[1/?] Louse Up Wedding

lup-myungzy 1st

a fiction by dulefghijkl

[Miss A] Bae Suzy [INFINITE] Kim Myungsoo

Marriage Life, AU, Romance, FamilyPG-16[1/?]

A/N. This fanfic officially mine. Officially by my adult imagination. Dan FYI ya readers, fanfic ini pernah aku post di salah satu blog ff dengan cast sehun-oc jadi kalo misalkan readers sekalian mungkin ngerasa pernah baca ff ini, so yaaa yang tadi aku bilang itu. Jadi, bisa dibilang fic ini adalah hasil remake dari fic itu, karena ada beberapa bagian yang aku rubah. Oke tanpa banyak cuap lagi– happy readingggg~~~^^

1st. Louse Up

Suzy menyumbat kedua lubang hidungnya dengan tisu agar bau amis yang ditimbulkan oleh masker susu murni yang tengah ia gunakan pada wajahnya tidak masuk ke hidung. Ia mengoleskan masker yang sudah berbentuk krim itu dengan tebal sampai menetes-menetes. Masker ini sungguh bukan seleraku

Dengan perasaan penuh penyesalan akibat masker itu Suzy memilih untuk mengecat sepuluh kuku tangannya dan dua kuku kakinya—kuku jari selain ibu jarinya sulit untuk dicat karena terlalu kecil—dihiasnya kuku tersebut dengan warna merah setelahnya ia berbaring diatas sofa.

“Huh, rasanya aku ingin muntah!” Suhyun yang baru saja masuk ke ruang keluarga langsung menutup hidungnya dengan telapak tangan.

“Kah hehitu haena heyum hakan hiang, hoh (kau begitu karena belum makan siang, eoh)?” Suzy kesulitan membuka mulutnya karena masker yang terasa berat di wajahnya akibat sudah mengering. “Hahi huhiat aha hwai ahel hehuhahanmu (tadi kulihat ada pai apel kesukaanmu).”

“Kau masih bisa berbicara mengenai makanan?” Suhyun menatap Suzy dengan tidak percaya. “Hhh. Aku bahkan tidak sempat makan karena harus membereskan aula pernikahan yang seperti habis menggelar konser itu dan mengantarkan para Tetua keluarga.”

“Hafa hehua hudah huwang (apa semua sudah pulang)?”

Suhyun menatap Suzy sekilas. “Hari ini, kau sudah mati eonnie. Aku tidak percaya kau benar-benar menepati kata-katamu itu. Dan jangan pernah berharap aku akan memberikan uang pernikahan padamu, bahkan untuk pernikahan yang kelima enam tujuh ataupun seterusnya.” Suhyun menghempaskan tubuhnya pada sofa kosong yang ada didekat Suzy. “Omong-omong apa kau mencium sesuatu? Ini seperti bau—Eoh, apa kau memakai krim? Krim apa itu? Kenapa bau amis sekali?” Suhyun kembali menutup hidungnya dengan tangan sambil mengeryitkan dahi.

“Huhu huuni (susu murni).”

“Apa? Pupuk banci?”

“Huhu huuni (susu murni)!” Suzy berteriak keras yang membuat masker didekat bibirnya yang belum kering berhasil masuk kemulutnya. “Uhh!” ia kemudian segera berlari menuju kamar mandi yang ada didekat dapur dengan sedikit berlari dan tangan yang ditaruh dibawah dagunya agar masker itu tidak jatuh tercecer kelantai.

“Kau mau kemana?”

“Kamar mandi!”

Suhyun menatap ke arah pergi Suzy dengan heran. Drrt..drt. merasakan ponselnya bergetar Suhyun segera mengambilnya dari dalam clucth bag yang tadi ia letakan di sofa.

Nde?” Suhyun kembali menolehkan kepalanya dan melirik sekilas ketempat Suzy berada—kamar mandi.

Arraseo…”

Setelah menutup sambungan teleponnya Suhyun segera menghampiri Suzy yang tengah membersihkan wajahnya.

Eonnie?”

“Umm,”

Eomma akan sampai sebentar lagi…”

Suzy menghentikan kegiatannya membasuh wajah dan sedikit menoleh kearah belakang dimana Suhyun berdiri.

“Lalu?”

Eomma menyuruhku untuk menahanmu agar tidak kemana-mana. Tapi masalahnya sebentar lagi aku harus pergi…”

“Pergilah. Aku tidak akan kemana-mana.” Suzy memutar kepalanya pada westafel dan kembali membasuh wajahnya untuk membersihkan sisa-sisa masker yang dirasa masih menempel itu.

“Aku tidak yakin dengan itu.” tukas Suhyun.

“Terserah apa katamu.”

Suhyun memandang jengah kearah Suzy yang tengah membelakanginya itu kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju keruang keluarga dan  langsung mengambil clutch bag miliknya.

“Aku pergi eonnie. Tetaplah dirumah sampai eomma pulang dan jangan kemana-mana!” Suhyun berteriak kearah kamar mandi setelahnya ia segera melangkahkan kaki menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Suzy yang masih sibuk membersihkan wajahnya dari masker susu murni itu.

Tak berapa lama kemudian Suzy melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah basah penuh air. Ia berjalan kembali menuju tempatnya berbaring tadi—ruang keluarga.

“Kenapa wajahmu basah?”

Suzy menolehkan kepalanya kesumber suara dengan perlahan, sepertinya ia mengenal suara itu.

“Eoh, eomma sudah sampai?”

Suzy berjalan mendekati tempat sang ibu yang tengah duduk seraya menatapnya dingin. Kemudian ia ikut mendudukkan dirinya dan mengambil dua lembar tisu yang ada dimeja lalu menghusapkannya pada wajahnya yang masih basah.

“Dimana Suhyun?”

“Pergi.”

“Kemana?”

“Ia tidak mengatakan kemana akan pergi…”

Nyonya Bae—ibu Suzy—menatap anaknya yang masih sibuk menghusapkan tisu pada wajahnya dengan tenang. “Kenapa kau membasuh wajahmu?”

“Aku habis mencoba produk masker terbaru.”

“Masker?”

Suzy menatap sang ibu sekilas kemudian menganggukkan kepalanya.

“Seorang wanita yang lari lagi dari pernikahannya masih sempat memakai masker?” Nyonya Bae berdecak.

“Aku masih gadis, eomma.” Suzy mencoba membela diri dengan membenarkan ucapan sang ibu.

“Ya! kau gadis berusia dua puluh tujuh tahun yang kembali menggagalkan acara pernikahan untuk keempat kalinya.”

Suzy menangkap ekspresi marah dan kesal dari raut wajah sang ibu. Tentu ini hal yang biasa untuk Suzy mengingat ia pernah lebih dari sekali mengalami ini.

“Aku sudah mengatakan sebelumnya—“

“Jika kau tak ingin menikah, begitu?”

“Bukan tak ingin eomma, tapi belum ingin.” Sekali lagi Suzy membenarkan pernyataan juga pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu.

Nyonya Bae menatap sang anak dengan jengah diiringi hembusan nafasnya yang berat. “Wae?”

“Hanya belum ingin saja.”

“Kau tahu? Eomma tidak pernah membayangkan akan memiliki anak yang menggagalkan pernikahannya sendiri sampai empat kali seperti ini!”

“Seharusnya eomma membayangkannya dulu agar tidak terkejut mengetahui aku anakmu seperti ini sekarang.”

“Apa yang kau bicarakan hah?” Hardik sang ibu seraya melayangkan pukulan kepada Suzy namun tak berhasil karena anaknya itu sudah menghindar terlebih dahulu.

Suzy menatap sang ibu dengan ragu.“Aku kan sudah bilang. Lagipula bukankah masih ada pernikahan kelima? Atau bahkan keenam, tujuh, delapan dan seterusnya…”

“BAE SUZY!” sang ibu berteriak kesal lalu menempelkan tanganya didahi, nafasnya terengah-engah dan matanya menatap Suzy dengan tajam. “Eomma tak mau tahu, cepat kau hubungi calon suamimu itu sekarang!”

“Apa? Aku tidak mau.”

“Apa maksudmu tidak mau? Kau tetap akan menghancurkan pernikahanmu yang kesekian kalinya ini?”

“A—“

“Tidak perlu.”

Suzy dan Nyonya Bae menolehkan kepala serentak kesumber suara. Suzy diam membisu seketika ketika mengetahui seseorang yang memotong ucapannya adalah sang ayah.

“Biarkan saja seperti ini.” Sang ayah berjalan mendekati Suzy dengan tatapan dingin nan menusuk dimatanya. Pria paruh baya itu kemudian berhenti tepat didepan Suzy. “Dan siapkan diri untuk melihat berita di media esok hari…” kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dan pergi menuju lantai dua rumah itu.

Suzy menatap kepergian sang ayah dengan perasaan yang sulit diartikan dan tentunya juga pikiran mengenai ucapan yang dilontarkan pria paruh baya itu. Benar, media pasti akan memberitakan ini besok

 

***

 

Yeobseyo?” Myungsoo menghentikan kegiatan memotretnya sejenak untuk menjawab sebuah panggilan yang masuk pada ponselnya.

“Aku sedang bekerja…” Ia meletakkan kamera digenggamannya pada nakas yang ada disudut ruangan.

Ye, eomma. Aku akan selesaikan pekerjaanku dulu setelah itu—Iya aku mengerti. Baik, aku akan segera pulang.”

Myungsoo memasukkan ponselnya kedalam saku celana, kemudian melirik jam dipergelangan tangan kirinya sekilas lalu meraih kamera miliknya kembali ketempat ia melakukan pemotretan tadi.

“Maaf membuat anda menunggu.” Myungsoo sedikit menundukkan kepalanya sopan kepada model yang menjadi objek potretnya itu.

“Ah tidak apa-apa.”

“Baiklah, mari kita mulai lagi.”

Myungsoo mulai membidikkan lensa kameranya pada model didepannya dengan sangat serius. “Tolong sedikit bergeser kekanan.”

“Seperti, ini?”

“Ya.”

Suara jepretan kamera bergema keseluruh ruangan. Myungsoo menjauhkan kameranya untuk melihat hasil foto yang baru saja ia ambil kemudian mendekatkan benda itu kembali kewajahnya.

“Sekarang tolong anda tatap vas bunga yang ada disana dengan dagu yang sedikit mendongak keatas…” Myungsoo kembali memberikan arahan pada modelnya.

“Ya, bagus. Pertahankan.”

Suara jepretan kamera kembali bergema keseluruh ruangan, kali ini menandakan acara pemotertan itu selesai. Myungsoo lantas menghembuskan nafasnya lega. Ia kemudian menghampiri sang mdel dan mengulurkan tangannya.

“Terimakasih untuk hari ini. Senang bekerja sama dengan anda.” Myungsoo juga tak lupa menyunggingkan senyum termanisnya.

“Terimakasih kembali. Anda begitu profesional Tuan Kim. Saya sangat senang bekerja sama dengan anda…” sang model menjabat uluran tangan Myungsoo dan membalas senyuman lelaki itu. “Dan jika tak keberatan… apa kau mau minum kopi bersamaku setelah ini?”

Myungsoo menatap gadis didepannya dengan sopan. “Ah maaf Nona Han, saya harus segera pulang. Sampai jumpa.”

Myungsoo segera melangkahkan kakinya menjauh tanpa memperdulikan reaksi dari gadis yang secara tak langsung baru saja mengajaknya berkencan. Ia kemudian memasukkan kamera miliknya kedalam tas khusus lalu dengan segera di kenakannya jaket kulit hitamnya.

Myungsoo mulai melangkahkan kakinya keluar studio pemotretan menuju tempat parkir dengan tas berisi kamera yang ia selempangkan pada tubuhnya dan tangan kanannya membawa helm karena hari ini lelaki itu memutuskan untuk membawa motor ke studio.

Sesampainya ditempat parkir Myungsoo segera mencari letak motornya. Setelah menemukannya ia segera mengendarai motor itu—tentu tak lupa ia kenakan helmnya—dan pergi menjauh dari tempat parkir untuk pulang menuju rumah.

Tak butuh waktu lama bagi Myungsoo untuk mengendarai motor dari studio pemotretannya kali ini karena memang letaknya hanya berjarak dua blok dari tempat tinggalnya. Myungsoo lantas memasuki halaman rumahnya ketika pintu gerbang terbuka otomatis dan segera mematikan mesin motornya serta melepas helm yang bertengger dikepalanya lalu menentengnya pada tangan kiri sementara tangan kanannya ia gunakan untuk sedikit mengacak rambut bagian depannya. Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki rumah besar bercat putih yang sudah ia tinggali sejak kecil itu dengan santai.

“Kau sudah pulang?”

“Umm, sesuai perintah eomma.”

Sang Ibu melangkah mendekati lelaki  yang kini tengah mendudukkan dirinya pada sofa ruang tamu rumah itu. “Ada yang ingin eomma dan appa bicarakan.”

“Apa harus dengan memerintahkanku pulang dengan cepat? Bukankah masih banyak waktu yang dapat digunakan, eomma?” Myungsoo menatap malas sang ibu.

“Tidak bisa Myungsoo-ah,”

“Bahkan ini masih pukul dua siang, eomma.”

“Justru karena itu. Appamu akan pergi ke Tokyo sore ini. Jadi tak ada waktu untuk membicarakan ini nanti…”

“Sebenarnya apa yang ingin kalian—“

“Kau sudah pulang rupanya, Myungsoo-ah?”

Myungsoo menolehkan kepalanya kesumber suara dan mendapati sang ayah tengah berjalan mendekati tempat ia dan sang ibu. Myungsoo segera berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya hormat. “Ye, appa.” Tuan Kim—Myungsoo appa—sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan didalam keluarga maka tak salah jika Myungsoo berperilaku begitu sopan dan formal pada sang ayah.

Tuan Kim segera menganggukkan kepalanya kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang behadapan langsung dengan Myungsoo. “Kembalilah duduk.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya dan kembali mendudukkan tubuhnya pada kursi lalu menatap sang ayah dengan penasaran. “Sebenarnya…apa yang ingin appa dan eomma bicarakan?”

Tuan Kim mulai membenarkan posisi duduknya lalu menatap Myungsoo dengan serius. Ia kemudian menarik nafasnya dalam. “Bulan depan kau akan berulang tahun yang ketiga puluh, bukan?”

Myungsoo menatap sang ayah sejenak lalu mengganggukkan kepalanya. “Iya.”

“Itu adalah umur yang sudah cukup bahkan terbilang matang untuk menikah…” Lelaki paruh baya itu menarik nafasnya pelan dan semakin menatap lekat Myungsoo. “Appa dan Eomma ingin kau segera menikah. Tepat setelah usiamu genap tiga puluh.”

Tepat. Myungsoo mendesah pelan, sepertinya ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia mengenal sang ayah dengan begitu baik dan tahu jika orangtuanya itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ini bukan kali pertama sang ayah memintanya untuk segera menikah, mungkin ini suah untuk kesekian kalinya. Bahkan baru beberapa hari lalu sang ayah mengatakan ini padanya. Namun bagaimana dengan Myungsoo? Tentu ia menolaknya dengan berbagai alasan. Namun sepertinya untuk yang sekarang ini—

Myungsoo kembali mendesah lalu menatap sang ayah ragu. “Appa—“

“Kali ini tidak ada toleransi untukmu, Kim Myungsoo.”

“Tap—“

“Kenalkan calon istrimu pada kami bulan depan. Jika tidak…” Tuan Oh mulai beranjak dari duduknya lalu menatap Myungsoo dengan dingin.

“Tinggalkan pekerjaanmu sebagai fotografer itu. Dan aku akan mengirimmu ke perusahaan cabang yang ada di Amsterdam.”

 

***

 

Brakk. Suzy yang tengah sibuk dengan ponselnya segera mengalihkan perhatiannya pada seebuah surat kabar yang baru saja dilemparkan oleh sang manager dengan kasar. Suzy segera mengambil surat kabar tersebut lalu membacanya dengan santai.

  • Model terkenal YGK Bae Suzy kembali menggagalkan acara pernikahannya! Hal ini semakin memperkuat julukannya sebagai ‘gadis pernikahan gagal’.

“Kau ingin menyiksaku, lagi?”

Suzy meletakkan surat kabar ditangannya itu kembali pada tempatnya dilemparkan tadi kemudian ia memandang santai seseorang yang baru saja berseru padanya.

“Minumlah.” Suzy menyodorkan segelas latte yang ia beli sesaat sebelum masuk kedalam gedung agencynya dan memandang sang manager yang juga sahabatnya itu dengan iba.

“Kau memang gila!”

“Yah, dan kau tahu itu Hanli-ya…” Suzy sedikit terkekeh melihat Hanli yang penuh dengan keadaan kesal dan jengkel namun tetap tidak menolak sodoran segelas latte darinya.

“Sekarang apa lagi alasannya?” Hanli memandang Suzy dengan jengah.

“Kurasa kau tahu.” Suzy kembali menyibukkan dirinya pada ponselnya.

Hanli mendudukkan tubuhnya pada sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Suzy. “Hanya tak ingin? Itukah alasanmu… lagi?” Wanita yang baru saja memperbaharui marga nya itu memandang sang model dengan tak percaya. Tidak. Melampaui tidak percaya.

“Kenapa kau kesini?” Suzy menatap Hanli sekilas. “Apa acara bulan madumu lebih cepat dari yang direncanakan?”

“Lebih tepatnya diluar rencana! Aku kembali karena harus membereskan keributan yang kau buat Bae Suzy!”

“Keributan apa yang kubuat?”

Hanli memandang Suzy dengan amarah yang telah memuncak, nafasnya memburu, tangannya meremas gelas kosong dengan mata yang menatap tajam sang model. “Kau!” Tangannya menunjuk lurus tepat didepan wajah Suzy.

“Apa?” Suzy mencoba memasang wajah dengan ekspressi sesantai mungkin. Ia mengenal Hanli dengan begitu baik dan tidak mau memikirkan apa yang akan Hanli lakukan padanya setelah ini.

“Hh,” Hanli menurunkan tangannya dengan cepat lalu memandang Suzy dengan malas. “Kau tahu? Belum genap satu jam pun aku sampai di Seoul namun sudah mendapat kabar jika dua perusahaan majalah membatalkan kontrak untuk menjadikanmu sebagai model tetap mereka.”

Suzy meringis mendengar ucapan yang dilontarkan Hanli. Gadis itu dapat melihat guratan lelah yang terpancar dengan jelas pada wajahnya.  Drrt..drrt. Suzy menatap ponselnya dengan lemah.

“Dan aku yakin Sajangnim akan segera memintamu untuk menemuinya…”

“Sekarang.” Suzy mulai beranjak dari duduknya.

Hanli memandang Suzy dengan heran. “Apa?”

Menyadari kebingungan yang dilemparkan Hanli padanya ia kemudian segera menunjukkan layar ponselnya pada wanita itu. “Beliau baru saja memintaku untuk menemuinya.”

Hanli menatap Suzy dengan iba. Sekesal apapun ia pada gadis itu tapi tetap saja ia sudah menganggapnya sebagai adik. Bukankah tujuh tahun bukan waktu yang sebentar?

“Aku dipihakmu!” Hanli menunjuk Suzy dengan jarinya yang membentuk bagai sebuah pistol.

“Itu harus Nyonya Lee.” Setelah mengatakan itu Suzy segera melangkahkan kakinya keluar ruangan dan menghilang dibalik pintu.

 

***

 

“Aku turut prihatin kembali pada pernikahanmu, lagi.”

Suzy sedikit menundukkan kepalanya hormat seraya mengucapkan terimakasih kepada Yang Sajangnim yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Dan, tentu kau juga sudah melihat surat kabar hari ini kan?”

Ye Sajangnim.”

“Dua perusahaan majalah membatalkan kontrak untuk menjadikanmu sebagai model tetap mereka. Dan…” Yang Sjangnim semakin memandang Suzy dengan lekat. “apa yang ingin kau lakukan untuk membayar ini?”

Jwesonghamnida, Sajangnim.” Suzy menundukkan kepalanya dengan lemah.

“Aku tidak menyalahkanmu untuk kasus yang kesekian kalinya menimpamu ini. Karena aku yakin kau juga tidak ingin hal ini terjadi.” Yang Sajangnim menatap Suzy kali ini dengan tatapan yang sudah berubah santai. “Dan untuk membayar akibat dari kejadian ini… kau tenang saja.”

“Eng—maksud Sajangnim?” Suzy memandang heran petinggi perusahaan tempatnya bernaung itu.

“Kau tahu Emerald Wu, kan?

Suzy menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Tentu. Ia adalah designer yang tengah bersinar tahun ini dan baru saja menggelar Fashion Show perdananya di New York dengan sukses.“ Mata gadis itu berbinar saat melontarkan kalimatnya tersebut.

“Ya. Dan aku baru saja mendapat kabar jika Emerald Wu menginginkan kau menjadi model untuk rancangan terbarunya yang juga bekerja sama dengan K+ Magazine.”

Suzy memandang Yang Sajangnim dengan mulutnya yang sedikit terbuka serta matanya yang menatap tak percaya. “Emerald Wu? K+ Magazine?”

“Ya. Kau tidak percaya padaku?” Yang Sajangnim memandang Suzy dengan santai.

“Bagai—“

“Aku juga sudah memberitahukan Hanli mengenai ini dan memintanya untuk segera mengatur pertemuanmu dengan Emerald Wu juga dengan pihak majalah.”

 

***

 

Myungsoo menarik handle pintu ruang meeting tanpa minat kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju barisan kursi kosong yang disejajarkan mengelilingi sebuah meja panjang. Ia lantas menarik kursi yang berada diujung sudut ruangan yang selal menjadi tempat pilihannya ketika meeting.

Pembicaraan yang berlangsung pada kemarin sore sepertinya cukup berpengaruh padanya pagi hari ini—mungkin lebih tepatnya akan sepanjang hari ini. Dan Myungsoo tidak menampik hal tersebut. Karena siapapun yang mengenalnya dengan baik pasti tahu jika sekarang lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu sedang tidak dalam keadaan baik.

Myungsoo mengeluarkan netbook  berwarna silver berukuran sebelas inch dari dalam tas punggungnya dan meletakkannya diatas meja serta menggantungkan tasnya itu disamping kursi yang ia duduki.

“Wajahmu kenapa?” Woohyun yang baru saja masuk ruang meeting langsung mengambil tempat disamping Myungsoo—seperti biasa.

“Apa?” Myungsoo menatap sekilas lelaki yang lebih pendek darinya itu kemudian mulai memfokuskan pandanganya pada layar netbook miliknya yang sedang menampilkan gambar-gambar hasil potretannya kemarin.

Woohyun mendengus pelan mendengar respon lelaki yang sudah menjadi rekan kerjanya selama hampir sepuluh tahun itu. “Hh ayolah… aku cukup tahu kau, Kim Myungsoo.”

“Lalu?”

“Ah baiklah, lupakan.”

Meeting dimulai beberapa saat kemudian setelah jejeran dua belas kursi terisi penuh termasuk Ketua Redaksi Kim yang akan memimpin meeting hari ini.

“Baiklah, sebelumnya mungkin beberapa diantara kalian sedikit bertanya-tanya mengapa aku yang memimpin pertemuan kali ini…” Ketua Redaksi Kim mulai mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Kemudian terlihat meminta beberapa lembar berkas yang akan menjadi bahan pembahasan meeting kali ini. “Kalau begitu langsung saja. Aku yang bertanggung jawab untuk memimpin Project yang akan kita bahas dalam pertemuan kali ini.”

Terlihat semua staff yang hadir dalam meeting tersebut mengangukkan kepalanya mengerti kecuali Myungsoo yang masih terlihat sibuk memandangi layar netbooknya—ah tidak, lelaki itu lebih terlihat seperti melamun.

“Dan untuk project kali ini sedikit istimewa, karena kita akan bekerja sama dengan salah seorang designer yang baru saja menggelar acara Fashion Show perdananya dengan sukses di New York—“

“Emerald Wu?”

Semua orang yang ada diruangan tersebut serentak menolehkan kepala mereka kearah salah seorang staff yang diketahui bekerja pada bagian editor itu, kali ini tak terkecuali Myungsoo.

Ketua Kim menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang dibibirnya. “Ya, dia adalah Emerald Wu. Dan kemarin aku sudah bertemu dengannya untuk sedikit berbincang mengenai project ini. Beliau mengatakan jika project ini berhubungan dengan rancangan-rancangan terbarunya dengan kata lain tugas kita yaitu melakukan pemotretan untuk rancangan-rancangan terbarunya tersebut dan memasangnya dalam laman-laman utama majalah kita. Dan lagi, ada yang sedikit menarik dalam project kali ini…”

Myungsoo mengangkat bahunya acuh mendengar penjabaran Ketua Kim. Sungguh, keadaannya benar-benar tidak baik sekarang ini ditambah dengan acara meeting yang menurutnya membosankan ini.

“Model yang akan menjadi bintang dalam project kali ini adalah Bae Suzy.”

“Maksud Anda si gadis pernikahan gagal itu, pak?”

Myungsoo mendongakkan kepalanya menatap Woohyun yang baru saja menyerukkan sebuah kalimat yang menarik perhatiannya. Gadis pernikahan gagal?

Lagi, Ketua Kim menganggukkan kepalanya. “Wah, sepertinya julukan si gadis pernikahan gagal itu sudah begitu melekat padanya ya? Tck, aku sungguh tak percaya ada gadis sepertinya yang sampai menggagalkan pernikahannya hingga empat kali.”

Myungsoo mengalihkan pandangannya kali ini kearah Ketua Kim dari sorot matanya terlihat ia begitu tertarik dengan topik pembicaraan ini. Tak berselang lama ia kemudian terkesiap saat Ketua Kim beralih menatapnya dengan yakin.

“Dan Myungsoo-ah,”

Myungsoo menatap Ketua Kim dengan tatapan santainya. “Iya, pak.”

“Emerald Wu menginginkanmu untuk menjadi fotografer dalam sesi pemotretan project kali ini.”

Seluruh pasang mata diruangan tersebut memandang Myungsoo dengan tatapan penuh ketertarikan. Mereka berpikir mungkin akan menyenangkan bekerja dengan seorang model yang sedang banyak diperbincangkan lagi beberapa waktu ini.

Myungsoo sedikit menimang pernyataan yang dilontarkan Ketua Kim padanya. Sebenarnya perhatiannya lebih tertuju kepada para staff lain yang menatapnya penuh ketertarikan. Ia kemudian menggeser netbooknya kesamping lalu menganggukkan kepalanya kearah Ketua Kim. “Baik, pak.”

Ketua Kim lantas menjelaskan lebih rinci mengenai project mereka tersebut. Semua terlihat serius memperhatikan setiap kalimat yang dijabarkan oleh sang Ketuan, tak jarang diantara mereka angkat bicara entah itu untuk bertanya atau sekedar memberi masukan.

Tak terasa tiga jam sudah berlalu, acara meeting ini pun baru saja ditutup oleh Ketua Kim dan semua staff terlihat meninggalkan ruangan dengan wajah sumringah. Tentu saja, itu karena beberapa menit lagi akan memasuki waktu jam makan siang yang merupakan surga waktu kedua setelah jam pulang bagi para pekerja diperusahaan manapun.

“Ah, Kim Myungsoo…”

Myungsoo yang tengah memasukan netbook miliknya kedalam tas itupun mendongakkan kepalanya kearah Ketua Kim yang baru saja menyerukan namanya. Ia kemudian bergegas menyelesaikan kegiatannya lalu segera menghampiri Ketua Kim dengan tas yag disampirkan pada bahu kirinya.

“Anda memanggil saya, pak?”

“Ya.” Ketua Kim menganggukkan kepalanya yakin. “Aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku sengaja menunjukmu untuk project ini, karena aku yakin kinerjamu tidak akan mengecewakan. Dan aku berharap banyak darimu, Myungsoo-ah.”

Myungsoo menatap pria yang sudah ia anggap ayah nya ini dengan mantap lalu  menganggukkan kepalanya yakin. “Aku akan berusaha semaksimal mungkin, pak.”

“Aku percaya padamu anak muda.” Ketua Kim menepuk bahu lelaki itu kemudian pergi meninggalkan ruangan. “Kalau begitu aku duluan.”

“Ah iya, silahkan pak.” Myungsoo sedikit menundukkan kepalanya hormat dan setelah memastikan sosok Ketua Kim yang telah hilang dibalik pintu lantas ia segera menolehkan kepalanya kearah Woohyun. “Kau sudah selesai?”

“Umm,” Woohyun mulai beranjak dari duduknya lalu menghampiri. “ayo! Aku sudah sangat lapar, sungguh.” Woohyun menepuk bahu Myungsoo pelan.

“Aku tidak tanya itu.” Myungsoo mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan lebih dulu dari Woohyun dan meninggalkan rekan kerjanya yang tengah menutup pintu ruang meeting dengan tidak ikhlas itu.

“Tck, setidaknya aku ingin memberitahumu.” Woohyun mulai mensejajarkan langkah Myungsoo.

“Aku tidak ingin tahu…”

“Hahh, baiklah.” Woohyun menggelengkan kepalanya pelan. Seharusnya ia dulu berpikir matang-matang untuk menjadikan lelaki semacam Myungsoo yang memiliki sifat berubah-ubah itu untuk dijadikan seorang sahabat. Ya, Woohyun beranggapan jika rekan kerja sekaligus sahabatnya itu memiliki berbagai macam sifat yang sulit ditebak, karena terkadang lelaki yang berusia lebih muda darinya beberapa tahun itu dapat berlaku baik, dermawan, iseng bahkan dingin seperti ini. Benar, seharusnya ia memikirkan ini dulu secara matang. Woohyun menganggukkan kepalanya dengan yakin.

“Tapi aku ingin tahu mengenai model bernama Bae Suzy itu.”

“Apa?” Woohyun menatap Myungsoo dengan penuh minat. “Apa maksudmu?”

Myungsoo menolehkan kepalanya kearah Woohyun. “Menurutmu apa?” lelaki itu menaikan sebelah alisnya.

“Aaaa—jangan bilang jika kau tidak mengenal atau bahkan mengetahuinya?”

“Aku memang tidak mengetahui apa-apa tentang orang itu.”

“Oh ayolah, Kim Myungsoo… kau tidak mengetahui si gadis pernikahan gagal itu?”

“Si gadis…apa?”

“Pernikahan gagal!”

“Ahh, itu sungguh keren. Bagaimana bisa?”

“Keren? Jika kau mendengar ceritaku, kau akan mengganti kata itu dengan…kata miris.”

“Kalau begitu ceritakanlah.”

Woohyun menatap Myungsoo yang tengah menekan tombol angka satu ketika mereka berdua baru saja masuk kedalam lift. “Katakan dulu apa yang terjadi padamu? Kau terlihat tidak baik hari ini.”

“Aku baik-baik saja.”

“Hei! Aku sudah mengenalmu hampir sepuluh tahun. Aku tahu kau, Kim Myungsoo.”

Myungsoo menghembuskan nafasnya berat. Kepalanya ditundukkan kebawah seperti memperhatikan kegiatan kaki kanannya yang mengetuk-ngetuk lantai lift. “Kau benar. Kau tahu aku…”

Woohyun menatap Myungsoo dengan penuh kemenangan. “Jadi?”

Ting. Myungsoo segera melangkahkan kakinya keluar ketika pintu lift terbuka dengan sempurna dan langsung menuju pintu keluar gedung tempatnya bekerja itu. Sial. Woohyun mengumpat kesal kemudian melangkahkan kakinya mengikuti arah Myungsoo pergi dengan sedikit tergesa tentunya.

 

***

 

“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

Kan sudah kukatakan, barusan.”

Suzy memutar bola matanya jengah. Ia berpikir jika saja Hanli ada didepannya sekarang ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu.

Dan sekarang, kau ada dimana?”

“Aku baru saja keluar dari ruangan Yang Sajangnim.”

Eoh, baguslah. Kalau begitu cepat pergi ke Cafe depan gedung.”

“Untuk apa?”

Tentu saja makan siang. Sudahlah cepat, aku menunggumu!”

Flip. Suzy menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap benda persegi panjang itu dengan jengkel ia kemudian segera mempercepat langkah kakinya. Gadis itu tidak habis pikir, bagaimana bisa Hanli tidak memberitahunya mengenai hal ini. Dan tentu saja ia juga tidak mengira hal ini karena wanita itu malah menemuinya dengan keadaan marah-marah. Tentu saja Suzy mengira jika akibat yang muncul dari kejadian gagalnya acara pernikahannya hanyalah akan merugikan agency dan tentu membuat sang manager kerepotan mengatasi hal ini. Namun? Oh, ia begitu bersyukur akan hal ini.

Suzy terus melangkahkan kakinya kali ini dengan senyum tipis yang tergambar dibibirnya. Sepertinya perasaannya sudah mulai membaik sejak hari kemarin.

“Bae Suzy…”

Suzy menghentikan langkahnya saat itu juga. Tubuh semampainya terlihat kaku, ekspresi wajahnya pun memancarkan sorot yang sulit diartikan. Suzy terlihat tengah menimang apakah ia harus membalikkan tubuhnya menghadap seseorang—ah tidak, lebih tepatnya orang yang hampir menjadi seseorang terpenting dalam hidupnya itu, atau… terus melanjutkan langkahnya menyusuri lorong gedung agencynya itu.

“Lee Sungyeol…”

Tepat. Suzy membalikkan tubuhnya dan menatap sosok lelaki bertubuh tingi yang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan—tidak, bukan hanya lelaki itu namun Suzy juga menatapnya dengan tatapan yang sama.

Kedua orang tersebut terlihat saling diam satu sama lain, terlebih untuk Suzy. Perasaannya mulai bergemuruh, entahlah ia sepertinya tak mengerti maksud dari keadaan perasaannya saat ini. Yang ia tahu… sesuatu yang tidak baik tengah mengintainya.

 

***

 

Suzy menyilangkan kedua kakinya dengan anggun. Matanya menatap santai sosok Sungyeol yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan—antara marah, kesal, benci dan—rindu. “Bertemu denganmu digedung…ini kebetulan atau—“

“Kebetulan yang sungguh tidak kuharapkan.”

Suzy membungkam mulutnya saat itu juga. Sungguh, ia sangat membenci situasi seperti ini—ketika ia berada dalam lingkup penuh kesalahan—menurutnya ia merasa dirinya seperti seorang tersangka yang tengah dipojokkan secara tak langsung oleh korbannya pada sebuah sidang penjatuhan vonis yang sangat berat. Oh baiklah, sepertinya ia terlalu berlebihan akan hal yang satu itu.

Suzy kemudian melirik pelan Sungyeol dengan ekor matanya. Ah tidak, ia bukanlah gadis yang suka melirik orang secara diam-diam terbukti kini gadis itu malah menatap Sungyeol secara terang-terangan.

“Apa rencanamu setelah ini?” Sungyeol menatap Suzy dingin.

“Rencana apa?”

Suzy semakin menatap Sungyeol dalam. Bukan hanya itu, kini mata coklatnya mulai menelusuri wajah tampan milik Sungyeol yang hanya dapat dilihatnya dari jarak beberapa puluh senti ini.

“Tentu saja untuk menikah lagi.”

Suzy menatap lelaki dihadapannya itu dengan tak percaya. Ia tak pernah mengira jika lelaki dengan paras rupawan bagaikan pangeran dinegeri dongeng yang penuh tanpa dosa—Suzy beranggapan jika wajah Sungyeol itu bak bayi yang baru lahir, suci dan masih sangat amat mulia—namun sepertinya ia harus menarik pemikirannya tersebut. Nyatanya Sungyeol baru saja melontarkan kalimat yang begitu cukup membuat mulutnya sedikit terbuka.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kupikir kau sudah memikirkan lelaki mana lagi yang akan kau jadikan korbanmu selanjutnya. Atau… biar kutebak.” Sungyeol melirik Suzy sekilas dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat. “Tak ada lelaki yang mendekatimu lagi, setelah hubungan kita usai?”

Suzy semakin melebarkan matanya. Tak hanya itu, kini ia mulai menatap tajam—amat sangat—Sungyeol yang hanya duduk acuh dihadapannya. Tangan kecilnya pun sudah sukses mengepal. Namun sepertinya Sungyeol tak mengetahui itu mengingat gadis itu menyembunyikan kepalan tangannya dibalik clutchbag berwarna silver miliknya.

Sungyeol memalingkan wajahnya kearah Suzy yang sekarang tengah membungkam mulutnya dan hanya menatapnya tajam, sudut bibirnya pun terangkat kembali. “Tebakanku benar?” tatapannya berubah menjadi sarat akan kemenangan.

“Tck,” Suzy berdecak, kemudian menarik sudut bibirnya untuk membuat sebuah senyum simpul. “Aku belum mengatakannya padamu, ya?”

Sungyeol menaikkan sebelah alisnya.

Suzy masih terus menampakkan senyum simpulnya seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru loby kantor agencynya itu. Setelahnya, senyum gadis itu kini kian melebar. “Ahh, dia sudah datang.”

Suzy kemudian beranjak dari duduknya lalu menghampiri seorang lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih susu yang baru saja menapakan kakinya keluar dari lift.

“Kau sudah datang, sayang.” Suzy mencium pipi kiri lelaki tersebut dengan mesra seraya melirik sinis kearah Sungyeol dan tak menyadari jika lelaki yang ia cium pipinya kini tengah membelalakkan matanya kaget.

Suzy segera menjauhkan bibirnya kemudian menarik lengan lelaki tersebut tak kalah mesra dan menuntunnya menuju tempat Sungyeol yang kini menatapnya dengan tatapan…marah.

“Kenalkan ini calon suamiku yang baru, Lee Sungyeol.” Suzy menatap Sungyeol penuh kemenangan dan dibalas oleh lelaki itu dengan kebisuannya. “Dan… biar kutegaskan. Sudah tak ada hubungan apapun diantara kita.”

Sungyeol lantas berdiri dari kursi yang ia duduki kemudian menatap lelaki dihadapannya dengan datar lalu mengalihkan tatapannya pada Suzy sekaligus merubahnya menjadi tatapan sinis. “Kau menang.”

Ia lantas segera melangkahkan kakinya dengan acuh, seakan tak peduli apa yang baru saja disaksikannya.

Suzy yang megetahui perubahan Sungyeol lantas menatap kepergian lelaki itu dengan seringaian penuh kemenangan. Iapun menghembuskan nafasnya lega.

“Mmm, nona…”

Suzy tersadar akan dirinya yang sekarang tengah berdiri mengapit lengan seorang lelaki yang  bahkan tidak ia kenal. Dengan segera ia melepaskan pegannya pada lengan lelaki itu. dan dengan perasaan canggung yang menerpanya tiba-tiba, ia kemudian menolehkan kepalanya pada lelaki itu.

“Ahh, tuan…”

“Terima kasih.”

Setelah mengatakan itu lelaki tersebut lantas meninggalkan Suzy yang tengah menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Setelah itu ia kemudian merubah ekspresinya seperti biasa.

“Lelaki aneh, bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu? Tck.”

Suzy mengangkat bahunya acuh kemudian mengambil tasnya dan mulai melangkahkan kakinya dengan anggun pergi keluar gedung menuju sebuah Cafe diseberang gedung agencynya itu.

 

***

 

“…”

“Tentu saja dikantor agency model itu.”

“…”

“Eoh, aku sudah menemui pihaknya. Mereka bilang kita hanya tinggal menemui manager dan juga sang model. Dan tentu saja juga sang designer.”

“…”

“Aku belum tahu. Ketua Kim tadi menghubungiku dan hanya mengatakan untuk datang kekantor pihak model, ia tidak memberitahuku kapan kita akan menemui sang designer. Ngomong-ngomong… dimana kau sekarang?”

“…”

“Apa? Kau ingin mati ditanganku, Nam Woohyun?”

“…”

“Aku tidak perduli. Ku tunggu kau lima belas menit lagi di Cafe depan gedung, jika kau tak datang kesini sekarang juga—habis kau.”

Myungsoo menutup sambungan teleponnya dengan sepihak, ia kemudian melemparkan ponselnya dengan acuh lalu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru Cafe yang baru saja ia datangi itu.

Seorang pelayan datang tepat setelah Myungsoo memanggilnya. Pelayan tersebut menggenggam sebuah catatan kecil serta pulpen saat menanyakan menu apa yang ingin dipesan oleh lelaki berkulit putih susu itu.

“Ekspresso dan Cheesecake.”

Sang pelayan nampak diam sesaat kemudian menatap Myungsoo dengan heran.

Mengetahui hal itu Myungsoo segera menatap pelayan didepannya dengan datar. “Ada yang salah?”

“Ahh tidak tuan,” dengan segera pelaayan tersebut mencatat apa yang dipesan Myungsoo, setelahnya ia tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. “pesanan anda akan segera diantar. Terima kasih.”

Sang pelayan segera melangkahkan kakinya menjauh dari meja setelah mendapat panggilan dari pengunjung Cafe yang lain.

Myungsoo merasakan ponselnya yang tergeletak dimeja bergetar, ia kemudian mengambilnnya lalu menghembuskan nafasnya kasar saat melihat nama ibunya lah yang tepampang dilayar ponselnya itu. Namun ketika hendak mendekatkan benda tipis persegi panjang itu ketelinganya, sorot matanya menunjukkan jika lelaki itu baru saja dibuat tertarik oleh sesuatu.

“Gadis itu…tck.”

Sorot tajam matanya terus saja menatap gerak-gerik seorang gadis yang baru saja masuk kedalam Cafe dan langsung mendudukkan dirinya pada meja nomor 9 yang sebelumnya telah ditempati oleh seorang wanita berambut sebahu yang sepertinya merupakan teman dari gadis itu. Keduanya kemudian terlibat dalam sebuah pembicaraan.

“Kukira kau sudah pergi.”

Myungsoo segera mengalihkan pandangannya pada Woohyun yang baru saja datang dan langsung mendudukkan dirinya tepat didepan Myungsoo yang menatapnya datar.

“Oh ayolah, bukankah ini belum lima belas menit?”

Baru saja Myungsoo hendak membuka mulutnya seorang pelayan datang membawakan nampan berisi Ekspresso dan Cheesecake pesanannya. Setelah pelayan tersebut pergi ia lantas kembali menatap Woohyun.

“Apa kau mengenal gadis itu?” Myungsoo mengangkat dagunya menunjuk gadis yang tadi ia perhatikan.

Woohyun mengikuti arah pandangan Myungsoo kemudian menatap sahabatnya itu santai. “Dia yang akan menjadi partner kerjamu, Myungsoo-ah.” Woohyun mengambil Ekspresso milik Myungsoo lalu menyesapnya sedikit. “Yakk! Kenapa kau sangat menyukai minuman pahit ini?”

Myungsoo tak menghiraukan komentar Woohyun yang selalu mencemooh minuman kesukaannya itu. Namun lelaki itu kini malah menatap rekan kerja sekaligus sahabat karibnya itu dengan tatapan ‘kau yakin?

Myungsoo lantas menolehkan kepalanya kembali kearah gadis itu. Dia…

.

.

.

-to be continued-

finally hhe.
oke sebelumnya dan selalu tidak lupa aku ucapkan terimakasih banyak banyak bangettt, utk yang sudah mau membaca fic nteunaon ieu_-
then… maapkeun diriku karena hadir dengan membawa fic baru, dan bukan membawa lanjutan fic Paparazzi and The Ghoul— karena sebenernya aku lagi ga dapet feel buat ngelanjut fic itu myane myane readers T.T

and… sebagai gantinya aku bawakan fic ini, yang insyaallah kalo respon fic ini bagus langsung aku next deng hhe
okedeh… tanpa banyak cut lagi, pay pay hope u like this fic gaes~~~

39 responses to “[1/?] Louse Up Wedding

  1. suzy daebak bisa 4kali mw nikah dan smuanya GAGAL… hahahah…

    ntr klo mw nikah ama myung jgn kabur lg ne suzy heheheh..

  2. suzy daebak mw nikah 4kali gagal smua hahahah ..

    ntr klo mw nikah ama myung jgn kabur lg suzy ntr myung aq rebut lho kekeke…

  3. Astaga kenapa suzy harus kabur saat pernikahannya? Bahka ini sdah yg ke 4 kalinya😮 apa dia di jodohkan? Kenpa hrus kabur?
    Itu myungsoo yah? Yang di tarik asal, di cium, dan di perkenalkan pda mantannya kalau dia itu kekasihnya? Hihi penasrang reaksi myungsoo😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s