[Ficlet Series] Twins 4

TWINS

Beside the story, I own nothing. All cast belongs to God and their family.

-dina-

.

.

Aku tidak peduli berapa banyak waktu yang kau butuhkan, tapi ulangi semua tindakan medis yang pernah kau lakukan di stase ini!

Ketika melihat bagaimana bukunya dicoret, Sooji sangat ingin melemparkan sepatunya ke wajah Konsulannya. Sooji sadar jika dokter Kang Ha Neul mengerjainya, sekedar mengetes seberapa besar keinginannya mengabdi sebagai dokter.

“Argh! Aku kesal!” Umpatan kecil mewarnai ruang kantin yang sepi dari pengunjung. Sungguh hidup cukup menyebalkan bagi Sooji ketika diantara puluhan Konsulan yang ada di rumah sakit ini, mengapa harus dokter Kang Ha Neul yang menjadi penilainya? Mengapa bukan dokter Choi Jang Woo atau Kim Sora, dokter yang menjadi favorit para mahasiswa dengan tingkat toleransi cukup baik yang seharusnya menilainya? Tidak seperti Konsulannya saat ini.

“Mungkin kau kurang disiplin, Ji!”

“Tapi tidak semudah itu!”

“Memang tidak mudah, tapi seharusnya kau bisa melakukan semua dengan benar. Asalkan kau tidak lari..”

Ketika pernyataan itu terlontar begitu saja dari bibir Hyerin, Sooji menyadari jika selama ini ia hanya melakukan sesuatu yang sia-sia. Ia tidak begitu ingin mewujudkan keinginan ayahnya menjadikan diri sebagai dokter.

“Kau pikir selama ini aku lari?” Sooji berganti mengeluarkan balasan sanggahan atas analisa Hyerin yang menilainya hanya setengah hati menjalani proses dirinya menjadi seorang dokter seutuhnya.

“Kupikir ini saat yang tepat untuk berhenti berlari ‘kan? Memang kau tidak lelah?”

Sooji mendengus, ia hanya ingin sendiri. Sorotan dokter Kang Ha Neul cukup membuatnya kewalahan di stase ini. Ia yang tidak sengaja melakukan kesalahan saat follow up, tidak teliti tepatnya didahului kesalahan-kesalahan lain yang beruntungnya tidak membuat ia mendapatkan masalah pelik.

“Kau tahu pekerjaan ini menyangkut nyawa seseorang ‘kan? Itulah mengapa dokter Kang sangat berhati-hati mengawasi para mahasiswanya.”

Sooji menyambar cepat ponselnya, lalu bergegas meninggalkan Hyerin seorang diri.

“Bae Sooji, jinca!”

——-

Yong Sun tertawa renyah tatkala Yoon Do Joon –sang kekasih, memberinya satu set suplemen kesehatan. Dan Myungsoo hanya ikut bertepuk tangan dengan kegembiraan kakak sepupunya itu. Berbeda dengan wajah dokter muda yang enggan menampakkan raut pura-pura suka.

Hei, tersenyumlah! Setidaknya itu isi pandangan yang dilayangkan Myungsoo pada Sooji. Namun yang ditatap seolah-olah enggan menangapi, hanya mengedikkan bahunya dengan sorot mata tanpa ekspresi.

Mayat hidup. Itulah julukan baru Myungsoo untuk Sooji. Wanita yang dikenalnya secara tidak sengaja saat menanganinya satu bulan yang lalu. Dan hari ini mereka berempat, Yong Sun beserta kekasihnya, dan ia beserta Eunhee palsu telah duduk bersama merayakan hari ulang tahun Yong Sun.

“Cheers!” Yong Sun mengangkat gelas bir tinggi-tinggi, diikuti lainnya.

“Kau tidak minum?” Yong Sun mengamati wajah Sooji yang tidak cerah.

“Tidak. Aku ada jaga malam ini.” Sooji mengambil sumpit, lalu mencomot daging panggang yang tampak masak, overcooked malah.

“Oh, okay! Jika begitu, nona dokter kupesankan jeruk, bagaimana?”

“Tidak. Aku ingin es cokelat saja.”

Myungsoo tersedak, setengah geli mendengar permintaan ala anak kecil Sooji.

Kalian beda sekali. Pikiran itu selalu menghampiri benak Myungsoo. Bukannya ia tidak bisa move on dari sosok Eunhee, justru ia berusaha mencari celah perbedaan keduanya. Berpikir jika memang di dunia ini terdapat tujuh atau sepuluh manusia mirip yang tersebar entah di belahan dunia mana.

Sorot mata yang berbeda, sikap yang berbeda, potongan rambut yang berbeda, apalagi penampilan yang sungguh sangat berbeda. Namun satu hal yang menganggu Myungsoo. Senyum.

Sooji hampir tidak pernah tersenyum, sekalipun Yong Sun bertingkah absurd, ditambah Do Joon yang tengilnya melewati batas, penyebar happy virus yang sangat awkward, Sooji hanya menanggapinya dengan senyum samar. Sangat samar, seolah-olah terpaksa tersenyum. Namun yang sangat digarisbawahi Myungsoo, foto Sooji ketika menerima trofi kemenangan lomba menyanyi bersama Yong Sun membuktikan jika mereka sangat mungkin kembar. Senyum gembira dan tulus yang sama persis.

“Kau kembali ke kantor naik apa?” Do Joon menatap Sooji, mulutnya penuh akibat suapan Yong Sun.

“Naik bis.” Lagi jawaban singkat Sooji.

“Kami antar ya?” Do Joon mengambil selada, mengisinya dengan daging panggang, lalu disuapkannya pada Yong Sun.

Sooji menelengkan kepalanya, lalu mengambil nafas panjang. “Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kalian sangat jarang bertemu, kali ini aku tidak akan mengganggu.”

Myungsoo meletakkan sumpitnya, lalu menengak bir yang tersisa setengah gelas. “Kuantar, kapan?”

Yong Sun dan Do Joon segera menoleh ke arah sumber suara, lalu beralih pada wajah Sooji yang ternyata juga bersiap dengan tas ranselnya.

“Sekarang. Gomawo oppa, gomawo eonni!” Sooji mendekati tubuh Yong Sun, memeluknya sebentar lalu berdiri dan membungkukkan badan. “Terima kasih makan malamnya!”

Kau tersenyum. Myungsoo seakan-akan mendapatkan lotere ketika melihat senyuman yang membuatnya penasaran, tercetak di wajah Sooji.

Aigoo! Kau cute! Good job!” Yong Sun mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, apresiasi atas senyuman Sooji.

Aish! Aku pergi!” Sooji berjalan turun dari tempat mereka duduk, memakai dengan cepat sepatu kets-nya.

Myungsoo menggeleng berkali-kali, “Jangan pulang terlalu malam. Aku langsung ke apartemenku noona.”

Okay!”

——-

Myungsoo berjalan di belakang Sooji, sedari tadi mereka terjebak dalam keheningan, tanpa kata, tanpa suara. Kecuali suara bising kendaraan yang berlalu lalang di waktu yang tidak lagi sore. Jam sembilan malam tepatnya.

“Kau bisa pulang, rumah sakit hanya beberapa blok dari sini.” Sooji menatap ke samping, wajahnya lumayan nyaman dibandingkan ketika bersama pasangan bahagia tadi.

“Memang berapa blok?”

Sooji tidak menduga lelaki di sampingnya akan menanyakan hal tersebut. “Tidak banyak, hanya lima belas blok.”

Myungsoo membulatkan mulutnya, “Mwoya? Itu cukup jauh nona. Apa kau serius akan berjalan kaki?”

Sooji mengalihkan pandangannya pada traffic light yang berubah warna menjadi hijau bagi para pejalan kaki. “Begitulah, aku sudah terbiasa.” Sooji meneruskan perjalanannya, disusul Myungsoo di belakangnya.

Ramahnya dijual kemana ya? Myungsoo menghentikan langkahnya, mengamati dari kejauhan punggung Sooji yang mulai menghilang dari balik kerumunan pejalan kaki sama seperti dirinya.

“Sooji-ssi!” Panggilnya kemudian.

Sooji menoleh sebentar, tapi tetap melajukan langkahnya tanpa menunggu langkah Myungsoo menyusulnya. Sedikit menghabiskan tenaga memang untuk mengejar Sooji, namun Myungsoo berhasil berdiri tepat di hadapan Sooji. Membuat kaki Sooji mau tidak mau mengerem mendadak.

“Aku ke arah sana!” Tunjuk Myungsoo pada satu arah.

Okay.” Sooji membetulkan letak ranselnya yang melorot. “ Selamat malam, chingu!”

Nah ‘kan sekarang kau berubah menjadi Robotic Female. Myungsoo tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya. “Bye!”

Sooji menatap uluran tangan Myungsoo, menjabatnya kemudian.

“Sampai bertemu lagi, kawan!” Balas Myungsoo.

——–

Bagi Sooji, hukuman jaga malam selama satu minggu itu adalah hal yang paling masuk akal daripada mengulang stase ini. Saat jaga malam juga, Sooji mulai mengoleksi daftar tindakan medis yang dilakukannya pada para pasien agar tulisan-tulisan yang dicoret dokter Kang dapat diukirnya kembali di sana.

Ia menyadari jika penyakit gangguan syaraf merupakan penyakit yang cukup rumit dibandingkan yang lain. Itulah perlahan ia menyadari kemarahan besar dokter Kang terdahulu sangat beralasan.

Kali ini apa? Sooji berjalan mendekati tubuh pasien VIP yang menjadi pasien kesekian yang harus ia follow up.

“Pasien ini baru masuk tadi sore.”

“Siapa namanya?”

“Bae Jung Hoon, usia enam puluh satu tahun.”

Sooji menghentikan langkah kakinya, wajahnya tampak berpikir sembari membaca riwayat rekam medis pasiennya. Appa.

Ia bergegas meninggalkan lorong rumah sakit menuju ruang yang dimaksud. “Demi Tuhan, apa yang terjadi?”

——–

Myungsoo memutar kursi kerjanya menghadap jendela besar dari gedung lantai delapan tempat ia bekerja sebagai staf marketing perusahaan elektronik.

Eunhee telah melahirkan, anaknya kembar laki-laki terlahir satu bulan lebih cepat. Kabar yang dikirimkan ibunya membuat Myungsoo terpaksa mengingat Eunhee. Bukan mengingat hal yang manis, ia bukan tipikal lelaki mellow yang sering ditampilkan para pemeran drama. Ia masih manusia normal yang mempunyai fungsi pikir dengan baik, jadi bukan salahnya jika ia tiba-tiba ingat kebersamaannya dengan Eunhee.

Tapi. Semua mulai bergerak sesuai rencana Tuhan, rencana yang tidak pernah terpikirkan sekalipun baik oleh ayah Eunhee maupun ayah Sooji. Pertemuan Myungsoo dengan keduanya seolah-olah menjadi penyambung benang merah yang terputus.

Kau tahu, ketika Sooji melihatmu ia merasa tidak asing. Kupikir kalian merasakan sesuatu apa itu, eum. Sebuah chemistry. Ternyata dia pernah melihat foto kita berdua saat aku berlibur di London. Heol!

Kalimat panjang yang dilontarkan Yong Sun. Sepupu Myungsoo ini memang tidak mengenal Eunhee, karena pada saat ia berkunjung, Myungsoo tengah bertengkar hebat dengan Eunhee. Lalu putus, tanpa sempat keduanya bertemu muka.

Dan lagi, Yong Sun bukan sosok wanita ingin-tahu-kehidupan-orang-lain seperti teman-temannya yang lain. Sikap easy going Yong Sun-lah yang membuat ia menjadi sosok yang disukai banyak orang. Dan sikapnya menular pada Myungsoo setelah sepuluh bulan lebih mereka berinteraksi.

Malam ini jaga tidak ya? Myungsoo menebak-nebak, lalu ia mulai menelepon Yong Sun. Meminta alamat rumah sakit dan jadual Sooji di sana.

——–

Sooji duduk di sisi ranjang, pandangannya menjurus ke depan. Pada arah dimana ayahnya duduk berselonjor di ranjang rumah sakit.

“Kenapa melihat seperti itu?”

Sooji mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi ia melakukan kesalahan. Tidak memantau kesehatan ayah satu-satunya. “Appa mengapa merahasiakan ini padaku?”

Tuan Bae terkekeh kecil, berdehem kemudian. “Kau ‘kan sibuk, lagipula dokter Choi telah menanganiku dengan baik.”

“Jika saja aku tidak bertugas kemarin malam, bisa jadi appa tidak memberitahuku!”

Aigoo, rumah sakit ini terbuka, Ji. Mana mungkin appa bersembunyi darimu?”

Sooji mendengus, jemarinya ia genggam rapat-rapat.

“Kemarilah!” Tuan Bae membuka lebar kedua tangannya, memberikan apa yang selama ini selalu ibu Sooji berikan. Pelukan hangat.

“Berjanjilah padaku, appa harus mengatakan apapun jika tubuh ini mulai merasakan sakit.”

Tuan Bae mengelus surai hitam putrinya. “Hem, appa janji.”

Sooji tersenyum kecil, bibirnya kembali pelan menyanyikan lagu Tiga Beruang favoritnya ketika masih kecil.

Appa..”

“Hem?”

“Kira-kira, eomma sedang apa saat ini?”

Tuan Bae tersenyum lembut. Kedua tangannya menangkup pipi Sooji. “Eomma-mu sedang beristirahat. Mendengarkan musik klasik bersama harabhoji.”

Sooji mengerjap, lalu mengangguk kemudian. “Pasti menyenangkan di sana..”

——-

Myungsoo berjalan mendekati halaman rumah sakit. Yong Sun sengaja memberikan nomor ponsel Sooji padanya, hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu adik sepupunya ini tersesat di dalam rumah sakit Seoul yang cukup besar.

“Ruang VIP.” Gumaman kecil diucapkan Myungsoo ketika ia mulai menghitung mundur nomor kamar yang ditulis Sooji lewat pesan di ponselnya.

Ini dia. Myungsoo mulai mengetuk pintu, menunggu balasan dari dalam kamar.

Ceklek!

Wajah Sooji tampak perlahan dari balik pintu yang dibuka. Ia mengenakan pakaian biasa, bukan baju dinas dokter yang selalu ia pakai seperti saat pertemuan pertama mereka.

“Oh kau!” Sooji membuka pintu, kemudian menggeser tubuh keluar dari dalam kamar.

“Siapa?” terdengar suara berat dari dalam kamar. Myungsoo yang belum sempat berkata-kata tersela kalimat Sooji.

“Penjual ponsel.” Jawab Sooji, cepat.

Jinca? Suruh dia masuk, Ji!”

Sooji lagi-lagi mendengus, kebiasaan yang dinilai Myungsoo buruk.

“Mendengus berlebihan tidak bagus loh!” Seloroh Myungsoo.

Sooji memutar malas kedua matanya, lalu mempersilakan Myungsoo masuk ke dalam ruangan.

“Hai!” Sapa Tuan Bae dengan ramah, meskipun selang oksigen masih menempel di lubang hidungnya.

“Anyyeonghasimika!” Myungsoo membungkukkan tubuhnya dengan sopan. Salam hormat leluhur mereka.

“Anda penjual ponsel? Jual spesifikasi seperti apa saja?” Rentetan pertanyaan to the point keluar dari bibir Tuan Bae.

Myungsoo ingin tertawa keras. Hei, aku bukan penjual ponsel. Aku adalah staf marketing perusahaan elektronik raksasa di Korea Selatan.Nde, saya mengantarkan pesanan Sooji aghassi..” Jawab Myungsoo dengan tingkat kesopanan yang dijaga. Sangat bertolak belakang dengan sikap rebel-nya setahun yang lalu. Sepertinya didikan sopan santun Yong Sun ada hasilnya.

“Bawa katalog?”

Demi apapun, Myungsoo benar-benar merasa miris sekaligus geli. Orang tua di hadapannya masih menganggapnya penjual ponsel seperti konter-konter kecil di pertokoan Gangnam.

“Ajarkan aku cara memakai ponsel ini..” Sooji menyodorkan ponsel baru miliknya, lalu duduk bersama Myungsoo.

“Bagian mana yang membuatmu bingung?”

Sooji menyisir surai hitamnya dengan jemari, menyelipkan setengah rambutnya ke samping. Aroma mint menyusup ke dalam lubang hidung Myungsoo. Lagi-lagi Myungsoo tersenyum kecil, ia menyukainya. Ia suka saat-saat kecangungan diantara mereka melumer seperti ini. Seperti saat Sooji memeriksa kepalanya waktu itu.

..

Kupikir tidak ada salahnya mengenalmu. Kau bukan Eunhee. Aku ingin mengenalmu sebagai Sooji, gadis galak dengan kemisteriusan yang menggelitik rasa ingin tahuku. Sebenarnya apa yang sedang Tuhan rencanakan? Apakah kalian benar-benar dua manusia yang berbeda? Manusia yang dilahirkan dari dua rahim yang berbeda? Aku ingin tahu itu.

TBC

Karena bentuknya ficlet, cerita akan berjalan bertahap dengan alur yang tetap saya jaga. Berharap apresiasi yang baik dari teman-teman. Terima kasih!!

34 responses to “[Ficlet Series] Twins 4

  1. myung deketin sooji terus ni….kkk
    tp sooji masih cuek2 aja. .yaaa…..
    knp tuan ngerahasiain euhee dr sooji yaaaaa…????

  2. Aigoo aku br baca ini,..kudet bgt sih aku
    Kyaa tingkah myungsoo pas tiba2 mengajukan diri nganter suzy plg bikin semua org kaget hahaha aigoo gwiyeowo
    Sooji itu tipikal cewek yg ga begitu minat dgn apa yg dijalaninya dan akhirnya dia malah bersikap dingin sm pasiennya eh apa cuma myungsoo doang yg digituin hahaha
    Ditunggu lanjutannya ne author-nim

  3. Myungsoo udh gak menganggap suzy sbg eunhee lagi, udh mulai tertarik sama suzy. Tapi suzy tetap aja cuek, kkk

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s