Mr. Right 2/2

© Poster Channel by: Aqueera

Title : Mr. Right  | Author : dindareginaa | Genre : Romance | Rating : G | Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Previous

Sorry for typo(s)!

Myungsoo tersenyum seraya memandangi fotonya dan Sooji saat mereka menggunakan hanbok. Namun, begitu teringat akan kejadian satu jam yang lalu, membuat senyum Myungsoo menguap entah kemana.

Ia yakin, tanpa Sooji jawab pun, wanita itu menyukai sepupunya. Dan jujur saja, Myungsoo tak suka itu. Dari awal ia melihat Sooji, Myungsoo yakin bahwa Sooji adalah belahan jiwanya. Meskipun gadis itu sangat tidak ramah, tapi Myungsoo tahu, dibalik itu semua, Sooji memiliki sisi yang hangat yang tidak semua orang bisa menyadarinya.

Myungsoo kemudian menarik nafasnya panjang lalu memejamkan matanya perlahan, mencoba untuk tidur. Berharap dengan begitu, ia akan segera melupakan kegelisahannya.

“Kita perlu bicara.”

Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo yang entah dari mana kini menarik lengannya. “Apa yang kau lakukan?!” tanyanya tak suka, menepis tangan Myungsoo.

“Kita perlu bicara,” ulangnya lagi.

Sooji melotot tak percaya. Ada apa dengan lelaki ini? Sepertinya ia jadi bertingkah seenaknya pada dirinya karena Sooji bersikap sedikit lebih lembut. “Kim Myungsoo-ssi! Ku harap kau tak lupa kalau kau adalah karyawan magang disini. Dan lagi, tak ada yang perlu kubicarakan denganmu! Sekarang, pergi!” usirnya.

Kim Myungsoo menarik nafasnya panjang. Ia bahkan baru sadar bahwa seluruh mata kini tertuju kepada mereka. Ternyata, bukan hanya Park Jiyeon saja yang tukang gosip disini. Karyawan lain kini sibuk berbisik membicarakan keduanya. Tak ingin menambah masalah, Myungsoo segera berlalu pergi. Sedangkan Sooji, gadis itu hanya diam sembari memperhatikan punggung Myungsoo yang mulai menjauh.

Myungsoo hanya memotret modelnya tanpa tenaga. Sesekali, ia melirik ke arah Sooji yang kini sedang berbicara dengan Jiyeon. Mungkin perihal pekerjaan. Myungsoo juga tak tahu pasti. Yang ia tahu, Sooji dan Jiyeon tidak sedekat itu untuk membicarakan hal lain selain pekerjaan.

“Maaf,” ujar Myungsoo pada Sooji saat wanita itu merapikan pakaian model mereka.

Wanita itu tak menjawab. Ia hanya menggumam lalu mengangguk kecil.

“Sooji-ssi…”

Sooji mengernyitkan keningnya begitu Jiyeon menghampirinya saat ia baru saja akan masuk keruangannya. “Apa?”

“Hari ini jangan langsung pulang dulu. Kita akan makan bersama para staff. Tuan Park yang akan mentraktir.”

Sooji tertegun mendengar nama Park Bo Gum disebut. Ia memaksakan seulas senyumnya sebelum berkata,”Baiklah. Aku mengerti.”

Sooji menarik nafasnya panjang berulang kali sambil menatap pintu dorong yang kini ada dihadapannya. Saat ini ia sudah berada di sebuah restaurant daging yang berada tak jauh dari kantornya. Maka dari itu Sooji memutuskan untuk berjalan kaki saja. Namun, begitu sampai tujuan, entah kenapa berat rasanya bagi Sooji untuk masuk. Namun, sebagai orang yang profesional, Sooji harusnya bisa membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan. Maka dari itu, Sooji memutuskan untuk segera masuk.

Sooji memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari orang yang dikenalnya. Ia tersenyum begitu menemukan para staff kantornya kini sedang duduk di pojok restaurant tersebut.

“Duduk disini saja, Sooji-ssi!” Oh Sehun, salah satu karyawan kantornya yang menyadari kedatangannya tersebut segera menyambutnya. Lelaki itu kini menunjuk ke tempat duduk di samping… Kim Myungsoo. Sooji mendesah. Ia lupa kalau selain Park Bo Gum, ada satu orang lagi yang harus ia hindari. Kim Myungsoo.

Sooji melirik sekilas ke arah Myungsoo yang kini sedang sibuk memakan daging asap yang disuapi Park Jiyeon sebelum akhirnya duduk di tempat yang disuruh oleh Sehun tadi – disamping Myungsoo.

“Sudah lama?” tanya Sooji berbasa-basi.

Sehun tersenyum lalu menggeleng. “Tidak juga.”

“Kalian sudah datang?”

Mendengar suara berat Bo Gum, semuanya sontak menoleh. Sooji terdiam seraya menatap Park Bo Gum yang baru saja datang dengan ditemani oleh Irene Bae.

Unnie!” sapa Irene pada Sooji seraya melambaikan tangannya.

Sooji memaksakan seulas senyumnya seraya mengangguk kecil. Ia tahu, disampingnya, Kim Myungsoo sekarang tengah menatapnya dalam diam. Namun, begitu Sooji menoleh ke arah Myungsoo, lelaki itu kini sedang sibuk dengan daging asapnya. Mungkin hanya perasaannya saja.

Sooji menggenggam kuat gelas soju-nya seraya menatap tajam ke arah Bo Gum dan Irene yang kini duduk paling ujung. “Tuangkan aku lagi!”

Sehun yang melihat tingkah Sooji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sepertinya dia benar-benar sudah mabuk! Mabuk!”

Melihat Sooji yang akan meminum soju-nya yang entah sudah gelas ke berapa, Myungsoo segera menghentikannya. “Hei! Kau sudah terlalu banyak minum!”

“Banyak? Tidak. Aku bahkan belum mabuk.”

“Aku tidak menyangka ternyata kakakku kuat sekali minum,” gumam Irene.

“Hei! Irene Bae! Kau ini…”

Sooji tidak jadi melanjutkan perkataannya karena Myungsoo sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan tangannya. Myungsoo menghembuskan nafasnya lega begitu Sooji menghentikan perkataannya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan gadis itu.

Tak ingin Sooji membuat keributan, ia segera beranjak berdiri. “Sebaiknya aku mengantarnya pulang dulu,” ujar Myungsoo lalu mulai menggendong Sooji di punggungnya.

“Sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua,” bisik Jiyeon pada Sehun sambil menatap kepergian keduanya.

Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar tukang gosip!

“PARK BO GUM JAHAT!”

Myungsoo sontak memicingkan telinganya begitu Sooji berteriak tepat ditelinganya. Gadis ini sepertinya memang benar-benar sudah mabuk sekarang!

“Kau jahat!” ujarnya lagi, kini dengan suara yang lebih pelan. “Kenapa… Kenapa kau tak sadar bahwa aku menyukaimu? Kenapa?!”

Myungsoo hanya diam dan pasrah menerima Sooji memukul dada bidangnya.

“Aku…” Sooji kembali membuka suara. “… tidak masalah kalau kau berkencan dengan gadis lain. Tapi, kenapa harus dengan Irene? Kenapa harus dengan adikku sendiri?” lirih Sooji.

Myungsoo bisa merasakan kausnya mulai basah akibat air mata Sooji. Ya, wanita itu kini menangis.

“Kenapa setiap orang yang kusayangi lebih menyayangi Irene dari padaku? Kenapa?”

Myungsoo kini bisa mendengar dengkuran halus gadis itu. Wanita itu tertidur. Myungsoo menghembuskan nafasnya perlahan. “Kau salah. Tentu saja ada orang yang menyayangimu di dunia ini. Contohnya… aku.”

“Dimana kunci mobilmu?” tanya Myungsoo. Ia kini sibuk membongkar tas Sooji untuk mencari kunci mobilnya. Sedangkan Sooji, gadis itu hanya diam seraya menatap wajah Myungsoo lekat. Ia baru sadar bahwa Myungsoo memiliki wajah yang sangat tampan.

“Ah, ini dia.” Baru saja Myungsoo mengangkat kepalanya untuk menatap Sooji, lelaki itu tersentak begitu merasakan Sooji melumat lembut bibirnya. Tak perlu waktu lama bagi Myungsoo untuk memejamkan matanya perlahan dan mengikuti permainan Sooji.

Alarm ponsel Sooji berbunyi, membuat wanita itu tersentak kaget. Ia membuka matanya perlahan, lalu segera mematikan alarm ponselnya. Namun, ia mengernyitkan keningnya begitu menyadari sepertinya ia sekarang tidak berada di apartemennya.

“Kau sudah bangun?”

Mata Sooji membesar begitu melihat Myungsoo berjalan ke arahnya. Lelaki itu kini membawa semangkuk sup ditangannya dan segelas susu, yang Sooji yakini sebagai sarapannya.

“Aku… ada dimana?” tanyanya tergagap.

“Di apartemenku. Sebenarnya aku mau membawamu ke apartemenmu, tapi aku tidak tahu kata sandimu dan juga Irene belum pulang. Maka dari itu aku membawamu kesini.”

“Kau… tidak melakukan sesuatu padaku bukan?” tanya Sooji lagi, kini menatap Myungsoo tajam.

“Yang ada, kau yang melakukan sesuatu padaku,” gumam Myungsoo pelan seraya meletakkan nampan sarapan Sooji di atas meja, disamping tempat tidur.

“Apa? Apa kau bilang?”

“Tidak. Tidak ada. Lupakan saja,” jawab Myungsoo cepat. “Sekarang, cepat habiskan sarapanmu kalau kau tidak ingin terlambat bekerja,” titah Myungsoo sebelum pergi meninggalkan gadis itu.

Sooji menatap kesal ke arah Myungsoo lalu mulai menyantap sarapannya. “Tidak sopan sekali,” gerutu Sooji.

Tiba-tiba saja, pponsel gadis itu berdering. Ada pesan masuk. Sooji terdiam begitu membaca nama si pengirim pesan. Dari Irene.

Unnie, hari ini kau tidak sibuk kan? Temani aku mencoba gaun pengantinku ya ^^

“Apa masih lama?”

“Tunggu! Sebentar lagi! Tidak sabaran sekali.”

Sooji mendengus kesal lalu kembali memainkan ponselnya. Kenapa Irene lama sekali keluarnya? Pasalnya, ini sudah setengah jam dan gadis itu tak juga keluar!

“Bagaimana?”

Sooji sontak mengangkat kepalanya. Ia tertegun. Cantik sekali. Ia yakin Irene akan menjadi pengantin tercantik yang pernah ada. Sooji tentu pernah membayangkan bahwa ia juga akan memakai gaun pengantin, bahkan sebelum Irene. Tapi, ia tak menyangka bahwa adiknyalah yang akan terlebih dahulu menikah.

Tiba-tiba saja Sooji kini membayangkan dirinya kini menggunakan gaun pengantin panjang dengan kerudungnya. Ia kini sudah berada di sebuah gereja besar. Sooji ingat, dulu Sooji selalu bermimpi akan menikah di gereja ini. Ia kini sedang berjalan menuju altar. Disampingnya, ada ayahnya yang menjadi pendampingnya. Didepannya, ia bisa melihat seorang lelaki dengan setelan jas hitam kini tengah menunggunya. Tapi… Sooji tak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu karena lelaki itu memunggunginya. Namun, Sooji menahan nafasnya begitu lelaki itu mulai membalik ke arahnya, membuat Sooji bisa melihat wajahnya lebih jelas lagi. Dia… Kim Myungsoo?!

“TIDAK!”

Irene tersentak kaget begitu mendengar teriakan kakaknya. “Unnie, kau kenapa? Kau sakit?”

Sooji tersenyum lalu menggeleng. “Tidak. Omong-omong, kau sangat cantik.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku ganti baju dulu.”

Sooji mengangguk. Ia kembali teringat dengan khayalannya tadi. Kenapa bisa Kim Myungsoo? Bae Sooji, kau pasti sudah gila! Sedetik kemudian, ponsel gadis itu berdering. Ia tersenyum begitu membaca pesan masuk. Dari Jung Soojung.

“Lama tidak berjumpa!” seru Sooji seraya memeluk Soojung. “Bagaimana kabarmu? Kudengar kau sedang sibuk dengan acara fashion week,” tanya Sooji lalu duduk dihadapan Soojung.

Jung Soojung – atau yang lebih dikenal dengan nama Krystal Jung, Sooji lebih suka memanggil nama Korea-nya – adalah seorang model. Ya, Sooji mengenal Soojung karena wanita itu sempat menjadi brand ambassador mereka. Karena tertarik dengan hal yang sama – fashion – membuat mereka jadi mudah dekat. Kisah cinta Soojung sepertinya lebih mulus dibandingkan dengan Sooji. Buktinya, ia kini sudah menikah dengan salah satu anggota band terkenal, Kang Minhyuk. Meskipun wanita itu masih belum mempunyai anak karena tuntutan pekerjaan, tapi Sooji tahu pernikahannya dan Minhyuk bahagia.

Soojung tersenyum lalu mengangguk kecil. “Kau tidak tahu betapa senangnya aku kembali ke kampung halaman? Omong-omong, bagaimana kabarmu? Sudah bisa melupakan Park Bo Gum?”

Sooji hanya tersenyum simpul.  Soojung adalah orang yang pertama yang mengetahui bahwa ia menyukai Park Bo Gum. Yang kedua adalah Kim Myungsoo. “Tidak juga,” jawabnya tak yakin.

“Mau minum?” tawar Soojung seraya menuangkan segelas soju padanya.

Sooji menggeleng. “Tidak. Aku sudah banyak minum kemarin.”

“Benarkah?” tanya Soojung sedikit kaget. “Kau harus hati-hati. Kau tahu, kau punya kebiasaan yang sangat buruk jika mabuk.”

Sooji hanya terkekeh mendengar pernyataan Soojung. “Tidak. Aku tidak…”

Sooji sontak menghentikan ucapannya begitu teringat akan sesuatu. Kebiasaan buruk? Mabuk? Matanya membulat! Ya Tuhan! Bae Sooji! Apa yang telah kau lakukan?!

“Hei! Ada apa?”

“Soojung-ah, sepertinya aku telah melakukan sesuatu yang buruk semalam.”

Soojung tak henti-hentinya tertawa begitu mendengar cerita sahabatnya. “Kau gila! Benar-benar gila!”

“Aku tahu,” gerutu Sooji. Sooji kemudian terdiam beberapa saat lalu berdeham. “Soojung-ah…” panggilnya.

“Apa?”

“Aku tahu aku terdengar aneh. Tapi, entah kenapa, belakangan ini aku sering memikirkannya.”

Soojung tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu artinya, kau menyukainya, bodoh!”

“Aku? Menyukainya? Tidak mungkin! Dia bahkan lebih muda dariku!”

“Jadi kenapa? Zaman sekarang bahkan banyak wanita yang berkencan dengan lelaki yang lebih muda. Kau tahu Kim Taeyeon? Salah satu penyanyi yang cukup terkenal. Dia bahkan berkencan dengan hobbae-nya! Lagi pula, Bae Sooji, umurmu sudah 30 tahun tahun ini! Kau tidak berniat menghabiskan sisa umurmu sendirian bukan?”

Sooji tidak sempat membalas ocehan Jung Soojung yang panjang lebar itu karena Kim Myungsoo sudah terlebih dahulu mengetuk pintu ruangannya. Sooji dan Soojung memang memutuskan untuk kembali ke kantor Sooji setelah keduanya menyelesaikan makan siang mereka.

“Masuk.”

“Sooji-ssi, ini foto yang kau minta tadi,” ujar Myungsoo seraya menyerahkan map berwarna hijau.

“Siapa?” bisik Soojung pada Sooji.

Sooji berdeham lalu mulai memperkenalkan keduanya. “Myungsoo-ssi, perkenalkan ini Jung Soojung. Dia pernah menjadi model di tempat kita. Dan Soojung-ah, dia Kim Myungsoo, karyawan magang kami.”

“Ah, jadi ini lelaki yang…”

Belum sempat Soojung melanjutkan ucapannya, Sooji sudah terlebih dahulu mencubit lengan wanita itu, membuat wanita itu sontak meringis kesakitan.

“Myungsoo-ssi, jika tak ada yang ingin kau katakan lagi, sebaiknya kau pergi.”

Myungsoo mengangguk mengerti lalu segera meninggalkan kedua gadis tersebut.

“Dia tampan,” ujar Soojung seraya tersenyum nakal ke arah Sooji, membuat Sooji meliriknya kesal.

Sooji menarik nafasnya panjang. Digulungnya rambut panjangnya ke atas dengan gelang karet yang ada dipergelangantangannya. Dengan segera wanita itu keluar dari mobil dan langsung membuka bumper mobilnya.

Ia sontak terbatuk begitu asap hitam mengepul dihadapannya. Sooji lalu melihat kondisi mobilnya. Ayolah! Walaupun ia tidak sefeminim adiknya, tapi itu tidak berarti ia ahli dalam hal mesin seperti ini. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

Sooji kemudian mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan. Sepi. Dan gelap. Sial! Kenapa mobilnya harus mogok disaat seperti ini?! Bagaimana kalau ada yang berniat jahat padanya?! Berusaha menghilangkan pikiran liarnya, Sooji lalu merogoh ponselnya dari saku celana. Mencari siapa saja yang bisa ia hubungi sekarang.

Irene… Tidak. Seingatnya, adiknya itu memiliki rencana makan malam dengan Bo Gum. Meskipun ia menyukai Bo Gum, tapi Sooji tak sejahat itu sampai berencana merusak makan malam adiknya yang – mungkin – romantis.

Jung Soojung… Tidak juga. Sooji tak enak mengganggu Soojung pada hari pertamanya di Seoul. Wanita itu pasti kini sedang sibuk dengan suaminya.

Park Jiyeon… Memangnya sedekat apa ia dengan wanita itu sampai Sooji harus meminta tolong padanya?!

Sooji tertegun saat tangannya terhenti pada kontak Kim Myungsoo. Kim Myungsoo? Wanita itu sontak menggeleng. Tidak! Tidak mungkin! Sampai kapanpun, Sooji tak akan pernah meminta tolong pada Kim Myungsoo! Tidak akan pernah!

“Terima kasih.”

Myungsoo hanya mengangguk begitu Sooji duduk di kursi penumpang, tepat disampingnya. “Tidak masalah. Lagi pula, kebetulan aku juga ada urusan di dekat apartemenmu.”

Sooji memasang senyum terpaksanya. Sooji juga tak menyangka ia akhirnya memutuskan untuk meminta tolong pada Myungsoo. Tapi, mau bagaimana lagi? Mau berjalan kaki sampai ke apartemennya? Sudah Sooji pastikan bahwa ia akan berada di dalam peti mati sebelum sampai ke apartemennya.

Untuk selanjutnya, tak ada yang berniat membuka suara diantara keduanya. Myungsoo sibuk mengendarai mobilnya dengan hati-hati, sedangkan Sooji sibuk berdoa dalam hati agar ia bisa segera sampai dengan cepat. Entahlah. Tapi, Sooji merasa risih berada didekat Myungsoo untuk waktu yang lama. Apalagi begitu mengingat apa yang telah ia lakukan semalam. Mau diletakkan dimana wajahnya?! Membayangkannya saja sudah membuat wajah Sooji memerah seperti kepiting rebus.

“Kau baik-baik saja?”

Sooji tersentak begitu Myungsoo bertanya padanya. “Ke…napa?” Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya.

“Wajahmu memerah.”

Mendengar perkataan Myungsoo, Sooji sontak memegangi kedua pipinya. Benar bukan?! Apa terlihat sekali kalau wajahnya merah? Tapi, kenapa?

Itu berarti, kau menyukainya, bodoh!

Tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Bukankah ia menyukai Bo Gum?

“Sudah sampai.”

“Tidak! Aku tidak menyukaimu!” Sooji sontak menutup mulutnya begitu sadar dengan apa yang telah ia katakan. Bodoh, Sooji! Kau benar-benar bodoh! “Kalau begitu, aku pergi dulu! Terima kasih!” Sooji segera keluar dari mobil Myungsoo dan mulai berlari kecil, tak ingin bertambah malu lagi.

Sedangkan Myungsoo, ia hanya menatap kepergian Sooji tanpa berkedip sedetikpun. “Apa yang dia pikirkan?” gumamnya.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sooji tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri. Ia bahkan memukul kepalanya pelan berkali-kali, berharap dengan begitu, ia akan segera melupakan kejadian tadi. Namun, sedetik kemudian betapa terkejutnya ia begitu mendapati Park Bo Gum kini berdiri di depan pintu apartemennya dengan kepala tertunduk. Apa yang lelaki itu lakukan disini? Bukankah seharusnya ia sedang bersama Irene? Tak perlu waktu lama lagi bagi Sooji untuk berlari kecil menghampiri Bo Gum.

“Bo Gum-ssi…”

Park Bo Gum mengangkat kepalanya lalu tersenyum. Kening Sooji mengernyit begitu menyadari bau aneh yang berasal dari tubuh lelaki yang kini ada dihadapannya.

“Kau mabuk?” tanyanya sedikit heran. Karena setahu Sooji, Bo Gum bukanlah tipe lelaki pemabuk.

Sooji bisa merasakan tubuhnya kaku seketika begitu Bo Gum memeluknya. Hangat. Itu yang ia rasakan. Ini adalah pertama kalinya bagi Sooji untuk berkontak fisik dengan Bo Gum, setelah pegangan tangan di cafe terakhir kali – tentu saja. “Kukira kau sedang makan malam bersama Irene,” kata Sooji tercekat.

Sooji dapat merasakan Bo Gum tersenyum mendengar ucapannya. Apa terjadi sesuatu dengan dirinya dan Irene?

Bo Gum kemudian melepaskan pelukannya. Ditatapnya Sooji dengan sayu.

“Apa…”

Sooji membulatkan matanya begitu merasakan Bo Gum mencium bibirnya lembut. Namun sedetik kemudian ia langsung mendorong tubuh Bo Gum. Meskipun ia menyukai Bo Gum, tapi ia tahu apa yang mereka lakukan sekarang itu salah. Sebentar lagi Bo Gum akan menjadi adik iparnya. Ia tak mungkin mengkhianati Irene.

“Park Bo Gum! Apa yang terjadi sebenarnya?!”

“Irene…” lirihnya sebelum akhirnya ambruk di pelukan Sooji.

Sooji hanya tersenyum lirih. Bahkan setelah lelaki itu menciumnya, yang ada di dalam kepalanya tetaplah Irene.

Myungsoo bersiul pelan seraya memperhatikan lampu lalu lintas yang kini masih berwarna merah. Ia kemudian menoleh ke arah kursi penumpang. Lelaki itu mengernyit heran ketika melihat benda persegi panjang tergeletak disana. Ponsel? Ah, pasti punya Sooji yang tertinggal! Lebih baik segera ia kembalikan. Lagi pula, ini masih tak terlalu jauh dari apartemen Sooji bukan? Myungsoo akhirnya memutuskan untuk memutar balik, kembali ke apartemen Sooji.

Myungsoo menekan tombol lift, lantai 5. Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Myungsoo segera keluar dari lift. Kenapa sepi sekali? Oh, ada apa denganmu, Kim Myungsoo?! Ini sudah hampir tengah malam. Semua orang pasti sedang sibuk bermimpi. Myungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu menyadari kebodohannya. Myungsoo kemudian tersenyum begitu melihat tingkah Sooji beberapa saat lalu. Apa gadis itu sudah ingat dengan kejadian semalam? Myungsoo tersenyum simpul. Namun begitu melihat pemandangan dihadapannya, alisnya mengernyit. Seorang lelaki kini mencium seorang wanita – mungkin kekekasihnya – di depan pintu apartemennya. Hal itu memang romantis. Tapi, tidak bisakah mereka melihat situasi sekitar? Dasar anak zaman sekarang! Tapi… Tunggu dulu! Sepertinya ia tak asing dengan keduanya. Oh! Mata Myungsoo membulat seketika. Tidak salah lagi! Wanita itu… Bae Sooji! Dan lelaki itu… Park Bo Gum?! Meskipun sekarang lelaki itu tengah memeluk Sooji, tapi Myungsoo yakin lelaki itu adalah Park Bo Gum, sepupunya sekaligus calon adik ipar Sooji!

Myungsoo tersenyum lirih. Ternyata selama ini ia salah menilai Sooji. Ia kira Sooji berbeda demgan wanita lain. Tapi ternyata ia sama saja. Tak ingin mengganggu keduanya, Myungsoo memutuskan untuk pergi. Ia bahkan membatalkan niatnya untuk mengembalikan ponsel Sooji. Namun, begitu Myungsoo membalikkan tubuhnya, ia tak sengaja menabrak seorang lelaki sebayanya dari arah berlawanan. Sadar akan kesalahannya karena berjalan tidak hati-hati, Myungsoo segera meminta maaf. Keributan kecil itu tentu saja membuat Sooji yang tadinya sibuk menepuk-nepuk pelan pundak Bo Gum kini menoleh kearahnya. Myungsoo tahu gadis itu sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tak terduga ini. Tapi, Myungsoo berusaha untuk tak ambil pusing dan langsung pergi dari tempat itu.

Sooji mendesah keras seraya melemparkan ponselnya ke atas sofa. Ditatapnya Bo Gum yang kini tengah tertidur pulas diranjangnya sambil bercakak pinggang. Kenapa tak seorangpun yang mengangkat ponselnya? Kim Myungsoo… Dan juga Irene! Kemana gadis tengik itu? Harusnya ia yang ada disini menemani calon suaminya!

Sooji tersentak begitu mendengar Bo Gum meracau pelan. Sedetik kemudian, lelaki itu membuka matanya perlahan, lalu beranjak duduk. Ia mengernyitkan keningnya begitu menyadari kini ia berada di tempat yang cukup asing.

“Aku… dimana?”

“Apartemenku,” jawab Sooji, lalu duduk di sofa yang berada di depan tempat tidurnya. Ditatapnya Bo Gum lekat. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

Bo Gum terdiam sejenak. Sedikit ragu menceritakan apa yang terjadi pada Sooji. Tapi, tak ada salahnya bukan? Mengingat bahwa Sooji adalah kakak Irene satu-satunya. Bo Gum menarik nafasnya panjang. “Irene… hamil.”

Sooji membulatkan matanya, cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Bo Gum. Ia tak menyangka bahwa hubungan Irene dan Bo Gum sudah sejauh itu.

“Tapi… itu bukan anakku.”

Kembali Sooji terkejut. Membayangkan Irene yang sedang hamil saja sudah cukup membuat ia terlonjak kaget, apalagi mengetahui bahwa anak yang dikandung wanita itu ternyata bukanlah anak Bo Gum. “Jadi… anak siapa?” tanyanya hati-hati.

“Anak Park Chanyeol.”

Chanyeol? Sepertinya Sooji pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi… dimana? Tunggu dulu! Bukankah dia adalah sahabat Bo Gum? Sooji tahu karena Sooji pernah bertemu dengannya di acara pertunangan Bo Gum dan Irene. Ya Tuhan, Irene! Kau benar-benar dalam masalah besar! “Bagaimana bisa?”

Park Bo Gum menarik nafasnya panjang. “Kau ingat saat aku dan Irene menghadiri pernikahan teman kami di luar kota? Tak ku sangka ternyata mereka berdua mabuk dan melakukan hal itu.”

Ya Tuhan, Irene! Bagaimana bisa kau melakukan hal itu?! Jelas-jelas kau akan menikah dengan Park Bo Gum! Dan itu dalam hitungan hari lagi!

“Jadi, apa rencanamu sekarang?” Kembali Sooji bertanya.

“Aku tidak tahu. Yang pasti, semuanya kacau.”

Sooji meletakkan tasnya ke atas meja. Ia mengernyitkan keningnya begitu menyadari Kim Myungsoo tidak berada di tempatnya biasa. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Harusnya lelaki itu sudah sampai. Tak biasanya ia terlambat begini. Ya sudahlah. Bukan saatnya untuk memusingkan Myungsoo. Ia masih harus memikirkan pernikahan adiknya.

Irene… Dimana gadis itu sekarang? Sejak semalam, Irene tak kunjung pulang. Ponselnya juga tak bisa dihubungi. Apa terjadi sesuatu dengannya?

Sooji tersentak begitu ponselnya bergetar. Ada pesan masuk. Dengan segera, gadis itu meraih ponsel yang berada di samping tasnya. Melihat nama si pengirim pesan, Sooji segera membuka pesan tersebut.Ini dari Irene!

“Ya Tuhan, Irene! Ada apa denganmu?!” Sooji menuntup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya. Ia cukup terkejut mendapati mata adiknya kini bengkak. Sepertinya gadis itu menangis semalaman.

Unnie!” Melihat kedatangan kakaknya,wanita itu segera menghambur ke pelukan Sooji dengan tubuh bergetar. Ya, ia memang mengajak Sooji untuk bertemu. Setidaknya ia harus memberi penjelasan pada kakaknya itu. “Aku…”

“Aku sudah tahu,” potong Sooji. “Park Bo Gum sudah menceritakan semuanya padaku.”

Mendengar nama Bo Gum disebut, Irene sontak membelalakkan matanya. “Kau bertemu dengan Bo Gum Oppa? Apa saja yang dikatakannya padamu?”

“Tidak banyak. Yang pasti, dia benar-benar kacau.”

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?” Irene menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Biar kutanya satu hal,” ujar Sooji, membuat Irene sontak menatapnya.

“Apa?”

“Apakah kau benar-benar mencintai Bo Gum?”

“Tentu saja! Hanya dia yang kucintai! Aku benar-benar tak sengaja melakukannya. Saat itu aku sedang mabuk. Kumohon, bantu aku berbaikan dengan Bo Gum Oppa.” Irene memegang kedua tangan Sooji dengan tatapan memelas. Sedangkan yang dipegang hanya dapat terdiam membisu. Melihat adiknya akan menikah dengan Bo Gum saja sudah membuatnya sakit hati. Dan sekarang, ia malah diminta untuk memperbaiki hubungan keduanya? Tidak bisa dipercaya!

Tapi… Sooji sadar. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain mendukung adiknya. Apalagi ia benar-benar mencintai lelaki itu. Katakanlah kalau Irene dan Bo Gum benar-benar membatalkan pernikahan mereka. Belum tentu Bo Gum akan meliriknya.

“Baiklah. Aku akan membantumu,” ujar Sooji seraya menepuk pelan pundak Irene.

“Kim Myungsoo-ssi!”

Myungsoo sontak membalikkan badannya. Ia hanya menatap Sooji yang kini berjalan kearahnya dengan dingin. “Apa?” tanyanya.

Sooji mengernyitkan keningnya. Ada apa dengan Kim Myungsoo? Kenapa tampangnya seperti itu? Seingat Sooji, keduanya baik-baik saja semalam. Lalu, kenapa ia tiba-tiba menjadi dingin begini?

“Aku ingin minta tolong. Bisakah kau hubungi Park Bo Gum?”

Mendengar nama Bo Gum disebut, Myungsoo sontak tersenyum lirih. Tentu saja. Yang ada dipikiran gadis ini hanyalah Park Bo Gum. “Kenapa tak kau hubungi saja sendiri, Nona Pengkhianat?”

“Pengkhianat? Apa maksudmu?” Sooji kemudian teringat kejadian semalam, saat Park Bo Gum menciumnya. Bukankah Myungsoo menyaksikan hal itu? “Yang kemarin…”

“Aku tidak mau mendengarnya.” Myungsoo berniat pergi. Namun baru beberapa langkah, Sooji sudah terlebih dahulu menahan lengan lelaki itu.

“Park Bo Gum mabuk. Maka dari itu ia melakukannya. Saat ini, hubungannya dan Irene sedang tidak baik. Maka dari itu aku berniat untuk mendamaikan mereka berdua. Antara aku dan Bo Gum tidak ada apa-apa.”

Myungsoo menoleh pada Sooji. Jujur saja, ia lega mendengar penjelasan Sooji. Bukankah itu berarti masih ada harapan untuknya? “Benarkah?”

Sooji tersenyum melihat raut wajah Myungsoo. Wajah lelaki itu tampak lebih cerah dari pada beberapa saat lalu. “Kenapa sepertinya kau senang sekali mendengar aku dan Bo Gum tidak ada hubungan apa-apa?” goda Sooji.

“A… Apa? A… Aku? Yang benar saja!” Myungsoo gelagapan seraya berjalan mendahului Sooji.

“Hei, tunggu aku!”

Akhirnya Sooji dan Myungsoo memutuskan untuk membantu memperbaiki hubungan Bo Gum dan Irene. Sooji bertugas mengajak Irene makan malam, sedangkan Park Bo Gum diserahkan pada Myungsoo. Irene tidak tahu kalau Bo Gum ikut dalam makan malam yang diadakan oleh Sooji, begitu pula sebaliknya. Keduanya tentu cukup terkejut mengetahui ternyata mereka telah dibohongi. Awalnya mereka sempat canggung. Namun, karena Sooji memaksa mereka untuk menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik, akhirnya keduanya setuju. Sooji dan Myungsoo kemudian meninggalkan Bo Gum dan Irene agar mereka dapat menikmati makan malam romantis mereka dengan tenang seraya diiringi lagu favorit mereka.

Dan, akhirnya setelah Bo Gum mendengarkan penjelasan Irene, dan juga karena lelaki itu masih mencintai Irene, mereka setuju untuk melanjutkan pernikahan. Maka dari itu, disinilah mereka sekarang. Mengucapkan janji suci didepan para undangan.

Sooji tersenyum seraya bertepuk tangan begitu Bo Gum mulai mencium pengantinnya. Ia tak pernah menyangka bahwa melihat Bo Gum menikahi wanita lain akan membuat sebahagia ini. Apalagi gadis yang beruntung itu adalah adiknya.

Park Bo Gum… Irene… Mulai sekarang, berbahagialah!

“Aku tidak menyangka akan bisa tersenyum menghadiri pernikahan Bo Gum. Aku bahkan pernah membayangkan bahwa aku akan menangis sepanjang upacara pernikahan mereka,” oceh Sooji seraya memakan ice cream-nya.

Disampingnya, Myungsoo hanya tersenyum simpul. Keduanya memang memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar setelah acara pernikahan Bo Gum dan Irene. Maka dari itu, jangan heran kalau Sooji masih mengenakan gaun sedang Myungsoo masih menggunakan jasnya.

“Sebentar lagi, ibu pasti akan meneleponku dan memarahiku habis-habisan. ‘Bae Sooji! Umurmu sudah tiga puluh tahun! Kenapa kau belum menikah juga?'” Sooji mulai meniru ucapan ibunya yang sering ditujukan padanya.

“Bagaimana kalau kau menikah denganku?”

Sooji sontak menghentikan langkahnya begitu mendengar ucapan Myungsoo. Apa ia tak salah dengar? “Apa kau bilang?”

“Aku tanya, apa kau mau menikah denganku?” ulang Myungsoo lagi. Ia mulai mengeluarkan sebuah kotak merah dari dalam saku celananya. Itu… cincin!

Sooji mendesis. “Tidak romantis sekali! Asal kau tahu, Kim Myungsoo-ssi. Aku juga punya impian dilamar secara romantis oleh pangeran impianku,” Sooji berpura-pura marah.

Myungsoo tersenyum simpul lalu mulai berlutut seraya menggenggam lembut tangan Sooji. “Bae Sooji, maukah kau menikah denganku? Mungkin nanti kita tidak bisa menikah digereja mewah seperti impianmu kaena aku masih karyawan magang. Kalau kau bersedia, kita akan menikah awal tahun ini karena aku akan mendapat tunjangan tahun baru. Aku juga belum memiliki rumah. Saat ini aku hanya tinggal di apartemen. Aku tidak tahu kapan aku bisa membeli rumah untuk kita, tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah membiarkan kau dan anak-anak kita kepanasan dan kehujanan. Jadi, maukah kau menikah denganku?”

Sooji tak dapat menyembunyikan senyumannya mendengar ucapan Myungsoo. Meskipun terkesan norak, tapi Sooji senang lelaki itu jujur padanya.

“Baiklah, kalau kau memaksa.”

THE END

Maaf ya buat update-nya yang kelamaan😦 Maklum aja. Aku lagi sibuk ngerjain tugas akhir kemarin. Dan berhubung karna aku udah siap yudicium, tinggal nunggu wisuda (cieeee), aku punya banyak waktu kosong. Meskipun nggak yakin OMG kapan dilanjutin soalnya otak lagi buntu. Tapi aku usahain secepatnya ya ^^

Terakhir, jangan lupa ninggalin komentar ya😉

28 responses to “Mr. Right 2/2

  1. Kata-kata terakhir suzy kocak banget. Dasar pasangan sama-sama norak :v kirain pas bo gum mabuk dia bilang dia naksir suzy..kkkk sempet mikir bakan berat konfliknya, untung enggak

  2. Terharu bacanya… jodoh memang tidak terduga datangnya, kapan, dimana dan siapa… kalau sudah jodoh pasti akan dipertemukan… ikut merasakan kebahagiaan Sooji dan Myungsoo, chukae🙂
    Cerita yg bagus author, gomawo buat happy endingnya🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s