#1 All of Us (Sequel of I Need Your Soul, My Wife)

AOU1 copy

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Min Ho, Bae Soo Ji

Support Cast : Lee Soo hyuk

Genre : Marriage Life, Sad

Rating : G

Length : Sequel | Chapter 1

Disclaimer : All story is mine

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

Bulatan mata terkejut Min Ho langsung tampak ketika Soo Ji menyentuh puncuk kepalanya dan mulai mengusap pelan seolah ia memainkan perannya sebagai istri sesungguhnya ketika sang suami tengah dirundung masalah, seolah ia telah kembali waras dan begitulah yang kiranya Min Ho pikir hingga membuat kepalanya mendongak secara reflek, melihat keadaan istrinya yang tidak berubah ternyata—tetap sekosong biasa dan ini menyakiti hatinya, memupuskan harapan dan pikirkan sendiri yang bahkan belum ada hitungan menit.

 

 

Min Ho tersenyum kecut, ia letakkan lagi kepalanya dalam pangkuan Soo Ji mengingat bahwa ini adalah pertama kalinya bagi mereka melakukan kontak fisik tanpa paksaan dan teriakan dari Soo Ji hingga Min Ho tidak mau mengacaukan ini semua.  Menikmati momen langka selama 2 tahun ini, begitu yang hati Min Ho katakan.

Namun, entah kenapa pria itu kembali meneteskan air matanya dan bahkan memeluk Soo Ji makin erat hingga wajahnya serasa akan tenggelam dalam pangkuan istrinya.

Sempat Min Ho berpikir, apakah Soo Ji mengusap kepalanya sebab ia yang menangis ataukah karena permintaan maafnya dan Soo Ji memaafkannya dengan bentuk macam ini?  Jika memang istrinya ini memaafkannya, mengertikah ia dengan apa yang baru saja terjadi?  Mengertikah ia dengan keadaan 5 hari lalu?  Ingatkah Soo Ji tentang status mereka?  Ingatkah Soo Ji siapa dirinya mengingat bagaimana 2 tahun belakangan ini dilewati dengan pandangan asing Soo Ji dan dengan teriakan tidak jelas saat dirinya menyentuh kulitnya.

 

“Soo Ji-ah?  Kau ingat aku?”  Tanya Min Ho seketika sebab pemikiran tadi.  Pria itu pegang tangan istrinya yang masih mengusap kepalanya dan menggenggamnya kemudian, menatap istrinya lebih serius dan bahkan ikut duduk disamping Soo Ji……  mendapati keadaan tidak berbeda jauh saat tadi dirinya baru saja datang atau bahkan saat dirinya berpikir bahwa Soo Ji kembali normal.  Entah hal apa yang istrinya ini lihat, namun pandangan lurusnya meski kosong sama sekali tidak teralihkan.  “Soo Ji-ah?—.”  Minho mengeratkan genggaman tangannya penuh harap dan bahkan menyentuh pundak kurus istrinya hati-hati agar kembali meresponnya.  Entah nanti Soo Ji akan mengamuk atau bagaimana, Min Ho belum memikirkannya toh—ia sudah terlalu biasa mendapat teriakan dan pukulan tangan kurus itu hingga kemudian terasa bukan sesuatu hal menyakitkan.

Min Ho berharap dalam hati, sepanjang 2 tahun bahkan pria itu selalu berharap bahwa istrinya akan kembali, bahwa istrinya akan sembuh bersama ia yang selalu menemaninya.  Ingatan tentang bagaimana sulitnya Soo Ji dan histerisnya wanita itu dengan siapapun yang berada didekatnya ketika masa-masa awal itu, masa-masa kematian Min Ji yang disaksikannya langsung hingga membuatnya bagai orang lain.

Soo Ji seakan kehilangan pikiran juga ingatannya, bukan hanya dirinya yang dilupakan—orang tuanya sendiripun tidak Soo Ji ingat sejak kepergian Min Ji.  Miris, hari-hari panjang yang dilaluinya di rumah sakit dan keputusan orang tua Soo Ji untuk mengirim anaknya ke rumah sakit jiwa sebab tidak berhenti mengamuk dan berteriak—Min Ho kembali ingat itu semua.

 

 

“Ngh!”  Soo Ji bersuara.  Terdengar sinis dan tidak bersahabat.  Kepalanya yang menoleh pada Min Ho bahkan menampakkan wajah tidak suka, juga tangannya yang berada dalam genggaman pria itu dilepasnya cepat.  Keadaan beberapa menit lalu, ketenangan yang sempat tercipta langsung menghilang dan Min Ho menyesal telah menghancurkannya.  Harusnya ia diam saja tadi, membiarkan Soo Ji mengusap kepalanya dan bukannya mempertanyakan apakah istrinya ini sudah mengingat dirinya atau belum.

“Maaf.”  Min Ho mengulurkan tangannya dan tersenyum.  Melupakan pemikiran tadi sembari berpikir harus bagaimana ia agar Soo Ji kembali menunjukkan sisi lembutnya.

Sayang, tatapan Soo Ji yang tadi kosong dan ingin Min Ho isi memang terisi kemudian—dengan kebencian.

Masih mempertahankan senyumnya meski Soo Ji menatapnya benci, Min Ho bahkan masih tetap mengulurkan tangannya seolah ingin berjabat dan Soo Ji menepisnya.  Mendorong tubuh pria itu keras hingga hampir terjungkal, mengusirnya tanpa satupun kata dan Min Ho tidak bodoh untuk itu.  “Kau ingin aku pergi?”  Ujar pria itu berdiri dari duduknya.  Soo Ji yang sudah membuang muka sambil mendengus, tampak tidak peduli dengan ucapan suaminya.

Rambut panjang dan kusut Soo Ji menarik perhatian Min Ho.  Pria itu ingat betul bagaimana setelah berhasil mencegah keinginan orang tua Soo Ji yang hampir membawanya ke rumah sakit jiwa, Soo Ji dirinya rawat seorang diri sebab tidak ada yang tahan dengannya.  Kedua orang tua Soo Ji bahkan—Tuan dan Nyonya Bae mengaku pasrah pada Soo Ji, segala macam cara mereka lakukan untuk Soo Ji namun tidak menghasilkan sesuatu berarti.  Keluar masuk rumah sakit dengan perjuangan sebab Soo Ji yang selalu meronta jika disentuh, melelahkan hati siapapun akhirnya hingga keputusan manakutkan itu diambil sebab tidak ada perkembangan dalam diri istrinya.

“Soo Ji-ah.”  Min Ho kembali dudukkan dirinya pada rumput dibawah kaki Soo Ji, mensejajarkan tubuhnya tepat dihadapan wanita itu yang hanya meliriknya sesaat.  “Besok aku libur.  Kita bisa menghabiskan waktu seharian ini hingga besok.  Kau mau aku mencuci rambutmu?  Kemudian kita bisa bermain bersama.”  Ujar Min Ho mendongak, menarik pandangan wanita itu pada rambut sepingganya yang kusut seolah mengerti dengan ucapan barusan.  “Soo Ji-ah?”

“AHHH!”  Soo Ji berteriak saat tangan Min Ho menyentuhnya.  Kerutan pada keningnya muncul dan mendorong tubuh Min Ho sekali lagi hingga terduduk di rumput dan berlalu dari sana kemudian.  Meninggalkan Min Ho yang segera berdiri sembari berteriak.  “Tunggu aku ya, aku akan ambilkan shampoo untukmu dan setelah itu kita mandi bersama.”

Seolah berbicara dengan seorang normal, Min Ho tersenyum.  Langkah Soo Ji yang masuk kedalam rumahnya tanpa sekalipun niat untuk berhenti, entah bagaimana makin melebarkan tawanya.

 

Min Ho mendesah lega, usapan tangan Soo Ji tadi masih membekas dalam kepalanya hingga senyuman hanya karena ingat itu langsung tampak.

Dan—saat Min Ho hendak berbalik ke arah mobil, kembali ke apartment untuk mengambil beberapa kebutuhan Soo Ji sekaligus dirinya, sosok Tuan Bae yang menatapnya terlihat mendekat.  Min Ho kembali tersenyum melihat sosok mertuanya, hendak mendekat ia sebagaimana Tuan Bae yang menuju ke arahnya.  Sayang, langkah Min Ho segera terhenti begitu kata yang mertuanya sebutkan.  “Tuan Muda.”

 

Apa— Min Ho terdiam, langkahnya langsung terhenti dan menyisakan Tuan Bae seorang yang berjalan untuk mendekat diantara mereka.  “Tuan Muda Lee.”

Sekali lagi, sekali lagi Tuan Bae mengatakannya dan Min Ho mengerutkan kening bingung.  “Abeonim, apa yang abeonim katakan?  Bukankah sudah aku katakan untuk tidak lagi memanggilku begitu?  Aku menantumu, bukan Tuan Muda lagi harusnya abeonim memanggilku.”

“Tidak.”  Tuan Bae menggeleng sembari menunduk, menyentuh sebelah tangan Min Ho dan menggenggamnya kuat seraya membungkukkan badan.  “Saya mohon Tuan Muda, lepaskan putri saya.  Jangan temui Soo Ji lagi dan tandatangani surat perceraian itu.”

“Apa ini?”  Min Ho lepaskan segera genggaman tangan Tuan Bae, mundur pria itu beberapa langkah seolah menghindari sosok mertuanya.  Satu pikiran pasti langsung muncul dalam kepala Min Ho, membuatnya tersenyum nanar.  “Abeoji mengatakan sesuatu?”  Tebak Min Ho pada sesuatu hal sebagai satu-satunya yang bisa membuat mertuanya bersikap seperti saat ini, satu-satunya hal yang juga membuat eommanya memaksa untuk menikahi Naa He dengan ancaman nyawanya.

“Dari uang Tuan Besar saya menghidupi keluarga saya, dari uang itu pula saya membesarkan Soo Ji.  Saya mohon.”  Iba Tua Bae, tidak cukup dengan itu ia bahkan duduk bersimpuh dihadapan Min Ho, berharap bahwa pria berstatus menantunya ini akan melakukan apa yang dirinya minta.  Namun, Min Ho menolak.  Gelengan kepala pria itu jelas menggambarkan segalanya dan ia bahkan membatalkan niatnya untuk menuju mobil, berbelok arah pada rumah tempat istrinya saat ini berada dan entah mau atau tidak, meronta atau bahkan memukulinya seperti biasa—Min Ho akan membawa istrinya sebelum lebih jauh dari ini.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Gedoran kencang di malam hari mengusik ketenangan Soo Hyuk saat tengah membaca buku yang baru dibelinya siang tadi.  Pria itu menoleh ke arah pintu masuk rumahnya, berpikir sejenak tentang siapa yang mendatanginya selarut ini dengan begitu penasaran.  Melepas earphone dikedua telinganya, Soo Hyuk bangkit dari tidurnya seraya meletakkan buku mengenai mesin yang menjadikannya seorang pemilik beberapa bengkel di Seoul.

Soo Hyuk berdiri, berjalan perlahan ke arah pintu yang masih mengeluarkan suara berisik dan suara familiar yang cukup dikenalnya mengikis sedikit demi sedikit rasa penasarannya hingga bergegas ia mendekat dan membuka pintu kayu tersebut.  “Min Ho-ya?”

“Tolong aku.”  Sambut Min Ho segera setelah Soo Hyuk membuka pintu, menampakkan wajah lelahnya dengan keringat di pelipis—juga sosok Soo Ji yang entah kenapa ada dalam gendongannya dengan mata terpejam.

“Ada apa denganmu?  Soo Ji juga, ada dengan kalian?”

“Bisakah aku masuk dulu?”  Tanya Min Ho cepat dengan nafas tersengalnya.  Soo Hyuk masih mengedipkan matanya beberapa kali seolah tidak sadar dan akhirnya mengangguk hingga tanpa menunggu lagi Min Ho segera masuk dalam rumah sederhana itu, meletakkan tubuh istrinya pada Sofa yang tadi Soo Hyuk gunakan untuk merebahkan dirinya.

“Ada apa sebenarnya?”  Soo Hyuk kembali bertanya, menghampiri Min Ho terburu yang kembali melangkahkan kakinya menuju dapur rumah Soo Hyuk kemudian mengambil sebotol air dan meminumnya segera, melepas dahaga sebab apa yang terjadi sebelum ini.  “Min Ho-ya?”

“Abeoji.”

“Appamu?”  Ucap Soo Hyuk terburu sebab Min Ho menghentikan ucapannya karena mengatur nafas tersengalnya.  “Ada apa dengan appamu?  Kalian berhubungan lagi?”  Kerutan di kening Soo Hyuk serta rasa penasarannya langsung muncul, ia bahkan menarik tubuh membungkuk Min Ho supaya menghadapnya.  “Apa yang kali ini appamu lakukan?”

“Hyung meninggal.”

“Apa?!”  Pekik Soo Hyuk terkejut hingga mencondongkan tubuhnya pada Min Ho dan menatapnya dengan mata membulat sempurna, menambah kebingungan serta keterkejutannya dalam satu malam ini.  Dilihatnya Min Ho sekali lagi, pria yang sudah lama tidak ditemuinya sebab sibuk mengurus istrinya itu lebih kurus dan pucat dibanding biasanya.  “La—lalu?  Kau—bagaimana denganmu?”  Soo Hyuk berucap terbata, menarik satu kursi untuknya duduk dan Min Ho ikuti apa yang sahabatnya lakukan.  “Ceritakan padaku.”

“Eomoni tidak bisa mengelak bahwa aku adalah satu-satunya pewaris yang abeoji miliki.  Tapi bukan berarti bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu.”

“Maksudmu?”

“Dia memaksaku menikah dengan Naa He.”

“Naa He?  Im Naa He?  Keponakan eomma tirimu itu?  Kau akan menikah dengannya?”

“Aku sudah menikah dengannya.”

“APA?!”  Soo Hyuk berteriak hingga lehernya terasa akan putus.  Matanya yang makin membulat seakan siap untuk keluar dan Min Ho mendesah berat sembari memukul meja didepannya kesal.  Pria itu tertunduk, mengacak dan bahkan meremas rambutnya kuat seperti yang Soo Ji lakukan untuk menebus salahnya.

“Aku tidak punya pilihan.  Kau tahu bagaimana eomma ingin aku diakui oleh abeoji.  Kau tahu bagaimana eomma ingin namaku ada dalam surat keluarga Lee.  Eomma bahkan mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menikahi Naa He.”

“Kau gila?”  Desis Soo Hyuk melempar pandangan tajamnya pada Min Ho.  “Soo Ji sakit dan kau lakukan ini padanya?”

“Lalu aku harus bagaimana jika eomma hampir menusuk lehernya dengan pisau?”

“Apa yang eomma tirimu tawarkan selain namamu ada dalam kartu keluarga?”

“Eommaku boleh kembali tinggal di rumah abeoji.”

“Astaga!”  Soo Hyuk ganti memukul meja kayunya persis seperti yang tadi Min Ho lakukan.  “Aku tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran orang tua itu.  Soo Ji bahkan masih bernafas dan dia membutuhkanmu, bisa-bisanya mereka lakukan ini?”

“Eomoni ingin agar garis keturunanku ada dalam keluarganya.”

“Benar-benar wanita gila harta.” Soo Hyuk mengumpat, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Soo Ji yang masih terlelap diatas sofa miliknya.  Menatap wanita yang sekali ini diam dan tidak mengamuk seperti biasa.

Dengan pelan, Soo Hyuk dudukkan dirinya pada lantai berlapis karpet bulunya untuk lebih leluasa melihat Soo Ji yang bagai tinggal nama.  Semburat merah pada kedua pipinya menghilang, tidak segar seperti dulu dan bahkan tidak berisi seperti dulu.  Pipi yang selalu berbentuk bulat ketika tertawa itu bahkan hanya menampakkan tulangnya sebagai tonjolan.  Begitupun matanya, begitu cekung dan lingkaran hitam yang bagai mata panda.  Hal macam rambut kusut bagai nenek sihir juga tubuh kurus layaknya penderita anoreksia, tidak perlu dijelaskan karena sudah terlihat jelas.

“Ceritakan seluruhnya padaku jika ingin aku membantumu.”  Tutur Soo Hyuk pelan seolah mulai mampu mengendalikan emosinya, ditolehnya Min Ho sebentar sebelum kembali menatap Soo Ji.  “Bukan aku bermaksud ikut campur atau ingin tahu, tapi Soo Ji adalah teman adikku dan aku juga sudah menganggapnya sebagai adik keduaku.  Antara kalian berdua,  bahkan aku yang mengenalkan hingga mendorong kalian untuk bersama seperti sekarang.  Mungkin terdengar konyol, tapi aku merasa ikut bertanggung jawab untuk apa yang kemudian terjadi pada Soo Ji.”

Min Ho membuang nafas panjang.  Dirinya akui, meski sudah mengetahui Soo Ji sejak kecil sebab appa wanita itu—Tuan Bae yang bekerja pada keluarga abeojinya, tanpa dorongan Soo Hyuk juga Soo Yeon—adik Soo Hyuk yang juga sahabat Soo Ji, hubungan antara dirinya dan Soo Ji tidak akan pernah terjadi.

Min Ho bangkit dari kursi yang dudukinya, nafas serta pikirannya sudah kembali tenang dan ia ikut duduk di lantai sebagaimana Soo Hyuk hingga saling berhadapan.  “Hyung meninggal dalam kecelakaan pesawat 3 bulan lalu.  Kematiannya sengaja ditutupi oleh abeoji dan keluarga yang lain demi kepentingan perusahaan.”

“Keluarga appa-mu benar-benar tidak waras.”  Sungut Soo Hyuk sembari menggeleng.  “Lalu apa yang mereka katakan selama ini?”

“Mereka berkata bahwa hyung sedang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatannya.”

“Lalu?”

“Waktu panjang itu abeoji gunakan untuk membujuk eomoni agar mau menerimaku dan eommaku.”

“Dan dia setuju asal kau menikahi Naa He?  Meneruskan keturunan Lee lewat keponakan dari pihak eomma tirimu?”

“Ya.”  Angguk Min Ho lemas.  Pandangannya kembali tertoleh pada Soo Ji yang masih tertidur setelah seharian tadi menghabiskan tenaganya untuk berteriak dan meronta dari pelukannya.  Jemari kurus Soo Ji menjadi perhatian Min Ho, memainkannya seolah dengan begitu tenaganya terisi dan cincin pernikahan yang tampak longgar namun masih ada disana, Min Ho tarik untuk kemudian ia lilitkan sebuah benang dari atas meja Soo Hyuk dan memakaikannya lagi pada Soo Ji.  Tampak lebih sempurna dan tidak mungkin jatuh kali ini.  “5 hari lalu aku menikah dengan Naa He setelah eomma mengancam bunuh diri.  Soo Ji tiba-tiba saja datang, aku tidak tahu darimana dia tahu aku ada disana tapi 5 hari lalu dia sangat marah, melempariku dengan apapun, memukulku dengan sangat keras hingga rasanya masih berbekas sampai sekarang.  Mungkin dia mengerti, mungkin dia tahu, atau mungkin dia ingat siapa aku, bahwa aku adalah prianya, bahwa aku adalah miliknya, bahwa aku tidak boleh menyentuh wanita selain dirinya.”

“Masih tidak ada perkembangan?”

“Tidak ada.”  Min Ho menggeleng pelan, nafas kasarnya kembali terbuang dan ia sandarkan tubuhnya pada sofa yang menjadi tempat Soo Ji berbaring.  Mata pria itu tampak kosong seperti milik istrinya, menatap langit-langit ruang utama Soo Hyuk, Min Ho menarik dan membuang nafas kasar beberapa kali seolah keharusan.  “Dia tidak mau aku bawa ke dokter, aku paksapun dia akan menangis dan berteriak.  Bahkan saat sudah sampai di rumah sakit, Soo Ji tidak berhenti melempari siapapun dengan apapun.  Saat dokter datang ke rumah, Soo Ji bahkan makin menjadi dengan hampir melompat lewat balkon.  Sejak saat itu aku tidak pernah membuatnya berhubungan dengan dokter manapun.”

“Tapi dia harus di obati.”

“Aku tahu.”  Min Ho berucap lemas, tampak gamang dan Soo Hyuk ikut menyandarkan tubuhnya seperti yang Min Ho lakukan.  “Dokter bilang bahwa Soo Ji butuh banyak perhatian, bahwa dia butuh banyak interaksi.  Tapi aku tidak bisa melakukannya.  Setiap hari aku sibuk bekerja, malam saat aku datang dia sudah tertidur—entah di lantai, sofa, meja, kamar mandi bahkan…. hanya beberapa kali dia tidur di atas ranjang sebagaimana seharusnya.  Pagi saat aku bangun, kadang dia masih tidur dan kadang juga sudah bangun tapi mengotori seluruh rumah.  Saat jam istirahat siang aku pulang, memandikannya kadang-kadang saat aku bisa lakukan itu dan dia bisa aku kendalikan.  Saat aku tidak mampu, yang penting dia sudah makan.”

“Kau tidak menyewa seorang penjaga?  Suster?”

“Sudah.”  Min Ho menjawab pelan.  “Tapi tidak ada gunanya, mereka bahkan tidak bertahan lebih dari tiga hari.  Kau juga pernah mengunjunginya kan?  Masih ingat bagaimana ia yang benci dengan keberadaan seseorang di sekelilingnya?”

“Ya, aku ingat.”  Soo Hyuk mengangguk pelan dengan kedua alis menyatu.  “Jadi selama 2 tahun ini?”

“Selama 2 tahun ini aku yang merawatnya sambil bekerja, dia bahkan juga mengamuk jika orang tuanya datang.  Mereka tidak tahan padanya.”

“Kau tahan?”

“Dia istriku walau bagaimanapun.  Dia wanita yang mengisi hatiku, membahagiakanku, merawatku, melayaniku, melengkapiku dengan tawanya, dengan bagian dari dirinya—Min Ji….”  Min Ho menghentikan ucapannya seketika, lehernya tercekat saat mengingat putri kecilnya yang bersimbah darah di atas ranjang rumah sakit dan Soo Ji yang begitu histeris ketika melihat itu semua hingga pingsan beberapa kali.  Soo Hyuk ikut terhenyak bersama Min Ho, menolehkan kepalanya pelan pada pria yang masih diam dengan segala lukanya.

“Lalu bagaimana setelah ini?”  Soo Hyuk bertanya sembari mengalihkan perhatian sahabatnya, menolehkan kepala Min Ho hingga mereka saling berpandangan.  “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?  dan bagaimana kau kemari tanpa mobil?  Berlari?”

“Abeoji mendatangi abeonim.  Aku tidak tahu apa yang abeoji katakan, tapi itu cukup mampu membuat orang tua Soo Ji menginginkan perceraian di antara kami.”

“Lalu?”

“Aku membawa Soo Ji paksa dari rumah persembunyiannya.  Dia menangis dan memukulku sepanjang hari tadi hingga akhirnya tidur karena kelelahan.  Saat aku akan kembali ke apartment, aku melihat orang-orang abeoji ada disana, jadi aku memutar arah dan menuju rumah Kim Joon.  Tapi ternyata dia ada di kantor polisi karena masalah kemarin yang belum selesai.  Saat akan kemari mobilku mogok, ponselku mati, jadi yasudah…. aku gendong Soo Ji sampai kemari.”

“Kenapa kau tidak naik taxi?”

“Tanggung, tinggal sedikit saja untuk sampai kemari.”

“Hahhh…..”  Soo Hyuk menghembuskan nafas panjang.  Ia terdiam, begitupun Min Ho yang tidak memiliki bahan pembicaraan.  Untuk sesaat, suasana rumah itu sangat sepi tanpa satupun bunyi yang bisa didengar.

Min Ho memijit punggung tangannya, Soo Ji sempat memukulnya menggunakan batu tadi… dan lecetnya masih tampak hingga sekarang.  Rasanya sakit, namun tidak sesakit itu setelah melihat tidur istrinya yang tenang.  “Aku akan keluar dari pekerjaanku.”

“Hm?  Kenapa?”  Soo Hyuk kembali menoleh, melihat Min Ho yang justru tertunduk sambil tersenyum.

“Aku akan fokus untuk Soo Ji.  2 tahun ini tidak menghasilkan apapun sebab aku membiarkannya sendiri dan tanpa satupun interaksi yang bagus, hanya berbatas memaksanya makan dan mandi.  Selain itu tidak ada, sama sekali tidak ada pembicaraan antara kami karena saat pergi dan pulang kerja, tidak ada yang bisa aku lakukan dengannya.”  Min Ho tersenyum, kejadian tadi saat Soo Ji mengusap kepalanya kembali datang.  “Soo Ji mengusap kepalaku tadi, saat aku banyak bicara.  Aku harus banyak melakukan itu untuk membuatnya sadar sedikit demi sedikit seperti tadi.”

“Dia mengusap kepalamu?”

“Ya, dengan lembut.”  Ungkap Min Ho tanpa menyembunyikan satupun bahagianya.

“Eommamu? Abeojimu? Dan eomma tirimu?  Ah… Naa He juga.  Bagaimana dengan mereka semua?”

“Aku tidak punya jawaban selain lari.”  Min Ho mendesah dengan satu-satunya hal yang mampu dipikirkannya untuk saat ini tentang semua itu.  “Jika aku tidak lari, mereka akan terus menekanku untuk menghamili Naa He.”

“Eommamu?”

“Sumpah demi apapun aku tidak butuh pengakuan abeoji ataupun uang itu.  Aku nyaman dengan hidup macam ini dan aku bahkan sudah biasa jika dipanggil anak gundik, aku tidak terlalu mempermasalahkannya.”

“Tapi itu masalah untuk seorang eomma, Min Ho-ya.  Tidak ada seorangpun yang mau anaknya dipanggil dengan sebutan buruk.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Tidak bisakah kau berbicara dengan appamu?”

“Bicara bagaimana?  Aku sudah terlanjur menikahi Naa He.”  Jelas Min Ho kemudian merutuk dalam hati, menjedukkan kepalanya pada meja didepannya saking pusingnya ia dengan semua ini.  Tidak ada hari seburuk hari ini dan dirinya serasa ingin berteriak.  Dirinya ingin hiburan dari Soo Ji yang bahkan berbicara saja tidak bisa, dirinya butuh pegangan namun pegangannya justru butuh dipegangi.  “Aku hanya butuh Soo Ji untuk menghiburku dan memberikan ide-ide gila tapi memuaskannya seperti dulu.  Aku membutuhkan Soo Ji, aku membutuhkan istriku Soo Hyuk-ah.”

Soo Hyuk menepuk-nepuk pundak Min Ho, melakukannya seolah hal tersebut mampu menguatkan pria itu yang sebenarnya tidaklah terlalu berpengaruh.  Ikut prihatin ia dengan apa yang Min Ho alami.  Tidak dulu tidak sekarang, tidak saat didalam rumah mewah itu dan diluar rumah mewah itu, tidak saat hyungnya masih hidup maupun hyungnya sudah tiada, semua hal tetap menyulitkan dan menghancurkannya.  Terlebih saat ini Soo Ji tidak bisa menghiburnya seperti biasa.  “Kau bawalah Soo Ji ke kamarku.  Kalian berdua tidur disana dan aku akan tidur disini.  Tidurlah dan jernihkan pikiranmu.  Sana.”  Soo Hyuk menepuk pundak Min Ho lebih keras saat di akhir kalimatnya, menolehkan kepala Min Ho yang keningnya memerah sebab dijedukkannya pada meja Soo Hyuk.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Tidak ada satu halpun yang dapat menggambarkan kekecewaan Min Ho atas kejadian beberapa hari ini, pria tinggi itu melangkah kembali pada rumah sederhana yang sejak kecil dihuninya bersama Nyonya Lee—nama panggilan yang sebenarnya tidak begitu ia sukai tersemat dalam nama eomma juga dirinya.

Pagar bambu yang mengelilingi rumahnya Min Ho buka perlahan, tahu betul ia bahwa pagar itu butuh diganti dengan yang lebih kuat—besi misalnya?  Sayang, eommanya tidak mau.  Padahal, andai wanita yang telah melahirkannya itu mau… maka semua hal tidak akan sesulit sekarang.

Min Ho melangkah perlahan menuju rumah tradisional yang telah ada bahkan sejak dirinya lahir, kakek dan neneknya bahkan berkata bahwa rumah ini sudah ada sejak leluhur mereka… tampak seperti rumah warisan dari generasi ke generasi.  Taman bunga yang mengawali pemandangan akan rumah keluarga eommanya ini Min Ho perhatikan, embun pagi yang masih ada disana menarik senyumnya sebentar.

 

 

 

Knock—knock—knock

 

 

 

“Eomma… ini aku.”  Minho bersuara, tidak ada bel pada rumah itu dan selalu terdengar bunyi ketukan seperti saat ini andai ada tamu, atau orang dari luar yang hendak bertamu.  “Eomma di dalam? Sudah bangun? Bisakah aku masuk?  Ada yang harus aku katakan.  Eomma…….”

 

 

Knock—knock—knock

 

“Eommaaa…….”  Minho mengeraskan suaranya sembari mengetuk pintu kayu yang sebenarnya tanpa perlu eommanya bukakan kucinya dari dalam, bisa saja ia mendorongnya saking lapuknya.  Tapi Minho tentu tidak melakukannya, pikirannya masih waras untuk tidak melakukan itu semua.

 

 

Perlahan, pintu kayu tua setinggi badan Minho itu mengeluarkan bunyi berdecit…. bergerak menyamping, dan menampakkan sosok Nyonya Lee yang berbeda tampilannya dengan beberapa hari lalu.  Mengenakan hanbok, rambut disanggul rapi, dan tanpa sapuan make up.  Cantik, berkelas, sekaligus berbeda.

Minho tersenyum, membalas pandangan eommanya yang teduh dan tidak seperti beberapa hari lalu.  “Eomma…”  Sebutnya pelan, memalingkan wajah Nonya Lee ke arah samping seolah enggan berpandangan dengan putranya sendiri dan kemudian masuk kembali kedalam rumahnya tanpa mempersilahkan Minho.  Toh—untuk apa?  Rumah ini juga rumah anaknya, mungkin begitu pikir Nyonya Lee.  Tapi bagi Minho?  Tidak.. tidak begitu.

Ada kecewa dari wajah Min Ho saat eommanya tidak menggubris dan bahkan tidak mempersilahkannya masuk.  “Eomma…”

 

 

“Kau ingin minum sesuatu?”  Nyonya Lee memotong panggilan anaknya, menoleh sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur sederhana rumah itu.

Min Ho sekali lagi menekan hatinya, ia lupakan hal sepele tadi dan masuk menyusul eommanya.  “Ya.”  Pria itu menjawab pertanyaan eommanya sebelum ini dan kemudian duduk pada kursi rotan di ruang tamu, menunggu eommanya kembali dari dapur yang membuatkannya minum.  “Sudah lama aku tidak kemari.”

“Ya.”  Nyonya Lee menjawab cepat dan menoleh pada putranya yang sedang memperhatikan rumah sempit tempatnya tinggal, sembari mengaduk teh yang dipersiapkannya untuk Min Ho—Nyonya Lee kembali mengatakan sesuatu, yang tidak Min Ho suka.  “Kau tidak pernah kemari setelah menghabiskan seluruh waktumu untuk istrimu.”

“Eomma.”  Min Ho langsung berdiri, melihat eommanya lelah dan menggeleng.  “Dia istriku, aku harus bersamanya.”

“Naa He.”

“Bagaimana bisa eomma seperti ini?”  Tanya Min Ho suram, duduk kembali pada kursi rotan yang tidak sehangat dulu.  “Aku tidak ingin menjadi appa yang kedua.”  Sontak, adukan tangan Nyonya Lee terhenti… menatap putranya tidak percaya sebab ucapan barusan.

“Apa kau bilang?”

“Duduklah dulu.”  Min Ho menyusul eommanya, menarik wanita tua itu dengan sebelah tangannya memegang secangkir teh.  “Ada yang ingin aku sampaikan pada eomma.”

“Tentang Soo Ji?”

“Aku tidak mau memiliki bahan pembicaraan lain selain istriku.”

“Lee Min Ho!”

“Eomma!”  Minho menekan, menatap eommanya sedih.  “Kumohon…”  Pintanya bagai merintih.

Nyonya Lee mengangguk pasrah, Minho satu-satunya putranya—dan ia tidak bisa menolaknya dengan pandangan seperti tadi.  “Katakanlah.”

“Aku resign dari pekerjaanku.”

“Kau pindah ke perusahaan appamu?”  Tanya Nyonya Lee cepat.  Mulai menunjukkan semangatnya, menatap Min Ho berbinar dan bahkan tertawa sebab itu.

“Tidak.”  Min Ho menggeleng kemudian mengeluarkan sebuah buku tabungan dari dalam saku jaketnya.  “Aku keluar untuk merawat Soo Ji.”

“Min Ho-ya!”

“Ini adalah tabunganku untuk eomma.  Jangan terima uang dari abeoji lagi.”

“Kau ingin melihat eomma mati?”

“Eomma yang akan melihat mayatku jika semua ini diteruskan.”  Balas Min Ho menatap balik eommanya, tanpa ekspresi maupun emosi.  Min Ho hanya ingin menunjukkan keseriusan, keseriusan dari ucapan barusan dan pria itu ingin agar eommanya mengerti dengan apa yang benar-benar ia inginkan. “Aku tidak butuh pengakuan dari abeoji.  Aku juga tidak butuh uang dari abeoji.  Aku tidak butuh harta itu ataupun semua yang abeoji tawarkan.  Aku hanya ingin keluargaku, eomma dan Soo Ji.”

“Tapi—.”

“Eomma…”  Min Ho menyela, memotong kalimat belum selesai eommanya.  “Untuk apa kita disana tapi dihina?  Untuk apa aku diakui tapi tidak dianggap?  Aku menikahi Naa He dan kemudian memberikan keluarga itu keturunan, untuk siapa itu semua eomma?  Aku?  Tidak.”  Min Ho menggelengkan kepalanya pelan seraya menatap eommanya sendu.  “Bahkan hingga saat ini kita tetap dipandang rendah.  Apa eomma tetap tidak melihat semua itu?”

“Tapi setidaknya—.”

“Aku akan pergi.”  Min Ho menyudahi percakapan sepihak.  Pria itu segera berdiri tanpa keinginan untuk menunggu selesainya kalimat dari eommanya.  Baginya sudah cukup dan dirinya sudah mengerti, eommanya tetap pada keputusan awal bahwa apa yang dilakukan hingga sejauh ini adalah benar, bahwa menuruti keinginan gila istri pertama abeojinya adalah benar.

“Eomma hanya ingin kau tidak dipandang rendah.”

“Aku menjual diriku, apa yang tidak lebih rendah dibanding itu?”

“Tapi bagaimana kau menangani semua ini?  Jika Soo Ji masih seperti dulu, atau setidaknya ada peningkatan dari keadaannya, eomma akan mengerti dan tidak akan melakukan ini.  Tapi coba lihat, istrimu bahkan tidak maju satu langkahpun.  Kau hidup untuk merawatnya seumur hidup? Dengan keadaan menyedihkan dan bahkan sekarang kau keluar dari pekerjaanmu?  Akan makan apa kalian?  Sudahlah…..”  Nyonya Lee ikut berdiri merangkul lengan Min Ho.  “Lakukan saja ini.  Toh Soo Ji tidak akan mengerti.”

“Hatinya mengerti eomma.”  Ucap Min Ho melepas rangkulan tangan eommanya, kembali beradu pandang dengan wanita itu.  “Eomma tidak ingat beberapa hari lalu saat dia melihatku bersama Naa He?  Bibirnya tidak mengatakan apapun tapi sikapnya mengatakan segalanya.  Dia mengerti, hatinya mengerti.”

Nyonya Lee memejamkan matanya pasrah bersama bulir air mata yang langsung turun, tangannya terlepas segera dari genggaman Min Ho dan ia terduduk kembali bersama mata terpejamnya, menangis… menangis untuk beberapa hal yang hanya ada dalam hatinya dan tidak bisa dikeluarkan.  Sebagai seorang eomma, sebagai istri kedua, sebagai istri tidak sah…. dirinya ingin agar putranya ini mendapat pengakuan dari keluarga appanya, dirinya ini ingin agar putranya ini berada pada posisi seharusnya ia berada.  Dirinya ingin agar Min Ho mendapat semua yang mendiang kakak tirinya dapatkan.  “Andai Soo Ji tidak pernah ada, apakah kau juga akan memilih jalan ini?”  Tanya Nyonya Lee belum menyerah, mendongak pada Min Ho yang terdiam dengan pertanyaan tanpa kesiapan dirinya menjawab.  Jika Soo Ji tidak ada?  Akankah dirinya tetap berada pada keadaan ini?

 

Jika Soo Ji tidak ada dan kau memilih jawaban berbeda, maka sudah seharusnya Soo Ji menghilang.

33 responses to “#1 All of Us (Sequel of I Need Your Soul, My Wife)

  1. Minho jangan mau ikutan idenya keluargamu lagi mereka kejam dan egois lebih baik fokus aja sma suzy .. semoga kalian hidup bahagia, ini ff feelnya dapet banget. sedihhnyaa T.T author jjang!!

  2. rumitny pikiran org kaya…ngomong2 klo minho terpaksa menikah sm naa he, mengapa istriny d tiduri jg?ngak tkt hamil?kkk

  3. aku tau minho itu sabar dan mencintai suzy tp dia telah menyakiti suzy dengan menikahi wanita itu😦 dan keluarganya juga telah menyakiti perasaan suzy😦 seharusnya minho tidak menikahinya dan memilih jalan lain. Tentu saja suzy blm sembuh dikarenakan dia jarang berinteraksi dengan suzy -_-

    aku lebih milih suzy meninggalkan mnho dengan tidak sengaja kan disitu eommmanya seperti mau menghilangklan suzy nanh nanti suzy ditolongin sama luhan/sehun(?) Dia seorang dokter bedah meski dia bukan dibiang dokter yang nanganin suzy dia merawat suzy dengan baik dirumahnya(?) Trs bales dendam(?) Setelah dia sembuh dan menjadi orang yang sukses(?) /apaini /abaikan
    Ditunggu lanjutannya ya chingu hwaiting ^o^)9

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s