Cinderella Sister [ Chapter 9 ]

Cinderella Sister

cinderella sister

Title : Cinderella Sister || Author : Mnandhini || Main cast : Bae Suzy, Kim Myung Soo, Oh Sehun, Oh Sehun || Genre : Sad, romance (?). || Rating :
Story and poster by me *Mnandhini*
.
.
.
Sumarry : “Can you make me smile and happy?”
.

Don’t forget visit our my blog https://nananandhinidream.wordpress.com
Mian for Thypos and Happy Reading.

Suzy kini membawa kotak obat kekamarnya, belum saja Suzy masuk kekamarnya ia melihat Soojung “Kau belum tidur?” tanya Suzy kepada Soojung, namun tak ada jawaban dari Soojung.

Suzy tak terlalu memikirkannya dan memilih memasuki kamarnya. Ia mendekati Sehun yang masih tertidur pulas diranjang kecilnya, “Oh Sehun, bangun!” Suzy sedikit menggoyang goyangkan tubuh Sehun.

“Maaf mengganggumu, bangunlah biar kuobati lukamu!” perintah Suzy.

“Suzy!” lirih Sehun, ia tak tau mengapa Suzy bisa tau jika ia memiliki sebuah luka, yang jelas tak ingin membuat Suzy kawatir.

“Oh Sehun kau mendengarku?” ucap Suzy kini matanya serasa perih, sebisanya Suzy menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya.

“Biar aku yang mengobatinya kau keluar saja!” Myungsoo yang entah sejak kapan berada disana merampas kotak obat yang berada ditangan Suzy.

“Bukankah dia harus membuka bajunya jika hendak diobati? Kau yakin ingin melihatnya?” tanya Myungsoo.

“Ne, sebaiknya aku keluar saja.” Suzy beranjak dari tempatnya dan keluar dari tempatnya.

.
.
.

Jam pelajaran kini telah berakhir, seluruh siswa berlomba lomba untuk keluar sekolah lebih dulu. namun
Suzy kini duduk dihalam rumah Tn. Jung sendiri, “Bae Suzy mengapa sekarang kau sangat cengeng? Kau bahkan sangat sulit untuk mengeluarkan air matamu dulu, namun sekarang hany dengan masalah sepele saja kau menangis” batin Suzy.

Jujur ia benar benar merasa bersalah pada Sehun, semua yang Sehun lakukan untuk Suzy tak pernah bisa Suzy balas. Ia hanya bisa menambah beban Sehun dan Suzy sangat sangat merasa bersalah.

.
.
.

Canggung, itulah yang dirasakan Myngsoo dan Sehun. Myungsoo memfokuskan dirinya pada luka yang sedang ia obati sedangkan Sehun sedang menahan rasa perih yang dikarenakan obat yang diberikan Myungsoo.

“Kwenchana?” tanya Myungsoo membuka percakapan.

“Ehm.” Gumam Sehun pelan namun dapat didengar Myungsoo.

“Kau pria jahat.” Ucap Myungsoo

Sehun menaikan sebelah alisnya, “Apa maksudmu?”

“Kau membuat Suzy menangis.”

Sehun kini membalikan badannya hingga membuatnya dapat melihat dengan jelas Myungsoo, “Bagaimana bisa?”

“Menurutmu apa yang Suzy rasakan jika seseorang yang selama ini selalu menolongnya terluka dan menderita, terlebih ia tanpa seorangpun yang menemaninya.” Ucap Myungsoo.

Sehun diam, tak berniat menjawab ucapan Myungsoo, “Sudah selesai, tidurlah dikamarku. Tak mungkin kau tidur disini dengan Suzy.” Perintah Myungsoo, ia bangkit dari ranjang Suzy dan keluar dari kamar Suzy. Meninggalakan Sehun sendiri yang masih kalut dengan pikirannya.

.
.
.

Hari ini Suzy sudah masuk sekolah, ia sedang merapikan keperluan keperluan sekolahnya.

“Kau ingin kuantar?” tanya Myungsoo, pria tampan itu hanya menampakan kepalanya dibalik pintu kamar Suzy.

Suzy menggeleng, “Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri. Kau antar saja Soojung.” Suzy kembali memfokuskan dirinya pada buku yang sedang ia benahi.

“Soojung tidak masuk, katanya dia sedang tidak enak badan. Oh, ini.” Myungsoo memberikan sebuah surat.

“Kirimkan ini pada wali kelas kalian.” Suzy hanya mengangguk sambil menerima secarik surat yang telah terbungkus amplop itu.

Kini Myungsoo telah menghilang dari pandangan Suzy dan sekarang Sehunlah yang muncul, “Maukah kau mengajakku kesekolahmu?” tanya Sehun, ia ikut serta merapikan buku buku Suzy.

“Mengapa kau ingin kesekolahku? Apa kau sedang tidak ada pekerjaan?” tanya Suzy.

Sehun mengangguk. Menurut kesepakatan Sehun dengan Tn. Jung, Sehun akan tinggal dirumah tn. Jung namun Sehun tidak melanjutkan pendidikannya. tn. Jung mengusulkan untuk Sehun ikut membantunya mengurus perusahaan anggur miliknya.

“Baiklah, kau boleh ikut. Namun hanya sekedar tau dimana sekolahku saja, arraseo” Sehun mengangguk antusias.

“Baklah, kajja. Aku bisa terlambat jika tidak berangkat sekarang.” Suzy menggendong tasnya dan berjalan mendahului Sehun, sedangkan Sehun turut mengekori Suzy bak anak itik yang mengikuti induknya.

“Biar kubawa tasmu.” Sehun hendak mengambil tas yang dibawa Suzy, namun dengan cepat Suzy menangklisnya, “Tanganku masih kuat untuk membawa tasku ini, Oh Sehun –ssi.” Ucap Suzy.

Hening. Tak ada salah satu dari mereka membuka suara, entah mengapa Suzy merasa aneh jika bersama Sehun. Ia merasa tak ada topic yang harus ia bicarakan jika bersama Sehun, hal yang aneh.

“Kau menangis?” Sehun membuka percakapan.

Suzy sama sekali tak menjawab, ia dapat mendengar suara Sehun namun ia terlalu malu untuk mengakui bahwa ia menangis karena Sehun.

“Bae Suzy kau mendengarku” Sehun menyenggol lengan Suzy, membuat Suzy menoleh menatap mata Sehun.

“Eo, ne.” gumam Suzy.

“Mengapa kau menangis? Terlebih kau menangis karena ku” tanya Sehun.

“Hanya merasa bersalah.” Lirih Suzy.

“Mengapa kau merasa bersalah?”

“Karena aku sama sekali tak bisa berbuat apa apa saat ayahmu itu memukulimu. Saat ayahmu memukulku dan saat dia menjualku pada ajussi hidung belang itu, kau selalu menolongku, menghiburku, bahkan kau membuat rasa takutku hilang karena aku merasa aman jika ada kau. Tapi ketika hal itu terjadi padamu, aku malah hidup dengan nyaman disini, disaat kau menderita.” Lirih Suzy.

Sehun tersenyum, ia mengangkat tangannya dan mengelus lembut pucuk kepala Suzy, “Kwenchana, aku tidak apa – apa.” Ucap Sehun.

.
.
.

Pelajaran telah selesai, kini seluruh siswa berlomba lomba untuk terlebih dahulu keluar dari sekolah. Namun Suzy berbeda, ia masih asyik belajar, sudah kebiasaannya untuk mengulang kembali pelajaran yang ia pelajari disekolah. saat jam pulang seperti ini sekolah sepi, jadi ia tak merasa terganggu.

Sekitar tiga puluh menit Suzy masih fokus dengan bukunya, sekarang ia mulai merapikan bukunya memasukannya kedalam tas merahnya.

.
.
.

Sehun diam menatap Soojung yang tengah menangs, matanya membengkak karena dari tadi pagi ia terus menangis, “Kwenchana?” tanya Sehun.

Soojung bangun dari tempatnya ia masuk kekamar Suzy, Sehun tak mengejarnya. Ia takut dengan Soojung, ia takut ika diamuki oleh Soojung.

Mata Sehun masih fokus menatap kamar Suzy.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Suzy membuyarkan lamunan Sehun.

“Tidak ada, Soojung tadi masuk kekamarmu. Sedari tadi dia terus meangis, aku takt menanyakannya.” Ucap Sehun sambil menunjuk kamar Suzy.

Suzy hanya mengangguk, ia berjalan menuju kamarnya dan matanya melebar saat melihat seisi kamarnya.

“Jung Soojung apa yang kau lakukan?” Suzy menahan tangan Soojung. Kini kamarnya sudah berantakan karena ulah Soojung.

Suzy sama sekali tak memperdulikan ucapan Suzy, ia menghempaskan tangan Suzy dan kembali mengancurkan semua barang barang Suzy.

“Jung Soojung sebenarnya apa yang terjadi?” Suzy menaikan nada suaranya dan itu berhasil membuat Soojung menghentikan kegiatan merusaknya.

Plakk~ Dengan ringannya Soojung menampar pipi Suzy.

“Jung Soojung apa yang kau lakukan ?!” Entah sejak kapan Myungsoo berada dikamar Suzy bersama Sehun yang jelas sekarang seorang Kim Myungsoo yang penyayang tampak seperti monster.

“Jangan bertingkah kekanak kanakan Jung Soojung, jika kau memiliki masalah dengan Suzy katakanlah jangan seperti ini.” Masih dengan nada yang tinggi Myungsoo bergumam.

Soojung hanya menatap Myungsoo sambil meneteskan air matanya, “Kau jangan ikut campur dengan urusanku ini”

Diam, Myungsoo terdiam. Ini pertama kalinya Soojung berbicara seperti itu dengan Myungsoo. Panggilan oppa itu telah sirna, senyum indah yang biasa Soojung pancarkan telah musnah seketika.

“Kau –kau bahkan selalu membela wanita ini. Wanita tak tau diri ini.” Soojung berucap sambil menunjuk Suzy.

“Kalian semua keluar.” Suara Suzy kini lirih, entah apa yang dipikirannya sekarang. Ia sama sekali tak memarahi Soojung atau sebagainya karena telah menghancurkan kamarnya.

Myungsoo dan Sehun keluar terlebih dahulu, menyisakan Soojung dan Suzy didalam sana.

“Melihat otakmu yang pintar aku yakin kau mengerti apa alasanku ini.” Ucap Soojung dengan nada dinginnya lalu pergi meninggalkan Suzy.

Suzy menghembuskan nafas berat. Semua ini terlalu rumit, ia bahkan tak tau bagaimana perasaannya sekarang. Ia merebahkan badannya dikasur kecilnya, dipejamkannya matanya, “Aku tak ingin melepaskannya” lirih Suzy.

.
.
.

Kini suasana makan malam terasa hening, tak ada celotehan yang biasa Soojung keluarkan. Tak ada tingkah konyol yang biasa Soojung lakukan.

“Soojung –ah kau masih sakit?” tanya ibu Suzy.

“Sepertinya masih eomma.” Lirih Soojung suaranya sangat pelan tak seperti biasanya.

“KAu ingin kedokter?” kini Tn. Jung membuka suara.

“Tidak perlu appa, hanya perlu tidur saja. Besok aku akan kembali bersekolah.” Soojung menyuapi nasi kedalam mulutnya.

“Aku sudah selesai.” Ia bangkit dari tempatnya dan pergi begitu saja meninggalka keluarga kecilnya itu.

“Myungsoo –ah apa ada yang salah dengan Soojung? Mengapa dia terlihat sangat murung, tak seperti biasanya.” Tanya ibu Suzy.

“Entahlah, mungkin ia masih merasa tak enak badan.” Ucap Myungsoo berbohong, ia tau pasti sikap Soojung berubah karena perkelahian rumit tadi siang.

Kini Suzy yang mengkuti jejak Soojung, “Aku sudah selesai makan. Ia bangkit dari tempatnya dan kembali kekamarnya.

Baru saja Suzy membuka pintunya ia merasa terkejut karena kini Soojung berada dalam kamarnya, “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy.

“Untuk memperjelas posisimu disini.” Soojung mendekati Suzy. Suzy mengerutkan keningnya tak mengerti maksud dari kata kata Soojung tadi.

“Kau harusna menyadari posisismu disini, kau hanya menumpang disini beraninya kau merebut hakku.”

“Hak apa? Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapanmu” ucap Suzy.

“Kau –kau menjauh dari Myungsoo oppa!!” perintah Soojung.

Suzy sedikit meremas tangannya dugaanya benar, “Mengapa aku harus menurutimu?” sinis Suzy.

“Sudah kubilang karena posisimu dirumah ini hanya menumpang, kau tak berhak mengambil hakku dan Myungsoo oppa itu adalah hakku. Bae Suzy aku sudah bersikap baik selama ini kepadamu tapi kau membalasku dengan cara menusuk seperti ini? Hahhaha” Soojung tertawa hambar.

“Kuperingati jangan pernah kau dekati Myungsoo oppa. Kembalilah seperti dulu, dingin dan tak perduli dengan Myungsoo oppa. Jangan bersikap soq manis didepan Myungsoo oppa.” Ucap Soojung tak kalah sinis.

“Jung Soojung.” Semampunya Suzy menahan air matanya yang hendak tumpah.

“Kau hanya salah paham, kau sepertinya berfikir Myungsoo oppa menyukaimu tapi itu salah. Myungsoo oppa hanya kasian denganmu dan tak lebih.” Soojung pergi meninggalkan Suzy yang masih diam mematung ditempatnya .

“Myungsoo oppa hanya kasihan dengamu dan tak lebih.” Kalimat yang dilontar Soojung it uterus ternyiang nyiang ditelinganya. Suzy menutup telinganya, air matanya tak dapat ditahan lagi.

“Itu tak benar Bae Suzy.” Ucap Suzy sambil menangis, hatinya seakan ditusuk ribuan jarum dan tercabik cabik. Entah apa maksud dari perasaannya itu, Suzy tak mengerti.

.
.
.

Kini suasana pagi seperti biasa diributi oleh suara Soojung, Soojung telah kembali. Soojung yang cerah telah kembali.

“Myungsoo oppa, sepatuku diaman?” teriaknya.

“Kau cari dibalik pintu kamarmu.” Perintah Myungsoo.

“Oppa kajja kita berangkat.” Soojung berlari menghampiri Myungsoo.

“Suzy –ah kajja kita berangkat.” Ajak Myungsoo. Kini ekspresi Soojung berubah senyumnya telah hilang dan Suzy menyadarinya.

“Kau berangkat saja duluan, aku akan pergi dengan Sehun.” Ucap Suzy.

“Tidakkah kau akan memberatkan Sehun?”

“Dia tidak akan merasa keberatan.” Ketus Suzy, mau tak mau Myungsoo meniyakan dan pergi beangkat dengan Soojung.

.
.
.

Matahari sangat terik, Suzy membaringkan tubuhnya setelah pulang sekolah tadi ia berjalan diterik matahari.

“Suzy –ah” panggil Myungsoo seperti berbisik.

Suzy menoleh dan melihat Myungsoo yang menampakan kepalanya saja, “Mwo?” tanya Suzy singkat.

“Kau bisa ikut denganku?” tanya Myungsoo.

“Tidak bisa.” Ketus Suzy.

Myungsoo geram dengan sikap Suzy yang kemabli seperti dulu. Ia masuk tanpa izin kekamar Suzy dan menarik tangan Suzy, memaksa Suzy bangun dan mengikutinya.

“Yak apa yang kau lakukan, lepaskan aku.” Suzy berusaha melepaskan tangan kekar Myungsoo yang menggenggam tangannya, namun hasilnya nihil. Kekautan Suzy masih kalah jauh dengan myungsoo.

Kini Myungsoo dan Suzy berada digudang angur milik tn. Jung tepatnya dibelakang rumah.

“Apa yang kau inginkan ?” ketus Suzy.

Myungsoo tersenyum, ia mendekati Suzy dan berakhir dengan memeluk Suzy.

“Y –yak Kim Myungsoo apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat?” Suzy berusaha mendorong badan Myungsoo yang memluk posesif Suzy.

“Tebak aku baru saja bertemu dengan siapa?” Myungsoo sama sekali menghiraukan Suzy, ia masih memeluk Suzy.

Suzy berhenti memberontak, tangannya tak lagi mendorong Myungsoo.

“Aku bertemu eommaku.” Lanjut Myungsoo.

“Ia tampak bahagia dengan anak laki lakinya yang sepertinya usianya tak jauh denganku-” Myungsoo menarik nafas panjang, sepertinya ia akan menangis.

“Bagaiamana menurutmu? Aku bertemu dengan eommaku yang sudah puluhan tahun tak kulihat, eomma yang meninggalkanku dengan lelaki bajingan seperti appaku. Ia hidup bahagia dengan keluarga barunya sedangkan aku harus hidup tersiksa bersama appaku.” Myungsoo membenamkan wajahnya kebahu Suzy, ia menangis sejadi jadinya dibahu Suzy.

Tangan bebas Suzy kini mulai terangkat, terangkat mengelus dan membalas pelukan Myungsoo. Tangan Suzy mengelus lembut punggung Myungsoo yang bergetar, “Kwenchana, bukankah kau sekarang sudah hidup bahagia dengan kelaurga Tn. Jung? Jangan menangis.”

Dan kembali, tanpa disadari Myungsoo maupun Suzy, sepasang mata indah milik Soojung menatap benci kearah meraka disela sela pintu gudang.

TBC.

Omegat * ini gaje bener dah. Ini aku ngetiknya kebut, umpung malming jadi ada waktulah ngetik, walau aku masih semesteran. Maapkan aku karena ini part gaje pakek banget otakku mumet . dan heyy kembali aku ingatkan ff ini ngaret lagi, kalian tau bulan depan aku bkal berturut turut Ujian dari awal bulan UAS pertengahan T. O dannnn awal mei aku UN bebaslah aku setelah itu *edisi curhat* pokoknya maafkan kesalahanku ini dari segi penulisan atau jalan cerita .Oke promote lagi jangan lupa ya kunjungi blog pribadiku https://nananandhinidream.wordpress.com . oke ditunggu commenannya ne , sarangahe .

58 responses to “Cinderella Sister [ Chapter 9 ]

  1. Aigoo kenapa suzy jadi cepet banget nangisan,itu membuatnya terlihat lemah.
    Aku lebih suka suzy yg cuek dan gak gampang nangisan karena itu membuatnya terlihat kuat.
    Suzy eonni jangan mau kalah sama soojung

  2. Jjeng jjeng, dugaan saya tepat xD Haduh, tp gimana hubungan myungzy? Disini mereka saling menyukai😦

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s