[Freelance/Twoshoot] Zigzag 2/2

Title : Zigzag | Author : Man Ri Ra | Genre : Angst, Friendship, Romance, School Life. | Rating : G | Main Cast : Bae Suzy, Oh Sehun. | Other Cast : Kim Jongin, Son Naeun

—————————-
.
.

.
.
Notes : Story is mine. Don’t bashing! I hate plagiat! Sorry for typoos.
—————————

|
|
|
|
|
|
|

|
|
|

~ Z I G Z A G ~ (by: Man Ri Ra)
|
|
|
|

HAPPY READING!
.
.

.


Bae Suzy duduk santai di dekat kolam ikan sambil menatap lesu puluhan ikan koi milik Nenek nya yang di pelihara di belakang rumah. Dengan gerakan malas ia melempar kerikil yang ia genggam ke dalam kolam.

“Eh Noona, Kau mau membunuh ikannya ya?”

Suzy mendengus mendengar teriakan sepupunya, Kim Jungkook, yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya.

“Aku akan mengadukannya pada Halmoeni dan kau akan dihukum,” Jungkook menyeringai setan lalu mengambil posisi duduk disebelah kanan Suzy.

Suzy memutar malas bola matanya. “Kenapa malah duduk disini, anak kecil? Cepat potong rumputnya! Hukumanmu belum selesai.”

Jungkook cemberut lalu melempar gunting rumput yang tadi di tangannya kesembarang arah. “Halmoeni jahat sekali menghukumku. Padahal aku tadi hanya menumpahkan susu di sofa,” gerutu Jungkook dan langsung mendapat delikan tajam dari Suzy.

“Hanya menumpahkan susu katamu?” Suzy berdecak sinis. “Kau pikir menjatuhkan vas bunga, mengotori kamarku, memecahkan piring dan menghilangkan tombol remot televisi itu bukan ulahmu?” Suzy mendengus kesal.

Kim Jungkook meringis pelan. Sebenarnya ia hanyalah seorang siswa mengengah atas tingkat pertama yang hanya mengetahui hal yang menurutnya menyenangkan. Jungkook tinggal di Gwangju bersama Orangtuanya yang gila kerja, membuatnya menjadi anak yang suka berbuat ulah karena kurang perhatian. Jarak rumahnya dengan rumah Nenek lumayan dekat sehingga Jungkook bisa kerumah Nenek setiap waktu.

Suzy kembali membayangkan kejadian siang tadi. Yaitu ketika Nenek marah karena vas bunga kesayangan beliau dijatuhkan oleh Jungkook. Nenek memutuskan untuk menghukum Jungkook dengan memotong rumput liar di taman belakang rumah yang sialnya sangat luas. Keputusan Nenek yang membuat Suzy berteriak senang. Rupanya Suzy sudah cukup jengah dengan tingkah sepupunya itu yang selalu membuat emosinya terpancing.

“Noona, siapa sih yang menciptakan taman belakang seluas ini?” Jungkook menggerutu sebal seraya meluruskan kedua kaki dan tangannya yang terasa pegal.

“Aku tak tahu.”

“Sial sekali. Padahal aku ingin sekali mengutuk orang yang membuat taman belakang seluas ini menjadi cacing. Tak tahukah dia bahwa memotong rumput itu merepotkan?” Jungkook bersungut-sungut.

“Kalau begitu cepat kutuk aku!”

Suzy dan Jungkook menoleh bersamaan saat sebuah suara terdengar dibelakang mereka. Suzy meringis pelan saat menemukan sosok Kakeknya yang berkacak pinggang dan menatap Jungkook dengan tajam.

“Jadi Haraboeji ya yang membuat taman ini?” Jungkook bertanya pelan dengan senyum aneh. Jungkook memang suka berbuat ulah tapi ia selalu takut jika berhadapan dengan orangtuanya terutama pada kakek.

“Tentu saja aku. Dasar bocah durhaka! Sekarang kau potong rumput di halaman depan atau aku akan mengadu pada Appa mu agar uang jajanmu dipotong!”

Suzy menahan tawanya melihat sepupunya itu hampir menangis. Tentu saja, halaman depan rumah jelas lebih besar daripada taman belakang rumah. Mati saja kau Jungkook! Sorak Suzy lewat tatapan matanya.

Selepas perginya Jungkook dan Kakek, seulas senyum geli masih terpatri dibibirnya. Rupanya mengasingkan diri ke Gwangju adalah keputusan yang benar. Menyaksikan polah sepupunya yang terkena amukan Nenek dan Kakek seperti sedang bertemu dengan surga, menyenangkan sekali.

Suzy menghela napas berat mengingat tujuannya ke Gwangju bukan hanya untuk menemui Nenek dan Kakek, tapi juga untuk memenuhi permintaan keluarga besarnya di sini. Lagipula ia perlu menenangkan diri untuk melupakan bayang-bayang Oh Sehun yang mungkin sudah bahagia dengan Son Naeun di Seoul sana. Mengingatnya membuat dada Suzy sesak seakan paru-parunya mulai tidak berfungsi dengan benar. Kali ini dengan membayangkan Sehun sudah bahagia dengan Naeun, membutnya memutuskan untuk menyiapkan hatinya. Menguatkan dirinya agar tidak lagi berharap kepada Oh Sehun. Ia bukan wanita licik yang mencoba merebut Sehun dari kekasih barunya, sekalipun ia bisa. Yang ia tahu, Sehun menyukai Naeun dan Naeun merespon Sehun dengan baik. Ia ingin Sehun bahagia terlepas dari perasaannya sendiri yang mungkin sangat mengganggu hubungan Sehun dan Naeun.

“Kenapa kau melamun saja dari tadi?”

Suzy menoleh dan mendapati Ibunya sudah duduk disebelahnya. Ibunya, Bae Jinna, membawa sebuah ember yang berisi beberapa wortel segar dan mulai mengupasnya menggunakan pisau. Rupaya ibu sedang menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk memasak sebentar lagi. Diam-diam Suzy melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 3 sore. Ia tanpa sadar mengangguk paham, ibunya memang terbiasa memasak jam 4 sore, dan mulai menyiapkan bahan sejak jam 3 sore. Biasanya sambil mengupas atau memotong sayuran, ibu melakukannya sambil menonton televisi atau mengobrol dengannya.

“Tidak ada kok, Eomma.” Suzy menjawab lalu melemparkan pandangannya ke kolam ikan.

Bae Jinna mengangguk. “Appa akan sampai disini sebentar lagi. Besok kita kembali ke Seoul.”

“Iya Eomma. Appa sudah menelponku tadi.”

Ayahnya memang sedang berada di Seoul karena pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Seminggu yang lalu saat ia dan kedua orangtuanya ke Gwangju bersama, Ayahnya yang baru menginap semalam langsung mendapat telepon dari kantor dan memutuskan balik lagi ke Seoul dan kembali ke Gwangju untuk menjemput ia dan ibunya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya ibunya perhatian.

Bae Jinna memang mengetahui tentang apa yang dialami puterinya, terlebih tentang perasaan yang dipendam kepada Oh Sehun, anak dari sahabat suaminya.

“Lebih baik,” jawab Suzy jujur. Ia bukanlah gadis yang pandai memendam apa yang dirasakan oleh hatinya.

Bae Jinna meletakan pisaunya lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Suzy. “Sayang. Jika ini memberatkanmu, kita tak akan memaksamu.”

Suzy menatap ibunya sebentar lalu menunduk memainkan kukunya. “Tak ada yang perlu di khawatirkan. Lagipula ini keputusanku.”

“Kau serius?”

Suzy mendongak seraya menghembuskan napasnya yang terasa berat. “Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”

Jinna mengangkat tangannya lalu mengelus sayang puncak kepala puterinya.

“Apapun itu. Perjalananmu masih panjang, sayang. Gunakanlah waktumu dengan sebaik mungkin.”

“Terimakasih Eomma,” Suzy tersenyum.

“Noona! Myungsoo Hyung akan mengajakmu jalan-jalan!” Kim Jungkook berteriak heboh dipintu belakang rumah.

Suzy menoleh ke belakang dan langsung melihat Jungkook yang melambai kearahnya. Rupanya sepupunya itu tak sendiri, ia bersama seorang pria tampan yang tengah tersenyum lebar kearahnya. Suzy menyambutnya dengan senyum tipis.

“Pergilah sayang,” kata ibunya pelan membuat Suzy menghela napas panjang.

*
*

Figura itu menjadi objek yang dipandangi Oh Sehun sejak sejam yang lalu. Sebuah foto yang menampilkan dirinya bersama Suzy diacara pensi yang diadakan sekolah mereka setahun yang lalu. Dalam foto itu, Ia sangat tampan dengan pakaian kasualnya dan tersenyum lebar kearah kamera, sedangkan Suzy yang merangkulnya tampak konyol dengan pose menjulurkan lidah. Sekali lagi ia menatap wajah Suzy difoto itu, lalu mendengus menyadari ekspresi Suzy difoto itu seakan sedang mengejeknya karena terlalu merindukan gadis itu.

“Kapan kau kembali Suzy-ah!”

Semenjak malam dimana ia mulai jujur pada perasaannya, berbagai kenangannya dengan Suzy semenjak mereka masih kecil berkelebat diotaknya. Mengingatkan kepadanya betapa Suzy sangat berpengaruh pada hidupnya. Mengingatkan padanya betapa Suzy sangat tulus kepadanya. Dan semenjak seminggu yang lalu, ia selalu merindukan gadis itu.

Dering ponsel menyadarkannya, membuatnya tanpa sadar melompat dari tempat tidur dan segera menyambar ponselnya di meja belajar, berharap Suzy yang sedang menghubunginya. Namun ketika mendapati bahwa orang lain yang menelponnya, membuatnya melengos.

“Selamat sore Tuan Galau,” suara usil Kim Jongin terdengar diseberang sana.

“Sialan kau hitam!”

“Terimakasih Tuan berkulit seputih tembok,” jawab Jongin sarkastis.

“Ada apa?” Sehun bertanya malas seraya menghempaskan tubuhnya dikasur.

“Nanti malam kita kencan yuk,” seru Jongin dengan nada genit yang memuakkan.

“Jangan gila!”

“Aku serius! Sekali-kali kau harus keluar malam bersamaku. Jangan memandangi foto Suzy yang malah fotonya sedang mengejekmu.”

Sialan, darimana si hitam itu tau! Sehun mengutuk dalam hati.

“Kau lupa ya, yang mengambil foto itu ‘kan aku,” suara Jongin terkekeh bahagia lewat telepon. “Aku menjemputmu nanti malam ya. Dandan yang cantik!

Jongin tertawa keras sebelum menutup teleponnya secara sepihak.

Sehun mendengus jengkel lalu menghempaskan ponsel itu kesampingnya. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya, seketika merasakan jiwanya yang gundah gulana. Ketika wajah Suzy berkelebat dalam pikirannya, perasaan rindu dan bersalah itu melumuri hatinya. Dalam diam ia berdoa, berharap Suzy akan kembali besok dan ia berjanji akan mengungkapkan apa yang ia rasakan dan berjanji tak akan menyia-nyiakan gadis itu-lagi.

*
*

Sehun membuka pintu rumahnya dipagi hari sembari merenggangkan ototnya. Pagi ini ia hendak melakukan lari pagi sebagai rutinitas pagi yang menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Sebelumnya ia lebih memilih bergelut dalam selimut tebalnya daripada melakukan kegiatan semacam ini. Namun semenjak Suzy tak menganggu tidurnya lagi, ia merasa bangun tidurnya kurang mengesankan. Maka ia memutuskan berlari seraya mencari udara segar sekaligus menenangkan pikirannya.

Lagi-lagi kepikiran Bae Suzy. Sehun menggeleng frustasi lalu memutuskan untuk menambah kecepatan larinya.

Pagi ini penampilannya terlihat tampan seperti biasa. Kali ini ia memilih untuk mengenakan kaos tanpa lengan dipadukan dengan celana jersey selutut. Sepatu olahraga berwarna putih nampak membalut kakinya. Sepatu yang dibelinya dua bulan yang lalu bersama Suzy.

Sehun berhenti berlari lalu memencet hidungnya gemas. Kenapa lagi-lagi teringat Suzy sih? Ia memutuskan duduk dibangku panjang yang ditemuinya dipinggir jalan seraya mengistirahatkan diri. Keringat mengucur deras dari tubuhnya dan tenggorokannya terasa kering. Ia meluruskan kakinya lalu menyenderkan punggungnya, ternyata hanya mengelilingi kompleks terasa melelahkan. Sebenarnya ia hanya perlu berlari beberapa meter dari sini untuk sampai ke rumahnya lalu menghilangkan dahaga yang mendera tenggorokannya. Tapi ia terlalu malas untuk sekedar berdiri. Maka yang ia lakukan hanya memejamkan mata seraya mengatur deru nafasnya yang masih memburu, berharap ada orang lewat dan dengan baik hati menawari minum gratis. Meskipun itu hanya kemungkinan yang jarang terjadi karena pada nyatanya tak ada seorang pun yang berlalu lalang dihadapannya kini. Tapi siapa sih yang melarang seseorang untuk berharap? Toh berharap itu bukanlah perbuatan keji yang berakibat dosa.

Sesuatu menempel pada pipinya membuat lelaki itu terkejut. Matanya refleks terbuka lalu mendapati sebotol air putihlah yang menempel pada pipinya. Kepalanya memilih untuk menoleh demi mengetahui siapa gerangan orang baik hati yang memberinya air. Ia hendak mengucapkan sepatah kata terimakasih namun kata itu tiba-tiba tersangkut ditenggorokannya dan tubuhnya seketika menegang dengan detak jantung yang tiba-tiba memukul dadanya dengan keras.

“Kau?”

.

.
[ENDING]
.

.

-Hahaa upss sorry cuma becanda>.< Cuma mau ingetin kalo ceritanya masih panjang jd jngn bosen wkwkw^^
Ayo gih dilanjut bacanya!-

.

.

.

.
***

Bae Suzy terbangun dari tidurnya lalu mengerjapkan mata saat kepalanya tanpa sengaja terantuk kaca mobil. Ia mengucek matanya sebal lalu menatap ayahnya yang meliriknya lewat spion atas.

“Maafkan Appa ya puteri tidur cantik. Batu sialan itu ada ditengah jalan dan membuatmu terbangun,” ayahnya berujar seraya terkekeh pelan, tak menampilkan wajah bersalah sama sekali.

Suzy mendengus lalu merenggangkan otot tubuhnya. Rupanya perjalanan dari Gwangju membuatnya tak bisa menahan kantuk. Ia jadi teringat kemarin malam dimana Ayahnya berkata mereka akan kembali ke Seoul dipagi hari. Tadinya ia pikir pagi hari yang dimaksud adalah pukul 8 atau 9. Tapi ternyata pagi yang dimaksud oleh Ayahnya adalah pukul 4 pagi. Pagi tadi ibu membuatnya menjadi pusing karena dibangunkan tidurnya secara paksa dan menyuruhnya bergegas mandi. Hal tu membuatnya jengkel setengah mati, setelah begadang semalaman karena tidak bisa tidur, sekalinya bisa tidur malah dibangunkan secara paksa.

“Sudah sampai mana?” Suzy bertanya seraya melirik arlojinya yang menunjukkan pukul setengah 7.

“Sebentar lagi sampai rumah,” jawab ibunya.

Suzy mengangguk mengerti lalu pandangannya beralih memperhatian jalanan yang sudah ia kenal lewat kaca jendela mobil. Matanya menelusuri setiap rumah demi rumah yang dilewatinya. Dan semua itu membuatnya bosan.

Ia menghela napas panjang. Saat diseperti ini dirinya malah teringat Oh Sehun. Bagaimana kabar lelaki itu? Sudah seminggu lebih ia tak mendengar kabar Sehun. Dan itu diluar kebiasaannya. Ia memang sering berlibur atau menghabiskan waktu di Gwangju, tapi baik ia maupun Sehun sama sekali tak lupa untuk saling menyapa lewat skype atau media lainnya demi menceritakan liburan masing-masing. Kali ini ia memang sengaja mengganti kartunya, salah satu dari sekian cara untuk menghindari Sehun.

Entah kenapa ia belum siap mendengar kabar Sehun menjalin hubungan dengan Naeun. Bisa jadi kan selama ia di Gwangju Sehun semakin gencar mendekati Naeun? Dan ia tak ingin mendengar kabar buruk itu, setidaknya untuk sampai saat ini. Sejujurnya ia masih bingung dengan perasaanya sendiri. Perasaan kepada Sehun yang masih terlalu melekat dihatinya, namun disisi lain ia harus belajar merelakan. Mungkin benar kata Sehun, mereka takkan bisa bersatu. Mereka diciptakan hanya untuk menjadi sepasang sahabat. Sehun terlalu mengenalnya, mengetahui kebiasaan anehnya dan segala hal buruk yang tak lepas darinya. Mungkin alasan itulah yang membuat Sehun tak mau menerimanya dan lebih memilih Naeun. Ia dan Naeun sangat beda tentu saja, Naeun terlahir dalam keluarga tersohor dan Naeun dituntut bersikap feminim. Otak cerdas gadis itu juga berguna untuk kemajuan nama sekolah mereka, juga kepribadiannya yang lemah lembut membuat siapapun rela mengantri. Apalagi didukung dengan wajah cantik jelita dan tubuh semampai, membuat sekolah tanpa berpikir dua kali menjadikan Naeun sebagai duta sekolah.

Berbeda dengannya. Didepan Sehun, ia hanya bisa mengandalkan wajah konyolnya dan tingkah aneh. Tentu saja Sehun harus berpikir berkali lipat untuk menjadikannya kekasih. Hal itu membuatnya tertampar dan menyadari: ia tak pantas bersama Oh Sehun yang tampan.

Suzy menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Akhir-akhir ini kesehatannya menurun. Mungkin karena banyak pikiran membuatnya seperti ini. Ia menyambar sebuah botol minuman yang di memang sengaja disediakan untuknya, menandaskan isinya sampai setengah. Ketika ia menoleh ke kaca mobil, matanya terpaku. Disana, dibangku panjang itu, lelaki yang dipikirkannya selama ini tengah duduk menyender dengan memejamkan mata. Seketika perasaan rindu membuncah didadanya.

“Appa berhenti,” Suzy berseru kepada ayahnya.

“Kenapa Suzy-ah?” Ayahnya bertanya heran sembari menginjak rem lalu mobilnya berhenti.

“Ada Sehun disana, aku akan menyusulnya.”

“Suzy,” ibunya berujar, memperingatkan puterinya.

Suzy tersenyum. “Aku tak apa. Hanya sebentar.”

Kemudian Suzy turun dari mobilnya seraya membawa botol airnya yang tanpa sengaja dibawanya. Ketika mobil ayahnya melaju meninggalkannya, seketika jantungnya berdetak semakin menggila. Matanya kembali terpaku pada sosok Sehun disana. Senyum tipis terpatri dibibirnya, menyadari bahwa lelaki itu kini baik-baik saja. Mungkin malah semakin baik-baik saja, melihat pria itu kini melakukan olahraga pagi. Sesuatu yang jarang terjadi. Atau mungkin itu adalah salah satu dampak hubungan baiknya dengan Naeun? Dan seketika perasaan sakit itu menyayat pelan hati Suzy. Keputusannya untuk melupakan perasaan yang dipendam kepada Sehun mungkin benar. Jika ia tak bisa memiliki hati dan cinta Sehun, setidaknya ia bisa memiliki waktu dengan Sehun sebagai sahabat. Hanya sebagai sahabat.

Suzy tersenyum ironis. Namun tak mengurungkan langkahnya untuk mendekati pria itu dan menyapanya. Setiap langkah mendekat, hatinya merapalkan kalimat, ‘Sehun sahabatku dan Sehun hanya akan jadi sahabatku, lupakan Sehun, lupakan perasaan cinta itu, dan mulailah membuka hatimu untuk pria lain, Suzy’

*
*

Dua anak manusia itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Selembar daun terbawa angin dan melayang lalu terjatuh di telapak tangan Suzy. Gadis itu memilih menunduk dan memainkan daun itu dalam diam. Mencoba mengabaikan suasana canggung yang tercipta.

Sehun memandang gadis disampingnya itu. Entah mengapa Suzy terlihat semakin cantik dengan pakaian kasual berwarna hitam putihnya. Sesuatu yang aneh, padahal Suzy sering memakai baju seperti itu, tapi entah kenapa dimatanya kali ini Suzy terlihat dewasa. Pun dengan jantungnya yang sedari tadi memukul rongga dadanya dengan tak biasa. Sesuatu yang menyenangkan menggelitik perutnya menimbulkan euforia yang menakjubkan.

Entah kenapa lidahnya terlalu kelu untuk memulai percakapan. Tadi setelah berbasa-basi menanyakan kabar, mereka memilih bungkam dan tak tahu harus membicarakan apa. Sebenarnya ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, terlebih mengenai perasaan yang ingin segera ia ungkapkan untuk gadis itu. Dan tentang sesuatu yang membuatnya terganggu selama ini, yaitu sebuah rahasia yang Suzy simpan darinya.

“Kau berjanji mengatakan sesuatu setelah pulang dari Gwangju. Jadi katakanlah Suez,” Sehun bertanya setelah lama terdiam.

Suzy mengangkat kepalanya lalu menatap Sehun sebentar. Ia berdehem. “Rupanya kau sudah tidak sabar,” Suzy tersenyum ironi.

“Itu membuatku penasaran,” Sehun bergumam. Ia mengutuk suasana sepi yang membuat segalanya nampak canggung dan membuatnya tak nyaman.

“Bukan sesuatu yang penting kurasa. Tapi mungkin kau akan bahagia saat mendengarnya dan kau mungkin akan mentraktirku sebagai perayaan.”

Kening Sehun terkerut dalam. “Aku tak tau maksudmu itu.” Sehun berpikir sejenak, menebak. “Atau kau akan mengatakan akan kuliah diluar negeri?” Sehun merasakan lidahnya kelu.

Suzy menggeleng misterius. “Kau tau bukan, aku tak bercita-cita kuliah diluar negeri.”

Sehun bernapas lega. Jika Suzy meninggalkannya disini karena melanjutkan pendidikan diluar negeri, maka ia rasa hidupnya tak akan berarti baik lagi.

“Lalu apa?”

Dering ponsel Suzy membuat konsentrasi Sehun pecah. Segera saja Suzy mengangkat ponselnya dan sedikit mengernyit melihat id caller nya.

“Myungsoo Oppa?” Suzy menyapa dengan terkejut lalu memilih berdiri dan menjauh dari Sehun.

Sehun mengernyitkan dahinya heran. Selama ini ia selalu mengenal siapa saja teman pria Suzy. Tapi nama Myungsoo terasa asing di telinganya. Matanya menatap Suzy was-was, merasakan ada suatu firasat yang buruk sedang terjadi.

Suzy berdiri disana dengan menggenggam erat ponselnya. Dahinya berkerut samar sebagai bentuk dari respon alami yang terjadi karena pembicaraan seriusnya dengan Myungsoo diseberang sana.

“Baiklah, akan ku usahakan untuk menjemputmu,” jawab Suzy mengakhiri percakapannya ditelepon.

Suzy menghela napas panjang lalu berbalik menemui Sehun yang menatapnya dengan tajam. Suzy mengangkat alisnya bingung melihat sehun menatapnya seperti itu.

“Kenapa Sehun-ah?”

“Siapa itu Myungsoo?” serobot Sehun tak sabar. Tangannya menarik Suzy untuk segera duduk disampingnya.

Suzy tersenyum. “Seseorang yang kukenal dari Gwangju.”

“Apa dia teman spesialmu?”

Kening Suzy berkerut dalam. Merasakan ada sesuatu yang aneh tengah merasuki Sehun.

“Kenapa tidak menjawab?” Sehun bertanya tak sabar.

Suzy menghela napas lelah kemudian melirik arlojinya sebentar. “Kurasa aku harus pergi sebentar lagi.”

Sehun menipiskan bibirnya karena lagi-lagi Suzy menghindari pertanyaannya. Kemudian dihelanya napas panjang dan mencoba bersikap tenang. “Kau baru datang Suez.”

Suzy tersenyum dalam diam. Ia begitu merindukan Sehun menyebut nama panggilannya yang diberikan oleh Sehun sendiri. “Tapi aku harus pergi.”

“Menemui Myungsoo barumu itu?” Sehun bertanya malas. Sudut hatinya merasakan kegelisahan saat menyebut nama itu, seolah-olah ada yang tidak beres.

“Kau penebak yang handal Sehun-ah,” seru Suzy lalu tertawa ringan.

Sehun merasa ia baru saja meneguk segelas madu yang terasa nikmat setelah melihat Suzy tertawa. Baru disadarinya bahwa ia teramat merindukan tawa itu.

“Kita berbicara nanti malam ya. Kita bongkar rahasia kita. Aku akan menunggumu di kursi halaman depan rumah seperti biasa.”

Kemudian Suzy berlalu dari hadapannya. Meninggalkannya bersama dengan kerinduan yang belum sempat terobati. Lalu saat menyadari sesuatu, hatinya mencelos, merasakan sesuatu yang menyakiti ulu hatinya. Suzy meninggalkannya dihari pertama pertemuannya setelah seminggu, dan itu demi Myungsoo? Apa Myungsoo sekarang menjadi prioritas Suzy? Menggeser posisi Sehun dengan perlahan?

*

*

Sehun menutup game online yang ia mainkan diponselnya dengan paksa. Kejenuhan sudah merayapinya sejak tadi, hanya demi menunggu Suzy yang tak kunjung datang. Ia sudah duduk dikursi halaman depan rumah mereka sejak sejam yang lalu, dan yang ditunggu belum juga datang. Ini memang salahnya, karena terlalu antusias dan sudah berdandan jauh sebelum jam menunjukkan waktu malam. Dandan? Sehun menggaruk rambut hitamnya malu, selama ini ia tak pernah berdandan hanya untuk menemui seorang Bae Suzy. Biasanya Suzy sering menjumpainya dalam keadaan penampilannya yang paling buruk.

“Menungguku?”

Suzy muncul dibelakang Sehun secara tiba-tiba. Dengan membawa tas karton yang dijinjingnya, ia berjalan lalu mendudukan dirinya dikursi.

Sehun terpana dengan penampilan Suzy. Gadis itu mengenakan dress selutut berwarna biru tosca yang sederhana. Rambutnya tergerai indah membuat penampilan gadis itu semakin mempesona. Seketika jantungnya berdetak dengan menggila.

“Kau seperti akan pergi kencan,” Sehun berucap pelan dengan tak bisa menyembunyikan senyum dan rona wajahnya.

Suzy menyibakkan rambutnya kebelakang lalu menatap penampilan Sehun yang nampak berbeda. Sebuah kemeja yang dipadukan dengan jeans hitam membuatnya tampak semakin tampan.

“Oh ya? Kau juga terlihat sedikit tampan. Apa kau akan pergi setelah ini?”

Sehun mendengus. “Aku selalu tampan kau tahu. Dan tidak, aku tidak pergi setelah ini.”

Suzy tersenyum geli mendengarnya. Jika biasanya ia akan menjitak kepala Sehun karena tingkat kepercayaan diri lelaki itu sudah pada taraf memprihatinkan, tapi kini ia lebih memilih tersenyum.

“Apa itu? Oleh-oleh ya?” Sehun mengedikkan dagunya kearah tas karton yang dipangku Suzy.

Suzy mengangkat barang yang dipangkunya. “Iya. Aku membawanya untukmu. Dan didalam sini ada sesuatu yang ku sebut rahasia.”

“Coba kulihat!” Sehun berseru seraya merebut tas karton Suzy.

Sehun sama sekali tak menyadari perubahan eskpresi wajah Suzy. Kini Suzy nampak tersenyum pedih.

Sehun yang penasaran mencoba berdoa dalam hati, berharap tak ada suatu yang buruk terjadi. Kemudian dibukanya tas itu dan matanya langsung menemukam sebuah syal berwarna cream, warna kesukaannya

“Aku merajutnya untukmu. Halmoeni mengajariku merajut dan aku membuatkannya untukmu,” jelas Suzy tanpa diminta.

Sehun tersenyum senang lalu segera melilitkan syal itu dilehernya. Hatinya bergejolak senang mengetahui bahwa Suzy membuatkan sesuatu yang spesial untuknya.

“Aku suka.” Sehun tertawa pelan. “Jadi ini yang kau sebut rahasia?” Sehun bertanya dengan nada mengejek. Rasa khawatirnya seketika menguap entah kemana.

“Lihat tas itu lagi.”

Sehun mengedikkan bahunya. Lalu ia memutuskan untuk membuka tas itu kembali. Dan matanya langsung terpaku pada sebuah kertas yang mirip seperti undangan. Tangannya langsung menyambar benda itu dan memperhatikannya. Matanya melotot tak percaya disusul oleh perasaan sesak yang menghancurkan rasa senang yang belum lama ia dapat.

“Suez, ini… ” Sehun menelan ludahnya susah payah. Tangannya yang memegang sebuah undangan bergetar hebat.

Suzy tersenyum seraya mengangguk. “Kau suka?” Suzy bertanya lalu mendongakkan kepalanya, menatap kilauan bintang diatas sana. “Setelah ini kau tak perlu lagi merasa bersalah kepadaku. Setelah ini kau tak perlu merasa terbebani. Setelah ini kau bisa bebas bersama siapa saja tanpa merasa sungkan denganku. Setelah ini kau tak perlu menyembunyikan hubunganmu dengan siapapun dariku. Setelah ini kau tak akan mendengar pernyataan cinta dariku yang pasti sangat mengganggumu. Dan kau tak perlu mengingatkan lagi kepadaku kalau kita tidak bisa bersatu dalam ikatan lain. Apa kau senang?”

Sehun menggeleng tak mau mempercayai semua ini. Kepalanya terasa pening hanya untuk sekedar memproses apa yang dikatakan Suzy baru saja. Hatinya dengan keras menolak pun dengan rasa sakit yang menyerang hatinya tiba-tiba membuat tubuhnya lemas.

“Jangan becanda!” Sehun berteriak kalut.

Suzy terkejut mendapat bentakan sekeras itu dari Sehun. Buru-buru ia tersenyum. “Untuk apa aku becanda. Apakah perasaan bisa dipermainkan dan membuatnya menjadi lucu?”

Suzy menghela napas panjang seraya melirik Sehun yang memejamkan mata seolah sedang merendam emosinya. Ia merasakan hatinya teremas saat menatap wajah tampan Sehun. Sontak ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang mendesak keluar.

“Katakan yang sebenarnya,” kata Sehun datar kontras dengan hatinya yang bergejolak menahan lara.

Suzy menunduk lalu tersenyum miris. “Tak ada yang spesial dengan itu. Ayah dan ibuku tahu jika puterinya sedang dalam masa-masa sulit. Dimana aku mencintai sahabatku sendiri, sedang sahabatku tak mempunyai perasaan yang sama. Setelah itu Appa mencoba mengenalkanku dengan pria Gwangju bernama Kim Myungsoo. Dia adalah seorang dokter baik hati yang pernah membantuku saat aku kecelakaan sepeda. Aku tak menyangka dia langsung menyukaiku saat pertama kali bertemu. Dan dia langsung menyetujui bahwa akulah yang akan dijodohkan dengannya.” Suzy menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan “Ayah Myungsoo Oppa adalah rekan bisnis Appaku. Dan kakeknya  masih bersahabat dengan Haraboejiku. Semua keluarga mendukung kami dan aku tak kuasa menolak.”

“Jadi kau terpaksa?” Sehun bertanya cepat. Setitik hatinya merasakan kelegaan karena masih ada kesempatan untukknya.

“Awalnya iya,” kening Suzy berkerut samar. “Tapi setelah berpikir banyak aku memutuskan menerimanya dan memulainya dari awal.”

“Kenapa Suez? Kenapa kau melakukan ini?” Sehun bertanya lirih. Energinya seolah tersedot dan hilang entah kemana.

Suzy kembali mendongakkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Hatinya bergejolak hebat dan ingin rasanya ia menangis keras. “Kau terkejut pasti karena tak percaya bahwa sahabat anehmu ini akan segera bertunangan kan?”

Sehun memilih bungkam. Tak tahu harus berkata apa lagi. Sakit dihatinya membuat mulutnya sulit untuk berucap. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya lemas.

“Setelah ini mungkin aku tak lagi menganggu tidurmu, menemanimu dirumahmu yang sepi, atau melakukan hal konyol lainnya. Kau sudah dewasa, tak perlu lagi sahabat sepertiku. Lagipula sudah ada Naeun kan? Dia akan marah kalau aku terus berdekatan denganmu,” Suzy terkekeh hambar, ia menggigit bibirnya merasakan airmata mulai tergelincir pada pipi mulusnya. Ia membiarkan dirinya terlihat rapuh malam ini.

Sehun merasakan sesak dalam dadanya lalu menatap Suzy yang menangis dalam diam. Saat itu pula ia merasa hatinya terisis. Tangannya terangkat untuk menghapus butiran air mata Suzy.

“Apa kau cemburu pada Naeun?”

Suzy membuka matanya lalu menggeleng pelan, memilih untuk tidak menjawab. “Kau bahagia dengannya?”

Sehun tertawa pelan. “Tak ada Naeun dalam hatiku.”

“Maksudmu?”

Sehun mengambil tangan kanan Suzy dan menempelkan telapak tangan gadis itu didadanya. “Kau ada disini.”

Tangan Suzy bergetar dalam genggaman Sehun. “Apa maksudmu?”

“Tatap mataku,” Sehun berucap pelan namun tegas.

Suzy mendongakkan wajahnya lalu menatap lekat wajah Sehun. Matanya terpaku pada sepasang mata onyx didepannya. Ia merasakan telapak tangannya yang berada didada Sehun berdetak kencang, ia meyakini itu adalah detak jantung Sehun.

“Aku mencintaimu,” Sehun berucap tegas tak terbantahkan.

Mata Sehun mengatakan kejujuran membuat lutut Suzy terasa lemas. Logikanya tak ingin mempercayainya, membuatnya menggelang lalu menarik tangan dan memalingkan wajahnya, tak kuasa menatap Sehun.

“Suez,” Sehun mendesah frustasi.

“Kenapa Sehun-ah! Ada apa denganmu?” Suzy berbisik gamang. Tangisnya meledak, air mata menyeruak keluar menciptakan anak sungai yang mengalir pada kedua belah pipinya.

Sehun menarik Suzy dalam dekapannya. “Maafkan aku. Aku menyadari perasaan ini setelah kau pergi kemarin. Maafkan aku Suzy-ah, kembalilah padaku.”

Suzy masih terisak hebat dalam dekapan Sehun. Melampiaskan apa yang ia rasakan dalam bentuk tangisan.

“Kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu kau mengatakannya?” Suzy mendesah lirih. Suaranya tertelan oleh isak tangisnya.

Sehun mengeratkan dekapannya, menyembunyikan kepala Suzy dalam dada bidangnya. Mendengar isak tangis Suzy membuat hatinya tercabik-cabik merasakan sakit tak terampuni.

“Apakah,” suara Sehun seakan tertelan ditenggorokannya. “Apa ada kesempatan untukku?”

Suzy mengusap kemeja Sehun yang basah karena airmatanya lalu menunduk dan melepaskan dekapan Sehun.

“Tidak semudah itu,”Suzy bergumam lirih. “Aku tak ingin mengecewakan keluargaku.”

“Tapi kita bisa… “

“Tidak Oh Sehun,” potong Suzy cepat lalu menghembuskan napas panjang. “Semua sudah berjalan dan kami akan bertunangan sebulan lagi.”

Sehun mendesah frustasi lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Lalu kau menikah?” Sehun bertanya dengan gamang, merasakan sesuatu menohok jantungnya saat mengatakan kalimat itu.

Suzy tersenyum sarat akan kesakitanya. “Aku harus menjalankan pendidikanku. Keluarga berharap kami menikah setelah aku lulus kuliah. Dan Myungsoo Oppa akan menungguku.”

Sehun merasa ia baru saja mendengar kabar terburuk yang hanya akan mematahkan hatinya. Ia lebih memilih menghela napas dan menenangkan pikirannya.

“Jadi selama kau belum menikah, apa aku bisa merebutmu dari tunanganmu?” Sehun bertanya penuh harap. Ia merasa otaknya tak bisa lagi berpikir dengan normal, semuanya kacau.

Suzy mendongak menatap langit malam, menyadari bintang semakin bersinar seakan berlomba-lomba untuk menunjukkan siapa yang paling bersinar. “Pertanyaanmu lucu sekali.”

Sehun menggengam tangan Suzy lalu memaksa gadis itu untuk menatapnya. Suzy yang merasa tak tahu harus melakukan apa, memilih untuk menuruti apa yang diinginkan Sehun.

“Apa kau mencintai calon tunanganmu itu? Apa kau tak mencintaiku lagi?”

Suzy lagi-lagi menghela napas lelahnya. Tubuhnya benar-benar lemas karena telah menghabiskan tenaganya untuk menangis dan berpikir. “Sampai saat ini aku berusaha untuk melupakan perasaanku padamu meskipun rasanya sulit sekali dan malah menyiksaku,” papar Suzy jujur lalu mengalihkan padangannya kepada lampu jalanan didepan sana. “Tapi Myungsoo Oppa mendukungku dengan sabar dan berpengaruh banyak dalam membantuku untuk melupakan perasaan ini.”

“Suez,”

“Sehun-ah dengarkan aku. Kau pasti akan dapat yang lebih baik dari cinta yang kau rasakan saat ini. Kau yang mengatakan dulu bahwa kita tak bisa bersama ‘kan? Dan mungkin ini akhirnya. Biarkan aku pergi dengan pilihanku. Jika pada akhirnya kita akan bersatu, Tuhan akan mempertemukan kita kembali. Percayalah pada takdir.”

Sehun tersenyum miris. Kalimat yang pernah diucapkannya untuk Suzy dikembalikan kembali kepadanya.

“Suzy-ah.”

Sehun mendongak demi mendapati seorang pria tampan berjas hitam sedang berdiri didepannya.Keningnya berkerut heran, merasakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Kemudan ia mengalihkan tatapannya kepada Bae Suzy yang menatap pria berjas itu dengan tersenyum.

“Myungsoo Oppa,” Suzy menyapa pria berjas itu.

“Jadi kita pergi sekarang?” lelaki itu, Kim Myungsoo bertanya.

Suzy menangguk pelan lalu mengalihkan tatapannya kepada Sehun. “Sehun-ah aku pergi dulu.”

Sehun masih termangu bahkan ketika Suzy sudah melesat bersama Ferrari calon tunangannya. Meninggalkan Sehun yang terpuruk dalam kepedihan.

Sehun meremas undangan yang digenggamnya lalu membuangnya kesembarang arah. Ia berdiri lalu berjalan lunglai seakan tulang-tulangnya tak mampu lagi menyangga tubuhnya lagi. Meratapi penyesalan dan kesalahannya.

Suzynya sudah pergi bersama pria lain.

Suzy nya akan segera bertunangan dan meninggalkannya.

Tak ada lagi Suzy yang akan membangunkannya setiap pagi dan menyeretnya ke sekolah.

Tak ada Suzy lagi dalam priotasnya.

Sehun tersenyum miris. Sekalinya ia jatuh cinta, hatinya langsung merasakan sakit luar biasa karena Suzy.

Kenapa ia lemah?

Kenapa ia bodoh?

Kenapa harus terlambat menyadari?

Kenapa harus ada istilah penyesalan?

Dan kenapa bisa sesakit ini?

Sehun melangkah gontai. Mencengkram erat syal buatan Suzy yang melilit dilehernya. Merasakan kelembutan benda itu yang meresap dalam sel-sel tubuhnya. Mencium aroma khas Suzy yang ia dapat dari syal itu.

Setiap langkahnya terasa berat. Seolah membawa beban berton-ton bobotnya. Meskipun nyatanya hatinya lah yang membawa beban itu. Membawa segumpal perasaan sakit yang mengoyak hatinya, melemaskan tubuhnya.

Bukankah Suzy mengatakan bahwa jika pada akhirnya mereka akan bersatu, Tuhan akan mempertemukan mereka kembali.

Ia hanya perlu menyerahkan semuanya pada waktu.

Memasrahkannya pada takdir.

Dan membiarkannya terus berjalan sebagaimana yang diatur oleh Tuhan.

Sehun terus berdo’a di setiap langkah gontainya. Berharap Suzy-nya kembali menjadi Suzy miliknya dulu. Mendo’a kan Suzy segera berakhir dengan Myungsoo dan akan kembali ke pelukannya.

Ia hanyalah makhluk-Nya yang lemah. Berdoa jahat adalah hal yang lumrah untuk seseorang yang sedang patah hari sepertinya.

Sekarang bukan waktunya untuk Sehun mengucapkan selamat tinggal kepada Suzy. Tapi ini adalah ucapan Selamat datang untuk dirinya memperjuangkan Bae Suzy.

,

E N D I N G ~

.

.

.

.

.

.

.

.

Haluuuu! Ri-Ra datang membawa endingnya ff Zigzag. Maaf ya lama updatenya. Kemarin sibuk UKK dan sekarang sibuk sama kegiatan Osis, yah meskipun gak sibuk amat sih>.<

Oya gimana endingnya? Pasti gak sesuai harapan, gak ada feel nya, dan enggak banget. Ya kan? :v wkwkw maklumin aja yaa readers, penulis baru soalnya.

Gini aku mau cerita! Pas ngetik ini otakku lg gesrek dan keadannya lg Happy. Dan ngetik endingnya ini mungkin sedihnya gak dapet. Kan ngetik itu harus pake perasaan. Dan perasaanku skrg lagi kontras sama konflik ff ini. Jd ambruadul deh hasilnya>.<

Soory ada bnyk typo ya! Males buat ngedit wkwk. Trus aku jg gatau jarak dari Gwangju ke Seoul berapa jam, aku buat 2 jam aja deh *ngawur/ .Dan pokoknya ancurr deh ff ini.-,-

Oh ya, berhubung lg semamgat nih . Aku mau bilang kalo aku lg pengen buat ff ber-chapter.

Itu kabar baik apa kabar buruk sih buat kalian?

Wkwkw kalo pada mendukung doain aja ya semoga jadi, mumpung mau libur panjang. Dan masih bingung juga nanti pakek Castnya MyungZy atau HunZy-,- need comment ya♥

Btw makasih komentarnya kemarin!!♥
Btw, Marhaban Ya Ramadhan! Selamat puasa untuk yang menjalankannya. Maaf atas segala kesalahan Ri-Ra ya. ..

Oke. Sudah. Bye. See you. ♥♥
Komentar ditunggu yahh♥♥

30 responses to “[Freelance/Twoshoot] Zigzag 2/2

  1. K yg bimbang mau pilih myungsoo atau sehun buat suzy wkwkwk
    Terserah mba suez aja dehh yg penting dia bahagia hehehe😀
    Penyesalan mah emg sellu dtng terakhir, oleh karna itu berhati2lah dalam menentukan pilihan (?)
    Okeee ditunggu karya yg lainnya😀🙂

  2. Wah knp buat aku akhirny ngegantung ya.. Suxy jg sbnrnya blm bs lupain Sehun kn.. Dan aku suka sma kata2 “Sekarang bukan waktunya untuk Sehun mengucapkan selamat tinggal kepada Suzy. Tapi ini adalah ucapan Selamat datang untuk dirinya memperjuangkan Bae Suzy.”
    Yes, Suzy emank pnts untuk diperjuangkan.. Br patah hati sekali kl nyerah skrg rugi sendiri…

  3. Tp aku reader jd susah nih milih pasangan buat Suzy Myung ato Suzy..
    Tp aku lbh sreg ke Myung soalny dy kn emank uda suka sm Suzy dr awal.. Tp ttp pengen ksh Sehun kesemetan kedua..
    Ini dilema bgt..

  4. Suzy bner2 bertekad kuat, dy ttp pd pendiriannya dan mau bljr untuk mencintai myung.. Ada perkataan wanita akan lbh bahagia jika pasanganny lbh mencintainya.. Tp Sehun jg cinta sm Suzy walau rd telat..
    So Suzy jdian sm sp aja aku oke2 aja..

  5. Dan aku ngakak sm kelakuan keluarga Suzy.. Aku suka Suzy dkt sm eommanya, dan seneng kl Suzy msh punya tempat untuk curhat yaitu dg eomma Suzy.. Krn kbnykan remaja yg akunliat jrg ada yg dkt sm mama aplg smpe curhat mslh cinta2an gn..

  6. O iya judulnya Zig zag ini pas bgt sm crtanya.. Good job buat milih judulnya author.. Jodoh emang sukar ditebak ala zig zag bgini..
    Kl lurus2 sja mlh bosen haha..

  7. Akhir kata aku sangat terhibur dg ficmya..
    ga terlalu berat tp dapet geelnya..
    Smua peran likeable, dan mslh yg diangkat jg yg sering kita temuin di kehidupan sehari2..
    Aku bs ngerelate dg mudah sm char2 disini khususny Suzy..
    Aku tunggu karya autjor selanjutnya.. Jd ttp PD dan terus berkarya dg Suzy biasku sbg lead castnya ya..
    Hehe..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s