Sorry If I’m Happy [Chapter 1]

Sorry if i'm happy

SORRY IF I’M HAPPY

babyglam ft. aqueraa

 

Cast :

 

Bae Suzy

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

 

Genre :

Friendship | Romance | Sad

Teen

Disclaimer : FF ini aku tulis berdasarkan apa yang ada di otakku dan terinpirasi dari komik jepang dengan judul yang berbeda. So Don’t Bash, Don’t Judge, and Don’t be a Plagiator!! Jika ada kesamaan alur atau sebagainya, itu adalah unsur Ketidaksengajaan!!! Jangan lupa meninggalkan jejak setelah membaca! Don’t be SIDERS!

Warning for Typo(s), Kata-kata gajelas dan lain-lain~

 Preview : Teaser

 

HAPPY READING!^^

 

***

 

 

 

 

 

 

 

Chapter 1

 

[All Suzy Pov]

 

Sekarang genap dua bulan, sejak teman tersayangku menutup matanya. Dulu aku selalu berfikir kalau ia pasti akan membuka matanya dan kembali tersenyum bersama kami. Tapi sekarang, aku tidak tau apa aku dapat berfikir seperti itu lagi. Aku benci kepada diriku sendiri, yang selalu berfikir seperti sekarang.

 

Aku menatap wajah cantiknya. Walaupun matanya tertutup rapat, kecantikan diwajahnya tidak pernah pudar. Pantas saja Myungsoo sangat mencintainya. Aku menggenggam tangannya yang terdapat selang infuse. Air mataku tak dapat lagi kubendung. Aku menangis. Aku rindu denganmu Jiyeon.

 

 

“Maafkan aku”

 

***

 

 

Aku berlari kecil di taman belakang sekolah. Mencari sesosok pria yang telah menungguku cukup lama. Aku tersenyum tipis saat menemukan pria itu sedang bersandar dipohon besar sambil mendongakan kepalanya keatas menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

 

 

“Myungsoo” teriakku memanggil namanya. Diapun menoleh. Aku kembali berlari kecil untuk menghampirinya, “Maaf lama”

 

Myungsoo tersenyum kecil, “Tidak apa-apa”

 

 

Aku berjalan menghampiri salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Seragam bewarna kuning masih melekat sempurna ditubuh kami, ini kebiasaan kami saat pulang sekolah. Berbincang di taman belakang sekolah.

 

 

“Bagaimana keadaan Jiyeon?” Myungsoo bertanya sambil membiarkan senyum miris muncul diwajahnya. Jujur, aku tidak suka melihat Myungsoo seperti ini.

 

 

“Dia masih tertidur dengan wajah cantiknya” aku tersenyum menjawabnya. Dengan sekuat tenaga aku menahan tangis. Aku harus kuat didepan Myungsoo. Harus!

 

 

“Kemarin, kenapa kau tidak menemuinya?”

 

 

“Aku takut… karena aku terlalu mengkhawatirkannya”

 

 

Myungsoo tertunduk. Aku bisa merasakan kesedihan yang dia alami. Ya Tuhan, aku ingin melihat Myungsoo tersenyum seperti dulu lagi. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Sekarang aku hanya bisa menatapnya nanar.

 

Tanpa ku duga, tiba-tiba Myungsoo menarik tanganku. Entah mau dibawa kemana olehnya. Aku hanya bisa tertunduk. Mungkin Myungsoo menyesal telah meraih tanganku. Tapi aku tidak, Biar harus dikejar perasaan bersalah kepada Jiyeon. Karna aku…sudah menyukai Myungsoo lebih dulu daripada siapapun.

 

.

 

[Flashback 2 bulan yang lalu]

 

“Wah Jiyeon cantik sekali” aku berdecak kagum saat melihat Jiyeon—sahabatku—datang ke kelas kami. Wajahnya dipoles make-up yang tipis, membuat wajahnya tetap natural. Bibirnya ia beri sedikit lip-gloss, membuat bibir tipisnya menjadi bewarna cherry. Rambut hitam  indahnya pun ia ikat setengah, membiarkan setengahnya lagi tergerai bebas.

 

Jiyeon tersenyum kearahku lalu duduk disampingku. Ya, kami memang satu kelas. Tepatnya dikelas 2-2.  Aku bersahabat dengan Jiyeon sejak kami duduk di bangku SMP, cukup lama memang. Oleh karena itulah kami mengetahui kepribadian satu sama lain.

 

“Suzy juga cantik seperti biasanya” ucapnya tulus. Kurasakan pipiku memanas mendengarnya. Dulu, aku tidak seperti sekarang. Rambutku dulu pendek sebahu. Tapi sekarang sudah cukup panjang. Alasanku memanjangkan rambut supaya teman kecilku—Myungsoo—melihatku sebagai wanita. Bukan sebagai sahabat kecilnya.

 

 

“Eh Jiyeon sudah datang”

 

 

Aku menoleh kearah sumber suara yang sudah sangat aku kenal. Kutatap manik mata kecoklatannya. Kim Myungsoo.

 

 

“Myungsoo” panggilku pelan.

 

 

“Tumben kau datang pagi Suzy-ya” Myungsoo tersenyum kearahku, lalu ia pun menghampiriku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Dapat kurasakan hangatnya hembusan nafas Myungsoo. Aku tidak dapat berkata apa-apa, mataku terus menatap manik mata indahnya. Aku seperti dihipnotis olehnya.

 

 

“Kau tau?” Tanya Myungsoo. Ia semakin mendekatkan wajahnya.

 

 

“A-apa?” Oh tidak! Aku sangat gugup sekarang.

 

 

“Kenapa wajahmu memerah?”

 

 

Deg…

 

 

“A-anu—“

 

 

“Kau sangat lucu dengan pipi merah seperti itu” Myungsoo tersenyum sembari mencubit pipiku gemas sebelum akhirnya ia meninggalkanku keluar bersama Jiyeon.

 

 

Hanya dengan dicubit Myungsoo saja, hari ini akan kujadikan hari penuh keberuntungan. Aku memejamkan mataku sebentar untuk menetralkan pikiranku. Saat aku membuka mataku, telah banyak teman sekelasku yang mengerubungiku. Saat ini aku bagaikan buronan yang berhasil tertangkap oleh polisi.

 

 

“Kau pacaran dengan Myungsoo?”

 

 

“Kalian serasih sekali. Sejak kapan berpacaran?”

 

 

“Sudah berapa lama kalian berpacaran?”

 

 

Bertubi-tubi pertanyaan diarahkan mereka kepadaku. Kepalaku serasa ingin pecah mendengaranya. Aku hanya berteman dengan Myungsoo! Walaupun sebenarnya aku menyukainya.

 

 

Yak! Kalian tau? AKU DAN MYUNGSOO HANYA BERTEMAN SEJAK KECIL!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Hening. Yap, aku berhasil mendiamkan semua orang yang ada dihadapanku ini.

 

 

“Tapi kau ingin berpacaran kan dengannya?” celetuk salah satu teman sekelasku—Yoon Mina. Lagi-lagi anak polos itu. Kenapa dia harus ikut-ikutan dengan orang-orang aneh ini sih?!!

 

 

“TIDAK!!!!!!”

 

 

Walaupun sebenarnya aku menginginkan lebih dari sekedar sahabat.

 

 

***

 

 

Aku pun lebih memilih untuk meninggalkan kelas dan pergi menuju kantin. Aku rasa pelajaran pertama akan diundur 1 jam. Mungkin guru-guru sedang ada rapat karna ujian sekolah akan segera berlangsung.

 

 

Di kantin aku melihat Jiyeon dan Myungsoo sedang berbincang-bincang. Mereka berdua tertawa lepas seperti seseorang yang tidak mempunyai beban dikehidupannya. Mereka sama sekali tidak melihatku. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dibelakang mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.

 

 

Percakapan mereka yang kudengar membuatku tersadar kalau Myungsoo sebenarnya menyukai Jiyeon. Apa kesempatanku untuk mendapatkan Myungsoo akan lenyap? Yak! Aku tidak boleh menyerah, aku pasti bisa mendapatkan hati Myungsoo. Bukan Suzy namanya kalau gampang menyerah!

 

 

 

***

 

 

Bel pulang pun berbunyi, semua murid sibuk memasukan buku-buku kedalam tas mereka. Kini aku tengah berjalan sendirian di koridor sekolah. Kulihat Myungsoo dan Jiyeon tersenyum kearahku, lalu mereka berdua menghampiriku.

 

 

Kajja! Kita pulang bersama” ajak Jiyeon sambil menggenggam tangan kananku. Aku hanya tersenyum miris melihat tangannya yang menggenggam tanganku dengan tulus. Myungsoo yang melihatku hanya terdiam pun mendekatiku lalu memegang jidatku. “Kau sakit?” tanya nya panik. Aku menggelengkan kepala sebagai balasannya.

 

 

“Kalian pulang berdua saja, aku ada urusan mendadak” aku melepaskan genggaman tangan Jiyeon, “Aku duluan ya” aku berjalan mendahului mereka berdua, lalu berbalik badan sekilas sambil melambai-lambaikan tanganku kearah Jiyeon dan Myungsoo.

 

 

Yak Bae Suzy! Seorang wanita tidak baik pulang sendirian” Myungsoo meneriakiku cukup kencang. Aku pun tersenyum meremehkan, “Aku bisa menjaga diriku baik-baik. Apa kau lupa, kalau aku pemegang sabuk hitam? Kau bahkan kalah melawanku Kim Myungsoo” balasku sambil berteriak juga tentunya. Tanpa mendengar balasan dari Myungsoo dan Jiyeon, aku segera berlari meninggalkan mereka.

 

 

Aku menyukai Myungsoo, tapi aku membiarkan mereka berduaan. Dasar Bodoh!

 

 

***

 

 

Aku berlari dan terus berlari. Tanpa kusadari air mataku sudah jatuh bersama hujan yang turun. Bajuku seragamku sudah basah kuyup. Entah mengapa dadaku sangat sesak sekarang. Aku tidak berhak marah kepada Jiyeon, karena itu semua bukan kehendaknya. Lagipula aku hanya ‘berteman’ dengan Myungsoo.

 

 

“Kenapa cintaku begitu menyedihkan?” aku terdiam di jalan. Menangis.. hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku tidak tahu harus kemana menceritakan semua ini. Kenapa aku jadi selemah ini? Ya Tuhan tolong aku…

 

 

Jiyeon memang gadis yang beruntung bisa mendapatkan hati seorang Kim Myungsoo. Pria tampan memang pantas bersanding dengan wanita cantik. Seharusnya aku berkaca, aku tak pantas untuk berharap lebih perasaan dari Myungsoo. Jiyeon jauh lebih cantik daripada aku. Dan seharusnya aku tidak boleh menangis hanya karna lelaki itu. Aku segera menghapus air mataku dan segera berlari menuju rumahku yang memang sudah tidak jauh lagi.

 

 

 

***

 

 

Kepalaku sangat sakit saat aku mencoba bangun dari tempat tidurku. Aku harus berangkat kesekolah karena ada ulangan matematika hari ini. Akupun memaksakan untuk bangkit dari tempat tidurku dan bergegas ke kamar mandi.

 

 

“Kau pucat sekali” ucap Junmyeon oppa—kakak laki-lakiku—saat aku duduk di meja makan. Ya, aku memang hanya tinggal berdua dengannya karena ayahku sibuk dengan bisnisnya di London dan ibuku…entahlah dia kemana, sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibuku.

 

“Hanya sedikit pusing” balasku mencoba tersenyum. Aku yakin ini karna kemarin kehujanan. Bodohnya diriku! Dan sekarang aku hanya bisa menyesal.

 

 

Junmyeon oppa bangkit dari duduknya lalu ia memegang keningku, “badanmu panas, seharusnya kau istirahat saja” ucapnya cemas.

 

 

Aku melepaskan tangan Junmyeon oppa dan memaksakan untuk tersenyum, “Sudahlah oppa, kau itu terlalu khawatir. Ini hanya pusing biasa”

 

 

“Kau yakin?” tanyanya dengan raut wajah yang lucu. Aku membalasnya dengan anggukan kecil.

 

 

***

 

 

Junmyeon oppa akhirnya menyetujuiku untuk berangkat kesekolah hari ini dan iapun memaksa untuk mengantarku kesekolah. Awalnya aku tidak setuju karena seluruh murid di sekolahku—kecuali Myungsoo dan Jiyeon—tidak ada yang tau kalau aku mempunyai oppa yang hmm.. cukup tampan. Tapi karna Junmyeon oppa mengancamku, akhirnya akupun menyetujuinya.

 

 

“Sebaiknya kau makan ini nanti” Junmyeon oppa memberikanku kotak bekal bewarna biru. Lalu aku mengambil kotak bekal itu dan tersenyum “Gomawo oppa”.

 

 

***

 

 

Perjalanan dari rumahku ke sekolah tidak memakan waktu yang lama. Aku hanya terdiam didalam mobil. Entahlah apa yang aku kupirkan sekarang, hanya saja hari ini aku tidak ingin bertemu dengan Myungsoo dan Jiyeon. Ya, semoga saja hari ini aku tidak bertemu mereka berdua. Entah mengapa aku sedang tidak mood dengan mereka berdua.

 

 

“Kau tidak ingin turun?” ucap Junmyeon oppa yang sudah membukakan pintu mobil untukku.

 

 

“Tentu saja” akupun segera turun. Junmyeon oppa merangkulku dan mengajakku berjalan ke dalam sekolah.

 

 

Yak! Kenapa kau ikut kedalam?” tanyaku sambil melepaskan rangkulan Junmyeon oppa.

 

 

“Apakah kau lupa kalau appa adalah pemegang saham disekolahmu?” dia balik bertanya kepadaku. Aku lupa kalau aku terlahir dikeluarga yang cukup mapan. Dari dulu aku memang tidak terlalu peduli dengan urusan mereka. “Aku lupa” jawabku singkat, lalu berjalan melalui Junmyeon oppa.

 

 

‘Hey lihat namja itu, tampan sekali’

 

 

‘Apa dia kekasihnya Suzy?’

 

 

‘Kulitnya mulus sekali’

 

 

‘Aku ingin berkenalan dengannya’

 

 

‘Dia tidak cocok dengan Suzy’

 

 

Kata-kata itu terus saja meluncur ke telingaku saat aku berjalan di koridor sekolah. Akupun terus berjalan tanpa menghiraukan mereka semua dan Suho oppa yang sedang berjalan dibelakangku. Mataku tertuju kepada segerombolan siswa yang mengerubungi mading sekolah.

 

 

Apa ada berita baru ? Berita tentang sekolah atau murid populer yang sedang berkencan?

 

 

Karena penasaran akupun menghampiri mading, aku menerobos segerombolan orang-orang yang sedang melihat mading sekolah. Terpampang jelas foto Myungsoo sedang memeluk Jiyeon. Mataku tak berkedip melihat foto itu.

 

 

Mereka berpacaran?

 

 

Hatiku terasa sesak. Ditambah badanku yang sedang dalam keadaan tak begitu baik. Kepalaku semakin pusing. Haruskah aku marah? Tidak, Aku tidak berhak marah. Ini sudah menjadi takdir mereka. Tck! Suram sekali takdirku.

 

 

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Junmyeon oppa padaku. Ia membuat aku tersadar dari lamunanku. Sebagai balasannya aku mengangguk.

 

“Bukankah itu Myungsoo dan Jiyeon?” Tanya Junmyeon oppa saat melihat mading. Aku lebih memilih untuk diam. Lalu aku menarik tangan Junmyeon oppa untuk menjauhi kerumunan orang-orang itu.

 

 

Aku berjalan lunglai, keringat dingin mulai membasahi wajahku. Aku meremas rokku, tak percaya apa yang terjadi barusan. Aku merasa kepalaku semakin pusing. Pandanganku kabur. Seketika semuanya menjadi gelap. Kenapa ini!?

 

 

***

 

Aku terbangun. Kepalaku masih pusing. Aku menoleh ke sebelah kanan mendapati Junmyeon oppa yang duduk dibangku tepat di sebelahku.

 

 

“Sudah kubilang kalau jangan pergi sekolah” ia menggenggam tanganku erat. Terlihat jelas dari wajahnya kalau ia khawatir. Aku tersenyum miris, mencoba untuk bangun. Namun Junmyeon oppa melarangnya. Ia mendorong bahuku, menyuruhku untuk tidur kembali.

 

 

“Aku ada ulangan matematika” ucapku sembari memaksakan untuk bangun kembali. Lagi-lagi Junmyeon oppa melarangku untuk bangun. “Kau diam saja” katanya. Ia menyodorkan segelas air putih padaku. Aku meraih gelas itu dan segera meminumnya.

 

 

Yak! Aku harus ke kelas sekarang!” ucapku agak sedikit teriak. Karna waktu sudah menunjukkan pukul 07.55 KST. Aku berusaha bangun dibantu oleh Junmyeon oppa. Ia menuntunku sampai kedepan kelas.

 

***

 

Saat sampai di depan kelas, aku mengerutkan dahiku. Ternyata ulangan belum dimulai. Aku melihat seisi kelas. Banyak murid yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Mataku tertuju pada Myungsoo dan Jiyeon yang sedang berbincang layaknya orang berpacaran. Bukankah mereka sudah berpacaran? Ah sudahlah. Aku menghampiri mereka dengan perasaan yang campur aduk. Tentunya Junmyeon oppa tidak ikut masuk kelas.

 

 

“Selamat pagi” sapaku. Aku berusaha memberikan senyuman terbaikku, meski sangat sulit untuk melakukannya.

 

“Oh hai Suzy, kau baru datang?” Tanya Myungsoo. Ia memberikan senyuman manisnya. Diikuti oleh Jiyeon yang juga memberikan senyumannya. Mereka terlihat sangat bahagia hari ini.

 

“Ya, aku baru saja kembali dari ruang UKS” jawabku. Aku menunduk. Entah mengapa saat ini aku sangat malas untuk menatap wajah mereka. “Yak! Suzy-ah! Apa kau sakit?!” ucap Jiyeon sedikit berteriak. Terlihat jelas kalau wajahnya sangat khawatir. Ia menghampiriku dan menyentuh dahiku untuk memastikan kalau aku sakit atau tidak. “Sudahlah aku tidak apa-apa” aku menyingkirkan tangan Jiyeon dari dahiku lalu segera duduk di tempat ku yang berada di samping Jiyeon.

 

 

Aku menghela nafasku berat. Menopang daguku diatas meja. Berusaha untuk tidak kembali melihat mereka. Kalau terus melihat mereka, sudah dipastikan kalau aku akan membakar sekolah ini. Ah tidak, segila itukah diriku sampai harus membakar sekolah ini? Aku tidak ingin ada berita yang menyebutkan ‘SEORANG SISWI TEGA MEMBAKAR SEKOLAH HANYA KARNA CEMBURU SAHABAT LELAKINYA BERPACARAN DENGAN SAHABAT WANITANYA.’

 

Sudah sepuluh menit aku melepas pandang dari mereka. Tapi mereka belum menghentikan percakapannya. Astaga, mereka tidak bosan berbicara terus?! Bahkan mereka tidak sadar kalau aku ada disini. Tidak biasanya seperti ini. Ah, terkadang orang yang sudah berpacaran sifatnya berubah ya. Aku merasa seperti debu. Tidak dianggap.

 

 

Suasana kelas kembali tenang sesaat setelah Park seongsaenim datang. Baguslah, dengan begitu Jiyeon dan Myungsoo pasti sudah berhenti berbicara dan duduk ke bangkunya masing-masing. Jiyeon menepuk pundakku pelan saat ia duduk disampingku. Sontak, aku menoleh dan tersenyum kecil.

 

 

“Baiklah, maaf kalau saya telat. Sekarang saya akan membagikan soal ulangan” ucap Park seongsaenim. Lalu ia membagikan soal ulangan kepada para murid.

 

 

Ulangan berlangsung dengan tenang. Tapi tidak dengan pikiranku. Pikiranku tidak begitu tenang –atau bahkan tidak tenang–. Aku masih memikirkan hal tadi. Seharusnya aku bertanya, mereka berpacaran atau tidak. Ugh, pikiranku kacau sekarang. Ulangan sudah berlangsung sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi aku belum mengerjakan satu soalpun. Membaca soalnya saja belum.

 

 

Aku mengambil napas dalam. Mencoba menetralkan pikiranku dan memfokuskan diri pada kertas ulangan ini. ‘Tenangkan dirimu Bae Suzy! Kau harus mendapatkan nilai bagus’

 

 

 

***

 

 

Bel istirahat berbunyi.  Murid-murid berhamburan keluar kelas. Tapi tidak denganku, aku masih malas bergerak, bahkan se-centi pun. Sampai aku merasa ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Jiyeon serta Myungsoo sudah berada dihadapanku.

 

 

“Ayo ke kantin bersama” ucap Jiyeon di sertai dengan senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan gigi rapihnya. “Tidak Yeon-ie, aku tidak lapar” ucapku seadanya. Sembari mengulas senyum –yang sebenarnya dipaksakan– untuk mereka.

 

 

“Tapi kau kan sakit” balas Jiyeon cemas. Aku menggeleng “Tidak, aku sudah dibawakan makanan oleh Junmyeon oppa

 

“Baiklah, kami ke kantin ya” ucap Jiyeon.

 

“Kalau kau perlu apa-apa, telfon aku ya kelinciku” Myungsoo mengelus puncak kepalaku sebelum ia keluar dengan Jiyeon.

 

 

Sudah lama aku tidak mendengar Myungsoo memanggilku dengan sebutan ‘kelinci’. Oh…aku sangat rindu disaat aku dan Myungsoo hanya berdua saja. Sekarang aku hanya sendiri di dalam kelas. Aku menaruh kepalaku di meja dengan beralaskan tas. Pusing, itu yang aku rasakan. Kalian tau? Ini sangat menyakitkan.

 

***

 

Dua puluh menit lebih aku berkutat dengan pikiranku yang tidak jelas. Dan setelah itu pula aku mengeluarkan bekalku. Membuka penutupnya, kemudian tersenyum. Isinya adalah nasi yang dibentuk dengan cetakan ‘kelinci’ dengan berbagai hiasan mengelilingi nasi ‘kelinci’ itu. Mood-ku seketika membaik. Junmyeon oppa memang hebat. Aku memakan bekalku tanpa memikirkan hal tadi lagi. Memang sulit untuk dilupakan, tapi aku benar-benar berusaha untuk melupakan itu.

 

Tepat setelah bekalku habis, bel masuk berbunyi. Terlihat murid-murid masuk ke kelas dengan bergilir. Manik mataku menangkap pasangan yang kelihatannya sedang ‘heboh’ di sekolah ini. Benar, itu Myungsoo dan Jiyeon. Mereka masuk kelas dengan tangan yang saling bertautan. Bibir mereka mengukir senyuman bahagia. Apakah mereka lupa temannya sedang sakit? Bersenang-senang diatas penderitaan orang lain? Hah, terserah saja.

 

Jiyeon duduk dibangkunya, disebelahku. Senyum dibibirnya belum hilang sejak masuk kelas. Bahkan sepertinya ia lupa kalau aku ada disebelahnya. Ia sama sekali tak melirikku. Ah, masa bodo.

 

“Suzy-ah. Kau sudah tahu belum?” kupikir ia sudah tak peduli denganku. Ternyata ia masih mau mengajakku berbicara. “Tahu apa?” aku mengerutkan dahiku. Jiyeon mendekatkan bibirnya ketelingaku. Membisikkan sesuatu “aku dan Myungsoo berpacaran” bisiknya pelan, sangat pelan. Mendengar itu aku agak terkejut. ‘Ternyata firasatku selama ini benar’. Aku menoleh kearahnya dan tersenyum kaku.

 

“Ah itu, tentu saja tahu. Seluruh sekolah sedang heboh membicarakan kalian loh. Woah, kalian pasangan yang luar biasa!” kataku berpura-pura senang. Padahal hatiku tidak. Aku tersenyum pahit. Kini aku sudah mengetahui kebenarannya.

 

***

 

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai. Bel sudah berbunyi sejak tadi, tetapi aku masih ada di halaman sekolah. Jiyeon dan Myungsoo, mereka tadi sudah mengajakku untuk pulang bersama. Tapi aku menolak ajakan mereka. Aku tidak mau menangis karena pulang dengan mereka. Entah mengapa sejak tadi otakku hanya memikirkan mereka. Ah sudahlah, Junmyeon oppa pasti sudah menungguku.

 

Dari kejauhan dapat kulihat seorang pria bersandar di gerbang sekolah. Aku menajamkan penglihatanku. Loh bukankah ia?

 

“Eoh? Junmyeon oppa!” ia menoleh. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum. Lalu berlari kecil menghampirinya. Junmyeon oppa melihatku, kemudian tersenyum dan mengelus puncak kepalaku. “Kenapa lama? Semuanya sudah pulang tapi kau baru keluar” wajah khawatirnya membuatku tertawa.

 

“Tadi aku ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku” aku berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang kalau aku memikirkan Jiyeon dan Myungsoo? Itu gila. “Benarkah?” dahinya berkerut, seperti akan menginterogasiku. “Aku tidak bohong!” ia tertawa.

 

“Haha! Aku hanya bercanda! Ayo pulang” tangan kanannya melingkar di bahuku. Menuntunku untuk masuk kedalam mobil.

 

***

 

Sesampainya dirumah aku langsung menuju ke kamar tanpa memperdulikan Junmyeon oppa yang mengoceh tidak jelas. Aku sangat lelah. Aku merebahkan tubuhku keatas kasur kesayanganku. Menghela napasku kasar dan memejamkan mata untuk menetralkan pikiranku. Sampai akhirnya aku masuk ke alam bawah sadarku.

 

 

Aku melihat sekelilingku. Hey ini dimana? Kenapa tempat ini sangat aneh? Tempat ini terlihat seperti tak berpenghuni. Semuanya putih. Ini membuatku takut.

 

“Suzy-ah” terdengar suara wanita memanggilku dari belakang. Sontak aku menengok kebelakang. Jiyeon? Sedang apa dia disini? Ia memakai dress putih panjang. Kemana ia akan pergi. Tunggu, wajahnya..wajahnya sangat-sangat pucat

 

“Sedang apa kau disini?” aku mengerutkan dahiku. Jiyeon tersenyum. Wajahnya yang pucat tiba-tiba bersinar.

 

“Boleh aku minta satu permintaan? Dan kumohon, jangan menolaknya” Kata Jiyeon dengan wajah memohon.”Apa yang ingin kau minta Yeon?” raut wajahnya berubah sedih. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Jiyeon?

 

“Aku ingin pergi jauh, jadi tolong  jaga Myungsoo untukku” Jiyeon tersenyum tulus walaupun masih terpancar kesedihan diwajahnya. Aku bingung akan menjawab apa. Kemana ia akan pergi?

 

“Kemana kau akan pergi?”

 

“Maafkan aku sudah menjadi sahabat yang buruk untukmu Suzy-ah”

 

“Ini tidak lucu Jiyeon, kau bahkan belum menjawab pertanyaanku!”

 

Tepat setelah aku mengatakan itu, perlahan Jiyeon mulai menjauh dari pandanganku. Ia tersenyum sebelum akhirnya ia benar-benar hilang. Senyum itu. Senyum saat pertama kali aku bertemu dengan Jiyeon.

 

“Jiyeon-ah!” aku terbangun dengan napas yang tidak beraturan. Ternyata yang tadi hanya mimpi. Syukurlah.

 

Drrrtt, drrttt

 

Aku duduk di pinggiran kasur, lalu mengambil handphone-ku yang bergetar diatas meja nakas. Langsung saja kutekan tombol answer tanpa terlebih dahulu melihat nama si penelpon.

 

“Yeobose—“

 

“Suzy-ah!” suara seorang wanita. Suaranya terdengar panik. Aku mengkerutkan dahiku, lalu melihat nama penelponnya. ‘Myungsoo’s mom’.

 

“Ah bibi, ada apa?”

 

Terdengar suara isakan Ibu Myungsoo, sebelum ia melanjutkan kata-katanya, “Suzy-ah! Myungsoo! Dia kecelakaan! Katanya ia bersama teman perempuannya!” Astaga, Myungsoo dengan seorang perempuan? Apakah ia Jiyeon? Lalu mimpiku tadi maksudnya apa?

 

“Ap-apa?” tenggorokanku tercekat. Aku tak mampu lagi berkata. Dengan refleks, tangan kanan yang kugunakan untuk memegang handphone melonggar.

 

Prang!

 

Handphone-ku terjatuh ke lantai.

 

“Mm-yungsoo”

 

-tbc-

Akhirnyaaa~~~ aku bisa publish chapter 1😀😀

Kemarin-kemarin mau post gak sempet melulu :3 baru sempet sekarang deh heheeh :’D

Untuk chapter 2, karena belum selesai, aku publish setelah selesai ya :’3 heheheh

Jangan lupa untuk menginggalkan feedback berupa komentar atau like🙂

Don’t be silent reader yaa! Please leave comment! Aku juga butuh masukan dari kalian.:)

Xoxo ❤

Babyglam + Aqueera

51 responses to “Sorry If I’m Happy [Chapter 1]

  1. gk kuat baca’a sampai nangis itp bkn berarti cengeng ya hihihi, nyesek bngt jd suzy, Udh mendem perasaan’a selama ini, dpt kabar yg gk ngenakin, ya ampun kn ada istilah cewe sahabatan sama cwo itu gk mungkin, karena salah satu pasti ada yg punya perasaan lebih, jngn bilang ini pengalaman pribadi thor hihihi.. sukurin kualat kan th myungsoo sama jiyeon, karena tanpa mereka sadari mreka udh nyakitin hti orang lain, jd’a mreka kena karma!

  2. Mantap .. ceritanya panjang n jelas. Sedih n nyesek bgt posisinya Suzy. Tp bakal susah bg Myungsoo u mencintai Suzy setelah dia kehilangan Jiyeon. Tp semoga cibta Suzy terbalas😉

  3. Jiyeon koma berbulan2 apa jiyeon bakal meninggal trus c’suzy ngegantiin posisinya jiyeon d’hati myungsoo ?? Next chapter thor🙂

  4. Jiyeon koma berbulan2 apa jiyeon bakal meninggal n suzy ngegantiin posisinya jiyeon d’hatinya myungsoo ?? Next chapter thor🙂

  5. owh eonni suzy udah sua sama myung sejak dulu
    omo kenapa suzy mimpiin jiyeon dan menjadi lambang perpisahan.
    apakah jiyeon akan selamat atau tiad? ditunggu next chapter

  6. Kasian suzy udh suka myung dari lama. Di awal suzy minta maaf ke jiyeon apa mgkin jiyeon akan meninggal trus gantiin posisinya buat myung?

  7. Kasihan suzy pasti sakitt, myung sama jiyeon tega ih sering ngabaikn suzy
    tpi kasuhan juga yah mereka kecelakaan, lalu apa mereka luka parah?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s