April

poster: random browsing

—April—

flcevtp

Kim Myungsoo | Bae Suzy

General – Romance

*

Kelabu kembali menyelimuti langit. Entah sudah ke berapa kalinya ini terjadi dalam 2 minggu terakhir. Dan entah rencana ke berapa yang pastinya tertunda lagi. Yang kuinginkan hanyalah mengetahui keadaannya secara langsung, bukan dengan pesan singkat yang selalu terukir ‘aku baik-baik saja’. Empat kata itu tentu saja mengandung ribuan arti, dan arti itupun bisa saja disampaikan secara mengada-ada guna menghibur si pendengar.

Hari ini merupakan awal dari 365 hari yang kelima kalinya sejak dia meninggalkan negara asalnya. Lima tahun tanpa komunikasi, tanpa melihat wajahnya, bahkan ujung hidungnya saja tidak. Entah rambut hitamnya kini memanjang atau dipendekkan olehnya, kedua pipinya yang bagaikan bantal kini menebal atau justru menipis, kulitnya bagaikan susu kini apakah menghitam atau seperti dulu – dan banyak lagi pertanyaan tentang dirinya yang terus kutanyakan setiap saat.

Aku ingat saat itu, tanggal 31 Maret 2011, sore hari, di mana dirinya mengatakan bahwa esok hari –1 April– dia akan pergi ke negeri Paman Sam untuk mengejar cita-citanya sebagai designer. Aku yang mendengarkan hanya menertawainya habis-habisan. Kupikir itu hanyalah lelucon April Fools yang sudah ia buat sehari lebih awal, mengingat kebiasaan kami membodohi satu sama lain saat hari pertama April itu. Di saat aku menertawainya, dia mengeluarkan sebuah passport, satu lembar tiket penerbangan ke negeri itu, dan sebuah senyum tipis dari bibirnya. Tawa bahagiaku berubah menjadi tawa yang hambar diselingi beberapa butir kristal bening dari mataku. Aku hanya mendiaminya lama, bingung ingin mengeluarkan kosa kata apa untuknya. Dirinya pun demikian.

Puluhan menit keadaan sunyi itu, dia memutuskan beranjak dari kafe dan menyebutkan salam perpisahan kepadaku. Bodohnya aku yang membiarkan salam perpisahan tersebut. Sebelum dia benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berjalan ke arah punggungku, mendaratkan kedua telapak tangannya ke pundakku. Mengajukan pertanyaan tentang kesediaanku untuk mengantarkannya ke airport, yang dengan (sangat) bodohnya, kutolak. Kudengar suara isak samar darinya. Kedua tangannya mengusap pundakku pelan, mencium puncak kepalaku lembut, dan sekali lagi mengucapkan salam perpisahannya. Aku tak berani menyaksikan punggungnya yang terus menjauh meninggalkanku.

Di situlah, tatapan, sentuhan, ciuman, dan salam perpisahan terakhir bagiku darinya terjadi.

***

 

Myung, hujan. Sepertinya rencana kita batalkan saja ya? –Suzy

 

Ya, benar ‘kan? Rencana untuk ke sekian kalinya lagi-lagi batal. Hanya karena tetesan air bodoh itu mengguyur kota ini, aku tidak bisa bertemu dengannya. Wanita itu sudah menginjakkan kaki di kampung halamannya sejak akhir Februari lalu, namun hingga kini aku masih belum melihat ujung rambutnya. Mungkin salahku yang saat itu tidak bisa menjemputnya di airport karena harus mengantar ayahku berobat sebentar. Akhirnya dia pulang dengan seorang pria yang tak kukenal. Cukup membuatku dongkol mengetahui dia dijemput oleh sesosok yang tak kuketahui identitasnya.

Rencana yang selalu kubuat cukup sederhana. Bertemu di sebuah kafe terakhir kami bertemu, sore hari, bertempat duduk seperti lima tahun yang lalu – meja kayu untuk dua orang dengan jendela vertikal besar menunjukkan pemandangan taman sebelah kafe. Tempat ia kini menetap ke arah kafe justru bisa ditempuhnya selama 3 menit jika jalan kaki. Tiap kali ia ingin menghindariku, alasannya hanyalah dua: ada project yang harus ia selesaikan atau hujan sedang turun. Aku sudah mengajukan diri untuk menjemputnya namun ia kekeuh menolak.

Untuk perkara hujan, kalian mungkin berpikir ‘kenapa tidak pakai saja payung’ mengenai Suzy. Jawaban yang tepat hanyalah ‘ia sangat membenci hujan’. Jika kalian bertanya lagi mengapa, akan kuceritakan sedikit. Aku tidak tahu sebenarnya apakah dia memiliki phobia dengan hujan atau trauma atau sejenisnya, yang kutahu dia memiliki sebuah insiden cukup menyedihkan dengan kekasih sebelumnya di saat hujan. Itulah alasan –yang ia berikan padaku—mengenai hujan. Yang bisa kulakukan adalah menghormati alasannya itu.

Kembali ke rencana ini. Jujur saja aku malu dengan pemilik kafe itu karena aku sering memesan tempat duduk untuk bertemu dengan Suzy, tetapi akhirnya selalu ku cancel lagi. Pemilik itu pernah sekali kesal dengan perbuatanku, tetapi aku menjanjikannya untuk terakhir kalinya untuk hari ini. Setelah mengetahui hari ini hujan dan Suzy menolak rencana hari ini, aku tidak mungkin cancel reservasi tempat. Demi gengsi dan harga diri, aku akan datang ke kafe itu dan menikmati kopi favoritku sendirian.

Sepanjang jalan menyusuri dinginnya dan basahnya percikan hujan yang mengenaiku, aku menggerutu sendiri dan mengeratkan pelukan tanganku pada gagang payung. Aku bingung ini salahku atau salah Suzy. Jika kupikir kembali, mungkin ini semua salahku karena kebodohan yang kubuat sendiri. Jika aku menyemangatinya saat itu, jika aku membalas salam perpisahannya, jika aku membalas sentuhan tangannya dengan sebuah pelukan hangat, jika aku membalas ciumannya pada kepalaku dengan ciuman perpisahan, jika aku mengantarnya ke bandara, semuanya tidak akan begini. Mungkin aku yang terlalu bodoh untuk masalah ini.

Kulihat pintu kafe itu dengan perasaan berat dan kecewa. Entah haruskah aku masuk ke kafe itu atau meninggalkan kafe ini dan mengingkar janji dengan si pemilik kafe. Aku berpikir untuk beberapa saat, dan kuputuskan untuk menutup payungku dan mendorong pintu kafe itu dan mendaratkan kakiku menyusuri kafe itu. Aku pergi ke arah tempat memesan, dan menyusuri jalan menuju tempat duduk yang penuh kenangan lima tahun lalu.

Kutundukkan dan kuusapkan kepalaku yang sedikit basah karena terkena hujan sambil jalan menuju meja yang kureservasi. Yang kulihat saat berjalan hanyalah barisan kayu yang menjadi tempat lalu lalang di kafe ini. Saat ku hampir sampai di meja, kulihat sepasang sneakers putih bergaris hitam dan kaki jenjang putih yang diperlihatkannya. Kuhentikan kakiku dan mengadahkan kepalaku pelan-pelan ke pemilik sepasang sneakers dan sepasang kaki jenjang tersebut.

Rambutnya ia ubah menjadi coklat dan dibiarkan mengalir hingga pundaknya. Pipinya kini tidak lagi seperti bantal, bahkan pipinya kuyakin sudah tak lagi empuk seperti dulu. Kulitnya masih seputih susu, tetapi memucat tak seperti dulu. Hanya senyumannya yang persis seperti dulu – menghangatkan apapun keadaan yang membuatmu dingin.

“Selamat bulan April yang kelima kalinya, Myungsoo.”

Itulah kalimat dan senyuman pertama untuk menyambut kedatangan April yang kelima, juga kehadiran Suzy pertama untuk ratusan kalinya demi gemericik hujan luar sana untukku.

FIN

Harusnya post kemarin, eh ketiduran

—flcevtp’s storyline

10 responses to “April

  1. Woooww daebak fanfiction , gk bnyak moment tpi fellingny berasa banget sma yg baca , authornim daebak ; )

  2. Edisi April Mop kekeke~
    Suzy kembali buat myungsookan?
    Wahhh selama 5 tahun nggk ketemu, betapa besarnya rindu myung buat suzy><
    Jhoaaaaaa😀

  3. Suzy kembali? tp apakah keadaan masih sama seperti dulu? lalu siapa laki2 yg menjemput Suzy di airport itu?
    Cerita yg bagus, tp masih penasaran… semoga ada sequel, gomawo author🙂

  4. Bener2 edisi aptil mop…awalnya sukses bikin nyesek…akhirnya suzy kembali buat myung…???
    Myung-ah betapa beruntungnya dirimu…kekeke

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s