#HunZy Story 2. I’m Not Bastard

im not bastard copy

Title : I’m Not Bastard

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast : Oh Sehun, Bae Suzy

Support Cast : Kim Myungsoo, Kim Soo Hyun

Genre : Marriage Life, Hurt

Rating : PG

Previous: 1. Bastard

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Jika di ibaratkan, ayam jantan baru saja berkokok melihat cahaya keemasan di ujung bumi ketika Suzy mendapat kesadarannya kembali. Wanita dengan mata bengkak itu mulai menggerakkan jemarinya perlahan yang terasa sakit, tampaknya keadaan jari indah yang selalu ia rawat itu tidak berbeda jauh dengan keadaan bagian tubuh lainnya, luka. Rintihan bibir Suzy langsung terdengar dengan kening berkerut, bukan hanya sebab luka tampak di atas kulitnya, namun juga karena nyeri menusuk di bagian bawah perutnya, satu hal yang membuatnya tersadar entah dari tidur atau pingsan disebutnya.

Suzy menangis terisak saat ini padahal keadaan sebelah matanya begitu memprihatinkan hingga tidak seharusnya ia mengeluarkan air matanya. Suzy akui, mata kirinya memang terasa sakit dan makin sakit ketika air matanya keluar. Namun bagaimana juga Suzy tidak bisa menahan isaknya, air matanya keluar begitu saja mengingat perlakuan kejam Sehun semalam bercampur dengan rasa takut sebab sakit pada bagian bawah perutnya, ketakutan yang membuatnya tidak memiliki alasan untuk tidak menuangkannya dalam tangis.

Suzy coba bersuara—berteriak bahkan, meminta pertolongan siapapun di luar kamar yang bisa membantunya terlepas dari Sehun meski ia tahu bahwa hari belum terang hingga tidak mungkin ada orang lain di rumah selain Sehun. Sekali lagi, malangnya Suzy karena suaranya bahkan tidak keluar sebagaimana seharusnya dan lagi bibirnya terasa perih ketika terbuka. Bagaimana keadaan atau bahkan tampilannya saat ini Suzy tidak tahu dan tidak ingin menebak. Satu hal yang pasti adalah menakutkan karena bagian kulit mata serta bibirnya ia rasa menebal dan begitu sakit jika digerakkan sedikit. Kedipan mata sedikit saja membuat Suzy hampir berteriak, apakah keadaan mata kirinya begitu parah ia tidak tahu karena untuk saat ini tidak bisa berfungsi sebagaimana seharusnya.

Suzy menelan ludahnya dan sekali lagi ia merasakan sakit ketika melakukan itu. Ingatan saat semalam Sehun mencekiknya kuat muncul, membuat tangis menyedihkannya lebih tampak dan tampaknya itu adalah alasan kenapa lehernya begitu sakit untuk digerakkan juga tidak bisa mengeluarkan suara sebagaimana seharusnya dari kerongkongan.

Tidak lebih kencang dari bisikan angin laut, Suzy merintih dalam tangis menyesalnya. Posisi menelungkup yang saat ini terjadi membuat batinnya perih, ia ingin membalik badan dan mengamankan bayinya yang mungkin terhimpit disana hingga berontak dan membuat perutnya kesakitan. Suzy tidak mau membahas tentang pukulan juga lemparan benda keras yang Sehun arahkan padanya, Suzy juga tidak mau berpikir bahwa salah satu tendangan suaminya semalam membuat bayinya kesakitan, Suzy bahkan tidak mau memikirkan akhir buruk dari sesuatu hal buruk karena pikiran buruk benar-benar akan berakhir buruk. Sebagai ganti dari pengalih perhatiannya, wanita itu menangis layaknya anak kecil meski tanpa suara kencang sementara pria menakutkan yang masih tidur tenang disampingnya tidak menunjukkan ketajaman indra pendengarannya.

Sebelah tangan Sehun berada di atas pinggul polos Suzy, pria itu meletakkannya tanpa tahu bahwa hal tersebut menambah beban berat pada sesuatu yang tidak boleh tertimpa oleh apapun karena yang diketahuinya hanya merangkul Suzy agar tidak pergi darinya, menunjukkan kepemilikan serta kuasanya pada wanita itu yang sebenarnya tengah berusaha menggerakkan badannya dengan sakit di seluruh tubuh yang harus berani ia lawan dan abaikan, Suzy harus telentang dan hal berat macam lengan Sehun haruslah ia singkirkan segera.

Namun nyatanya itu tidaklah mudah. Suzy tidak bisa melakukannya, bukan hanya badan penuh luka sakit serta lengan Sehun yang menghimpitnya, kedua tangannya yang diikat kebelakang makin menyulitkan gerak berbaliknya hingga ia tetap pada keadaannya seperti sebelum ini dengan pasrah. Tangis wanita tanpa busana itu masih terdengar bahkan makin menjadi saat Sehun menggosok telinganya, seolah tangisan menyedihkan itu adalah hal mengganggu.

Suzy melihat perilaku Sehun, ia lebih dari tahu bahwa pria yang telah dinikahinya selama beberapa waktu ini memang tidak suka diganggu saat tengah terlelap, suara sekecil apapun bisa membuatnya marah dan Suzy tidak bisa menyenangkan Sehun dengan menghentikan tangisnya kali ini, wanita itu tidak bisa tidak mengganggu tidur suaminya. Sungguh demi apapun, Suzy rasa seluruh tulang dalam tubuhnya remuk dan semua itu harus di tambah dengan perih makin menusuk yang kemudian membuatnya terhenyak.

Untuk beberapa saat Suzy terdiam, tangisnya terhenti seketika dengan mata membulat meski mata sebelah kirinya buram karena tertutup bengkak buah dari pukulan tanpa pikir panjang Sehun semalam.

 

Anakku,

 

 

“Sehun-ah…….Sehun-ah bangun. Sehun-ah……bangun aku mohon….aku tidak mau kehilangan anak kita. Bangun aku mohon.” Suzy memanggil Sehun lirih masih dalam tangis dengan memaksakan pita suara bengkaknya bekerja. Sakit bahkan perih, dua hal itu langsung terasa namun bagaimanapun semua itu tidak sebanding jika harus ditukar dengan bayinya.

Suzy menyadari bahwa pria yang berada disampingnya, pria yang juga membuatnya berakhir seperti saat ini adalah satu-satunya orang yang bisa ia mintai tolong sekarang. Fakta lain bahwa Sehun melakukan hal menakutkan semalam karena pengaruh alkohol membuatnya berharap bahwa saat pengaruh alkohol itu menghilang, ia akan kembali menjadi suaminya yang bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit. “Sehun-ah bangun……Sehun-ah……..”

Entah teriakannya akan membuat Sehun terbangun atau tidak, entah pula apakah teriakannya akan membuat pita suara yang rasanya bengkak menjadi rusak atau tidak, Suzy tidak peduli. Kedua tangannya masih terikat ke belakang seperti semalam dan yang bisa ia lakukan untuk menolong bayinya hanya berteriak, melakukan apapun meski suaranya bisa saja menghilang nantinya.

“Oh Sehun bangun. Oh Sehun! BANGUN! BANGUN BODOH!”

“Berisik!!!” Umpatan diikuti lemparan keras bantal pada wajah Suzy kembali menunjukkan kekasaran pria itu. Tattoo Sehun di sepanjang lengan hingga siku, sekitar punggung dan pinggang berikut tindikan di telinganya menggetarkan hati Suzy, kembali wanita itu menangis sejadinya saat ingat ketidaksukaan oppanya dulu pada Sehun dan rasa menyesal baru ia rasakan sekarang.

 

 

Kau tahu dia itu siapa? Dia adalah cucu Oh Se Joong! Kau tahu nama siapa itu? MAFIA! Dia adalah pewaris tunggal seorang mafia terbesar saat ini! Apa perlu aku jelaskan bagaimana latar belakang keluarganya? Bagaimana kedua orang tuanya terbunuh? Atau perlu aku jelaskan pula bagaimana pekerjaan seorang mafia itu? Membunuh! Menjuala narkoba! Senjata api! Perdagangan manusia! Kau pikir aku akan mengijinkanmu menikah dengannya?!

 

 

Suzy tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah juga menyesalnya kini setelah apa yang terjadi, ucapan oppanya kembali terngiang jelas di telinganya, membuat ia tidak bisa dan bahkan tidak tahu bagaimana memperbaiki semua ini apalagi jika bayinya benar-benar tiada sebab appanya sendiri. Tapi jikapun memang begini kisahnya, maka ia akan mengakhirinya sebagaimana ia memulainya. Berada di samping Sehun tidaklah benar secinta apapun dirinya pada pria tampan tersebut, Suzy harusnya sadar bahwa ia tidak bisa menjadikan anaknya sebagai alasan untuk tetap berada di samping pria itu seperti 2 bulan ini karena akhirnya seperti ini. Jikapun menjadikan anaknya sebagai alasan, maka harusnya itu adalah untuk meninggalkannya, menjauhkan anaknya dari orang berbahaya macam Sehun. Pilihan meninggalkan Sehun harusnya ia ambil, bukan hanya menjauhinya tapi benar-benar pergi.

Andai saja dirinya lebih berani meninggalkan pria ini maka cairan kental dengan bau anyir yang membuatnya merasakan pusing sekaligus sakit makin menjadi tidak akan pernah terjadi. Andai saja dirinya pergi segera dari sisi Sehun begitu melihat foto menjijikkan itu, maka pagi ini ia tidak akan memiliki pikiran juga rasa takut kehilangan bayinya.

“Aku hamil anakmu. Aku mohon bangunlah. Bawa aku ke rumah sakit atau dokter mana saja. Aku sedang berdarah Oh Sehun, anak kita kesakitan dalam perutku. Bangunlah suamiku, bangunlah chagiya.” Rintih Suzy dengan air mata mengalir tanpa henti. Sesekali wanita itu sesenggukan sebab sesak dalam diri juga dadanya.

Bukan hanya karena sebelah mata kirinya yang bengkak pandangan Suzy mengabur, tubuhnya yang kesakitanpun dirasanya makin melemah dan punggung putih Sehun yang bergerak naik turun ingin ia sentuh namun kedua tangannya terikat dan sama sekali tidak bisa melakukan itu. Tapi jikapun bisa menggerakkan tangannya, Suzy tidak akan membangunkan Sehun namun lebih memilih mengambil ponselnya dan menelfon siapapun yang bisa menolong.

“Sehun-ah, kejutanku untukmu dalam bahaya. Tolong buka mata dan telingamu aku mohon.” Ujar Suzy lebih pelan dan halus dibanding sebelumnya, ia benar-benar tidak memiliki tenaga dan sungguh tidak mungkin baginya untuk berteriak lagi mengingat tenggorokannyapun makin sakit ketika melakukan itu. “Sehun-ah……Oh Sehun, bangunlah chagiya. Tolong aku dan anakmu, kami membutuhkanmu. Sehun-ah…….”

“Kau itu berisik sekali. Ada apa sih?!” Bantingan lampu meja sebagai satu-satunya hal terakhir yang masih utuh di kamar itu pada akhirnya berakhir sama dengan barang-barang lainnya.

Sehun mengacak rambutnya geram dan duduk menghadap Suzy yang menatapnya dalam keadaan menyedihkan. Pria itu terheran-heran untuk sesaat, pandangannya mengedar perlahan pada seisi kamar yang sangat kacau berbeda dari kemarin ataupun hari-hari sebelumnya dimana sangat bersih dan rapi. Tidak ada lagi tirai renda berwarna putih indah yang menjadi favorit Suzy, benda itu lebih pantas disebut keset ataupun serbet saat ini.

Sehun menelan ludahnya sendiri dengan kekacauan yang baru ia sadar bahwa dirinya sendirilah penyebabnya. Begitupun dengan keadaan miris Suzy yang harusnya tidak pernah terjadi akibat tangannya.

“Su—Suzy-ah. Bae Soo Ji—kau. Ba—bagaimana bisa? Apa yang sudah aku lakukan?”

“Tolong. Sakit.” Bohong jika Sehun tidak mendengar rintihan pelan itu. Masih dengan keadaan terpukul dan tidak percayanya, Sehun melepas cepat rantai besi yang mengikat tangan istrinya dengan bergetar.

Mata pria itu memerah dan siapapun bisa melihat tangisnya, dia balikkan tubuh Suzy dan membawanya masuk dalam pelukannya sementara luka makin menyedihkan juga rintihan wanita itu terdengar sesaat setelah masuk dalam dekapannya.

 

 

 

Meskipun terlambat, Suzy lemparkan senyumnya pada Sehun yang sudah kembali menjadi suaminya seperti dulu. Pria itu tidak menunjukkan apapun pada wajahnya selain khawatir dan takut bersama aliran air mata melihat tubuh lukanya.

Suzy menarik nafas dalam, kini perutnya terasa sakit tiap kali mengambil nafas dan tetes air mata Sehun ia hapus dengan jemari lukanya. Suzy tersenyum kecut melihat beberapa kukunya patah, tahu sudah ia kenapa jemarinya bisa terasa begitu perih.

“Su—Suzy-ah. Apa yang sudah aku lakukan padamu? Mianhe, aku tidak sadar. Maafkan aku Suzy-ah, apa yang sudah aku lakukan padamu?!”

Suzy menormalkan nafas beratnya. Wajah Sehun di atasnya bersama sentuhan jemari bergetarnya jujur saja membuat wanita itu ketakutan jika mengingat hal semalam. Namun dirinya tidak bisa terus mengingat hal itu dan membicarakannya saat ini, ada hal lebih penting dari semua itu untuk dikatakan pada pria dengan keterkejutan yang masih menguasainya. Entah apakah memang anaknya menginginkan pelukan appanya atau karena apa Suzy tidak tahu sebab dia bukan orang kesehatan. Namun saat Sehun memeluk tubuhnya erat dengan kekhawatiran terjelasnya seperti saat ini, perut yang tadi begitu nyeri itu mulai tidak merasakan apa-apa sedikit demi sedikit.

“A—nak. Hhh—anak kita.”

“A—apa? Apa? Aku tidak mendengar yang kau katakan. Apa katamu?” Sehun dekatkan telinganya pada bibir bengkak Suzy yang terbuka sedikit, keadaan wajah istrinya yang hampir tidak dikenali sebab pukulan gilanya semalam membuat batin juga jiwanya kacau.

Sehun menangis untuk pertama kalinya, ia tidak tahu bahwa bisa sinista ini hingga membuat istrinya dalam keadaan menyedihkan. Sehun mengutuk dirinya sendiri, ia bahkan akan mati andai sesuatu hal buruk terjadi pada wanitanya.

“Anak kita. Ke—ju—tan—nya. Khhhhh—hh….”

“Anak?” Tubuh Sehun makin bergetar mendengar kalimat terbata istrinya itu, tangannya makin bergetar menyentuh perut membuncit yang beberapa waktu lalu dikatainya mirip babi. “Anak? Suzy-ah, apa maksudmu huh? Anak? Milik kita? Kau hamil? Kenapa tidak kau katakan padaku? Suzy-ah? Cha—chagiya, kenapa kau tutup matamu huh? Kenapa tidak kau jawab aku? Bae Soo Ji. Ya Bae Soo Ji! Bangun! Ini tidak lucu sumpah! Suzy! BANGUN! BUKA MATAMU! SUZY!”

Sehun meraung bagai singa kehilangan mangsanya dalam kamar berantakan itu, beberapa kali ia guncangkan tubuh Suzy namun tidak ada respon sama sekali dan itu membuatnya hampir gila.

 

 

 

“Su—.” Gerak tangan Sehun yang akan menyentuh wajah istrinya terhenti, ada sesuatu hal ditangannya yang kemudian membuat pandangannya terarik ke bagian bawah tubuh istrinya.

 

Darah,

 

Tidak menunggu waktu lebih lama terbuang, jubah tidur berwarna hitamnya segera Sehun kenakan begitupun milik Suzy yang dipakaikannya asal hanya untuk menutup tubuh polos itu.

Dengan cepat Sehun menuruni anak tangga rumahnya, keadaan masih begitu sepi dan matahari belum sepenuhnya tampak bahkan. Sehun menangis seorang diri dengan Suzy dalam gendongannya, segera ia ambil kunci mobilnya dan menyalakannya, membawa Suzy masuk kedalam dengan berada dalam pangkuannya seperti saat ini. Sehun tidak ingin kehilangan sesuatu hal berharga dan hal merepotkan macam menyetir sambil memangku tidak lagi merepotkan jika keadaanya seperti ini.

Berkali-kali Sehun kecup lembut istrinya dan berkali-kali pula ia memanggil nama wanita itu dalam tangis namun sungguh, tidak ada respon sama sekali darinya. Darah dari kemaluan istrinya makin keluar banyak hingga membasahi jubah dan bahkan turun ke kakinya. sehun merasakan aliran darah yang menuruni kakinya itu dengan ketakutan terbesar dalam dirinya. Bibir Suzy mulai membiru dan Sehun sudah siap menabrakkan diri hingga hancur andai istrinya tidak selamat.

Entah apakah sepagi ini akan ada dokter atau tidak di rumah sakit tujuannya, namun jika mereka masih memintanya menunggu, atau berkata bahwa Suzy dan bayinya tidak selamat, pistol berwarna silver sudah disiapkannya untuk mengubah jawaban itu.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Bugh

 

 

Satu pukulan keras Soo Hyun mendarat mulus di wajah Sehun. Tidak cukup dengan itu, adik ipar yang sudah tersungkur di lantai rumah sakit kini itu mendapat tendangan kerasnya hingga berguling ke sisi lain lantai rumah sakit.

Sehun diam dan menerima segala amuk Soo Hyun selaku kakak iparnya, ia akan menerima segala macam bentuk hukuman atas apa yang sudah dilakukan pada Suzy juga calon bayinya.

“Apa kau manusia! JAWAB AKU BRENGSEK!”

 

Bugh

 

Sehun menghela nafas sesak dengan air mata menyesal yang entah kapan akan berhenti mengalir, meskipun ia rasa makian juga pukulan Soo Hyun belum cukup untuk menebus semua yang telah ia lakukan pada Suzy, kenyataan beberapa perwat dan dokter rumah sakit itu yang memegang pria itu membuat Sehun tidak lagi merasakan sakit seperti yang istrinya terima semalam.

Sehun bersandar lemas pada tembok sampingnya, lampu ruang operasi masih menyala dan ia tidak tahu akan sampai kapan menunggu dengan takut seperti saat ini.

Suara Soo Hyun menghilang perlahan dari lorong tempatnya berada, sebagai ganti makian kakak iparnya itu, ketukan suara berirama yang tidak mungkin dilupakannya terdengar. Harabeoji.

 

 

 

Posisi Suzy serta siapa wanita itu bagi kakeknya sangat Sehun ketahui. Seperti cucunya sendiri, begitulah kakeknya mencintai Suzy sebagaimana pria tua itu mencintainya. Tongkat dengan ujung runcing berwarna emas sudah berada dia atas kepalanya dan Sehun masih diam menunduk dengan keadaan bersimpuh. Sungguh demi apapun pria itu tidak memiliki tenaga apapun, tubuhnya masih berbalut jubah tidur tipis dengan hampir keseluruhannya berwarna merah sebab darah Suzy, sebelah kaki pria itu bahkan masih memperlihatkan darah mengering Suzy.

Sehun terima, akan terima semua hukuman yang dirasa pantas dan tidak akan melawan sedikitpun.

“Kau tahu salahmu?!” Tanya Tuan Oh dihadapan cucunya yang bersimpuh dengan kepala tertunduk bersalah.

“Ne.”

“Bukankah sudah aku bilang jangan gunakan kekerasan lagi? Bukankah sudah aku katakan untuk menjauhi alkohol dan segala macam hal buruk lainnya? Bukankah sudah aku katakan untuk memulai hidup baru?! Jangan tiru aku dan orang tuamu! Apa pernyataanku saat kau menikah waktu itu kurang jelas?!”

Kepala Sehun makin merunduk salah, ia sama sekali tidak bisa menjawab atau bahkan memiliki sesuatu hal untuk dijadikan pembelaan. Jikapun ia harus berucap sesuatu maka satu-satunya yang ajan terucap adalah ya, dirinya salah dan pantas dihukum. Ya, dirinya salah sebab melakukan hal buruk. Ya, dirinya salah karena mengulang sejarah tentang siapa keluarganya.

“Aku siap untuk dihukum.”

 

 

“Kau sudah mendapatkannya.”

Soo Hyun kembali muncul dengan emosi yang lebih stabil. Sehun mengangkat wajahnya sekaligus berdiri dari simpuhan pasrahnya. Meski pandangan benci dalam diri Soo Hyun masih terlihat, namun ia tampak tenang seperti dirinya yang biasa kini. Langkah kaki pria itu makin mendekat ke arah Sehun dan Tuan Oh, pandangan remeh dan benci yang entah kapan akan menghilang tampak.

“Aku mendapatkan apa?” Tanya Sehun tidak mengerti.

“Hukumanmu adalah bercerai dengan adikku. Menjauhinya. Tidak berhubungan lagi dengannya!”

“Mwo?!”

“Tu—tunggu sebentar Soo Hyun-ssi.” Tuan Oh menepuk pelan pundak Soo Hyun dan memundurkan langkah pria muda tersebut, menjauhkannya dari Sehun yang sudah memucat wajahnya siap untuk menangis dan mengiba lagi. “Ini masalah rumah tangga mereka.”

“Apa anda akan membiarkan adik anda satu-satunya mendapat perlakuan macam ini? Dia hampir mati! Bahu adikku retak! Dia bahkan hampir membunuh bayinya sendiri! Apa aku perlu alasan lebih untuk memisahkan mereka?” Tuan Oh memejamkan mata tuanya. Soo Hyun berhak mengatakannya sebagai seorang oppa dan sama sekali bukan salahnya jika kemudian melakukan ini.

Pria tua dengan tongkat ditangannya itu menoleh pada Sehun, cucunya itu sudah terduduk lemas dengan kepala yang kembali tertunduk. Kiranya ia benar-benar menyesal dan berpikir bahwa lebih baik baginya meninggalkan Suzy, toh istrinya itu sudah menemukan pria baik yang tidak akan menyakitinya.

 

“Sebaiknya kita bicarakan ini saat Suzy sudah sembuh.”

“Anda sedang mengulur waktu?”

“Mereka saling mencintai, ada anak di antara mereka.” Soo Hyun tersenyum sinis dan Sehun merinding mendengar pembelaan kakeknya. Mencintai, mana mungkin mencintai tapi berlaku sekejam ini? Anak? Yang hampir dibunuhnya?

“Beri aku satu alasan lain kecuali anak juga cinta. Itu sudah tidak mempan padaku.”

 

 

“Hyung!” Satu tokoh penyebab dari sebagian alasan mereka semua berada di rumah sakit muncul. Sehun langsung berdiri dari duduknya, diri menyedihkannya sudah tidak tampak lagi begitu melihat kedatangan Myungsoo, pria yang Suzy akui selingkuhannya.

Meskipun nyatanya Sehun katakan bahwa ia bisa lepaskan Suzy agar bahagia, nyatanya ia tidak bisa melakukan semua itu saat bertatap muka dengan Myungsoo. Kepala tangannya kembali tampak dan Tuan Oh segera merentangkan tongkatnya menahan langkah Sehun pada Myungsoo.

“Suzy baik-baik saja?” Pertanyaan menjijikkan dalam pendengaran Sehun dari Myungsoo ingin segera dijawabnya dengan pengusiran. Namun Sehun tidak bisa melakukan itu tentu saja, posisinya tidak dalam keadaan baik dan pandangan pria lebih pendek darinya itu mengarah tajam padanya. “Setelah kau menyelingkuhi Suzy, teganya kau melakukan ini padanya!”

“Kau pikir dirimu siapa!”

“HENTIKAN!” Bentakan keras Tuan Oh masih berpengaruh tampaknya meskipun ia sudah sangat tua. Sehun sudah membuang muka kesal dan Myungsoo yang masih dipenuhi emosi sama seperti Soo Hyun tadi ketika baru datang mundur secara paksa akibat tarikan orang yang dihormatinya. “Kalian pikir semua akan selesai dengan berkelahi?! OH SEHUN!”

Pandangan tajam Tuan Oh langsung berpaling pada cucunya mendengar sesuatu yang mengganggu indra pendengarannya. “Dia bilang kau berselingkuh. Apa benar begitu?!” Baik Tuan Oh, dan bahkan Soo Hyun sekalipun menunggu jawaban pria itu.

Alis rapi Sehun mengerut, persis seperti yang Suzy katakan beberapa waktu lalu bahwa dirinya berselingkuh. Sungguh, dirinya sama sekali tidak pernah melakukan semua itu.

“Aku tidak pernah melakukannya. Justru Suzy yang berselingkuh dengannya. Kalian pikir aku akan marah pada wanita yang aku cintai tanpa alasan jelas?”

“Kami?” Myungsoo menunjuk dirinya sendiri heran. “Kenapa jadi aku dan Suzy? Kami adalah sahabat sejak sekolah. Jelas-jelas kau yang berselingkuh! Suzy mengatakan padaku bahwa ia menemukan foto dirimu dan seorang wanita di ranjang kamar hotel, dan lagi kemarin siang kami melihatmu makan bersamanya di restoran Inggris. Apa yang coba kau elakkan?!”

 

 

 

 

“Damn it.” Makian lemas yang terlontar dari bibir Sehun harusnya pembelaan diri ataupun penolakan atas tuduhan barusan, namun sayangnya pria itu lebih memilih melontarkan kata macam itu setelah sepi menyerang selama beberapa detik.

“Benar? Apa itu benar?!”

“Soo Hyun-ssi.” Tuan Oh kembali menghalangi tubuh Soo Hyun yang akan mendekati cucunya, emosi pria itu kembali naik setelah mendengar penuturan Myungsoo dan lagi Sehun justru berkata begitu seolah ia memang telah melakukan salah. “Ya Oh Sehun! Apa yang Myungsoo katakan benar? Kau menghianati adikku?!”

“Sumpah demi kedua orang tuaku yang sudah meninggal aku tidak pernah menyelingkuhi Suzy. Foto itu, wanita yang kemarin itu………astaga! Jadi dia marah padaku selama ini karena foto konyol itu? Dia menjauhiku karena berpikir bahwa aku menghianatinya?! Benar-benar!”

“Jelaskan padaku sekarang.” Geram Soo Hyun tanpa bisa dihalangi, satu tangannya menarik kain tipis yang membungkus tubuh Sehun erat dan akan segera melayangkan tinjunya andai jawaban pria itu tidak memuaskan.

“Wanita yang Suzy lihat di laptop juga restoran kemarin adalah sama. Dia adalah sekretaris pribadiku, Han Mi Rae. Kami berfoto setelah bertemu client asing. Kamar itu bukan kamarku tapi kamar clientku. Bukan hanya aku yang ada disana, semua anggota rapat ada disana untuk merayakan beberapa persetujuan yang sudah disepakati. Mi Rae bertengkar dengan mantan kekasihnya saat itu, mantannya ingin kembali tapi Mi Rae tidak mau. Dia memintaku membantunya, berfoto berdua dan kemudian bisa dia tunjukkan pada mantannya itu untuk berhenti mengganggu. Karena sofa ruang hotel sudah penuh, maka kami berfoto di atas ranjang. Jika kau lihat fotonya, itu di ambil oleh orang lain dan bukan kami bahkan. Ada banyak orang disana. Suzy hanya melihat satu foto kurasa. Kemarin juga kami makan di restoran tidak sendiri, seorang karyawan kantorku mengadakan ulang tahun anaknya disana. Mi Rae dan aku datang terlambat karena ada urusan mendadak dengan seorang investor. Saat kami sampai disana meja sudah penuh karena itu aku duduk bersamanya.”

“Kau serius?”

“Auh……” Sehun mengerang frustasi meremas rambutnya sendiri. Semua tidak akan begini jika saat Suzy menuduhnya selingkuh ia tidak mengiyakan.

“Lalu lipstick itu. Suzy juga mengatakan padaku tentang lipstick dipakaianmu.”

”Aku sedang memilih perhiasan untuk Suzy saat tiba-tiba seorang wanita disampingku pingsan. Apa ini cukup? Apa jawabanku memuaskan?! Sungguh aku tidak berselingkuh! Tidak pernah!” Urat di leher Sehun hampir keluar ketika mengatakan pembelaannya dihadapan mereka semua.

Pria itu kembali terduduk lemas, ia tidak menyangka bahwa semua masalah ini hanya berawal dari kekonyolan. Lagipula kenapa Suzy yang biasanya begitu leluasa mengatakan apapun yang ingin dikatakannya justru lebih memilih diam saja? Kenapa wanita itu tidak mengatakan semuanya langsung seperti biasa?

Sehun menendang angin dengan kaki panjangnya, ia sungguh kesal dan benar-benar kesal. Pernikahannya dengan Suzy-pun, tidak akan ia biarkan hancur hanya karena status darah yang dimiliki Soo Hyun. Bagaimanapun caranya, entah apakah harus bersimpuh seharian seperti dulu ketika meminta restu Soo Hyun agar mau menerima lamarannya, Sehun akan lakukan segala cara demi istri dan anaknya, tidak ada sesuatu halpun yang bisa menghancurkan pernikahannya apalagi hanya karena salah paham konyol ini.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Anak anda tidak akan terlahir normal, kepalanya terbentur sesuatu hingga dia akan cacat secara mental seumur hidupnya. Jika anda menginginkannya, anda bisa mempertahankannya. Namun jika anda tidak tega melihat hidup dan masa depannya nanti, anda bisa katakan sekarang.

 

Bagaimana rasanya mendengar hal demikian?

Sehun duduk dengan pandangan kosong disamping Suzy yang masih belum siuman, hampir seluruh tubuh wanita itu di balut kain kasa dan perut buncit dimana ada anaknya disana menjadi pusat perhatian Sehun.

Bagaimana dirinya harus katakan pada Suzy? Bagaimana dirinya mendapatkan hukumannya?

Anaknnya, dirinyalah yang membuat anaknya seperti itu dan diberi pilihan untuk mempertahankannya atau tidak?

Brengsek.

 

 

 

“Sehun-ah.” Dengan gerak cepat pria itu langsung menoleh pada istrinya yang siuman. Tombol samping ranjang Suzy segera Sehun pencet untuk memanggil dokter dan suster, kiranya mereka berkata bahwa saat Suzy siuman nanti untuk dipanggil segera.

“Sehun-ah. Bayi kita.”

 

Bayi? Sehun tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Entah bagaimana Suzy masih bisa tertawa dihadapannya seperti saat ini, sebelah tangan wanita itu yang berbalut perban menyentuh perutnya, merasakan kelegaan disana karena bayinya masih dalam perutnya, kiranya ia berpikir sesuatu yang benar-benar buruk hingga berpisah dari anaknya.

“Suzy-ah.”

“Anak kita.” Tarikan tangan Suzy agar Sehun menyentuh perut bulatnya menggetarkan hati pria itu, ia tidak bisa acuh ataupun berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Tangis kencangnya muncul menakuti Suzy untuk sesaat apalagi saat Sehun langsung memeluknya dan menangis dalam pundak terlukanya.

“Maaf. Maafkan aku. Aku menyesal sungguh. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal.”

 

 

 

 

 

 

 

Suzy menarik nafas dalam, masih terasa sakit ketika dia melakukannya namun itu sedikit lebih banyak melegakan hatinya. Keningnya berkerut, pandangannya berpusat ke arah luar meski bukan hal diluar sanalah yang menjadi pusat penglihatannya.

Terhitung 3 hari dirinya berada di rumah sakit, mendengar dan mengetahui semua yang memang harus diketahuinya. Bayinya, wanita itu. Tidak pernah sama sekali dirinya merasakan menyesal hingga seperti ini. Bibir yang dimilikinya tidak ia gunakan dengan baik hingga hal seperti ini terjadi. Otak cerdasnya tidak ia gunakan untuk berpikir jernih hingga mengambil keputusan sepihak begini.

Entah bagaimana, namun semua masalah timbul darinya dan kenapa harus anaknya yang mendapat hukuman? Dirinyalah yang bersalah dan anaknya yang dihukum. Ini tidak adil.

Sehun. Sama sekali Suzy tidak bisa marah pada pria itu, meski tubuhnya berakhir menyedihkan begini dan pukulannya yang menyebabkan anaknya terluka, sama sekali dirinya tidak bisa menyelahkan pria yang sudah duduk bersimpuh di ujung ruang rumah sakit sebagai bentuk penyesalan dan minta maafnya. Sehun seperti itu karena salahnya, bukan karena keinginannya.

 

“Oppa.”

Soo Hyun menolehkan pandangannya sejenak dari potongan buah dalam tangannya pada Suzy. “Wae?”

“Aku ingin berbicara dengan Sehun.”

Hela nafas panjang Soo Hyun terdengar begitupun tolehan kepalanya yang langsung mengarah pada sosok di ujung ruangan, sosok yang sudah begitu sejak 2 hari lalu. Entah apapun yang kali akan Sehun lakukan, sama sekali Soo Hyun tidak peduli.

“Aku mohon oppa.” Melas Suzy menyentuh lengan oppanya, membuat hatinya tidak bisa menolak tidak dan ia berdiri pada akhirnya.

“Panggil aku jika terjadi sesuatu.” Pesan Soo Hyun jelas dan segera keluar dari sana setelah sebelumnya melempar tatapan benci pada Sehun yang tentu tidak bisa melihatnya, namun bisa merasakannya.

 

 

“Sehun-ah.”

“Aku bersalah. Biarkan aku melakukan ini.”

“Maka aku juga akan melakukannya.”

Pandangan merunduk Sehun terangkat, dilihatnya Suzy yang terduduk dengan wajah pucatnya seperti beberapa waktu lalu, mengingatkannya tentang tangisan histeris wanita itu tentang anaknya.

“Tidak.”

“Kemarilah aku mohon.” Sekali lagi Suzy meminta dengan tangan terulur lemah.

Sehun menelan ludahnya sendiri dan dengan langkah berat sekaligus rindu, ia dekati tubuh istrinya, duduk di ranjang yang sama dengan tangan saling berpautan.

“Lihat aku.” Suzy meminta. “Aku bersalah karena membuat kesimpulan konyol tentangmu.”

“Tapi tidak seharusnya aku memukulimu dan anak kita.”

“Ya.” Nada saling terluka yang terlempar itu menyakiti hati masing-masing. Suzy menghapus setetes air matanya yang mengalir dan makin mengeratkan pegangannya pada Sehun kemudian. “Tapi kita tidak bisa makin menyakiti anak kita dengan menggugurkannya kan? Kau tidak akan memintaku melakukan itu kan?”

“Mana bisa? Aku yang membuatnya begitu mana bisa aku menyetujui ide menggugurkan itu?”

“Kita akan merawatnya. Bersama-sama. Ini anak kita.”

“Ya.” Jawab Sehun tercekat dan memeluk Suzy erat, menangis mereka berdua disana dengan Soo Hyun yang melihat serta mendengar semuanya. Percakapan konyol namun menyentuh itu mengikatnya, membuatnya tidak setega itu memisahkan keduanya.

 

Sehun dan Suzy masih saling berpelukan dengan tangis haru bercampur sakit. Mereka saling menyentuh bergantian perut membuncit dimana ada anak mereka disana. Entah bagaimana akhirnya, mereka sendiri yang akan menyelesaikannya. Entah apakah benar nantinya anak mereka akan seperti yang dokter katakan, mereka berdua akan tetap mencintainya karena itu adalah anaknya, bayinya, buah hatinya, buah cintanya.

the end

58 responses to “#HunZy Story 2. I’m Not Bastard

  1. Ternyata semuanya cuman karena kesimpulan konyol yg dibuat suzy terus buat mereka salah paham dan yg kena getahnya malah anak mereka sendiri. Tapi untungnya mereka bisa balik lagi dan menanggung semuanya sama-sama. Aih.. nyesek jga klo ngebayangin gmna kondisi babynya nanti klo lahir.
    Hai kak^^ aku baru sempet baca ini ff *telat bnget ya*, ini rada aneh pas aku buka di email ff ini kya yang di pw gtu jdi aku coba buat tanya gmna cra dpetin pwnya. Eh pas aku cari di google ternyata ini ga di pw hehee..
    Ceritanya bagus kak apalagi ditunjang sma alur+genrenya makin kerennn. Sering2 ya kak bikin ff hunzy kya gini hihiii aku tunggu karya2 lainnya especially Hunzy🙂 Fighting!!!

  2. Semuanya cuma salah paham kan ternyata. Akhirnya mereka menyadari kesalahan masing2 dan memilih melindungi bayinya sama2, semoga aja sehat

  3. Aaaah benarkan ini hanya salah paham😦 seharusnya mereka membicarakan masalah mereka dengan kepala dingin dan jangan menghindar sebelum tahu apa yang sebenarnya😦

    Kebiasan buruk sehun aku harap bisa hilang(?) Trs harus hindari minum kalau lg mabuk sehun mengerikan :(( trs itu anak mereka gimana?😦

    Ini udh habis?😦 yaah coba msih ada lanutannya sampai anaknya lahir dan jadi keluarga yanh romantis xD

    Ditunggu ff chingu lainnya hwaiting ^o^)9

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s