[Ficlet] The Prompt

the-prompt

May 2016©

The Prompt

Inspired from KBS2  함부로애틋하게_티져 2

Miss A Bae Suzy as Noeul and Actor Kim Woobin as Shin Joonyoung | AU, Drama, slice of Life, Urban-life | ficlet | PG 15 (warning! harsh words used) | disclaimer: beside the story-line and poster, I own nothing. 함부로애틋하게’s character that be used belongs to KBS2 Drama

.

.

You start it first, then like a burning fire, I’d like to follow..

.

Debu-debu kosmik berekor api panjang menguasai studio sekaligus rumah tinggal Aktor Top Korea selatan Shin Joonyoung. Mereka berkuasa untuk membungkam tiap suara para kru yang hanya mampu memandang atasannya dan si aktor dengan getir. Sang produser, Noeul, dalam gelegak tak beraksara mengganyang perilaku miring Aktor Shin yang benar-benar kelewat batas, untuk kali ini dan kali-kali sebelumnya.

Untuk segala batasan yang telah Joonyoung sebrangi tanpa rasa bersalah dalam program direksi Noeul, ia bisa maklumi meski harus makan hati sendiri. Seperti saat asisten Joonyoung terkena disentri dan berhalangan hadir untuk syuting, Noeul terpaksa menjadi supir tak berbayar Joonyoung.

Lelaki tengil itu dengan licik terus memaksanya hingga Noeul menjadi gerah sendiri. Seorang PD masa sampai harus turun tangan untuk urusan rendahan begitu? Menyupiri seorang bintang tamu acaranya sendiri termasuk job-list yang paling tidak Noeul sukai. Ingat, aku adalah seorang PD dan tidak boleh kalah atas sikap kurang ajar para idol dan aktor kacangan seperti dia! Noeul hanya bisa menguatkan diri sendiri. Sikap tidak masuk akal Shin Joonyoung kepadanya benar-benar di luar jangkauan kotak analisa Noeul.

Seperti sekarang, ketika para kru hanya bisa memutar-balikkan tatapan antara Noeul dan Joonyoung. Perseturuan antara keduanya sebenarnya adalah pertunjukkan yang menarik. Tetapi tentu saja para pion yang dipimpin oleh Noeul itu tidak menunjukkannya secara gamblang. Bisa-bisa dari Noeul mereka dapat surat pemecatan berjamaah.

Lelaki jangkung dengan poni lempar itu mengiris selapis senyum miring yang angkuh. Terang-terangan sekali Shin Joonyoun menantang PD Ular itu—julukan yang diberikan khalayak kepada Noeul lantaran begitu berbisa hingga mujarab melumpuhkan para petinggi televisi dan menyebarkan racun pada puluhan judul film pendek yang mengedepankan idealismenya.

Wanita yang duduk di kursi lipat berwarna hijau tentara itu mendekap lengan dengan ekspresi sedingin tentara Korea utara. Senderut pada bibir merahnya yang terkatup rapat membawa Joonyoung pada jawaban atas pertanyaan yang ada di skrip.

“Wah, ini pertanyaan yang bagus. Siapa sih penulisnya?” kelakar Joonyoung lalu melirik wanita tambun bersurai mi yang gusar sedari tadi. Penulis Nari pun hanya bisa menunduk dan menatap Noeul takut-takut. Joonyoung pun melanjutkan,

Bagaimana kehidupan impian seorang Shin Joonyoung? Well, jika aku tidak menjadi seorang aktor, aku akan menjalani kehidupan impian yang setiap hari kerjaannya hanya bersenang-senang. Tidak peduli dengan orang yang aku tidak suka, jika berani macam-macam aku sendiri tidak akan segan untuk menghabisinya. Pergi malam pulang pagi, berpesta pora tujuh hari tujuh malam dan ditemani oleh wanita cantik yang berbeda tiap harinya. Whoa, benar-benar deh, “

Tidak hanya bibir dan mata pria itu yang bergerak. Setiap anggota tubuhnya bahkan bergaya seolah emotif dari perasaannya dalam memaknai tiap kata yang ia ucap. Seperti bagaimana ia mengapalkan tangan saat tak segan-segan untuk menghabisi orang-orang. Bahu dan pinggul yang bergoyang-goyang saat menyebutkan kata pesta tiap hari.

Kamera yang menjadi saksi bisu hanya bisa pasrah merekam pernyataan dan ekspresi santai Joonyoung barusan. Separuh dari kru terkesiap menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri keangkuhan dan invalid nyata seorang Shin Joonyoung. Berbeda dengan Noeul yang kini malah mengangkat bibir dengan sinis.

Mengangkat kepala tinggi-tinggi, “Junyoung-ssi, siaran ini bukan arena untuk main-main, “ menyusul amukan sentimen Noeun pada sikap kasar Joonyoung.

Joonyoung tentu tidak tinggal diam. Seluruh lensa kamera yang fokusnya mengarah ke dirinya, Joonyoung pilih satu yang berada tepat di depan hidung Noeul. Pria bermata segaris itu menggiring tubuh selangkah lebih maju. Tatapan sepasang mata arang yang begitu analitis Joonyoung tautkan pada mata gula karamel PD perempuan kelewat tangguh itu.

Dengan cepat, klausa permintaan paksa itu pun mengudara, “Mari berkencan denganku, Noeul PD-nim.” sukses menyerap keseluruhan animo para kru secara utuh. Bukan hanya terkesiap, kasak-kusuk penuh intrik juga aktif bersuara di alam pikiran mereka masing-masing. “Cukup tiga bulan, mari kita berkencan dengan penuh cinta.”

Senyum kemenangan berkibar di atas Shin Joonyoung. Ia begitu menikmati ekspresi kaku dan pucat Noeul mendengar ajakan kencan bukan candaan darinya. Kapan lagi coba ia mampu membuat Noeul kalah telak. Tentu saja kesempatan itu tidak akan Joonyoung lewatkan. Satu dari milyaran, Joonyoung rela tukar seluruh hidupnya satu kali lagi untuk itu. Atau bahkan berkali-kali.

Pusaran badai yang tidak kalah dahsyat tiba-tiba meruntuhkan tembok dingin yang selama ini Noeul bangun. Dominasi warna violet seperti langit Antartika yang disergap kilap Aurora berangsur-angsur mengisi relung kosong yang secara alami terbentuk sejak delapan tahun yang lalu. Noeul meragukan serangan ilusi dalam hatinya. Kaku dan dingin ekspresi wajahnya Noeul tetap patenkan. Ayolah, dia hanya Shin Joonyoung, aktor tengik kacangan yang sok. Jangan sampai tertipu kelicikannya.

“Joonyoung-ssi, Anda pernah ditolak terang-terangan?” Noeul merendahkan nada suaranya, bersikap sok ramah kepada si penyulut dendam kesumat. Senyum pasta gigi Joonyoung perlahan-lahan redup.

“Kau bertanya seolah-olah Korea selatan dan utara akan berdamai, PD-nim.” timpal Joonyoung dengan percaya diri setinggi puncak Himalaya.

“Oh ya? Well, kalau begitu selamat Shin Joonyoung. Kau baru saja ditolak.”

Gelak dalam bentuk paragraf mengular dari para kru yang menyaksikan sekali lagi pertarungan antara Noeul dan Joonyoung. Data di atas kertas selama ini memang tak pernah menjauhi kumpulan aksara Noeul.

Seperti api yang membakar kayu hingga menjadikannya abu, ekspresi kemenangan Joonyoung menggelap dan menyisakan sepotong arang. Namun pria Shin tetap membersitkan sebuah makna tak berkarakter kepada Noeul melalui pandangan kukuh mata arangnya. Dan, Joonyoung membengkalaikan sekali lagi takdir yang menguntit mereka berdua agar menjadi tembok waterpruf yang diguyur hujan selama seabad penuh.[]


SUDAH PADA LIHAT TEASER-NYA KAN?!!!! GAK SABAR KAN? GREGETAN BANGET KAN? ARGHHHHHH, POKOKNYA KEEP TAWAKAL AND SUPPORTING OUR SUZY IN EVERY FIELDS, KHUSUS KALI INI DI BIDANG AKTING DRAMA. NOEUL PD-NIM, HWAITTING!❤

13 responses to “[Ficlet] The Prompt

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s