Kissing You (Chapter 2)

 req-kissing-you

amazing poster by EyesmileLaugh@Fanfiction’sLibrary

Author : Kim Nara

Leght : Chapter

Genre :Romance,Schoolife, Comedy

Rating : Teen

Cast : Suzy, Myungsoo, Kai

Other Cast : Soojung, Sehun, Nara

***

**

Dislaimer :

Terinspirasi dari komik Itazura na kiss. Kalimat yang di beri italic merupakan ‘flashback’.

***

**

Kai berjalan dengan cukup acuh menuju kelasnya, agak terlambat karna harus menjalani hukuman di ruang guru. Keningnya sedikit mengkerut begitu tidak mendapati seorangpun-dari kelasnya-yang berkeliaran di lorong sekolah, bahkan yang berasal dari kelas lain juga nihil terlihat.

Semakin mempercepat langkah, Kai semakin di buat ambigu saat mendapati kerumunan siswa-siswi di kelasnya. Agak susah untuk menyelinap kerumunan mengingat prepensi-nya yang cukup tinggi. Dan hal yang pertama ia dapati adalah sosok Suzy yang tengah membeku dengan tatapan sinis yang di lontarkan Myungsoo. Sebuah surat yang diulurkan Suzy namun di acuhkan Myungsoo kembali membuat prasangka itu menjadi nyata, Suzy menyatakan perasaannya. Kai bukanlah sosok yang egois, ia mencintai Suzy, sangat malah. Tapi, ia juga tidak bisa membantah jika Suzy menyukai orang lain, Kai merelakkannya. Namun semuanya harus berakhir begitu melihat sikap Myungsoo yang dengan teganya menolak surat untuk gadis ‘Bae’-itu.

Kai menyusup ke dalam kerumunan dan beranjak menuju Myungsoo dan Suzy. menabrak-cukup-keras bahu Myungsoo dan menarik Suzy pergi. Sorak-poranda lantas mendominasi, sementara Myungsoo menatap sinis ke arah kepergian Kai. Seperkian sekon selanjutnya, Soojung berjalan dengan langkah kesal hingga berdiri tepat di hadapan pemuda yang baru saja menyakiti hati sahabatnya.

“Apa kau seorang pria? Bagaimana bisa kau menyakiti hati wanita seperti itu!”

Menghela napas kesal, Surat tidak penting tadi membuatnya harus di penuhi kesialan seperti ini.

“Jika kau menyakiti Suzy sekali lagi, kami tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!”

Kali ini Sehun yang berucap, membuat kekesalan Myungsoo semakin memuncak “Apa kalian pengawalnya? Kenapa kalian begitu peduli!”

Dua pasang tatapan sinis langsung beraksi, “Karna kami sahabatnya!”

Usai mengucapkan itu, Soojung dan Sehun beranjak menyusul Kai-Suzy, meninggalkan Myungsoo yang sedikit termenung di belakang. Tangannya mengusap pangkal kepalanya dengan lisan yang kembali menyeruakkan frasa barusan dengan sedikit lirih.

“Karna kami sahabatnya,”

 

-oOo-

 

“Hey! Kalian hentikan!”

Dua gadis cilik itupun langsung berbalik dan menatap sedikit takut pada Myungsoo, keduanya menunduk bersamaan dengan larinya pemuda cilik itu pada gadis yang tengah terduduk kesakitan.

“Kenapa kalian jahat sekali!”

“Kami hanya tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan dia,” sahut salah satu gadis itu, sementara satunya menatap penuh kebencian pada si gadis yang baru saja mereka beri pelajaran, terlalu sadis mungkin untuk anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Tatapan tajam lantas mengarah pada keduanya, “Pergi kalian!”

Kedua pembuat onar itu langsung lari terbirit-birit, takut-takut Myungsoo tidak mau berteman dengan mereka lagi.

“Kau baik-baik saja?”

Myungsoo menatap penuh prihatin pada gadis yang tengah menatapnya datar itu, luka darah pada lututnya sepertinya tak berpengaruh banyak.

“Kau menyelamatkanku lagi,”

“Tentu saja! Aku akan selalu melindungimu, bagaimanapun caranya. Aku berjanji!”

“Kenapa begitu Myungsoo-ah?”

“Karna kau sahabatku!”

-oOo-

Kai membawa Suzy ke taman sekolah, kemudian berhenti dan menatap lekat gadis itu. Liquid bening masih setia mengalir dengan lancarnya, membuat Kai kembali merutuk Myungsoo dalam hati.

Kai memegang lembut kedua bahu Suzy “Tenanglah, jangan dipirkan terus.”

“Kai-ah, apa aku begitu jelek? Apa aku terlalu bodoh? Kenapa dia menolakku?”

Isakkan tangis yang menyusul pada akhir kalimat membuat Kai dengan cepat merangkuh gadis itu dalam dekapannya. “Suzy kita sama sekali tidak jelek, kau juga tidak bodoh hanya sedikit lamban saja, pemuda itu yang bodoh, menolak gadis seperti dirimu. Jadi berhentilah menangis,”

Suzy melepas pelukan Kai, menghapus sisa air mata yang membekas pada pipinya dan tersenyum-dengan sedikit paksaan, “ Baiklah,”

Sayup-sayup terdengar langkah kaki dari belakang yang semakin mendekat, Suzy dan Kai spontan menoleh dan prepensi Soojung dan Sehun-lah yang menjadi jawaban.

“Kau baik-baik saja?”

Suzy hanya mengangguk kecil sebagai jawaban untuk pertanyaan penuh nada kekhawatiran yang di lontarkan Soojung,

“Bagaimana jika kita pergi menghibur diri?”

Kini semua mata tertuju pada si pelontar usul-Sehun, yang masih bertahan dengan tatapan innocent-nya.

“Bagaimana caranya?”

Game center,”

 

-oOo-

Entah sudah berapa jam empat sekawan itu menghabiskan waktu bermain di game center yang terletak di pusat kota.  Sehun dan Kai masih sangat bersemangat memainkan game manipulasi perang sementara Soojung dan Suzy sibuk memotret diri dalam photo box.

Selang beberapa menit Soojung dan Suzy keluar dari salah satu fasilitas tempat itu, di ikuti tawa ringan dari bibir keduanya. Langkah Suzy terhenti tepat pada sebuah dompet yang tergeletak di hadapannya. Maniknya berkeliling hingga mendapati seorang gadis yang terlihat kebingungan.

“Hey, apa ini dompetmu?”

Gadis itu lantas menoleh pada asal suara, diikuti tatapan menyelidik. Memutuskan untuk tak acuh gadis itu berjalan menuju Suzy dan mengambil dompet itu dengan sedikit kasar.

“Nara?”

“Bertingkahlah untuk tidak mengenalku, aku tidak ingin di sangka teman gadis bodoh sepertimu,” ucap  gadis yang di-klaim Nara itu dengan tatapan menusuk

“Dasar gadis tidak sopan, Suzy sudah membantumu harusnya kau berterima kasih!” Soojung membentak kasar gadis itu yang balas dengan sebuah helaan napas.

“Kalian berlebihan,”

Usai frasa itu, Nara melanjutkan perjalananya menyisakkan kemarahan yang besar pada Soojung dan kebingungan pada Suzy.

“Dasar tidak punya sopan santun!” Soojung berucap dengan cukup keras, membuat Kai dan Sehun mau tidak mau harus mengalihkan atensi mereka.

“Ada apa?”

“Gadis yang menyebakan, aku serius!”

Sehun dan Kai mengerutkan dahi tanda tak mengerti, alhasil keduanya memutuskan untuk bertanya pada sosok yang masih bisa mengontrol emosinya-yang pada dasarnya tidak termakan emosi sedikitpun.

“Bukan apa-apa, jangan khawatir.”

Soojung lantas menoleh pada Suzy, berusaha meralat kalimat ringan gadis itu “Bukan apa-apa? Hey, jelas-jelas kau sudah menolongnya tapi dia bahkan tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’ sedikitpun, mirip sekali dengan Kim Myungsoo!”

Cercah pada akhir kalimat itu membuat suasana menjadi hening kembali, Soojung baru saja mengucap ‘hal’-yang mampu membuat kejadian miris yang telah susah-mati Suzy ucapkan kembali terlintas dalam angan.

“Maafkan aku,”

Suzy kembali-memaksakan-senyum seraya berujar pelan “Tidak apa-apa,”

 

-oOo-

 

Myungsoo kembali menutup bukunya-gelisah, lalu kembali membuka dan melanjutkan membaca walau pada seperkian sekon selanjutnya mengulang gerakan yang sama. Berhasil membuat sosok sang ‘ibu’ dibuat sedikit ambigu. Entah sudah berapa kali wanita paruh baya itu menanyakan keadaan anaknya yang hanya di jawab dengan satu kata-baik-yang tidak terdengar meyakinkan.

“Apa aku terlalu berlebihan,”

Gumaman yang sama kembali terlontar, menyisakkan sebuah perasaan yang belum terjawab di dalam sana. Memikirkan bagaimana ia membuat gadis itu menangis tadi, rasanya seperti ada sepercik rasa bersalah dalam nurani.

“Aku pulang!”

Suara melengking itu sekaligus membuyarkan lamuman Myungsoo, sontak pemuda itu menatap risih pada si pemilik suara.

“Apa kau bisa sekali saja tidak mengeluarkan suara se-melengking itu?”

“Diam kau, kakak bodoh!”

BRUKK

Tak tanggung-tanggung Myungsoo melempar buku rumus fisika-yang setebal dunia-pada adiknya yang baru saja memaki kasar.

“Hey! Itu sakit!”

“Sudahlah, kalian itu sudar besar tapi belum dewasa sama sekali!” sosok sang ibu berusaha melerai-lebih tepatnya menghentingkan Nara yang baru saja akan melempar vas bunga pada Myungsoo.

“Myungsoo oppa yang memulai,” Nara mengeluh seraya melepaskan sneaker yang ia kenakan dengan sedikit tergesa-tergesa “Aku bertemu Suzy tadi, omong-omong.”

Nyonya ‘Kim’ yang tadinya sudah di ambang kepergian kembali ke tempat semula begitu nama ‘Suzy’ disebutkan. Sementara Myungsoo berusaha untuk tak acuh walau atensinya sedikit teralih.

“Di mana kau bertemu dengannya? Ah, tidak. Bagaimana keadaannya?”

“Di game center, dia tidak terlihat baik. Tapi, tetap bodoh.”

“Dia tidak terlihat baik, astaga, apa yang terjadi dengan anak itu?”

Eomma, kau terlalu berlebihan. Gadis itu kan bukan anakmu,”

“Tapi dia sudah aku anggap seperti anak sendiri, dan juga jangan panggil dia dengan ‘gadis itu’ bagaimanapun juga dia lebih tua darimu.”

Nara hanya memutar mata malas, bersiap untuk beranjak ke kamar “Tanyakan saja pada Myungsoo oppa, mereka sekelas.”

Hilangnya kalimat itu, menghilang pula prepensi Nara dari pandangan. Tatapan menyelidik segera memulai aksi membuat Myungsoo sedikit bergidik ngeri.

“Kalian sekelas, kenapa tidak bilang pada Eomma?”

“Bukan hal penting,”

Myungsoo meraih kembali buku yang telah tergeletak bebas di lantai, “Dia masih tetap bodoh, jangan terlalu khawatir.”

-oOo-

Suzy baru saja menapaki lantai restoran-tempat tinggalnya-dan bermaksud untuk segera menuju kamar tidurnya hingga sosok sang ayah yang tengah merenung dengan kesedihan yang sangat jelas terlihat dalam sorot matanya mengalihkan seluruh atensi Suzy.

Appa, ada apa?”

Bukannya jawaban, melainkan sebuah rangkuhan. Suzy mengerutkan alis tanda tak mengerti “Apa terjadi hal yang buruk?”

“Suzy-ah,”

Sebuah dehaman singkat terlontar dari Suzy, sebagai bentuk sebuah respon.

“Tidak masalah-kan jika kita tinggal di restoran ini lebih lama,”

Suzy menjungkitkan sebelah alisnya, tanda tak mengerti “Bagaimana dengan rumah yang  Appa bilang akan kita tempati? Bukannya Appa sudah menginvestasikan semua uang?”

Helaan napas gusar terdengar sebelum suara lirih itu berucap pasti “Appa di-tipu, agen perumahan itu tidak pernah ada.”

Hati Suzy mencelos seketika, ayahnya bahkan sudah bekerja dengan begitu keras demi rumah yang di angan-angan itu. Oh, Suzy kecewa, tapi jika ia menunjukkan kekecewaannya sang ayah pasti akan menjadi lebih terpuruk. Maka kembalilah senyuman itu, senyum manis dengan sebuah rasa perih.

“Aku tidak masalah kok, aku sudah tinggal di restoran ini sangat lama jadi tidak masalah jika harus tinggal lebih lama lagi.”

Ayah Suzy menatap anak gadisnya dengan begitu lembut, siluet istrinya terpampang jelas dalam sorot mata Suzy.

“Kau anak yang benar-benar baik,”

 

-oOo-

Sinar mentari mulai mendominasi, belum sepenuhnya memang tapi gadis ‘Bae’-itu sudah berhasil mencapai gerbang sekolah dengan harapan untuk tidak bertemu sosok pemuda yang menolak perasaanya kemarin. Sayangnya, dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya terbukti dengan prepensi Myungsoo tengah berdiri sigap di hadapan gadis itu.

Adegan saling bertukar pandang layaknya drama-namun tanpa melodi-berlangsung cukup lama tanpa adanya frasa. Hingga Suzy memutuskan beranjak, takut-takut pemuda itu akan memaki lagi layaknya hari yang lalu.

“Bae Suzy,”

Suzy lantas menoleh, sedikit takjub karna Myungsoo memanggil dirinya dengan sebutan ‘Bae Suzy’ bukannya ‘Gadis bodoh’-atau semacamnya. Menatap iris kelam pemuda itu, detakan tidak normal pada area jatungnya kembali berlangsung.

“Aku minta maaf,”

Suzy semakin dibuat melongo-bodoh, tiga buah kata barusan bukanlah kalimat lumrah untuk seorang Kim Myungsoo. Apa kiamat akan tiba?

“Kau barusan bilang apa?”

Bukannya menjawab, Myungsoo malah melongos pergi begitu saja meninggalkan Suzy di belakang sana yang masih terdiam sembari meremas kuat tas selempang miliknya-mengalihkan kegugupan.

Seperkian sekon berikutnya, keceriaan itu kembali, turut membawa senyuman tulus yang entah hilang kemana kemarin. Kepribadian Myungsoo yang berubah-ubah membuat Suzy berhasil mengartikan mengapa pemuda itu menolaknya kemarin.

“Dia pasti kerasukan hantu,”

-oOo-

Kelas menjadi lebih cepat tertib di banding biasanya, membuat Choi Ssaem yang baru saja tiba lantas mengkerutkan dahi tanda keheranan. Bayangkan saja, kelas yang biasanya paling riuh berubah sunyi seketika layaknya pemakaman umum.

“Kalian baik-baik saja?”

Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Lelaki paruh baya itu, semua terdiam. Sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Sejak kapan kalian menjadi begini?” Choi Ssaem sepertinya tidak jengah dengan diamnya para murid, Terbukti dengan pertanyaan yang baru saja terlontar.

“Sejak ada pemuda berhati wanita yang masuk di kelas ini,” tatapan sinis itu terlontar begitu saja pada Myungsoo. Sedikit risih memang, tapi pemuda itu tak ingin ambil acuh.

“Atau mungkin semenjak  ada gadis yang mencari ketenaran dengan sebuah surat,”

BRUKK!

Soojung lantas berdiri seraya memukul permukaan meja dengan sedikit keras, benar-benar ingin menghajar habis sosok wanita-fangirl Myungsoo-yang baru saja berucap.

“Kau mau mati!”

Suzy dengan cepat mnenangkan, bahaya besar jika seorang Jung Soojung marah, “Sudahlah lupakan saja, aku sudah lebih baik sekarang,”

Ssaem memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi seperti yang dikatakan Suzy lebih baik lupakan saja jika berakibat buruk begini,”

Soojung menghela napas penuh amarah, maniknya menatap Suzy sejenak sebelum kembali duduk seperti semula.

“Kau sungguh baik-baik saja,kan?”

Setelah mendengar ungkapan maaf Myungsoo pagi tadi, pastinya Suzy menjadi lebih baik “Tentu saja”

 

-oOo-

Suzy berjalan menuju kediamannya dengan sedikit tergesa-gesa, tidak ada alasan khusus hanya terbawa perasaan saja. Berjalan dengan begitu riang hingga tidak menyadari  prepensi Kai yang menawarkan diri untuk pulang bersama sama sekali.

Suzy sudah tiba di depan pintu, keningnya sedikit mengkerut begitu mendapati pintu restoran yang tertutup dan lampu yang mati. Kakinya tergerak untuk mendobrak satu-satunya destinasi tempat itu-yang berakhir dengan ringisan keras,

Appa!”

Sahutan pertama keluar dan belum ada jawaban sama sekali, Suzy semakin paranoid dibuatnya takut-takut ayahnya di culik pasukan alien yang mengincar ttaekkoboki.

Appa! Jawab aku,”

Kali ini Suzy menaikkan oktaf suaranya, dan bukannya sosok yang ia cari-ayah-melainkan ahjumma pemiliki restoran sebelah yang keluar.

Ahjumma, kau melihat appa-ku?”

Ahjumma itu merogoh sakunya singkat lalu mengeluarkan secarik kertas, “Tadi dia menitipkan alamat ini, katanya pindah rumah.”

“PINDAH!”

-TBC-

A/N :

Mohon maaf sebesar-besarnya buat readers atas keterlambatan buat posting fanfic ini, aku kehabisan ide di tengah-tengah (efek terlalu keras berpikir saat ujian) dan butuh waktu yang agak lama buat ngumpulin feelnya. Aku tipe author yang gak bisa lanjutin ff kalau gak ada feel. Maaf banget ya~

38 responses to “Kissing You (Chapter 2)

  1. Pasti pindah ke rumah myungso?
    Nara sikapnya dingin juga,aigoo kakak beradik itu benar” sama

  2. Pindah? pindah kemana? kenapa mendadak sekali, padahal sebelumnya ayah Suzy bilang mereka harus tinggal di toko lebih lama?… kasihan, setiap hari dipandang rendah oleh orang2 disekitarnya dan dipanggil “gadis bodoh”… lebih sakit lagi, saat harus melihat Suzy yg berusaha menyembunyikan sakit hatinya dan berusaha tetap tersenyum… semoga setelah ini dia tidak bersedih lagi…
    Ditunggu next partnya, gomawo🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s