Mr. Right 1/2

© Poster Channel by: Aqueera

Title : Mr. Right  | Author : dindareginaa | Genre : Romance | Rating : G | Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Sorry for typo(s)!

Wanita itu membuka matanya perlahan. Sedetik kemudian, jam weker yang memang sudah diaturnya agar membangunkannya pukul 6 tepat berbunyi. Ia segera mematikan jamnya dengan sekali gerakan agar suaranya yang memekakkan telinga itu tidak ikut membangunkan adiknya dan juga tetangga-tetangganya. Ia kemudian beranjak bangun dan segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.

Namanya Bae Sooji. Tahun ini umurnya sudah menginjak tiga puluh tahun. Ia bekerja di sebuah majalah fashion yang cukup terkenal di Seoul. Meskipun usianya akan menginjak kepala tiga Oktober ini, itu tak membuat Sooji risih. Ia tetap menikmati masa lajangnya. Tak peduli apa kata ibunya. Ya, ibunya yang memang lebih memilih tinggal di Gwangju – tempat kelahirannya – tak henti-hentinya mendesak Sooji agar segera menikah. Terlebih lagi setelah Irene Bae – adiknya yang usianya lebih muda 3 tahun darinya – memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya satu bulan lagi!

“Ya Tuhan, Bae Sooji! Umurmu sudah 30 tahun tahun ini! Adikmu saja sudah akan menikah! Bagaimana denganmu? Apa kau tidak malu melihat adikmu melangkahimu?”

Begitu kira-kira yang dikatakan ibunya jika Sooji meneleponnya. Demi apapun juga, tidak menikah dan belum menikah adalah dua hal yang berbeda! Sooji pasti akan menikah. Tapi tidak sekarang. Mungkin sampai ia berhasil menemukan belahan jiwanya.

“Sarapanmu sudah ku siapkan,” ujar Sooji pada lawan bicaranya di seberang telepon seraya memperhatikan lampu lalu lintas yang kini berwarna merah.

Coat-mu?” Sooji mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat dimana ia meletakkan coat adiknya itu. “Ah, aku meletakkannya di gantungan pakaianmu. Maka dari itu jangan meletakkan barangmu sembarangan! Ya Tuhan, Bae Irene! Sebentar lagi kau akan menikah dan kau bahkan tak bisa mengurus barangmu sendiri! Kau tahu, kau tak bisa mengandalkan kakakmu ini selamanya!”

“Iya. Aku tahu. Ya sudah. Aku tutup ya. Aku tak mau terlambat kerja karena mendengar omelanmu.”

Sooji melengos begitu adiknya memutuskan panggilannya begitu saja. Namun, sedetik kemudian pandangannya beralih pada seorang nenek yang kini berdiri di depan lampu merah. Ah, sepertinya ia kesulitan untuk menyebrang. Sooji kemudian melirik ke arah lampu merah. Sial! Tinggal 5 detik lagi! Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sooji kemudian melepas seatblelt-nya, membuka pintu mobil dan menghampiri nenek tersebut.

“Nenek, biar ku bantu.”

Nenek itu menoleh ke arah Sooji dan tersenyum simpul lalu mengangguk.

“Terima kasih, nak,” ujar nenek itu parau begitu Sooji selesai menyebrangkannya dengan selamat.

“Sama-sama, nek. Kalau begitu aku pergi dulu,” Sooji membungkukkan badannya lalu bergegas meninggalkan si nenek. Sooji melirik ke arah lampu lalu lintas sebentar. Sial! Sudah lampu hijau! Para pengendara sontak mulai mengendarai kendaraan mereka masing-masing, kecuali mobil-mobil yang berada di belakang mobil Sooji. Mereka membunyikan klakson mereka agar Sooji segera menjalankan mobilnya.

“Iya iya! Tunggu sebentar!” gerutu Sooji lalu mulai masuk ke dalam mobilnya. “Tidak sabaran sekali,” lanjutnya. Ia kemudian menginjak pedal gasnya lalu melaju kencang.

“Apa saja yang kau kerjakan selama ini?!”

Park Jiyeon sontak memicingkan matanya begitu mendengar teriakan Sooji padanya. “Sa… Saya…”

Sooji menarik nafasnya panjang lalu membuangnya kasar. “Ganti!”

Jiyeon yang sempat menunduk sontak mengangkat kepalanya dengan mata membesar, tak percaya dengan apa yang dikatakan atasannya itu. “Ya?”

“Kau tidak dengar? Aku bilang ganti!”

“Ta… Tapi…”

“Ganti!” titah Sooji lagi. Jiyeon tahu itu sudah final. Karena tidak ingin bermasalah dengan Sooji, Jiyeon lebih memilih untuk meninggalkan wanita itu. Namun, Sooji masih bisa mendengar gerutuan Jiyeon.

“Pantas saja dia belum menikah di usianya yang mau kepala tiga! Dasar perawan tua!”

Sooji tertegun mendengar gerutuan Jiyeon. Namun, ia lebih memilih untuk tidak ambil pusing. Toh, ini bukan pertama kalinya Sooji mendengar kalimat seperti itu.

“Bae Sooji.”

Sooji sontak membalikkan tubuhnya begitu mendengar namanya dipanggil. Ia terdiam mematung menyadari siapa yang kini berdiri dihadapannya. Namanya Park Bo Gum. Kekasih sekaligus calon suami adik tersayangnya. Oh, Bo Gum juga atasannya. Dan sejujurnya salah satu alasan Sooji belum menikah adalah lelaki ini. Ya, Sooji memang memendam perasaannya pada Bo Gum sudah 5 tahun belakangan ini. Sooji masih ingat bagaimana ia memperkenalkan Bo Gum pada Irene di acara ulang tahun perusahaan mereka. Kebetulan hari itu Irene baru tiba di Seoul. Tak ingin membuat adiknya kesepian, Sooji memutuskan mengajak Irene ke acara itu.

“Jadi, dimana lelaki yang membuatmu tergila-gila itu?” tanya Irene seraya menyikut lengannya.

Sooji memang sudah cerita sebelumnya pada Irene bahwa ia menyukai atasannya. “Tunggu. Sebentar lagi,” jawab Sooji seraya mengedarkan pandangannya. Begitu menemukan sosok yang dicarinya, Sooji tersenyum. “Itu dia.”

Irene mengalihkan pandangannya. Sooji yakin Irene kini tengah tepesona dengan ketampanan Bo Gum. Namun, Sooji tak terlalu memusingkannya.

“Oh, Park Bo Gum-ssi. Perkenalkan, dia adikku, Irene Bae. Irene, ini atasanku, Park Bo Gum.”

“Park Bo Gum.”

“Irene Bae.”

Sooji pikir itu adalah kali pertama dan terakhir Bo Gum dan Irene akan bertemu. Namun, betapa terkejutnya wanita itu begitu seminggu kemudian Irene dengan mudahnya mengatakan bahwa ia dan Park Bo Gum berpacaran! Tanpa rasa bersalah sedikitpun! Kalian tidak bisa bayangkan apa yang Sooji rasakan. Ia merasa dikhianati! Jujur, setelah itu Sooji merutuki kebodohannya karena memperkenalkan Irene pada Bo Gum. Sooji bahkan sampai sakit selama seminggu karena kejadian itu.

Sebenarnya, bisa saja Sooji mendiami Irene. Tapi, Sooji lebih memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Harusnya ia tidak menyalahkan Irene. Salahkan dirinya yang tidak bisa membuat Bo Gum jatuh cinta padanya. Dan sebenarnya Sooji sudah mencoba untuk melupakan Bo Gum. Tapi hasilnya NIHIL. Jangan tanya sudah berapa kali Sooji mengikuti kencan buta yang direkomendasikan sahabatnya, Jung Soojung. Tapi, tetap saja hanya Bo Gum yang bisa mengisi hatinya.

“Hei, kenapa diam?”

Sooji tersentak kaget begitu Bo Gum melambai-lambaikan tangannya tepat diwajahnya.

“Ti… Tidak apa-apa,” jawabnya gelagapan.

Melihat tingkah Sooji, Bo Gum hanya tersenyum. Sumpah demi apapun yang ada di muka bumi ini, senyum Bo Gum adalah salah satu keajaiban dunia yang harusnya diabadikan.

“Omong-omong, kau sudah sarapan?”

“Su…” Sooji menghentikan ucapannya. Apa Bo Gum berniat mengajaknya sarapan bersama? Jika Sooji mengatakan bahwa ia sudah sarapan, Bo Gum pasti akan membatalkan niatnya. Kapan lagi ia bisa berduaan dengan Bo Gum? Oke, Sooji tahu bahwa Bo Gum adalah calon suami dari adiknya. Tapi, tidak ada salahnya bukan kalau ia ingin dekat dengan Bo Gum? Setidaknya sebelum lelaki itu sah menjadi adik iparnya. “Belum,” jawab Sooji kemudian.

“Baguslah kalau begitu. Ayo, temani aku sarapan.”

Sooji tersenyum simpul lalu mulai mengikuti Park Bo Gum yang sudah berjalan terlebih dahulu.

“Karyawan magang?”

Bo Gum mengangguk seraya memasukkan potongam sandwich ke dalam mulutnya.

“Tumben sekali.”

“Itu karena dia sepupuku. Dia meminta tolong agar bisa bekerja di tempat kita sampai dia mendapatkan pekerjaan. Lagi pula, bukankah kita membutuhkan fotografer tambahan?”

“Benarkah?” tanya Sooji sedikit ragu. “Lalu, kenapa dia tidak jadi pekerja tetap saja?”

“Tidak. Dia bukan lelaki yang seperti itu. Dia ingin bekerja dengan usahanya sendiri.”

Sooji mendesis. “Dan dia malah memintamu untuk memperbolehkannya bekerja di tempat kita? Bukankah dia ingin bekerja dengan usahanya sendiri?”

Mendengar penuturan Sooji, Bo Gum malah tertawa. Inilah sifat Sooji yang paling ia suka. Wanita itu selalu berbicara apa adanya. Walaupun mungkin, lebih banyak orang yang tidak menyukai sifatnya itu. “Maka dari itu, aku mohon bantuanmu. Oke?”

Pupil Sooji membesar begitu Bo Gum memegang lembut tangannya. Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain selain melambaikan bendera putih, tanda ia menyerah. “Baiklah. Tapi hanya sampai 3 bulan. Mengerti?”

“Aku mengerti.”

Sooji dan Bo Gum baru saja tiba di kantor mereka saat Park Jiyeon menghampiri keduanya.

“Tuan Park, ada yang mencarimu.”

Bo Gum mengernyitkan keningnya. “Siapa?”

“Aku tidak tahu. Tapi, aku sudah menyuruhnya menunggu Anda di ruangan Anda.”

Bo Gum lalu menoleh ke arah ruang kerjanya. Kebetulan, ruang kerja Bo Gum memang menggunakan jendela kaca tembus pandang, sehingga itu memudahkannya untuk mengetahui siapa yang ingin menemuinya. Sedetik kemudian lelaki itu tersenyum.

“Dia sudah datang.”

“Siapa?” tanya Sooji kebingungan, lalu ikut menoleh ke arah pandangan Bo Gum. Ia tak bisa melihat jelas wajah lelaki bertubuh tinggi semampai itu karena lelaki itu berdiri memunggunginya.

“Ayo,” ajak Bo Gum lalu berjalan mendahului Sooji.

“Kim Myungsoo!” panggil Bo Gum begitu ia dan Sooji sudah berada di ruangannya.

Lelaki yang dipanggil Kim Myungsoo itu sontak menoleh. Ia tersenyum simpul.

Hyeong!” serunya.

Namun, begitu lelaki itu menoleh pada Sooji, ia terdiam beberapa saat seraya menatapnya tajam. Sooji sendiri tak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu tentangnya. Oh, mungkin saja didalam benak lelaki yang harus Sooji akui tampan itu, ia sedang mencerca Sooji karena diumurnya yang sudah tua ini, ia bahkan tidak memiliki kekasih. Oke, Sooji tahu ia berlebihan, tapi tetap saja ia tak suka ditatap seperti itu.

“Kim Myungsoo, perkenalkan, ini Bae Sooji, dia yang akan membimbingmu selama magang disini.”

Perkataan Bo Gum sontak menyadarkan keduanya dari lamunan mereka. Lelaki bernama Myungsoo itu kemudian menggaruk tengkuknya yang Sooji yakini tak gatal itu lalu mengulurkan tangannya.

“Halo, perkenalkan aku Kim Myungsoo.”

Sooji terdiam sejenak, tak berniat menyambut uluran tangan Myungsoo. Sedetik kemudian ia berkata,”Ikuti aku,” lalu berjalan mendahului Myungsoo.

Lelaki itu menatap punggung Soojj kebingungan lalu menoleh pada Park Bo Gum, seakan meminta penjelasan. Lelaki yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu hanya tersenyum, lalu menepuk pelan pundak Myungsoo. “Ikuti saja apa katanya, dijamin kau akan selamat dari sini.”

“Jadi… apa yang bisa kubantu?” tanya Myungsoo hati-hati.

Wanita itu tak menjawab. Ia masih sibuk membaca dokumen yang kini ada di mejanya. Hingga, tak lama, Park Jiyeon mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk,” seru Sooji, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Sooji-ssi, modelnya sudah datang.”

Mendengar perkataan Jiyeon, barulah Sooji mengangkat kepalanya. Ia mengangguk sekali lalu mengalihkan perhatiannya pada Myungsoo. “Ikuti aku,” titahnya, lalu mulai beranjak berdiri.

Sooji memperhatikan Myungsoo yang kini sibuk memotret model yang asik bergaya dihadapannya dengan seksama. Sepertinya lelaki ini boleh juga. Ia tak tampak seperti karyawan magang. Ia bahkan lebih andal dari pada fotografer mereka yang terakhir kali. Sooji bahkan sudah lupa nama lelaki itu.

“Bagus,” seru Sooji setelah Myungsoo menyelesaikan pekerjaannya. “Besok kita akan melanjutkan pemotreran outdoor. Kau harus sudah ada disini jam 7 tepat. Mengerti?”

“Kalau boleh tahu kemana kita harus pergi?”

Sooji menaikkan alisnya sebelah.

“Ma… Maksudku, agar aku tahu apa saja yang harus ku bawa untuk besok.”

“Myungsoo-ssi, kau disini untuk bekerja. Bukan untuk liburan. Mengerti?” Sooji lalu pergi meninggalkan Myungsoo.

“Kau harus memakluminya. Nona Bae memang begitu orangnya. Apalagi mengingat bahwa diusianya yang hampir tiga puluh ini ia belum menikah. Bukankah perawan tua memang begitu?”

Myungsoo hanya diam seraya menatap tajam wanita yang entah sejak kapan sudah berada dihadapannya.

“Omong-omong, aku Park Jiyeon,” ujarnya memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangan. Namun, karena Myungsoo tak kunjung membalas uluran tangannya, Jiyeon memutuskan untuk kembali membuka pembincaraan. “Kau sudah punya kekasih?”

Myungsoo tak juga menjawab pertanyaan Jiyeon. Memangnya apa hubungan kekasih dengan pekerjaannya? Myungsoo lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Jiyeon, membuat wanita itu berdecak kesal.

“Sombong sekali,” gerutunya.

Sooji cukup terkejut melihat Myungsoo sudah siap di depan ruangannya. Ia melirik arlojinya sekilas. Ini bahkan belum jam 7 tepat. Sepertinya Sooji harus menarik pemikirannya tentang lelaki itu sebelumnya. Ya, Sooji sempat berpikir bahwa karena ia adalah sepupu Bo Gum, lelaki itu akan berbuat semaunya. Ia mirip sekali dengan Bo Gum. Maksudnya, dalam hal pekerjaan.

Melihat atasannya sudah datang, Myungsoo sontak beranjak berdiri. “Sooji-ssi.”

Sooji mengangguk sekali lalu melemparkan kunci mobilnya yang langsung ditangkap Myungsoo dengan mudah.

“Kita berangkat sebentar lagi. Aku harus mengambil beberapa dokumen penting dulu.”

Myungsoo mengangguk mengerti lalu kembali duduk.

Myungsoo masih sibuk memperhatikan jalanan sambil mengendarai mobil silver milik Sooji. Sesekali ia melirik ke arah Sooji yang kini telah tertidur lelap disampingnya. Oh, mungkin ini alasan Sooji menyuruhnya untuk membawa mobil wanita itu. Agar Sooji bisa tertidur, sedangkan ia harus menahan rasa kantuknya. Sebenarnya tak masalah baginya. Lagipula, ia sudah terbiasa mengendarai mobil sampai keluar kota, apalagi tujuan mereka hanyalah Gyeongju. Itu tidaklah sulit.

Namun, Myungsoo mengernyit , begitu mendengar suara aneh dari dalam bumper mobil Sooji. Apalagi begitu mobil itu berhenti tiba-tiba.

Sooji mengerang seraya membuka matanya perlahan. “Apa kita sudah sampai?”

Lelaki itu menggeleng. “Mobilnya mogok.”

Myungsoo kini sedang memperhatikan Sooji yang saat ini sedang menghubungi salah satu bawahannya untuk segera memperbaiki mobil Sooji. Lagi pula, apa wanita itu tidak men-service mobilnya dulu sebelum berpergian?

Myungsoo hanya berdeham begitu Sooji menghampirinya.

“Mereka bilang mereka akan sampai disini sekitar setengah jam. Kalau semuanya lancar, kita akan sampai disana jam 12.”

Myungsoo mengangguk mengerti.

“Omong-omong, kau sudah sarapan?”

Myungsoo menatap Sooji sebentar lalu menggeleng. “Belum.”

“Huah, kelihatannya enak,” ujar Sooji begitu membuka wadah kepiting saus tiram yang baru saja dihidangkan pelayan pada mereka. Aromanya saja sudah menggungah selera Sooji. “Tunggu apalagi? Ayo dimakan,” suruh Sooji begitu melihat Myungsoo yang sedari tadi diam.

Myungsoo tersenyum simpul lalu mulai memakan sarapannya yang cukup tertunda.

“Sooji-ssi…”

“Tidak perlu formal begitu. Bukankah kita sedang tidak berada di tempat kerja?”

Myungsoo mengangguk mengerti. “Omong-omong, sudah berapa lama kau bekerja dengan Bo Gum hyeong?”

Sooji menghentikan aktivitas makannya sejenak sambil berpikir. “Kira-kira 5 tahun.”

Myungsoo kembali mengangguk lalu mulai memakan kepitingnya.

“Bagaimana denganmu?”

“Apanya?” tanyanya tak mengerti.

“Kenapa kau tidak menjadi karyawan tetap saja di tempat kami? Lagi pula kulihat pekerjaanmu lumayan juga.”

Baiklah. Sooji tahu ia aneh. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia memuji seseorang. Bahkan, adiknya saja tidak pernah ia puji sekalipun. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang bisa dipuji dari Irene.

“Aku hanya ingin bekerja dengan usahaku sendiri. Maka dari itu aku meminta tolong Bo Gum hyeong untuk memasukkanku bekerja sekedar untuk mencari pengalaman.”

Sooji mengangguk mengerti. Sekali lagi, ia salut terhadap Kim Myungsoo. Meskipun ia lebih muda dari Sooji – ya, Sooji baru saja melihat profil Kim Myungsoo dan ia cukup terkejut mengetahui bahwa Kim Myungsoo ternyata sebaya dengan adiknya, Irene Bae.

“Omong-omong, bagaimana kabar Irene?”

Sooji sedikit terkejut begitu Myungsoo menyebut nama adiknya itu. “Kau mengenal Irene?”

Myungsoo mengangguk sambil menyantap kepitingnya. “Tentu saja. Aku sempat bertemu dengannya beberapa kali saat aku mengunjungi Bo Gum hyeong.”

Sooji memaksakan senyumnya. Kenapa semua orang sepertinya lebih tertarik membicarakan Irene dari pada dirinya? Orangtuanya bahkan lebih sering membanggakan Irene dari pada Sooji, padahal Sooji tahu apa yang Irene lakukan sampai saat ini hanyalah karena bantuan dari relasi kedua orangtuanya.

“Dia baik,” jawab Sooji sekenanya.

“Tidak terasa bukan, sebentar lagi mereka akan menikah.”

Sooji mengangguk lesu. Ya. Tinggal sebulan lagi. Dan Sooji akan kehilangan cinta pertamanya untuk selamanya.

Myungsoo menyalakan mesin mobil Sooji. Ia tersenyum begitu benda tersebut menyala. Ia kemdian segera mengendarai mobil Sooji. Disampingnya, Sooji lebih memilih untuk diam, seperti dirinya yang biasa. Kepalanya sibuk berpikir tentang apa yang terjadi jika Bo Gum dan Irene benar-benar menikah. Sepertinya ia akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian.

Myungsoo kini sedang asik memotret model yang kini sibuk berpose dihadapannya. Myungsoo berdeham sebentar lalu memeriksa hasil jepretannya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Jiyeon, menghampiri Myungsoo.

“Tidak buruk.”

Jiyeon mengangguk mengerti. Ia lalu menoleh ke seluruh kru yang kini sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

“SEMUANYA BISA ISTIRAHAT SEBENTAR SELAGI MENUNGGU MODEL KITA BERSIAP-SIAP!”

Myungsoo terperanjat kaget begitu mendengar suara Jiyeon yang cukup melengking. Ia tak menyangka wanita yang feminim seperti Jiyeon memiliki suara yang besar. Myungsoo kembali memutuskan untuk sibuk dengan kameranya. Rasanya sayang sekali kalau ia hanya mengabadikan model saja ditempat yang indah seperti ini. Namun, gerakannya terhenti begitu kameranya menangkap gambar Sooji. Wanita itu kini sedang asik menikmati pemandangan di atas bukit. Angin semilir menerbangkan anak-anak rambutnya. Myungsoo tersenyum. Myungsoo tak mau kehilangan momen ini, maka dari itu ia segera menjepret Sooji, tanpa disadari wanita itu. Myungsoo tahu, dari pertama kali ia melihat Sooji, ada yang berbeda dari wanita itu.

“Hei! Apa yang kau lakukan? Modelnya sudah siap! Cepatlah!”

Sekali lagi, Myungsoo terperanjat kaget. Demi Tuhan! Tidak bisakah wanita itu tidak berteriak tepat ditelinganya?! Myungsoo mendengus kesal. Ia melirik sebentar ke arah Sooji yang kini menatap Myungsoo dan Jiyeon sambil menggelengkan kepalanya. Myungso lau segera kembali fokus dengan pekerjaannya.

“Akhirnya selesai juga!” seru Myungsoo seraya merengangkan kedua tangannya.

“Ini untukmu.”

Myungsoo menoleh pada Sooji yang kini menyodorkan sebotol air mineral padanya. Lelaki itu mengangguk kecil seraya menerima botol minuman tersebumt. “Terima kasih.”

Keduanya kembali terdiam. Baik Sooji maupun Myungsoo lebih memilih untuk menikmati keheningan ini sejenak. Namun, Myungsoo memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu. “Omong-omong, setelah ini kau ada acara?”

Sooji menoleh sebentar lalu menggeleng. “Tidak juga. Kenapa?”

Myungsoo hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Sooji.

 “HAHAHA.”

Sooji tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya begitu melihat Myungsoo kini memakai topi tradisional yang biasa digunakan oleh para pria di zaman Joseon atau yang lebih dikenal dengan istilah gat. Gyeongju, selain terkenal dengan pemandangannya yang indah, juga terkenal dengan keunikannya. Biasanya, drama korea yang mengunakan latar kerajaan akan syuting disini. Maka dari itu, jangan heran kalau banyak yang menjual perlengkapan kuno disini.

“Wajahmu itu tidak cocok menjadi orang Joseon,”ejek Sooji.

Myungsoo hanya mempoutkan bibirnya. Saat ia asik melihat-lihat sekelilingnya, lelaki tampan itu tersenyum begitu melihat sebuah tempat penyewaan hanbok.

“Ayo, ikut aku!”

“Hei, kita mau kemana?!” teriak Sooji begitu Myungsoo menarik tangannya.

“Hei, cepatlah keluar!”

“Tidak mau!”

“Memangnya kenapa? Apa tidak muat?”

“Bukan begitu. Hanya saja…”

“Keluar saja!”

“Baiklah. Tapi, kau harus berjanji untuk tidak menertawaiku! Mengerti?”

Myungsoo tersenyum simpul lalu mengangguk. Sadar bahwa anggukannya mungkin tidak akan dilihat Sooji, ia kemudian menjawab. “Iya!”

Sambil menunggu Sooji keluar, Myungsoo asik memandangi penampilannya yang kini juga sudah mengenakan hanbok di depan kaca. Tidak buruk. Myungsoo kemudian membalikkan tubuhnya. Ia tertegun begitu melihat Sooji kini sudah berdiri dihadapannya dengan menggunakan hanbok berwarna merah muda. Myungsoo udah sering menonton drama kerajaan dimana banyak wanita menggunakan pakaian tradisional itu. Tapi, jujur, baru kali ini ia melihat wanita yang sangat cantik saat menggunakan hanbok.

“Aneh sekali ya?” tanya Sooji seraya merapikan rambutnya yang memang sengaja ia gerai. Karena tak juga mendengar jawaban Myungsoo, Sooji kembali melanjutkan,”Sebaiknya aku menggantinya.” Namun, langkah gadis itu terhenti begitu Myungsoo memegang lengannya.

“Jangan.”

“Ya?” tanya Sooji, tak begitu mengerti maksud Myungsoo.

“Kau terlihat sangat cantik. Sebaiknya jangan diganti.”

Sooji tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tapi yang jelas entah kenapa ia senang mendengar pujian dari Myungsoo.

“Ba… Bagaimana kalau kita berfoto bersama?”

“Ba… Baiklah.”

Myungsoo tersenyum ia lalu merogoh sakunya, mengambil ponselnya lalu mendekatkan wajahnya pada Sooji.

“1… 2…. 3…!”

“Terima kasih untuk hari ini. Hari ini benar-benar menyenangkan,” ujar Sooji pada Myungsoo saat keduanya berjalan di lorong apartemennya. Sebenarnya Sooji memaksa Myungsoo untuk membiarkannya mengantar lelaki itu. Namun, Myungsoo menolaknya. Lelaki itu bahkan sampai mengantar Sooji ke depan apartemennya.

Myungsoo tersenyum lalu mengangguk. “Sama-sama.”

Namun, Myungsoo mengernyitkan keningnya begitu melihat Sooji menghentikan langkahnya. Wanita itu kini tampak terdiam sambil menatap lurus ke depan. Penasaran, ia kini mengikuti arah pandang Sooji. Ia tertegun melihat siapa yang kini berada tak jauh dari mereka, tepatnya di depan pintu apartemen yang Myungsoo yakini sebagai apartemen milik Sooji. Itu Bae Irene dan juga sepupunya, Park Bo Gum. Dan mereka kini sedang berciuman! Myungsoo kembali menoleh pada Sooji. “Kau… menyukai Bo Gum hyeong?” tanyanya hati-hati.

Sooji tak sempat menjawab karena Irene sudah terlebih dahulu menyadari kedatangan mereka.

Unnie!” panggilnya. Wajahnya kini tampak bersemu merah karena mengetahui kakaknya melihat apa yang baru saja ia lakukan dengan tunangannya.

Myungsoo sekali lagi menoleh pada Sooji. “Kau baik-baik saja?”

“Pulanglah. Terima kasih sudah mengantarku.”

Myungsoo terdiam beberapa saat. Lalu menghela nafasnya perlahan. “Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok.”

Sooji hanya mengangguk kecil. Ia lalu berjalan menghampiri sepasang kekasih itu. “Oh, Bo Gum-ssi. Kau disini?” tanya Sooji berbasa-basi.

“Aku baru saja ingin pulang. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok, Sooji-ssi.”

Sooji tersenyum simpul. Wanita itu sontak mengepalkan kedua tangannya begitu melihat Bo Gum mencium kening adiknya sebelum pergi.

Unnie! Kenapa diam?! Ayo masuk! Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu!”

Sooji hanya memaksakan senyumnya lalu mengikuti langkah Irene, masuk ke dalam apartemennya.

TO BE CONTINUED

Holaaa!! Long time no see! * lambai-lambai cantik* Btw, ini sebenarnya aku mau bikin satu part aja cuma kayaknya kepanjangan jadi habisnya next part aja – yang aku nggak tau kapan bisa dilanjut ._. Buat yang nungguin OhMyGhost (kalo ada), sorry banget ya. Sebenarnya mau ngelanjutin itu dulu baru buat ff ini. Tapi aku tuh stuck disitu-situ aja, alias nggak ada ide. Tungguin aja ya pokoknya! Tenang aja, aku nggak PHP kok. Karna aku tau di PHP-in itu rasanya sakit banget *bukan curhat*

Udah itu aja ^^ Jangan lupa komen yaaaaa *cium satu-satu*

45 responses to “Mr. Right 1/2

  1. Omoo kasian suzy😦
    Hmmm bisa2nya irene main belakang hmm padahal irene uda tau suzy suka bogum hmmmm
    Kirain myung bakal lebih tua dr suzy eh yernyata disini dia brondong hehehe

  2. Wkkk… Apa aku harus bersyukur bo gum pacaran sama irene? Jadi myung bisa sama suzy. Ayu myung dapetin hati suzy

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s