#HunZy Story 1. Bastard

Bastard

Title : Bastard

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast : Oh Sehun, Bae Suzy

Support Cast : Lee Myungsoo

Genre : Marriage Life, Hurt

Rating : PG

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Bagi Sehun, ia tidak tahu bagaimana asal mula pernikahan sempurnanya bersama Suzy berubah menyedihkan—kacau—dan tanpa arah dengan tiba-tiba seperti ini. Senyum Suzy pada hari itu bahkan masih Sehun ingat, tawa bahagia yang tampak berkali-kali lipat diikuti perkataan pulanglah lebih awal, aku memiliki kejutan untukmu masih begitu Sehun ingat hingga hari ini.

2 bulan lalu, tepat 2 bulan lalu istrinya berkata begitu dan dirinya benar-benar pulang lebih awal dari sebelumnya. Berharap melihat kejutan yang istrinya katakan, menebak dengan gugup apakah kiranya yang hendak Suzy berikan padanya.

Namun nyatanya? Kejutan itu sama sekali tidak ada dan jikapun ada maka Sehun katakan bahwa sangat tidak menyenangkan. Hari itu Suzy tidak menyambutnya seperti biasa, kejutan yang dinanti bahkan ikut lenyap bersama menghilangnya semburat bahagia dalam pandangan istrinya. Baru tengah malam Suzy pulang bekerja kala itu, hal aneh karena harusnya ia tiba sebelum malam menjelang. Hal aneh karena ketika Sehun yang diliputi khawatir menyusul ke kantor tempat istrinya bekerja dan satpam gedung itu mengatakan bahwa Suzy bahkan tidak masuk kerja.

Semenjak hari itu, bukan hanya kepulangan larutnya yang berlanjut hingga malam ini, namun juga sikap dingin dan bencinya.

“KAU ITU KENAPA SEBENARNYA?!” Teriak Sehun kesal tidak bisa menahan emosinya lagi. Tiap malam dirinya menunggu kedatangan Suzy, mengajaknya bicara namun lirikan tajam dibarengi sikap acuh adalah hal yang diterimanya.

Berkali-kali Sehun mengajak istrinya itu bicara baik-baik namun bisu adalah jawabannya. Sama sekali tidak ada celah untuknya memperbaiki hubungan yang retaknya karena apa saja ia tidak tahu.

Pergi bekerja pagi buta dan datang sangat larut, pindah ke kamar lain, menghindari kontak mata dengannya saat bertemu, mengacuhkan keberadaannya. Sehun mulai sesak dan tidak tahan dengan rentetan hal itu. Ia sudah bertekat untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya malam ini. Sengaja ditunggunya Suzy bahkan hingga pukul 12:00 malam seperti saat ini, tidak peduli bagaimana lelahnya ia dengan pekerjaannya sendiri dan ingin segera beristirahat, jiwa dan hatinya tidak bisa tenang selama masalahnya dengan Suzy belum terselesaikan.

“Katakan padaku! Apa salahku?!” Geram Sehun mengeratkan pegangannya pada wanita yang hanya berbicara melalui mata tajamnya, menatap ia seolah pembunuh dan untuk pertama kalinya Sehun ingin mencongkel mata indah itu rasanya.

“Lepaskan tangan kotormu.”

Kening Sehun langsung berkerut mendengar kalimat pertama istrinya setelah 2 bulan ini membisu, hal pertama yang didengarnya ini sungguh tidak nyaman dan berhasil memundurkan langkahnya. Sehun telusuri memorinya sekali lagi, salah apa yang telah dirinya lakukan hingga Suzy semarah ini?

“Apa masalahmu sebenarnya? Tidak bisakah kau buka sedikit mulutmu untuk mengatakan alasanmu memperlakukanku bagai sampah menjijikkan 2 bulan ini?”

“Kau bertanya aku kenapa?” Suzy melepas paksa pegangan erat Sehun dan mundur beberapa langkah. Heels 7cm yang dikenakannya berbunyi sebagai satu-satunya suara disana, Sehun yang menunggu penyataan selanjutnya dari Suzy dan Suzy yang menyiapkan diri mengatakan sesuatu hal menusuk.

Tatapan tajam Suzy menurun pada kerah baju suaminya, sesuatu hal menarik ada disana dan ia tersenyum kecut sebelum membalas tatapan suaminya lebih dingin. “Ini.” Tunjuk Suzy pada kerah baju Sehun dan menariknya kemudian, menunjukkan sesuatu hal disana yang entah pria itu sadari atau tidak. “Harusnya kau tidak sebodoh ini membiarkan lipstick simpananmu tertempel jelas didepan mataku.”

“Apa-apaan kau?!” Sekali lagi suara Sehun meninggi, ia tepis segera tangan Sehun dari kerah bajunya dan wanita itu kembali tersenyum nanar, berbeda dengan Sehun yang menghapus segera bekas lipstick itu meskipun tidak sepenuhnya berhasil.

“Kau benar-benar brengsek Oh Sehun.”

“Mwo?!”

“Kau!” Suzy menunjuk suaminya sendiri perih, menyaksikan wajah tampan itu yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah maupun mengucapkan permintaan maaf setelah tertangkap basah seperti saat ini.

“Aku apa?” Tanya Sehun seolah menantang. “Cih!” Pria itu mengumpat dan melihat Suzy geram. “Kau mengalihkan masalah kita dengan mengatakan bahwa aku berselingkuh. Katakan saja bahwa kau yang melakukannya. Kau sudah tidak mencintaiku karena itu kau menjauhiku, kau tidak mencintaiku karena kau bertemu pria lain DILUAR SANA BUKAN?!”

Suzy tersenyum tidak percaya, kepalanya menggeleng beberapa kali menyaksikan tingkah konyol Sehun dihadapannya. Rasanya memang percuma ia berbicara dengan suami berkepala batu yang begitu egois ini, entah apa saja yang akan ia katakan Sehun hanya akan membuatnya tampak seperti penjahat, kenyataan apapun yang dirinya perlihatkan Sehun hanya akan percaya dengan apa yang ingin dia percaya.

“Terserah. Aku tidak peduli. Kau saja bisa selingkuh kenapa aku tidak?”

 

 

 

 

Kepalan tangan Sehun tampak mendengar kalimat terakhir Suzy, kalimat yang seolah membenarkan bahwa istrinya itu memang benar-benar berselingkuh darinya, benar-benar menemukan pria selain dirinya, benar-benar tidak mencintainya. Lalu jika memang begitu untuk apa pernikahan ini? Untuk apa kebersamaan ini?

“Kau pikir bisa lepas dariku begitu saja huh?! Aku! tidak akan pernah melepasmu! Kau akan hidup menderita bersamaku selamanya! Disampingku selamanya! KAU DENGAR ITU?!”

Suzy menarik nafas panjang dengan segala rentetan kalimat suaminya. Wanita itu tidak mengatakan ataupun melakukan hal lain lagi karena yang ia lakukan adalah melanjutkan langkahnya menuju kamar baru yang sudah ditempatinya dua bulan ini, menghindari waktu percuma bersama pria macam Sehun yang sebenarnya ingin ia tendang jauh-jauh entah sejak kapan.

 

Kedua alis Sehun menyatu, kemarahannya belum usai dan kekesalannya masih terasa hingga rasanya ia akan meledak. Wanita yang di ajaknya bicara justru melangkah santai dan sama sekali tidak menunjukkan kekalahannya, membuat Sehun tampak menyedihkan padahal harusnya Suzy-lah yang harus menyedihkan.

“INI SEMUA SALAHMU ASAL KAU TAHU?!” Sekali lagi teriakan nyaring yang hampir membuat gendang telinga Suzy pecah terdengar. Sehun menatap Suzy benci meski hatinya menolak untuk melakukan ini semua. “YA! AKU BERSELINGKUH! LALU KENAPA MEMANGNYA HUH?! KENAPA MEMANGNYA JIKA AKU BERSELINGKUH DARIMU?! KENAPA?!”

Entah Sehun memang bodoh, berkata jujur, atau hanya kesal saja hingga melakukan semua itu. Namun pria yang memang tengah dalam keadaan mabuk itu mengatakan apapun sesuka hatinya tanpa peduli atau bahkan melihat bagaimana kerasnya Suzy menahan air mata dari balik punggung yang Sehun lihat sinis.

“Kau menjauhiku tiba-tiba, pindah kamar tiba-tiba, tidak mau berbicara atau bahkan bersentuhan denganku. Apa aku perlu alasan selain itu untuk bersama wanita selain dirimu?!”

Remasan jemari Suzy pada tas dalam genggamannya mengerat, tas berbahan kulit itu mengkerut beberapa bagian hingga tampak akan tersobek saat itu juga. Air mata yang hampir keluar dari kedua matanya Suzy tahan sebisa mungkin menyadari bahwa cairan tubuhnya begitu berharga untuk saat ini. Seperti sebelum-sebelumnya, meskipun sudah mengetahui kenyataannya namun Suzy kembali tekan hatinya dan siapa yang menyangka bahwa luka itu makin perih dan mulai bernanah?

Kembali pada Sehun, pria itu tetap mengatakan apapun sesukanya pada Suzy langsung tanpa peduli, mengeluarkan pendapatnya yang entah bagaimana lebih cocok sebagai hinaan dan makian orang asing dibanding suami sendiri.

“Lihat dirimu, lihat tubuhmu, kau pikir dirimu menarik huh? Berkacalah! Kau tampak bagai badut sekarang. Mana bisa aku mencintaimu dengan keadaan seperti itu huh?!”

 

Cukup!

 

Suzy berkata pada dirinya sendiri cukup, ia tidak akan sanggup dan tidak bisa mendengar rentetan kata menyakitkan Sehun lainnya. Tanpa menunggu apapun lagi, wanita dengan dress kuning selutut itu segera masuk ke dalam kamarnya bersama segala makian juga hinaan Sehun yang entah kapan akan selesai. Pria itu tampak kesetanan dan Suzy tidak tahu bagaimana menghadapinya. Segala sakit juga perih dalam hatinya Suzy tekan kembali, perasaan tidak nyaman dalam hatinya berusaha ia hilangkan demi hal berharganya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Hal terburuk adalah makian dari orang yang kau cintai, hal terburuk adalah hinaan dari orang yang selalu kau dengar, hal terburuk adalah dihianati oleh orang terdekatmu, hal terburuk adalah hilangnya rasa percaya dari pasangan hidupmu.

Suzy baru merasakannya hari ini, segala hal tentang hidupnya tampak kacau dan sangat kacau. Sehun sama sekali tidak terlihat ketika dirinya keluar dari kamar pagi tadi, entah pria itu kemana tapi tampaknya sudah sejak semalam ia meninggalkan rumah.

Pasti menemui selingkuhannya, menginap ditempatnya, mengadu bahwa perselingkuhannya telah ketahuan, dan kemudian selingkuhan tidak tahu diri itu meminta dia menceraikanku batin Suzy nyinyir bersama senyum kecut yang tidak menghilang dari wajah sembabnya.

“Aku tidak tahu apa yang kau lamunkan tapi pekerjaanmu makin menumpuk nona.” Suzy menoleh tanpa semangat pada pria disampingnya yang tersenyum begitu lebar, entah apa yang membuatnya sebahagia itu tapi Suzy menginginkannya meski hanya sedikit.

“Myungsoo oppa.”

“Kau bisa ceritakan masalahmu padaku jika memang perlu.” Dengan baik hati seperti biasa Myungsoo menawarkan diri, duduk disamping Suzy lebih dekat dan menopang wajahnya seolah siap untuk mendengar segala keluh kesah teman sekolahnya ini.

“Tidak, terimakasih.” Geleng Suzy lemah dan mengambil nafas panjang. Rasanya tidak pantas membicarakan masalah rumah tangga apalagi mengenai suamimu sendiri. Benar-benar tidak pantas.

“Baiklah……” Myungsoo memundurkan kursinya hingga kembali ke meja kerjanya. Namun belum sampai 5 detik ia kembali lagi mendekati Suzy. “Hampir jam makan siang. Ingin keluar dan makan sesuatu?”

“Masih kurang 10 menit lagi.” Jawab Suzy tidak bersemangat. “Lagipula aku tidak lapar.”

“Jangan terlalu rajin.” Myungsoo tertawa lebar dan mengambil kunci mobilnya kemudian menarik Suzy begitu saja, membawanya dari ruang kerja membosankan itu seperti yang memang sudah diinginkannya semenjak tadi.

 

 

 

“Oppa…..”

“Oh ayolah……aku benar-benar kelaparan.” Ujar Myungsoo tidak lupa menggosok perut ratanya dengan tampang susah. Suzy tersenyum tipis dan ia ikuti langkah panjang Myungsoo kemudian, mengekorinya persis seperti yang memang pria tersebut inginkan.

car-week-8

Lykan hypersport berwarna hitam yang terparkir rapi menjadi tujuan Myungsoo, cukup membuat Suzy menggelengkan kepalanya melihat tunggangan yang akan dinaikinya.

“Oppa.”

“Hm?”

“Bukankah kau bilang ingin tampil sederhana dan menyembunyikan dirimu agar mendapat gadis yang benar-benar mencintaimu tulus?”

“Ya. Lalu?”

“Bagaimana bisa kau mendapat hati seorang gadis dengan tulus jika tungganganmu begini?” Myungsoo tertawa cekikikan, Suzy yang berdiri si sisi lain mobilnya memasang wajah heran dan Myungsoo hanya menaikkan bahunya tidak tahu.

“Aku sudah mendapatkan gadisku.”

“Siapa?”

“Kau.”

“Yang benar saja Kim Myungsoo.” Lemparan pandangan lelah dan tidak tertarik langsung Myungsoo dapatkan, membuat pria itu kembali tertawa sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil di susul Suzy.

 

 

“Jangan kencang-kencang.” Ujar Suzy sembari merapikan rambutnya.

“Kenapa? Dulu kau suka balapan.”

“Keadaanku saat ini dilarang melakukan hal berbahaya.”

“Aku tidak mengerti.” Toleh Myungsoo bingung namun Suzy lebih memilih bungkam dan memejamkan matanya lelah, membiarkan Myungsoo menyetir seorang diri dan memilih tempat makan yang dikehendakinya.

Sesekali pandangan Myungsoo terarah pada Suzy. Entah wanita itu benar-benar tidur atau tidak, namun wajahnya saat ini tampak seperti malaikat.

“Kau akan menyukaiku jika melihatku selama itu oppa.”

Seolah tertangkap basah, Myungsoo alihkan pandangannya fokus pada jalanan didepan. “Bagaimana jika aku benar-benar menyukaimu?”

“Maka harusnya kau datang lebih awal dalam kehidupanku.”

“Kau lupa bahwa sebelum bertemu Sehun aku lebih dulu berada di sampingmu.”

“Ya, dan kemudian kau meninggalkanku ke Jepang tanpa kata, pamit, bahkan kabar.”

Myungsoo menyunggingkan senyum malu dan menggosok hidung tidak gatalnya, sekali lagi ia lirik Suzy dan satu hal yang sebenarnya cukup membuat ia terganggu beberapa waktu ini seperti mendapat jawaban pastinya.

“Suzy-ah.”

“Hm?”

“Sebentar-sebentar.” Tanpa aba-aba Myungsoo meminggirkan mobilnya cepat, membuat Suzy mengerutkan keningnya dan langsung membuka mata heran.

“Sudah sampai? Kita makan dimana? Disini?” Pertanyaan mendasar bagi siapapun yang berada pada posisi Suzy.

Mata cantik yang selalu membuat damai itu melirik tempat dimana Myungsoo menghentikan laju mobilnya, ia tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari tempat makan yang sekiranya membuat hatinya lebih baik. Bukankah kata beberapa orang makanan memang membuat perasaan jauh lebih baik?

Suzy melihat sekeliling tempatnya saat ini, beberapa restoran juga kedai dengan rasa makanan yang tidak perlu diragukan lagi mengelilinginya. Tampaknya Myungsoo memang tahu bahwa dirinya harus banyak mengkonsumsi makanan.

Sayangnya bagi Suzy, arah tunjuk tangannya pada restoran inggris sebagai tempat yang tadinya akan ia pilih membuatnya melihat seseorang yang harusnya tidak ia lihat disana pada keadaan seperti hari ini.

Mengenakan stelan prada berwarna merah marun ia tampak begitu menonjol di antara pengunjung lainnya, tanpa perlu berbalik atau bahkan menunjukkan seluruh tubuhnyapun Suzy sudah tahu siapa sosok yang kini tengah duduk berdampingan bersama wanita nakal, sebutan yang Suzy lontarkan semenjak menemukan file fotonya bersama Sehun di atas ranjang hotel 2 bulan lalu.

Mereka tampak begitu dekat dan membuat Suzy mengingat segala hal tentang bagaimana perlakuan lembut Sehun yang selama ini hanya ditujukan padanya, juga bagaimana semalam Sehun mengatainya tanpa henti hingga bagai lantunan lagu pembawa tidur.

Suzy menelan ludahnya kuat, dadanya terasa sakit sekaligus sesak. Mata bercahayanya meredup dengan warna kemerahan ditemani lelehan air yang memenuhi kelopaknya dengan cepat seolah ada kran air disana.

Pada kenyataannya, pikiran Suzy bahwa Sehun sedang bersama wanita itu adalah benar. Suaminya akan segera menyerahkan surat cerai padanya sebentar lagi, tampaknya memang tinggal menunggu hitungan hati sebelum bahtera rumah tangganya dan Sehun benar-benar karam.

 

 

“Kau hamil?” Ingin Suzy, Sehun-lah yang pertama kali menyadari keadaan dirinya, mengetahui sesuatu hal baru dalam dirinya, mengenal perubahan tubuhnya, menyentuh bayi dalam perutnya, bukan pria lain macam Myungsoo meski sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Suzy mengangguk kaku, seluruh tubuhnya terasa begitu sulit untuk digerakkan sementara mata terluka itu tidak juga menghilang dari pandangan suaminya yang tengah bersama sekretaris pribadi merangkap wanita pribadi.

“Kau kenapa?”

Sekali lagi Suzy berucap dalam hati, andai Sehun bertanya begitu padanya dengan lembut, andai Sehun bertanya penuh cinta padanya seperti yang Myungsoo lakukan, dan andai Sehun sedikit lebih peka padanya, maka ia akan berikan sedikit kesempatan juga pengertian ditambah kepercayaan atas apa yang terjadi dalam foto tidak pantas itu.

Namun kenyataannya tidak begitu, Sehun memang menanyakannya namun dengan kasar, dengan pandangan marah seolah dirinya benar-benar bersalah dan tidak memiliki sesuatu hal untuk didebatkan, seolah dirinya selalu benar dan tidak pernah salah.

Andai saja, andai saja Sehun mau menurunkan sikap arogan juga egoisnya.

Tangkupan tangan hangat Myungsoo pada wajahnya Suzy harap bahwa Sehun-lah yang melakukan itu. Rasa sedih berikut sakit dalam dadanya makin menjadi, Suzy tidak tahu apakah karena dirinya tengah hamil maka bisa begitu cengeng dan sentimentil seperti saat ini. Namun merasakan seseorang yang begitu peduli, tangis aduan itu keluar begitu saja tanpa peduli pada norma dan etika untuk tidak mengumbar masalah pribadi.

Suzy melingkarkan tangannya begitu saja pada tubuh Myungsoo, memeluk pria itu erat bersama tangis kencang yang tidak bisa disembunyikannya lagi. Suzy tahu bahwa dirinya butuh seseorang untuk berbagi dan Myungsoo satu-satunya orang yang bisa melakukan itu sekarang.

Meski pada awalnya pria bermarga Kim itu tidak mengetahui alasan sebenarnya kenapa Suzy tiba-tiba menangis kencang dalam pelukannya, gulir cerita bersambut tangis yang mulai bisa dirangkainya membuat ia menggeleng kepala tidak percaya tentang sikap tidak bertanggung jawab Sehun.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Sehun mengepalkan sebelah tangannya kuat lebih dari sebelum-sebelumnya sementara sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk memegang botol bir dengan isi tinggal sedikit. Lirikan tajamnya pada jam berbentuk bundar di dinding menunjukkan pukul 02:00 dinihari dan bahkan hingga saat ini Suzy tidak juga kembali, ponsel wanita itu juga tidak aktif, dan sebuat foto hasil jepretan orang suruhannya menampakkan istrinya itu bersama pria asing di dalam mobil, berpelukan sangat dekat.

Brengsek! Damn it! Aku bunuh kalian berdua!

 

Prang

 

Botol bir dalam genggaman Sehun pecah sudah setelah dilemparkannya begitu saja pada dinding. Nafas pria itu memburu dan langkahnya yang berjalan pada lemari kecil salah satu sudut kamarnya guna mengambil sebotol bir lagi ditemani oleh pikiran menjijikkan sekaligus menakutkan. Dalam pandangan Sehun, pastilah istrinya sudah berbuat macam-macam dan benar-benar bernyali untuk menyelingkuhinya.

5 teguk bir masuk begitu saja dalam kerongkongan Sehun, membuat kesadarannya makin menepis dan saat itulah deru mobil yang baru kali ini didengarnya masuk dalam pelataran rumahnya.

Dengan langkah sedikit terhuyung Sehun membuka tirai jendela kamarnya, menyaksikan sebuah mobil berhenti tepat didepan pintu masuk rumahnya. Seorang pria, berpenampilan rapi keluar dari mobil itu kemudian berlari kecil pada arah lain mobilnya untuk membukakan pintu wanitanya, wanitanya? ISTRINYA! WANITA ITU ISTRINYA! ISTRI OH SEHUN! Perlukah hal macam ini dijelaskan?

Sehun menenggak kembali bir dalam tangannya saat pandangannya melihat bagaimana Suzy tersenyum pada pria itu, senyum yang dulu hanya menjadi miliknya seorang.

Sehun merasa seperti darahnya terbakar ketika melihat bagaimana istrinya memperlakukan pria lain begitu manis, ia cocokkan wajah pria itu dengan foto yang didapatkannya tadi segera. Cocok. Benar-benar cocok. Bahkan mobilnyapun sama.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, segera Sehun berlari menuruni anak tangga guna menghampiri mereka, memberikan keduanya pelajaran seperti yang memang sudah direncanakannya semenjak tadi.

 

Brengsek! Rendahan! Murahan! Batin Sehun entah pada siapa.

Sayangnya bagi Sehun, sebab langkah terhuyungnya sebab mabuk ia tidak bisa segera turun hingga saat tiba di lantai pertama rumahnya hanyalah sosok Suzy yang ditemuinya dan itupun hampir masuk ke dalam kamarnya.

“Darimana saja kau?! Siapa pria itu? Selingkuhamu?!” Rentetan pertanyaan memojokkan langsung terdengar dari bibir Sehun dan Suzy hanya menggeleng tidak peduli dengan itu, apalagi bau bir menyengat tercium dari badan suaminya dan Suzy tidak inginn terluka lagi hatinya mendengar tiap makian juga umpatan tanpa henti pria itu..

“AKU BERBICARA PADAMU BAE SOO JI! KENAPA KAU TIDAK MENDENGARKANKU BRENGSEK!”

 

 

 

Prang

 

 

 

 

“KAU MENANTANGKU HUH? KAU BERANI PADAKU SEKARANG?! KARENA PRIA ITU? AKU AKAN MEMBUNUHNYA! KAU DENGAR?! AKU AKAN MEMBUNUHNYA!”

 

Suzy menautkan kedua tangannya dan ia letakkan pada perutnya dengan ucapan macam tidurlah nak, jangan dengarkan ucapan appamu, tidurlah sayang.

Belaian lembut tangan Suzy pada perutnya tampak sekedar menenangkan janinnya, juga menenangkan dirinya sendiri. Sehun tidak akan berhenti sampai disini dan dirinya tahu itu, maka tidak ada alasan baginya untuk bertahan disamping Sehun dan seperti yang Myungsoo katakan padanya tadi, sebaiknya ia keluar dari rumah ini demi bayi dalam kandungannya, demi ketenangannya juga. Sehun tidak bisa ditebak dan bisa lebih menakutkan dari ini.

Perih di salah satu telapak kakinya membuat Suzy menunduk, melihat ada apa kiranya hingga terasa perih disana dan siapa yang menyangka jika lemparan botol Sehun tadi benar-benar melukainya?

Suzy masih terkejut dengan segala hal cepat yang terjadi ketika tidak sadar bahwa Sehun berjalan cepat dan menarik lengannya kasar, membuat wanita yang masih dilanda keterkejutan sebab sikap menakutkan suaminya yang makin menakutkan itu bergetar ngeri.

Untuk kali ini, Suzy tidak bisa memasang muka tembok dengan mengabaikan segala hal, ia tidak bisa menyembunyikan sedikitpun rasa takut dan khawatirnya sementara pria yang kini mengapitnya erat itu tampak bagai orang gila. “Jadi aku harus begini agar kau menurut dan takut padaku? JADI AKU HARUS SEKASAR INI TERLEBIH DAHULU?!”

 

 

Plak

 

 

 

Keberanian darimana itu jangan tanyakan. Suzy tidak tahu bagaimana bisa tangannya melayang begitu saja dengan ringannya menyentuh pipi suaminya yang sangat keras saat ini, tidak selembut biasanya ketika ia menyentuhnya.

Suzy mundur perlahan bersama terlepasnya pegangan Sehun padanya karena tamparan tadi. meski pada akhirnya ia sudah berada agak jauh dari suaminya, rasa takut tetap menjalar dalam diri Suzy apalagi tidak ada siapapun di rumahnya. Pekerja rumah tangga hanya akan ada di rumahnya hingga siang, setelah semua tugas mereka selesai maka tidak ada alasan untuk tinggal kecuali ada sesuatu hal khusus.

Maka jadilah Suzy sadar bahwa ia hanya berdua bersama Sehun, suami tercinta namun brengsek yang harusnya tidak ia buat makin marah dengan tamparan barusan.

 

 

Nafas Suzy memburu, keringat dinginnya keluar begitu saja menatap Sehun yang masih mematung tidak bergerak. Sebelah tangannya Suzy gunakan untuk menyentuh perutnya dan sebelah tangannya lagi bergetar nyeri padahal ialah yang menampar Sehun. Warna kemerahan pada telapaknya membuat Suzy bergidik ngeri, beginikah suaminya ketika marah?

“Kau!” Tunjuk Suzy gemetar. “Jangan berani mendekatiku lagi!”

“Kau?! JANGAN BERANI MENDEKATIKU LAGI KATAMU?!” Gemeretak gigi Sehun menggoyahkan keberanian Suzy, bekas tamparannya pada pipi putih itu mulai tampak dan makin membuat suaminya ini menakutkan dibanding sebelumnya.

Jika sebelumnya Sehun yang sangat membenci tatapan marah Suzy, maka kali ini sebaliknya. Tubuh Suzy bergetar hebat hingga lemas dan merosot ke lantai begitu saja hanya karena tatapan bagai iblis itu. Jangan tanyakan apakah Suzy mengeluarkan air mata yang mati-matian tidak dikeluarkannya selama ini karena nyatanya, air mata itu tidak ubahnya air terjun yang mengalir bebas.

“Sehun-ah.”

“Ya. Sehun-ah, begitu harusnya kau memanggilku. Sehun-ah, panggil aku dengan lembut seperti barusan.”

“Se—Sehun-ah, Sehun-ah, andwae, Sehun-ah andwae.” Gelengan kepala cepat sebagai tanda penolakan harusnya Sehun pahami, namun sayangnya otak pria itu tidak pada tempatnya hingga uluran tangannya untuk menyentuh kulit putih susu istrinya yang menjadi alasan Suzy ketakutan tetap dilakukannya.

Mirip pembunuh menakutkan, begitulah Sehun memandang Suzy kali ini, sangat cukup untuk membuat istrinya sendiri itu gemetar membayangkan apa yang akan suaminya lakukan. “Mianhe aku menamparmu, aku hanya terkejut dengan apa yang kau lakukan. Mianhe Sehun-ah, jangan sakit aku, jangan sentuh aku.”

“Akupun terkejut dengan apa yang kau lakukan.”

“Sehun-ah.” Sebut Suzy beberapa kali sembari menghapus air matanya dengan tangan yang bergantian di tangkupkannya seolah memohon.

“Kau menghindariku, menamparku, dan menyelingkuhiku.”

“Ania—ania Sehun-ah, jebal.”

“Ania? Jebal? BUKAN ITU YANG AKU MAU! AKU MAU KAU KATAKAN SESUATU! KATAKAN KENAPA KAU MENYELINGKUHIKU?!”

“Sehun-ah……………” Dengan reflek Suzy memeluk kaki Sehun dihadapannya, berharap sedikit belas kasih dari pria yang dulunya selalu berkata cinta padanya ini, menghalangi sesaat bentakan berlanjut dan tamparan yang hampir didapatnya.

“BERDIRI!” Bentak Sehun menarik cepat lengan istrinya agar bangkit karena sungguh, permintaan maaf bahkan mengemis ampunan tidak akan pernah dijawabnya dalam waktu dekat. “Kau tahu apa hukuman bagi penghianat? Hukuman bagi istri tidak tahu diri? APA KAU TAHU APA HUKUMANNYA?!”

“Sehun-ah.” Kedua tangan Suzy memegang kerah baju suaminya erat, wajah wanita itu makin memucat dan Sehun tidak akan bisa melihatnya dalam keadaan marah seperti saat ini, pikirannya terlalu dipenuhi rasa marah hingga hal nyata macam rintihan sakit dari bibir yang selalu dirindukannya itu tidak terdengar.

“KEMARI! KAU AKAN DAPATKAN HUKUMANMU SAAT INI JUGA!”

“Sehun-ah andwae, jebal dengarkan aku.”

“Kau pikir aku peduli?!”

“Sakit. Sehun-ah…..”

“DIAM! SUDAH AKU KATAKAN KAU AKAN HIDUP MENDERITA BERSAMAKU SELAMANYA!”

“Sehun-ah, tolong…aku bersungguh-sungguh. Anak kita, sakit.”

Sehun tertawa mendengar ucapan aneh Suzy, masih dengan kasarnya ia tarik Suzy memasuki kamarnya sendiri dan memberikannya pelajaran seperti yang dimaksud. Tidak peduli berapa kali Suzy berteriak, tidak peduli berapa kali Suzy mengemis dan memohon untuk dilepas, Sehun yang memang tengah dipengaruhi alkohol juga kemarahan hanya ingin melakukan apapun yang diinginkannya.

Mungkin esok baru pria itu tersadar, mungkin esok pria itu baru menyesal saat tidak ada sisa pengaruh alkohol dalam tubuhnya, saat semua kemarahannya telah dilampiaskan malam ini pada tubuh tidak berdaya yang penuh luka.

Saat itulah, semua hal sudah terlambat.

 

 

 

Aku tahu ff ini bahasanya lumayan kacau dan feelnya kurang ;(

Tapi aku lebih tahu kalau gak sekarang aku gak bisa pos –” ini aka aku kerjain semalaman sekalian nyusun skripsi *ketauaan tua

jadi yang ingin aku bilang adalah, kalau ada kesempatan lagi bakal aku edit sekalian post bagian keduanya

terimakasih sudah membaca dan maaf gak bisa balas komen kalian satu2. tapi kalau ada kesempatan aku balas kok. asal gak tanya gimana lanjutannya pasti aku balas. hahahaa ^^

51 responses to “#HunZy Story 1. Bastard

  1. Hiks”,,kenpa hrus ad Ffny Hunzy yg Feelny dpet bnyk kya gni jdi Baper bcany,,,Good job thor go go semangat

  2. Hiks,,Ff Hunzyny Sedih bnget smpe Baper aku bcanya ,,good job Thor Go go semangat buatny

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s