[Chapter Five] Love Nation

love-nation-promotional-poster

May 2016©

Preview

Notes: (***)= past

(****)= present

.

.

….Melalui seberkas sinar yang terpatri dari balik iris hitam Jongin, memori-memori tak berkaki perlahan berjalan mendahului. Entah berisi tentang apa memori itu sampai membuat pria itu tertegun sejenak dengan sebongkah senyum pilon. …

.

.

***

Larik jingga yang berederet di angkasa sore menjawab lambaian pemilik peraduan. Mendekati waktu matahari terbenam menjadi detik yang tidak akan Suzy dan aku lewati. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk menyaksikan gelap menelan terang. Namun bagi gadis yang tidak banyak bicara seperti Suzy tentu saja ini menjadi hal yang baru untuknya. Atau buang-buang waktu seperti yang pernah ia bilang saat pertama kali aku ajak kemari.

Mula-mula mengenal Suzy, aku mengira jika dia sama saja seperti tipikal murid SMU kebanyakan. Satu, dia anak teladan atau pilihan kedua anak urakan seperti aku. Koreksi, sekarang aku sudah bukan anak urakan lagi. Dia pasti termasuk ke dalam pilihan nomor satu, tulisku dalam hati. Tetapi setelah mengenalnya lebih dekat, pilihan pertama justru salah besar. Suzy merupakan tipikal anak cerdas tapi aneh. Keanehannya adalah kesungguhan dalam dirinya yang tidak terlihat sama sekali tapi dengan anehnya dia cerdas. Si gadis elusif.

Akan tetapi, satu hal yang pasti adalah sisi partikular yang disandang oleh gadis itu. Meskipun bibirnya tidak banyak berucap, ia justru lebih sering berucap melalui seberkas potret. Pena dan buku sketsa menjadi instrumen bagi Suzy dalam berekspresi.

Untuk ukuran penghujung musim semi cuaca terlampau dingin masih menyelimuti. Sambil merekatkan seragam musim dingin, aku menjeling buku sketsa di atas pangkuan Suzy. Aku memperelok diri dengan senyuman. Sketsa yang ditawarkan Suzy dalam goresan pensil ajaibnya adalah pemicu gerak ekspresif tadi. Walaupun hanya dalam dimensi dua warna, imajeri serasa dibawa ke sebuah dunia antah berantah dengan pemandangan yang mendamaikan jiwa.

“Wah! Gambarnya bagus sekali!” Suzy tiba-tiba menghentikan kegiatan mengambarnya. Sambil melihat ke arahku, Suzy tersenyum tipis. Ya ampun, dia bisa tersipu juga. “Apa namanya ini? Ah artistik! Seniman Bae, kamu yang terbaik!”

Kedua ibu jari tersingsing dengan elok. Cengiran ala kuda yang biasa aku pasang ketika menghadapi ceramah para guru di masa silam mengimbuhkan aksi non verbal barusan.

“Kamu berlebihan. Gambarku itu masih jauh dari kata bagus, Kang Seulgi.” Suzy berkata tanpa menatapku. Potlot khusus menggambar itu terlepas dari tangan.

Catatan lain untuk seorang yang bernama Bae Suzy: setiap dia berbicara yang keluar selalu kata-kata bernada melodramatis. Seketika aku menyelaraskan gelak besar yang membelah heningnya senja. Lalu pada kedua bahu Suzy aku lampirkan sebuah pelukan.

“Baiklah, terserah kamu ingin percaya atau tidak.” Aku berujar kepadanya. “Hei, Suzy-a, saat dewasa nanti kamu ingin jadi apa?”

Kesenyapan regang di antara kami, tiada satupun jawaban yang lolos dari bibir gadis di sebelahku. Dia malah menurunkan rangkulan tanganku dari atas bahunya. Jauh dia memandang, seperti mencari garis visibel yang bisa ditarik satu sudut dari tempat yang dia pijak sekarang.

“Pertanyaanmu kurang tepat, Nona.” Suzy lalu meletakkan peranti menggambarnya di sisi. Sambil menemani sang jingga menghilang, dia pun melanjutkan. “Saat dewasa nanti mau jadi apa, cita-citamu apa, apa impianmu; pertanyaan yang sudah jamak. Jawabannya bahkan bisa berubah-ubah. Ketika masih kecil, kita akan menjawab ingin jadi dokter, guru, atau tentara. Lalu saat remaja, kita akan bilang ingin menjadi seperti idola. Lalu saat dewasa?”

“Siapa yang tahu mereka akan jadi siapa dan seperti apa.” Aku asal menjawab. Masih tidak mengerti dengan apa yang ingin Suzy artikan dari kata-kata konotatif barusan.

“Tepat sekali. Jadi, jawaban yang diberikan pada saat ini bukanlah sebuah jawaban dari pertanyaan jamak itu.”

“Maksudmu?” Aku mendesakkan siku ke lengan Suzy tidak sabaran. Aku masih tidak mengerti bahkan kepalaku sepertinya mulai berasap.

“Biar waktu yang akan menjawabnya.”

****

Cahaya temaram meruang bersama reruntuhan petir yang saling bersahutan di langit pukul sepuluh malam. Mataku mengerjap dengan berat. Bunyi retak pada tulang merebak tatkala aku meluruskan tubuh. Tidak kusangka, hari pertama magang di Choco Bank ternyata cukup melelahkan.

Pukul setengah delapan malam tadi aku baru tiba di kamar indekos. Menjadi perkara tentu kemacetan lalu lintas terlebih setelah hujan reda. Rasa lelah, penat, serta pening bercampur aduk jadi satu. Setelah bergegas bersih-bersih diri secukupnya, badanku menyerah untuk sekedar mengecek isi lemari pendingin. Kasur kecil tak berkaki yang seprainya baru diganti kemarin pun dengan sayang menerima ambruknya kesadaran lantaran kantuk hebat menyerang.

Melencangkan otot-otot yang ngilur dan mengumpulkan kesadaran, aku bersender pada dinding kamar yang dingin. Lalu aku mengecek ponsel yang tergelatak di atas nakas dan mendapati beberapa notifikasi tiga panggilan tak terjawab yang berasal dari Kak Joohyun. Oh, aku lupa mengabari kakak perempuan yang satu ini. Tidak ingin membuat Kak Joohyun merasa risau di Seoul, aku pun segera meneleponnya. Pada nada sambung kedua, dia pun mengangkatnya.

“Kak Joohyun.”

Oh, Suzy-a! Kamu ke mana saja? Sampai-sampai panggilanku tidak diangkat, hm.

“Maaf, Kak.” Aku menggumam kecil kemudian melampirkan punggung tangan, membekap kuap di atas mulut.

Astaga, kamu terdengar seperti orang yang kelelahan. Istirahatlah yang banyak!

“Iya, aku tahu.” Kemudian aku kembali menguap.

Ya sudah, sepertinya aku harus mengakhiri panggilan rindu ini.

“Eh, tunggu dulu, Kak.”

Ada apa?

“Sekarang aku magang di kafe,” Hening menjalar di seberang telepon. Aku lantas tersadar ketika detik-detik diisi oleh gemerisik angin pada sambungan Kak Joohyun. “Ha-halo, Kak Joohyun?”

 Aku meluruskan punggung kemudian melebarkan pandangan, mencari titik fokus di angkas gelap bergelayut lambaian kilat yang menguning. Seketika perasaanku melemah ketika Kak Joohyun diam seribu bahasa merespon kegiatan baruku. Takut jika sulung perempuan dalam keluargaku itu tidak menyukainya.

“Aku hanya ingin memberitahukan itu kepadamu. Mengapa diam? Marah ya?”

Benarkah? Wah itu bagus. Syukurlah, sekarang kau bukan mahasiswi minim kegiatan lagi.

Aku melengak menatap langit kamar yang kusam dan terbelalak tak berdaya. Perasaan tak berdasar yang aku punya pun lenyap tak berbekas.

Ck, mengapa aku harus marah? Aku senang mendengarnya tetapi kuliahmu juga harus tetap diperhatikan. Jangan sampai kerja magang mengganggu prioritasmu. Kesehatanmu itu juga yang paling penting. Oke?

“Siap, Bos!”

“Suzy-a, aku akan selalu mendukung keputusanmu. Jika kamu memutuskan untuk kuliah sambil magang, keputusan itu tentu sudah diperhitungkan sebelumnya olehmu dengan baik. Dan aku percaya semua hal akan tetap baik-baik saja.

“Aku tahu.” Aku menjeda. “Terimakasih sudah percaya kepadaku, Kak Joohyun.” ucapku dengan tulus.

Oke, sudah larut malam. Aku juga harus pergi istirahat. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri. Mengerti?

“Oh Kak Joohyun yang Cerewet akhirnya muncul juga.” Cekikikan geli pun terdengar dari sambungan Kak Joohyun. “Baiklah, nanti aku akan menghubungimu lagi. Jaga kesehatanmu selalu, Kak. Aku menyayangimu. Kututup ya.”

Aku menyayangimu juga, Suzy-a!”

****

Terhitung sepekan sudah aku bermagang di kedai serba cokelat milik Kim Jongin. Semuanya berjalan dengan baik tanpa halangan. Seperti yang dia katakan sebelumnya, bermagang akan meningkatkan kemampuan berbahasaku, dan itu memang benar adanya. Misalnya selagi aku membantu pelanggan memilih menu atau cokelat favorit atau sekedar mengantarkan pesanan kepada mereka. Begitu banyak tuturan yang tidak pernah aku dengar di lingkungan kampus atau indekos, justru aku dengar di lingkungan kafe. Sehingga ketika ada waktu luang aku akan menganalisis kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah Morfologi yang kebetulan ada di mata kuliah wajib semester ini.

Penghujung bulan Oktober tak lekang dirundung awan gelap pengantar hujan. Gerimis kecil perlahan menghadang para mahasiswa untuk berpergian di sekitar kampus. Tak ayal mereka pun segera mengisi kantong-kantong kosong di sudut kantin beratap, melindungi diri dan tumpukan diktat dari gerilya air hujan.

Segelas teh hangat menunggu untuk diteguk oleh Vero yang masih membelengu dalam panah ketersimaan. Semenjak sepekan yang lalu, gadis itu tidak pernah melepas tatapan ke arahku. Seolah aku badak bercula dua yang hampir punah sedang menari salsa di hadapannya. Absurditas seorang Vero tentu saja bermuara pada keputusan untuk magang di Choco Bank. Aku kira reaksi perempuan nyentrik itu akan biasa-biasa saja, namun tak aku sangka kalau ternyata reaksi gadis itu sungguh luar biasa aneh. Vero tidak mampu membendung rasa tidak percayanya sehingga ia pun kehilangan suara untuk sekedar berbicara kepadaku.

Bukannya aku merindukan kecemprengan suara perempuan ini, akan tetapi aku kesal lantaran Vero tidak merespon apa-apa selain gelengan dan anggukan setiap aku berbicara kepadanya. Tuhan, mengapa Engkau tega menciptakan spesies seeksentrik Vero?

“Masih tidak mau bicara?”

 Aku menutup aplikasi tesaurus luar jaringan dalam ponselku. Gelengan kepala Vero tentu menjawab kuesioner barusan. Lantas dia segera meneguk teh hangat menggunakan sebilah sedotan tetapi matanya masih menembakkan laser ke arahku.

“Ya Tuhan. Aku benar-benar gila, sekarang.” rutukku dalam bahasa Korea. “Kalau masih tidak mau bicara denganku, lebih baik kita tidak usah berteman.” tegasku dengan final. Aku menaruh ultimatum bernada ancaman kepada Vero.

“Hei, jangan begitu, dong!” Vero tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memekik dalam bahasa Korea. Kedua tangannya menggenggam tanganku. Kejadian barusan pun sukses menjadi pusat perhatian penghuni kantin, mengundang pemikiran menyeleneh mengingat kedua tangan kami tergenggam satu sama lain. Tanpa berpikir panjang aku cepat-cepat melepaskan genggaman Vero dan menghujani gadis itu dengan peluru tatapan ‘Awas kamu!’.

“Maaf ya, kami sedang latihan drama. Silakan dilanjutkan kembali kegiatannya, Kakak-kakak.” lisan Vero sambil menepuk-nepuk tanganku lembut. Pandangan aneh kepada kami berdua pun seketika berkurang.

“Suez,” panggil Vero tanpa mengalihkan pandang dariku. Maaf itu pun Vero ungkap dengan sederet alasan yang lagi-lagi di luar kebiasaan manusia wajar pada umumnya.

Kamu harus tahu, kisah ceritamu ini lebih keren dari naskah drama ataupun drama Korea yang pernah aku lihat.”

“Serius deh! Ini tuh sesuatu banget. Tipe-tipe yang anti sosial seperti kamu tiba-tiba berkecimpung di dunia yang mengharuskanmu untuk berinteraksi.”

You are pretty something, Suez.”

Bagi seorang yang berkepribadian seperti kamu, it is obviously out of blue to cross that border.

Mata yang berapi-api dengan segala ilusi tak berfaedah itu masih menganeksasi Vero. Selalu pikirku dibuat habis oleh perempuan eksentrik yang satu ini. Bagaimana mungkin seorang manusia mampu bernalar begitu jauh dan lengkap dengan segala kotak analisa out of the box ala Vero.

It doesn’t seem as a border though. My definition of border is different from yours. And please don’t be overacting. It is not a serious problem.

“Ini seperti bukan kamu yang biasanya, Suez.” tegas Vero. Aku pun meragukan lisan teman perempuan Indonesia satu ini. Memang aku yang biasanya seperti apa?

“Aneh saja ketika kamu menerima kehadiran orang baru dalam lingkunganmu. Untuk menerimaku dua tahun yang lalu saja, well seperti menyatukan Korea selatan dan utara.” ujar Vero dengan hati-hati. “Ya, aku sih senang dengan perubahanmu, Suez. Perubahan yang positif.”

Sejenak aku mendalami ekspose si gadis nyentrik lalu beropini dalam hati. Oh, jadi benar seperti itu aku di mata sebagian orang. Atau seluruh orang? Tersenyum kecil aku kembali membayangkan jika sejak lama lingkungan seperti membuat rentang dengan diriku. Atau aku malah yang menciptakannya tanpa sadar. Aku tidak tahu.

“Hei, dengar ya, Nona Hiperbolis. Aku mohon ke kamu dengan sangat, tolong simpan semua delusi tak beralasan di dalam kepalamu saja. Hal ini lebih baik ngga usah diungkit-ungkit ke permukaan lagi. Aku mohon? Ya?”

Meski terasa berat, Vero akhirnya menganggukkan kepala. Kembali dia berkata maaf dengan roma wajah merasa bersalah. Aku menggubrisnya agar dia tidak merasa seperti itu. Sungguh, gadis eksentrik itu tidak salah sama sekali. Hanya saja aku risih mendengar asumsi sepihak Vero yang menyinggung soal perasaan Jongin dan itu tentu saja belum tentu benar—semoga saja begitu.

****

Untuk pertama kalinya, aku mengunjungi gudang perkakas yang ada di Choco Bank. Hal ini berkaitan dengan sebuah perayaan ulang tahun yang akan digelar di area outdoor kafe yang terletak di lantai atas. Lalu waktu operasional kafe untuk umum pun diliburkan selama dua hari. Suho bilang, waktu reservasi sendiri sudah dilakukan dari enam bulan yang lalu. Sebagai pegawai baru, tentu aku baru saja tahu ketika Jongin meminta Rei dan aku untuk mengambil beberapa properti kafe yang dibutuhkan untuk hal dekorasi di gudang. Sisa hal dekorasi dan tata letak akan diserahkan kepada Event Organizer yang bersangkutan.

Di dalam gudang, serpihan debu berterbangan di mana-mana. Alergi debu yang aku idap pun menyebabkan hidungku bersin-bersin sedari tadi. Meskipun sudah memasang masker, debu-debu atomik nakal itu masih mampu menembus pori-pori yang ada di kain masker.

Di sudut gudang yang tak tersentuh sinar lampu, aku melihat sebuah tumpukan yang ditutupi oleh kain berwarna dominasi hitam merah dan kuning. Tanpa sadar, langkahku tertuju ke tumpukan misterius itu. Rei yang baru kembali dari pantry segera menghampiri. Dia mengikuti arah tatapanku.

“Itu namanya kain ulos. Kain tenun tradisional khas daerah Sumatra utara. Sayang banget dijadiin tutupan seperti itu.” ringis pemuda itu. Lalu dia pun mengambil kotak yang lain dan memeluknya di depan dada.

“Kain yang cantik.” ujarku pelan. Rei mengangguk setuju. “Memang apa yang ada di balik kain itu?”

Belum sempat Rei menyuarakan jawabannya, kain ulos yang menyelimuti tumpukan misterius itu aku tarik sehingga menunjukkan apa yang selama ini terjaga di baliknya. Sesaat aku terbelenggu dalam kekaguman. Sebuah piano listrik berwarna magenta terpampang dengan angkuh. Tuts piano tersebut itu aku tekan namun bunyinya tidak keluar.

“Nona, pianonya belum disambungkan listrik jadi tidak akan menyala.”

Suara Kim Jongin tiba-tiba mencuat dari arah belakang. Tahu-tahu, pria jangkung itu sudah berjongkok di samping piano magenta itu dan menyambungkan listrik dengan si piano.

“Apakah piano ini masih berfungsi?” tanyaku tak mengacuhkan kehadiran Jongin yang selalu tiba-tiba. Jongin melenggut. Ketika jemari-jemari kurus itu menekan-nekan tuts piano, dentingan sebuah lagu kanak-kanak dalam melodi ringan pun terdengar.

Alunan musik kanak-kanak itu semakin terdengar manis. Sedikit melupakan tugas beres-beres gudang, ragaku dibuat berkontemplasi dengan nada-nada ringan yang dimainkan jari-jari Kim Jongin dengan lincah. Rei, pemuda itu sendiri sudah pamit dari tadi sambil mengangkut boks menuju lantai dua.

Lagi-lagi aku dibuat tak kukuh oleh realita yang sedang melingkupi diriku. Bagaimana mungkin suasana gudang yang penggambarannya selalu pengap dan tak bernyawa bisa berubah seratus delapanpuluh derajat menjadi begitu damai dengan iringian melodi piano semanis hujan di bulan Juni. Pria itu kemudian mengakhiri permainan singkat pianonya. Aku refleks memberikan tepuk tangan meriah.

“Permainan yang bagus. Aku tidak menyangka kamu bisa bermain piano dengan sangat baik.”

“Oh, benarkah? Aku, kok, merasa tidak seperti itu.”

“Aku serius, lho. Permainanmu barusan benar-benar lumayan bagus. Sebelumnya, kamu les piano?”

“Oh, tidak-tidak. Ibu sering mengajakku bermain piano waktu kecil. Lalu ketika aku di Brussel, kamu tahulah, musik klasik di sana ‘kan masih terjaga. Kadang-kadang aku bermain piano, jika ada waktu senggang.”

“Benarkah?”

Senyum serta anggukan menjawab rasa penasaranku barusan. Sebuah boks kecil yang tersembunyi di kolong piano Jongin tarik. Pria itu lalu berpindah dari sisi piano menuju sisiku. Matanya masih tertuju pada lekukan instrumen berkaki empat dan berwarna magenta. Melalui seberkas sinar yang terpatri dari balik iris hitam Jongin, memori-memori tak berkaki perlahan berjalan mendahului. Entah berisi tentang apa memori itu sampai membuat pria itu tertegun sejenak dengan sebongkah senyum pilon. Lantas dia pun kembali menghadapku dan mengangsurkan boks kecil tersebut.

“Apa ini termasuk hal-hal yang menarik di matamu?” cetus aku. Jongin tidak serta merta segera menjawab. Sepasang netra hitam itu seperti menilik maksud tak kasat mata dari tuturanku barusan. Padahal aku memang tidak bermaksud apa-apa, toh. Hanya penasaran.

“Ya, begitulah.” Jongin menyisir rambutnya ke samping. Senyum pilon itu masih membekas di atas bibirnya.

“Boleh aku bertanya satu hal lagi?”

“Tentu saja,”

“Mengapa piano ini diletakkan di gudang? Apa ada alasan tertentu?”

Jongin tersenyum kecil. Kain ulos yang tercecer di lantai Jongin tarik untuk kemudian dikibaskan. Tak ayal aksi Jongin barusan pun sukses mengundang bersin dari hidung alergiku sehingga aku dibuat payah oleh alergiku sendiri. Pria itu pun lekas meminta maaf.

“Oh, Suzy-a, sungguh aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kau ada alergi debu. Ya Tuhan, “ Jongin pun menepuk-nepuk punggungku ringan. Berharap supaya bersin-bersin sialan ini cepat berhenti.

Aku melenggut seolah paham meskipun gatal masih melanda hidungku. Jawaban pria itu pun terinterupsi oleh bersin-bersin barusan. Jongin pun nampak enggan untuk menjawab.

“Hei, Suez.” panggil Jongin. Melalui sudut mata, aku mendapati pria itu masih tersenyum namun kini justru terlihat miris. “Bagaimana jika aku menyumbang satu performance untuk pesta ulang tahun besok?”

Ucapan tak ada yang keluar dari bibirku. Sungguh aku tidak tahu harus berkata apa mengenai usulan Jongin barusan. Ataupun kepada Jongin yang benar-benar penuh dengan kejutan. Mengenal seorang yang bernama Kim Jongin satu ini dalam waktu yang lama bukan jaminan bisa memahaminya dengan baik. Pria ini terlalu banyak kejutan. Ruang lingkupnya seperti labirin yang sulit untuk dilalui serta di setiap tikungan banyak kejutan yang menunggu.

“Ya, itu ide yang bagus.” akhirnya keluar begitu saja dari bibirku. Jongin pun nampak lega dengan usulannya sendiri. Sungguh tidak dapat ditebak, beberapa menit yang lalu tatapan pria itu mengandung sendu ketika disinggung oleh piano namun sekarang wajahnya sudah berseri-seri seperti bayi. Enigmatis.

Tiba-tiba Jongin meraih tanganku yang memangku boks dan mengajaknya untuk diberi aplaus.

“Hei, tunggu dulu, “ Aku menghentakkan tangan Jongin. Wajah pria itu tiba-tiba beralih jadi kaku dan sedikit tak enak hati. Mata hitam yang diterangi oleh pendar bohlam yang redup aku pandangi lekat. “tapi bagaimana bisa kamu akan tampil di sana?”

****

End Of Chapter Five.

One response to “[Chapter Five] Love Nation

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s