[Ficlet Series] Twins 3

twins1

Beside the story, I own nothing. All cast belongs to God and their family.

-dina-

.

.

Kecelakaan yang ia alami agak larut malam setelah lembur di akhir bulan yang sangat merepotkan itu berhasil dilalui Myungsoo dengan sukses, namun nahas masih saja mendatanginya. Seingatnya, malam itu ia berjalan di trotoar seperti para pedestrian lainnya sambil menenteng tas ransel kulit berisi berkas-berkas pekerjaannya, sedangkan pandangannya ia tujukan pada ponsel yang berkali-kali berbunyi. Panggilan Yong Sun, kakak sepupu perempuan yang selalu tersenyum bak malaikat. Setidaknya itu menurut penuturan kekasihnya.

Lalu kecelakaan terjadi, entah karena pengendara mabuk atau terlalu mengantuk, ia melihat tiba-tiba sebuah sepeda motor menyerempetnya, lalu disusul oleh mobil dan truk yang saling menghantam. Seingat Myungsoo, ia menyeberang di saat lampu pejalan kaki benar-benar berwarna hijau, tapi kecelakaan tetap tidak dapat dihindarkan.

Pada akhirnya, pagi ini ia duduk di atas ranjang rumah sakit dengan luka di bagian kepala. Sebenarnya luka terbukanya terbilang ringan, hanya efek benturan masih dirasakannya. Pusing dan sedikit mual. Yong Sun sedari tadi mengomel tidak jelas, meminta pada dokter jaga untuk memeriksa kepala Myungsoo, jika perlu isi kepala dan pikirannya. Heol! Pemikiran asal si cantik Yong Sun.

Bukan itu saja sebenarnya keberuntungan Myungsoo –di samping dirinya sehat sentosa tanpa cacat sedikitpun, ia melihat sosok yang pernah mengisi hari-harinya ketika di London. Myungsoo bahkan semakin penasaran, ingin hati menemui kembali dokter muda yang semalam menjahit luka di kepalanya.

“Noona!”

“Hem?”

“Duduklah, kau membuatku semakin pusing!”

Yong Sun menghentikan gerakannya mondar-mandir tak tentu arah. Sebagai kakak perempuan yang baik bagi adik sepupunya, sudah barang tentu Yong Sun khawatir dengan kondisi Myungsoo.

“Semalam dokter yang menanganimu mengatakan apa?”

Myungsoo menatap wajah lugu Yong Sun, kepalanya menggeleng pelan. “Entahlah, aku tidak ingat..”

“Ya Tuhan!” Yong Sun kembali menegakkan duduknya, lalu mengambil ponselnya yang berbunyi nyaring. Menyebabkan penghuni lain bangsal menolehkan pandangannya.

“Yoboseyo..” Yong Sun akhirnya sibuk dengan lawan bicaranya, beda halnya dengan Myungsoo yang masih menatap jendela kamar. Cahaya mentari sempurna menyinari bumi, mengantarkan ingatan demi ingatan Myungsoo akan London. Lalu tak lama, kembali ia berpikir jika semalam mungkin ia memang benar-benar bermimpi.

——–

Ketika pasien telah menempati bangsal masing-masing dan mentari telah sempurna bersinar seperti biasa walau terhalang awan musim gugur yang menyebalkan, Sooji hanya diam di kursi taman sembari memandang pasien anak-anak yang mulai memenuhi lapangan hijau.

“Sooji-ya!”

Miranda, teman bule yang berstatus sama dengannya berjalan mendekati tubuhnya. Pagi ini ia bertugas menjadi dokter jaga, berganti dengan Sooji yang kedapatan jadual shift malam.

“Bagaimana malammu?” Miranda memasang tanda pengenal, kemudian jemarinya menguncir rambut berwarna jagung, menjadikannya kunciran kuda yang semakin menampakkan sisi feminim dirinya.

Sooji melayangkan senyum malas, ia masih enggan berpikir. Bahkan kehadiran pasien anak-anak yang terkadang bermain bersamanya tidak menggugah mood baiknya pagi ini. Walau sudah mengenakan pakaian resmi para dokter dengan jas putih, stetoskop yang mengalung di leher dan tanda pengenal, Sooji masihlah mahasiswa tahun akhir yang sedang menjalani praktik lapangan. Selepas itu baru mengesahkan diri sebagai dokter dan melanjutkan praktik sebagai residen untuk memilih spesialis yang diinginkan. “Malamku seperti biasa, wow!”

Miranda terkekeh, jawaban asal Sooji sudah biasa ia dapatkan mengingat track record Sooji yang tidak terlalu baik. “Kau tidak pulang?”

Sooji menggeleng, “Dokter Kang Seulgi memintaku melakukan follow up pagi ini.”

“Jam berapa? Kau tidak akan tidak mandi ‘kan?”

Sooji menyenggol lengan Miranda, lalu tersenyum miris. “Biar saja, mungkin para pasien itu akan mengkomplain rumah sakit lalu menolakku untuk melakukan follow up lagi. Bukankah itu bagus?”

“Eii, kau ini! Sudahlah, cepat sana pulang ke asrama. Mandi, sarapan lalu kembali ke sini. Aku akan membantumu nanti.”

Sooji menyipitkan kedua matanya, “Benarkah?”

Miranda lagi-lagi tersenyum, lalu mengangguk. “Siapa tahu pasien yang kau follow up masih bujang. Lalu..”

“Yya!”

——–

Yong Sun mengamati perawat yang masih menelepon dokter yang ia tunjuk untuk menangani sepupunya, kedua kakinya dimainkan bersama dengan tangan yang disandarkan pada meja ruang perawat. Menunggu dengan tidak sabaran menjadi ciri khasnya, pun dengan dirinya yang selalu disiplin pada hal apapun.

“Eonni?”

Yong Sun menolehkan kepalanya tatkala suara yang tidak asing tertangkap dengar. “Oh, kau?”

Eonni kenapa di sini?”

Yong Sun meringis kecil, lalu berjalan mendekati sumber suara. “Menemani sepupuku.”

“Sepupu? Aku baru tahu kau punya sepupu..”

“Hei, ini benar-benar sepupuku. Dia baru pindah dari luar negeri.”

“Oh..”

Yong Sun seperti biasa langsung gemas tatkala melihat rambut gadis di hadapannya terlihat asal-asalan. “Kau ini sudah keramas belum sih?” celetuknya kemudian. Jemarinya menyusuri surai berwarna blue dark gadis di hadapannya.

“Sudah. Dua hari yang lalu.”

Yong Sun membelalakkan kedua matanya. “Astaga, kau ini wanita sayang!”

Eonni-ya, bukan aku yang seharusnya kau ributkan. Bagaimana dengan se-pu-pu-mu?”

Yong Sun menepuk keningnya, tiba-tiba ia teringat Myungsoo yang terlantar di bangsal. “Ah iya, aku sedang menunggu kabar dokter yang kupilih untuk memeriksanya.”

“Memang sepupumu sakit apa?”

“Semalam dia mengalami kecelakaan. Apa kau tahu siapa dokter yang menanganinya?”

“Oh?” Lagi-lagi hanya jawaban oh yang Yong Sun terima. Serta merta ia menarik tangan sang gadis. “Bantu aku menanyakannya pada perawat!”

Langkah Yong Sun berhenti ketika perawat menjelaskan dokter yang ia tunjuk akan memenuhi jadual praktek setelah makan siang. “Tapi bukankah semalam anda yang berjaga dokter?” lanjut sang perawat pada gadis yang lengannya masih diapit Yong Sun.

Eoh, kau dokter yang menangani pasien kecelakaan semalam?” Yong Sun beralih menatap gadis di sampingnya.

“Iya..”

Yya! Ikut denganku!”

——-

Sooji bersungut dalam hati, seharusnya ia telah berada di dalam kamar mandi jika saja Yong Sun, teman yang ia kenal di sebuah ajang menyanyi lokal tidak menyeretnya di sini. Sebuah bangsal dengan pasien Kim yang semalam ia jahit luka di kepalanya berada di dalamnya.

“Jadi, jelaskan padaku apa yang terjadi pada sepupuku ini. Ia mengeluh sakit kepala.” Yong Sun menarik tubuh Sooji untuk mendekati Myungsoo yang masih terdiam.

Bukan mimpi. Dua kata yang spontan terlintas di benak Myungsoo ketika dokter yang memenuhi pikirannya sedari tadi telah kembali berdiri di sisinya.

“Apa yang anda rasakan tuan?”

Yong Sun mengalihkan pandangannya pada Myungsoo. “Katakan Soo! Apa yang kau rasakan di kepalamu? Apakah akan meledak atau apa?”

“Noona!”

Sooji menatap dengan ekspresi datar, sama sekali tidak tertarik dengan gurauan asal Yong Sun. jemarinya mengambil stetoskop. “Permisi, saya akan memeriksa pupil mata anda..”

Myungsoo mengangguk pasrah, kembali ia mencium bau antiseptik bercampur dengan wangi mint tatkala tubuh Sooji condong ke arahnya. Lalu jemari Sooji berpindah pada pelipisnya, menyentuh pelan surai hitam miliknya,beralih memegang kepala, menyusurinya dengan kedua mata tajam yang tidak dimiliki Eunhee.

“Dokter!”

“Hem?”

“Apakah anda mengenal Eunhee?”

Sooji menarik tangannya, memasukkan stetoskop dalam saku jas putihnya. “Eunhee siapa?”

Yong Sun mengamati bergantian wajah Myungsoo dan Sooji.

“Eunhee? Lee Eunhee?” Tanya Myungsoo hati-hati.

“Tidak.” Sooji segera memundurkan langkahnya. Waktu setengah jamnya telah habis karena Yong Sun. “Eonni, aku akan memberitahu perawat untuk memberi obat sakit kepala dengan dosis kecil sebelum bertemu dengan dokter Han Sikyung siang ini. Setelahnya jangan ganggu sepupumu ini, biarkan ia beristirahat. Okay!”

Yong Sun tersenyum lega sembari membuat tanda okay pada jemarinya, lalu berdiri sejajar dengan Sooji.

“Semoga lekas sembuh Tuan Kim.” Ucap Sooji, sebuah kalimat wajib yang selalu dikatakan dokter praktikan seperti dirinya.

“Panggil Myungsoo, tanpa tuan!” Sanggah Yong Sun.

“Noona..” Myungsoo kembali memelankan suaranya.

“Dia belum tua, Ji. Kalian boleh berteman kok!” Yong Sun dengan tingkat percaya diri tinggi kembali menyeletuk. Kakinya melangkah mengikuti Sooji menuju pintu keluar bangsal.

Semirip itu tapi tidak saling mengenal?

——-

Tuan Bae menatap sebuah foto lapuk dengan dua anak kecil berusia satu setengah tahun saling berpegang tangan menatap kamera. Terkadang tidak tahu sama sekali justru lebih baik. Bukankah itu yang telah mereka lakukan selama dua puluh empat tahun lamanya? Dan rahasia itu akan tetap terjaga hingga maut memisahkannya dari sang putri tercinta.

 

TBC

42 responses to “[Ficlet Series] Twins 3

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s