuk dan sesampainya di depan malah berpolah seperti sapi ompong, rasa malu yang bukan main besarnya akan menimpa kalian minimal sepanjang semester.

Berangkat dari situ, bukan berarti teman-teman sekelasku tidak bisa berbicara dengan benar atau tidak menguasai materi. Aku seratus persen mengakui kalau mereka cukup cerdas dengan cara mereka sendiri. Dan sebagai orang luar, aku hanya mampu mengapresiasi wawasan mereka dengan cara yang sepatutnya.

Seperti pada siang sehabis break sholat Dzhuhur kali ini, di mana Miss Seri langsung menunjukku untuk menjelaskan konteks Noun yang terdapat pada materi Words Form. Jujur, aku sangat tidak suka akan hal ini. Sangat tidak suka.

“Sehabis Derian, Suzy, ayoh beri contoh lain dan jelaskan penggunaan Noun. Seperti bagaimana menggunakan politician dan politics dalam sebuah kalimat.” Dia berkata dalam bahasa Indonesia, memandangku sekilas, dan kembali ke layar ponselnya.

Anggukan lemah mengiakan titah dosen wanita berhijab itu. Guna melaju mood-meter yang semakin menukik tajam ke bawah, aku menarik dan mengeluarkan udara dengan lambat. Tanpa melihat modul yang dijilid menggunakan plastik berwarna pisang, aku mengambil secarik kertas kosong dari buku catatanku. Di sana aku menuangkan materi yang hendak kupaparkan di depan kelas usai pria jangkung dengan rambut ikal itu menjelaskan materi yang sama dengan contoh yang berbeda.

Dan sekarang adalah giliranku.

Sebenarnya yang memberatkan langkah untuk maju ke depan kelas adalah tatapan penuh keingintahuan mahasiswa lain. Mereka seperti melempari puluhan ton beban ke atas pundak aku punya. Di satu sisi, aku dapat menangkap kalau sebagian dari mereka memiliki harapan tinggi akan diriku, mahasiswa asing yang belajar di sini. Sisanya adalah mereka yang bersolah biasa-biasa saja dan hanya menganggapku ada tanpa berpikir kalau aku memang ada.

“Hm, baik. Saya setuju dengan penjelasakan Kak Derian sebelumnya, bahwa penggunaan Noun disesuaikan dengan konteks yang berlaku dalam kalimat. Noun sendiri terdiri dari beberapa aspek, seperti Noun untuk People, Noun untuk Field, Noun untuk Doer dan sebagainya. As an example, I would like to say: She wants to be a smart politician.” Aku mengatakannya kemudian menulis kalimat berbahasa Inggris itu di atas papan tulis. Menggarisbawahi kata politician.

Word politician here comes with function as Noun. Politician comes from politics. And the people who do it or make a contribution within automatically called as politician. Here are they, another example of noun of doer also can come from verb, such as play becomes player, make becomes maker, produce becomes producer, etc.

Selesai memaparkan materi tersebut dengan singkat dan sejelas-jelasnya, aku menggumamkan terimakasih dengan suara yang kecil. Dibalas dengan segerombolan tepuk tangan yang singkat.

“Suez, why are you so perfect? That was cool, you know.” ucap Vero, menyambutku dengan kata-kata manis yang mampu melambungkan diri siapa saja kecuali diriku.

That was not, I meant it really. Aku paling ngga suka kalau langsung ditunjuk untuk maju ke depan kaya tadi.”

“Menurutku barusan tetap keren, apalagi soal usahamu mengenalkanku dengan Jongin.” balasnya. “Kerja bagus!” puji Vero menggunakan bahasa Korea tanpa melihat ke arahku. Tapi senyum di bibirnya begitu.

Tuhan, perempuan itu pakai mengingatkan kejadian memalukan seminggu lalu. Sukses berat pula bagi Vero meledek habis-habisan diriku selama tujuh hari ini.

“Tapi tetap aja, aku ngga suka. Dan tolong jangan bahas ini lagi. I just want to forget. Ayo buka halaman 45, ada exercise yang harus dikerjakan.”

“Suez,”

“Apa lagi?”

“Modulnya berdua dong, aku lupa bawa.”

Berpura-pura kesal, aku menampilkan ekspresi wajah. Sedetik kemudian, aku tersenyum singkat untuk Vero yang menirukan gerakan tari Sorry Sorry milik Super Junior. Perempuan yang satu itu memang mampu mengubah suasana. Kali ini tidak terkecuali aku.

***

            Berapa lama sudah aku menunggu kemunculan Vero di Choco Bank. Sekarang aku menyesal datang terlalu awal.

            Dari tempat dudukku, terpampang ular-ularan kendaraan roda empat maupun bis umum bercorak hijau pastel dan putih gading yang sedang tertahan lampu merah. Dentingan garpu kecil dengan piring penampung keik serba cokelat. Bunyi ketak-ketuk sepatu pantofel menabrak lantai kayu, mengangkuti si pemakai berjalan ke sana-kemari mengantar pesanan. Obrolan para pengunjung disertai senda gurau.

            Aku meminum secangkir kopi hitam yang sejujurnya masih terasa aneh bagiku karena disediakan oleh kafe yang katanya serba cokelat. Kejadian seminggu lalu yang berlatar di kafe ini membuka pikiranku. Kukira melupakan kejadian memalukan itu tidak sulit. Tetapi setiap ada waktu lowong dan pikiran sedang kosong, rekam jejak tentang kesalahpahaman kecil itu menelusup di alam pikiran. Tentang Suho yang kukira adalah pemilik kafe ini dan Jongin yang kupikir juga menangkap begitu.

            Aku berusaha untuk tak terlihat namun tidak berhasil. Suho yang ternyata adalah seorang manajer kafe menyapa ketika aku baru saja duduk di kursi paling ujung, pinggir jendela berbingkai kayu dicat putih. Ia tidak berkata banyak soal kejadian yang lalu dan yeah aku pun berusaha begitu.

            “Hei.”

            Tidak ada peringatan sebelumnya, tahu-tahu di hadapanku terduduk Kim Jongin ditemani oleh sepiring croissant cokelat mini dua potong. Dia mengangsurkan pinggan bercorak pita hijau yang mengelilingi pinggirannya ke dekat gelas kopi. Memakai atasan berupa kemeja lengan penjang berkerah tegak biru dongker dengan surai hitam yang disisir ke belakang, senyum yang manisnya tidak kurang tidak lebih seperti seminggu yang lalu lantas ia beri.

            “Oh, halo.” sapaku agak kikuk.

            “Datang sendirian?” ia bertanya dalam bahasa Korea non-formal.

            Aku menggeleng, “Vero bilang sebentar lagi akan tiba.”

            “Tadi aku lihat kamu tidak memesan pastry atau keik, kalau roti dengan sedikit cokelat, kamu suka ‘kan?”

            “Ini buatku?” Aku menatap pria di depanku. “Ah, tentu saja tidak gratis. Tolong masukkan ini ke dalam tagihan, ya. Aku akan makan rotinya, pasti.”

            Dia tertawa kecil. Seolah aku adalah komedian yang sedang melawak. Padahal reaksi yang tadi sungguh tidak ada sisi lucunya.

            “Croissant ini gratis, kok.” aku Jongin setelah berhenti tertawa. “Omong-omong, kita belum berkenalan dengan benar kemarin.”

            “Ya?”

            “Kim Jongin.” Dia mengulurkan tangan kepadaku. Aku menyambutnya meski ragu.

            Suara yang keluar dari bibirnya begitu ringan. Benar-benar menambah kesan kuat kalau pria ini adalah orang yang ceria dan yeah mungkin itu efek dari cokelat yang sering dia makan.

            “Bae Suzy. Senang berkenalan denganmu, Jongin.”

            “Aku juga. Hm, apa kamu ingin aku panggil Suez atau Suzy? Vero bilang kalau itu juga nama panggilanmu.”

            “Sesukamu, asal jangan panggil aku dengan yang aneh-aneh saja.”

            “Nona Anti-Cokelat?”

            “Maaf?”

Aku pandangi dia dengan wajah yang tak terdefinisi kemudian kembali melunak setelah Jongin tertawa kecil.

            “Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Suzy, namamu bagus. Orangtuamu pintar memberi nama, ya.”

            Aku hanya bisa menjawab dengan senyam-senyum dan kembali melepas pandang pada desain ruangan kafe. Suasana canggung yang kukira akan terbangun antara aku dan Jongin malah menguap entah ke wilayah bagian mana. Entah apa ini karena efek desain yang mengesani atau memang kepribadian Jongin memang begitu. Mudah membaur kepada orang lain dan membuat mereka nyaman.

            “Desain kafe ini bagus dan nyaman.” Aku mengatakannya dengan tulus. Dan Jongin tidak lelah membalasnya dengan tersenyum.

            “Kamu menyukainya?”

            “Aku merasa nyaman meski aku datang ke kafe cokelat bukan sebagai penggemar cokelat.”

            Sesungguhnya reaksi Jongin yang kutakutkan akan tersinggung atau berubah menjadi dingin setelah mendengar unsur kontrastif yang keluar dari mulutkku. Namun hal itu justru tidak dia tampakkan. Di tengah suasana hangat dan wangi cokelat yang menguar di mana-mana Jongin entah mengapa terasa seperti tungku perapian di tengah musim dingin yang mencoba untuk mengantarkan rasa hangat kepada siapa saja yang berdiri di dekatnya.

            “Mengapa kamu tidak suka cokelat?” tanyanya.

            “Bukan aku membenci cokelat atau apa.” Jawabku dan aku sesungguhya mulai agak risih. Takut menyinggungnya. “Aku suka cokelat hanya tidak menggemarinya segila Vero.” Aku lirik pintu masuk yang dilapisi kaca tembus pandang. Berharap Vero segera menerobos ke dalam. Namun orang yang kutunggu-tunggu tidak kunjung datang. Ah, mengapa kemacetan menjadi hal yang jamak di tengah ruamnya ibukota ini, sih?

            “Yakin? Apa karena kamu takut berubah jadi gendut jika makan cokelat? Ayolah.”

            “Aku sudah bilang bukan begitu. Aku serius.” jawabku nekad.

            “Oh maaf.” serunya pelan. “Itu hakmu, toh.” Dia terdiam sejenak. “Aku juga sudah pernah bilang ‘kan, sekarang tidak suka cokelat tidak apa, karena nantinya kamu pasti akan menggemarinya seperti Vero dan yang lain.”

            “Aku tidak membencinya, itu berbeda.” tegasku halus sebelum menyesap kopi hitam yang sudah dingin. “Dan aku tidak mau menggemari cokelat seperti yang Vero lakukan.”

            Jongin merespon ketegasanku dengan tertawa singkat. Kemudian dia mengambil garpu dan memotong croissant menjadi dua bagian, memberikannya kepadaku. “Tapi aku harap kamu bisa melihat dan menyadarinya sekali saja dari perspektif yang berbeda.”

            “Aku tidak mengerti.” tukasku tanpa berpikir lebih panjang, segera melahap roti berlapis kecil yang disodorkan Jongin.

“Suzy-a, apa kamu ingin magang di kafe ini?” tawar Jongin tidak kentara ragu.

            Potongan roti berbentuk kepiting yang mengerut hampir aku muntahkan. Aku tidak tersedak namun sedikit tersentak, mirip akar pohon muda yang tiba-tiba dicabut. Pemuda Kim di hadapanku sedang melipat kedua tangan di atas meja dan sedikit mengurangi jarak yang memisahkan.

            “Bekerjalah di kafe, aku yakin kalau kuliahmu tidak akan terganggu.” Jongin berceracap seolah yakin aku akan mengiakan.

            Sedangkan sedari tadi aku masih membisu, sungguh tidak mengerti dengan situasi yang memerangkap kami berdua. Astaga, di mana Vero berada sekarang?

            “Kamu pengangguran ‘kan.” tembak Jongin. Dan aku sedikit tersinggung.

            “Maaf?”

            “Oh, aku tidak bermaksud.” Jongin kemudian bersender pada bantalan kursi. “Lagipula tidak ada ruginya kalau kamu menerima tawaran magang di sini. Selain kamu mendapat upah, kamu bisa berinteraksi dengan lebih banyak orang. Kesempatan ini bisa kamu pakai sebagai back-up kuliah Sastra Indonesia-mu, bukan.”

            “Pikirkan baik-baik tawaranku, Suzy-a. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Hubungi aku jika pikiranmu sudah mantap.”

            Jawaban enggan keluar dari mulutku. Terus terang, aku tidak mengerti apa maksud di balik Jongin menawarkan pekerjaan kepadaku? Aku memang orang yang mudah curiga.

End of Chapter Two.

9 responses to “[Chapter Two] Love Nation

  1. Wah eonnie ga nyangka part 2 ny udah ada…aigoo suka banget sama karakter jongin disini cool bangey kesannya….kekeke..dan buay zyeonn hahaha gemes aq sm karakternya dy… yeey moment kaizy dah mulai muncul… penasaran zyeonn terima ga ya tawaran jongin????

  2. wah part 2 sudah ada. kenapa suzy gasuka coklat? ada hubungannya kah sm masa lalu? wah jongin disini deketin suzy duluan yaa. kenapa jongin tiba2 nawarin suzy magang?. vero tingkahnya gokil ugha..

  3.    “Tidak suka cokelat sekarang tidak apa-apa, tapi aku yakin kalau suatu hari nanti kamu akan menyukainya.” ini mah modus aja si jongin, tau banget gue lol,
    kyknya mas Jongin udah tertarik ama suzy, dari nawarin magang supaya bisa deket=modus 2 hihihi tapi tetep sisi dewasanya emang kerasa disini ngga bisa dipungkiri itu
    oh aku penasaran kapan seulgi keluar? kyknya dia bakal jadi rival suzy nanti kkk
    Kutunggu kelanjutannyaaa, fighting!!!

  4. AYEY mb suzy ditawarin kerja sama mz jongin. Dan kenapa mz jongin ini ga basa basi amat sih main tawar-tawarin ((apa sih))

    DAN APA INI KAK KOK PENDEK SEKALI :((((((

    Ditunggu lanjutannya kak :))))))

  5. Wah pasti malu bnget jd suzy…haha habis main seret aja..
    Suzy ditawarin kerjaan jongin..kira2 diterima nggk ya?

  6. jongin modus ya/?😄 kkk~ “Tidak suka cokelat sekarang tidak apa-apa, tapi aku yakin kalau suatu hari nanti kamu akan menyukainya.” kata ini bisa diartikan modus atau jongin merasa tertarik untuk membuat suzy bisa menyukai coklat/? dan modus yg kedua menawari pekerjaan/?😄 hmmm jd penasarn sama kelanjutannya dan apakah suzy akan menerima tawaran pekerjaan itu😄 ditunggu lanjutannnya hwaiting😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s