[Chapter Three] Love Nation

love-nation-promotional-posternote: (***)= flashback | (****)= present

Sebetulnya aku ingin tertawa ketika bersikeras kalau aku melakukan hal yang memang aku inginkan. Karena pada kenyataannya aku tidak melakukan hal yang aku inginkan….

.

***

Pertama kali aku bertemu dengan Vero yakni ketika kami sama-sama melalui kegiatan pengenalan kampus.

Kembali pada masa lalu, aku seperti rusa balita yang kehilangan induk. Meski dapat menyelesaikan kursus bahasa Indonesia selama tiga bulan dengan gelar Master, realita yang aku hadapi sungguh di luar dugaan. Begitupun yang aku alami saat menjalani prosesi penerimaan mahasiswa baru ala kampus; gagal paham. Apa yang para senior bicarakan, aku bisa mengerti. Namun untuk mengerti apa yang mereka mau dari kami—para mahasiswa baru—itu justru sulit untuk dipahami.

Ini sepahamku kira-kira dua tahun yang lalu; ketika mereka menyuruh mengumpulkan tanda tangan dan nama para ketua Unit Kemahasiswaan, aku melakukannya. Namun setelah aku mengumpulkan kepada senior itu, dia malah mencela lantaran aku tidak menyertakan asal jurusan. Yang tidak habis pikir, mahasiswa baru yang mengerjakan perintah dengan sempurna tanpa cacat malahan habis dicerca para senior bertampang sok gahar.

Yakin karena tidak ada satu pun senior yang akan mengerti apa yang aku bicarakan dalam bahasa Korea, maka aku mengutuk mereka dalam bahasa Korea.

“Orang gila, kurang kerjaan.” ucapku sambil tersenyum kecut menatap kolong langit pinggiran ibukota yang dilalap matahari siang bolong. Belum puas aku mengutuk para senior itu, tiba-tiba muncul celetukan berbahasa Korea dari belakang.

“Wah, kamu orang Korea?”

Muncullah seorang perempuan berkuncir dua; berkemeja katun lengan panjang; memakai rok span hitam sebetis; mengalungi nemteg jumbo karton ungu. Penampilan yang tidak ada beda dengan aku.

“Mereka memang ngga punya kerjaan. Pikiran juga ngga punya. Sudah benar-benar mengerjakan apa yang diperintahkan dengan sempurna, disalahkan. Mengerjakan tanpa kesalahan malah dicela. Maunya apa?” katanya dalam bahasa Korea pergaulan. “Orang gila, ya ‘kan.” Dia memandangku sambil cengar-cengir. Kemudian tanpa bersuara ia pun memaki tanpa suara kepada para senior yang menyalahartikan kegiatan perploncoan secara harfiah.

Anehnya melihat perempuan di samping memaki mereka seperti itu, perasaanku melega. Aku tahu ini salah dan tidak dibenarkan, tetapi mereka juga tidak seharusnya berbuat seenak jidat terhadap para plonco seperti kami. Puas melaknat mereka dengan sumpah serapah yang berasal dari uneg-uneg, perempuan berkulit kuning langsat dengan kacamata minus itu meneleng kepala. Menyambar tanganku yang mengepal karena kesal.

“Vero, nama kamu?”

“Suzy. Bae Suzy.”

****

Di dalam kamar indekos, aku ditemani oleh stensilan Morfologi yang masih belum disentuh untuk keperluan kuis besok pagi. Matakuliah cabang linguistik yang tergolong khusus ini sesungguhnya memerlukan banyak catatan. Berhubung aku tergolong malas mencatat, aku lebih senang merekam pemaparan Pak Dosen dengan alat perekam. Sehingga untuk keperluan kuis dan ujian, kuping harus siap menyidang garis-garis besar materi tentang morfem dalam warna vois Pak Dosen yang berdialek pulau seberang.

Kartu nama milik Jongin menyongsong permukaan meja belajar yang tidak terlalu tinggi, berada tepat di muka tumpukan buku paket kuliah. Tawaran untuk bermagang di kafe serba cokelat plus diberi upah masih menghantui. Sampai hari ini, terhitung sudah duapuluh empat jam semenjak Jongin menawari lowongan magang dan aku masih belum memberikan jawaban.

Kepada Vero yang kemarin akhirnya tidak sampai di Choco Bank karena panggilan darurat membantu sang ibu di butik, hal ini pun kuberitahu via telepon. Gadis itu malah bersikeras mendukungku untuk menerima. Mengikuti lontaran alasan berdasarkan alam bawah sadar ala Vero yang malah membuat kepalaku tiba-tiba nyeri.

Well, ini jelas sekali kalau Jongin tertarik sama kamu, Suez. Dia memang orang yang open-minded dan berkepribadian positif tetapi dia ngga mungkin memberikan kesempatan emas ini kepada sembarang orang. Belum lama memang aku kenal dia tapi yakin deh kalau it must be something. Gadis itu malah meyakinkanku dengan imbuhan hiperbola ala fangirl.

Please, jangan berpikir seperti itu. Kalau ada maksud tersembunyi bagaimana? Dia itu masih orang lain bagiku, tahu.”

“Kenapa kamu selalu berpikir negatif, sih Suez?” curiga Vero menuntutku. Dan aku sendiri tidak lekas membalas. “Well, kamu spesial, itu sebabnya Jongin begitu.”

Aku pantang berkespresi mendengarnya. Memindahkan tanggapan hati gadis itu kepada tempat berlabel tidak penting di dalam medulla oblongata yang akhir-akhir ini juga dibuat gaduh oleh perkara tugas kampus. Ya ampun, dia pikir dia itu penulis drama di Korea. Delusif kelas berat.

“Magang di sana tidak akan membuatmu dituntut melakukan perdata di pengadilan, Suez. Apa lagi, sih yang mengganjal?”

“Aku masih tidak yakin.”

“Soal apa lagi? Soal pengalaman.” Vero menebak dan itu belum tentu benar. “Coba buka KBBI. Magang (nomina); calon pegawai yang belum diangkat secara tetap serta belum menerima gaji atau upah, well yang ini bisa dihilangkan, karena dianggap masih dalam taraf belajar.” cerca Vero. “Nah, apa salahnya dengan belajar? Kamu ngga akan pernah tahu sebelum kamu mencoba.”

“Ya, aku tahu tapi—“

 “Meski kamu kelihatan malas, aku tahu kamu itu cerdas, Suez.”

“Vero, bukan itu maksudku!”

Disentak olehku, perempuan gigih dalam hal menghasut seseorang ke jalan yang kebanyakan positif itu menciptakan hening. Seperti menjadi kebiasaan dalam membentak orang di seberang telepon. Sedetik kemudian, aku merasa tak enak hati.

“Maaf, tapi coba dengar dulu. Bukan konsep magang yang aku salahi, juga tawaran baik dari Jongin. Tapi ini tentang aku, bukan siapa dan apa. Aku harap kamu juga mengerti kalau aku hanya menjalani apa yang memang ingin dijalani. Dan khusus soal ini, aku masih belum yakin soal tawaran kerja yang memang ingin aku jalani atau ngga sama sekali.”

“Apa yang salah? Malu kamu jadi seorang, well pelayan?”

“Vero, aku ngga bilang begitu.”

“Suez, selama aku bantu Mama di butik, job desk-ku ngga beda jauh sama pramuniaga. Aku bantu pelanggan untuk mencari pakaian yang benar-benar mereka mau, mengikuti mereka ke fitting room, mengambil air minum untuk mereka bahkan. Apa yang salah? Kalau perserikatan buruh sampai menyadap pembicaraan kita, habis sudah.”

Aku memilih diam, tidak menggubris Vero yang makin lekas melunturkan keraguanku. Dan pada masa duabelas bulan ke-dua berteman dengannya, lagi-lagi aku dibuat tak berkutik oleh kegigihan menghasut seseorang ala Vero.

“Jangan terlalu jauh melangkah dalam berpikir, Suez. Itu justru akan mendistraksi sesuatu yang jelas di depan mata. Kalau kamu melakukan sesuatu berdasarkan keinginanmu, buatlah tawaran ini menjadi keinginanmu. Suez, kamu gadis yang cerdas. Bersikaplah bijak soal hal yang mungkin kamu anggap sepele seperti ini.”

Sebetulnya aku ingin tertawa ketika bersikeras kalau aku melakukan hal yang memang aku inginkan. Karena pada kenyataannya aku tidak melakukan hal yang aku inginkan. Dengan bodoh malah melepaskan sesuatu yang berharga itu tanpa ada usaha untuk menahannya sama sekali. Lantaran terlalu takut untuk mencoba. Entah apa memang bisa aku melakukan hal yang benar-benar kuinginkan itu kembali.

Pada tengah malam menuju Senin dinihari. Masih di dalam kamar indekos bercat krem dengan lampu belajar masih menyala. Pada tumpukan buku rujukan Fonologi, salinan naskah klasik novel Hikayat Nyai Dasima karya G. Francais, buku paket persajakan. Di baris paling buncit, menatap sendu ke sana bukan lagi kartu nama Kim Jongin; buku sketsa masa SMA yang sudah koyak sampulnya.

****

Perkuliahan pada hari Rabu berakhir tepat pada pukul duabelas siang. Terhitung sudah hari keempat dan aku belum memberikan jawaban kepada Jongin. Vero juga tidak membawa hal ini ke permukaan. Yeah, aku pikir ini memang jalan yang terbaik.

Musim kemarau di pertengahan Oktober menyiangi langit biru sedikit pucat daerah penyangga ibukota. Bersinar dengan terik si matahari tanpa dihalangi para kapas raksasa lantas menebar bibit atomik berefek dahsyat berupa udara panas. Mirip berdiri dekat-dekat pemanggang pizza.

Di koridor gedung fakultas Ilmu Sosial dan Politik, bersender pada tiang beton penyangga, aku menunggu Vero. Perempuan nyentrik itu sedang memiliki urusan dengan saudara sepupunya yang kebetulan adalah seorang asisten dosen.

Sembari menunggu, kuingat-ingat lagi jadwal—bahkan seorang pengangguran juga punya—sehabis kuliah berakhir. Mengembalikan buku-buku ke perpustakaan minggu lalu sudah dilakukan. Scanning kartu bimbingan akademik untuk keperluan UTS sudah juga kemarin. Tidak ada yang spesial. Sungguh, jadi sehabis ini aku benar-benar tidak ada kegiatan apa-apa selain kembali memacu langkah menuju indekos. Paling-paling merampungkan tugas kalau ada dan sisanya mungkin akan bertapa sembari memandang langit kamar atau berkeliling kompleks dengan sepeda; jauh dari kata kehidupan perkuliahan yang produktif.

Tidak salah founder father kafe serba cokelat itu menyamaiku dengan pengangguran.

Jika aku menerima tawaran bermagang di Choco Bank, kemungkinan besar waktu luang yang banyaknya tidak ketulungan ini akan sulit aku dapatkan. Pertama-tama, sehabis kuliah pasti aku akan segera menyetel langkah seribu menuju wilayah selatan. Kedua, aku tidak sendirian membelah ruamnya ibukota—jutaan penduduk lingkar luar ibukota yang berlomba-lomba mengadu nasib. Ketiga, bisa dipastikan padatnya lalu lintas hanya bisa ditumpas oleh pahlawan kemacetan; transportasi berbasis aplikasi on-line roda dua.

Aku membayangkan hidup yang seperti itu. Well, mungkin yang jadi pertimbangan bagiku adalah bagaimana caranya untuk mengukur dan membagi waktu dengan tepat. Aku sendiri terhitung kurang teliti dalam membagi waktu. Tunggu, kenapa sampai-sampai repot membayangkan? Apa aku benar-benar ingin menerima tawaran itu? Yang kumaksud ‘aku’ di sini bukan aku sebenarnya. Tetapi aku yang lain yang ikut bersuara di dalam pikiranku, dan dia sedang melipat tangan sambil mencomooh lantaran aku yang katanya bersifat sok jual mahal. Aku kesal.

Terlalu banyak berpikir, membuat napas terbuang berat. Lalu lintas di lorong gedung lima lantai ini terhitung lengang meski memasuki waktu istirahat. Aku melongok, mencari-cari ujung hidung perempuan nyentrik yang tidak kunjung kelihatan.

Ketukan hak sepatu tinggi teratur bercumbu dengan permukaan keramik merah hati lorong gedung. Vero pakai sepatu hak tidak hari ini? Aku lupa. Mengira kalau yang sedang berjalan itu Vero, aku sedikit mengangkat kepala. Masih membelakangi lorong karena posisi menghadap taman kecil yang hijau dan asri yang dibangun sepanjang gedung. Saat berbalik aku malah menjumpai punggung wanita berselimut pakaian formal, bercorak garis-garis putih. Nampak ia berhenti lantaran interupsi seseorang dari ujung lorong. Dan sekali lagi ia bukan Vero.

Kemudian aku mengembalikan visual pada pohon mangga yang tumbuh beberapa meter di depan. Dahannya menjulur sehingga melindungi dari sengatan matahari.

Dokumen Anda tertinggal, Miss. Dan tolong terima hadiah dari Profesor ini. Sekali lagi maaf sudah membuat Anda sampai repot ke mari. Suara pria kisaran usia empat puluhan menambah pelbagai audio yang dapat terjaring oleh telinga selain bising kehidupan kampus di siang hari. Bukan masalah besar. Hm, terimakasih banyak dan tolong sampaikan apresiasi saya kepada Profesor. Bahasa Indonesia cukup baku namun terdengar agak janggal, seperti tidak ditutur oleh penutur asli tetapi orang asing—bedanya tidak ada denganku. Sedikit aku mengenali suara ini. Kalau begitu saya pergi dulu, semoga hari Anda menyenangkan. Selamat siang.

***

.

“Sudah lama aku tak melakukannya. Apa kamu ingin mencobanya juga, Suzy-a?”

“Wah! Gambarnya bagus sekali! Apa namanya? Ah artistik! Seniman Bae, kamu yang terbaik!”

 “Ayah dan ibuku juga orangtuamu sekarang, Suzy-a. Ah, jangan lupakan aku juga. Karena aku lebih tua empat bulan darimu, aku juga kakakmu sekarang!”

“Tidak ada yang lebih baik daripada kesendirian atau kesepian. Keduanya sama-sama imbas dari kehilangan.”

“Aku tidak menyesali semua yang terjadi. Mulai sekarang mari kita hadapi jalan kita masing-masing.”

.

****

“Kang Seulgi.”

Dua suku kata itu terucap begitu saja dari bibirku. Tidak yakin terdengar lantang meski ketak-ketuk sepatu yang belum menjauh melangkah itu berhenti berirama.

****

Kamar satu petak tempat aku tinggal dindingnya dicat warna krem muda dengan dekorasi bunga krisan bentukan roller paint. Hanya diisi oleh satu kasur pendek, almari murahan, meja belajar dengan tumpukan buku, kulkas mini satu pintu, sebuah magic jar dan rak berisi beberapa piring serta gelas. Layar Macbook yang terbiarkan menyala oleh file analisis drama meredup sampai menutup matanya. Lelah menunggui seseorang yang sedari tadi berkhayal.

Aku harap aku salah lihat. Perempuan yang ada di kampus siang tadi pasti bukanlah Kang Seulgi. Jika benar, untuk apa ia berada di negara ini.

Hal ini membuatku sedikit atau banyak menengok ke masa saat aku SMA. Kang Seulgi, perempuan itu, aku telah berbuat jahat kepadanya.

***

Gang-gang sempit di dekat sekolah menjadi saksi bisu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melatari aksi bullying Anak-anak Kelas Tiga kepada para junior kutubuku. Meski yakin melawan tidak akan mengubah keadaan, anak-anak lemah itu nekad melancarkan aksi mogok melakukan apa yang diperintahkan oleh senior gila otoritas.

“Kalian tidak akan bisa melawan. Jadi lebih baik kalian dengarkan dan turuti kami saja. Oke!” tegas seorang perempuan kurus tinggi dengan garis mata buatan setebal aspal. Dia menoyor kepala para kutubuku satu-satu hingga tiba giliranku, aku justru tidak merasakan telunjuk yang kukunya dilapisi oleh cat kuku murahan itu. Perempuan yang tidak mau kusebut namanya malah melipat tangan di depan dada.

“Hei, bukankah dia si ranking satu? Siapa namanya?”

“Suzy! Dia Bae Suzy.”

“Ah benar, Bae Suzy. Hei, Suzy-a, dengarkan aku baik-baik. Pasang kupingmu. Anak cerdas sepertimu pasti mengerti lebih cepat daripada mereka,” Perempuan yang diyakini sebagai ketua geng brengsek ini kemudian menepuk-nepuk pundakku.

“Kehidupan dimulai dengan sebuah garis; ada yang bisa dilalaui dan yang haram untuk dilalui. Kamu pasti tahu kalau melewati batas itu adalah pelanggaran bukan. Yeah, kamu pasti tahu kalau aturan dibuat bukan untuk dilanggar,” untuk tertawa sebentar dia menjeda. Meski kuyakin omongannnya tidak ada unsur melucu sama sekali. “makanya, berhenti sajalah. Tidak usah melakukannya. Jangan melewati batas atau kalian akan menyesal.”

“Wah, kata-kataku yang tadi bagus sekali, bukan?”

“Park ____.” Dua suku kata yang menjadi nama dari senior perempuan kurus tinggi itu kusebut penuh nada menjatuhkan. Lantas menghentikan para senior gila yang lain mencela dan merusak mental kami dengan buaian kata-kata.

“Apa kamu bilang? Hei, sadarlah kamu sedang bicara dengan siapa! Di mana rasa sopanmu?!”

“Untuk apa kami berlaku sopan? Tunggu, apa kalian merasa ingin dihormati oleh kami? Wah, kalian sedang melucu ya. Sayangnya kami tidak berpikir begitu.”

Tiga murid perempuan kelas dua—sasaran bullying lain—yang berbeda kelas denganku menatap dengan pandangan gila seolah aku sedang menantang malaikat maut. Namun sedetik kemudian, mereka justru membanjiriku dukungan tanpa kata melalui sepasang bolamata. Sementara para senior perempuan yang mayoritas berseragam kekecilan mulai mengerubungiku seperti semut menemukan remahan kukis.

“Kamu memang berbeda. Tentu saja, Si Ranking Satu.” Melecehkanku dengan tatapan, perempuan Park itu menundukan kepala, berbicara tepat di hadapan mata. “Tapi aku tidak yakin kalau otakmu yang pintar itu bisa membuatmu bertahan di dunia nyata yang kejam ini.”

Plak!

Menamparku dengan keras di muka, perempuan itu kemudian bersorak dengan satu tarikan napas. Rasa panas pun cepat menjalar di sekujur pipi kiri. Dia masih menatapku. Kali ini tatapan penuh benci, iri, dengki, dan mematikan.

“Hah! Ini sangat menyesakkan. Orang pintar banyak lagu sepertimu benar-benar menjengkelkan! Wah!!”

Melayangkan tamparan kedua, hempasan keras tak kunjung menerjang pipi. Senior perempuan itu malah menoleh dengan ekpresi terganggu.

Cut! Di mana eskpresinya? Ya, Park ____ ekspresimu sudah bagus dan maksimal. Tetapi Bae Suzy, kamu harus lebih menunjukkan perasaanmu.”

“Apa-apaan ini? Hei!”

Gangguan tiba-tiba dilancarkan oleh seorang murid perempuan dengan ponsel di tangan. Bersikap bak seorang sutradara sekaligus juru kamera. Kukenali kalau ternyata perempuan dengan rambut sebahu lurus itu adalah Kang Seulgi yang sekelas denganku. Si murid pindahan. Juga seorang mantan berandalan.

Para senior itu kemudian membuka jalan ibarat lautan yang dibelah oleh tongkat ajaib Musa. Berkasak-kusuk menatap Seulgi. Mundur beberapa langkah mereka, bersolah waspada terhadap mantan ketua gangster perempuan yang katanya sudah pensiun itu.

 “Kang Seulgi, Ular Emas Mokpo.”

“Aku sudah pensiun, ____.” balas Seulgi ringan. Lantas dia memindai kami satu persatu. Tatapan yang tidak terartikan. Kemudian dia menarik napas dengan lambat. “Lebih baik kalian berhenti sekarang.”

Well, entahlah. Kamu mengenal perasaan kami lebih jauh. Ini belum berakhir sampai ini benar-benar berakhir.”

Pertemuan dua ketua geng—yang satunya mantan—ini menyulut sumber api yang lain. Seulgi justru bersikap santai namun aksinya sungguh tak terbaca. Maksudku, untuk apa seorang mantan berandalan menghentikan aksi kawan kompatriot sesama berandalan sekolah.

“Urus saja urusan rumah tanggamu sendiri, Non.” Park ____ menanggapi dan tersenyum miring. “Lagipula, untuk apa kami berhenti. Sebagai mantan sesama ketua tentu kamu juga pernah menikmati momen-momen seperti ini ‘kan? Anak-anak, mainkan filmnya!”

Para pengikut perempuan Park ____ menyudutkan kami di tembok. Mereka lantas meneriaki kami dengan makian terkurang ajar sepanjang masa. Memberikan tamparan keras tidak secara fisik tapi secara psikis. Mereka melukai kami dengan serangan psikis. Kata-kata mereka mengintimidasi. Seulgi seperti air panas yang dibuang di tengah salju. Ia membeku melihat bawahan Park ____ mencela kami dengan cara yang sangat tak terpuji. Entah apa yang dia pikirkan saat melihat kami. Ketika pandangan kami bertemu, ia malah tersenyum sedih.

“Baru kali ini aku menemui orang pintar yang congkak sepertimu. Tetapi kepintaran tidak memberikanmu pengertian apa arti kata menghormati senior. Seperti tidak pernah diberikan ajaran moral oleh orangtua. Hei, apa ibumu juga sama denganmu? Bermulut kotor.”

Berbicara soal perbatasan relatif, malahan mereka yang sudah melewati batas. Para senior gila otoritas yang memuakkan. Aku mengontrol turbin dalam perasaanku yang teraduk-aduk oleh amarah dan dendam. Ketika mereka sudah mulai membawa oangtua, kesabaranku diuji. Aku mencoba untuk bersikap seperti manusia tidak normal. Mengabaikan serangan psikis mereka dengan menyetel parameter kesabaran di tingkat yang tak terjangkau. Mereka sedang memancing amarahku.

“Apa dia juga pintar menjilat? Aku dengar Suzy ini mengikuti TOEFL Bahasa Inggris ulang karena ketahuan mengerjakan soalnya lebih dulu di rumah. Wah, kamu benar-benar hebat Suzy-a! Si Ranking Satu memang beda.”

“Mari kita beri ia sebutan baru, Si Jalang Ranking Satu. Anak dari Si Tak Bermoral Nomor Wahid.”

BUG!

Tinju keras penuh dendam melayang ke muka perempuan bermulut neraka yang berani menghina ibuku. Sehingga dia terhuyung hebat seperti ayam yang dipotong lehernya. Dan sungguh itu bukan tinjuku melainkan Kang Seulgi yang membuat ujung bibir perempuan itu berdarah. Kemudian melempar senyum dingin kepada semua para bawahan Park ____.

“Sudah lama aku tak melakukannya. Apa kamu ingin mencobanya juga, Suzy-a?”

****

Pukul tujuh tigapuluh pagi, diselingi gerimis kecil sejak subuh menyelimuti awalan hari Kamis yang dipadati oleh puluhan kendaraan roda empat dan roda dua di ruas jalan selatan kota. Kembali ke bangunan bergaya semi Victoria yang terlanjur masih sepi. Di dalamnya hanya diisi oleh dua pria yang sibuk bersiap di balik meja kasir.

Pintu kaca itu dibuka sehingga loncengnya berdencing. Menampilkan sesosok perempuan bercelana hitam pas ukuran, ditemani sweter abu-abu sedengkul lengan panjang berkerah kemeja vanilla. Tanpa melihat siapa yang datang, pria berkulit lebih gelap dibanding pria di sisi yang sedang mengecek layar tablet angkat suara. Bersenandung bahasa Indonesia dengan fasih.

“Maaf tetapi kami masih belum buka. Anda bisa kembali lagi pada pukul sembilan pagi.”

“Selamat pagi. Apa aku terlambat untuk bekerja di hari pertama?”

Kim Jongin yang berada di meja kasir dengan tumpukan mug putih bermacam corak membeku persis cokelat didinginkan. Namun sedetik kemudian senyuman mengesankan terangkat. Dan jangan lupakan Suho. Pak Manajer yang berekpresi kalem meskipun menangkap radarku di Choco Bank pada pagi hari. Seolah ia tahu esok hari adegan ini akan terulang di setiap pagi dalam lima kali seminggu.

End of Chapter Three

8 responses to “[Chapter Three] Love Nation

  1. Aigoo apakah akhirnya suzy nerima tawaran jongin buat kerja di cafe nya….???? Senengnya…
    Penasaran banget sm masa lalu suzy…kayakny masih penuh misteri…suzy dulu dibully??? Itukah alasan yang bikin dy nerusin kul diluar negeri???
    Siapa yg dlu bully suzy???park jiyeon???
    Bukankah seulgi dlu yg bantu suzy pas dibully tp kenapa suzy justru kaget saat denger suara seulgi…next chap ditunggu eon…

  2. Sebelum aku baca nih ff, aku mau bilang ke kakak klo pls ttp bikin kaizy fanfic dan jangan pernah berenti /maksa😂/ karna kaizy fanfics are my lyfe 😂😂😂 … Walaupun ada berita dating dating itu dan aku ga mau sebut siapa 🌚😂

    Hiburan gua cuma di ff kaizy dan berita putus k..

  3. Masih kurang ngerti aku sama ceritanyaa
    Tentang alasan apa yg sebenarnya melandasi suzy sekolah di luar negeri apakah salah satu alasan itu ada yg berhubungan dgn kang seulgi?

  4. Pingback: Twenty Things About Miss of Beat R | KICHI ETHAIN·

  5. anaaa, kubaru sadar ini udah di post chapter 3 ketika chapter 4 udah di publish, kemaren aku ngepost dan tag post yang kukira chapter 2,

    sebenernya ku melihat suzy kyk punya insecure sendiri klo ngadepin orang baru, makanya ragu masuk choco bank, terus di past nya dia kayak kena bully an nah seulginya nolongin dia, tapi ada yg ganjil pas
    “Ayah dan ibuku juga orangtuamu sekarang, Suzy-a. Ah, jangan lupakan aku juga. Karena aku lebih tua empat bulan darimu, aku juga kakakmu sekarang!”
    jadi jangan2 suzy ma irene itu udah yatim piatu kah?
    dan klo yang dliat suzy itu emang seulgi, berarti dia ke indo juga dong ya? hihihi

    kulangsung cus ke part 4 dehh
    oh iya, kumenunggu kamu post twenty things about xianara, hehehehe

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s