[Chapter Four] Love Nation

love-nation-promotional-poster

May 2016©

(***)= flashback

(****)= present

.

.

“Suez, aku tahu ini terdengar lancang. Tapi apa kamu menyadarinya?”

.

.

****

Langit kota yang murung tidak membuat duka para pengunjung Choco Bank. Kamis gerimis—kebanyakan orang-orang sini bilang—menyajikan suasana terbilang agak melankolis dan sentimentil. Menikmati secangkir hot milky hazelnut chocolate berkawan chocolate waffle mengungguli berbagai macam pilihan kegiatan menikmati hujan. Dijamin oleh suasana rumahan yang begitu hangat dengan interior yang memikat hati siapa saja. Tidak berlebihan sungguh aku mendeksripsi atmosfer yang kurasakan ketika menghirup wewangian khas roti yang baru keluar dari panggangan di dalam Choco Bank.

***

Hujan yang turun dengan deras tiba-tiba menggebar kaca jendela. Ruangan yang dibagi oleh sekat dinding batu bata berisi tiga manusia itu terusik oleh debak-debuk air hujan yang datang bergerombol. Tidak sabaran menumpahkan ratus debit air pada rerumputan beton di depan kafe. Jongin tidak menampakkan keterkejutan—bahkan sama sekali—melihatku bergentayangan di Choco Bank pagi-pagi buta. Begitupun dengan Suho yang segera berjalan keluar dari meja kasir. Kemudian berjalan dengan santai tanpa meninggalkan iPad yang sedari tadi diotak-atik.

Well, kamu sudah makan pagi?” pertanyaan singkat Jongin dalam bahasa Korea semi-formal menyambut. Dia lantas memainkan mug putih dengan lukisan bunga tulip biru muda dengan unsur kontranstif berupa beruang cokelat besar di badan mug. Mata hitamnya mengamati lekat.

“Aku terbiasa melewati waktu sarapan.” Aku tersenyum dengan sederhana kemudian segera menatap Suho yang terkesan menunggu perintah dari Jongin.

“Sayang sekali, Nona Bae.” Jongin mengambil teko kopi lantas menuangkannya ke dalam cangkir berukuran sedang. “Padahal sarapan pagi dapat membantu meningkatkan konsentrasi lho. Tetapi, aku harap kamu dapat menikmati secangkir kopi ini.”

Wangi kopi hitam menelusup indera penciumanku. Dia seperti menggodaku untuk segera menggasak kuping cangkir dan menghirup aromanya. Dari balik counter kaca dengan sentuhan mahoni dan cokelat tua, Jongin menyetel arah menuju kami.

“Secangkir kopi hitam kesukaanmu, silakan dinikmati. Dan ini gratis.” Tiga kata terakhir Jongin tekankan dengan garis canda yang tergambar jelas di wajah ovalnya.

“Oh, trims.” Aku menerima cangkir kopi pemberian Jongin dengan kikuk.

Jongin menunjukkan senyum sederhana yang hangatnya tidak berubah semenjak pertama kali bertemu. Dia menjengit singkat kepada Suho yang sedari tadi berkutik dengan iPad, benar-benar tidak memperdulikan kehadiranku kecuali perintah Jongin.

“Langsung saja, Suho akan mengajakmu berkeliling kafe sekalian menjelaskan job desk-mu selama magang. Anggap saja sebagai rumah sendiri, oke.”

“Baik, hm—“

“Dan jangan ragu untuk memanggilku Jongin saja tanpa embel-embel bos atau presdir.” tambah Jongin dengan ekspresi lucu. “Panggilan itu membuatku merasa jadi sangat tua.”

 Aku tersenyum lebar tanda setuju. “Baik, Jongin-a.”

“Nah, terdengar lebih baik.” Jongin mengecek arloji yang melingkar lengan kirinya, “Suho, kamu bisa mulai mengantar Nona Bae ini berkeliling.”

“Dengan senang hati, Jongin. Jadi, Suzy-ssi?”

Tersenyum singkat kepada Jongin, aku meninggalkannya dan mengikuti Suho dari belakang.

 “Suzy-a, terimakasih sudah mau datang ke mari. Terimakasih sudah mau bekerja di sini.” ucapan Jongin terdengar sehingga mengantarkan sebuah ransangan ke otak, menghasilkan aku menoleh ke belakang. Jongin berdiri dengan santai dengan sebelah lengan mendekap lengan yang lain. Masih dengan senyuman yang selalu hangat dan memikat layaknya terang yang memeluk gelap sehabis hujan turun.

Dan sejujurnya aku merasa agak janggal dengan sikap Jongin yang tidak terkejut sama sekali melihatku pagi ini. Seolah dia sudah mengira aku pasti menerima tawarannya. Ah, pria. Kupikir kalian juga sama rumitnya dengan kami—para wanita.

Suho memimpin tur berkeliling Choco Bank layaknya tour guide agen pariwisata bintang lima. Pembawaan yang tenang dan sederhana pemuda bernama lengkap Kim Suho sungguh menyimpang dari Jongin yang terkesan begitu santai dan frontal.

Bangunan dua lantai ini memiliki area outdoor di lantai dua. Karena hujan yang derasnya minta ampun, kami hanya melongok area luar yang dipenuhi tanaman hias gantung dari balik pintu kaca. Tangga yang membawa kami ke lantai dua, dilapisi dinding biru gelap yang dipenuhi oleh tumpukan topi wisuda berbagai warna.

Kafe ini mulai beroperasi dari pukul sembilan pagi sampai sepuluh malam setiap hari. Untuk jadwal magang, jam efektif bekerja minimal duapuluh jam dalam seminggu. Kamu bisa menyesuaikannya. Aku mengangguk singkat mendengar intruksi dari Suho dalam bahasa Korea formal. Kemudian kami kembali ke lantai dasar menuju lorong tak terlihat yang akan mengantar kami menuju basement. Di sini area khusus karyawan; ada ruang beribadah, loker karyawan dan sebuah taman mini.

Bayanganku salah menilai ruang bawah tanah yang dijadikan sebagai markas karyawan. Tidak ada kesan pengap ataupun menyeramkan. Ruangan berbentuk persegi yang cukup luas ini didominasi kaca warna biru dongker pada dinding. Pemandangan taman mungil yang diguyur oleh rintikan hujan kurasa mampu untuk menghilangkan penat siapa saja sehabis bekerja.

Selanjutnya, aku menyimpan tas dalam loker yang ditunjuk oleh Suho sesaat setelah ia memberikan kunci. Kamu lihat lorong yang ini ‘kan? Ini akan menuntunmu menuju gudang penyimpanan. Persis di sebelah loker, terdapat jalan menurun dihiasi beberapa anak tangga. Lampu bohlam berdiri di setiap pijakan, membuatnya lebih mirip seperti interior rumah seni minimalis dan bukan jalan yang menghubungkan dengan gudang penyimpanan perkakas.

Selain Jongin dan Suho, pegawai Choco Bank tidak banyak; satu chef pastry—hendak pensiun akhir bulan ini, sayangnya—dan dua orang pelayan. Jongin menyerahkan kepercayaan dalam urusan finansial dan manajerial kepada Suho. Sedangkan sebagai lulusan terbaik Chocolate Institute ‘Barry Callebout’ Wieze, Belgia, posisi Chocolatier tunggal diisi oleh Jongin. Pria itu sendiri membuat berbagai jenis kreasi cokelat yang dikomersilkan oleh Choco Bank, hingga mengembangkan sebuah resep.

Pekerjaanmu tidak berat dan banyak. Yang penting mampu menjalani mesin POS dan melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Itu saja. Sebuah apron berwarna cokelat yang biasa dipakai oleh karyawan Choco Bank diangsurkan oleh Suho kepadaku. Ini pertama kalinya aku melihat Suho mengangkat ujung bibir dan tersenyum simpul. Well, kuucapkan selamat bergabung dengan Choco Bank. Tunjukan usaha terbaikmu, Suzy-ssi. Tidak mengindahkan budaya Timur aku menunduk sopan dengan spontan kepada Suho. Mohon bantuan dan bimbingannya, Suho-ssi.

****

Sarung tangan putih tulang karet membungkus kedua tanganku. Etalase kaca yang dilengkapi mesin pendingin serta lampu minimalis menambah elegansi jejeran cokelat buatan rumah ala dapur Choco Bank.

Di baris pertama tersusun dengan cantik dan menggoda si chocolate truffle berbagai bentuk. Ada yang berbentuk kulit kerang, rumah Patrick dengan gradasi white chocolate, bentuk hati, dan bentuk-bentuk lucu lainnya. Praline chocolate khas kota Brussels yang diisi oleh berbagai rasa menempati rak kedua etalase. Cokelat paling terkenal di seantero Belgia ini lebih variatif bentuknya. Kelopak bunga mawar, kerang laut, dedaunan, bahkan karakter-karakter kartun populer.

Tidak salah kalau rahang para penikmat cokelat bisa jatuh ke lantai jika berkunjung ke Choco Bank. Berbagai aneka jenis makanan dan minuman olahan cokelat tersedia dengan lengkap. Dibarengi pula oleh rasa autentik yang tidak kenal kompromi. Rasa kagum kepada pendiri surga cokelat duniawi bernama Kim Jongin pun muncul ke permukaan. Seperti contoh nyata dari revolusi mental para generasi Y yang dapat melihat peluang dan memanfaatkannya dengan tepat. Di satu sisi, aku yang punya mental agar-agar, merasa runtuh jika dibandingkan oleh Kim Jongin yang mampu berdiri di atas kaki sendiri di usia yang cukup muda.

Sejak pukul sembilan pagi, aku sudah meringankan hasrat cokelat berbagai macam pelanggan yang datang. Dibantu oleh perempuan usia seperempat abad bernama El, pekerjaanku tidak terlalu berat. Wanita itu dengan sabar membimbing bagaimana caranya menggunakan mesin POS dan telaten menjelaskan seluruh menu makanan dan minuman yang tersedia di Choco Bank. Serta seorang pelayan bernama Rei—yang waktu itu mengantar pesanan Vero saat aku berkunjung pertama kali—yang benar-benar loyal kepada para pelanggan dan pandai mengurus sanitasi kafe.

Satu set praline chocolate telah kususun dengan apik. Siap dibebaskan oleh kartu debit si pelanggan muda yang matanya berbinar-binar menatap kotak cokelat dominasi warna emas dan merah hati. Dekorasi antik penunjuk waktu berupa jam pendule menabuh dua kali. Begitu gaungnya padam, belakangku diketuk oleh teguran halus.

“Sudah masuk waktu istirahat, lho.” tegur Jongin halus dalam bahasa Korea. Jongin muncul dengan apron hitam yang menutupi setelan necis berupa kemeja lengan panjang digulung sesiku berkolaret pendek berwarna krem.

Aku tersenyum kaku dan menunduk ke arah Jongin. Dia pun melatari aksi barusan dengan mengeluarkan tawa geli. Entahlah, apa aksiku barusan seperti aksi sulap badut ulang tahun gagal.

“Ayolah, kita sedang tidak di Korea. Jatuhkan formalitas bukan masalah. Lagipula aku bukan bos yang gila hormat.” Jongin mencibir kemudian melepas jubah masak berhiaskan noda tumpahan cokelat di mana-mana.

“Maaf?” ucapku sambil menaikkan alis mata. Sedikit terkejut dengan sikap Jongin yang benar-benar jauh dari kata bossy sebagai seorang pemimpin.

“El, kamu sudah ambil break ‘kan?” Jongin menanyai El tiba-tiba dalam bahasa Indonesia.  Oh, pengalihan topik yang bagus. Sesungguhnya aku juga tidak mengerti mengapa seorang Korea selatan tulen—sebagian mengidap gila hormat akut—seperti Jongin menjatuhkan formalitas dalam memimpin sebuah usaha. Apa ini seni yang menjadikan kafe penggila cokelat miliknya melejit bagai roket? Bersolah ramah tanpa pandang bulu kepada karyawan.

“Sudah, kok. Tapi pegawai magang baru kita belum sempat istirahat.” tukas El sambil melirik ke arahku. Aku mengangkat alis menatapnya. “Seems she was really excited during her first day.” lanjut El diimbuhi oleh senyum bermakna ganda.

****

Secangkir hot caramel chocolate menebarkan aroma khas cokelat; menepuk sayang bibir yang dilewati. Guyuran hujan di penghujung jam makan siang seperti sengaja tak menjeda. Menyisakan sederet harum tanah basah yang menyucuk penghidu. Titik-titik air berjatuhan dari udara dan menempel pada lapisan kaca.  Tanya masih memperjelas ranah wajah Kim Jongin yang sedari tadi tidak lepas mengamatiku.

Aku pun bersuara, “Jongin.”

“Hm,” tanggapnya tanpa melepaskan pandang. Bibirnya masih tersenyum delima.

“Apa kamu akan berhenti menatap seperti itu?”

“Oh, jangan pernah memulai pembicaraan dengan pertanyaan. Jawaban yang kamu inginkan pasti akan berlainan.” Daripada menjawab pertanyaanku, Jongin membeberkan pernyataan. Pria itu lantas meluruskan punggung, terang jelas hitam matanya menerai aku yang ada di hadapannya. “Aku tidak akan berhenti mentapmu seperti ini.” aku Jongin dengan santai.

“Baiklah, kalau begitu,” Mendesakkan punggung ke depan, aku mengurangi jarak dengan Jongin yang dibatasi meja persegi. ”Tolong berhenti menatap seperti itu. Ini perintah.”

Mulut pria itu membentuk abjad O. Aku yang lain dalam diriku melipat tangan menatap Jongin yang tersenyum abu. Kim Jongin, hati-hati dengannya. Kamu tidak tahu apa yang bisa ia lakukan padamu suatu saat nanti. Kamu sendiri yang bilang ‘kan kalau tidak ada seorang yang bisa dipercaya di dunia ini.

“Wah, ini menarik sekali.”

“Aku harap bagian anak buah yang memberikan perintah kepada bos yang menarik.” ucapku mengandung sarkasme. Bergaya bak anggota kerajaan Inggris sedang menggelar tea-time, aku mengangkat cangkir ke arahnya.

Deng! Salah.” Jongin kemudian mendekatkan wajah kepadaku. Gerakan ekspresif terukir pada wajahnya. “Kamu terlalu cantik, meski sarat sarkastik. Entahlah,”

Aku hampir menyemburkan cairan cokelat panas ke muka Jongin. Tiba-tiba bak pasien yang akan menghadapi operasi besar, aku diserang gejala narkosis. Cokelat mataku segera dikunci oleh hitam mata tak terbaca itu. Dia mungkin memakai narkotika, makanya sampai bisa berbicara hal utopis seperti itu kepadamu! Aku pun mencemooh dengan keras aku yang lain. Lantas mendesaknya agar segera menghilang, sekali saja tidak mencampuri urusan orang lain—catatannya, dia itu tetap saja bagian dari aku. Memang salah jika aku dibilang err cantik? Well, aku bukan perempuan yang haus pujian. Tetapi makna leksikal yang diantarkan aku ini berhasil mencabik-cabik harga diri si terpelajar ini. Apa hanya orang tidak waras dan berada dalam pengaruh narkotika yang menganggapku cantik?

“Mispersepsi. Ada salah penganggapan mengenai hakikat cantik menurutmu, Jongin.”

“Hakikat cantik?” Jongin menyisir sebelah wajahnya menggunakan jari. “Isi kepala setiap manusia berbeda-beda. Aku tidak yakin. Mungkin kamu bisa mengembangkan hakikat cantik dalam cabang ilmu filsafat ontologi nanti.” ujar Jongin dengan serius. Dia menggila; anggap aku tidak mendengar usulan Jongin barusan. “Hei, tidak usah menatap seperti itu. Ini perintah.”

“Oh, aku tidak tertarik dengan filsafat.”

“Lalu apa yang menarik di matamu?”

“Tidak ada.” Aku menghindari interogasi mata hitam Jongin. Seketika aku seperti berada di tengah wawancara pekerjaan.

Menganggukkan kepala, Jongin juga tersenyum agak bersalah. Mengusir suasana yang beralih menjadi canggung aku pun lekas bersuara. “Mengapa kamu sangat tertarik dengan cokelat?”

“Pengalihan yang bagus, Suez.” Sindir pria itu dengan halus.  Sejenak dibuat kagum aku oleh senyum merekah nan gemilang dalam hitam matanya.

Sedikit berkhayal bagaimana jadinya jika seberkas sedih menghantui Kim Jongin? Apa setitik kecil itu mampu melenyapkan ingin dan bahagia dari Jongin? Oh, aku ingin Kim Jongin agar selalu bahagia. Aku yang lain menilai jika ia lebih pantas menerima kebahagiaan yang tak terhingga—untuk kali ini, aku setuju dengannya. Dan aku harap semua lukisan kebahagiaan yang mengisi kanvas putih kehidupan Jongin bukan sekedar metafora.

Well, ceritanya panjang.” Jongin memutarkan ujung telunjuk pada bibir mug. Matanya sedikit menerawang menuju benua biru, dengan dimensi waktu sekitar dua tahun yang lalu. “Percaya atau tidak, dulunya aku adalah seorang anak nakal. Ah tunggu bagian yang itu dilewati saja.”

Bibirku gagal menyembunyikan senyum geli. Jongin terlihat berpikir sambil memangku dagu. Pria selucu dan sebaik Jongin dulunya adalah seorang urakan? Well, aku memang tidak dapat dipisahkan dengan bocah-bocah nakal.

“Dahulu aku sering menyusahkan kedua orangtua, mereka bahkan sudah menyerah menanganiku. Intinya saat itu cokelat telah menyelamatkan hidupku. Dan ya aku memang sangat suka cokelat. Maniak cokelat.”

Menerawang jauh ke masa lampau, Kim Jongin memasung kembali ceritanya dalam sebuah gerak ekspresif singkat. Terpeta dengan galak betapa keras kehidupan sebelum sekarang Kim Jongin melalui gulir netra hitam mengilap yang mengadopsi kapasitas alat tutur dalam berlisan. Seolah paham secara definit kepada tuturan tak beraksara Jongin aku melenggut pendek.

“Cerita yang ‘panjang’.” pungkasku.

Kemudian kami pun tertawa bersama. Pria itu menghentikan tawa dengan cepat. Lantas melanjuti menatapku dengan mata hitam penuh misteri. Tetap tidak mengurangi nilai dari ukiran karya seni di atas bibirnya, Jongin kembali mengurangi jarak di antara kami. Mengurungku dengan hitam mata tersenyum miliknya.

“Suez, aku tahu ini terdengar lancang. Tapi apa kamu menyadarinya?”

“Apa?”

“Jujur, kamu sangat cantik. Mau dilihat dari jauh atau dari jarak sedekat ini, kamu tetap cantik.”

Lihat ‘kan! Dia bahkan berani memuji secara terang-teranggan. Sikapnya ini patut dicurigai, Suzy! Kamu harus tetap sadar dan mawas diri. Di balik sikap yang tidak wajar ini, pasti Jongin menyembunyikan sesuatu.

Lagi-lagi aku setuju dengan aku yang lain. Orang yang berpenampilan memukau dan baik di luar, belum tentu dalamnya demikian. Aku juga bukan orang yang suka menilai seseorang dan terlalu rajin untuk mengurusi orang lain. Apalagi Kim Jongin belum terlalu lama berada dalam lingkaran orang-orang yang kukenal. Akan tetapi, di balik selaput misteri yang melapisi keceriaan Kim Jongin dan hal-hal menyenangkan tentangnya tidak dapat mengalahkan rasa tak terartikan yang kerap merajalela di dalam hatiku.

“Tapi cantikku yang sekarang bukan seberapa. Aku paling cantik ketika aku sedang belajar.”

Tanpa sadar aku ikut mengurangi jarak yang memisahkan. Lima detik terpanjang dalam hidupku diisi oleh pandangan tak terartikan kami berdua. Kemudian himpunan waktu tak seberapa banyak itu pun berakhir seirama dengan bangkitnya Jongin dari kursi. Senyum semanis gelatin masih menguatkan tahta di atas wajah pemuda Kim.

“Kapan-kapan ajak aku belajar bersama. Aku tidak sabar untuk yang satu itu.” oceh Jongin dengan santai.

“Sayangnya aku lebih suka belajar sendiri. Terlalu banyak orang tidak baik untuk kinerja otak titisan Einstein ini.”

Jongin menatap tidak percaya kemudian tertawa kentara dipaksakan. Dia pun menggeleng takjub. Aku sendiri juga takjub dengan keberanian melontarkan kalimat provokatif barusan kepada pribadi seorang Kim Jongin. Karena yang dapat kuterka, Jongin tidak akan pernah mau kalah; obsesif mendekati garis keras.

End of Chapter Four.

4 responses to “[Chapter Four] Love Nation

  1. Hahaha…akhirnya chap 4 nya di post eon…yeey suzy nerima tawaran jongin buat magang ditempatnya..well…penasaran apa jongin tertarik sm suzy…habisnya dy ngegombalin suzy mulu..kekeke
    Dan uri suzy…jjang…hahaha dy ternyata bs membalas ucapan jongin…ceritanya makin menarik eon…apalagi kyaknya suzy juga mulai tertarik sm jongin…ditunggu next nya…makin penasaran tentang jongin…???

  2. Tik tok nya mulai kerasa antara Jongin ma Suzy, dan duhhh emang klo real life aslinya klo kenal ma orang mah emang harus waspada pa lagi di jakarta yg kerazz ini bro, tapi ya Suzy bisa narsis juga pas ngomong klo dia bisa lebih cantik lagi pas belajar duh gemes banget lah

    Oh iya, klo emang kai pernah urakan pa jangan2 kenal ama seulgi, jeng jeng jeng jenggggg~~
    apa sebenernya mereka pernah ketemu pas di korea?
    sebenrnya kubelum menemukan konflik yg ketara tapi kutetap nikmatin ceritanya pa lagi pas deskripsiin segala macam dalemnya choco bank itu kyk apa, salut bgt dan terkagum kagum baca bgian itu,
    Semangat ya na buat next chapter 💪💪💪

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s