I Need Your Soul, My Wife

651e4c04d7bc139e354961c09f543092

Title : I Need Your Soul, My Wife

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Minho, Bae Soo ji

Support Cast : Kim Soo Hyun

Genre : Marriage Life, Sad

Rating : G

Length : Oneshot

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

Soo Ji tidak bisa bertahan lebih dari ini, matanya memerah—begitupun rambut panjang acak-acakkannya yang makin tidak karuan.

 

Brak

 

Bunyi pintu kayu yang terbuka kencang—berbentur dengan entah benda apa dibelakangnya hingga terdengar barang pecah… Soo Ji tidak peduli, sama sekali, sedikitpun tidak peduli.  Rasa benci, terluka, tidak suka.. yang bahkan tidak diketahuinya kenapa, yang bahkan tidak dimengertinya kenapa, atau yang bahkan tidak ia mengerti namanya… menyeruak, mengiris-iris hatinya hingga berteriak kencang.

Sosok pria yang kini sudah terduduk dengan selimut yang berusaha digunakannya untuk menutup tubuh polosnya, mengusik hati Soo Ji.  Tidak tahu, kepala Soo Ji kosong namun tidak dengan hatinya.  Mengenal pria itu, mengakuinya sebagai miliknya, hati Soo Ji merongrong pada otak diatasnya agar segera tersadar, agar segera bangun dari tidurnya, dan agar segera kembali waras.

Soo Ji menatap nanar pria tanpa pakaian yang melekat pada tubuh polosnya itu kemudian.  Hanya peluh—yang tampak dalam pandangan mata Soo Ji, dan gadis cantik yang juga menatapnya terkejut membuatnya tidak suka, benci, dan jijik.

 

 

Soo Ji menyalak—bagai hewan buas… meraung, mengamuk, kehilangan pikirannya, dan bahkan kehilangan kendali atas dirinya sendiri…. melempar benda apapun yang bisa tangan kurusnya gapai pada Minho—suaminya, juga wanita yang saat ini segera memakai kembali pakaiannya dan pergi secepat yang kakinya bisa.

Minho tertunduk, diam—membiarkan Soo Ji melempar benda apapun padanya yang bahkan tidak berlindung sedikitpun, membiarkan kulit putihnya membiru atau bahkan berdarah seperti yang sudah terjadi pada lengan kanannya.  Pria itu menahan nafas sesak, menghapus setetes air mata sakitnya yang kemudian berakhir dengan tangannya terpukul sesuatu benda tajam—kembali, bagian tubuhnya terluka.

Soo Ji mengusap air mata pada wajahnya kasar, pandangannya seolah bernafsu pada tempatnya saat ini berada, membuka matanya selebar mungkin bagai orang berburu sesuatu hal.  Nafasnya memburu, persis seperti orang dipenuhi kemarahan dan memang begitulah yang terjadi, luka juga lebam yang ada pada tubuh Minho bahkan terasa tidak cukup, Soo Ji masih merasakan gemuruh pada dadanya yang belum juga ia ketahui kenapa, ia hanya merasa bahwa dengan melempari Minho, bahwa dengan melukai pria itu… maka semuanya akan terasa lebih nyaman.  Masih sibuk berjalan ke beberapa sudut dengan marah dan nafsu, mencari-cari benda tersisa yang bisa digunakannya untuk memukul Minho, tapi sayang…. semua isi kamar hotel itu sudah pecah karena ulahnya dan yang ia lakukan kemudian adalah mendatangi Minho, naik cepat ke atas ranjang yang pria itu tempati dan memukulnya—memukul kepala Minho dan bahkan menjambaknya hingga beberapa helai rambut pria itu terselip pada cincin pernikahan yang Soo Ji kenakan.  Minho meringis sekali, saat pukulan kencang Soo Ji mempertemukan kuku tajam istrinya itu dengan luka terbuka di kepalanya sebab lemparan benda pecah tadi.

Soo Ji masih berteriak, mengamuk—dan Minho, diam saja seperti ketika tadi Soo Ji melemparinya benda tajam, tidak ada sekalipun perlawanan yang dilakukannya meski ia tahu—sedikit dorongan dari kedua tangannya, tubuh kurus itu sudah akan terjerembab di lantai dingin kamar hotel.

 

 

“SOO JI-AH!  BAE SOO JI!  SOO JI-AH!  HENTIKAN!  HENTIKAN NAK!”  Tuan Bae, appa Soo Ji datang, tidak pada waktu yang tepat karena luka yang terlanjur ada pada tubuh Minho.  Namun berkatnya, cekikan kedua tangan Soo Ji pada leher Minho berhasil terlepas.  “Sudah.  Sudah hentikan!”  Tuan Bae membentak, memegangi kedua tangan putrinya sedih, Nyonya Bae yang hanya mampu melihat dari ujung pintu bahkan tidak mau mendekat… terlalu menyedihkan kiranya bagi ia—menangis, itulah yang Nyonya Bae lakukan sementara suaminya menenangkan putri mereka yang masih meraung tanpa satupun kata yang jelas.

Minho menangis, pria itu membuang wajahnya dari pemandangan Tuan Bae, dan Soo Ji dihadapannya.  Hatinya sakit, matanya memanas, tenggorokannya bahkan mulai tidak berfungsi dengan baik—kiranya cekikan Soo Ji tadi penyebabnya, namun tidak….  Minho menampiknya karena rasanya Soo Ji tidak mencekik dengan kencang.

“Minho!  Minho-ya, kau tidak apa-apa nak?  Astaga kenapa jadi begini?”  Giliran Nyonya Lee datang, masuk segera dan menghampiri putranya yang masih berusaha mengendalikan diri diatas ranjangnya.  Wanita tua itu menyentuh kulit terluka putranya gemetar, melirik Soo Ji kemudian yang langsung diam hanya karena kehadiran mertua wanitanya itu.

Kembali, meskipun nafasnya masih sememburu tadi… otaknya mengerut keras,  Soo Ji tampak memeras otak untuk mengingat-ingat siapakah wanita yang hampir mirip dengan pria muda disampingnya yang dirinya amuk tadi.

 

Plak!

 

“TIDAK CUKUP MEMBUNUH CUCUKU DAN KAU INGIN MEMBUNUH ANAKKU JUGA?!”

“Eomma!—Besan!”

“APA?!”  Nyonya Lee melihat bergantian Minho dan kedua besannya yang sudah melotot padanya.  Kiranya perlakuan dan ucapan tadi terlalu kasar bagi mereka, namun tidak untuk Nyonya Lee.  Tidak ada hal kasar baginya atas ucapan tadi, dan Soo Ji—wanita yang seolah  baru disadarkan sebab perkataan tadi sekaligus tamparan pada pipinya, tertunduk… diam seolah menyatukan beberapa bagian kosong yang hilang dalam pikirannya, mengembalikan beberapa kenyataan yang memerahkan matanya kembali.

“Abeonim bawa Soo Ji pergi.  Aku baik-baik saja.”

“TIDAK!”  Nyonya Lee menangkis tangan anaknya yang menyentuh pundak Tuan Bae, pria itu melihat terluka besan wanita didepannya ini namun bahkan tidak bisa melakukan apapun selain mengeratkan pegangannya pada Soo Ji yang mulai bergetar.  “Untuk apa membawa anakmu pergi?  Untuk menenangkan hatinya?  Untuk menenangkan mentalnya?  Huh?!  Berapa lama?  Berapa lama lagi?!  Ini sudah 2 tahun!  SUDAH DUA TAHUN DIA GILA SEPERTI INI!”

“Eomma!”  Minho kembali membentak, menarik eommanya yang sudah berdiri hingga kembali terduduk pada ranjang yang ditempatinya.  “Tolong.”  Minho mengemis, menangis didepan eommanya seraya mengeratkan pegangannya.  “Jangan bilang seperti itu.”

 

 

Soo Ji mendengus, ucapan Minho terasa bukan sesuatu hal penting, begitupun pegangan appanya yang terasa bagai hinaan entah mengapa.  Pandangan kosong wanita itu mulai terisi sedikit demi sedikit, bersama air mata yang kemudian menemaninya, begitupun dengan ingatan yang langsung mendatanginya… tanpa kesiapan, tanpa peringatan sebelumnya dan Soo Ji berteriak, memukul-mukul kepalanya untuk ingatan yang belum ingin ia ketahui, menarik-narik rambut kusutnya seolah dengan begitu hal dalam kepalanya akan ikut keluar yang sayangnya tidak.  Bayangan mayat kecil yang bersimbah darah dihadapannya, juga bayangan Minho ketika bersama wanita lain tadi.  Soo Ji menangis, kembali mencengkram Minho marah tanpa satupun kata yang terucap selain teriakan menyedihkan.

Nyonya Bae segera berlari mendekati putrinya, memeluk Soo Ji bersama Tuan Bae yang berusaha melepas pegangan erat anaknya pada Minho hingga menyebabkan pundak pria itu kembali tergores kuku tajamnya.

Nyonya Lee terdiam, dengan kening berkerut.  Melihat Soo Ji yang sudah tidak tampak seperti ketika Minho membawanya untuk pertama kali ke rumah dulu, melihat Soo Ji dengan kecantikan yang sudah menghilang dari wajahnya.  Wanita yang masih berstatus sebagai menantunya itu tidak lebih dari seorang wanita menyedihkan, kantung mata pada mata cekungnya yang menghitam, tubuh kurus seakan kekurangan gizi, rambut panjang dan kusut yang benar-benar menunjukkan ketidak terawatannya, dan lagi…. raungan bagai orang gila.

Namun dari semua itu, Nyonya Lee bertanya-tanya secinta itukah putranya pada Soo Ji hingga tetap bertahan?

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Soo Hyun meletakkan kertas berbungkus map bening pada meja kerja Minho, tepat saat rivalnya itu duduk bagai mayat hidup sepanjang hari ini.

Sudah 5 hari sejak kejadian Soo Ji menemukannya dalam kamar hotel bersama Se Na, wanita pilihan eommanya untuk meneruskan keturunan Lee sebab apa yang terjadi pada Soo Ji sejak 2 tahun lalu.  Sudah 5 hari pula luka ditubuhnya karena Soo Ji terlihat, membuat pria itu selalu ingat keadaan 5 hari lalu saat akhirnya ia mengiyakan permintaan eommanya dan kemudian Soo Ji menemukannya entah bagaimana.  Sudah 5 hari juga, dirinya tidak melihat wanita itu sebab Tuan Bae segera membawanya pergi dan eommanya, Nyonya Lee menahan tubuh anaknya untuk tidak pergi menyusul.

Teriakan dan tangisan tidak henti Soo Ji 5 hari lalu berputar-putar dalam kepala Minho, membuatnya menangis dalam diam dan mulai mengeluarkannya saat tidak ada seorangpun disisinya.  Sejak hari itu, dirinya tidak melihat Soo Ji lagi.  Tidak di apartment miliknya, tidak juga di kediaman Bae.

Tidak tahu, Minho tidak tahu dimana Soo Ji saat ini berada dan bahkan—saat dirinya menghubungi keluarga Bae, sama sekali tidak ada jawaban.  Kemudian saat ini, saat dirinya masih melawan diri agar berusaha tenang dan berpikiran positif bahwa Tuan Bae membawa Soo Ji untuk menenangkannya, surat perceraian yang sialnya dibawa oleh Kim Soo Hyun, saingannya untuk semua hal datang.

 

“Brengsek!”  Minho langsung memaki, menyobek cepat surat didepannya dan melempar ke arah Soo Hyun persis seperti ketika Soo Ji melemparinya benda-benda tajam beberapa hari lalu.  “Jangan bermimpi, kami tidak akan pernah berpisah.”

“Kau bisa katakan itu di pengadilan.  Perlukah aku ingatkan?  1 minggu lagi.”

“Tidak!”  Minho berdiri gusar, mendekati Soo Hyun cepat dan melotot pada pria tenang itu.  “Dimana Soo Ji?  Dimana istriku?!”

“Istri?”  Soo Hyun tersenyum tipis, membuang pandangannya remeh dan kembali menatap Minho—lebih tajam.  “Istri yang kau nikahi 5 tahun ini?  Atau istri yang kau tiduri 5 hari lalu?”

“DIAM!”

“Wowww…….”  Soo Hyun memundurkan langkahnya beberapa kali namun tidak dengan pandangannya.  Tatapan risihnya segera ia lempar dan membuat Minho makin tidak terima dengan itu.  Tidak ada seorangpun yang bisa menatapnya macam Soo Hyun menatapnya saat ini.  “Reaksimu yang terlalu berlebihan, atau memang kau yang kasar?  Tidak bisa dipercaya, kau bisa kasar juga ya?”  Soo Hyun mengejek, merapikan jas mahalnya kemudian.  “Aku lepas Soo Ji karena dia bilang bahagia saat bersamamu, dan harusnya kau ingat pembicaraan kita di hari pernikahan kalian.  Perlukah aku ingatkan?”  Soo Hyun kembali mendekati Minho, menarik kerah baju pria itu pelan namun sarat makna.  “Jika kau lukai Soo Ji, aku akan mengambilnya kembali tidak peduli apapun.”

“Pergilah!”  Minho menepis tangan Soo Hyun dari kerah bajunya, memandang pria yang kini tersenyum didepannya tajam.

“Aku tidak malu dengan keadaannya saat ini, aku akan mengajaknya jalan-jalan ke taman, mall, luar negeri, mengenalkannya pada dunia yang dia suka, membuatnya tampak seperti orang normal lainnya, mendapatkan hatinya kembali tentu saja.”

“Kau pikir aku malu karenanya?”

“Apa kau pernah mengajaknya keluar?  Apa kau pernah memeluknya saat dia menangis?”

“Kau tidak tahu apapun!”  Minho menyela, mendorong tubuh Soo Hyun segera dan keluar dari ruang kerjanya, mencari ke sudut manapun keberadaan mertua yang saat ini membawa Soo Ji, istrinya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Sekali saja, sekali saja eomonim. Jebal—aku mohon……

 

Rintihan mengiba Minho yang dilakukannya pada Nyonya Bae saat sengaja mendatangi pasar tradisional dimana mertuanya itu biasa berbelanja, menarik perhatian semua orang sebab sosok Minho—membawa pria itu pada akhirnya kehadapan Soo Ji, istrinya.

 

 

Rumah siapa ini, halaman rumah siapa ini, lingkungan siapa ini, bahkan dimana ini—Minho tidak tahu.  Baru sekali ini kakinya menginjak tanah lapang pinggiran kota yang menjadi tempat Soo Ji selama beberapa hari kemarin.  Penolakan Tuan Bae langsung datang begitu Minho sampai, namun bagaimanapun—pria itu tahu kejadiannya dan bahkan tidak bisa menyalahkan Minho atas kejadian 5 hari lalu.  Toh—selama 2 tahun ini, dengan sabar Minho menjaga Soo Ji, seorang diri… tanpa bantuan siapapun.. bahkan tanpa orang-orang tahu bagaimana cara Minho menangani Soo Ji sekaligus pekerjaannya.

Kejadian 2 tahun lalu, saat Soo Ji masih seperti wanita-wanita lain, saat Soo Ji masih seperti wanita berkarir cemerlang lainnya, dan saat Soo Ji masih seperti istri sekaligus eomma yang begitu mencintai keluarganya seperti wanita lain, merasuki pikiran Minho… juga Tuan Bae.

Sejak awal ketika Soo Ji berkata pada appanya bahwa ia ingin menjadi pengacara, pria yang kini uban di rambutnya sudah sangat bertambah banyak itu sudah menolak—sangat menolak keras keinginan putrinya.  Momok menakutkan macam bahwa seorang pengacara bisa saja masuk pada dunia rusak, menghantui pikiran tuanya.  Apalagi, jika benar Soo Ji menjadi seorang pengacara lurus—maka lawannya adalah orang-orang menakutkan yang menambah beban hatinya, takut-takut jika lawannya melakukan sesuatu hal buruk dan benarlah kemudian.  Ketakutan bertahun-tahun Tuan Bae akan nasib putrinya yang seorang pengacara dengan lawan orang-orang tidak benar, membawanya—membuatnya kehilangan cucunya… putri Soo Ji dan Minho.

 

 

“Soo—.”  Minho duduk beralaskan rumput hijau dengan pandangan lurusnya pada Soo Ji, yang duduk pada sebuah kursi kayu.

Minho menarik nafas panjang, pria itu tidak ingin menempatkan dirinya sejajar dengan istrinya, tidak pula ingin menempatkan dirinya diatas, hingga duduklah ia ditempat kaki Soo Ji berpijak.

Minho ingin dibawah, meminta dan mengemis maaf pada wanita yang disakitinya beberapa hari lalu dengan sengaja itu.  “Maafkan aku.”  Minho berucap, mendongak pada Soo Ji yang masih sekosong biasanya dengan pandangan lurus kedepan—entah melihat apa.

“Soo—.”  Pria itu memanggil untuk kesekian kalinya.. seperti biasa… seperti dulu.. seperti ketika ia menggoda istrinya.  Sayang, tidak ada respon apapun dan Minho letakkan kepalanya pada pangkuan Soo Ji pelan.  Bersiap untuk pukulan lain Soo Ji yang mungkin diterima sebab tidak suka disentuh, Minho memejamkan matanya.  Namun, pikiran buruknya itu tidak terjadi.  Soo Ji tidak memukulnya seperti yang dilakukan selama 2 tahun ini jika disentuh, juga tidak memukulnya untuk kejadian 5 hari lalu hingga akhirnya Minho bisa menidurkan kepalanya tenang pada pangkuan istrinya.

Minho tersenyum—miris.  Dirinya bisa menyentuh istrinya dengan tenang sekarang, namun entah kenapa….. rasanya tetap sakit dan tidak nyaman.  Ingatan 5 hari lalu segera datang, menjawab pertanyaan Minho tentang kenapa hatinya masih merasa sakit.  Teriakan Soo Ji 5 hari lalu, tangisannya 5 hari lalu, persis seperti ketika 2 tahun lalu wanita ini menangis dengan kematian putrinya.  Persis seperti kesedihaan dan teriakan yang kemudian menjadi satu-satunya suaranya selama 2 tahun ini.

Minho mengusap air matanya yang tiba-tiba turun, terasa berat dan tanpa pikir panjang—namun entah kenapa ia katakan juga pada akhirnya meski tahu jika menyebut nama putrinya—kemungkinan Soo Ji akan menangis histeris akan ada.  “Aku tidak apa kehilangan Min Ji, aku tidak apa kehilangan anak kita.. toh dia berada pada tempat yang indah saat ini, bersama Tuhan yang selalu memeluknya.  Aku juga tidak melihat atau berpikir bahwa Min Ji pergi ke tempat yang buruk sebabmu, aku juga tidak pernah menyalahkanmu untuk apa yang terjadi pada putri kita.  Kau melakukan hal benar, pembunuh itu memang sudah seharusnya berada dalam sel seumur hidupnya.  Jikapun Min Ji tiada karenanya, karena dia yang tidak terima sebab kemenanganmu atas kasus narkobanya, bukankah dengan meninggalnya Min Ji maka kita bisa ungkapkan kejahatan lain orang itu?  Bukankah itu artinya Min Ji bisa dikatakan pahlawan sebab kemudian… banyak korban pembunuhan lain yang terungkap?”  Ujar Minho, menarik kepalanya kemudian dari pangkuan Soo Ji sekedar melihat bagaimana reaksi istrinya yang ternyata, masih sekosong tadi dan tanpa satupun kata seperti dua tahun ini.

“Kembalilah Soo Ji-ah.”  Minho menidurkan kembali kepalanya dalam pangkuan istrinya, bersama air mata yang tidak ingin dihapusnya lagi.  Pria itu tidak ingin lagi bersikap baik-baik saja, pria itu juga tidak ingin tampak tegar.  Ia ingin mengeluarkan bebannya, sesuatu yang selama 2 tahun ini tidak ditampakkan sebab ingin menjaga hati Soo Ji.  Namun saat ini, setelah semua yang dilakukannya percuma, usaha menyembuhkan Soo Ji tidak ada gunanya, juga surat perceraian itu.  Minho tidak ingin membohongi dirinya sendiri lagi, dirinya tidak baik-baik saja dan tidak ingin Minho tunjukkan atau tampakkan bahwa ia baik-baik saja.  “Aku tidak mau bercerai, aku sangat mencintaimu.  Maafkan aku, aku bersalah padamu.  Aku kurang sabar padamu, aku kurang cukup meyakinkan eomma tentangmu.  Soo Ji-ah…. kumohon.”  Ungkap laki-laki itu lemas, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang kurus istrinya dan makin menangis berbantalkan paha Soo Ji, membuat basah paha istrinya yang mungkin…. nantinya Soo Ji bisa kembali mengamuk karena itu. namun Minho tidak peduli.  Pria itu  bahkan sudah tidak peduli akan dirinya sebagai pria yang memiliki harga diri tinggi dan tidak boleh menangis cengeng.  “Kembalilah Soo Ji-ah, aku merindukanmu.  Kembalilah seperti dulu, tolong aku…. aku tidak bisa hadapi ini sendirian.  Aku membutuhkanmu, cukup disisiku, cukup disampingku, kembalilah seperti 2 tahun ini yang selalu bersamaku setidaknya.  Tidak perlu tertawa ataupun memelukku seperti dulu, cukup kembali bersamaku.  Aku tidak sanggup jika harus bercerai denganmu, aku sudah kehilangan Min Ji dan aku tidak bisa jika harus kehilanganmu juga.  Aku mohon Bae Soo Ji, kembalilah….. aku sangat mencintaimu.”  Emis Minho, menangis sesenggukan mengeluarkan segala beban hatinya selama ini, menarik mata kosong yang selalu menyedihkan dan butuh dikasihani selama 2 tahun ini untuk menatapnya, melihat kepala yang berada dalam pangkuannya dan telinganya tidak tuli untuk semua hal yang diucap meski—responnya terlalu lambat.

Soo Ji mengedipkan matanya pelan, melihat Minho yang masih dalam posisi seperti tadi dan bibirnya tersenyum kemudian, tatapannya menghangat dan tampak tulus.  Soo Ji  menggerakkan kepalanya sesuai dengan keinginan matanya menelusuri sosok pria yang menangis dalam pangkuannya, menengok beberapa kali seakan mencari sesuatu dari tangisan Minho.

 

Seolah mulai mengerti dengan keadaan yang terjadi, seolah mulai paham meskipun hanya beberapa, Soo Ji ingat bahwa seseorang akan sangat senang ketika puncuk kepalanya dibelai.  Dan Soo Ji melakukannya, tangannya bergerak—tepat pada puncuk kepala pria itu…  Soo Ji membelainya, mengusap lembut, bahkan menyisir rambut pendek suaminya pelan.

38 responses to “I Need Your Soul, My Wife

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s