#2 All of Us

AOU2 copy

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Min Ho, Bae Soo Ji

Support Cast : Lee Soo hyuk, Im Naa He

Genre : Marriage Life, Romance, Sad

Rating : G

Length : Sequel | Chapter 2

Disclaimer : All story is mine

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

I Need Your Soul, My Wife, Part 1,

Kening Min Ho berkerut setelah eommanya bertanya, andai Soo Ji tidak pernah ada, apakah kau juga akan memilih jalan ini?

Tampak menuntut dan menuduh seolah Soo Ji adalah penyebab anaknya membangkang, seperti yang Nyonya Lee katakan—juga seperti pria dibalik pintu yang mengintip perbincangan mereka berdua dengan sembunyi-sembunyi bahwa Soo Ji adalah alasan sikap membangkang Min Ho.  Pria dibalik pintu rumah Nyonya Lee itu tampak serius mengintip serta mendengarkan pembicaraan mereka, tidak tampak kedipan mata tuanya sebab terlalu fokus dan apa yang istrinya tanyakan pada Min Ho, memuaskan hatinya sebab hal itu pula yang ingin diketahuinya.

Jika dulu, pria yang menyebut dirinya sebagai Tuan Lee itu…. tidak terlalu masalah dengan Soo Ji.  Meski nyatanya wanita itu adalah anak sopir pribadinya, namun statusnya sebagai pengacara ternama kemudian…. tidaklah terlalu memalukan dan berhasil menutupi masa kecilnya yang miskin.  Namun kini?  Statusnya sebagai pengaca muda sukses dan terkenal sudah menghilang, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dan disombongkan darinya.  Kini Soo Ji tidak lebih dari seorang wanita gila dan itu hanya akan mencederai nama keluarganya andai Min Ho masih mempertahankannya, andai Min Ho yang ingin dibawanya ke rumah juga membawa Soo Ji.

Usulan dari Jo In Hyun, istri pertamanya yang meminta Min Ho untuk menikah lagi dengan salah satu keponakan dari pihaknya, Tuan Lee akui adalah usulan cerdik untuk menyelamatkan posisinya sebagai Nyonya Besar Lee.  Namun jika dipikir lagi, usulan itu juga menguntungkan baginya.  Setidaknya ia tidak perlu mengenalkan siapa Min Ho, bagaimana nantinya bisa menjadi pewarisnya, dan bagaimana dirinya bisa menganggap Min Ho anaknya.  Dirinya hanya perlu mengatakan bahwa Min Ho adalah suami dari keponakannya dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.  Penjelasan mudah yang akan menyelamatkannya dari rasa malu dan cibiran banyak orang.  Kenapa tidak memakai keponakannya sendiri?  Tuan Lee tersenyum tipis untuk itu, dirinya tidak memiliki satupun keluarga dari pihaknya yang tersisa kecuali eommanya setelah kakak juga istri dan anaknya mengalami kecelakaan yang membuatnya menjadi anak tunggal seperti saat ini.

 

 

Jika Soo Ji tidak ada dan kau memilih jawaban berbeda, maka sudah seharusnya Soo Ji menghilang, batin Tuan Lee menatap Min Ho serius.  Tangan tuanya yang telah banyak melakukan hal-hal besar tampak saling terkepal sebab tidak sabar dengan jawaban putranya.  Statusnya sebagai orang besar tidaklah akan sulit jika hanya menghilangkan satu nyawa orang gila, apalagi ia pernah melakukan hal lebih dari itu.

 

Tampak tidak sabar, Tuan Lee masih menunggu jawaban apa yang akan putranya lontarkan dengan gusar, apakah sesuai dengan perkiraannya bahwa semua penolakannya karena Soo Ji, atau tidak.

 

“Min Ho-ya?”  Nyonya Lee memanggil, kembali mewakili hal yang ingin Tuan Lee lakukan.

Tarikan nafas panjang Min Ho terdengar seolah bersiap dan pria itu mendongak pasti pada eommanya, seperti Tuan Lee yang mengeratkan kepalan tangannya…. begitu pula yang Min Ho lakukan.  “Tidak.”  Jawabnya tegas, menatap Nyonya Lee tepat di manik matanya tanpa keraguan dan menyipitkan mata tua lain yang terhalang pintu kayu.  “Aku melakukan ini bukan karena Soo Ji, tapi karena abeoji.”

“Abeojimu?”  Wajah tua Nyonya Lee yang masih menampakkan kecantikannya berkerut, menatap satu-satunya putra yang ia miliki tidak mengerti.  “Kau tidak mau berkumpul dengan abeojimu karena abeojimu?”

“Ini menyedihkan eomma.”  Sesal Min Ho menurunkan sedikit pandangannya namun tidak dengan sorot tajamnya.  “Menjadi anaknya sangat menyedihkan untukku, menyandang nama Lee dibelakang namaku sangat tidak nyaman untukku, memiliki hubungan dengannya sangat menyiksa untukku.  Dia bahkan tidak pernah bersikap sebagai abeoji untukku, dia bahkan tidak pernah melihatku sebagai anaknya, dia tidak pernah melakukan sesuatu untukku seperti abeoji teman-temanku.  Dia hanya memberi kita uang untuk makan, apa kita pengemis?  Apa kita semenyedihkan itu hingga dia selalu melakukannya pada kita selama bertahun-tahun?”

“Dia melakukan itu karena bertanggung jawab dan mencintai kita.”

“Bertanggung jawab dan cinta?”  Min Ho bertanya dengan nada mengejek.  “Jika dia bertanggung jawab dan mencintai kita harusnya dia tidak membiarkan kita ada dalam posisi ini.  Dia bahkan tidak datang saat aku menikahi Soo Ji dan saat Min Ji meninggal.  Dia bukan abeojiku, dia hanya abeoji tapi bukan abeojiku.  Tidak seperti itu harusnya seorang abeoji.  Tidak seperti itu harusnya seorang abeoji bersikap pada anaknya.  Untukku, dia hanya seorang pria yang membuatku menjadi anak eomma, dia hanya seorang pria yang aku tahu tapi tidak aku kenal, dia hanya seorang pria yang menikahi eomma entah untuk apa, dia hanya seorang pria yang nama belakangnya aku miliki.”

“Jaga ucapanmu.”  Serius Nyonya Lee sembari meremas hanbok yang dikenakannya namun Min Ho menulikan telinganya.

“Jika dia memang abeojiku maka dia tidak akan melakukan ini padaku.  Jika dia memang mencintaiku sebagai bagian dari dirinya maka dia tidak akan membuatku menjadi manusia sepertinya juga.”

“Apa katamu?”

“Aku tidak akan pernah bertanya bagaimana bisa eomma mau menikahinya saat dia sudah memiliki istri.  Aku juga tidak akan menuntut untuk apa aku dilahirkan dari keluarga macam ini.  Aku juga tidak akan marah pada abeoji yang tidak pernah memandangku anak padahal dia yang membuatku hadir karena aku paham bahwa eomma tidak seharusnya menikah dengan pria beristri.   Aku bahkan tidak pernah meminta kalian untuk bersama, tidak pernah meminta abeoji untuk bertanggung jawab pada kita berdua seperti seharusnya.  Aku tidak pernah dan tidak akan menuntut semua itu.  Kebencian Nyonya Lee yang sebenarnya itu pada kita, aku memahaminya dan tidak sedikitpun berpikir untuk di maafkan.  Hanya, harusnya dia malu setelah semua yang dilakukannya untuk kita…. kenapa dia datang hanya untuk merusak hidupku saat tidak satupun hidupku berjalan baik dalam tangannya?  Jika itu masih beralaskan istri pertamanya untuk membuat kita menderita, bisakah hanya melibatkan kita dan tidak perlu membawa-bawa Soo Ji?  Bisakah aku saja yang dilukai dan jangan pernah menyentuh Soo Ji?”

“Kau tidak mengerti nak.”

“Apanya?”  Serbu Min Ho cepat dan tidak sabar.  “Apa yang tidak aku mengerti eomma?  Katakan padaku.”

“Kami hanya melakukan apa yang terbaik untukmu.”

“Dan eomma anggap ini terbaik untukku?”  Geleng Min Ho heran.

“Soo Ji, kau tidak seharusnya menderita bersamanya.  Kau tidak seharusnya bernasib sial dengan menjadi suaminya.”

“Kenapa tidak eomma katakan itu pada diri eomma sendiri?”  Sinis Min Ho, menusuk hati eommanya yang langsung terperanjat, tidak menyangka ucapan putra yang sejak kecil dirawatnya sayang kini justru menusuknya hanya karena Soo Ji.  “Bukankah kita sama eomma?”  Lirih Min Ho ikut mengasihani dirinya sendiri.  Pria itu tersenyum nyinyir, untuk dirinya sendiri yang bernasib sial.  Entah semua kehidupan menyedihkannya karena apa dan harus menyalahkan siapa, tapi andai semua itu tidak makin memburuk akhir-akhir ini….. tidak mungkin Min Ho menunjukkan emosinya pada eommanya sendiri seperti ini.

 

“Karena itu….”  Desak Nyonya Lee mengeluarkan suara dari kerongkongan tercekatnya, menatap putranya yang juga tampak mati-matian menahan emosi dalam dirinya.  “Karena eomma tidak ingin kau berakhir seperti eomma…”

“Soo Ji baik-baik saja.”  Potong Min Ho berusaha normal.  “Dia baik-baik saja andai semua hal itu tidak terjadi.  Semua orang meninggalkannya dan haruskah aku juga melakukan itu?  Jika dia melakukan salah, aku akan meninggalkannya.  Kematian Min Ji bahkan, aku juga menyalahkannya.  Aku tidak menutup mata bahwa anakku meninggal karena istriku.  Tapi haruskah aku biarkan pikiran macam itu memenuhiku?  Toh Soo Ji juga ibu dari anakku, toh Soo Ji juga tidak ingin semua itu terjadi dan apa yang terjadi saat ini tidak lebih dari hukuman untuk dirinya sendiri.  Lalu masihkah aku harus meninggalkannya sementara semua salah sudah dia tanggung sendiri?  Masihkah aku bisa pakai alasan itu untuk meninggalkannya?  Menikahi wanita lain bahkan?  Aku menghargai pernikahan kami, aku menghormati janji pernikahanku untuk tidak pernah meninggalkannya di saat tersulit sekalipun.  Dan eomma—,  membuatku menjadi suami jahat?  Seperti abeoji.”

“Tidak, bukan begitu.”

“Bayangkan jika aku yang gila eomma, bayangkan jika Soo Ji meninggalkanku.  Eomma tidak pernah berpikir macam itu?”

“Lee Min Ho!  Jaga ucapanmu.”  Bentak Nyonya Lee tidak suka jika anaknya berkata seperti itu, mendengarnya saja sudah cukup menyiksa apalagi membayangkannya.  “Eomma ingin melihatmu bahagia.  Turuti keinginan abeojimu, eo?”

Min Ho menggeleng, menepis permintaan dan mengabaikan wajah memelas eommanya.  “Tidak.”  Ujarnya.  “Kenapa aku harus menuruti keinginan abeoji?  Kenapa aku harus memiliki keinginan untuk bersamanya yang bahkan dia sendiri tidak melihatku sebagai anaknya?  Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang membuatnya senang?  Apa dengan begitu dia akan melihatku sebagai anaknya?  Apa setelah aku melakukan semua yang dia mau maka hidupku akan bahagia?  Apa dia mau menatapku dan mengenalkanku sebagai putranya pada semua orang setelah aku melakukan apa yang dia minta?  Kenapa eomma begitu ingin pengakuan darinya?  Kenapa eomma begitu ingin masuk dalam rumah itu?  Tidakkah cukup dengan memilikiku?  Tidakkah cukup dengan hidup macam ini?”

“Kau butuh pengakuan dan kekuasaan.”

“Untuk apa?”  Tuntut Min Ho bertahan.  “Aku bukan lagi anak kecil yang butuh pengakuan dari abeoji agar tidak di ejek oleh teman-temanku.  Aku sudah kehilangan masa membutuhkan pengakuan dari abeoji jika itu yang eomma pikir.  Andai kali ini abeoji datang padaku, meminta maaf, mengajak kita semua bersamanya….. dengan baik-baik, aku akan berpikir bahwa dia memanglah abeoji-ku.  Tapi apa yang dilakukannya?  Membuatku sama menakutkannya seperti dia.  Apakah dia pantas aku panggil abeoji?  Apakah aku memiliki alasan untuk tinggal bersamanya dan meninggalkan Soo Ji?  Sadarlah eomma….”  Min Ho mengiba dengan duduk di lantai dan bersimpuh dihadapan eommanya, mendongak untuk melihat jelas wajah sedih yang kemudian menangis bersamanya.  “Aku tidak butuh pengakuan ataupun kekuasaan.  Aku hanya butuh eomma juga Soo Ji.  Untuk apa kekuasaan jika berakhir menyedihkan seperti Yoon Sung hyung?  Untuk apa kekuasaan jika kita ditekan?  Eomma ingin tinggal di rumah abeoji?  Bersama Nyonya Lee yang sebenarnya?  Bisakah?  Tahankah?  Abeoji bahkan tidak akan membela eomma andai terjadi sesuatu.  Abeoji bahkan tidak benar-benar menginginkan kita.  Lalu untuk apa kita disana?”

“Eomma tidak tahu.”  Nyonya Lee menggeleng pelan, matanya menatap Min Ho sedih dan ia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangan saking tidak bisa menutupi sedihnya dan tidak ingin menunjukkannya lebih banyak pada Min Ho.  “Eomma hanya berpikir bahwa kau harusnya juga menerima apa yang mendiang hyungmu terima.”  Ucapnya sambil menangis sesenggukan.

 

 

 

 

Tuan Lee mematung, termangu didepan pintu kayu yang beberapa bagiannya berlubang dan itu digunakannya mengintip mereka sejak tadi dengan leluasa.  Pria berkaca mata itu menarik nafas berat dengan tangan makin mengepal hingga ruasnya tampak.  Marah jelas tergambar dalam wajah tuanya.  Namun nyatanya, dibanding masuk dan menyeret Min Ho seperti keinginannya tadi, pria itu lebih memilih berbalik dan memerintahkan beberapa orang yang sengaja dibawanya untuk membawa Min Ho agar pergi bersamanya—entah kemana.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Soo Hyuk mendesah kencang dan meremas rambut pendeknya geram.  Nafas pria itu tersengal sejak tadi dan tangis wanita yang beberapa menit lalu bangun dari tidurnya bisa dikatakan adalah alasan dari pria itu sangat frustasi.

 

 

Soo Ji bangun di saat Min Ho belum datang untuk menemui eomma dan neneknya di kuil, dan dirinya tidak tahu harus bagaimana menghadapi Soo Ji sementara hampir setengah bagian rumahnya telah hancur sebab wanita itu lemparkan beberapa barang padanya saat akan mendekat tadi.

Soo Ji menangis dan meringkuk dengan tubuh gemetar pada salah sudut rumahnya seolah bersembunyi, wanita itu tampak sangat ketakutan dan Soo Hyuk tidak mengerti dengan isi kepala Soo Ji hingga kemudian bersikap macam itu.

Kenapa Soo Ji tidak mau disentuh siapapun, kenapa Soo Ji begitu histeris saat seseorang menyentuhnya… Soo Hyuk mengernyit, tampak ada yang aneh dan pertanyaan macam itu terus berputar dalam kepalanya.  Namun dibanding memikirkan semua keanehan yang hanya ia sendiri sadari, akan lebih baik jika dirinya menelfon Min Ho dan memintanya untuk kembali segera sebelum rumahnya makin hancur, dan akan lebih baik lagi jika dirinya pergi agak jauh hingga Soo Ji tidak melihatnya dan lebih tenang.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

“Jangan keras kepala.”  Suara bergetar khas orang tua seusianya menolehkan kepala Min Ho, pada neneknya yang kini menggenggam tangannya hangat.  Satu-satunya keluarga Lee yang menerima dan menunjukkan cintanya untuk ia, duduk didepannya dengan tersenyum.  “Pergilah ke Malibu.  Kau akan aman disana.  Eomma tirimu tidak tahu tentang tempat itu dan abeojimu juga tidak akan menyangka kau akan pergi kesana.  Aku akan menghalangi abeojimu untuk mendekat jika dia kemudian tahu.”

“Bukan begitu halmeoni…”  Sergah Min Ho melepas genggaman tanga tua yang begitu hangat dan balik mengusapnya seolah mencari arti hidup dari keriput disana.  “Aku ingin lepas dari abeoji.  Jika aku kesana, tinggal di rumah yang masih milik keluarga Lee—.”

“Jika kau masih anggap aku nenekmu jangan berkata begitu.”  Potong halmeoni-nya cepat.  “ Jangan pernah sekalipun berucap bahwa kau menyesal lahir dalam keluarga ini.”

“Bukan seperti itu juga maksudku halmeoni.”

“Abeojimu melakukan hal yang terbaik untukmu sebisanya.”

“Terbaik apanya?”  Rutuk Min Ho mengingat semua hal yang sudah dilaluinya hingga sejauh ini.  “Dia tidak pernah datang padaku sebagai abeoji.”

“Kau tidak mengerti Min Ho-ya.”

“Itu juga yang eomma katakan padaku.  Bahwa aku tidak mengerti dan mereka semua melakukan ini untuk kebaikanku.  Jika ini memang untuk kebaikanku, harusnya mereka membuatku mengerti dan menjelaskannya.”

“Sudahlah jangan membantah.”  Serbu nenek Min Ho memukul punggung tangan cucunya.  “Aku tidak mau tahu.  Kau harus pergi ke Malibu bersama istrimu, akan aku panggilkan dokter tebaik untukmu disana.  Kembalilah saat Soo Ji sudah sembuh.”

“Tapi—.”  Sangkal Min Ho, masih ingin menolak namun ponselnya lebih dulu bergetar dan menghentikan kalimatnya.

 

 

“Ponselmu berbunyi.”  Tunjuk nenek Min Ho, menolehkan pandangan cucunya pada ponsel yang diletakkannya disamping bangku tempat dirinya duduk.

Baru saja Min Ho memegang ponselnya dan membaca nama yang tertera disana, bulatan mata terkejutnya langsung tampak.  Nama Soo Hyuk pada layar ponselnya bukanlah sesuatu yang dirinya inginkan untuk saat ini, namun toh ia tidak bisa melakukan apapun dengan itu.

“Halmeoni aku harus pergi.  Tampaknya Soo Ji bangun.  Jika libur aku akan kemari lagi.”  Pamit Min Ho terburu dan berlari disepanjang jalan panjang kuil tanpa menoleh lagi, meninggalkan neneknya yang masih setia melihatnya dengan mata sayu.  Dalam hati tuanya, wanita sepuh itu berharap agar keluarganya menjadi sebuah keluarga hangat lagi dan dirinya tidak menjadikan alasan tinggal di kuil untuk mencari ketenangan dari semua masalah dalam keluarganya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Min Ho segera berlari memasuki rumah Soo Hyuk dimana dari arah luar rumah saja sudah terdengar tangis kencang Soo Ji.  Beberapa tetangga Soo Hyuk bahkan berdiri di luar dan berbisik heran sebab tangisan itu, Soo Hyuk berada di luar menjelaskan sebab ada suara wanita menangis dari dalam rumahnya dan seorang polisi yang baru saja tiba entah siapa yang memanggil menjadi alasan lain dari langsung masuknya Min Ho takut jika terjadi sesuatu pada Soo Ji diluar perkiraannya.

Setengah bagian rumah Soo Hyuk, seperti kata pria itu tadi benar-benar hancur.  Min Ho membulatkan matanya ketika melihat banyaknya barang pecah memenuhi lantai dan juga beberapa tetes darah yang entah milik siapa.  Tidak mungkin Soo Ji berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri bukan?  Min Ho tidak mau terlalu banyak berpikir, tangis Soo Ji yang begitu jelas ia cari sumbernya dan berjalan tergesa menuju kesana.

 

“Soo Ji-ah…..”  Min Ho memanggil, mendongakkan kepala wanita itu yang tertunduk pada kedua lututnya.

“Hiks—hiks—.”

“Soo Ji-ah, Bae Soo Ji.”

“Ngh—hiks—.”  Isak Soo Ji mendongak, memandang Min Ho seolah mengadu dan menatap pria itu dengan kedua mata basahnya kemudian berdiri dari duduk terpekurnya, berjalan setengah tertatih dan memeluk Min Ho erat, melanjutkan tangisnya dalam pelukan Min Ho untuk pertama kalinya setelah 2 tahun selalu menjauh.  “Oppa—op-pa.  Oppa— hiks—hiks oppa—.”

“Kau baik-baik saja?  Soo Ji-ah, sudah jangan menangis.  Ada aku disini, kau akan baik-baik saja, eo?”  Min Ho mengusap dan mencium kepala istrinya beberapa kali dengan raut khawatir, untuk kali ini hati dan pikirannya bahkan tidak menyatu dengan perilaku dan ucapan Soo Ji.  Pria itu lebih sibuk mengusap punggung istrinya hingga tenang dan baru kemudian tersadar,  “Kau mengingatku.”  Pekiknya keras mendorong tubuh istrinya agar berhadapan, melihat kedalaman mata pias yang kemudian tertunduk.  “Soo Ji-ah?”

“Ngh!”  Soo Ji melepas kedua tangan Min Ho dari pundaknya, mundur beberapa langkah masih dengan isak yang terdengar sesekali dan kembali duduk, pada pojok rumah Soo Hyuk persis seperti tadi.

“Kau—.”

 

“Min Ho-ya….”  Panggil Soo Hyuk tiba-tiba, setengah berlari untuk mendekat dan memotong perkataan Min Ho hingga menghentikan langkahnya untuk mendekati Soo Ji.  “Hei…. polisi di luar ingin membicarakan sesuatu denganmu.  Tampaknya mereka tidak percaya saat aku bilang Soo Ji istrimu yang sedang sakit.  Kau bawa surat nikahmu atau surat kesehatan Soo Ji?”

Min Ho menoleh, tampak berpikir sejenak kemudian menggeleng.  “Tidak.  Tapi aku bisa hubungi dokter yang dulu merawatnya ataupun halmeoni-ku sebagai saksi pernikahan kami.”

“Ya, begitu juga bisa.”  Soo Hyuk mengangguk dan Min Ho berjalan keluar melewatinya, menyelesaikan masalahnya bersama polisi seperti yang tadi Soo Hyuk katakan dan pria itu bukannya menyusul Min Ho, justru diam dengan pandangan mengarah pada Soo Ji yang masih memeluk lututnya seperti tadi meski kemudian tangisnya sudah tidak terdengar.

 

 

 

 

 

Sedikit demi sedikit Soo Hyuk membersihkan benda berserakan di rumahnya yang beberapa diantaranya langsung dibuang sebab tidak bisa dipakai lagi.  Kerumunan tetangga didepan rumahnya sudah menghilang, begitupun mobil polisi berikut Min Ho yang mereka bawa untuk memberi keterangan lebih lanjut sekitar beberapa jam lalu.

Matahari sudah meninggi dan Soo Hyuk mengintip Soo Ji dari balik tembok yang membatasinya, hanya ruang tengah tempat Soo Ji berada saja yang belum dibersihkannya dan Soo Hyuk tidak bisa langsung melakukannya dengan keberadaan Soo Ji disana.  Dirinya takut jika kemudian Soo Ji kembali histeris dan keadaan tenang ini akan kembali kacau.

Soo Hyuk memilih diam, membuang barang pecah tersisa dan saat itulah Min Ho datang—dengan wajah lesu.  “Kau sudah datang?”

Min Ho mengangguk, melihat sekitar rumah Soo Hyuk yang sudah tidak seperti hari kemarin ketika dirinya tiba.  “Maaf kami menghancurkan rumahmu.”

“Sudahlah tidak apa.”  Soo Hyuk berkilah dan Min Ho mengambil kardus dengan isi barang pecah yang tadinya akan Soo Hyuk buang keluar.

“Biar aku yang membuang.”

“Tidak perlu, kau tenangkan dulu saja Soo Ji.”

“Tuliskan semua barangmu yang rusak, aku akan ganti.”

“Ya.”  Soo Hyuk mengangguk pelan dengan senyum bersahabat.  Min Ho mendesah berat dan menyingkirkan tangannya dari kardus yang masih berada dalam kekuasaan Soo Hyuk kemudian berjalan, mendekati Soo Ji yang masih dalam keadaan sebagaimana tadi ia meninggalkannya.

 

 

 

“Soo Ji-ah….”  Panggil Min Ho, pelan dan lelah.  Duduk didepan tubuh istrinya yang masih terpekur seperti tadi.  “Yeobo…”  Sebut Min Ho tepat didepan Soo Ji, berharap bahwa istrinya akan merespon panggilannya kali ini.  “Kau tidak mau melihatku?  Aku sangat lelah hari ini.  Kau tidak mau menghiburku atau mengusap kepalaku?  Menyisir rambutku?”  Min Ho bertanya, hatinya perih dengan keadaan macam ini dimana Soo Ji bahkan tidak mendengarkan ia dan serasa dirinya berbicara sendiri.  “Aku ingin kau memelukku.”  Lirih Min Ho, menatap Soo Ji yang bertahan dengan menyembunyikan wajahnya dan entah bagaimana membuatnya bangkit atau tersadar.  “Aku merindukanmu.”  Bisik Min Ho, berhasil menarik pandangan Soo Ji sedikit demi sedikit untuknya—padanya.

 

 

 

Soo Ji mendongak— tiba-tiba, mengangkat kepalanya perlahan hingga berhadapan dengan Min Ho yang sudah berada dihadapannya—duduk di lantai sebagaimana yang ia lakukan.  Binar mata Min Ho tampak, desahan leganya terdengar sebab Soo Ji yang meresponnya baik dan entah apakah istrinya ini mengerti atau tidak, paham atau tidak, mengenalnya atau tidak….  sumpah demi apapun Min Ho tidak mengerti dan jujur saja bingung dengan sikap Soo Ji sejak kemarin.

Namun dibanding bingung dan kemudian menghancurkan semuanya seperti kemarin saat menemuinya dan tadi saat berusaha menenangkannya, Min Ho lebih memilih untuk meneruskan pembicaraannya.  “Aku sangat lelah hari ini.”  Kisah pria itu tanpa mengurangi sedikitpun wajah lelahnya.  Menopang wajahnya pada kedua lutut yang terlipat seperti milik Soo Ji.  “Pagi tadi aku menemui eomma, kemudian setelah itu mengunjungi halmeoni di kuil.  Selesai itu, polisi membawaku ke kantornya.  Aku ingin mandi dan beristirahat.  Kau mau menemaniku?”  Tanya Min Ho selesai menjelaskan kegiatannya hari ini pada Soo Ji, seolah istrinya itu mengerti dan ingin mengetahui kemana perginya ia hari ini sejak pagi tadi.

Sayangnya Soo Ji diam saja meski pandangannya tertuju pada Min Ho.  Kosong, begitu yang Min Ho tangkap dari sambutan mata Soo Ji padanya.  Namun toh pria itu diam saja,  dibiarkannya Soo Ji diam seperti itu dan dirinya makin memperhatikan istrinya serta berusaha sabar menunggu jawabannya meski hanya sekedar mengangguk pelan ataupun respon macam usapan di kepalanya lembut yang kembali terjadi, mengagetkannya tentu….. dan Min Ho kembali biarkan semua itu.

Soo Ji mengerjapkan mata bengkaknya sebab menangis tadi beberapa kali, usapan tangannya pada rambut hitam Min Ho terjadi beberapa kali dan pelan seolah mencoba beradaptasi dengan itu.  Pandangan heran Soo Ji menemani gerak tangannya, memperhatikan serius apa yang dirinya sentuh bahkan hingga keningnya berkerut.

“Soo Ji-ah?”

“Ngh!”  Soo Ji menarik segera tangannya dari kepala Min Ho ketika pria itu memanggil serta menyentuh tangannya.

Soo Ji bergerak makin kebelakangan meski tahu tembok yang menjadi pembatasnya tidak akan mengendur berapa kalipun ia mendorong, tangannya yang tadi Min Ho sentuh dipegangnya kuat dan tatapan tidak sukanya kembali muncul—tertuju pada Min Ho.

“Maaf.”  Min Ho ikut memegang tangannya seolah berjanji tidak akan melakukannya lagi.  Pria itu tersenyum—paksa.  “Mau mandi bersamaku?  Mencuci rambutmu.”  Tunjuk Min Ho pada rambut Soo Ji yang panjang dan kusut.  Wanita itu mengikuti arah tunjuk suaminya, menyentuh tumpukan rambutnya yang bahkan tidak bisa di uraikannya.  “Eotte?”  Min Ho menawarkannya sekali lagi.  Berusaha membujuk istrinya yang melihat ia masih dengan pandangan siaga seolah akan melakukan hal buruk.

Uluran tangan Min Ho seolah mengajak dan bagai ketika pangeran tampan mengajak Cinderella untuk berdansa bersamanya tampak, persis.  Soo Ji menatap Min Ho kali ini, dengan sedikit pandangan melemah dan melihat uluran tangannya setelah itu—bergantian.

Jika dipiki-pikir, baik oleh Min Ho maupun Soo Ji andai bisa melakukannya, ini adalah pembicaraan panjang pertama mereka sejak keadaan wanita itu menyedihkan, dan ini juga ajakan mandi baik-baik Min Ho untuk pertama kalinya pada Soo Ji sebab biasanya…. pria itu langsung menyeret istrinya terburu ke dalam kamar mandi, paksa, mau tidak mau—sebab tidak memiliki waktu yang banyak untuk bersabar seperti saat ini.

Soo Ji kembali diam seraya memperhatikan uluran tangan bertahan Min Ho, melihat sekali lagi pria itu untuk terakhir kalinya entah setelah berapa kali dan dengan ragu… tangannya tergerak—perlahan, mendekati uluran tangan Min Ho dan menggapainya, membalas keinginan pria itu dengan keinginannya sendiri tanpa paksaan hingga akhirnya tidak menjerit ataupun menghindar seperti tadi.

Min Ho tersenyum lega, digenggamnya tangan Soo Ji yang sudah ada dalam genggamannya dan berdiri ia perlahan, mengimbangi gerak lambat Soo Ji hingga kemudian berjalan menuju kamar mandi bersamanya yang agak tertatih.

“Ngh.”  Soo Ji bersuara, bukan untuk melepas genggaman tangan Min Ho darinya namun wanita itu meringis dan mengeratkan pegangannya.  Menolehkan kepala Min Ho yang tentu langsung khawatir mendapati wajah pias Soo Ji bersama bibir bawahnya yang tergigit seolah menahan sesuatu.

“Kau kenapa?”  Min Ho bertanya, khawatir dan penasaran.  Namun Soo Ji diam saja, tidak menjawab maupun menunjukkan sesuatu kecuali matanya yang kemudian bergerak kebawah, pada arah kakinya yang berdarah telapaknya dan itu terlihat jelas pada bekas tapakan kakinya.

Min Ho mengikuti arah pandang istrinya, membulatkan matanya terkejut dan melupakan darah yang tadi sempat dilihatnya ketika baru saja masuk.  “Kakimu berdarah.”  Pria itu berucap, melepas tangan Soo Ji kemudian kembali duduk sekedar melihat luka di kaki istrinya.  “Sini, kau pegangan di kepalaku ya?”  Ucap Min Ho meletakkan kedua tangan Soo Ji pada puncuk kepalanya untuk berpegangan dan tetap berdiri saat ia mengangkat kaki istrinya satu persatu, melihat luka disana yang tampaknya diakibatkan benda pecah tadi.

 

 

Soo Ji diam saja, mengikuti apa yang suaminya lakukan dan katakan, bahkan diam saja ketika Min Ho menyentuh kakinya dan ia mengikuti arah pandang suaminya ketika mengangkat satu persatu kakinya untuk melihat luka yang menyebabkan perihnya sejak tadi.

“Kita mandi sekalian membersihkan lukamu, kemudian setelah itu baru di obati.  Bagaimana?”  Min Ho bertanya, mendongak dengan tangan Soo Ji yang masih berada pada puncuk kepalanya.

Soo Ji mengernyit, menyipitkan matanya dengan bibir bawah yang masih digigitnya menahan sakit.  “Kau bisa berjalan?”  Pria itu bertanya sambil berdiri, memegang kedua tangan istrinya dan wanita itu justru menunduk, memperhatikan kedua kaki pucatnya yang terasa perih pada bagian bawahnya.  “Aku akan menggendongmu ya?”  Tanya Min Ho sekali lagi dengan tanggapan yang sama sekali tidak ada dari Soo Ji, wanita itu tetap menunduk memperhatikan kedua kakinya dan meringis ketika ia menggerakkannya sedikit.

Min Ho menarik nafas panjang, melihat Soo Ji yang bertahan dengan perhatiannya pada kedua kaki berdarahnya dan Min Ho tidak bisa menunggu lama-lama untuk jawaban Soo Ji sebab jika tidak segera di obati maka lukanya akan semakin parah.  “Baiklah aku akan menggendongmu.”  Putus Min Ho, menggendong segera Soo Ji dengan kedua tangannya dan teriakan terkejut juga rontaan agar Min Ho melepasnya langsung terjadi.  Mengagetkan pria itu sebab tadi istrinya sudah mulai agak tenang dan kini kembali mengamuk hingga jambakan rambutnya kembali terulang.

 

 

 

“Soo Ji-ah!  Hei!  Hei!”  Teriak Min Ho seraya menggoyang mudah tubuh kurus Soo Ji dalam gendongannya.  “Aku menggendongmu agar kau tidak kesakitan saat berjalan, atau kau mau berjalan saja?”  Tanyanya, menatap kedua mata Soo Ji yang mulai menatapnya agak sedikit tenang—termangu,  dan wanita itu menunduk—seolah mengaku salah.  Kedua tangan kurus Soo Ji mengalung erat dan sempurna pada leher Min Ho kemudian, seolah jawaban bahwa ia tidak mau berjalan—dan berlanjut dengan meletakkan kepalanya pada dada Min Ho tanpa berteriak, menolak, atau mengatakan sepatah kata lagi.

Min Ho mendesah, mengurungkan niatnya menurunkan Soo Ji dan ia benarkan letak gendongannya sebab tadi Soo Ji menolak sembari bergerak liar.  Min Ho membalik badannya, mendapati Soo Hyuk yang ternyata memperhatikannya sejak tadi dan pria itu membukakan pintu kamar mandi serta mengambilkan handuk untuknya.  “Terimakasih.”  Kata Min ho yang hanya Soo Hyuk angguki pelan.   Segera Min Ho masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu apapun lagi, dan mendudukkan Soo Ji pada bathtub.  Memberi perhatian terlebih dulu pada kedua telapak kaki istrinya, melihat dengan jeli apakah ada benda tajam yang menusuk disana dan untungnya tidak ada.

Soo Ji diam saja memperhatikan Min Ho yang melihat kedua telapak kakinya, wanita itu meringis sesekali saat Min Ho menyentuh kulit telapak kakinya namun toh…. wanita itu diam saja dan tidak berontak.  Kedua tangannya saling berpegangan dan Soo Ji letakkan pada dadanya sambil memperhatikan Min Ho dengan polos.

“Tidak ada barang pecah yang tertinggal.”  Min Ho menjelaskan, meletakkan kedua kaki Soo Ji pada pangkuannya kemudian mengguyurnya dengan air sekedar membersihkannya.

“Ngh…”  Soo Ji meringis lebih keras, meremas ujung bathtub dan matanya meyipit ketika berpandangan dengan Min Ho.

“Aku mencucinya agar tidak infeksi.  Sebentar ya?”  Soo Ji mengangguk sembari menggigit bibirnya kembali, meyentak Min Ho untuk kesekian kalinya sebab respon yang tidak diduganya.

Wanita itu menarik nafas panjang, bersiap untuk perih selanjutnya dan Min Ho tidak mau terlarut dengan keterkejutannya sebab respon istrinya.  Sekali lagi, ia siramkan air  pada kaki istrinya, menghilangkan darah disana agar kemudian mereka bisa segera membersihkan badan masing-masing.

 

 

 

 

7cc63aa3defddf91a52bef360e20dbd6

Min Ho mencuci rambut Soo Ji pelan, tidak seperti yang biasa dirinya lakukan selama 2 tahun ini.  Sambil memandikan Soo Ji dalam ketenangan yang tidak pernah terjadi, Min Ho berpikir—mungkinkah tidak ada kemajuan sama sekali pada Soo Ji selama 2 tahun ini sebab dirinya tidak melakukan komunikasi dengan baik?  Mungkinkah selama ini Soo Ji selalu berteriak padanya karena dirinya tidak pernah bersikap selembut dan sesabar hari ini ataupun kemarin?  Mungkinkan 2 tahun ini Soo Ji menolaknya sebab dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai kehendak hati Soo Ji?  Sebab Soo Ji tidak menyukai perilakunya dan karena itu istrinya ini selalu mengamuk?

Min Ho mengangguk, mungkin memang benar karena itu sebab seperti yang sudah dijelaskannya kemarin pada Soo Hyuk, ia terlalu sibuk bekerja dan jikapun mengurus Soo Ji maka ia melakukannya di saat waktu yang sedikit dan dengan paksaan.

“Nyaman?”  Min Ho bertanya sebab Soo Ji yang tidak mengatakan apapun, wanita itu bahkan diam saja hingga saat ini dan tidak menunjukkan respon lebih jauh.  “Halmeoni meminta kita untuk pergi ke Malibu, tinggal di salah satu villa yang keluarga abeoji-ku miliki.  Kau mau?”  Tanya Min Ho, memiringkan kepalanya untuk mengintip ekspresi istrinya namun tidak mendapatkan apapun selain Soo Ji yang diam dengan mata terpejam seolah menikmati semua perilakunya.  “Villa itu dekat dengan pantai, kita bisa bermain di tepi pantai setiap hari.  Kau bahkan bisa berenang dan menyelam di laut.  Apa kau mau?”  Tanyanya tanpa lelah sambil mengguyur pelan rambut istrinya agar bersih dengan air.  Soo Ji mendongak sesuai gerakan tangan Min Ho, menurutinya sekali lagi dan itu memudahkan Min Ho membersihkan rambut berbusa istrinya.

Dengan pelan, Min Ho membantu Soo Ji turun dari tepian bathtub yang didudukinya dan membalik tubuh istrinya hingga mereka bisa saling berhadapan.  “Wajahmu sudah bersih.  Rambutmu juga sudah bersih sekarang.”  Tutur Min Ho menyisir rambut basah Soo Ji, menarik kedua mata wanita itu mengikuti gerak tangan suaminya pada kepalanya, dan ia ikuti gerakan itu pada sisi kepalanya yang lain.

Tersenyum—Soo Ji, membuat Min Ho ikut tersenyum karenanya.  “Kau senang sebab rambutmu sudah bersih sekarang?”  Soo Ji menarik pandangannya pada Min Ho yang tersenyum.  Diam, dan menurunkan tangan berikut pandangannya kemudian.

“Kenapa menunduk?”  Soo Ji menggeleng pelan hingga Min Ho hampir tidak melihatnya.  “Kau mengenalku?”  Tanya Min Ho, menggenggam salah satu tangan istrinya kemudian menariknya—meletakkan tangan itu pada dada kirinya.  “Lihat aku, apa kau mengenalku Soo Ji-ah?”

Satu tangan Min Ho terulur, menyentuh dagu Soo Ji untuk mengangkat wajah tertunduk itu agar membalas tatapannya.  “Aku suamimu, Lee Min Ho.  Apa kau mengingatnya?”  Tuntut pria itu tidak sabar jika melihat segala respon Soo Ji padanya hari ini.

Min Ho ingin agar hari panjang ini segera usai, agar Soo Ji kembali melihatnya seperti dulu, aku Soo Ji kembali memperlakukannya seperti dulu, dan agar Soo Ji kembali bersikap seperti dulu.  Dirinya ingin buru-buru mengadu, dirinya ingin buru-buru mengeluh bahwa sudah tidak sanggup dengan ini.  Dirinya ingin sikap Soo Ji yang dulu agar bebannya tidak seberat saat ini namun…. tentunya itu tidak bisa dan tidak mungkin terjadi pada hari ini.

 

 

Soo Ji merengut, wanita itu tampak tidak suka dengan suasana ini dan dengan sedikit memaksa—tangannya yang Min Ho letakkan pada dadanya dilepaskan, juga kepalanya yang kemudian berpaling hingga dagunya tidak bersentuhan dengan tangan Min Ho, membuat wajah berbinar suaminya tidak lagi tampak, dan menurunkan kedua bahu tegapnya.

Min Ho mendesah panjang, dirinya harus lebih banyak bersabar dan tidak memaksa seperti tadi.  Min Ho menekan keinginannya kemudian, tidak mengatakan ataupun mengajak Soo Ji bicara apapun lagi setelah itu, fokus ia membersihkan badan Soo Ji dan baru kemudian membersihkan badannya sendiri.  Permintaan neneknya kali ini benar, dirinya perlu tinggal di Malibu untuk lari dari kejaran abeojinya dan demi Soo Ji yang tidak akan terganggu serta mencari ketenangan dan suasana baru.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Soo Hyuk meletakkan kotak obatnya pada meja tempat Min Ho mengobati luka di kaki Soo Ji pada sofa sampingnya.  Mata siaga dan takut Soo Ji serta pegangan mengeratnya pada lengan baju Min Ho begitu dirinya datang, sama sekali tidak Soo Hyuk mengerti.  Kenapa?  Pikir pria itu.

 

 

“Dia temanku.”  Min Ho bersuara ikut menangkap pandangan tegang Soo Ji pada Soo Hyuk selain karena pegangan erat tangan istrinya.  “Dia juga temanmu, kau biasa memanggilnya Soo Hyuk oppa, kau lupa?”

Soo Ji bergidik, melebarkan pandangannya makin berhati-hati begitupun dengan pegangan tangannya pada Min Ho yang sudah bagai perasan, wanita itu bahkan menggeser tubuhnya menjauh hingga terantuk ujung sofa demi menjauh dari Soo Hyuk.

 

 

“Kau punya foto ketika kalian bersama?”  Tanya Min Ho melepas pegangan tangan Soo Ji yang membuatnya kesakitan, duduk pria itu kemudian di sisi istrinya dan memberi pelukan agar lebih tenang.

“Ya, sebentar.”  Soo Hyuk mundur perlahan, memandang Soo Ji dengan kening berkerut namun kemudian pergi untuk mengambil fotonya seperti yang Min Ho sarankan.

“Tenanglah, dia sahabat kita.”  Hibur Min Ho lagi, menepuk pelan pundak Soo Ji dan kemudian merangkulnya dengan tenang.

Soo Ji merengut gusar, namun toh ia tidak menunjukkan satu respon gerakan apapun.  Dibiarkannya Min Ho memeluk juga mengusap punggungnya, begitupun tangannya yang entah bagaimana tidak mau lepas meremas kemeja Min Ho hingga tampak terkoyak.

 

 

“Ini.”  Ujar Soo Hyuk menyerahkan sebuah foto pada Min Ho yang kemudian ditunjukkannya pada Soo Ji.

“Lihat?  Ini kau, ini aku, ini Soo Hyuk, dan ini Soo Jung.”  Tutur Min Ho, menunjuk satu persatu orang bersama nama yang dirinya katakan dan kenalkan pada Soo Ji seolah baru.  “Kau ingat tidak?  Soo Jung sahabatmu sejak kecil, dan Soo Hyuk yang dulu selalu melindungimu jika ada pria yang mengganggu kalian?  Kalian bahkan disangka saudara kandung karena memiliki nama yang hampir sama.  Kau ingat?”

Soo Ji menggeleng, mengerutkan keningnya dan mengeratkan pelukannya pada Min Ho seolah mencari perlindungan.  Tatapan mata Soo Ji yang tidak bisa Min Ho artikan, diterimanya cukup lama.  Namun pada akhirnya wanita itu menggerakkan sekali lagi penglihatannya, pada foto dalam genggaman Min Ho… dan pada Soo Hyuk yang melihatnya dengan posisi masih berdiri—bergantian.

“Kau sudah ingat?”  Tanya Min Ho sekali lagi.  Soo Ji mengusap hidungnya dan masih menggeleng, memasukkan tubuhnya dalam pelukan Min Ho dan mendorong tangan suaminya yang memegang foto seolah perintah untuk menyingkirkan itu.

Baik Min Ho maupun Soo Hyuk saling berpandangan dan membuang nafas berat, bersama-sama.  “Sudahlah, tidak apa.”  Soo Hyuk menghibur dan duduk, berharap bahwa Soo Ji tidak masalah dengan itu… dan untungnya benar-benar tidak masalah, menjerit dan melemparinya benar-benar tidak Soo Ji lakukan padanya hingga pria pemilik rumah itu bisa duduk tenang.

“Semuanya butuh proses.”  Min Ho memberi alasan, mengusap ujung kepala Soo Ji dan menciumnya.

“Ya, lagipula dia butuh waktu lama juga untuk mengenalimu.”  Candanya membuat Min Ho tersenyum tipis.  “Semalam kau bilang Soo Ji tidak memiliki kemajuan?”

“Itu juga yang aku pikir.”  Sambut Min Ho, kembali mendudukkan dirinya di lantai sembari mengobati kaki istrinya yang belum selesai.  “Tampaknya aku kurang perhatian selama ini.”

“Ya, mungkin.”  Soo Hyuk bergidik antara tidak tahu dan mengiyakan.  Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menatap Soo Ji yang masih bertahan dengan kepala menunduk sembari meringis pelan sesekali saat perih ia rasakan ketika Min Ho mengobatinya.  “Apa kata polisi tadi?”

“Mereka memintaku untuk menjaga Soo Ji lebih baik dan tidak menganggu tetangga seperti tadi.”

Soo Hyuk mengangguk, paham.  “Kau mau makan apa?”

“Apa saja yang menurutmu layak dimakan.”

“Dasar.” Gelak Soo Hyuk atas jawaban Min Ho.  “Baiklah aku pergi beli makan dulu.”

“Ya.”  Min Ho menoleh dan mengangguk, segera setelah itu Soo Hyuk beranjak pergi—meninggalkan suami istri itu untuk kembali menikmati waktu tenangnya.

 

 

 

Min Ho mendongak sambil tersenyum, melihat wajah istrinya yang tertutupi rambut dan dirinya bangkit selesai mengobati juga membalut luka di kaki Soo Ji.  “Rambutmu aku ikat ya?”  Tanyanya sambil mencari apapun yang bisa digunakannya untuk mengikat rambut tidak beraturan istrinya.  “Atau kau mau memotongnya?”

“Ngh!”  Soo Ji mendesis sinis, wanita itu bahkan merengut dan melempar tatapan tidak sukanya.

Min Ho tergelak.  “Baik-baik, tidak jadi.  Maaf.”  Ujarnya mengangkat kedua tangannya seolah meyakinkan Soo Ji bahwa ia tidak memegang sesuatu yang berbahaya dan akhirnya pria itu menemukan benda yang bisa digunakan untuk mengikat rambut Soo Ji.  “Sini aku ikat.”  Tuturnya sembari mendekat, mengumpulkan helai demi helai rambut Soo Ji menjadi satu dan dengan sedikit berusaha juga kaku, akhirnya Min Ho berhasil mengikat rambut Soo Ji setelah beberapa menit terlewat dan juga ringisan sakit Soo Ji, meski tidak serapi yang biasa wanita itu lakukan dulunya—Min Ho bernafas lega telah menyelesaikannya.  “Lain kali akan aku lakukan dengan baik dan benar.”  Ucapnya seolah janji, membalik tubuh Soo Ji agar kembali berpandangan dengannya namun mata melotot dan tidak suka wanita itu yang kemudian tampak, mengagetkan Min Ho.  Apa ada yang salah?  Apa ada hal salah yang telah dirinya lakukan?  “Soo Ji-ah?  Kau kenapa?”  Min Ho bertanya, mencoba menangkup pipi tirus istrinya namun wanita justru menolak dan berteriak seperti sebelum-sebelumnya, memukulinya seperti kemarin—bagai orang gila padahal Min Ho berpikir bahwa semua hal kasar Soo Ji tidak akan pernah terjadi lagi.  “Kau kenapa?  SOO JI-AH!  Hei!”

 

 

 

“Oppa.”

“Oppa?  Op—oppa?”  Min Ho merengut sembari menggumam, dengan yakin dirinya mendengar panggilan itu namun bukan dari Soo Ji sebab nyatanya wanita itu tengah sibuk berteriak dan memukulinya sambil menangis.

“Min Ho oppa.”

j (37)

“Ka—kau?  Sedang apa kau kemari?”  Todong Min Ho tidak percaya dengan kehadiran wanita yang telah berdiri dibelakangnya entah sejak kapan dan mengerti ia kini dengan kemarahan Soo Ji.

“Aku—.”

“Aaaaa………………”  Teriak Soo Ji makin kencang dan tangan menarik-narik baju Min Ho hingga sobek.

Min Ho mengabaikan Naa He, wanita yang berdiri di belakangnya, wanita yang dinikahinya beberapa hari lalu, dan wanita yang menjadi alasan Soo Ji marah.  Pria itu fokus pada Soo Ji dan memeluknya erat, kemudian membawanya ke dalam kamar secara paksa, membiarkan Naa He melihat itu semua dengan helaan nafas panjang dan tangan menggaruk kepalanya kasar.  “Sial.”  Desis wanita itu, duduk sembarang pada kursi disana bahkan tanpa niatan untuk meminta ijin pada pemiliknya, maupun salah satu penghuninya.

 

“Untuk apa kau kemari?!”  Serbu Min Ho galak setelah menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya, membiarkan Soo Ji di dalam sana yang berteriak, dan mendekati Naa He tidak suka.

“Setidaknya dengarkan aku dulu dan tidak perlu marah begitu.”  Ungkap Naa He menampakkan wajah lelah.  “Apa kau pikir aku mau kemari dan menemuimu?”

“Lalu untuk apa kau kemari?  Aku akan segera menceraikanmu jadi pergilah, kita tidak punya urusan apapun.”

“Jaga bicaramu tuan.”  Naa He membalas pandangan tajam Min Ho, berdiri ia dan berhadapan lebih sejajar dengan Min Ho.  “Kau pikir aku mau menikah denganmu?”

“Baiklah kalau begitu.  Maka kita impas, perceraian bisa segera dilakukan.”

“Aku tidak pernah bilang ingin bercerai denganmu sayangnya.”

“Apa?”  Min Ho bertanya gusar dan heran, sementara Naa He justru tersenyum dengan tangan memainkan rambut panjangnya dan kembali duduk.

“Jika kita bercerai aku tidak mendapatkan warisan dari orang tuaku, aku tidak mau.”  Gelengnya dengan jari yang ia gerakkan menyilang.  “Aku tidak akan mengganggumu dengan istrimu tentu saja, tapi seperti perjanjian semula bahwa kau harus menghamiliku—.”

“Ya, Im Naa He.”

“Lee…. Naa… He…”  Wanita itu segera menginterupsi, membenarkan posisinya saat ini dihadapan Min Ho dan pria itu makin tidak percaya dengan perilaku wanita didepannya.

“Terserahmulah ya, Lee…. Naa…. He….”  Min Ho mengikuti ucapan Naa He tadi, membuat wanita didepannya itu mengangguk seraya tersenyum puas.

“Ne, oppa.”

“Bukankah kau tidak mencintaiku?  Bukankah kau menjalani pernikahan ini dengan terpaksa dan bukankah kau memiliki kekasih?”

“Ne.”  Naa He berucap girang, mengangguk untuk semua kata Min Ho yang benar.

“Kenapa kau tidak hamil bersama kekasihmu dan kemudian mengaku pada keluargamu juga keluarga abeoji bahwa itu bayiku?!”  Teriak Min Ho gusar.  Entah bagaimana ia bisa mengatakannya dan entah apakah kemudian Naa He akan marah padanya sebab ucapan macam itu, Min Ho belum tahu.  Pria itu menggaruk kasar kepalanya begitupun usapan kesalnya pada wajahnya sendiri.

 

Kedua alis Naa He menyatu, tangannya yang tadi memainkan ujung rambutnya semangat mulai melemah.  Di tatapnya Min Ho  “Tidak.”  Jawab Naa He menggeleng, menatap Min Ho dengan tidak percaya dan pria itu membalas pandangannya.

“Kau tidak mau?”  Susul Min Ho sengit bertahan pada keputusannya sebelum ini.

Naa He bertepuk tangan dengan wajah kosongnya, berdiri sekali lagi untuk lebih jelas berpandangan dengan Min Ho dan entah bagaimana—wanita itu justru melangkahkan kakinya supaya lebih dekat dengan Min Ho.

“Apa yang kau lakukan?  Mundur!”  Teriak Min Ho.

Naa He tergelak, bahkan tersenyum lebar.  “Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?  Bodohnya.  Aku kan bisa hamil dengan kekasihku kemudian anak itu aku akui sebagai anakmu.  Benar begitu kan oppa?”

Min Ho mendesah, ia berterimakasih pada abeojinya yang menikahkannya dengan Naa He, wanita gila yang menerima idenya mentah-mentah.  “Terimakasih untuk idenya suamiku, aku pergi dulu untuk menghadirkan anak kita ya.”  Jujurnya senang, menepuk pundak tegap Min Ho hingga mengagetkan wajah pria itu dan Naa He pergi begitu saja, seperti ia yang datang dengan tiba-tiba…. begitu pula wanita itu pergi dengan tiba-tiba.

Min Ho menggeleng dengan tangan mengelus dadanya, tidak percaya dengan kelakuan Naa He dan teriakan Soo Ji yang makin menjadi menjadi alarm tersendiri untuknya.  Bagaimana caraku menenangkan Soo Ji kali ini?  Min Ho menggumam dalam hatinya, semua sudah lebih baik dan akhirnya hancur lagi seperti ini.

Pria itu meremas rambutnya frustasi, masuk ke dalam kamar dengan segala hal kasar yang kembali Soo Ji berikan padanya bersama teriakan dan tangisan yang selalu menemani.

Namun setidaknya pria itu bersyukur, masalahnya dengan Naa He selesai dan dirinya hanya perlu fokus pada Soo Ji.

 

Namun pada kenyataannya tidaklah begitu dan tidak semudah itu, seorang wanita yang berdiri tepat di pintu masuk rumah meremas koran dalam tangannya, geram melihat apa yang terjadi pada pasangan suami istri didepannya.

Tampaknya koran dalam remasannya penting, terbukti…. wanita berambut panjang itu melipatnya rapi dan memasukkannya dalam tas kemudian pergi dari sana…. tidak mau melihat hal memuakkan macam pasangan suami istri yang mulai tenang seperti sebelumnya itu.

 

 

 

 

Aku benci orang ketiga apapun alasannya apalagi kalo pelakunya tahu bahwa si orang pertama punya pasangan.  Karena itu, tenang aja….. Naa He bukanlah musuh bersama di FF ini.  Lagian siapa sih yang mau jadi penganggu? toh dirinya sendiri juga gak mau di ganggu  *Nyonya Lee kedua.  Kalo gak ada dia masalahnya gak bakal ada FF ini ;( lol

Inspirasi?  Gak ada, sebenarnya kan ini FF oneshoot.  cuma karena banyak yang minta makanya aku jadikan chapter dan otakku melebarkan jalan cerita sampai sedemikian rupa. kekekeke

Tapi kalo bener2 inspirasi awal cerita, sebenarnya sih gara2 orang gila di desa tepat KKN wkwkwkwk.  Jadi dia ditinggal suaminya sama cewe lain dan akhirnya gila, dan keluarganya, dan anaknya ikut tinggalin dia.  begitulah dan ya…. aku pengen aja bikin FF dengan cast cewe yg rada2 begini –” cuma berhubung aku gak tega bikin Suzy ditinggal semua orang, aku jadikanlah Min Ho untuk gak tinggalin dia apapun alasannya hahahaha😀

17 responses to “#2 All of Us

  1. Syukurlah 1 mslah bisa slese, skrg tinggal minhonya aja yg bner” hrus ekstra sabar bwt mnghadapi sooji…
    Klo d pkir”, emg mungkn dr awal sikap kasarnya dy krn emg gaada yg brusha mngerti dy.. Saat” trberrat dlm hdupnya mlah smua org mningglkan dy, aku bisa mmaklumi itu sih..
    Apakah kmatian minji bkin dy trauma dan bkin dy ktakutan klo liat org asing??? Mksutku stlah dy kna gangguan jiwa kan dy ga knal sma smua org…
    D tunggu next nya authornim ^^

  2. Ceritanyaa jadi lebih seruu 😧
    Semoga sooji cepat sembuh ..
    Semangaat authornim 🙌
    Ditunggu next chapnyaa ,saranghaae😘 😍

  3. Eonnie keren… Kasihan minho… Ga kebayang gmn dy ngejalaninnya.. Berharap minho tetap sabar marawat suzy dan suzy ada kemajuan buat kesembuhannya… Sumpah gemes am na hee.. Kekeke… Dan semoga appa dan eommanya minho bs menerima pilihan minho…
    Penasaran eon siapa yg denger percakapan minho dan na hee.. Ditunggu next chap nya… Fighting

  4. Kapan suzy-minho akan pergi?
    Kuharap mereka secepatnya pergi,menjauhkan diri dari semua masalah ini dan juga agar suzy bisa lebih membaik.

  5. Kuharap musuh bersamanya cowok yg suka suzy aja deh…. setuju sama author jangan biarkan suzy ditinggalkan semua org hiduupp authoorrr… yeayyyy hahaha

  6. untung minho jawab tdk…soo hyuk lbh mengerti suzy..suzy sgt suka sm rambutny y,apa dlu minho pernh memuji rambut??woah,suzy ada perkembangan,smoga cpt sembuh…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s