#HunZy Story 3. We Are Family

f860ce5efa191185db4fa15078efb1b8

Title : #HunZy Story 3. We Are Family

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast : Oh Sehun, Bae Suzy

Support Cast : Oh Min Gyu

Genre : Marriage Life

Rating : G

Length : Series

Previous: 1. Bastard ∴ 2. I’m Not Bastard

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Sehun berlari cepat menyusuri lorong rumah sakit tempatnya berada selama 1 bulan ini menemani Suzy. Dokter mengatakan bahwa istrinya itu harus bedrest penuh selama masa kehamilannya dan berakhirlah ia seperti saat ini, bolak balik keluar rumah sakit demi Suzy yang masih harus berada disana demi keadaan bayinya.

Kantong  hitam berisi buah yang Suzy inginkan Sehun bawa, dirasanya ia pergi terlalu lama dan takut sesuatu hal buruk terjadi meski sebenarnya ini adalah rumah sakit dan tidak mungkin bantuan tidak datang.

 

 

 

“Kau memaafkannya? Sehun—suamimu? Kau memaafkannya setelah semua ini?”

“Lalu aku harus memperpanjang ini semua?” Suzy menanyai balik Min Gyu disampingnya, gadis berambut pirang dengan pakaian ketat dan minim itu memutar matanya tidak peduli. “Kau akan tahu rasanya saat menikah dan hamil. Sehun tidak bersalah seutuhnya.”

“Ya—ya—ya, terserahmulah……” Min Gyu berdiri kemudian dari duduknya, melangkah menuju jendela besar kamar rumah sakit itu yang kemudian menampakkan hal-hal di luar sana. “Sampai kapan kau disini?”

“Satu minggu lagi setidaknya. Dokter bilang aku bisa pulang tapi tetap tidak boleh melakukan apapun dan hanya di atas ranjang.”

“Tidak tersiksakah? Tidak bisa melihat dunia luar.”

“Ini demi anakku. Sama sekali tidak menyiksa.”

“Tapi harusnya kau tidak perlu seperti ini jika pria itu tidak kasar padamu. Dia bersalah tapi kau dan anakmu yang di hukum. Benar-benar menyebalkan!”

“Dia sepupumu walau bagaimanapun.”

“Karena itu aku makin kesal dan membencinya.” Gelengan kepala Min Gyu tampak beberapa kali menarik ujung bibir Suzy hingga melengkung bagai bulan sabit terbalik. Ia tidak bisa menahan kelucuannya melihat tingkah dua pupu yang tidak pernah akur namun memiliki sifat sama persis.

“Aku membawakanmu beberapa novel dan komik, ambillah di dalam tasku, kau bisa membacanya untuk mengusir bosan. Dia bahkan tidak peduli tentang kau yang kebosanan, pergi seharian membiarkanmu sendiri.”

“Hei—hei—hei—. Berhenti mengomeli suamiku.”

“Kau tahu Suzy-ah?” Min Gyu berbalik dengan kedua tangan ia rentangkan dan berjalan ke arah Suzy dengan wajah berapi-berapi. “Gara-gara dia harabeoji berpuasa demi keselamatan bayimu. Karena pria bernama Oh Sehun itu, tiap hari harabeoji berdoa ke kuil agar kau dan bayimu tetap sehat. Harabeoji bahkan berkata ia akan berhenti menjadi mafia andai anakmu lahir normal. Apa kau tahu bahwa jika harabeoji berhenti itu artinya benar-benar berhenti bukan. Artinya aku yang sudah siap dan ingin menjadi penerusnya tidak bisa melakukan itu. Dasar Oh Sehun sialan!”

“Ahhahahahahaaa…..” Suzy menutup tawanya dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi ia letakkan pada perutnya, dirasa guncangannya akan berdampak buruk maka ia hentikan segera tawa yang sebenarnya masih ingin ia keluarkan.

Segera Suzy tersenyum girang, tas coklat di atas meja sampingnya ia ambil dan mengambil beberapa kertas tumpuk disana.

“Aku ingin mencekik suamimu jika bertemu.”

“Untuk apa? Kau hanya akan membuatku sedih jika melakukan itu.”

“Kau sungguh-sungguh mencintai sepupuku rupanya.” Min Gyu tersenyum tipis dan mengambil tasnya, mengeluarkan beberapa novel juga komik dari sana yang sebelumnya akan Suzy ambil namun urung. “Ini.” Serahnya hingga Suzy tampak kerepotan menampung novel dan komik bawaan Min Gyu.

Sekali lagi Min Gyu menarik nafas dalam, kedua tangannya ia silangkan kedepan dan mata yang sejak tadi terarah pada sesuatu hal kembali terarah lagi meski sudah coba di alihkan. Leher Suzy masih berkalung goresan hitam meski cervical collar yang dipakainya selama beberapa waktu sudah terlepas, Min Gyu pikir itu karena lukanya dibagian dalam leher masih belum sembuh. Ujung mata wanita yang kini tengah memilih dan memilah buku mana yang akan dibacanya terlebih dulu juga masih menghitam. Ini sudah satu bulan dan semua luka di tubuhnya masih tampak, sumpah Sehun! Kau benar-benar gila!

“Kau sudah boleh membaca memangnya?” Nada sinis dan ketus bercampur sangsi yang orang baru mendengarnya akan merasa tersinggung kembali keluar dari bibir Min Gyu bersama gerak cepat tangannya mengambil novel pilihan Suzy yang akan dibacanya. “Matamu masih terlihat tidak baik-baik saja.”

“Ini sudah baik kok. Aku sudah bisa melihat jelas, menggerakkannya tanpa sakit. Aku sudah baik-baik saja, sungguh.”

“Aku benar-benar menyesal mengenalkanmu padanya.”

“Hei!” Suzy membulatkan matanya tidak suka meski bibirnya tersenyum kemudian menyadari kekhawatiran Min Gyu.

“Jangan biarkan dirimu seperti ini lagi.”

“Arra……sekarang kemarikan novelnya.” Suzy mengambil kembali novel pilihannya dari tangan Min Gyu, hendak membacanya seperti yang sudah ia rencanakan namun kembali tertunda saat gadis didepannya itu kembali mengambilnya. “Kau ini kenapa sih?”

“Aku mendengar sesuatu.” Aku Min Gyu bersama wajah tidak nyamannya, Suzy bahkan ikut mengerutkan keningnya melihat ekspresi tidak nyaman Min Gyu yang membuatnya penasaran.

“Apa?”

“Aku ingin menanyakan ini sejak tadi sebenarnya.”

“Tanyakan saja.”

“Jangan tersinggung tapi.”

“Ya. Ada apa?”

 

 

Sekali tarikan nafas Min Gyu terasa hembusannya di kulit tangan Suzy, gadis yang sudah lama menjadi temannya itu tampaknya akan mengatakan sesuatu hal berat. “Aku dengar anakmu tidak akan terlahir normal. Kenapa kau masih mempertahankannya? Kau tidak kasihan saat dia lahir nanti? Dia akan jadi bahan ejekan. Kau dan Sehun juga pasti akan jadi bahan ejekan. Tidakkah kemudian kau menyesal mempertahankan anakmu? Tidakkah kemudian kau akan menyalahkan Sehun selamanya untuk ini? Tidakkah kau berpikir dua kali setidaknya untuk mempertahankan anakmu dan Sehun? Lagipula!” Min Gyu menekan suaranya kencang menumpahkan kekesalan yang belum lenyap. “Masih tentang Sehun, bagaimana bisa kau memaafkannya untuk semua hal ini? Dia penyebab anakmu begini.”

“Ya. Aku tahu dan tidak akan pernah menyesal ataupun menarik keputusanku saat ini.” Lebih dan bahkan berbanding terbalik dengan jawaban juga ekspresi yang sudah Min Gyu pikirkan. Suzy tidaklah tampak terpukul ataupun sedih, baiklah sedih itu masih ada namun tidak semenyedihkan itu karena senyum damai yang tampak.

“Aku serius Suzy-ah.” Min Gyu duduk di sisi Suzy dan menggenggam tangan putih itu. “Sehun melakukan hal segila ini dan kau memaafkannya. Ada kemungkinan di masa depan nanti dia akan kembali melakukannya padamu juga anakmu lagi. Tidakkah kau takut atau khawatir? Kenapa tidak kau setujui saja usulan perceraian dari kakakmu?”

“Sentuh ini.” Suzy menarik tangan Min Gyu untuk menyentuh perut buncitnya. “Kau merasakannya? Gerakan anakku, meskipun pelan dan tidak kuat tapi kau merasakannya bukan?”

Min Gyu menelan ludahnya kuat, alis tebal gadis itu makin berpaut  dan bohong jika ia mengatakan tidak merasakan sesuatu hal bergerak dari apa yang saat ini disentuhnya. “Aku akan meninggalkan Sehun andai anak ini tidak disini lagi. Tapi kau lihat, dia masih berkembang dengan baik hingga saat ini. Dia berjuang bersamaku, bagaimana mungkin aku meninggalkannya hanya karena diagnosis sementara seorang dokter?”

“Ya.” Min Gyu menjawab lirih dan menarik tangannya. “Kau benar dan selalu begitu.”

“Kau salah paham tentang Sehun. Aku sumber masalah ini, jangan selalu salahkan suamiku. Dia yang membawaku kemari, meski tidak bisa membuka mata tapi aku dengar apa yang dia ucapkan dan lakukan ketika itu. Teriakannya mengancam beberapa dokter saat itu membuatku ingin membuka mata tapi tidak bisa.”

“Tapi tetap saja—.”

“Dia berjanji tidak akan melakukan ini lagi.”

“Kau percaya?”

“Karena aku mencintainya dan anak kamipun mencintainya. Dia layak diberi kesempatan.”

“Oh! Aku tidak mengerti dan tidak tahu harus bagaimana membuatmu paham. Oh Sehun! Sepupuku itu pernah membunuh seseorang saat berumur 9 tahun. Kau tahu?”

“Dia sudah mengatakan dan menceritakan semuanya padaku.” Angguk Suzy tanpa beban makin mengerutkan kening gadis dihadapannya.

“Di usia semuda itu dia sudah melakukan kejahatan. Sekarang dia melakukan ini, seolah mengatakan bahwa darah buruknya tidak akan pernah menghilang.”

“Lalu bagaimana dengan darahmu?” Suzy bertanya balik pada Min Gyu. Sejenak gadis itu terperanjat namun ia buka lagi bibirnya.

“Aku tidak pernah membunuh siapapun.”

“Narkoba dan senjata api yang kau jual itu, anak yang kau perjual belikan, kau pikir tidak melakukan pembunuhan?”

“Maksudku—.”

“Cukup.” Suzy mengangkat kedua tangannya tidak mau tahu. “Sehun selangkah lebih maju darimu saat dia tidak ingin terlibat dengan hal semacam ini lagi. Dia berjanji padaku untuk keluar dari hal yang selama ini berada di sekelilingnya dan dia melakukannya. Dia berjanji bahwa akan mencukupiku dengan kemewahan tanpa uang kotor dan dia melakukannya. Meski modal awal bisnis eletronik yang saat ini digelutinya hingga berhasil seperti saat ini adalah uang dari harabeoji, tapi Sehun menganggap bahwa itu adalah pinjaman dan dia sudah mengembalikan uang itu tahun lalu berikut bunga yang biasanya selalu harabeoji terapkan pada siapapun. Sehun tidak memandang siapa dirinya, darimana dirinya, bagaimana dulunya ia. Sehun memandang bagaimana hidupnya kedepan dan sejauh ini dia selalu menepati janjinya. Jika mengingat hal itu aku sangat menyesal menuduhnya berselingkuh dan menyembunyikan anak ini darinya. Aku tidak tahu apakah itu semua karena aku sedang hamil maka aku lebih sensitif atau aku memang memiliki beberapa pikiran aneh tentangnya yang sering berada di luar akhir-akhir ini, tapi aku pastikan tidak akan seperti itu lagi dan aku pastikan bahwa tidak akan ada keadaan seperti ini lagi di masa depan.”

Min Gyu menggigit bibir bawahnya. Gadis itu menunduk untuk beberapa saat sebelum Suzy mengambil novel dari tangannya dan membuat ia mendongak sendu.

“Jangan tatap aku sedih begitu.” Hibur Suzy pada akhirnya. “Aku tidak menyalahkan pekerjaanmu. Ini yang kau pilih dan kau sukai bukan?”

“Aku berpikir bagaimana jadinya jika sepupuku itu tidak bertemu denganmu dan minta dikenalkan, bisa saja hidupnya lebih hancur dariku sekarang.” Suzy tergelak sesaat, kepala menggeleng Min Gyu juga tawa mirisnya ia lihat jelas. “Harabeoji menyayanginya lebih dariku, selalu ada di sisinya saat kedua orang tuanya meninggal. Mungkin karena Sehun adalah satu-satunya cucu laki-laki yang dimilikinya, harabeoji tidak pernah memandangku. Tiap waktunya hanya untuk Sehun. Bisa dibilang bahwa sejak kecil ia sudah dilatih untuk menjadi pewaris keluarga. Tapi akhirnya semua itu berubah ketika Sehun berkata pada harabeoji bahwa dia mencintai seorang gadis yang selalu tersenyum padanya, mencintainya hingga ia tidak bisa membuat gadis itu berada dalam bahaya jika bersama mafia macam dirinya, mencintainya hingga amat malu dengan keadaan dirinya. Untuk pertama kali itu, aku melihat wajah harabeoji yang serasa tertampar ketika Sehun berkata malu menjadi seorang mafia. Meski tentunya tidak satupun temanmu yang tahu dan akan menyangka bahwa pria setampan itu adalah pewaris grup Oh yang terkenal dengan kekejamannya, tetap saja ia malu dengan status begitu jika ada disampingmu. Dia bilang kau adalah berlian dan sama sekali tidak ingin merusaknya. Mungkin dia teringat bagaimana orang tuanya terbunuh dan tidak ingin kau masuk, terlibat, hingga berakhir sama.”

“Tapi kau akhirnya bisa menggantikan posisinya berkat diriku bukan?”

“Maksudku~.” Min Gyu kembali melihat Suzy lebih serius. “Seberubah apapun Sehun saat ini, sebaik apapun Sehun saat ini memegang pena, dia tetap orang yang membunuh temannya ketika kecil hanya dengan sebuah pena, dia tetap seseorang yang memegang pistol dalam tidurnya ketika anak seusianya memegang robot mainan, dia tetap seseorang yang memiliki darah kotor dalam nadinya, sepertiku.”

“Min Gyu-ah.”

“Karena itu aku tidak berniat mundur dari tempat ini. Seperti apapun aku berubah, aku tahu bahwa sesekali aku pasti akan kembali menakutkan dan justru membuat diriku menyesal juga merasa bersalah.”

“Masih ada harapan untuk bayi kami.” Suzy coba menenangkan suasana tidak nyaman. “Temanku bilang, otak bayi dalam kandungan akan berkembang pesat saat usia 7 bulan ke atas. Ini baru 5 bulan dan menurutku, mungkin aku bisa melakukan sesuatu di saat-saat terakhir.”

“Ya. Semoga.” Hela Min Gyu panjang membiarkan Suzy membaca novelnya kemudian, terduduk dengan segala pikiran akan apa yang Suzy bicarakan.

Begitupun Sehun, pria yang sejak tadi mendengar percakapan antara istri dan sepupunya itu diam. Langkahnya yang akan masuk untuk memberikan buah kesukaan Suzy terhenti sejak tadi, sejak ia tahu bahwa ada sepupunya disana, kaki yang hendak ia langkahkan untuk menampakkan diri dan bergabung bersama mereka nyatanya tertunda dan mendengar apa yang kemudian mereka bicarakan melukainya, lagi—dan lagi.

Sehun tidak tahu, bahkan tidak menyangka bahwa begitulah Suzy melihatnya. Dengan kepercayaan. Padahal, banyak hal bohong yang selama ini ia katakan. Bisnis jual beli elektronik? Sehun tersenyum nyinyir pada dirinya sendiri dan menghapus air mata luka juga sedihnya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Suapan demi suapan yang Sehun berikan pada istrinya dilahap cepat oleh wanita itu. Pikirnya, bayi dalam kandungannya membutuhkan banyak asupan gizi untuk tumbuh kembang lebih baik hingga hal macam banyak makan yang membuatnya benar-benar tampak layaknya babi seperti yang Sehun katakan dulu benar-benar terjadi.

“Suzy-ah.”

“Wae?”

 

Diam Sehun, pikirannya melayang pada bagaimana tadi percakapannya bersama Min Gyu terdengar. Haru menyeruak dalam dadanya jika mendengar itu dan kesedihan ikut muncul kemudian, menyebabkan sakit melihat wajah polos Suzy yang begitu percaya dan mencintainya.

“Mianhe.”

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Tidak. Kau tidak tahu.”

“Aku tahu semua hal tentangmu.”

“Aku bilang tidak.” Tolaknya lemas meletakkan kembali sendok bubur ke dalam mangkuk. “Aku membohongimu.” Aku Sehun menyatukan kedua alisnya menyesal, sekali lagi pria itu menunduk salah dihadapan istrinya.

“Ada apa kali ini?”

“Bisnis eletronik itu tidak benar-benar aku lakukan. Baiklah—awalnya memang aku lakukan, tapi bisnis tidak semudah itu dan akhirnya harabeoji menyerahkan kembali kasino yang awalnya tidak mau aku pegang lagi karena kasihan melihat kita. Aku berkata bahwa bisnis itu benar adanya tapi tidak, gedung itu hanya untuk menutupi kasinoku darimu. Aku merasa bahwa hal buruk ini adalah karenaku, membohongimu, memberi makan anak kita uang kotor.”

“Aku tahu.”

Sama seperti tadi siang ketika berhadapan dengan Min Gyu, begitulah Suzy menatap enteng Sehun seolah tidak ada hal berarti dari ucapan pria itu. Nyatanya Sehun langsung mengangkat wajahnya, melihat jelas wajah tenang istrinya seolah apa yang ia katakan memanglah bukan apa-apa. Atau mungkin istrinya ini tidak mengerti maksudnya?

“Suzy-ah. Maksudku—.”

“Aku bilang aku tahu. Saat kita berlibur ke Macau, aku melihatmu masuk gedung casino terbesar disana. Seseorang mengatakan padaku siapa dan untuk apa kau masuk kesana.”

“Itu setahun lalu—kau—sudah tahu semuanya sejak awal? Dan baru mengatakannya? Atau kau memang tidak ingin mengatakannya? Kau mendukungku?”

“Tidak. Aku tidak mendukungmu.” Geleng Suzy cepat. “Aku tahu kau kesusahan menghidupiku karena itu aku diam saja. Lagipula semua uang yang kau berikan tidak aku gunakan, semua masih lengkap di tabungan. Aku menggunakan uangku sendiri selama ini. Karena itu aku tetap memaksa bekerja meski kau katakan aku tidak perlu melakukannya.”

“Suzy-ah…..”

“Kau terharu? Tahu berharganya aku sekarang?”

“Yak! Tck! Jangan bercanda di saat begini∼.”

Suzy tertawa renyah seperti biasa dihadapan Sehun yang kali ini berkaca-kaca matanya. Meskipun ada rasa jengkel dalam dadanya, namun ia bahagia di waktu bersamaan melihat bagaimana Suzy melihatnya sejak dulu bahkan meski menutupi beberapa hal darinya.

“Jika sudah begini aku merasa bersalah melakukan banyak hal tolol padamu.”

“Bagaimana jika kau bekerja bersama oppaku?”

“Dia akan mencekikku sepanjang waktu kemudian.”

“Dia tidak seperti itu astaga hahahaaaa….”

“Bisakah kau berhenti tertawa?”

“Bukankah kau suka aku tertawa?”

“Kau benar-benar menyebalkan.”

“Aku tahu.” Sehun mendesis pasrah, Suzy tidak terlihat akan menghentikan tawanya dan iapun tidak tahu bagaimana mengatasi segala hal tanpanya. Semua terasa lebih damai, entah bagaimana kisahnya jika ia menikah selain dengan Suzy. Tidak akan seperti ini kisahnya.

 

“Kita adalah keluarga. Menghadapi semuanya bersama-sama, mengerti satu sama lain. Bisa kau bayangkan jika saat itu aku langsung mendekatimu, berteriak dan bertanya kenapa kau kembali menjadi seorang brengsek? Apa jawabanmu kemudian? Tidakkah hubungan kita akan sebaik ini setelahnya? Kau bisa saja keluar kemudian dari sana, tapi kau akan mulai merasa tidak nyaman denganku. Tidak akan ada anak kita kemudian.” Ujar Suzy mengelus perutnya dengan senyum merekah. “Akan ada anggota baru sebentar lagi, karena kau sudah tahu bahwa aku tahu semuanya, aku mau kau dengar bahwa aku ingin kau lepaskan semua hal kotor itu. Aku akan menunggumu dan tidak masalah dengan penurunan ekonomi kita, sungguh. Kita akan memulai semuanya bersama-sama.”

“Karena kita adalah keluarga.”

“Ya. Karena kita adalah keluarga yang saling menguatkan masing-masing. Membantu masing-masing. Oppaku tidak akan keberatan untuk hal ini asal kau melakukan apa yang diinginkannya, meski terdengar menakutkan dan membuatmu kesal, lakukan saja apa yang dia minta.”

 

 

Sehun mengeratkan genggaman tangannya pada tangan putih Suzy, perut agak keras yang terkena sentuhannya menarik sekali lagi pandangan matanya. Ada anaknya disana, seseorang yang tidak ia inginkan berakhir sama sepertinya.

“Karena aku mengelola kasino di balik layar, aku pikir akan baik-baik saja.”

“Tapi aku tidak suka.”

“Ya. Aku tahu itu.” Sehun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Entah untuk yang keberapa kalinya, kening pria itu berkerut. “Jika aku melepasnya, bekerja pada oppamu sebagai karyawan biasa karena aku bukan lulusan universitas, hidup kita tidak akan sebaik ini. Kita akan hidup di lingkungan biasa, dan menyedihkan juga dengan keadaan anak kita yang seperti ini.”

“Oh ayolah…..” Suzy kembali menampakkan tawanya. “Anak kita baik-baik saja. Sentuhlah.”

“Tidak.” Sehun menarik tangannya saat akan Suzy dekatkan pada perutnya. “Aku hanya akan melukainya lagi.” Aku pria itu dan meletakkan mangkuk berisi bubur pada laci samping ranjang istrinya. “Minumlah vitaminmu.”

“Sehun-ah.”

“Kita akan hidup menyedihkan jika aku melepaskan kasino itu dan bekerja seperti orang biasa. Aku tidak mau kau terlihat menyedihkan.”

“Kita akan menyedihkan dan bahagia bersama.”

Bahu tegap Sehun lemas dan turun pada akhirnya. Menyesal ia rasanya mengatakan pada Suzy mengenai kasino itu, andai ia tetap menyembunyikannya maka keadaan mereka tidak akan semembingungkan ini.

“Maukah kau mengabulkan permintaanku? Aku mohon, yeobo~.”

“Kita akan hidup miskin, bisa kau terima itu?”

“Apa kita perlu bersumpah sehidup semati lagi?” Tanya Suzy menarik lengan Sehun dan memeluknya erat. Ia dongakkan kepalanya menatap pria itu bersama tawa renyahnya, membuat Sehun tahu bahwa dirinya tidak memiliki alasan juga pilihan untuk menolak.

“Arasseo, aku lakukan apa yang kau mau. Senang?”

“Eo.” Suzy menjawab cepat, kepalanya mengangguk bagai boneka rusia cantik dan hari mereka saat itu berakhir dengan pelukan bersama matahari senja yang menyaksikannya.

 

 

-oo—ooooooo-

22 responses to “#HunZy Story 3. We Are Family

  1. suatu keadaan gak bagus saja bisa bikin mereka tetap bersama untuk bahagia. uhuuu. krna bahagia tak harus keadaan sempurna. uhuuuu envy daah envy. i like this hihihi

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s