Oppa

59ecce094d50b581f45e3f4226fd416c

Title : Oppa

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Bae Suzy

Other Cast : Kim Myungsoo, Choi Siwon

Genre : Drama, Sad

Rating : G

Length : Oneshot

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Dia tidak pernah meminta hal lebih selain bahagialah, dia tidak pernah menginginkan hal lebih selain berbahagialah, dia juga tidak pernah menuntut lebih selain bahagialah. Dia, yang kini memunggungiku tanpa mau berbalik, tanpa mau disentuh, dan tanpa mau disapa. Dia yang dulunya selalu menggenggam tanganku hangat, dia yang dulunya selalu memelukku damai hingga melupakan semua masalah, dia pula yang dulunya selalu membuatku nyaman hingga tertidur disisinya, dan dia yang dulunya selalu mendamaikan hatiku. Tidak lagi, saat ini sudah tidak lagi begitu.

Kemarahannya, kekecewaannya, dan penyesalannya padaku. Aku yang menghancurkan segalanya, aku yang melawannya, aku yang mengecewakannya, dan aku pula yang melukainya. Meski tidak pernah ada kata kecewa dari bibirnya, tidak pernah ada kata terluka dari bibirnya, namun mata sipit dan tajam kepunyaannya itu yang menjelaskan semua. Gerak menghindar tubuhnya, gerak mata tidak sukanya, dan gerak wajah berpalingnya, melukaiku.

Bagaimana menyelesaikan ini? Pertanyaan tidak terjawab selama berwaktu-waktu percuma.

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, aku hanya ingin menjadi seorang biasa, akupun hanya ingin bahagia seperti keinginanku meski diselingi tangis. Akupun ingin melangkah bebas meski terkadang kakiku menginjak duri. Akupun ingin tertawa kencang meski terkadang membuat bibirku terluka. Aku bahagia—sangat, tapi tidak menurutnya. Aku tertawa tertabahak-bahak hingga sakit perut, tapi tidak begitu menurutnya.

Pikiran bertolak belakang yang menghantui diri kami saat itu, tidak bisa mengacaukan kebersamaan kami karena kami adalah satu, kami tidak bisa dipisahkan begitu saja. Kami terlalu kuat, hubungan kami terlalu menyatu untuk dipisahkan oleh sebuah pisau tajam.

Bersamanya, hal itu melengkapiku. Sangat melengkapiku. Tapi sisi lain diriku, sisi lain diriku menunjukkan hal berbeda yang dibencinya. Awal dari perpisahan kami.

Langkahku selalu salah karena ceroboh dan karena keberadaannya, ada dirinya maka semua menjadi benar. Membuatku tidak pernah takut salah, tidak pernah takut jatuh, tidak pernah takut melakukan apapun karena dia. Karena dia selalu membenarkan salahku, karena dia selalu menarikku kala jatuh bahkan sebelum jatuh.

Hingga, suatu hari aku ingin berdiri sendiri—dengan kedua kakiku. Tanpanya, aku berpikir untuk mandiri. Aku hanya ingin kepercayaannya, percaya bahwa aku mampu melangkah, percaya bahwa luka di kakiku akan sembuh sendirinya, percaya bahwa tangisku akan benar-benar menjadi tawa. Tapi tidak menurutnya, dia tidak bisa melihatku begitu dan pecahlah kami kemudian, terurai seperti helaian rambut yang lepas dari ikatannya, tidak bisa menyatu lagi.

—dan kemudian aku sadar, dia benar dan aku membutuhkannya. Aku sangat—amat membutuhkannya disisiku lagi, memelukku lagi, menenangkanku lagi, dan mencintaiku lagi. Aku membutuhkanmu, ucapku tiap waktu namun ia tidak juga mendengarnya, tidak juga kembali, dan tidak juga menengokku.

Aku tersenyum seorang diri dalam kamar pengap yang terkadang tampak kotor namun terkadang tampak sebersih saat ada dirinya. Mungkin dia sangat kecewa, mungkin dia sangat marah, dan mungkin pula dia benci padaku yang nakal ini, yang tidak menurut ini, yang bersikap bagai tidak tahu adat ini hingga tidak pernah kembali, meninggalkanku seorang diri disini dengan tega. Tega? Justru akulah yang paling tega disini, membohonginya lagi, kedua kalinya aku berbohong padanya dan dia pergi.

Sekarang, aku sendiri tanpanya dan tanpa pria pilihannya yang aku usir keluar dari hidupku begitu saja. Pertanyaanku adalah, kenapa dia begitu membela pria baru itu dibandingkan aku? Kenapa dia meninggalkanku hanya karena aku meninggalkan pria itu? Padahal kehadirannya saja sudah cukup, kenapa harus membuatku bersama pria lain?

 

Kau bodoh, membiarkan dirimu sendiri dalam kebodohan. Aku pikir itu yang akan dikatakannya saat itu, aku pikir pukulan balok kayu yang pernah hampir mematahkan kakiku akan dilakukannya lagi. Namun ternyata tidak. Dia sama sekali tidak mengatakan dan berbuat apapun padaku, mata memerah dan tatapan bencinya adalah apa yang aku terima. Sesuatu hal yang lebih sakit dan menusuk dibanding kemarahan juga pukulan yang siap aku terima. Dia sangat amat kecewa tampaknya setelah hari itu, setelah aku meninggalkan pria pilihannya dan menggugurkan keponakannya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Suzy duduk dipinggiran jendela warna putih seperti aktivitas rutinnya beberapa waktu ini, memandangi pemandangan sekitar rumah yang telah dihuninya sejak kecil, melihat dan sesekali menghitung bangunan rumah lain disekitar kediamannya yang ia sadari makin bertambah saja tiap waktunya. Beralih dari rumah tetangga, segala macam tumbuhan baik dilingkungan rumah maupun diluar lingkungan rumahnya menjadi perhatian selanjutnya, bahkan petugas bersih-bersih yang beberapa menyapu dan beberapa lagi membuang sampah sampai jua dalam penglihatannya.

Embun yang menetes dari dedauan sangat sayang untuk dilewatkan, mengawali pagi dengan hal tersebut agar supaya melihat keindahan serta kesegarannya. Tidak bisa dipungkiri, ada sesuatu hal berbeda kala melihat embun yang masih menempel di daun dan kemudian mengingatkannya pada seorang pria, pria pecinta olahraga dan tanaman. Tidak jauh dari pandangan Suzy, masih dihalaman rumahnya terdapat dua buah ayunan. Dulunya, ayunan itu selalu bergerak dengan seseorang yang duduk disana. Namun kini, jika bukan karena angin maka seseorang sengaja melempar ayunan tersebut entah mengapa. Mengagetkan sekaligus menganggu Suzy kadangkala, tidak ia ketahui kenapa mereka semua—anak kecil sangat suka melempari dan bahkan meneriakinya. Apakah mereka tidak tahu jika hal itu sangat menggangu? Kemanakah orang tua mereka? Bagaimana bisa membiarkan anaknya begitu usil?

Jika sudah begitu, Suzy hanya bisa diam dan memendam kesal seorang diri tanpa bisa mengatakan apapun. Melihat tempat bermain sepasang saudara disana yang diganggu dan dirusak, membuat memori tentang mereka sedikit rusak sebab semua itu. Sepasang saudara beda gender itu selalu bersama dulunya, bergandengan tangan, saling bercanda, bermain lumpur hingga memenuhi seluruh tubuhnya, dan bermain ayunan tersebut tentu yang menjadi tempat favoritnya. Serasa bisa menggapai langit katanya ketika bermain ayunan.

Mengingat hal tersebut, tidak tahukah mereka bahwa dengan begitu Suzy akhirnya bisa tersenyum? Seperti saat ini, ia tersenyum memandangi ayunan yang telah mengelupas warna aslinya tersebut.

Kembali dalam tempat Suzy berada, ia duduk dalam jendela besarnya sembari melipat kaki. Dibagian sisi kamarnya agak jauh dengan ranjang, terdapat sebuah studio pribadi tempatnya menghabiskan waktu seharian dengan melukis, menyibukkan diri dengan hal tersebut tanpa peduli pada apapun selain itu—atau sebenarnya lebih tidak ingin melakukan hal selain itu.

Suzy menghiasi tiap bagian dinding rumah dengan sentuhan tangannya, meski beberapa hal juga sentuhan seorang pria yang memenuhi hidup dan dirinya namun kebanyakan semua hal dalam rumah tersebut adalah karya dan pilihannya. Ranjang lantai yang masih berantakan, atau sebenarnya memang selalu begitu karena Suzy tidak berniat dan tidak terlalu suka membersihkannya tampak sebagaimana biasanya. Maka ia biarkan saja kemudian, toh tempat itu berguna hanya saat ia ingin tidur disana dan tidak lebih.

621126276252f4f09ec8096d05186daa

Penuh foto dan lampu-lampu kecil sebagai hiasan yang dulunya tampak sangat cantik, meski sekarang masih menampakkan keunikannya namun siapapun setuju bahwa itu kurang sedap dipandang mata untuk saat ini. Foto itu, Suzy meletakkannya bukan hanya disekitar ranjang namun juga hampir diseluruh kamarnya seakan tidak ada tempat yang tidak ditempelinya foto. Bukan karena Suzy menyukai fotografi, bukan pula karena Suzy suka mengambil fotonya sendiri, namun dia hanya merasakan sepi dan kerinduan teramat sangat.

Waktu yang bisa diputar kembali, kesalahan yang bisa diperbaiki, dan maaf yang bisa diucapkannya.

Ada satu sosok pria yang tidak bisa Suzy abaikan, sosok yang kemudian meninggalkannya dan satu-satunya cara agar ia bisa tetap merasakan kehadirannya adalah dengan mengenang hal baik yang dulu terlewati, melihat sesuatu yang sempat diabadikan dalam jepretan kamera, melihat tawa yang tidak bisa dibohongi disana, dan merasakan hangat yang kemudian menjalar dalam hatinya.

Tiap kali akan tertidur, adanya foto-foto tersebut dalam kamarnya membuat ia merasakan deru nafas hangatnya lagi, mengingatkan ia tentang waktu dulu yang selalu terpejam dengan pandangan terakhir wajahnya. Kemudian saat pagi menjelang, kala matahari menampakkan dirinya sosok itu adalah yang pertama kali dilihatnya pula. Meski kemudian bukan sosok nyatanya, gambaran wajah bahagianyapun sudah lebih dari cukup.

Tidak, sebenarnya tidak cukup karena hal mengganjal dalam hatinya masih ada disana hingga detik ini.

 

 

Sama halnya seperti langit yang belum terlalu terang sebab matahari masih malu-malu menampakkan keberadaannya, begitulah warna kantung mata Suzy. Wanita itu, entah sudah berapa lama dan seberapa parah insomnia yang dideritanya. Namun jika ditambah dengan tangis rindu dan menyesal, bisa dimengerti bahwa kantung mata itu begitu—sangat hitam.

 

 

Salah. Kata hatinya selalu berkata demikian diantara kesunyian sebagai satu-satunya sumber suara. Salah dengan menghianatinya, salah dengan membohonginya, dan salah dengan meninggalkannya. Senyum miris menjadi tanggapan Suzy kemudian akan ucapan menyindir diri sendiri tersebut, dan matahari yang mulai tampak untuk menemani hari menyedihkannya yang lain sudah tidak malu-malu hingga warna keemasannya bisa dilihat dengan mata telanjang begitupun hangat sinarnya yang menerpa kulit.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, saat ini entah mengapa Suzy merindukannya lebih dari sebelumnya, merasa bersalah lebih dari sebelumnya, dan ingin bersamanya lebih dari sebelum-sebelumnya. Semua ketidakpekaan juga ketidakpedulian yang biasanya ia munculkan demi menyembuhkan sakit dalam hati entah mengapa tidak bisa dimunculkannya, membuatnya merasakan rindu dan keinginan bersama yang begitu besar namun menjadikannya kenyataan sudah barang tentu mustahil.

Kemarahan pria itu, tidak pernah Suzy lihat sebesar ini sebelumnya.

 

 

 

 

64bf86b631e4168a113f81c992bb260a

Pintu kamarnya yang Suzy buka menggambarkan keadaan sisi lain rumah yang begitu sepi. Dapur dan tempatnya menghabiskan banyak waktu dengan pria itu, baru sekali ini tampak begitu bersih. Biasanya? Sangat kotor dengan ulah mereka, entah dengan Suzy yang melukis hingga cat airnya tertempel kemana-mana, dia yang melakukan beberapa eksperimen dengan tumbuhan favoritnya, atau bahkan mereka yang saling melempar tepung dan beberapa bahan makanan untuk saling menjahili satu sama lain, sesuatu yang pada akhirnya mereka sesali karena membuang-buang makanan.

Cukup dengan melihat bagian depan ruang kamarnya yang biasa dijadikan tempat bersenang-senang, Suzy mengalihkan pandangannya pada piano yang tepat berada di samping kamarnya.

474b503e87afb724fdbfec1fb9be10ca

Satu-satunya benda yang bisa dikatakan bersih dari cat airnya itu adalah kenangan berbeda darinya juga pria disisinya yang sudah pergi. Hadiah ulang tahunnya ketika masih kecil tersebut masih berfungsi baik seperti saat pertama kali Suzy mendapatkannya, suara yang dihasilkannya bahkan masih semerdu saat pertama kali ia menekan tuts-tutsnya.

Beberapa waktu pria itu pergi, dan beberapa waktu itu pula piano tersebut seakan tidak berguna. Tidak pernah terdengar lagi suaranya, Suzy tidak pernah mau menyentuhnya lagi dan tampaklah ia sebagai barang tidak berguna.

Terus melihat ruangan sepi dalam rumahnya, Suzy mengarahkan langkahnya pada tangga yang mengajaknya ke lantai dua dimana kamar belahan jiwanya ada disana. Harapan serta angan-angan bahwa sosok itu ada di atas ranjangnya dan tengah terlelap merasuki kepala Suzy, harapan yang selalu ditimbulkannya selama beberapa waktu ini terus ia adakan karena seseorang berkata bahwa pikiran membawa hal nyata. Maka Suzy terus munculkan pikiran itu, dan kenyataannya adalah?

3849dc5f3c67ddc03f62650f988617b3

Kosong.

 

Orang itu tidak ada di atas ranjangnya, pada jam ini ia biasanya masih terlelap setelah bekerja seharian atau bahkan semalaman. Tubuh bagian atasnya yang toples hingga menampakkan hasil dari kerja keras fitnesnyapun tidak bisa Suzy lihat lagi. Selimut yang tidak terlalu bisa menutupi seluruh tubuh tingginya tampak berantakan—tidak berubah sejak hari orang itu meninggalkan kamarnya.

Namun bagaimanapun, Suzy sudah terlalu jauh dengan membuka kamarnya dan ia tidak boleh pergi begitu saja. Masuk ia dalam kamar yang sudah tidak pernah disentuhnya lagi selama beberapa waktu yang panjang, lukisan hasil karyanya memenuhi kamar tersebut sama halnya seperti kamarnya juga beberapa bagian rumah.

Dia suka warna biru. Suzy menggumam dalam kesendiriannya, rambut panjang acak-acakannya tidak terlalu mau Suzy rapikan karena lebih ingin merapikan kamar dimana dirinya berada saat ini itu.

Meja kerja kecil di samping jendela menjadi fokus Suzy kemudian, laptop yang ada disana dinyalakannya dan diputarlah beberapa musik merdu dari benda eletronik tersebut.

6077fa77e33f89c861ef1841e16fb36c

Lagu yang dilantunkan terasa menyentuh dirinya, membuka ruang kosong dalam dirinya hingga merasa bahwa pria yang dirindukannya juga tengah ada disisinya saat ini, merasakan kekuatan lagu kesukaan dunianya yang membuatnya tersenyum untuk kedua kalinya pagi ini.

Kamar mandi di pintu lain kamar tersebut Suzy buka, sama seperti perkiraannya bahwa memang tidak ada hal berubah disana, begitulah yang tampak.

14d7b5f21a8930e7c001acd7822e6a44

Kesukaan pria itu pada tumbuhan—tanaman tidak pernah bisa dihilangkan, semua bagian dari dirinya selalu bernafaskan tumbuhan hijau. Tumbuhan dan lingkungan bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa mereka. Kata-kata pria tersebut masuk dalam pendengarah Suzy, mengingatkannya sekali lagi pada pria tersebut dan kran air dalam kamar mandi Suzy nyalakan seakan menambah kebisingan dan menemani kesepiannya.

 

d8a54270addf1495d19908134bada2ac

Beralih kemudian pada ruang belajar dalam rumah yang selalu menjadi tempatnya dan tempat dirinya berbagi pemikiran, Suzy kembali menyalakan seluruh benda eletronik disana. Segala musik pop bahkan rock dicampurnya tidak beraturan dan entah apa yang kemudian telinganya tangkap dari segala musik itu. beberapa lukisan tangannya tergantung disana, masih tetap sama seperti dulu dan tidak berubah sama sekali seolah-olah Suzy ingin menunjukkan pada ia yang jika kembali nanti tetap melihat semuanya masih sama dan tidak berubah sama sekali.

Suzy hanya tertawa kemudian, tertawa begitu kencang melepas sakit dan rindu dalam hatinya. Berlarian dan berloncatan dalam ruang luas itu seolah menggambarkan kebahagiaan yang tentu berbanding terbalik dengan isi hatinya.

Tangan Suzy terulur kedepan, seolah ada orang lain yang memegangnya ia berputar membayangkan orang yang dirindu menggenggam tangannya dan bermain mereka, seperti dulu, saat masih kecil ataupun seperti beberapa bulan lalu.

Tangis yang tenggelam dalam suara kencang lagu berdentam itu memekakkan telinga sekaligus melegakan, kali ini Suzy bisa bernafas lega karena setidaknya tetangga samping rumahnya sudah pindah hingga ia tidak akan mendatanginya kemudian protes akan musik kencang tersebut.

 

Oppa

 

Suzy menoleh reflek merasakan ada penghuni lain dalam rumahnya, dengan segera ia keluar dari ruang belajar rumahnya, menuruni anak tangga berburu dan berakhir di ruang tamu dengan kesepian seperti biasa, membuatnya sadar tentang halusinasi lain dalam otak dikepalanya.

67154234e694605ef59905ca9d5aa465

Tidak ada siapapun.

Ya, tidak ada siapapun dan apapun kecuali sepasang sofa putih pilihan oppanya, tidak ada hal lain kecuali tembok berlukiskan bunga cantik yang sudah tidak secantik dan semenyenangkan itu dalam benak Suzy. Tetes air matanya langsung muncul, ia merasa dingin dan kesepian, merasakan hatinya yang berlubang dan menuntut sesuatu untuk mengisinya.

Oppa, Suzy terduduk sembari memeluk kedua kakinya yang ia lipat kembali. Pandangan mata pada arah luar rumah, halaman luas yang menampilkan seluruh tumbuhan tidak terawat yang dulunya begitu indah. Langit biru yang sudah tidak berniat untuk dilukisnya, burung-burung merpati yang beterbangan bebas dilangit namun sudah tidak dilihatnya mengagumkan, dan sebuah mobil sedan yang perlahan memasuki kediamannya, menarik perhatian ia dari bayangan rindu dan berdiri sembari menghapus air mata.

 

 

Oppa, sekali lagi ia berharap meski jika benar-benar bahwa yang datang adalah oppanya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana atau berbuat bagaimana. Namun kedatangannya, sekalipun mengacuhkannya lagi itu terasa lebih baik. Setidaknya lubang dalam hatinya akan sedikit terisi meski tidak penuh.

“Siapa?” Tanya Suzy buru-buru begitu membuka pintu untuk tamu yang bahkan belum mengetuk pintu rumahnya tersebut. Tidak memperhatikan bagaimana tampilan berantakannya saat keluar dan lebih peduli pada tamu pria yang baru akan mengetuk pintu rumahnya, Suzy memandangnya penasaran.

Sementara pria itu, tangan yang akan digunakan untuk mengetuk pintu kayu didepannya ia turunkan kembali. Rambut sepinggang yang berantakan itu, baju tidur tipis yang bahkan tidak bisa menutupi pakaian dalamnya, keadaan kacau dari wanita dihadapannya, membuat ia—menampakkan wajah bingung dan heran.

“Tuan?” Suzy kembali memanggil, menarik pandangan pria tersebut pada tampilan terbuka yang tidak disadarinya atau justru diabaikannya?

“Oh ya.” Pria tersebut berdehem dan mengambil dompet di saku belakang celananya. “Aku detektif Choi Siwon.” Perkenalnya menunjukkan kartu pengenal.

“Detektif?”

Pikiran tentang tetangga gila yang selalu mengganggunya itu masuk dalam pikiran Suzy, membayangkan bahwa wanita tua yang selalu mengomelinya melapor pada polisi hanya karena memutar musik kencang-kencang sudah ada dalam benak Suzy.

 

Sementara Siwon? Saat Suzy bergelut dengan insting menuduh mantan tetangganya, pria itu justru lebih memperhatikan tampilan berantakan dan tidak terawat Suzy tampak bagai orang gila, begitu kata Siwon. Dan jangankan tampilan Suzy, segala hal disekitarnya bahkan tidak jauh dari kata berantakan dan kotor. Siwon bahkan sempat ragu tadi saat akan memasuki rumah ini saking tidak percayanya ia bahwa ada seseorang yang tinggal disana, halaman kotor dengan ranting pohon dan daun kering berjatuhan, belum lagi keadaan dalam rumah yang bisa Siwon lihat sebab pintu rumah wanita hadapannya itu buka lebar-lebar. Lantai dan karpet yang penuh debu, sarang laba-laba dihampir tiap sudutnya, bungkus makanan dilantai, belum lagi entah cairan apa yang memenuhi tiap sudut, menjijikkan satu kata itu langsung muncul dalam pikiran Siwon begitu melihat keadaan dalam rumah. Namun semua hal itu masih belum ditambah dengan bercampurnya musik beda aliran, membuat telinganya seperti akan pecah saking tidak bisa disambungkannya beberapa musik yang saling beradu dengan sangat kencang itu.

Apakah telinganya baik-baik saja? Batin Siwon untuk kesekian kalinya.

Siwon menggsosok hidungnya sendiri saking mulai gatalnya dengan debu pada seisi rumah tersebut yang dihirupnya meski tidak masuk, ia tidak tahan berlama-lama disini dan akan lebih baik jika segera keluar.

“Nona.” Suzy menarik pandangannya kembali pada Siwon, menatap penasaran menunggu lanjutan kalimat pria tersebut. “Apa benar ini kediaman Tuan Bae Soo Hyuk?”

“Oppa? Oppaku?”

“Jadi benar?” Siwon memastikan dan Suzy mengangguk cepat.

“Ada apa dengan oppaku? Kenapa kau datang kemari? Kau detektif? Oppaku melakukan kesalahan? Kesalahan macam apa? Oppa orang baik tuan, dia tidak mungkin melakukan salah. Dia—.”

“Nona.” Siwon memotong tanggapan bingung Suzy, wanita itu tampak kebingungan dan kalut sementara Siwon menarik nafas dalam. “Sebaiknya anda ikut saya.”

“Kemana? Bertemu oppa? Tidak.” Suzy langsung mundur beberapa langkah dengan tangan menyilang. “Oppa marah padaku, aku tidak bisa menemuinya. Tapi tolonglah oppaku ne, oppaku tidak mungkin melakukan hal salah. Tolong saja oppaku, aku tidak bisa menemuinya. Dia akan kembali marah padaku, aku tidak mau dia marah lagi dengan melihatku.”

“Nona.” Siwon mendekat perlahan, menyentuh kedua tangan menyilang Suzy dan berusaha menenangkannya. Air mata menggenang dalam mata yang tertutupi kecantikannya itu bisa Siwon lihat. Segala khawatir juga takutnya bahkan dengan mudah Siwon tangkap mengingat profesinya. Rasa penasaran dari ekspresi Suzy itu, meski ada dalam benaknya namun tidak Siwon keluarkan tentu. Hal tersebut bukanlah urusannya.

Namun dengan melihat kekhawatirannya, sedikit banyak Siwon berpikir bahwa wanita ini terlalu kalut setelah menyambungkan kata detektif dan Bae Soo Hyuk. “Nona.”

“Tolong oppaku ne, oppaku tidak mungkin berbuat salah.”

“Saya kesini bukan karena Tuan Bae melakukan kesalahan.” Terang Siwon sedikit menenangkan Suzy. Tarikan nafas Siwon seolah peringatan akan ucapan menyakitkannya dan bahkan Suzy belum menangkap maksud tersebut hingga— “Anda harus ikut saya. Kami membutuhkan anda untuk mengidentifikasi jenazah yang dimungkinkan adalah Tuan Bae Soo Hyuk.”

 

Bruk

 

Mata Suzy langsung terpejam, tubuhnya limbung dan jatuh begitu saja pada lantai kotor dipenuhi debu yang kemudian menyebar ke udara, makin menyesakkan Siwon hingga batuk-batuk dan ia tidak memiliki niatan untuk lebih lama lagi di rumah besar namun sangat kotor itu. Tubuh lemah Suzy segera digendongnya untuk kemudian dimasukkan dalam mobil yang akan menuju rumah sakit, tempatnya berada sebelum ini. Tanpa ada niatan untuk menenangkan atau membuat Suzy sadar terlebih dahulu, Siwon tetap melajukan mobilnya cepat agar bagaimana nantinya Suzy menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit jika melihat kondisinya, yang jujur saja membuat ia merinding. Mantel hitam yang tadi Siwon kenakan sudah berpindah tangan pada Suzy, tidak ingin Siwon mencari keuntungan bahkan dari wanita yang tidak pantas diperlakukan seperti itu saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Aaaaaaaaaaaaaaaa…………………………………….” Teriakan menggema disepanjang lorong menuju kamar mayat itu tidak ubahnya teriakan hantu yang makin membuat takut tiap orang melewati jalan tersebut. Beberapa anggota polisi juga suster yang berada disana saling berpandangan terkejut hingga ada yang  mendekat kedalam kamar mayat sekedar mencari tahu teriakan apakah itu. Meski sudah diperkirakan sebelumnya bahwa akan banyak orang yang menangis saat mengunjungi kamar tersebut, namun teriakan melengking dan histeris ini adalah yang pertama kalinya. Penampakan seorang wanita kumal yang memeluk tubuh pria tidak bernyawa di salah satu sudut ruangan menjadi perhatian mencolok. Ia memeluk tubuh tidak bernyawa yang perutnya dibalut perban itu erat, menangis sekencangnya hingga wajah juga seluruh tubuhnya memerah.

Kini, penyesalan yang ditanggungnya makin besar, kesalahan yang diperbuatnya tidak bisa diperbaiki dan itu cukup untuk membuatnya mati perlahan. “Oppa jangan tinggalkan aku oppa bangun aku janji akan bahagia aku janji akan menuruti semua keinginanmu oppa bangun aku janji akan menikahi Myungsoo seperti keinginanmu aku janji akan meminta maaf padanya aku janji akan bersamanya seperti keinginanmu oppa aku mohon bangun oppa bangun jangan tinggalkan aku oppa marah saja padaku tapi jangan mati oppa bangun……oppaaaa…….oppa aku mohon jangan seperti ini jangan tinggalkan aku sendirian lagi aku tidak bisa sendirian aku tidak mau tanpa oppa oppa maafkan aku kasihani aku oppa bangunlah aku mohon oppa! Oppa bangun! BAE SOO HYUK! KAU JANJI TIDAK AKAN MENINGGALKANKU! OPPA……………oppaaaaa…………bangun! BANGUN AKU BILANG!”

“Tenanglah…tenanglah….!” Bentak seseorang menarik tubuh lemas Suzy dari oppanya, memeluk wanita itu erat dan ikut menangis bersamanya meski tidak sekencang wanita dalam pelukannya.

“Myungsoo?” Suzy menoleh pada pria yang memeluknya, pria yang kemudian menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher miliknya dan air mata pria itu menarik perhatiannya sesaat hingga langsung terdiam. “Kenapa kau menangis?” Tanya Suzy sembari menghapus air matanya, menarik diri dari pria tersebut dan menatapnya aneh sekaligus bingung. “Hhh?!” Suzy tergelak dengan tangan menggaruk kepalanya. Ia tersenyum kemudian sembari melirik tubuh kaku Soo Hyuk. “Bukankah ini bagus? Jika kau sudah ada disini maka kita bisa kembali, kau masih sangat mencintaiku kan? Kau akan melakukan apapun untukku kan? Kita bisa kembali huh? Kita akan kembali menikah? Seperti keinginan oppa. Bisakah kita menikah sekarang? Oppaku akan bangun setelah itu kan? Huh? Iyakan? JAWAB AKU IYA KAN?! JAWAB AKU IYA!”

“Hentikan aku mohon!” Myungsoo meremas kedua lengan Suzy sembari memelototkan matanya namun sayangnya, wanita itu sudah lebih dulu hilang kesadaran hingga kembali tersenyum dan menarik tangan pria tersebut, membawanya kesamping tubuh dingin Soo Hyuk.

“Oppa aku sudah bersama Myungsoo, kami akan menikah. Oppa bangun, aku akan menikahinya, oppa bangun….oppaa……” Suzy menggoyang-goyangkan lengan Soo Huk, menariknya beberapa kali supaya bergerak seperti keinginannya namun itu tentu tidak berpengaruh apapun. Tubuh itu justru semakin dingin dan kaku, membuat Suzy tersadar bahwa ia tidak bisa merubah hal tersebut apapun yang terjadi. Untuk satu titik, Suzy seolah disadarkan lagi atas keberadaannya.

Personil polisi berikut suster yang mengelilinginya, Myungsoo yang berdiri tidak jauh darinya, dan pegangannya pada tangan dingin Soo Hyuk. “Oppa mati? Oppaku?” Gumamnya tidak jelas, menjatuhkan bulir air matanya lebih perih dan panas dibanding sebelumnya kemudian.

Ditinggalkan Soo Hyuk, ditinggalkan pria yang sudah bersamanya sejak kecil, pria yang diakuinya sebagai belahan jiwa, pria yang diakuinya sebagai dirinya, pria yang sudah merawatnya sejak dulu, meski hanya berada jauh dalam jangkauannya saja sudah membuat ia segila ini. Kemudian ini? Meninggal?

Suzy tertawa seorang diri dalam ruang ber-cat putih tersebut, melihat Myungsoo dan semua orang disekelilingnya lucu hingga ia terduduk memegangi perutnya yang sakit. Mendapat tatapan kasihan dan miris dari orang-orang disana yang bahkan tidak bisa berbuat dan melakukan apapun terhadapnya.

Tidak lama setelah itu, tubuh yang sudah menampakkan kelemahannya tersebut kembali tergeletak dalam lantai marmer nan dingin rumah sakit. Bayangan wajah Soo Huk saat bahagia dan saat sedih yang sekaligus menjadi kesempatan terakhirnya melihat oppa-nya tersebut menari dalam mata indah Suzy yang masih terbuka.

Beberapa orang termasuk Myungsoo langsung menghampiri Suzy begitu melihatnya tergeletak di lantai. Semua indranya masih tampak berfungsi, matanya bahkan masih terbuka kala Myungsoo memeluk dan menepuk pipinya lumayan keras. Namun apa yang Suzy rasakan, tidak seorangpun dari mereka tahu.

Sakit teramat berat yang memenuhi hatinya telah membunuh ia perlahan, tepukan tangan Myungsoo pada pipi putih itu bahkan tidak bisa pemiliknya rasakan, teriakan kencang beberapa orang disana juga hanya bisa Suzy dengan samar-samar. Hanya gendongan seseorang yang kemudian mengangkat tubuhnya yang bisa ia rasakan dan itupun tidak bertahan lama sebab semuanya menggelap seperti halnya malam-malam tanpa Soo Hyuk disisinya. Begitu dingin dan menakutkan.

Sekelebat memori Suzy tentang kejadian sebelum Soo Hyuk marah dan meninggalkannya muncul. Penyesalan sebab dirinya berontak, dirinya yang lari dari Myungsoo dan mengatakan pada oppanya bahwa ingin menjalani hidup sendiri, memaksa oppanya untuk tidak ikut campur, mengusir Myungsoo dan bahkan menggugurkan anaknya sendiri sebab hal itu Myungsoo jadikan alasan untuk membuatnya tetap tinggal dan sungguh Suzy muak sekaligus tidak bisa dikendalikan dengan hal tersebut. Namun kini, Suzy sadar bahwa andai ia lebih berusaha menerima Myungsoo, berusaha lebih banyak mencintainya, berusaha melakukan apa yang oppanya inginkan, semua hal pada hari ini tidak akan terjadi.

Andai saja ia tetap menjadi seorang adik penurut dibanding pembangkang, maka harinya akan sama seperti hari-hari lalu toh oppanya tidak pernah salah langkah dalam tiap keputusan, justru dirinyalah yang selalu salah langkah dan membutuhkan uluran tangannya. Andai saja.

Andai saja waktu bisa diputar maka Suzy akan meminta maaf atas semua perilaku buruknya akhir-akhir ini, ia akan meminta maaf karena telah menolak Myungsoo, menggugurkan kandungannya, menolak keinginan oppanya, tidak menurut pada oppanya, bertindak sesuka hati, dan lebih memilih orang lain.

Andai ia tahu bahwa sakitnya akan seperti ini, kosongnya seperti ini, dan dinginnya seperti ini, maka tidak akan ia lakukan hal buruk yang bisa membuatnya jauh dari Soo Hyuk.

 

 

 

uhukk…uhukkkk…baru muncul semalam ama chapter sekarang udah muncul ama yang baru bukannya ama yang itu.

maaf untuk satu hal itu, wkwkwk lagi pengen ngetik ini soalnya

oh ya, aku ada grup line sama beberapa anak kpop lain. mungkin ada yang mau nambah temen, luangin waktu kosong, atau pengen kenal lebih deket :))

idku l.v27-wu atau kalau dari kalian ada yang mau aku add, sok idnya cantumin di kolom komentar nanti aku add🙂

15 responses to “Oppa

  1. Wah jinjaa , zy zyku kamu menyedihkan … Keren thor berasa bgt . lineku : antyvey (088210961874)

  2. Aduh nyesek banget. Tp akhirnya gimana thor? Myungzy bersatu lg nggak? sengaja digantung nih hehe… Sptx suzy berakhir di RSJ ya kl ga salah.

  3. Wah eonnie keren….bener2 bikin nyesek…penyesalan memang selalu diakhir… Itu lah kenapa seharusnya kita berpikir sebelum bertindak…#needsequeleon
    Masih penasaran banget…kenapa oppanya suzy meninggal…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s