#3 All of Us *Cut Ver.

AOU3 copy

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Min Ho, Bae Soo Ji

Support Cast : Lee Soo hyuk

Genre : Marriage Life, Romance, Sad

Rating : PG

Length : Sequel | Chapter 3

Disclaimer : All story is mine

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

“Curacao.”  Sebut Soo Hyuk tiba-tiba dengan tangan meletakkan kopi hangat buatannya pada meja dihadapan Min Ho, cukup berhasil jika itu dilakukan untuk menarik mata gamang Min Ho yang entah memandang apa sejak tadi.  Min Ho ekori pergerakan sahabatnya hingga duduk mereka berhadapan, cangkir dalam genggaman Soo Hyuk—persis seperti cangkir yang juga disodorkan pria itu padanya, berikut isinya.

Min Ho mengerutkan kening,  “Cuaracao?”  Ulangnya pada perkataan Soo Hyuk berbuntut tanda tanya.  “Aku tidak mengerti.”

Soo Hyuk tersenyum tipis dengan mata mengarah lurus pada Min Ho setelah meletakkan kopi hangat dalam genggamannya, bersanding agak jauh dengan cangkir Min Ho yang belum pria itu sentuh sedikitpun.  “Itu adalah sebuah pulau di Karibia sebelah selatan jika pertanyaanmu tentang apa itu Curacao.”  Ujar Soo Hyuk mengangkat raut bingung dari wajah Min Ho.  “Jika kau tidak ingin pergi ke Malibu karena disana akan tinggal di villa keluarga abeojimu, maka pergilah ke Curacao.  Aku jamin, bukan hanya tidak menyangka kau akan kesana, mereka yang mencari-carimu juga tidak akan pernah tahu bagaimana kau bisa ada disana.”  Lanjut  Soo Hyuk seraya menoleh ke arah kamar terbukanya yang menampakkan Soo Ji—tengah tertidur pulas.  Soo Hyuk menghela nafas dalam, mencoba menghilangkan beban mengganjal dalam hatinya—namun tidak berhasil, wajahnya bahkan tidak lebih susah dibanding wajah Min Ho yang menanggung banyak masalah karena keluarganya.

Soo Hyuk lihat lagi Min Ho, pria itu tidak memberikan tanggapan dari kalimat panjangnya tadi kecuali rengutan dengan mata menajam yang mengarah kebawah.  Soo Hyuk yakin, lantai rumahnya tidak semenarik itu hingga Min Ho memandangnya seolah tertarik, ataupun akan berubah indah hanya karena terus di tatapnya.

Tidak ingin mempertahankan keadaan sepi, Soo Hyuk berucap kembali.  “Aku ada villa pribadi di Curacao, sengaja aku bangun untuk bersembunyi.  Kau bisa meninggalinya bersama Soo Ji mulai sekarang.  Tempatnya agak jauh dari keramaian, lagipula pulau itu memang sedikit penghuninya, aman dan cocok untuk jadi tempat bersembunyi.  Pergilah, tenangkan pikiran Soo Ji, bangun kembali keluargamu, perbaiki hubungan kalian.  Soo Ji tidak akan baik-baik saja selama disini, belum sempat kau menyembuhkannya, orang-orang abeojimu akan lebih dulu menyeretmu menjauh.”

“Bisakah?”  Potong Min Ho cepat mencari keyakinan dari perkataan Soo Hyuk.  Bisakah Soo Ji sembuh setelah berada disana?  Mampukah istrinya kembali seperti dulu andai meninggali tempat dan suasana baru?  Mungkinkah keluarganya kembali seperti dulu?

“Lalu apa yang mau kau buktikan dengan tetap berada disini?”  Tanya Soo Hyuk mengeluarkan suara pasrah dan Min Ho diam.  “Terlalu banyak kenangan menyakitkan yang tidak mampu Soo Ji tanggung disini, cukup untuk membuatnya tidak pernah mengalami peningkatan.  Abeojimu…. anakmu….. apa yang perlu dipikirkan lagi?  Dia butuh suasana baru.  Jangan terlalu lama berpikir.”  Ledek Soo Hyuk pada perangai terlalu berpikir Min Ho, tipe pria yang akan berpikir siang-malam hingga menurutnya tepat sebelum mengambil keputusan.  “Jeju terlalu dekat jika ingin kau jadikan tempat bersembunyi.  Jika kau khawatirkan eommamu, ada aku disini.  Eommamu sudah aku anggap eommaku juga.  Aku akan menjaganya sebagai gantimu.  Pergilah ke Curacao, bagaimana?”  Tanya Soo Hyuk tidak sabar, menunggu keputusan Min Ho selalu membuat tangannya kesemutan.  “Aku tahu kau pemikir, apalagi mengenai Soo Ji.  Tapi jika kau ingat bahwa saat ini kau sedang dikejar-kejar dan tidak bisa tinggal disini lebih lama, harusnya kau tidak berpikir selama ini.”

“Ya—.”  Min Ho mengangguk dan mengiyakan dengan nada serta ekspresi pasrah, ucapannya bahkan terpotong.  “Tapi bagaimana caraku keluar dari negara ini dengan Soo Ji yang bahkan tidak bisa ditebak?”

“Itukah yang kau khawatirkan?”  Soo Hyuk melempar pandangan lucunya, salah satu ujung bibirnya tertarik dan tangan kanannya terulur mengambil lagi cangkir kopinya, menyesap cairan berwarna hitam pekat itu sedikit demi sedikit bersama Min Ho yang menunggu kalimat selanjutnya dengan sabar.  “Kau tenang saja.  Apa gunanya memiliki aku dan Kim Joon jika kau tidak bisa keluar dari masalah?”

“Maksudmu?”

“Aku katakan semuanya pada Kim Joon, dia pinjamkan pesawat pribadinya juga beberapa orangnya untuk menjagamu dan Soo Ji selama disana, bahkan mulai sekarang.”

“Joon-ah?  Kim Joon?”

“Tentu saja Joon-ah, kau pikir siapa lagi?”

Min Ho melempar pandangan bingungnya, menggeser sedikit tubuhnya untuk lebih dekat berhadapan dengan Soo Hyuk dan wajah seriusnya mulai muncul.  “Kenapa dia tidak kemari langsung jika sudah keluar dari kantor polisi?  Kenapa tidak menghubungiku?”  Gerutunya bagai iri mendengar Soo Hyuk yang bisa berbincang dengan Kim Joon namun dirinya tidak.

“Jangan tanyakan.”  Soo Hyuk tergelak tiba-tiba, raut wajah Min Ho sudah ia prediksi sebelumnya.  Kembali pria itu seruput kopinya dengan senyum bertahan dan menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk untuk lebih santai.  “Dengan kekuasaannya dia bisa saja tidak masuk penjara.  Tapi mungkin isi kepalanya sudah rusak, dia akui semua salahnya dan status saksinya berubah jadi tersangka.  Dia ada di penjara sekarang, menunggu putusan pengadilan beberapa minggu lagi.”

“Mengaku?  Di penjara?  Kau serius?”  Min Ho merong-rong dengan banyak pertanyaan dalam kepalanya.  “Bagaimana bisa?  Dia akan melakukan apapun untuk tidak menyentuh jeruji besi.  Tapi ini dia sendiri yang memintanya?  Keluarganya, abeojinya, perusahaannya, bagaimana semua itu?”

“Entahlah.”  Soo Hyuk menaikkan bahunya pelan, menggeleng pada Min Ho dengan jawaban yang sudah jelas bahwa dirinya tidak tahu. “Dia sulit ditebak sejak kematian eommanya, seperti tidak peduli pada semua hal di sekitarnya.  Dia bahkan berkelahi dan hampir membunuh seorang tahanan semalam.  Cukup untuk membuat hukumannya bertambah”

“Berkelahi di penjara?  Kau serius?  Kenapa aku tidak tahu apapun?”

“Kau jangan pikirkan apapun selain Soo Ji.”  Timpal Soo Hyuk secepat ketika Min Ho memotong kalimatnya.  “Dia berkata pada pengacaranya untuk tidak meminta keringanan hukuman.  Dia bilang ingin hukumannya  tidak dikurangi.  Jika pengacaranya menolak apa yang dia mau, dia bahkan mengancam untuk memecatnya hingga tidak didampingi seorang pengacarapun di pengadilan nanti.  Dia bahkan berpesan untuk tidak seorangpun yang mengunjunginya.  Kita bahkan.  Kau tahu?  Appanya kena serangan jantung sebab itu, beruntungnya tidak terjadi hal fatal.”

“Lalu bagaimana kau berkomunikasi dengannya?”

“Dia menelfonku, memintaku untuk mengunjungi makam eommanya sebulan sekali dan membawakan bunga.  Saat itulah aku ceritakan tentangmu dan dia langsung berkata bahwa orang-orangnya akan menjadi orang-orangmu dan propertinya bisa kau gunakan semaumu.  Jika aku mau aku juga bisa menggunakannya, tapi langsung aku jawab tidak perlu.  Yang benar saja?  Aku bahkan lari dari semua itu dan dia memintaku menerimanya?  Hah?!”  Soo Hyuk menggeleng, begitupun Min Ho.  Keduanya mendesah berat  bersamaan dan menjadikan itu suara terakhir.  Selebihnya, mereka berdua sibuk dengan isi kepalanya sendiri—entah apa.

 

 

Lama terdiam, Soo Hyuk mendongak pada Min Ho.  Jemarinya yang mengetuk-ngetuk cangkir dalam genggamannya bagai nada, seolah pelampiasan sebab topik yang ingin diangkat namun ragu.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”  Min Ho berucap, melirik Soo Hyuk tanpa sekalipun menggerakkan kepala tertunduknya untuk berhadapan sejajar, dirinya cukup mengerti dengan sikap dan sifat sahabat sejak kecilnya ini.

Soo Hyuk menarik nafas panjang, mengangguk.  “Tadi Soo Ji menangis saat Naa He kemari dan baru diam saat kau bilang bahwa kau hanya mencintainya dan kau hanya suaminya.  Dia lupa padamu, bahkan pada dirinya sendiri.  Tapi bagaimana bisa dia terdiam saat kau bilang mencintainya?  Apakah dia mengerti semua yang kau—bahkan kita katakan?”

“Aku tidak tahu.”  Min Ho menggeleng seketika, kedua bahunya ikut terangkat sebagai bagian dari kebingungannya dan matanya sepasrah ketika Soo Ji memukulnya.

Menatap Soo Hyuk kosong—Min Ho tidak membuka kembali bibirnya.

Jujur saja, bagi Min Ho pertanyaan Soo Hyuk adalah pertanyaan sama yang selalu memenuhi isi kepalanya.  Soo Ji tidak mengenalnya, melupakannya, tapi untuk beberapa hal…. wanita itu seolah-olah mengenalnya, bagaimana bisa?  Banyak ucapannya yang Soo Ji abaikan dan membuatnya berpikir bahwa Soo Ji tidak mengerti dengan apa yang dirinya ucapkan.  Namun seperti halnya kemarin atau bahkan tadi, bagaimana respon Soo Ji pada beberapa perkataannya, benarkah Soo Ji tidak mengerti?

“Tidak kau bawa ke dokter lagi?”

“Aku takut dia histeris lagi.  Biar saja seperti ini asal tenang.”

“Tapi dia butuh dokter.”

“Ya, aku tahu.”  Min Ho mengangguk, dirinya juga paham dan sadar bahwa Soo Ji butuh dokter lebih dari siapapun.  Tapi jika ingat saat terakhir kali dirinya membawa dokter dan Soo Ji langsung berteriak histeris bahkan hendak meloncat dari balkon kamarnya, siapa yang tidak takut?  Maka menurut Min Ho, lebih baik tanpa dokter asal Soo Ji tenang.  Lagipula tidak ada satupun perubahan yang dokter-dokter itu bisa lakukan pada Soo Ji saat dulu sering Min Ho temukan mereka di rumah sakit.

“Lalu, apa Soo Ji ingat Min Ji?”

“Andai aku bisa masuk dalam pikirannya Soo Hyuk-ah,”  Jelasnya menambah daftar panjang bahwa dirinya sebagai suami, benar-benar tidak tahu dengan diri istrinya saat ini.

Min Ho menghela nafas pada kalimat terakhirnya, mendongakkan kepala dengan langit-langit rumah Soo Hyuk yang menjadi pemandangannya dan meski tidak ada satupun hal menarik kecuali warna biru langit yang segar, tidak ada hal bagus lain yang bisa dilihatnya dari langit-langit rumah terlampau biasa dengan catnya yang mengelupas pada beberapa sudut.  Pria itu, untuk kali ini kesedihannya bisa tampak jelas dan tanpa perlu dijelaskan lagi…. jawaban tadi sudah cukup untuk membuat Soo Hyuk paham bahwa Soo Ji bahkan juga tidak mengingat putrinya.  “Saat pertama kali membawanya pulang, dia mengamuk… merobek dan menghancurkan semua barang yang berhubungan dengan Min Ji, cukup untuk membuatku memukulnya.  Sejak itu dia selalu marah jika aku menyentuhnya, mudah menangis ketika aku memaksanya melakukan sesuatu.  Mungkin karena itu juga dia semakin takut dan histeris pada orang asing.”

“Tapi hari ini tidak lagi.”

“Ya.”   Min Ho tersenyum tipis, melihat telapak tangannya dan memijit pelan… entah untuk apa.  Namun pandangan sayunya makin meredup, entah sebab membicarakan pemukulan itu yang membuatnya menyesal atau memang tangannya sedang sakit dan butuh di pijat.

“Apa karena itu kau selalu diam jika Soo Ji memukulmu atau melemparimu sesuatu?  Karena kau merasa bersalah?”

“Mau bagaimana lagi?”  Min Ho membalik pertanyaan.  “Aku bukan sengaja memukulnya dan aku bukan seseorang yang biasa memukul, apalagi memukul orang yang aku cintai.  Aku hanya benar-benar lelah saat itu tapi Soo Ji membuat ulah dengan melempari semua barang Min Ji, berteriak dan mengacak semua isi rumah seolah jijik dengan keberadaan saat ada Min Ji, seolah dia ingat Min Ji namun tidak mengetahui siapa Min Ji.  Dia seperti dikejar-kejar oleh rasa bersalahnya,”  Jeda Min Ho memasok udara berlebih pada paru-parunya yang seperti tidak berfungsi.  Sesak, dirinya merasa seperti tidak bisa bernafas.  Kepalanya pening bagai darah tidak mengalir kesana.  “Aku hanya tidak bisa melakukan kebodohan dengan memukul Soo Ji lagi untuk menghentikannya.  Karena itu aku biarkan dia melakukan apapun yang dia mau, termasuk memukul dan melempariku.  Lagipula dia melakukan itu saat aku membuatnya melakukan sesuatu yang tidak dia suka atau saat aku melakukan hal yang tidak sesuai dengan hatinya.  Aku hanya perlu menghindari hal-hal yang tidak disukainya dan semua akan sedikit lebih tenang.”  Min Ho menjawab tegar, balas menatap Soo Hyuk yang justru menatapnya dalam dan Min Ho tidak suka pandangan dikasihani macam itu.  “Kenapa kau melihatku seperti itu?”  Tanyanya tersenyum canggung, berusaha tampak biasa saja.

Soo Hyuk menelan paksa ludahnya, kedua alisnya menyatu dan pria itu merasakan rasa bersalah yang ditanggungnya bersama sakitnya Soo Ji.  “Maaf, ini semua salah adikku.  Andai dia tidak memaksa Soo Ji, semua ini tidak akan terjadi.  Putrimu pasti masih hidup dan keluarga kalian sebahagia dulu.”

“Mau menyesal seperti apapun semua sudah terjadi.”  Sahut Min Ho seolah bukan hal berarti tentang apa yang kini menimpa keluarganya.  Tapi, mau menyalahkan bagaimanapun…. semua sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa diulang.  “Bagaimana Soo Jung?  Kapan dia kembali kemari?”

Soo Hyuk menggeleng lemah, pandangannya seredup Min Ho dan sehampa Soo Ji.  “Dia mungkin tidak akan pernah kembali.”

“Tapi dia baik-baik saja kan?”

Soo Hyuk menggeleng lagi—getir, matanya memerah dengan kristal bening yang memenuhi pelupuknya mengingat pertemuan terakhirnya dengan sang adik beberapa minggu lalu—Lee Soo Jung.  Wajah keras dan dingin pria itu seolah tembok beton melunak, perlahan.  “Dia mengurung dirinya, tidak keluar sama sekali dalam apartmentnya selama 2 tahun ini.  Orang yang mengiriminya makanan hanya Soo Jung ijinkan malam hari, dan itupun dirinya ada dalam kamar.  Esoknya saat mereka kembali untuk mengganti makanan, tidak jarang makanan yang mereka bawa sejak semalam tidak tersentuh sama sekali.  Jikapun tersentuh, hanya sedikit.  Dia seperti menghukum dirinya sendiri, membuat dirinya hidup dengan siksaan macam itu.  2 tahun ini, tidak seorangpun yang pernah melihatnya.  Berapa kalipun kami, appa, eomma, aku bahkan.  Berapa kalipun kami membujuknya untuk keluar, Soo Jung seperti menulikan indranya.”  Jelas Soo Hyuk panjang lebar tanpa sedikitpun keinginan untuk membujuk Min Ho agar menemui Soo Jung dan berucap bahwa semuanya akan baik-baik saja.  Ucapan atau permintaan macam itu terlalu jahat jika mengingat bahwa hingga saat inipun, Soo Ji masih semenyedihkan dulu dan dirinya rasa…. membiarkan Soo Jung menghukum dirinya sendiri macam itu lebih baik dibanding hidup seolah lupa dengan apa yang telah dilakukannya pada keluarga Min Ho.

“Aku akan mengunjunginya jika sempat.”

“Tidak perlu.”  Geleng Soo Hyuk.

“Aku tahu maksudmu.”  Balas Min Ho.  “Tapi tidak seharusnya dia menghukum dirinya sendiri macam itu.  Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, ini bukan salah Soo Jung sepenuhnya.”

Soo Hyuk menghela panjang, menyorot Min Ho lama.  “Kau sembuhkan Soo Ji jika memang ingin Soo Jung kembali seperti dulu.  Soo Ji sembuh, kembali seperti dulu, barulah kau temui Soo Jung dan katakan bahwa semuanya baik-baik saja.  Lakukan itu jika kau ingin adikku kembali.”  Putus Soo Hyuk bulat mematahkan perlawanan Min Ho. “Jika aku boleh beri saran—.”  Sambung Soo Hyuk, mendongakkan kepala tertunduk Min Ho.  “Soo Ji tidak ingat satupun masa lalunya, bahkan Min Ji.  Menurutku, biarkan saja dia seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Kita berdua sama-sama tahu kejadian itu.  Soo Ji yang menabrak Min Ji dan karena itu dia—.”

“Soo Hyuk-ah,”  Sela Min Ho menekan, urat kepala pria itu langsung tampak begitupun maa melototny.  “Soo Ji tidak tahu bahwa didepannya ada Min Ji, matanya tertutup dan ada pistol yang mengarah ke kepalanya.  Dia tidak salah apapun!”  Emosi pria itu, tidak menyukai bahasan yang sangat sensitive.

“Aku tidak bilang bahwa Soo Ji bersalah.”

“Berhenti!”  Min Ho membentak untuk kesekian kalinya, menatap Soo Hyuk lama-lama dan akhirnya pria itu menyerah.  Tidak bisa ia mengeluarkan makian ataupun kemarahannya.  Kepalan tangannya berbuntut pukulan beberapa kali pada sofa seolah pelampiasan, dan Min Ho memalingkan wajah dengan nafas memburu.  “Aku tidak mau bicarakan ini lagi.”

“Itulah yang aku maksud.”  Jelas Soo Hyuk dengan ucapannya yang bahkan belum selesai, berdiri pria itu dengan cangkir kosong dalam genggamannya dan melihat Min Ho lebih sedih.  Tidak mau sebenarnya ia katakan ini, namun bagaimanapun…. menurutnya yang bahkan tahu kisah mereka sejak awal hingga saat ini, ia yang bahkan tahu kejadian naas itu tepat didepan matanya, menurutnya apa yang akan diucapkan ini adalah yang terbaik untuk saat ini.  “Sebisa mungkin, biarkan Soo Ji lupa segalanya.  Jika dia tidak ingat Min Ji, jangan ingatkan Min Ji padanya.  Hapus semua foto Min Ji dari ponselmu, singkirkan semua fotonya bahkan jika perlu.  Aku tahu kau akan bilang bahwa aku tidak berperasaan karena mengatakan ini, aku belum memiliki anak dan belum kehilangan anak karena itu dengan mudah bisa mengatakan ini padamu.  Tapi ini demi istrimu, rumah tanggamu, dan juga masa depanmu.  Singkirkan Min Ji, Min Ho-ya.  Bangun kembali keluargamu bersama Soo Ji dengan hal-hal baru yang kalian mulai di Curacao.  Pergilah kesana.  Jangan buat Soo Ji ingat masa lalunya, hanya cukup sembuhkan dia.  Semakin dia ingat Min Ji, dia tidak akan pernah sembuh.”

“Aku bilang berhenti.”  Lirih Min Ho lemas, menatap Soo Hyuk melalui ujung mata memerahnya.  Pria itu jelas-jelas menahan marah.  “Melupakan anakku?”  Tanyanya gemetar hingga giginya bergemeretak.  “Bagaimana bisa kau katakan itu padaku?”

“Demi Soo Ji.”  Tekan Soo Hyuk cepat.  “Aku tidak katakan bahwa kau harus lupakan Min Ji, aku hanya berkata jangan ingatkan Min Ji pada Soo Ji.  Kita berdua tahu penyebab sebenarnya Soo Ji bisa berakhir seperti saat ini.  Jika kau menyembuhkannya bersama ingatan tentang siapa Min Ji, Soo Ji tidak akan pernah sembuh.  Biarkan anakmu tenang di sana, dan bangunlah keluargamu sekali lagi dari nol.”

Min Ho mendesah, antara kesal dan tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan membenarkan yang hati juga otaknya berikan atas ucapan Soo Hyuk.  Berpaling sekali lagi Min Ho tidak mau menatap Soo Hyuk, dadanya bergemuruh hanya dengan melihat wajah sahabatnya itu.

Dan Soo Hyuk?  Ia tahu ucapannya terlalu kejam sebagai sahabat mereka berdua apalagi adiknyalah penyebab berantakannya keluarga Min Ho.  Namun bagaimanapun yang pergi akan tetap pergi, yang hilang akan tetap hilang.  Soo Ji sudah menunjukkan perubahan, dan ini waktunya bagi Min Ho untuk membuat perubahan dalam hidupnya juga.  Memulai semuanya dari awal tanpa mengingat hal lalu, membiarkan Soo Ji yang lupa pada semua hal tetap lupa dan tidak ingat.  Wanita itu bahkan akan lebih gila dari saat ini andai ingat siapa Min Ji dan bagaimana Min Ji terbunuh.

 

 

Tahu usulan Soo Hyuk benar, Min Ho menangis tanpa mau menampakkannya, tubuhnya bergetar dan berusaha ditekan dengan mengeratkan genggaman tangannya pada bantal sofa.  Matanya yang sejak tadi sudah kosong, makin kosong dengan pemandangan luar rumah Soo Hyuk yang dulunya adalah tempat bermain Min Ji, bersama Soo Ji dan dirinya ketika berkunjung kemari.

“Ya, kau benar…”  Min Ho mendesis, kerongkongannya tercekat dan tidak mampu berucap lebih dari itu.

Soo Hyuk yang sudah ada di dapur menoleh ketika Min Ho berucap entah apa, telinganya tidak mampu mendengar ucapan pria itu dengan jarak yang terlalu jauh.  Namun ketika menoleh, menatap Min Ho yang sudah bagai mayat, entah karena ucapannya tadi atau entah karena apa, Soo Hyuk menyesal terlalu keras mengatakan hal macam tadi pada Min Ho.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Westpun, Curacao

7cc047dad3dfe621c111214ec4623609

Langit sudah menggelap ketika Min Ho dan Soo Ji sampai ke Westpun dimana villa Soo Hyuk ada disana.  Hampir sehari jarak yang mereka tempuh dan wajar rasanya ketika lelah langsung melanda apalagi bagi Min Ho yang selalu menjaga Soo Ji.  Beruntungnya, Soo Ji tidaklah sehisteris sebelumnya dan lebih tenang dengan ia yang selalu menggenggam lengan suaminya erat hingga Min Ho tidak perlu pusing dan bingung bagaimana menghadapi istrinya.

Kini, Soo Ji tertidur berbantalkan paha suaminya dalam mobil yang membawa mereka menuju villa.  Wanita itu bahkan sudah tertidur sejak dalam pesawat tadi dan tidak mau membuka matanya meski Min Ho minta untuk bangun saat turun dari pesawat dan berakhir di mobil dengan keadaan macam ini.

Melihat suasana luar yang sudah gelap, diiringi desir angin pantai yang bisa dirasa ketika menurunkan kaca mobil…. Min Ho memejamkan matanya.  Pada tempat ini, pria itu berharap… hidupnya dan Soo Ji akan berubah.  Lebih tenang sedikit jika bisa, lebih bahagia sedikit jika bisa, dan lebih damai sedikit jika bisa.

Pembicaraannya dengan Soo Hyuk kemarin, saat siang sebelum mereka segera pergi sebab abeojinya yang sudah menuju rumah Soo Hyuk, Min Ho memikirkannya.  Kenang Min Ji tanpa perlu mengingatkannya pada siapapun, apalagi Soo Ji.

Mianhe Min Ji-ya desis Min Ho dalam hati dengan mengusap pelan pipi Soo Ji, dilihatnya lekat-lekat wajah istrinya yang samar sebab keadaan gelap dan lampu dalam mobil sengaja tidak dinyalakan agar tidur Soo Ji tidak terganggu.  Min Ho tundukkan tubuhnya, menyamakan letak wajahnya dan wajah Soo Ji hingga saling berhadapan lurus—satu kecupan yang sesekali dilakukannya sembunyi-sembunyi selama ini kembali diberikannya—pada kening.  Cukup lama Min Ho mengecup kening Soo Ji, merasakan dan menikmati suasana tenang yang harus bisa diciptakannya mulai sekarang, seperti janjinya pada Soo Hyuk dan pengorbanannya dengan seolah melupakan Min Ji.  Semua ini tidak boleh gagal, sebut pria itu sungguh-sungguh.

“Kita sudah sampai, Tuan.”  Sopir yang adalah orang suruhan Kim Joon berujar, menghentikan kecupan lama Min Ho pada Soo Ji dan menyadarkan pria itu dari bayangan hidup kedepannya.

Min Ho menoleh, mengamati keadaan sekitar yang tidak terlalu bisa dilihatnya jelas dan dibenarkannya segera posisi duduknya.  Dari arah pintu villa yang Min Ho yakini adalah benar villa Soo Hyuk, muncul—keluar terburu-buru wanita yang tampaknya adalah penjaga villa tersebut.  Dengan tubuh berisinya, wanita paruh baya itu segera mendekat sebisa yang kakinya mampu dan membantu saat ia hendak membuka pintu.

“Welcome, Sir.”  Sapanya pada Min Ho yang hanya membalas dengan senyuman dan segera menggendong Soo Ji kembali seperti ketika tadi memasukkannya dalam mobil.

“Can you show me—.”

“Oh, your room?”  Wanita itu memotong cepat dengan kedua tangan terkepal begitu saja.  “Follow me.”  Ajaknya cepat mendahului langkah Min Ho, namun terhenti.  “Your bags?”

“Nothing.”  Min Ho segera menggeleng, memiringkan tubuhnya agar wanita yang bahkan belum ia ketahui namanya itu melihat bahwa ia memang tidak membawa satu barang apapun.

“Ok.”  Angguknya dan kembali melangkah mendahului Min Ho yang di ekori dua orang suruhan Kim Joon dibelakangnya.  “I’m Bherta, housekeeper in this house. Call me if you need anything.”

“I just need to sleep now.”

“Yes sure.”  Bherta membukakan pintu kamar yang akan Min Ho tempati bersama Soo Ji dan mempersilahkannya masuk.

 

“Kalian beristirahatlah.  Terimakasih untuk semuanya.”  Ucap Min Ho pada dua orang suruhan Kim Joon yang sejak tadi selalu bersamanya sebelum ia membawa Soo Ji masuk ke dalam kamarnya.

Keduanya, tanpa mengeluarkan satu suarapun langsung mengangguk.  Pergi kemudian mengikuti Bherta yang menunjukkan masing-masing dari kamar mereka.

Segera Min Ho masuki kamar yang Bherta, tunjukkan dan katakan adalah kamarnya.  Tanpa menunggu apapun lagi, dan lagi dirinya juga Soo Ji tidak membawa satu barangpun sebab semua barang mereka ada di apartment dan tidak mungkin mengambilnya, jadilah Min Ho langsung merebahkan diri Soo Ji juga dirinya pada ranjang empuk tanpa perlu merapikan satu barang apapun.

“Haaaahhhhh………..”  Erang Min Ho panjang melepas penatnya, merentangkan kedua tangannya yang telah bebas dan menoleh pada istrinya yang masih memejamkan matanya seolah tidak ingin terbuka.  “Soo Ji-ah…”  Panggil Min Ho seolah Soo Ji akan membuka mata dan kemudian membalas panggilannya.

Min Ho tersenyum, pria itu miringkan tubuhnya dan menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal sementara satu tangannya lagi terulur untuk menyentuh wajah istrinya.  “Soo Ji-ah…..”  Panggil pria itu tanpa henti meski dengan volume kecil.  Entah kenapa, Min Ho ingin saja memanggil istrinya.  Bahagianya meluap, entah bagaimana hingga menggelitik perut dan membuat senyumnya tidak pernah hilang.

Min Ho tersenyum hanya dengan melihat wajah istrinya yang diterangi cahaya bulan dari arah luar.  Bagaimana mengungkapkannya?  Min Ho merasa berbeda, merasa bahwa ada hal berbeda yang akan merubah segalanya hingga suasana antara dirinya dan Soo Ji yang terlihat sama sekali tidak ada perubahan akan segera berubah—menurutnya.

Dalam sepinya malam yang langsung tercipta meski ada penghuni baru, meski kenyataannya Min Ho ingin membersihkan diri sebelum tidur, lelah juga wajah damai Soo Ji yang tampak baik-baik saja jika begini membuatnya tenang dan terlarut dalam semua hal itu hingga entah sejak kapan matanya ikut terpejam bersama istrinya yang sudah sampai ke alam mimpi.  “Tidurlah yang nyenyak.”  Bisik pria itu menggelitik telinga istrinya sebelum dirinya benar-benar terlelap dan Soo Ji hanya bereaksi dengan gumaman tidak jelasnya seperti biasa.

Menggosok telinganya setelah Min Ho bisikkan kata-kata tadi, Soo Ji bergerak makin memeluk tubuh telungkupnya dan melanjutkan tidur.  Min Ho tergelak, diusapnya kepala Soo Ji dan dipeluknya tubuh kurus itu erat hingga memenuhi seluruh lingkaran tangannya.

“Nghh….”  Soo Ji mengerang risih, kiranya pelukan Min Ho mengganggunya.  Tidak suka—Soo Ji membuka matanya perlahan.  “Hmmhh…”  Bagai dengusan lelah, wanita itu menatap Min Ho malas dengan setengah mata terbukanya.

Soo Ji membalik badan, memunggungi Min Ho dan melanjutkan tidurnya.  Namun… Min Ho yang masih ingin bercanda atau sekedar bermain bersama istrinya diantara suasana nyaman ini kembali menarik tubuh Soo Ji dan memeluknya.  “Tidur seperti ini, aku sedang sangat merindukanmu.”  Ucap Min Ho, tidak peduli pada bagaimana Soo Ji yang tidak suka dengan perlakuannya, ia tetap akan melanjutkan semua ini.

“Mmmmhh……”  Soo Ji tidak suka, tidak suka dengan permintaan dan perlakuan Min Ho padanya yang seperti ini.  Wanita itu mendorong dada suaminya yang tepat berada dihadapan wajahnya, namun toh…. Min Ho terlanjur keras kepala dan Soo Ji juga terlalu lelah sekaligus mengantuk untuk melawan suaminya lebih.  Maka wanita itu pasrah saja, lagipula hangatnya tubuh Min Ho membuatnya tidak merasa kedinginan seperti tadi.  Jadi Soo Ji balas pelukan Min Ho, makin menempelkan dirinya dengan pria itu sekedar mencari kehangatan berlebih pada tubuh suaminya yang nyaman.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Seoul, Korea Selatan

Soo Hyuk pikir, saat Min Ho telah membawa Soo Ji pergi maka semuanya akan selesai.  Urusannya bersama pria menyebalkan yang nyatanya sedikit tidak menyebalkan masih harus berlanjut mulai saat ini bahkan hingga akhir nanti.  Kesal, Soo Hyuk bahkan tidak bisa mengeluh untuk ini apalagi appanya ikut membuatnya geleng-geleng kepala.  “Ya….. ya…. ya……”  Soo Hyuk angkat tangan saat appanya datang bersama rombongan berlebihnya seperti biasanya, merusak pemandangan indahnya.  “Aku tahu, appa pergilah sekarang.  Jangan ganggu aku.”  Gerutunya seperti biasa dan masuk kedalam satu-satunya kamar rumah yang membuat eommanya menangis hingga saat ini.

Pria itu—Lee Soo Hyuk, membanting tubuhnya kencang pada ranjang sederhananya.  Mengingat dan membayangkan lekat-lekat tentang bagaimana nantinya Soo Ji saat sembuh, apakah benar-benar akan tetap lupa segalanya dan menjadi seorang yang baru, atau kembali seperti Soo Ji yang dulu.

Satu nama yang membuat sahabatnya, Kim Joon hampir menjadi pembunuh—Yoo Ah In, bagaimana nasibnya sekarang dan kenapa pula Kim Joon memintanya mencari tahu kerabat dari pria gila itu?

Soo Hyuk mendecak, tidak dulu tidak sekarang… kenapa hidupnya selalu dibuat pusing oleh hidup rumit kedua sahabatnya yang selalu berbuat masalah?  “Sial.”  Umpat pria itu sambil tergelak seolah pasrah sebab tidak bisa melakukan apapun kecuali membantu mereka seperti biasa.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Westpun, Curacao

d24c577e532c96acff1e04018f23ed7d

Matahari sudah tinggi di langit Westpun, menerangi pulau itu dengan cahayanya hingga semua yang semalam tidak tampak bisa terlihat sangat jelas kini.  Air laut jernih dengan ombak kecil yang menjadi pemikatnya tampak begitu indah, birunya laut bisa dilihat dengan mata telanjang dan sangat sayang untuk diabaikan.

Sayangnya,  baik Min Ho maupun Soo Ji tampak tidak terlalu tertarik menikmati keindahan laut dihadapan mereka yang bisa langsung dilihat hanya dari arah kamar.  Meski sinar terang sudah memasuki seluruh ruang kamar mereka, meski desir angin laut yang masuk melalui salah satu celah jendela terbuka hingga menggerakkan beberapa helai rambut tampak begitu menggoda, meski debur ombak yang seolah nyanyian agar mereka segera bangun, dan meski pemandangan indah dihadapan mereka sejak tadi memanggil, keduanya tampak tidak peduli.  Tidur mereka dengan lelapnya sembari berpelukan seperti ketika semalam Min Ho bersikeras memeluk istrinya, tanpa satu pergerakanpun.

 

Dari arah luar kamar, entah apa sebabnya hingga kemudian muncul suara berisik yang cukup menganggu salah satunya, membuat mata terpejam itu terbuka perlahan dengan nafas tidak setenang sebelumnya.

Soo Ji, wanita itu mengerutkan kening dengan mata yang terbuka perlahan dan tertutup beberapa saat kemudian membukanya lagi—mengerjap, seolah beradaptasi dengan tempat yang baru dilihatnya.  Menoleh ke arah sumber suara, Soo Ji cukup jelas menunjukkan bahwa suara dari arah luar itu yang membuatnya terbangun, dan—,  “Ngh…..”  Wanita itu mengerang, menggerak-gerakkan tubuh terkuncinya dalam pelukan erat Min Ho yang mulai terasa menyiksanya.  Beberapa kali, Soo Ji gerakkan tubuhnya, memukul pelan Min Ho bahkan namun pria itu tidak juga tersadar, cukup untuk membuat wajahnya memerah dan siap menangis, beruntung…. kesadaran Min Ho sebab isak yang mulai terdengar dan pukulan lumayan keras membangunkannya.

“Soo Ji-ah?  Kau sudah bangun?”  Min Ho berucap serak, melihat istrinya dengan mata menyipit dan menarik pelukannya yang menjadi alasan bertambahnya kekesalan Soo Ji pagi itu.  Masih mengantuk, Min Ho membalik tubuhnya—berniat melanjutkan tidur terpotongnya.

Namun Soo Ji yang sudah terlanjur bangun dan tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa Min Ho, tidak membiarkan pria itu tidur dengan tenang tentunya.  “Ng…..Ng……”

Suara Soo Ji, terdengar bagai bisu dan diselingi tarikan tangannya pada baju Min Ho, melakukan apapun agar pria itu bagun sepertinya sebab suara berisik dari luar.  “Ng……….”  Soo Ji memekik panjang, menarik baju suaminya kuat hingga tubuh pria itu bergeser dan pada akhirnya bergerak—kembali.

“Apa?”  Min Ho mendongak pada istrinya yang sudah duduk dengan mata ngantuknya, melihat wajah kesal istrinya dan tidak bisa Min Ho ketahui kenapa Soo Ji bersikap begitu.  “Ada apa?”  Tanyanya lagi dan duduk kali ini Min Ho—dengan kesadaran yang berusaha dimunculkannya.

Min Ho tarik nafas panjang, mengerjap mata ngantuknya beberapa kali dan meregangkan tubuh letihnya.  Barulah saat semua terasa lebih baik bagi tubuhnya, Min Ho sadar—dengan suara berisik di luar sana, sekaligus dengan Soo Ji yang memandangnya lurus—kesal.

“Suara apa itu?”  Jika Soo Ji mau dan mampu menjawab, pastinya wanita itu sudah merespon dengan tanggapan mana aku tahu?  Aku disini sejak semalam dengan kau yang memelukku erat hingga tidak bisa bergerak sama sekali.

Min Ho turun dari ranjang, tanpa menunggu tanggapan bisu istrinya.  Pria itu melangkah perlahan dengan wajah penasaran dan takut, khawatir jika ribut-ribut diluar itu karena abeojinya yang tahu keberadaannya dan memaksa masuk.

“Ada apa?”  Tanya Min Ho segera setelah membuka pintu, mendapati salah satu orang Kim Joon didepan pintu kamarnya.

“Oh, anda terbangun karena kami?”  Bukannya menjawab, pria bernama Taesang itu justru bertanya balik, cukup untuk membuat Min Ho sedikit kesal padanya.

“Ya.”  Min Ho menjawab cepat.

“Bherta membeli kebutuhan dapur dan tampaknya yang mengantar salah ambil barang, atau entahlah…. saya juga tidak paham.”  Taesang menggidikkan bahu dan Min Ho melongo jauh ke arah depan… mendapati Bherta yang berteriak-teriak khas ibu rumah tangga pada seorang pria yang membawa bungkusan di kedua tangannya.

“Aaa……”  Min Ho membuka mulutnya baru paham.  Ditepuknya beberapa kali pundak Taesang, dan barulah Min Ho lega sebab perkiraannya tentang abeojinya yang datang salah.

Segera Min Ho kembali masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu rapat dan berjalan ke arah ranjang dimana Soo Ji ada disana dengan tangan mengucek salah satu matanya.

 

“Bherta marah pada tukang antar bahan makanan karena salah ambil bungkusan.”  Min Ho menjelaskan, pada Soo Ji yang sudah pasti tidak akan peduli.  Pria itu menelungkupkan sekali lagi tubuhnya ke atas ranjang, tampak akan melanjutkan tidurnya setelah memejamkan kedua matanya.

Soo Ji mendengus, wanita itu kembali menunjukkan ketidak sukaannya ketika Min Ho justru kembali tertidur.  “Mh… mh…”  Soo Ji bersuara, menggoyang-goyangkan tubuh Min Ho agar bangun seperti keinginannya yang entah untuk apa.  “Mh….. mh……”

“Wae…?”  Min Ho mendongak pada istrinya kembali, setengah membuka matanya sebab kantuk yang belum juga menghilang.  “Kau masih ingin tidur juga?  Sini aku peluk.”  Tawar Min Ho mengulurkan tangannya dan dengan cepat Soo Ji menepisnya.

“Ngh…….”  Soo Ji memukul pundak Min Ho, pelan.  Wanita itu sudah meringis wajahnya dan siap untuk kembali menangis, memukulkan bantal pada tubuh suaminya yang masih juga tidak ingin bergerak.  “Ng…. nghiks…. hiks….”

“Astaga.”  Min Ho mendesah sambil mengusap wajahnya kasar.  Cepat-cepat pria itu bangkit dan duduk, ampuh untuk langsung menghentikan tangis istrinya yang baru saja dimulai.  “Ada apa?”  Tanya Min Ho menangkup wajah Soo Ji lembut.  “Ada apa istriku?”  Tanyanya lagi makin mendekatkan wajahnya saat Soo Ji tidak memberi tanggapan hingga hidung mereka saling bersentuhan.  “Ada apa?”  Ulang Min Ho pelan, mencermati wajah istrinya yang sudah lama tidak dilihatnya macam begini dan fokus pada mata jernih dihadapannya yang sayangnya langsung berpaling, berikut dengan mundurnya Soo Ji hingga tangkupan Min Ho terlepas.

Soo Ji membuang muka dan bahkan menggeser tubuhnya hingga memunggungi Min Ho.  Wanita itu, entah apa yang diinginkannya.  Min Ho menghela panjang,  “Kau mau mandi?  Atau sarapan dulu?”  Min Ho menawarkan, mencari tahu keinginan istrinya yang bahkan tidak bisa diutarakan.

Soo Ji menoleh pada Min Ho, berikut wajah sedihnya.

“Ada apa?”  Tanya Min Ho sekali lagi tanpa lelah dan Soo Ji justru menunduk, tidak memberikan sedikit pencerahan pada otak Min Ho yang jelas tidak mengerti jika hanya diberi sebuah pandangan sedih.  “Aku tidak akan tahu jika kau tidak katakan atau tunjukkan sesuatu padaku.  Jika kau tidak mau bicara, tunjukkan sesuatu setidaknya agar aku mengerti.”

Soo Ji menoleh sekali lagi, masih bertahan dengan wajah sedihnya….  wanita itu bergerak, menunjukkan kedua kakinya pada Min Ho.  “Lukamu?  Kenapa?  Kau ingin aku melihatnya apakah sudah sembuh atau belum?”  Soo Ji langsung mengangguk—mengiyakan.

Min Ho tersenyum.  Mengusap puncuk kepala Soo Ji gemas,  “Sebentar aku ambil gunting.”  Serunya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal, keluar seperti yang dikatannya untuk mengambil gunting dan kembali dengan membawa benda itu di salah satu tangannya.  “Sini, biar aku lihat.”  Ujar Min Ho menarik kedua kaki Soo Ji dan membuka satu persatu perban yang baru digantinya semalam sebelum turun dari pesawat.

Min Ho cermati hati-hati luka di kaki istrinya, dan Soo Ji perhatikan itu—air muka suaminya.  Jika Min Ho mengerutkan keningnya, maka Soo Ji ikut mengerutkan keningnya.  Begitupun saat Min Ho tampak lebih santai, raut Soo Ji juga tampak lebih santai.  “Ini sudah agak kering sebenarnya, kau mau aku memperbannya lagi atau hanya di obati saja?”  Min Ho bertanya, pada Soo Ji yang bahkan tidak bisa memikirkan apapun.  “Soo Ji-ah?”

Jelas Soo Ji tidak tahu, dan bodohnya Min Ho menanyakan itu semua.  “Di obati saja ya?  Tidak perlu diperban agar lekas kering.”  Pria itu memutuskan, dan Soo Ji?  Tentu saja menurut-menurut saja, toh dia tidak tahu apapun.  “Baiklah kita mandi dulu, kemudian obati lukamu, kemudian sara—makan siang?”  Putusnya ragu melihat keadaan luar yang jelas terang benderang.  Min Ho jelas tergelak, untuk waktu sesiang ini dan dirinya baru bangun.  Sementara Soo Ji, wanita itu tidak paham kenapa Min Ho tergelak, diam saja Soo Ji.. tanpa satupun ekspresi yang bisa dibaca.

Tidak membuang waktu lebih lama, segera Min Ho berdiri dari duduknya, meletakkan gunting juga perban ditangannya pada sebuah laci dan berjalan ke arah Soo Ji.  “Kemari, aku akan menggendongmu.”  Ucapnya mengulurkan kedua tangannya pada punggung dan lekukan kaki Soo Ji dengan mudah.  Kali ini, Soo Ji membalas tanpa penolakan seolah mengerti Min Ho akan membawanya kemana.  Wanita itu kalungkan kedua tangannya begitu saja pada leher Min Ho, meletakkan sekali lagi kepalanya pada dada suaminya dan detak jantung yang mulai menjadi melodinya kembali terdengar, membuat Soo Ji tenang dan nyaman untuk kesekian kalinya.

 

 

 

 

60ba843ad70a2281b95a484f49944354

“Bagaimana jika kita memotong rambutmu?”  Min Ho bertanya disela-sela mandinya bersama Soo Ji, membantu istrinya membersihkan tangannya dan kepala wanita itu yang tadinya menunduk langsung menoleh pada suaminya.  “Sedikit saja, rambutmu terlalu panjang dan berantakan.  Hanya untuk merapikannya saja, bagaimana?”  Min Ho menjelaskan, masih meminta pendapat istrinya meski tahu bahwa sebenarnya, ia bisa saja lakukan apa yang di mau tanpa perlu pendapat Soo Ji.

Soo Ji menggeleng, tidak mau.  Seolah wanita itu mengerti dengan ucapan suaminya, padahal biasanya Soo Ji bersikap bagai bodoh dan tuli yang tidak tahu dan tidak mengerti apapun.  Min Ho menghela nafas panjang dan memeluk tubuh istrinya, mencium pundak harum wanitanya yang penuh busa beberapa kali dan berakhir saat Soo Ji menjauhkan diri, menoleh padanya tidak suka.  “Kenapa?”  Min Ho bertanya seolah tidak mengerti.  “Kemarilah, kenapa menjauh?  Akan aku katakan sesuatu.  Kemarilah Soo Ji-ah,”  Bujuk Min Ho mengulurkan tangan pada Soo Ji yang ditanggapi dingin.  Wanita itu mendengus, membuang muka dan menepis uluran kedua tangan suaminya yang justru kembali terjulur.  “Aku suamimu, Soo Ji-ah…”

Soo Ji mengerutkan kening, melihat kedua tangan Min Ho dan sosok suami tidak dikenalinya itu tajam.  “Kemarilah Soo Ji-ah…”  Tarik Min Ho agak paksa dan meskipun tidak suka, Soo Ji tidak menolak.  Mengembalikan posisinya bersandar pada tubuh Min Ho seperti semula.  “Kau tahu siapa aku?  Bisa sebutkan namaku?”

Soo Ji menghela nafas panjang seolah lelah dengan pertanyaan yang terus menerus dan mulai bosan didengarnya, mengusap tangan pucatnya padahal tidak ada satupun noda disana—Soo Ji jadikan itu sebagai kegiatan.  “Aku Lee Min Ho, suamimu.  Dan kau, apa kau ingat siapa dirimu?”  Soo Ji diam, tidak menanggapi Min Ho sebaik ketika pria itu bertanya mengenai rambut yang akan dipotong.  “Berhenti mengusap tanganmu, tidak ada hal kotor disana.”  Sungut Min Ho menghentikan kegiatan istrinya dan membalik tubuh itu dengan mudah hingga saling berhadapan.  “Namamu Bae Soo Ji.  Namaku Lee Min Ho.  Kita suami istri, dan kau memanggilku oppa, Min Ho oppa.  Bisa kau katakan?  Bae….. Soo…. Ji…. Bae Soo Ji.  Coba katakan, ucapkan coba.  Bae….. Soo….. Ji……”

“Ngh…”  Soo Ji menolak, menepis kedua tangan Min Ho pada bahunya namun pria itu tidak ingin melakukannya.  Licinnya sabun yang memenuhi tubuh mereka tidak menjadikan pria itu meloloskan istrinya begitu saja.  Min Ho seakan tersadar bahwa ia tidak bisa terus menerus mengikuti keinginan istrinya, semuanya akan sia-sia jika dirinya terus melunak dan melakukan apa yang Soo Ji inginkan.

“Aku tidak akan lepaskanmu jika kau belum lakukan apa yang aku minta.  Katakan, ucapkan namamu, Bae…… Soo….. Ji…….”

“Nghhhhks…hiks…hiks…..”

“Tangisanmu tidak akan berguna sekarang.”  Min Ho menggeleng dan mengeratkan pegangan tangannya.  “Ucapkan apa yang aku pinta, Bae…. Soo…. Ji….. ayo coba lakukan.”

“Nghhh…………”

“Bae…… Soo…… Ji……”  Min Ho tetap memaksa, menekankan keinginannya berikut pegangan tangannya yang makin kuat pada pundak istrinya dan itu semua, bukannya mengikuti apa yang suaminya katakan, wanita itu menangis.  Benar-benar menangis dan bukan hanya sekedar terisak, cukup menyadarkan Min Ho bahwa ia tidak bisa memaksa macam ini.  Sekali lagi, pikirannya berubah.  “Astaga baiklah-baiklah…….”  Min Ho berujar pasrah dan melepas pegangannya pada Soo Ji, memeluk tubuh polos yang bergetar dengan isak kencangnya—berharap perlakuan lembutnya akan membuat tangis istrinya mereda.  “Maaf, aku tidak akan memaksamu lagi.  Maafkan aku.  Maaf…. maafkan aku Soo Ji-ah,”  Sesalnya sungguh-sungguh, harusnya dirinya menunggu setelah beberapa lama disini dan Soo Ji mulai merasa nyaman, harusnya dirinya tidak memaksa istrinya seperti ini.  kecupan demi kecupan Min Ho berikan pada Soo Ji, kepala, kening, hingga pundak wanita itu tidak luput dari kecupannya dan setelah hampir 10 menit Min Ho berucap maaf berikut bumbu kecupan itu, Soo Ji mulai menurunkan intensitas tangisannya—perlahan.

Min Ho mendesah tertahan, Soo Ji sudah tidak menangis dan pria itu tidak lebih frustasi dibanding sebelumnya.  Kepalanya hampir pecah, wajahnya memerah, dan dirinya seperti di aduk-aduk—bukan tiba-tiba.  Min Ho jadikan pundak kurus Soo Ji sebagai tumpuan kepalanya, pria itu terpejam… dengan nafas memburu yang berusaha dinormalkannya.

Beberapa kali Min Ho menggumam tidak jelas, sesuatu yang menarik perhatian Soo Ji namun wanita itu bahkan tidak bisa menanyakannya.  Hanya, Soo Ji dorong tubuhnya dari pelukan Min Ho dan mereka berpandangan dengan mata tidak terbaca suaminya, katakan saja…. dalam hal ini, sebab Soo Ji tidak bisa mengerti arti pandangan seseorang, katakan saja bahwa baru kali ini wanita tersebut mendapat pandangan macam itu dari Min Ho hingga keningnya berkerut seolah heran.

 

Min Ho menggeleng, entah untuk apa dan Soo Ji makin tampak bingung dengan perilaku tersebut.  Tanpa mengatakan apapun, pria itu mengusap wajahnya kasar dengan air dalam bathtub yang penuh busa.

“Soo Ji-ah…”  Min Ho memanggil setelahnya, melempar pandangan serius dan menarik rambut panjang Soo Ji yang menutupi wajahnya kebelakang telinga.  Sedikit menarik nafas, Min ho berucap—, “Apa kau bisa mandi sendiri?  Membersihkan badan seperti tadi?”  Tanyanya, menatap wanita yang hanya mengerjapkan matanya tanpa berkata apapun itu bingung.  “Kau tahukan?  Kita berbeda?  Kau harus mulai belajar mandi dan berganti baju sendiri.  Bukan karena aku tidak mau melakukannya, tapi jujur saja itu menyiksaku andai kau tahu.  Kau harus melakukannya sendiri mulai sekarang.”

Soo ji menggeleng— tiba-tiba, kedua tangan Min Ho pada kepalanya ia lepas.  Bersama dengan itu, giliran wajah Soo Ji yang memerah dan tidak seperti Min Ho yang memanas, Soo Ji justru menangis.  Wanita itu, entah bagaimana mulai menggunakan otaknya untuk berpikir dan satu jawaban sebagai satu-satunya jawaban dalam pikirannya langsung muncul.  “Kenapa menangis?”  Gusar Min Ho tidak mengerti, apakah dirinya melakukan sesuatu yang salah lagi?  “Soo Ji-ah?”

“Hiks—hiks…”

“Ada apa?”  Tanya Min Ho makin khawatir dan makin mendekatkan dirinya pada Soo Ji, melihat keseluruhan tubuh istrinya yang sejujurnya tidak nyaman baginya namun bagaimanapun, tidak mungkin ia biarkan Soo Ji merasakan sakit dengan bibirnya yang sama sekali tidak terbuka.  “Apa luka di kakimu perih?  Huh?  Katakan padaku, apanya yang sakit?  Tunjukkan padaku Soo Ji-ah…….”  Erang Min Ho mulai frustasi melihat istrinya yang tetap menangis dan dirinya tidak memiliki pilihan kecuali melihat satu persatu, tiap inci tubuh istrinya yang mungkin terluka.

Soo Ji terisak, melihat Min Ho memeriksa seluruh tubuhnya dan gemuruh dadanya belum berhenti… dengan pandangan yang hanya tertuju pada Min Ho, wanita itu membuka bibirnya, “Bae….. hiks—hiks Soo—hiks…. Ji hiks—hiks—hiks  Bae…… Soo……. Ji……  Op—ppa… oppa hiks—hiks.”

Min Ho melongo—seketika, kegiatannya memeriksa seluruh tubuh istrinya langsung terhenti dan pandangannya kembali berpusat pada Soo Ji yang juga hanya melihatnya.  “Apa katamu?  Katakan sekali lagi.”  Buru Min Ho tidak sabar, menghapus air mata di wajah istrinya dan kembali meletakkan kedua tangannya pada pundak Soo Ji.  “Katakan sekali lagi.  Bae Soo Ji, oppa.  Katakan Soo Ji-ah..”

“Ja—ngan pergi hiks—hiks ja—ngan per—gi.  Jangan pergi oppa hiks—hiks—hiks.”

“Astaga… astaga tidak, tidak Soo Ji-ah…..”  Min Ho terlonjak cepat sembari memeluk istrinya erat, mencium kening wanita itu beberapa kali dan pelukan Soo Ji padanya ikut mengerat.  Seolah mampu memasuki pikiran istrinya, Min Ho tersenyum antara senang dan haru.  “Maksudku agar kau mandi dan ganti baju sendiri bukan untuk meninggalkanmu Soo Ji-ah, tidak.  Sama sekali tidak.  Aku tidak mungkin meninggalkanmu.  Aku bersumpah aku tidak mungkin meninggalkanmu.”  Jelas pria itu berkali-kali dan mendorong tubuh istrinya agar berpandangan.  Menempelkan keningnya dengan milik Soo Ji hingga pandangannya saling terkunci, pria itu berkata, “Aku tidak mungkin meninggalkanmu.  Aku suamimu, selamanya kita bersama.  Kau harus tahu itu, aku tidak mungkin meninggalkanmu.  Kau mengerti?  Kau paham?”  Soo Ji mengangguk pelan, memeluk kembali tubuh Min Ho selama yang dirinya mau dan pria itu tidak keberatan tentunya, dibalasnya pelukan Soo Ji nyaman.

“Op—ppa.”  Sebut Soo Ji, berkali-kali dalam pelukannya yang menggetarkan Min Ho.

Entah harus bagaimana, entah harus berterimakasih, entah harus girang, entah harus menangis, atau entah bagaimana menjelaskan dan mengungkapkan isi hatinya.  Min Ho, pria itu untuk pertama kalinya tersenyum lega.  Usapan tangannya pada kepala Soo Ji berganti kecupan hingga tangis istrinya berhenti terus berlangsung.

“Jangan berpikir macam-macam, hm?”  Soo Ji mengangguk seolah kepalanya benar-benar terisi entah bagaimana, melepas pelukannya pada Min Ho…. wanita itu ganti memandang suaminya lekat-lekat dengan kedipan polos dan mata jernih.

Min Ho tersenyum, kali ini ia ingin sebutkan bahwa dirinya terharu.  Pada Soo Ji yang mengatakan sesuatu, pada Soo Ji yang tidak kehilangan dirinya, dan pada Soo Ji yang berubah dengan sangat cepat—melebihi perkiraannya.  “Gomawo Soo Ji-ah.”  Bisiknya, pelan.

Entah benar atau tidak, entah terlalu cepat atau tidak, Min Ho kembali melewati batasannya.  Beberapa akan mengatakan bahwa tidak seharusnya sekarang, beberapa berkata bahwa Min Ho harusnya lebih sabar, tapi biarkan Min Ho katakan bahwa sikap terburu-burunya seperti tadi lebih membuahkan hasil dibanding kesabarannya selama 2 tahun ini.

Pria itu, dengan pandangan lurus yang mengunci pandangan istrinya, mendekatkan wajahnya—perlahan.  Menyamaratakan bibirnya dengan milik Soo Ji, Min Ho memejamkan matanya dan semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling tertempel.

Soo Ji mengerjap, beberapa kali.  Kedua tangannya yang tidak terkunci oleh apapun, terkepal dalam air yang menyelimuti tubuh polosnya bersama Min Ho.

Tampak terkejut, wanita itu kaku bagai diselubungi es.  Min Ho menekan emosinya, di usapnya sekali lagi kepala Soo Ji dan bibirnya yang hanya menempel pada bibirnya Soo Ji segera ditariknya sebelum terjadi hal yang lebih tidak bisa ditahannya.

Soo Ji tercekat, matanya jelas-jelas membulat ke arah Min Ho yang masih tidak mau membuka sedikitpun matanya untuk melihat ia kembali dan Soo Ji tidak suka ketika Min Ho tidak melihatnya.  Kerutan pada kening Soo Ji muncul, tangannya yang tadi terkepal kaku bergerak—menyentuh bibirnya sendiri.

Seolah tersadar dari hal mengejutkan, kepala Soo Ji kembali menyimpulkan sesuatu yang akhirnya membuat kerutan di keningnya hilang.  Min Ho yang masih dihadapannya dengan mata terpejam dan kedua tangan memegang kepalanya, Soo Ji singkirkan.  Wanita itu, entah bagaimana—saat Min Ho terkejut dengan tepisan tangannya, hal yang tadi pria tersebut lakukan pada istrinya, kini justru terjadi padanya.  Seperti yang Min Ho katakan beberapa hari lalu pada Soo Hyuk, Andai aku bisa masuk dalam pikirannya Soo Hyuk-ah.

 

Soo Ji, entah bagaimana cara kerja otak wanita itu kini hingga banyak melakukan hal tidak terduga.  Segera setelah menyingkirkan kedua tangan Min Ho dari kepalanya, segera setelah pria itu mendongak padanya, wajah Soo Ji yang bahkan baru Min Ho tatap belum ada 2 detik kini sudah menyentuhnya tidak berbatas.  Wanita itu menempelkan tiba-tiba bibirnya pada bibir Min Ho, persis seperti yang pria itu lakukan tadi

 

Min Ho mengerjap, terkejut, persis seperti yang istrinya tadi alami namun tidak dikenalnya emosi apa itu.  Mimpikah ini?

51 responses to “#3 All of Us *Cut Ver.

  1. tp yg lbh kejam penjahatny,membuat seorang ibu utk membunuh anakny…woah,suzy mkn baik, coba klo dr dlu cari suasana baru,gmn minho tahan selam 2 thn,wkwkwk…eh,cut ver?ada yg full ver?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s