[Freelance/Oneshoot] Either Sincere or Stupid

GL580ARV

Title : Either Sincere or Stupid | Author : @aegyorawr | Genre : AU Drama, Romance | Rating : G | Main Cast : Bae Suzy – Kim Jongin | Other Cast : Find by yourself!

 

***

Suara teriakan menggema di seluruh penjuru gedung olahraga, mereka semua dengan ributnya menyemangati dan mendukung sekolahnya masing-masing, gadis berponi dengan rambut sebahu berwarna hitam itu terduduk di barisan penonton dengan senyuman merekah di wajahnya. Saat penonton yang lain dengan semangat berteriak untuk mendukung sekolahnya, gadis itu hanya diam dan sama sekali tidak memalingkan penglihatannya dari sosok pria yang sedang berlarian di tengah lapang dengan kaos oblongnya pria itu berlarian men-dribble bola, melakukan beberapa tipuan untuk menghidari lawan sampai akhirnya dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring dan kemudian disusul dengan tepukan dan surakan dari bangku penonton. Pria bernomor punggung tiga belas (13) itu berlarian ke tempat pertahanannya, bersiap untuk menghalau lawan yang sedang melakukan offense, pria berambut hitam dengan sedikit poni yang ditutupi headband di kepalanya men-steal bola dari lawan dan langsung mem-passingnya pada salah satu temannya, pria berkulit tan itu berlari cepat mendekati ring lawan, teman dibelakangnya langsung men-head pass bola tersebut dan pria itu telah siap di posisinya, bola berwarna oranye tersebut mendekatinya, pria bernama Kim Jongin atau dikenal dengan sebutan Kai itu meloncat dan men-dunknya. Suara tepukan dan surakan disusul dengan suara dengungan panjang yang menggema di gedung itu menandakan tanda berakhirnya pertandingan bola basket antar sekolah itu. Kai berlari menghampiri Coach dan teman-teman setimnya, pelukan dan teriakan kelegaan dari setiap pemain menghiasi wajah mereka, pertandingan yang berjalan hampir selama 60 menit itu akhirnya dimenangkan oleh tim yang di pimpin Kai. Gadis yang masih memperhatikan Kai dari bangku penonton kini beranjak dari tempat duduknya, ketika semua penonton pergi menghampiri tim yang telah memenangkan pertandingan untuk memberikan selamat, gadis itu malah melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan gedung olahraga tersebut.

Gadis bernama Suzy itu kini berada di halte bis dekat sekolahnya, Suzy terlihat melengkungkan bibirnya saat dia mengingat bagaimana Kai telah mencetak banyak score di pertandingan tadi. Suzy sangat bangga pada Kai, dari dulu, sekarang, dan mungkin untuk selamanya. Kai adalah seorang pria yang pernah menghiasi hari-hari Suzy, Kai adalah seorang pria yang pernah menjadi bagian paling penting dalam hati Suzy. Kai adalah segalanya untuk Suzy, dulu ataupun sekarang. Bagi Suzy, tidak akan ada yang bisa menggantikan Kai di hatinya meskipun ia bertemu dengan Kai Kai lainnya, untuknya dengan melihat Kai dari jauh sudah sangat cukup untuk membuat Suzy bahagia.

Kai dan Suzy adalah dua orang yang berbeda namun dengan kenangan yang sama, mereka pernah saling mencintai, pernah saling menangis untuk satu sama lainnya. Kai dan Suzy berpisah bukan karena mereka sudah tidak saling mencintai, hanya saja semua terjadi begitu saja, sampai-sampai Suzy tak tahu apa yang terjadi pada hubungannya dengan Kai. Kai dan Suzy terlalu takut untuk kembali bersama, entah apa yang menjadi alasan dibalik sikap mereka saat ini, yang Suzy tau Kai adalah mantan pacarnya, yang Suzy tau Kai terkadang terlalu sombong di hadapannya, yang Suzy tau Kai selalu senang bila dikelilingi banyak wanita di sekitarnya, yang Suzy tau Kai tidak akan pernah mungkin kembali ke dalam kehidupannya. Tapi, meskipun Suzy tau bahwa ia sudah tidak ada harapan dengan Kai, dan telah ratusan kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia harus melupakan Kai, ia harus membuka halaman-halaman yang lain, karena pada akhirnya apabila Suzy terus membaca halaman yang sama, maka akhirnyapun akan sama, tidak akan ada yang berubah.

***

Suzy menghampiri Kai yang sedang duduk di taman halaman sekolahnya, dengan bola basket yang dia dribble menandakan ia sedang bosan, Kai mengalihkan pandangannya pada Suzy, ia tersenyum tulus pada Suzy, senyuman yang sama, orang yang sama, namun dengan situasi yang berbeda. “Hai!” Kai menyimpan bolanya di tengah-tengah Suzy dan Kai seakan membatasi mereka untuk lebih dekat, Suzy masih menimang-nimang sikap seperti apa yang harus ia berikan kepada Kai saat ini, karena jujur saja sampai sekarang Suzy masih tidak bisa melupakan Kai, namun ia juga tidak ingin terlihat mengemis-ngemis cintanya Kai meskipun sebenarnya Suzy ingin melakukannya.

“Selamat atas kemenanganmu kemarin, Kai!” suara Suzy menyeruak masuk kedalam telinga Kai, suara yang sama, orang yang sama, namun dengan status yang berbeda. “Aku kira kau tidak menonton pertandinganku kemarin.” Kai lagi-lagi tersenyum pada Suzy, tidak tahukah Kai bahwa senyumannya bisa saja membuat Suzy makin mengharapkannya kembali? Suzy menggelengkan kepalanya, “Bagaimana bisa aku melupakan pertandingan pentingmu itu, aku akan selalu menjadi pendukung setiamu, Kai. Tenang saja.” Suzy tertawa dengan ucapannya sendiri, pendukung? Apapun itu, bagi Suzy selama masih berhubungan dengan Kai maka ia rela melakukannya. “Kau tau, bila kau terus seperti ini padaku maka kau tidak akan pernah bisa melupakan ku, Suez.” Suara Kai terdengar jelas di telingan Suzy, Suzy menatap kosong wajah Kai, sedangkan Kai memandang lurus kedepan melihat beberapa teman-nya yang sedang bermain basket. “Tapi aku menyayangimu, Kai.” Entah keberanian dari mana Suzy bisa mengucapkan kalimat tersebut, untuk sekian kalinya Suzy menurunkan harga dirinya di hadapan Kai. “Aku juga menyayangimu. Tapi, semuanya telah berakhir. Kita tidak akan mungkin kembali bersama.” “Kenapa tidak?” Suzy langsung merespon ucapan Kai, dan lagi-lagi ia terlihat mengemis dihadapan Kai. Ya, Suzy sedang mengemis, entah itu disebut mengemis atau disebut sedang memperjuangkan cintanya. “Kau sudah tau jawabannya, Suez.” Kai kini menundukkan wajahnya dan memandangi kedua sepatunya. Suzy terdiam, bukan karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia katakan tapi karena terlalu banyak kalimat-kalimat yang bersarang di pikirannya sampai-sampai mulutnya kebingungan kalimat yang mana yang harus ia katakan saat ini.

***

Satu tahun berlalu dan kini Kai maupun Suzy sudah meninggalkan bangku sekolahnya, namun mereka memasukki universitas yang sama, tentu saja disini sudah jelas Suzy yang mengikuti Kai. Pada awalnya Suzy telah lolos ujian di Universitas HanYang tapi sehari kemudian dia langsung meminta orang tuanya memindahkannya ke Universitas HanLim karena Kai diterima di Universitas tersebut. Di universitas ini Suzy bertemu dengan Krystal, gadis dengan julukkan ‘Ice Princess’ karena wajahnya yang jarang terlihat senyum, dan jarang berbicara pada sembarang orang.

Suzy mengendap-endap membuka loker bernomor 1313 dan memasukkan sebotol vitamin kedalamnya, Krystal yang melihatnya langsung menghampirinya, menepuk bahu Suzy yang otomatis membuat Suzy terkejut, “Ya, kau mengagetkanku!” Suzy memandang Krystal kesal dan dengan cepat menutup pintu loker tersebut, Ia langsung membawa Krystal pergi dari tempat itu karena takut seseorang akan melihat mereka. Krystal menatap Suzy seakan mengintimidasi karena apa yang telah Suzy lakukan, memberikan sebotol vitamin di loker seorang pria, setiap hari bertitle seorang anonymous, “Oh ayolah, Suez. Jangan sebodoh itu!”. Suzy tertawa hambar mendengar kalimat yang sama keluar dari mulut Krystal hampir setiap saat ketika Krystal memergokinya. “Aku tidak bodoh, aku hanya ingin menyayangi dia tulus.” Krystal berjalan ketempat duduk yang berada di bawah pohon dan diikuti Suzy dibelakangnya. “Pergi kehadapannya, tanyakan padanya apakah dia bersedia kembali padamu atau tidak? Dengarkan jawabannya, lalu ambil keputusan.” Krystal meneguk air mineral yang ia bawa dari dalam tas nya seakan ingin menenangkan emosinya yang kesal karena tingkah laku Suzy yang Krystal anggap sangat bodoh. “Jika dia menolakmu, kau harus berhenti dan lupakan dia. Cih, dia bahkan sudah mencampakkanmu di depan banyak orang. Kau masih saja mencintainya, kau itu bodoh.” Suzy terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Krystal, Suzy tak yakin dengan kata ‘bodoh’ yang keluar dari mulut Krystal, karena dipikirannya yang dia lakukan adalah ketulusan seorang wanita yang mencintai seorang pria tanpa harus dibalas apapun. Selama itu membuat Suzy bahagia, kenapa tidak, pikirnya.

***

Butiran halus berwarna putih berjatuhan dari langit, Kai tersenyum dan mengambil satu butiran salju, ia menggenggamnya erat dan berlarian menuju gedung fakultas seni. “Suzy!” Kai tak banyak berpikir ia langsung meneriakan satu nama saat ia melihat perawakan Suzy sedang berjalan menuju perpustakaan bersama temannya. Suzy membalikan badannya, ia tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Kai karena pada dasarnya Kai dan Suzy memang dekat, hanya saja tidak ada yang tau bagaimana perasaan Kai sebenarnya, terkadang Kai memperlakukan Suzy seakan Suzy adalah kekasihnya tapi sedetik kemudian dia memperlakukan Suzy layaknya orang asing yang tidak penting dalam kehidupannya. Kai berlari menghampiri Suzy, ia langsung menarik tangan Suzy dan memberikan butiran salju yang ia bawa tepat pada telapak tangan Suzy. “Your favorite, miss!” Kai tersenyum bangga di hadapan Suzy dan lagi-lagi Suzy dibuat semakin tidak bisa melupakan Kai. Harusnya kalau Kai tidak mencintainya ia tidak harus rela berlarian hanya untuk memberikan sebutir salju yang tentu saja akan Suzy temui nanti saat ia keluar gedung kelasnya. “Woah, apa turun salju?” Suzy menatap butiran salju ditangannya dengan takjub dan kemudian ia berlari menuju luar gedung untuk melihat salju yang turun, karena memang Suzy sangat menyukai salju sama seperti ia sangat menyukai Kai. Kai hendak mengejar Suzy tapi tangannya ditahan oleh seorang wanita yang dari tadi melihat kelakukan Suzy dan Kai. “Apa yang kau lakukan?” Krystal bertanya pada Kai dengan intonasi yang sangat tidak bersahabat. “Seperti yang kau lihat, aku ingin memberitahunya bahwa diluar sedang turun salju.” Kai menjawab pertanyaan Krystal polos, Kai sama sekali tak mengerti mengapa selama ini Krystal sangat tidak menyukainya. “Tapi untuk apa? Berhenti memberinya harapan seakan kau mencintainya….” “Aku memang mencintainya.” Kai memotong ucapan Krystal, Krystal yang paling tidak suka dipotong ucapannya semakin emosi mendengar jawaban Kai. “Lalu kenapa kau seperti ini? Sebentar-bentar perhatian, sebentar-bentar mencampakkannya.” Kai mengusap dahinya seakan berpikir kalimat apa yang akan ia berikan pada Krystal. “Ini bukan urusanmu.” Kai berjalan pergi meninggalkan Krystal, sementara Krystal di tempatnya sangat ingin mencakar muka Kai dengan kuku panjangnya.

***

Suzy berjalan dengan sebotol air mineral menuju lapangan basket, ia kemudian berlari saat dilihatnya Kai sedang berjalan menuju bangku untuk berisitirahat dari latihannya. Suzy menyodorkan air mineral tersebut di depan wajah Kai, Kai tersenyum dan langsung meminum air mineral yang diberikan Suzy. Beberapa orang teman Kai menghampiri Suzy dan Kai berniat untuk duduk karena kelelahan bermain basket. “Beruntung sekali Kai mampunyai pacar seperhatian Suzy.” Salah satu teman Kai yang bernama Sehun menggodanya. “Dia bukan pacarku.” Kai berkata dengan cuek, “Tipe wanitaku bukan seperti dia.” Kata-kata Kai seperti petir di siang bolong, Suzy terdiam mematung. Di satu sisi ia merasa kecewa di sisi lain ia merasa dipermalukan, merasa direndahkan oleh Kai. Memangnya sejelek apa Suzy, memangnya seburuk apa Suzy, semua orang tau bahwa Suzy termasuk ke dalam jajaran wanita cantik dan populer di kampusnya. “Suez!” Krystal menarik tangan Suzy dan membawanya pergi menjauhi Kai dan teman-temannya. Suzy yang masih sakit hati dengan ucapan Kai, yang pikirannya masih melayang entah kemana mengikuti Krystal tanpa perlawanan. “Sudah aku bilang jangan mendatanginya lagi, kau bodoh sekali Bae Suzy!” Krystal berbicara setengah berteriak karena geram dengan sikap Suzy selama ini. “Aku hanya ingin berhubungan baik dengan dia. Apa aku salah?” Suzy masih saja belum sadar letak kesalahannya. “Tapi apa yang kau dapat? Kalau aku jadi kau, aku tidak akan pernah mau melihatnya lagi.” “Kalau kau jadi aku, kau akan melakukan yang sama Krys.” Krystal menggenggam udara seakan gemas dengan jawaban Suzy. “Ayolah Suez, sadar. Dia sudah tidak ingin bersama mu lagi.” “Aku tau itu, dan aku menerima itu.” “Bae Suzy kau membuatku muak!”

***

Suzy berjalan melewati koridor di gedung fakultas olahraga, gedung tempat Kai menghabiskan waktunya, entah untuk belajar atau hanya untuk bermain basket. Suzy memfokuskan penglihatannya, Suzy yakin penglihatannya tidak salah karena ia tidak akan mungkin salah mengenali sosok pria yang selalu hadir di dalam pikirannya, ia melihat Kai. Kai sedang duduk di bangku taman di depan tempat latihannya, di sana terlihat sepi dan Kai sedang menciumi bibir gadis di hadapannya. Ini bukan pertama kalinya Suzy menemukan Kai seperti ini, sudah lebih dari tiga kali Suzy melihat Kai mencium wanita lain tapi tetap saja itu tidak merubah perasaan Suzy terhadap Kai. Suzy masih setia melihat pemandangan di hadapannya, ia tak ingin menganggu Kai, ia tak ingin merusak kesenangan Kai, ia takut bahwa Kai akan semakin menjauh darinya apabila ia sekarang muncul di hadapan Kai karena mungkin saja Kai akan menganggap Suzy seorang pengganggu di hidupnya. Di sisi lain, Kai tau Suzy melihatnya, di sisi lain Kai memahami bagaimana rasa sakit yang di rasakan Suzy saat ini, tapi Kai tidak tau apa alasan yang membuat Suzy bertahan di tempatnya. Setiap orang akan memilih untuk pergi atau menampar orang yang dirasa menyakiti hatinya. Tapi berbeda dengan Suzy, ia dengan setia berdiri menunggu kegiatan Kai selesai. Merasa semakin tak enak hati, Kai dengan segera melepaskan ciumannya. Entah apa yang dikatakan Kai pada wanita itu tapi setelah mencium sekilas pipi Kai wanita itu langsung pergi meninggalkan Kai sendirian. Kai mengalihkan pandangannya pada Suzy, satu senyuman terpancar di wajah Suzy. Bahkan Suzy masih bisa tersenyum pada Kai saat ini, bukankah Suzy terlalu naif. Suzy melangkah mendekati Kai, ia kemudian duduk di tempat yang telah di tinggalkan oleh pengisinya tadi. Ya, Suzy duduk di tempat wanita yang telah Kai cium. “Suez.” Kai mengeluarkan suaranya, ia benar-benar tak enak hati. Tapi disisi lain, ini bukan salahnya. Tidak ada yang menyuruh Suzy untuk melihat semua kelakuannya tadi. “Ya?” Tidak ada nada marah, Suzy menjawab Kai dengan intonasi yang sama, sama seperti saat ia menjawab panggilan- panggilan Kai lainnya. Kai tidak yakin harus berbicara apa saat ini kepada Suzy, Kai hanya ingin Suzy sekali saja menamparnya agar Kai tau bahwa ia telah menyakitinya. Kai hanya ingin melihat sekali saja Suzy mengeluarkan emosinya di depan Kai. Kai hanya ingin melihat pengakuan Suzy yang lain, bukan hanya dengan satu kalimat ‘aku menyayangimu, Kai.’ Bukannya Kai tidak membutuhkan kalimat itu, hanya saja selama ini Suzy tidak pernah memprotes segala ketidak adilan yang diberikan Kai. Suzy terlalu menerima semua sikap Kai kepadanya. Suzy terlalu diam, diamnya Suzy membuat Kai tidak yakin dengan apa yang dirasakan Suzy. Kai ingin melihat Suzy mengemis di hadapannya, berkata bahwa ia kecewa, ia sakit hati, dan ia cemburu melihat dirinya bersama wanita lain. Tapi semuanya tidak pernah berjalan sama dengan apa yang di harapkan Kai, Suzy selalu tersenyum padahal Kai sangat tau bahwa Suzy sedang kecewa saat ini. “Ada apa kau kesini?” Bukan kalimat itu yang ingin Kai ucapankan tapi ia juga tidak tau kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Tidak, aku hanya sedang ingin bertemu denganmu Kai.” Kai sama sekali tidak berharap bahwa Suzy akan menjawab kalimat setulus itu, Suzy ingin bertemu dirinya tapi Suzy malah melihatnya sedang mencium wanita lain, harusnya Suzy marah pada Kai saat ini. “Kau sudah bertemu denganku, sekarang kau boleh pergi.” Suzy diam mematung mendengar kalimat dingin yang keluar dari Kai, ia menggigit bibir bawahnya, tak ada yang bisa Suzy lakukan selain menuruti semua perkataan Kai. Suzy bangkit dari tempat duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Kai tanpa sepatah katapun. Kai menghela napasnya frustasi. “You, so damn stupid Bae Suzy.”

***

Dua buah es krim telah tersaji di meja yang berisikan dua orang gadis dengan mata yang berbinar. Suzy dan Krystal sedang menghabiskan waktunya berdua, di tengah salju dengan memakan es krim. Ketika orang lain memilih kedai kopi untuk menghabiskan waktunya di musim dingin ini, Suzy dan Krystal malah memilih toko es krim dengan alasan pada saat ini toko es krim sedang sepi. Jelas saja sepi, tidak ada yang ingin memakan es krim di musim dingin seperti ini. Suzy mulai menyendok es krimnya, begitupun Krystal. Mereka terlihat begitu sangat menikmati es krim yang mereka pilih tadi. Suzy kemudian teringat kejadian dimana Kai mencium wanita lain di hadapannya, dan bagaimana dinginnya sikap Kai saat itu. “Sedingin es krim.” Krystal mengernyitkan dahinya saat ia mendengar Suzy menggumamkan sesuatu. Tapi ia mencoba tidak memperdulikannya, anggap saja Suzy sedang menikmati es krimnya sembari menggumamkan kalimat-kalimat yang tidak jelas. Handphone Suzy bergetar, sebuah pesan masuk dari Kai membuatnya dengan cepat mengalihkan perhatiannya dari es krim di hadapannya. Tidak ada yang lebih penting dari Kai untuk Suzy.

From : Kai

Mau menonton film denganku, Suez?

Suzy membuka mulutnya tak percaya membuat Krystal yang di depannya merasa kebingungan dengan sikap Suzy. “Ada apa?” Suzy mengacuhkan pertanyaan Krystal, ia langsung membereskan isi tas nya dan beranjak dari tempat duduknya. “Ya, kau mau kemana Bae Suzy?” Suzy mencium pipi Krystal sekilas, kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Krystal “Aku akan berkencan.” Setelah selesai dengan kalimatnya Suzy langsung pergi meninggalkan Krystal dan menghilang di kerumunan orang banyak diluar. Krystal hanya menatap Suzy dari dalam toko keheranan “Apa-apaan sih ini.”

Sudah satu jam Suzy menunggu di depan parkiran bioskop yang telah Kai janjikan, walaupun Kai menyuruh Suzy masuk duluan tapi Suzy memilih menunggu Kai diluar, dinginnya salju tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kebahagiaan Suzy saat ini saat menerima pesan ajakan untuk menonton dari Kai. Ini kali pertamanya Kai mengajak Suzy untuk bertemu diluar setelah mereka putus, selama ini mereka selalu bertemu di kampus, itupun kebanyakan Suzy yang mendatangi Kai. Dua jam telah berlalu dan Kai masih saja tak terlihat di hadapan Suzy, ia mulai khawatir. Suzy mengambil handphonenya dan berusaha untuk menelpon Kai, tapi panggilan Suzy sama sekali tak di angkat oleh Kai. Tidak berniat untuk pergi, Suzy masih setia disana menunggu Kai. Sepasang mata melihat Suzy sejak dua jam lalu dari dalam mobilnya, ia sama sekali tidak berniat untuk turun dan mendatangi Suzy, bukannya ia tidak peduli melihat Suzy yang telah menunggu selama lebih dari dua jam disana. Ia hanya ingin tahu, seberapa lama Suzy sanggup menunggunya. Kai dengan penghangat di dalam mobilnya, sementara Suzy sudah sangat kedinginan di luar sana. Keadaan Suzy sudah semakin parah, ia semakin kedinginan diluar bioskop, Kai sama sekali tidak muncul sampai saat ini. Suzy ingin masuk ke dalam dan menghangatkan tubuhnya tapi hatinya masih ingin diluar menunggu Kai. Mobil berwarna silver kini berhenti tepat di depannya, Suzy melihat siluet Kai dari dalam mobil yang mengisyaratkan untuk masuk ke dalam mobilnya. Tanpa berpikir panjang Suzy langsung masuk ke dalam mobil Kai, mobil Kai terasa hangat. Kali ini Suzy terselamatkan dari hipotermia yang kapan saja bisa menyerangnya bila ia tetap berada di luar. “Suez, kau kedinginan?” Kai kemudian membawa selimut tebal dari jok belakang mobilnya seakan telah mempersiapkan itu semua. Suzy menggeleng seakan ia baik-baik saja. Kai menutupi seluruh badan Suzy dengan selimut tebal Kai. Suzy sama sekali tidak marah karena Kai yang terlambat datang, masih bisa melihat wajah Kai saja Suzy sudah sangat bersyukur. Kai di dalam hatinya merasa kasihan pada Suzy, seharusnya Suzy memilih untuk pergi beberapa jam yang lalu bukannya menunggu Kai sampai berjam-jam di cuaca yang sama sekali tidak bersahabat ini.

***

Selimut tebal yang menutupi seluruh badan Suzy tidak terlalu berfungsi bagi Suzy, Suzy di bawah sana masih merasakan kedinginan yang luar biasa karena kejadian tadi sore di depan gedung bioskop. Suzy tak menyesalinya, ia masih sangat beruntung karena dengan kejadian itu Kai memperlakukannya dengan sangat penuh perhatian. Panas badan Suzy semakin tinggi membuat orang tua Suzy semakin khawatir, mereka berniat menghubungi dokter tapi dilarang oleh Suzy. Suzy yakin ia akan baik-baik saja setelah meminum obat dan beristirahat total malam ini.

Kai di tempat lain masih sibuk dengan lamunan-lamunan kejadian tadi sore, Kai sama sekali tidak mengerti mengapa Suzy bisa sesabar itu menunggunya. Apa itu Cinta? Kai menggeleng kuat, cinta tak sebodoh itu, atau Suzy memang bodoh, pikirnya. Kai tak bermaksud mempermainkan Suzy, Kai hanya sedang ingin memastikan sesuatu, namun dirinya sendiripun tidak tau hal apa yang sedang ia pastikan dari diri Suzy. Bila berbicara tentang kesetiaan, maka Suzy layak menjadi peringkat pertama dalam hal itu. Suzy rela menunggu Kai lebih dari setahun lamanya, ia masih setia pada Kai meskipun Kai berkali-kali mengecewakannya. Dan, apabila ini tentang kebaikan hati Suzy, jelas saja Suzy sangat baik hati. Suzy tak pernah sekalipun marah terhadap Kai, Suzy selalu menerima semua perlakuan Kai, Suzy selalu menerima semua perkataan bernada dingin dari Kai, dan Suzy sangat menerima meskipun ia harus kedinginan di terpa salju hanya demi Kai. Kai mengambil ponselnya, ia menekan beberapa angka di layar monitornya, nomor bertuliskan nama ‘Suzy’ muncul di layar ponselnya tapi Kai sama sekali tidak menekkan icon ‘call’, Kai tidak yakin apakah ia harus benar-benar menelpon Suzy saat ini. Sejujurnya ia khawatir dengan keadaan Suzy, jauh di lubuk hatinya Kai benar-benar mencintai Suzy, tapi disisi lain ia tidak mau terlihat peduli pada Suzy.

Kai mencoba menutup matanya, mencoba ingin tidur dan melupakan semua bayang-bayang Suzy malam ini, ia bisa melihat Suzy besok pagi dan bisa memastikan secara langsung bagaimana keadaan Suzy. Tapi, sesuatu di dalam dirinya tak tenang, ada satu hal yang sangat mengganggu Kai malam ini dan Kai sama sekali tidak tau hal apa itu. Yang Kai tau, ia saat ini sangat khawatir pada Suzy. Kai dengan sigap merubah posisinya menjadi duduk, matanya beralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Terlintas di pikiran Kai untuk mendatangi rumah Suzy tapi orang tua Suzy tak akan membukakan pintu untuknya di jam seperti ini, ini sudah bukan waktunya bertamu. Sesuatu di dalam diri Kai semakin tak tenang, ia beranjak dari tempat tidurnya dan meraih jaketnya yang ia simpan di kursi belajar miliknya. Kai semakin frustasi saat ia tak menemukan kunci mobilnya, ia mengacak-acak seluruh isi kamarnya. Merasa pencariannya sia-sia, Kai berlari keluar kamar, membuka pintu ruang utama rumahnya, berlarian seperti orang yang telah putus asa menuju rumah Suzy. Kai tak peduli dengan salju yang berjatuhan di atas kepalanya, sesekali ia harus merasakan apa yang di rasakan Suzy., salah satunya saat ini, saat salju memenuhi seluruh penglihatannya.

Suzy merasakan sakit kepala yang luar biasa, ia mencoba memanggil ibunya tapi suaranya terlalu lemah. Suzy mencoba menggapai ponselnya, dengan tenaga yang ia miliki Suzy menggeser dan mencari kontak Kai, ia tak mungkin menelpon Kai saat ini dengan suara paraunya, Suzy tak ingin membuat Kai merasa khawatir, Suzy menekan icon pesan, dengan susah payah akhirnya Suzy berhasil menulis satu kalimat yang singkat untuk Kai.

To : Kai

Aku mencintaimu, Kai.

Kai merasakan ponselnya bergetar, Kai mengehentikan langkahnya saat nama Suzy muncul di layar ponselnya. Kai mengeluarkan setetes air matanya, ia kemudian berlari semakin cepat menuju rumah Suzy. Saat Kai tepat berada di depan pintu gerbang rumah Suzy, Kai kemudian terjatuh di sudut gerbang kehilangan kesadarannya akibat kedinginan dan kelelahan berlari. Di waktu yang bersamaan Suzy tersenyum saat telah berhasil mengirimkan pesan singkat untuk Kai, Suzy menutup matanya dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya. Tepat pukul 23.45 keduanya telah berhasil menutup mata, satu di antaranya tak akan pernah membuka matanya kembali. Suzy dan Kai telah berhasil tidur, dan salah satu dari mereka akan tertidur untuk waktu yang lama.

I find shelter in this way
Under cover, hide away
Can you hear when I say
I have never felt this way
Maybe I had said something that was wrong
Can I make it better with the lights turned on

I still want to drown whenever you leave
Please teach me gently on how to breathe

21 responses to “[Freelance/Oneshoot] Either Sincere or Stupid

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s