[Vignette] End Notes

end-notes

May 2016©

Miss A Bae Suzy and EXO Oh Sehun with slight appearance from SUPER JUNIOR Choi Siwon | AU!Journalism, Drama, Romance, slice of Life, slight!Married-life, slight!Politics | Vignette | PG 15 | disclaimer: beside the story-line, I own nothing! |

.

… Kata-kata manis serta penghiburan lisan definit sekalipun takkan sanggup mengobati luka hati seorang gadis naif seperti Bae Suzy. …

.

.

.

.

Amplop kuning gading itu terbujur kaku di atas bidang datar berkaki empat dalam kamar. Pendar lampu meja bersesaran melalui serat-serat kayu berumur puluhan tahun; memuat uang pelicin utusan salah seorang staf bawahan Departemen Hukum dan HAM kepada Bae Suzy sore tadi. Siapapun yang melihatnya, apalagi sampai diberi sejumlah uang yang ditaksir ratusan ribu won, tentu tak punya kuasa untuk menolak. Akan tetapi ganjil dalam batin perempuan itu terus-menerus mendorongnya untuk tidak lantas mengantongi ‘uang bensin’ tersebut.

“Hei, sampai kapan mau menekuri amplop itu?” seru Oh Sehun sembari melocat ke atas kasur.

Gerakan pria berbadan jangkung itu memicu gempa kecil yang menyebabkan kepala sang perempuan terantuk kepala kasur. Cokelat dalam matanya pun menilik gemas sang pria yang berstatus sebagai suaminya. Sehun pun menera seutas senyum kecil dan mengecup singkat puncak kepala sang istri.

“Sehun-a, “ Suzy memanggil nama sang pria dengan getir.

Angkasa gelap pekat tak berbintang lantaran diguyur hujan lebat sepanjang sore membersil di cuatan tirai bernada cokelat merang. Cuaca menggigil seakan ikut menertawakan kepedihan dan rasa biru yang menjalar dalam hati perempuan si jurnalis program berita stasiun swasta di negeri ini.

Pasalnya, ini sudah jelas sebuah intervensi jajaran lembaga nasional. Mereka yang berkekuatan sedemikian kuatnya, bahkan sampai mengklaim sepadan dengan dewa, akan selalu memenangi petarungan dengan macam-macam siasat. Baik itu siasat yang bersih atau kotor sekali pun, bagi mereka tidak ada bedanya selain mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan angkuhnya mereka mengatasnamakan patron hukum namun kelakukan mereka di balik patron itu tidak jauh dengan binatang.

Kata-kata manis serta penghiburan lisan definit sekalipun takkan sanggup mengobati luka hati seorang gadis naif seperti Bae Suzy. Ratusan ribu won yang diamplopkan oleh pimpinan redaksi kepadanya tentu tidak akan pernah cukup membayar keringat dan usaha perempuan itu untuk menggali data di sana-sini. Melakukan investigasi secara mendalam di balik lembaga pemasyarakatan Busan yang mengancam keselamatan hidupnya. Pengujian narasumber, pembuktian keabsahan data statistik, semuanya dilakukan bersama tim dengan penuh kehati-hatian. Semua informasi awal yang ia terima pun tentu harus diverifikasi sehingga mencapai sebuah akurasi.

Ia bahkan melampaui jauh garis luar batas kemampuan dirinya hanya untuk menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang bersifat independen dan faktual. Namun itu semua malah berangsur menjadi tuba habis, ikan tak dapat. Kegiatan liputan penuh keringat dan darah itu justru tersia-siakan tanpa jejak.

“Semuanya akan baik-baik saja. Mereka memang tidak mampu melihat bagaimana usaha keras dan penderitaan kalian selama ini. Namun ingatlah selalu jika Tuhan tidak pernah tidur.”

“Dan Tuhan sepertinya sedang tidur sekarang.” sergah Suzy penuh sarkasme: menyiratkan sebongkah satir memilukan kepada langit. Olahan kata sang pria bahkan tidak sampai hati menjawab tanggapan Suzy. Menjerat pria Oh dalam kesenyapan antariksa.

Amarah dalam hati Bae Suzy tiada henti mengalami turbulensi. Mirip pesawat American Airlines yang dibajak oleh sekelompok oknum pengecut tidak bertanggung jawab pada kejadian silam. Sebagai seorang pendamping yang baik dan sesungguhnya Sehun masih dalam tahap menjalani dan selalu berusaha, mesti ia menghalau kerisauan menjamah terlalu intim perasaan wanitanya. Sesak rasanya melihat Bae Suzy Si Idealis Cantik berubah menjadi gadis pemurung seperti habis ditinggal pacar.

Sayang, kamu sangat kecewa ya?” tanya Sehun seraya meraih pinggang Suzy, melenyapkan batas di antara mereka. Seketika tatapan gemas Bae Suzy kembali menggerayangi Oh Sehun. “Ya, aku tahu ini pertanyaan paling bodoh yang pernah ada. Maaf,” aku Sehun dengan cepat.

Suzy tidak mempermasalahkan apa yang ada dalam kepala orang-orang di luar sana mengenai dirinya. Ruang dalam hatinya masih begitu lapang dalam menerima kritikan pedas dan ejekan mematikan para pemangku jabatan tertinggi stasiun televisi tempat ia bekerja. Namun penghianatan ini tentu saja seperti si pecundang merah yang melalap habis seluruh harta berharga yang ia miliki tanpa sisa.

“Oke, coba bayangkan. Kamu adalah dokter bedah paling hebat di tempatmu bekerja. Kepala departemen memilih kamu untuk mengikuti wawancara kenaikan pangkat, dia bilang dengan rasa percaya diri selangit: Lakukan yang terbaik, Dokter Oh. Aku jamin para panelis akan memilih proposalmu.” Suzy menarik napas dan mengeluarkannya dengan kasar. “Namun pada akhirnya, yang terpilih bukan kamu melainkan orang lain yang masih memiliki hubungan kerabat dengan ketua rumahsakit. Ia terpilih bukan karena proposalnya lebih keren daripada punyamu. Paham ‘kan?”

“Baik-baik, aku paham. Analogi yang bagus.” pungkas Sehun. Tanpa sadar masam mewarnai ranah wajahnya.

Bukan analogi sejujurnya. Potongan contoh di atas tentu saja berasal dari pahitnya prosesi wawancara ujian sialan yang telah ditempuh Sehun tanpa hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya. Sedikit menjeda kegundahan, sudut bibir Suzy menjungkit akibat ekspresi masam namun menggemaskan sang suami yang terpeta dengan terang.

Laju hembusan pendingin udara yang bercokol tepat di atas kepala mereka berdua menyeruduk bulu roma yang diselimuti pakaian tidur. Di antara hening yang menggeragas, Sehun segera membawa sang dewi ke dalam rengkuhan ternyaman yang ia miliki.

“Maaf ya, aku tidak bisa jadi teman yang baik untukmu. Aku hanya bisa cerita hal-hal pahit sama kamu.  Setiap pulang ngantor, aku malah bikin kamu semakin capek. Aku istri yang jahat, ya.”

Please, jangan bilang seperti itu.”

Dekapan semakin dieratkan Sehun kepada sang dewi. Puncak kepala Suzy pun dengan ikhlas dibanjiri kecupan ringan penuh damba. Berharap tiap sun menghadirkan gelombang pembangkit energi positif dalam diri sang istri.

“Kamu berada di pelukanku seperti sekarang itu sudah lebih dari cukup.” jelas Sehun dalam lantangnya suara. “Oh ya, Sayang. Tiba-tiba aku kepikiran ide bagus untuk kamu!”

Do not ever think about an absurd idea anymore, please.” Suzy menyela isu ide bagus dalam kepala sang suami.

Ia sesungguhnya tahu betul apa definisi ide bagus menurut Oh Sehun; sebagian tentu mengandung makna bukan sesungguhnya melainkan bencana. Menakar dari jarak bibir tipis pria berahang kukuh yang menukik manis, segera doa-doa terpuji penolak bala Suzy panjatkan ke atas langit. Hanya Tuhan yang tahu benar akan akhir yang direncanakan buah pikiran seorang dokter muda itu.

.

.

.

“Ya Tuhan, apa aku kurang bersedekah di jalanMu?!” Pemred Choi menengadah ke langit ruangan tak bersekat yang tengah dililit angkara murka. Tangannya dibuat mengayun seraya meminta belas kasih Langit kepadanya.

“Pemred Choi, atasan ingin bicara dengan Anda sekarang. Beliau ada di saluran tiga.”

“Aku tidak pernah melewatkan satu pun malam misa dan kebaktian setiap minggu, Ya Tuhan.” Pria berjanggut itu masih meracau kepada Tuhan. Ekspresi kacau balau yang tertuang dengan apik pada wajah tampannya benar-benar menggambarkan sesuatu yang menggemparkan sedahsyat impak bom Hiroshima dan Nagasaki.

“Halo, saya Pemred Choi—“ sapaan itu pun terputus oleh lengkingan tak beradab ketua kepada pria berkepala tiga itu. Satu tidak, sisanya jawaban iya disetel Pemred Choi secara otomatis meladeni intruksi singkat namun sarat makian untuknya.

“Tolong serahkan semuanya kepada saya, Pak. Bagaimanapun Bae Suzy tetap anak buah saya dan menjadi tanggung jawab saya.”

Tutt!

Sambungan telepon terputus tanpa jawaban berarti dari si atasan. Pemimpin redaksi kantor berita televisi swasta itu tersenyum teramat-sangat pahit. Kurang lebih menekan kuat-kuat erupsi dalam kepala yang sebentar lagi akan meletus dan memuntahkan lahar ke mana-mana.

“Kurang ajar! Bocah tengik!” umpat Pemred Choi dengan meledak-ledak. Urat-urat di atas dahi dan lehernya pun menunjukkan taring.  “Kalian jangan diam saja! Cari tahu di mana keberadaan Bae Suzy! Cari dia sampai ketemu meski harus ke Antartika!”

Para staf yang menyaksikan betapa depresi dan tertekan seorang Pemred Choi pun tak bisa berbuat banyak selain terus menghubungi kontak Suzy. Melacak alamat jaringan kode ponsel dan kodenya melalui alat pelacak dan menunggu hasilnya terpampang di monitor.

Pemred Choi mengambil satu tarikan napas dan menghembuskannya dengan cepat. Tersenyum kecil, ia berujar pada jemari yang mencerabuti kumis-kumis halus janggutnya.

“Persetan dengan Kode Etik Jurnalistik ketika indpendensi dibuat tak berkutik oleh uang.

.

.

.

Unggah liputan itu ke dalam portal online resmi kantor beritamu. Seperti bom waktu, aku yakin hal itu akan meledak! Tidak ada seorang pun yang akan bisa menghentikannya. Percayalah.”

.

.

.

SEOUL, 1 April 2016—Bagaikan petir di siang bolong, bisnis seks di balik jeruji penjara merajalela dan didukung oleh sistem tematik para sipir yang memegang teguh prinsip koperatif. Analogi sistem bagai sebuah roda yang tidak akan mampu berjalan sendiri. Intervensi yang membiaskan simbiosis mutualisme antar pihak terkait seolah di-marking ketat oleh oknum tak amanah Departemen Kementrian Hukum dan HAM negeri kita tercinta. Istilah Malam Minggu dihidupkan kembali suasana dalam lembaga pemasyrakatan para terpidana kaya raya. … (Bae Suzy, Victory News)

.

.

.

Tamat


Akhirnya sense nulis bisa tersalurkan kembali setelah sekian lama saya berkutat dengan tigapuluh dua tugas dalam seminggu: impak pembelajaran berbau modern yang membuat saya ‘mati suri’:/ well, tulisannya makin aneh pasti, yes. Makin ngablu. Yes. Dan soal roman receh antara Mbak Suzy dan Mas Sehun. yes. kesan jurnalistik menyinggung sisi hukum yg maksa: maafkan saya.

Kemudian untuk Love Nation (kalo ada yg tahu, haha) maafkan atas mute update-nya. Insya allah pekan ini akan up. Hehe.

 Anyway, senang sekali lah pokoknya bisa nulis kembali dan ketemu lagi dengan Temen-temen di sini. terakhir, thanks for reading dan semangat selalu! :)D *buat yang sedang ujian, SEMANGAT😀

5 responses to “[Vignette] End Notes

  1. Msih gagal paham..bahasanya tinggi bgt…
    Tp tetp tunggu karyamu selanjutnya thor..fighting.. 😉

  2. Btw welcome back xianara
    Seperti biasa kalau urusan bahasa Dan kata aku sekali percaya sama kamu
    Dan oke oh sehun benar benar suami yang baik 😂 dia memecahkan masalah dengan menambah masalah 😂

  3. masalah politik memang dimana mana ada.. sabar aja suzy bner kata mas sehun tuhan tidak pernah tidur.
    sehun suami yang sangat pengertian ya meskipun ga ngasih solusi yang tepat kk

  4. uwaaahhh sehun bikin jadi tambah rumit ya wkwkwk sarannya khas sehun tulisannya khas ka xianara keren deh hehehe
    siwon kasian juga ya heheh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s