Closed Book

forditoirodabt.hu_5

Title : Closed Book

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Choi Siwon, Bae Suzy

Genre : Drama

Rating : G

Length: Oneshoot

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

flower-frame-hi

Tuhan tahu kebenarannya, seditutupi bagaimanapun ia mengetahui kisah dibalik perginya seorang gadis dari tempat yang dicintainya. Tidak ada yang memandangnya ketika pergi, begitupun tidak ada yang mengingatnya kemudian. Luka itu, ia sendiri yang merasakannya dan sama sekali tidak berniat untuk berbagi pula meski sebenarnya sangat ingin. Dikatakan bahwa ia terlalu malu membagi kisahnya, kisah yang membuatnnya berakhir menyedihkan seperti saat ini dibawah derasnya air hujan.

Suzy menghapus tetes air matanya meski ia tahu tidak ada seorangpun yang akan tahu bahwa ia menangis, air matanya telah bercampur air hujan dan sama sekali tidak ada alasan untuk membuatnya tampak seperti menangis. Kecuali jika mungkin ia berteriak dan berkata bahwa dirinya sedang menangis, butuh dikasihani, butuh dipeluk, dan butuh dihibur.

Gedung dibelakang Suzy berwarna putih, besar namun tidak lebih besar dari gedung lainnya. Disanalah ia sebagai seorang penulis menghabiskan waktu berhari-hari, menghabiskan segala hal dalam pikiran juga hatinya hingga tercurah beberapa novel sukses nantinya.

Namun atasan congkak yang begitu sombong menjatuhkan harga dirinya, membuatnya tampak bagai pengemis padahal dirinya salah satu pendiri perusahaan itu.

“Aku ingin menghancurkannya.” Sebut bibir merah itu bergetar, air hujan membuatnya menggigil namun kemarahan dalam diri itu membuatnya lebih memanas dibanding api. Kobaran api yang membuatnya menoleh hanya untuk menatap gedung tanpa dosa itu marah, seolah ia bisa membakarnya saat ini juga dengan kemarahan tanpa penjelasan kata.

Tidak mau Suzy memandang terlalu lama gedung itu lagi, hujan semakin deras seperti makin sakit hatinya ia atas semua yang terjadi. Dengan langkah tertatih, Suzy berjalan di atas tanah beraspal. Langkahnya terseok-seok, kedua tangannya memegang kardus besar berisi semua hal yang dibutuhkannya saat bekerja dan semua itu telah basah sebab air hujan, sesuatu hal yang meski sudah mengering tidak bisa ia gunakan lagi.

Suzy menghapus air matanya sekali lagi dengan lengan kurusnya, meski ia tahu bahwa itu tidak berguna apalagi langit seolah ikut menangis bersamanya, Suzy tetap melakukan hal tersebut. Tas kecil yang terselip di lengan kanannya, sepatu bertali yang ia ikat satu kemudian dikalungkannya makin menampakkan kekacauan diri Suzy selain baju sobeknya.

Beberapa orang melihat gadis itu heran dan kasihan namun tidak satupun yang berniat menolong ketika mereka mampu. Suzy tidak ingin meneduhkan diri dengan berlindung di halte bus, ataupun menyetop taxi, ia masih ingin berlama-lama dibawah hujan hingga tangisnya mereda. “Suzy-ah?”

Kaku dan perlahan Suzy menengok, melihat siapakah yang saat ini sedang memanggilnya. “Siwon oppa”

 

Bruk

 

Semua barang bawaannya dijatuhkan seketika melihat satu sosok yang mampu menolongnya untuk saat ini, sosok yang pagi tadi ia acuhkan ketika menunggu didepan apartment, sosok yang siang tadi ia usir, dan sosok yang beberapa hari belakangan menerima perlakuan kasarnya.

Suzy menghambur dalam pelukan pria berbadan tegap itu, payung yang Siwon pegang jatuh layaknya kardus di tangan gadis tercintanya itu dan sebagai gantinya, tubuh bergetar Suzy berada dalam cangkupan pelukan hangatnya.

Erat. Begitu erat Suzy memeluk Siwon hingga pria itu merasa tercekik. Tangis melengking Suzy berbarengan dengan sambaran petir, membantunya untuk tidak terlalu menampakkan tangis didepan banyak orang.

Siwon tidak tahu apa yang telah terjadi, kenapa Suzy berjalan seorang diri ditengah malam begini, saat hujan dengan tampilan tidak layak. Sepanjang sore hingga tengah malam ini ia menunggu gadisnya dan inilah yang didapat. Sesuatu hal yang tidak disangka-sangka.

“Kau kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau bawa semua barang kerjamu? Dan kenapa bajumu sobek huh? Suzy-ah.” Panggil pria itu cepat menangkup wajah memerah mantan kekasihnya. Bibir bergetar dan pucat Suzy melemahkan pandangan Siwon, pria berpakaian mahal itu menggendong Suzy perlahan dan memasukkannya dalam mobil tanpa perlawanan.

Payung juga beberapa barang milik Suzy dibawa masuk kedalam mobilnya oleh Siwon, pria itu menyelimuti Suzy kemudian yang masih menggigil diikuti air mata mengalir. Sentuhan tangan hangat Siwon sampai di kening gadis itu, sembari menyetir ia memastikan bahwa mantan gadisnya ini tidak demam ataupun sakit.

“Oppa—.”

“Hm?”

 

 

Sedikit berat Suzy turunkan tangan Siwon, menggenggamnya perlahan mencari kehangatan yang sudah lama tidak diakuinya. Suzy menggosok hidung memerahnya dan ia lihat Siwon yang hanya bertelanjang dada karena bajunya basah, tidak memakai selimut seperti dirinya karena hanya ada satu selimut yang dibawanya.

Wajah cantik itu tertunduk, menyentuh selimut yang melilit tubuhnya seolah barang berharga.

“Ada apa Suzy-ah?”

“Selimut ini yang oppa gunakan saat melawan dingin ketika menungguku?” Mata polos Suzy tampak dalam sudut pandang Siwon, ia tolehkan kepalanya sesaat dan mengangguk disertai deheman canggung. “Maka harusnya oppa juga menggunakannya saat dingin seperti ini.”

“Kau sedang kedinginan Suzy-ah, pakailah.”

“Oppa lebih dingin.” Kata gadis itu melepas selimut dari tubuhnya perlahan dan mengenakannya pada Siwon. “Mianhe oppa.”

Siwon menoleh disertai wajah teduhnya dan mengangguk. “Arra, saat seusiamu dulu aku juga ingin bebas dan tidak ingin di kekang. Aku paham.”

“Maaf aku melukaimu.”

“Suzy-ah.” Sebut pria itu miris melihat Suzy menundukkan kepalanya dan meminggirkan mobil. “Bae Suzy—.”

“Aku meninggalkanmu begitu saja, mengusirmu, menyakitimu, oppa mianhe.”

“Ania. Kau menyakitiku jika menangis seperti ini.” Wajah sedih Suzy berada dalam tangkupan tangan Siwon sempurna, salah satu jarinya Siwon gerakkan kemudian untuk menghapus tetes air mata itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa Suzy menangis seperti saat ini, andai ia bisa membantunya akan ia bantu. Namun sayangnya—, “Suzy-ah, lihat aku, dengarkan aku.”

Mata sebening tetes embun pagi hari itu mengikuti perintah yang telinganya dengar, ia pandangi sosok Siwon didepannya. Sebuah senyum hangat dari pria yang telah bersamanya hampir 1 tahun sebelum kemudian ia campakkan begitu saja itu masih  sama seperti saat pertama kali bertemu. “Besok pagi aku akan pergi. Seperti keinginanmu. Jadi jangan menangis lagi karena—.”

“Jangan—.” Rajuk Suzy bagai anak kecil ketakutan. Pegangannya pada lengan Siwon mengerat dan bergetar. “Jangan pergi oppa, jangan tinggalkan aku. Aku minta maaf, jangan tinggalkan aku. Aku sendirian. Oppa jangan tinggalkan aku. Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku oppa…….” Teriakan dibarengi pukulan pelan pada dada keras itu mengiringi malam panjang Suzy selanjutnya. Ia menyesal dan sungguh amat menyesal, sepulang dari mendapat perlakuan tidak adil tadi ia berharap menemukan Siwon didepan apartmentnya seperti biasa hingga bisa masuk dalam pelukan hangat pria itu.

Beruntungnya Suzy karena tanpa perlu berlama-lama menunggu, Siwon sudah lebih dulu menemukannya. Rasa menyesal dan bersalah, permintaan maaf juga mengemis maaf sudah Suzy siapkan. Selama perjalan tadi dirinya sudah berpikir cukup banyak, berpikir cukup bersih bagaimana buruknya memperlakukan Siwon selama ini, alasan yang mungkin membuatnya berakhir menyedihkan seperti tadi.

Namun diantara semua itu, kepergian pria berstatus mantan tunangannya ini adalah yang paling menohok. Suzy memang pernah meminta Siwon untuk pergi, untuk tidak menganggunya lagi, bahkan memintanya untuk mencari wanita lain yang siap menikah, siap melahirkan anaknya, dan siap hanya menjadi istrinya. Bukan gadis belia seperti dirinya yang masih ingin merasakan kebebasan hidup, kesenangan belaka, dan kesan seenaknya sendiri.

Suzy sadar, ia tahu bahwa Siwon adalah satu-satunya yang tidak mungkin menghianatinya. Tapi kini—. “Aku mohon oppa, jangan pergi. Aku tidak mau sendiri.”

“Suzy-ah.”

“Kita bisa menikah saat ini juga jika itu yang oppa inginkan. Jangan tinggalkan aku tapi. Aku mohon.”

“Ada apa denganmu?” Tangkupan tangan memohon Suzy—Siwon genggam. Mata pria itu makin menunjukkan kebingungan, siang tadi Suzy bahkan masih berkata agar dirinya pergi. Lalu apa yang kini sedang terjadi?

“Aku akan berhenti menulis aku janji. Oppa….”

“Ya.” Sambut pria itu lega, dibawanya Suzy dalam pelukannya dengan usapan perlahan pada punggung bergetar nan kurus tersebut. Mencoba menenangkan apa yang membuatnya semenyedihkan saat ini tanpa mau bertanya alasan dari perubahan tiba-tiba serta tangisan kencangnya.

Bulan sabit yang mulai menampakkan diri setelah awan gelap menyelimutinya seakan tersenyum dengan keadaan sepasang insan dalam ferrari FF berwarna putih tersebut, menyambut hari mereka dengan sinarnya yang menembus kaca berwarna hitam tersebut.

Malam ini, Siwon tidak akan banyak tanya dan ingin tahu. Suzy yang mulai tampak tenang dalam tidurnya adalah lebih baik dibanding tadi. Gadis itu, sungguh dirinya tidak tahu apa yang terjadi. Namun jika kemudian hal buruk berakhir baik baginya, Siwon tidak membenarkan itu.

Selimut yang menutupi kulit polosnya pria itu lepas, memakaikannya kembali pada Suzy dan menaikkan pengatur suhu hangat dalam mobil kemudian.

purple-scroll-borders-clipart-1

21 responses to “Closed Book

  1. jarang banget ff yang castnya suzy sama siwon.
    suzy nyesal setelah mencampakkan siwon. ummm. sru thor. ditunggu karya2 mu yg lainya. semangat

  2. keren thor,rasa nya cocok siwon sama suzy,adakah kelanjutan nya ini,masih kurang rasa nya,di tunggu thor ff suzy siwon lagi,gomawo..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s