[Ficlet Series] Twins 1

TWINS

Beside the story, I own nothing. All cast belongs to God and their family.

-dina-

.

.

Kedua mata tajam itu menatap dalam diam ketika sepasang pengantin yang sedang ia amati lekat, berjalan keluar dari Gereja Katedral. Bak pangeran dan tuan putri, para tamu menaburkan kelopak demi kelopak bunga mawar putih ke udara. Memancarkan kebahagiaan bagi siapapun, kecuali dia. Iya, hanya dia seorang pecundang yang menatap dari kejauhan pemandangan indah yang membuat siapapun merasakan aura bahagia.

Kau kalah, Soo. Kalimat pendek yang terakhir ia dengar dari ibunya ketika Eunhee memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria yang jauh lebih baik darinya. Bahkan Barney sahabat dekatnya rela melemparkan kata loser baginya yang memilih mundur dari pertarungan memperebutkan Lee Eunhee. Wanita dengan sorot mata penuh percaya diri, wanita yang telah dikenalnya sedari kecil ketika orang tua mereka bertemu secara tidak sengaja di negeri perantauan. Bahkan Eunhee menyerahkan dirinya pertama kali hanya untuknya. Namun apa yang terjadi kemudian di luar kendali, Eunheenya terlepas. Cinta itu perlahan pudar, menghilang ditelan kemesraan yang ditawarkan oleh Jang Haekyon. Pria atasan Eunhee yang berani menjamin jika hidup Eunhee akan lebih bahagia bersamanya.

Bukan, Eunhee bukan wanita materialistis. Ia hanya berpikir realistis jika hidupnya akan jauh lebih tertata jika hidup bersama Haekyon. Pria kantoran yang tidak pernah mengumpat, bukan seorang perokok, pria dengan segudang prestasi yang tidak ia tampakkan. Bukan salah Eunhee juga jika ia meninggalkan dia –pria dengan segala perilaku yang berkebalikan dengan Haekyon.

Mengapa kau masih merokok? Tidak baik untuk paru-parumu! Kalimat yang sering Eunhee lemparkan tatkala ia mulai menghisap puntung rokok yang hampir ia tinggalkan kala itu. Dan kali ini otaknya melanggar. Ia marah, kecewa, bahkan jika tidak ada polisi di dunia ini, ia akan dengan senang hati mengobrak-abrik pesta yang juga dihadiri kedua orang tuanya. Konyol memang. Hidup ini tidak adil untuknya, saat ini.

“Hei, kau tidak ingin memberi ucapan selamat?”

Myungsoo hanya melirik tepukan di bahu kanannya, ia tahu seorang Barney tengah mengajaknya menjadi pria yang sok kuat menerima kenyataan. Tapi tidak mungkin ia akan melakukan itu semua. Berpura-pura baik, berbasa basi. Itu semua bukan gayanya. Ia terlalu gengsi menampakkan diri seolah-olah merestui, toh aslinya ia satu-satunya orang yang menolak mentah-mentah peristiwa di hadapannya saat ini.

Myungsoo menggeleng, menampakkan wajah tidak suka. Barney bukan tidak peduli dengan sahabatnya, namun meninggalkan Myungsoo merupakan langkah terbaik saat ini. Tiba-tiba bumi seakan bergoyang, lagi ia merasakan mual tidak terkira. Penyakit yang ia alami tiap mengalami kekecewaan yang memuncak.

“Shit!” Umpatnya kemudian, lalu tanpa mempedulikan sekitarnya, Myungsoo memutuskan meninggalkan halaman katedral. Ia sangat kecewa, melebihi apapun.

“Katakan padaku, mengapa kau menyukaiku Eunhee-ya?”

“Eum, apa ya?” Eunhee memainkan rambut hitamnya, menatap kedua mata Myungsoo yang dipenuhi rasa ingin tahu.

“Kau bahkan tidak punya jawaban mengapa menyukaiku!”

“Nope, kau ini pria biasa. Tapi aku menyukaimu, itu saja cukup untukku.”

Myungsoo menyodorkan cappucino miliknya, sengaja menyisakan busa di bibir. Dan seperti yang bisa ia tebak, Eunhee akan merelakan jemari telunjuknya mengusap hingga bersih sang busa di bibir Myungsoo.

“The simple first lesson make me fall into you Eunhee-ya..”

“I knew it, Soo..”

——-

Saat matanya terpejam, Myungsoo seperti melihat deretan tangga batu yang tersusun begitu rapi dengan pemandangan tak lagi asing di sekitarnya. Ia bahkan bisa merasakan udara dingin yang melewati tengkuknya, sama seperti awal musim gugur lima belas tahun yang lalu.

Ia ingat tempat itu, lebih jelas daripada tiap kelas yang ada di sekolahnya dulu. Bukan tempat terbaiknya memang, tapi di sanalah ia pertama kali bertemu dengan Eunhee mengangkat pandangan untuk melihat kawan yang tak pernah ia tahu bahwa itu akan menjadi sesuatu yang lebih berharga dari apapun di kehidupannya kala itu. Mereka menyebutnya hati, dan Myungsoo menyadari jika ia telah kehilangan hati tersebut setelah Eunhee benar-benar memutuskan untuk menikah dengan pria pilihannya. Bukan dirinya yang melebihi separuh usia mereka selalu mendampingi Eunhee.

“Soo..”

Myungsoo bergeming, kedua matanya masih terpejam. Ia tahu siapa wanita yang memanggilnya.

“Mengapa memanggilku?”

Myungsoo membuka kedua matanya, dalam balutan baju kasual, Eunhee masih sama cantiknya dengan rambut hitam sebahu dan bibir merah. Bibir yang dahulu menjadi miliknya. “Kau datang dengannya?” Myungsoo melirik sekilas presensi Haekyon di seberang jalan, berdiri di samping mobil dengan sweater senada seperti yang Eunhee kenakan.

“Hem, kami suami istri, kau ingat itu ‘kan?”

Myungsoo menatap tajam wajah Eunhee yang mulai nampak kemerahan, entah apa yang wanita ini rasakan tatkala Myungsoo menghujamkam pandangannya.

“Aku akan kembali ke Korea.”

“Oh..” Eunhee menghela nafas panjang, bibirnya seakan-akan sulit untuk berkata. “Kapan kau berangkat?”

“Tiga hari lagi.”

Eunhee menahan sekuat mungkin air mata yang tiba-tiba ingin keluar begitu saja dari pelupuk matanya. “Okay, ada lagi?”

Myungsoo membuang pandangannya, jemarinya menaikkan tali kamera yang sedari tadi hampir melorot dari bahunya. Lalu kembali, ia menatap wajah Eunhee. “Kau benar-benar mencintai suamimu?”

Eunhee mengerjap, lalu mengangguk mantap. “Iya, aku mencintainya.”

“Baguslah!”

——-

Kling!

Sebuah panggilan mengalihkan lamunan Myungsoo. Rasa enggan masih menyelimutinya, bahkan di detik-detik keberangkatan dirinya meninggalkan London.

Kau yakin akan meninggalkan London? Sebuah pesan yang Barney kirimkan, sekedar mengecek kesungguhan hati lelaki Korea sahabatnya ini yang akan pergi menuju Bandara Heathrow.

Myungsoo mendegus kecil. Membalas sejenak pesan Barney, lalu beranjak dari tempat duduknya. Perlahan ia menatap satu persatu barang demi barang serta kamar yang mungkin akan sangat ia rindukan. Dulu ia pernah mengatakan jika suatu saat nanti dirinya akan kembali ke Korea, dengan Eunhee tentunya. Tapi itu dulu. Namun bukankah Myungsoo tetap menepati janjinya? Sekalipun tanpa Eunhee di sisinya.

Ah, miris sekali jika sampai saat ini ia masih terbayang wajah Eunhee yang telah bahagia berumah tangga di bulan kedua pernikahannya.

Aku akan dengan senang hati menyambutmu, sepupu! Pesan via email yang diterima Myungsoo dari Kim Yong Sun membuatnya membulatkan tekad untuk benar-benar meninggalkan London, bukan hanya sekedar cita-cita.

“Soo!”

Myungsoo mengalihkan pandangan tatkala terdengar suara ibunya memanggil dari ruang tamu kediaman mereka. Dengan cepat Myungsoo menarik koper dan memanggul ransel miliknya.

“Goodbye buddy!” Myungsoo mengetuk pintu kamarnya, seakan-akan meninggalkan sahabatnya selayaknya Barney. Topi telah ia kenakan, menyembunyikan raut wajah kecewa yang mulai berkurang kadarnya. Ia, sang pria Kim akan melanjutkan hidupnya di tempat baru yang bahkan telah ia tinggalkan lima belas tahun lamanya.

Hei, aku meninggalkan London bukan karenamu. Aku sudah pernah mengatakan jika suatu saat akan kembali ke Korea. Ada atau tidak adanya dirimu di sisiku, aku menepatinya. Jaga dirimu Eunhee-ya, aku tidak akan mengatakan semoga kau berbagia. Tapi satu hal, aku tidak akan merebutmu dari pria yang telah kau pilih. Itu saja.

TBC

39 responses to “[Ficlet Series] Twins 1

  1. Omona.. Sedih amat ditinggal married. *peluk Myungsoo*

    Tapi Myungsoo cukup berjiwa ksatria dengan meghargai pilihan Eunhee, gak bakal merebut Eunhee dr pria yang dipilihnya. Keren.

    Myungsoo kembali ke Korea untuk memulai hidup yang baru. Itu lebih baik drpd harus menetap di London. Mungkin luka hatinya lebih mudah terobati jika ia tidak di London..

  2. kasian myungsoo ditinggal nikah. ahhh tenang myung, authornya uda nyiapin jodoh trbaik bwt km wkwkwk

    bakalan sad nihhh kyknya…
    fighting eonni!!

  3. Myungsoo ditinggal nikah eunhee, kasian. Myungsoo memilih kembali ke korea, mungkin nanti ketemu jodoh suzy

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s