[Freelance] New Destiny Chapter 13

new destiny psd version 2

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

…. 

 

Joseon, 1365

 “MYUNGSOO!”

Myungsoo sedang berjalan memasuki rumahnya saat tiba-tiba Ia mendengar sebuah suara memanggilnya. Ia membalikkan tubuhnya. Matanya menyipit saat mendapati seorang gadis dengan hanbok merah marun baru saja memasuki halaman rumahnya. Sedetik kemudian matanya membulat saat menyadari siapa gadis itu.

“Suzy?”

Gadis itu berjalan menghampiri Myungsoo yang jujur saja membuat Myungsoo heran. Bukankah Suzy sedang menghindarinya? Lalu mengapa tiba-tiba gadis ini menemuinya? Apa Suzy sudah tidak marah dengannya?

“Myungsoo….”

Myungsoo menatap Suzy penuh tanda tanya saat gadis itu kembali memanggil namanya. Ada apa dengan gadis ini sebenarnya? Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu terus menatapnya. Tanpa berkata apapun.

Eo.. Suzy-ah, ada apa?”

“Apakah itu benar?” tanya Suzy tiba-tiba yang tentu saja membuat Myungsoo bingung. Apanya yang benar? Gadis itu tak memberitahunya apa-apa sebelumnya dan tiba-tiba bertanya kebenaran suatu hal?

Myungsoo menatap Suzy dengan pandangan bertanya. “Apanya yang benar?”

“Kau…,” Suzy menjeda kalimatnya, “kau yang membantu kami. Tuan Choi… apa benar yang Ia katakan kalau kau membantu keluarga kami?” cerca Suzy.

Myungsoo terdiam. Ia sedikit terkejut karena tak menyangka Suzy akan mengetahui bahwa Ia membantunya. Niatnya yang ingin membantu gadis itu dan keluarga Bae secara diam-diam nyatanya tak berhasil. Suzy tahu begitu cepat.

Ne, itu benar,” lirih Myungsoo. Ia melirik Suzy, takut akan reaksi gadis itu. Apa Suzy akan marah karena Ia membantu keluarga Bae? Apa mereka tidak senang menerima bantuan darinya karena Ia yang membuat putri mereka tak selamat?

Melihat keterdiaman Suzy jelas membuat Myungsoo semakin berpikiran yang tidak-tidak.

“Suzy… aku… maaf aku tidak bermaksud ikut campur atau apa. Aku hanya ingin-”

Grep.

Kedua mata Myungsoo membulat sempurna. Tubuhnya membeku merasakan tangan Suzy yang kini melingkari pinggangnya. Suzy memeluknya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada Myungsoo.

“Suzy….”

“Kenapa meminta maaf? Dasar bodoh! Aku justru senang mengetahui kaulah yang membantu kami, bukan keluarga Choi. Myungsooo kau menyelamatkan masa depanku!” celoteh Suzy masih sambil mendekap tubuh Myungsoo. ‘Kau menyelamatkan masa depanku dari perjodohan itu, Myungsoo. Setidaknya aku mempunyai alasan untuk menolaknya,’ batinnya.

Myungsoo masih terpaku di tempatnya. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Bukan karena pelukan Suzy yang terlalu erat atau apa karena nyatanya gadis itu kini sudah melepaskan pelukannya tapi tubuhnya masih membeku. Ia terlalu terkejut dengan perlakuan Suzy yang tiba-tiba.

“Myungsoo? Kenapa kau diam saja?”

Myungsoo mengerjapkan matanya saat melihat tangan Suzy yang dilambaikan di depan matanya. Ia kemudian kembali menatap Suzy.

“Suzy… kau sudah tidak marah padaku?” tanya Myungsoo.

Senyum yang sedaritadi tersungging di bibir Suzy memudar. Benar. Bukankah Ia sedang marah dengan Myungsoo. Tapi mengapa Ia langsung menemui Myungsoo dan bahkan memeluk pemuda itu tadi. Apa karena Ia terlalu senang karena berhasil menemukan fakta dibalik perjodohannya dengan keluarga Choi?

“Kau masih marah?”

Suzy menatap Myungsoo. Pemuda itu menatapnya nanar. Dan hal itu sungguh membuat Suzy tak tega melihatnya. Ia kemudian menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman yang menawan.

Anieyo. Aku tidak marah lagi padamu, Kim Myungsoo,” jawab Suzy.

Jeongmalyo?”

Suzy menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Aku tak bisa marah terlalu lama padamu Myungsoo-ah. Aku tak tahu kenapa. Setiap saat rasanya aku ingin marah padamu tapi disisi lain aku juga merindukanmu.”

Myungsoo tersenyum.

Grep.

Kini giliran Suzy yang harus dikejutkan oleh pelukan Myungsoo yang tiba-tiba. Ia kemudian mengangkat tangannya dan balas memeluk Myungsoo sambil menyandarkan kepalanya ke dada Myungsoo.

“Aku juga merindukanmu, Suzy-ah. Aku senang sekali kau sudah tidak marah padaku. Maafkan aku jadi jangan marah lagi padaku, eoh?”

Suzy menganggukkan kepalanya dalam dekapan Myungsoo. “Eoh.”

….

Ibu Suri Park menatap seorang pemuda di hadapannya dengan matanya yang tajam. Namun bibirnya jelas mengukirkan sebuah senyum sinis. Sebaris kalimat yang baru saja diucapkan pemuda itu jelas membuatnya senang bukan main.

“Jadi perjodohan antara Park Jiyeon dan Pengawal Kim itu sudah dibatalkan?” gumam Ibu Suri Park.

Ne, Mama.”

Ibu Suri Park mengambil cawan teh rosela-nya lalu menyesapnya perlahan.

“Sepertinya uri Jiyeon memang ditakdirkan untuk menjadi Putri Mahkota. Lihat saja bagaimana perjodohannya yang bahkan baru berjalan beberapa hari dan sudah batal. Aku sudah menduganya,” ujar Ibu Suri Park. Tiba-tiba senyum di bibirnya memudar. “Karena itu aku harus segera menyingkirkan Putri Mahkota palsu itu dan membuat Jiyeon menempati posisinya!”

Kedua tangan Ibu Suri Park mengepal. Senyum sinisnya mulai muncul lagi di bibirnya. Sepertinya otaknya mulai menyusun beberapa rencana lagi.

“DAYANG SONG! CEPAT PANGGIL DAYANG HEO UNTUK MENEMUIKU SEGERA!”

….

Langit semakin sore saat seorang pemuda dan seorang gadis tengah berjalan-jalan di sebuah pasar. Mereka berjalan menelusuri tiap sudut pasar tanpa membeli apapun dan tanpa berhenti dimana pun.

“Kenapa tidak mengobrol di rumah saja?”

Myungsoo–si pemuda–menolehkan kepalanya pada Suzy–si gadis–begitu gadis itu mengeluarkan suaranya memecah keheningan antara mereka. Dilihatnya Suzy yang tengah ikut menatapnya. Myungsoo pun mengalihkan perhatiannya ke depan kembali.

“Hanya… aku ingin berjalan-jalan… denganmu,” balas Myungsoo.

Suzy tersenyum mendengarnya. Mereka berdua terus melangkah hingga tiba di ujung pasar. Tiba-tiba Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Suzy yang bingung mengapa mereka tiba-tiba berhenti.

“Apa kau lapar?” tanya Myungsoo.

Suzy memiringkan kepalanya sambil berpikir. “Emm… sedikit. Aku hanya makan sedikit saat makan siang tadi karena terlalu penasaran tentang keluarga Choi itu. Memangnya kenapa? Apa kau lapar?” balas Suzy.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Ia menunjuk sebuah kedai makanan yang ada di samping kanannya sambil memandang Suzy. “Makan di tempat itu, mau? Sekalian aku ingin bertanya-tanya denganmu,” kata Myungsoo.

“Baiklah…,” jawab Suzy seraya mengikuti Myungsoo berjalan masuk ke kedai tersebut.

Suzy langsung saja duduk di salah satu kursi yang kosong sedangkan Myungsoo tengah memesankannya makanan. Ia menatap sekelilingnya. Kedai makanan ini tak begitu ramai. Mungkin karena ini bukan jamnya untuk makan. Entahlah, Ia juga tidak tahu.

“Aku sering makan bersama teman-temanku saat masih sekolah dulu. Terkadang bersama ayahku dan Sohyun tapi lebih sering bersama temanku,” celetuk Myungsoo saat mendapati Suzy tengah mengamati sekelilingnya.

Geure? Tempat ini terlihat nyaman tapi sedikit sepi.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya setuju. “Aku juga heran mengapa tempat ini tak begitu ramai. Padahal makanan yang dijual disini lezat dan yang paling penting murah. Mungkin karena orang-orang sekarang lebih suka makan di tempat yang lebih bagus dan mahal.”

Mereka berdua berhenti mengobrol karena tiba-tiba ahjumma pemilik toko datang untuk mengantarkan makanan mereka. Segera saja kedua orang tersebut menyantap makanan yang tersedia.

“Enak kan?” tanya Myungsoo.

Suzy menganggukkan kepalanya sambil menyesap kuah makanannya. Mulutnya kembali mengunyah makanan tersebut dengan lahap. Benar apa yang dikatakan Myungsoo. Makanan tersebut lezat sekali.

“Kau tadi mau tanya apa?” tanya Suzy begitu Ia menyelesaikan makannya. Myungsoo sendiri sudah menghabiskan makanannya sedari tadi. Mungkin pemuda itu begitu lapar atau mungkin karena Ia sudah lama tidak makan di kedai ini jadi Ia merindukan makanannya.

“Emm… kau terlihat senang sekali saat mengetahui kalau aku dan ayahkulah yang membantu keluarga Bae bukan keluarga Choi. Memangnya kenapa dengan masa depanmu?” tanya Myungsoo.

Suzy menghela nafas panjang mengingat perjodohannya.

“Sebenarnya aku dijodohkan oleh kakekku di masa depan. Aku dijodohkan dengan seseorang dari keluarga Choi. Kakekku bilang aku dijodohkan karena sebuah hutang budi leluhur kami pada leluhur keluarga Choi di masa lalu. Bayangkan saja! Aku harus membalas budi mereka karena hutang di masa Joseon. Lalu karena aku terdampar di masa ini, kupikir bantuan itulah yang dimaksud kakekku. Tapi ternyata bantuan itu bukan dari keluarga Choi, melainkan darimu dan keluargamu,” jelas Suzy.

Myungsoo terdiam sejenak. “Apa dengan ini kau bisa membatalkan perjodohanmu itu?”

Suzy mengedikkan bahunya. Ia sendiri tak yakin tapi setidaknya hal itu bisa memperbesar kesempatan untuknya agar bisa membatalkan perjodohan itu. Pokoknya Ia akan menjelaskan pada kakeknya tentang hal ini jika kakeknya itu masih memaksanya menjalani perjodohan itu. Bagaimanapun caranya.

“Apa itu berarti kau akan kembali ke masa depan?” tanya Myungsoo karena Suzy tak kunjung mengeluarkan suaranya.

Suzy terdiam lagi. Ia pun tak tahu itu. Beberapa hari ini Ia tak begitu memikirkan masa depan dan sebagainya. Ia terlalu fokus pada masalah di masa ini seolah Ia benar-benar dari masa ini.

“Suzy….”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Bahkan aku masih tidak tahu alasanku berada di jaman ini. Yang aku tahu hanya… aku harus menjalaninya. Aku tak bisa menolak keadaanku saat ini jadi aku menjalaninya tanpa mengingat-ingat hal itu. Jika sudah saatnya, aku pasti akan kembali dengan sendirinya,” kata Suzy. “Kenapa bertanya begitu?”

Myungsoo menautkan kedua alisnya bingung. Ia pun tak mengerti mengapa Ia menanyakannya. “Hanya… tidak. Aku hanya ingin bertanya. Tidak perlu dipikirkan,” sahut Myungsoo. Ia kemudian mengambil gelasnya dan segera meneguknya.

Benarkah hanya karena ingin bertanya? Myungsoo pun ragu akan hal itu karena sepertinya ada sesuatu yang lain di dalam hatinya yang mendesaknya untuk bertanya. Apa itu? Ia pun tak tahu.

“Ayo pulang, Suzy-ah! Sudah hampir petang. Aku akan mengantarmu kembali ke penginapan.”

“Hmm… Kajja!”

….

Ibu Suri Park terlihat termenung di kamarnya. Ia tengah berpikir keras setelah bertemu dengan dayang yang Ia tugaskan untuk memata-matai Putri Mahkota saat ini yang menurutnya bukanlah Putri Mahkota yang sebenarnya.

“Maaf, Mama. Beberapa hari ini tidak ada yang terjadi dan mencurigakan. Yang mulia Putri Mahkota hanya melakukan kegiatannya seperti biasa. Teman Putri Mahkota juga tidak datang berkunjung sama sekali beberapa hari ini.”

Ibu Suri Park mendengarkan apa yang dikatakan Dayang Heo di hadapannya.

“Ah, kemarin pengawal Putra Mahkota, Pengawal Kim pergi menemui Putri Mahkota. Yang saya dengar, Putri Mahkota ingin menanyai hal-hal tentang Putra Mahkota yang tidak diketahuinya karena Pengawal Kim merupakan sahabat Putra Mahkota. Begitulah yang saya dengar.”

 

Ibu Suri Park menyipitkan matanya setelah mengingat apa yang dikatakan dayang itu.

“Benarkah hanya itu? Kim Myungsoo itu… tidakkah Ia sedikit mencurigakan? Sepertinya aku harus mengawasinya.”

….

Suzy membuka matanya. Setelah bermenit-menit Ia berbaring di atas alas tidurnya, matanya tak kunjung mengantuk. Ia terus memejamkan matanya, lalu membukanya lagi setelah beberapa saat. Entah mengapa Ia tak bisa tidur malam ini.

“Aku juga merindukanmu, Suzy-ah. Aku senang sekali kau sudah tidak marah padaku. Maafkan aku jadi jangan marah lagi padaku, eoh?”

Suzy menggigit bibir bawahnya saat tiba-tiba bayangan Myungsoo saat  memeluknya terngiang di kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri yang langsung memeluk Myungsoo lebih dulu dan entah mengapa Ia merasa malu mengingatnya. Pipinya terasa panas.

Aigoo… apa yang kupikirkan?” ujar Suzy sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.

Ia kemudian menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga mukanya juga lalu berguling ke samping. Beberapa saat kemudian Suzy kembali menggerakkan tubuhnya menghadap ke arah lain.

“Apa itu berarti kau akan kembali ke masa depan?” 

Sret.

Suzy membuka selimutnya. Matanya kembali terbuka saat suara Myungsoo kembali memenuhi pikirannya. Keningnya berkerut bersamaan dengan kedua alisnya yang bertaut rapat. Masa depan? Kembali ke masa depan? Sudah lama sekali rasanya Ia tak memikirkan soal masa depan.

“Apa aku akan kembali ke masa depan?” gumam Suzy. Ia mendudukkan dirinya lalu menghela napas panjang. Matanya benar-benar tak mau terpejam sekarang. “Lebih baik aku bermain gayageum,” ujar Suzy seraya beranjak untuk mengambil gayageum yang Ia letakkan di sudut ruangan.

….

Howon meletakkan cangkir tehnya di atas meja setelah menyesapnya sedikit tadi. Seperti biasa, Myungsoo selalu menemuinya setiap pagi. Entah hanya sekedar menemaninya atau bercengkrama bersamanya seperti saat ini. Pemuda itu pagi ini datang dengan wajah yang lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.

“Jadi semuanya sudah selesai? Perjodohanmu sudah dibatalkan dan kau sudah berbaikan dengan Suzy?” tanya Howon.

Myungsoo tersenyum mendengar pertanyaan Howon. “Ne, Choha. Suzy sudah memaafkan saya dan sudah tidak marah lagi. Emm.. masalah perjodohan, saya masih harus berhati-hati dengan Tuan Park karena beliau tidak menolak sama sekali saat kami ingin membatalkan perjodohan itu.”

“Kau benar. Menteri Park dan komplotannya benar-benar harus diawasi. Bahkan baru-baru ini aku menemukan salah satu komplotannya selalu menghindari pajak selama beberapa bulan ini. Jadi aku akan menyelidiki dia dan rekannya yang lain juga.

Myungsoo menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Ah dan masalah yang kau ceritakan tentang Menteri Park yang merupakan dalang dibalik kebakaran yang menimpa Keluarga Bae, aku sudah menyuruh salah seorang petugas kepolisian untuk menyelidikinya. Kau tenang saja karena petugas kepolisian ini tidak seperti petugas kepolisian lain yang mudah disuap. Dia bisa dipercaya untuk menyelidiki kasus ini,” jelas Howon.

Myungsoo tentu saja senang mendengarnya. Ia membungkukkan tubuhnya pada Howon. “Gamsahamnida, Choha.”

Srek.

Howon dan Myungsoo sontak menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Kasim Hong melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan lalu membungkukkan tubuhnya pada Howon.

Choha, dayang dari kediaman Yang Mulia Ibu Suri menyampaikan pesan dari beliau agar Anda menemui beliau sekarang,” kata Kasim Hong.

“Katakan pada dayang itu kalau aku akan kesana,” balas Howon.

Ne, Choha.”

….

Myungsoo melangkahkan kakinya menjauhi kediaman Putra Mahkota. Karena Howon sedang pergi menemui Ibu Suri Park, Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya sebentar. Ia masih harus menyelidiki tentang dayang mata-mata yang ada di kediaman Putri Mahkota.

Beruntung sekali karena saat Ia akan keluar dari halaman istana, Ia justru berpapasan dengan Woohyun. Bukankah kebetulan sekali karena Ia memang ingin membicarakan lebih lanjut tentang hal itu?

Myungsoo menyunggingkan senyumnya begitu Woohyun menyadari keberadaannya.

“Woo-”

Belum sempat Myungsoo menghampiri Woohyun, Ia harus mengurungkan niatnya itu saat melihat raut wajah Woohyun yang aneh. Pemuda itu tidak menatapnya. Melainkan menatap sesuatu di belakangnya.

Karena tak tahu harus bagaimana, Myungsoo pun kembali melanjutkan langkahnya dan kembali ke rumah walaupun Ia masih bingung mengapa Woohyun tidak menyapanya atau menghampirinya.

Myungsoo terus melanjutkan langkahnya hingga keluar istana.

Tiba-tiba Myungsoo menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke belakang saat merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Namun matanya tak menangkap satu pun yang mencurigakan. Dengan sedikit ragu, Myungsoo kembali mengayunkan kakinya menuju ke rumah.

….

“Ada  apa, Nenek?” tanya Howon tanpa basa-basi begitu Ia duduk di hadapan Ibu Suri Park.

Wanita tua itu kini tengah menuangkan teh kesukaannya ke dalam cangkir bermotifkan bunga, lalu menyesapnya sedikit demi sedikit tanpa memedulikan Howon yang sudah tak sabar menunggu jawabannya.

“Apa kau tak ingin menyapa nenekmu terlebih dahulu? Kita tinggal di satu tempat yang sama tapi kau jarang sekali menemuiku dan menanyakan keadaanku. Putra Mahkota, kau pasti sibuk sekali sampai-sampai tidak memerhatikan wanita tua ini,” ucap Ibu Suri Park.

Howon menautkan kedua alisnya bingung. Apa sebenarnya yang dibicarakan neneknya ini? Dan mengapa neneknya ingin bertemu dengannya?

“Sebenarnya ada apa Nenek menyuruhku kemari?” tanya Howon lagi tak sabar.

Ibu Suri Park tersenyum tipis. Ia kembali menyesap tehnya sedikit.

“Apa kau tidak lelah? Kau terlihat kurang tidur. Apa karena kau terlalu sibuk bekerja? Nenek tak ingin kau sakit. Bagaimanapun kau adalah penerus tahta negeri ini jadi kau harus selalu sehat dan tidak boleh lelah”

“Maksud Nenek?”

“Pergilah berlibur.”

Howon mengerutkan keningnya heran. Apa Ia tidak salah dengar? Pergi berlibur? Neneknya  ingin Ia berlibur? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang Ibu Suri Park rencanakan hingga menyuruhnya untuk berlibur?

“Aku tidak bisa. Aku mempunyai banyak pekerjaan disini. Lagipula kau pasti akan melakukan sesuatu pada istriku jika aku tidak berada di istana,” tolak Howon.

Ibu Suri Park terkekeh mendengar penolakan yang diutarakan Howon. “Untuk apa aku melakukan sesuatu pada Putri Mahkota? Lagipula pekerjaan yang kau kerjakan sekarang ini adalah tugas ayahmu. Ia memberikannya padamu agar kau berlatih tapi bukan berarti kau tidak boleh menolaknya,” kata Ibu Suri Park. “Tapi aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau.”

“Aku akan memikirkannya,” ujar Howon. “Aku permisi dulu, Nenek.”

Ibu Suri Park hanya tersenyum mempersilahkan cucu semata wayangnya itu untuk meninggalkan ruangannya. Namun seketika senyum itu memudar setelah Howon keluar dari ruangan Ibu Suri Park.

“Kau benar-benar harus memikirkannya, Putra Mahkota,” ucap Ibu Suri Park lalu kembali menyesap tehnya.

….

Krystal tengah melamun di kamarnya saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dayangnya masuk ke dalam ruangannya lalu membungkukkan tubuhnya. Ia tersenyum membalas hormat dari dayangnya.

Mama, Yang Mulia Putra Mahkota datang menemui Anda,” kata dayang tersebut.

Krystal tersenyum mendengar perkataan dayangnya. Ia sedang bosan sekali dan kedatangan Putra Mahkota mungkin bisa mengurangi kebosanannya. “Biarkan dia masuk,” kata Krystal.

Choha… silahkan duduk,” kata Krystal sambil beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Howon untuk duduk di tempatnya.

Howon yang melihatnya pun tersenyum. Sedangkan Krystal hanya mengernyitkan keningnya heran melihat senyum Putra Mahkota. “Jwesonghamnida, Choha, kalau boleh saya tahu kenapa Anda tersenyum seperti itu?” tanya Krystal.

Howon terkekeh mendengarnya. Putri Mahkota-nya ini polos sekali.

“Tentu saja karena aku senang bisa bertemu denganmu,” jawab Howon yang membuat pipi Krystal bersemu karena tersipu malu. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Howon.

Seketika Krystal kembali mengingat bagaimana dirinya yang hanya berdiam diri sebelum Howon datang tadi. Ia tak tahu apa yang sedang Ia lakukan. Yang Ia tahu hanyalah Ia sedang bosan.

“Saya tidak sedang melakukan apa-apa, Choha.”

Geure? Apa kau bosan?”

Ne?” sahut Krystal. Bagaimana suaminya ini bisa tahu kalau Ia hampir mati kebosanan di dalam ruangannya sendiri ini?

Howon lagi-lagi tersenyum mendapati istrinya yang terbengong mendengar pertanyaannya. Padahal kan Ia tidak menanyakan sesuatu yang tabu, kenapa istrinya terlihat kaget seperti itu. “Sebenarnya… aku ingin mengajakmu berlibur. Itupun kalau kau mau,” ujar Howon.

Krystal membulatkan matanya. Terlihat sekali dari sinar matanya kalau Ia begitu bersemangat mendengar kata ‘berlibur’. Itu artinya Ia akan bebas dari rasa ‘bosan di dalam ruangannya’ untuk sementara.

Ne, saya mau, Choha. Geunde… bisakah saya meminta sesuatu, Choha?”

“Apa itu?”

….

Sohyun memasuki kamar kakaknya sambil membawa sebuah nampan dengan dua buah cawan dan seteko teh di atasnya. Ia menundukkan kepalanya lalu segera pamit keluar setelah menyuguhkan minuman tersebut untuk Myungsoo dan temannya.

“Jadi bagaimana penyelidikanmu, Woohyun-ah?” tanya Myungsoo setelah menyeruput sedikit tehnya yang masih panas.

Woohyun berdeham pelan sebelum kemudian menjelaskan. “Aku telah menyelidiki lebih lanjut tentang dayang itu. Seperti yang kita tahu, dayang itu masih saja menemui Ibu Suri Park dan kemungkinan terbesar adalah untuk melaporkan hasil mata-matanya. Tapi bukan itu yang mau aku bicarakan sekarang,” kata Woohyun menggantungkan ceritanya.

Myungsoo menatap Woohyun penasaran. Kalau bukan membicarakan dayang mata-mata itu, lantas apa yang akan dibicarakan Woohyun?

“Tadi saat kita tak sengaja bertemu di istana, sebenarnya ada seseorang yang mengawasimu. Itulah kenapa aku tidak menyapamu. Sepertinya Ibu Suri Park mulai curiga padamu karena itu Ia menyuruh seseorang untuk mengawasimu. Tapi bisa juga orang tersebut adalah suruhan Menteri Park,” jelas Woohyun.

Myungsoo mengangguk mengerti. Ia kemudian teringat pada saat Ia dalam perjalanan pulang dari istana tadi. Bukankah Ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya? Jadi itu benar?

“Pantas saja aku tadi merasa ada yang mengikuti. Jadi itu benar…,” gumam Myungsoo.

Ne, majayo. Kurasa kau harus lebih berhati-hati, Myungsoo. Aku pun tadi sebelum kesini harus memeriksa keadaan sekitar dahulu sebelum memutuskan untuk masuk,” kata Woohyun.

“Heh… ini benar-benar sulit.”

Woohyun menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Untuk sekarang, sepertinya aku akan menyelidiki orang yang mengawasimu juga. Ia pasti lebih tahu sesuatu dibandingkan dayang mata-mata itu.”

“Kau benar, Woohyun-ah.”

….

Howon berdiri di luar sebuah bangunan dengan raut bosan. Sesekali Ia tolehkan kepalanya ke arah pintu bangunan tersebut yang masih tertutup rapat. Ia mendengus karena orang yang ditunggunya tak kunjung keluar.

Sementara di dalam bangunan tersebut, dua orang wanita tengah bercengkrama satu sama lain. Mereka terlalu larut dalam pembicaraan hingga lupa bahwa ada seseorang menunggu mereka di luar sana.

Beberapa saat yang lalu memang Krystal tiba di penginapan tempat Suzy menginap. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengajak Suzy ikut berlibur bersamanya dan Howon.

“Ne, saya mau, Choha. Geunde… bisakah saya meminta sesuatu, Choha?”

“Apa itu?”

“Aku ingin mengajak Suzy juga bersama kita.”

“Apa? Tidak, Putri-ku. Aku hanya ingin berlibur berdua denganmu. Kenapa kita harus mengajak Bae Suzy?”

“Ayolah… Suzy adalah temanku, Choha.”

“…”

“Aku tidak akan pergi jika tidak bersama Suzy.”

“Heh… baiklah.”

Suzy dan Krystal masih terus bercakap-cakap hingga Suzy menyadari sesuatu. “Eh, Krystal-ah, ngomong-ngomong apa besok kita hanya pergi bertiga bersama Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Suzy.

“Tidak. Tentu saja. Para kasim dan dayang juga akan ikut. Ah beberapa pengawal juga. Kau tahu kan, kami adalah keluarga istana jadi harus dijaga ketat meskipun kami hanya berlibur,” celoteh Krystal.

Suzy berpikir sebentar. Pengawal? “Apa Kim Myungsoo juga ikut?”

Ne? Kenapa Pengawal Kim harus ikut?”

Geunyang… dia kan pengawal pribadi Yang Mulia Putra Mahkota. Bukankah dia harus menjaga Putra Mahkota terutama saat beliau sedang berada di luar istana?”

Krystal menganggukkan kepalanya mengerti. “Kau benar. Tapi aku tidak tahu apa Yang Mulia mengajaknya. Dia tidak memberitahuku,” celetuk Krystal sambil mengedikkan bahunya. Krystal kemudian mengerutkan keningnya sambil menyipitkan matanya pada Suzy membuat gadis itu bingung.

Mwo?”

“Kau… dan Kim Myungsoo… bukankah kau masih marah dengannya? Tapi kenapa kau malah seolah-olah ingin dia ikut? Neo… ada hubungan apa kau dengan Kim Myungsoo? Ya! beritahu aku!” cerca Krystal.

Aniya… apa maksudmu dengan hubungan apa? Aku tidak ada hubungan apa-apa.”

Geojitmal.”

Aniya.”

Amutdeun, aku akan kesini lusa. Eh atau kau bisa langsung ke istana saja jadi kita bisa langsung berangkat. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu besok,” kata Krystal.

Suzy menggelengkan kepalanya. Ia merasa terlalu berlebihan jika harus dijemput layaknya keluarga kerajaan. “Aku akan ke istana sendiri. Tidak perlu menyuruh seseorang menjemputku,” tolak Suzy.

“Kalau begitu aku akan meminta Pengawal Kim menemanimu.”

“Baiklah, terserah kau.”

Geure? Aku akan pulang kalau begitu,” pamit Krystal.

“Aku akan mengantarmu.”

….

Pagi-pagi sekali Myungsoo sudah berangkat ke istana. Ia semalam diberitahu kalau Ia harus segera ke istana. Entah apa yang ingin dibicarakan Howon. Sepertinya penting sekali hingga Myungsoo harus segera menemui Howon.

Myungsoo memberikan hormat begitu memasuki kediaman Howon. Di samping Howon sudah ada Putri Mahkota yang duduk dengan manisnya.

“Ehem.” Howon berdeham pelan. Ia kemudian menatap Myungsoo yang sudah duduk di hadapannya. “Jadi Myungsoo, bersiaplah dan segera berkemas. Bawa beberapa pakaian atau barang yang kau butuhkan. Nanti sore kembalilah ke istana dan kita akan berangkat.”

Myungsoo mengerutkan kening bingung mendengar perintah Howon yang tiba-tiba. Untuk apa ia berkemas?

Jwesonghamnida, Choha. Tapi mengapa saya harus berkemas? Apa kita akan pergi ke suatu tempat?” tanya Myungsoo yang masih bingung.

“Ah, aku lupa memberitahumu sebelumnya. Ya, kita akan pergi ke suatu tempat. Aku dan Putri Mahkota akan pergi berlibur jadi kau harus ikut bersamaku.”

Myungsoo terdiam mendengar penjelasan Howon. Bukannya Ia ingin menolak dan membantah perintah Putra Mahkota, tetapi Ia mempunyai janji yang tidak bisa Ia tinggalkan. Dengan sedikit ragu, Myungsoo mulai membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Howon.

Jwesonghamnida, Choha. Sebenarnya saya sudah berjanji pada adik dan ayah saya untuk menemani mereka pergi ke rumah bibi saya di luar kota. Tapi saya akan berbicara pada mereka agar membiarkan saya pergi mengawal anda, Choha.”

Howon berpikir sejenak mendengar perkataan Myungsoo. “Kalau begitu kau pergi saja menemani ayah dan adikmu,” kata Howon.

Gamsahamnida, Choha.”

….

“Pengawal Kim!”

Myungsoo membalikkan tubuhnya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mengerutkan keningnya melihat Krystal berjalan menghampirinya. Myungsoo membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Kau… benar-benar tidak bisa ikut nanti?” tanya Krystal.

Ne?”

“Kau tahu, sebenarnya aku mengajak Suzy. Geunde… kau pasti tahu Yang Mulia Putra Mahkota. Beliau pasti ingin terus berdua bersamaku. Aku takut Suzy akan kesepian karena aku akan menemani Yang Mulia Putra Mahkota seharian. Apalagi dia tidak mengenal siapapun selain aku dan kau.”

“Maaf, Yang Mulia. Saya benar-benar tidak bisa,” ucap Myungsoo.

“Heh… padahal aku sudah terlanjur memberitahu Suzy kalau kau ikut. Dia pasti kecewa kau tidak ikut,” celetuk Krystal.

Myungsoo hanya diam tak bergeming. Ia pun bingung harus membalas apa. Dan… mengapa Suzy akan kecewa jika Ia tidak ikut?

“Bagaimana kalau kau menyusul saja?”

Ne?”

….

TBC

….

Sebelumnya maaf banget karena aku nggak pernah update. Cerita ini rasanya kayak udah jamuran. Bahkan terakhir update cerita ini di wp itu tahun 2015 bulan agustus. Lamaaaaa banget. Ada beberapa alesan sih yang nggak mungkin aku jelasin satu-persatu disini. Yang jelas sebenernya ff ini udah sampe chapter 17 di wattpad pribadi aku. Sama sih disana juga lama updatenya tapi masih lebih update di wattpad.

Maaf juga ceritanya yang semakin aneh dan aneh. Semoga masih ada yang nunggu ff ini disini. Makasih juga buat KSF yang masih mau update-in cerita ini. Oh ya fyi aja, di wattpad itu ff ini udah hampir tamat karena itu aku mutusin buat update disini juga karena udah ketinggalan banget.

Jangan lupa tinggalin like dan komen ya kalau perlu di share juga *ngarep* hehe. Makasih.

– danarizf –

10 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 13

  1. Au ah, myungzy lemot semua, tinggal bilang ********** aja susah. Bikin greget sama hubungannya :v btw, apakah di masa depan takdir akan berubah karna masa lalunya yg juga berubah? Kasiah myungsoo kalo ditinggal suzy :’)

  2. haha akhirnya comeback juga thor
    gak pengen komen apa” sih thor,habis ceritanya udah cukup buat readers greget bacanya kkk#gara”tidakpekanyaMyungzy kk
    next chap ditunggu secepatnya thor^^

  3. Cieee suzy ketauan banget sih suka ama myungnya hehehe btw sampai skrg putri mahkota yg asli masih gk jelas keadaanya.. dan semoga anak keluarga choi yg pertama itu choi minho jdi dia bisa jdi saingannya myung biar seru hehehe

  4. Akhirnya myungzy baikan jga,,,,
    Apa myung akan ikut pada acara liburan itu.dan bagaiman kabar di masaa depan?

  5. Semakin rumit, apa yg sekarang sedang direncanakan ibu suri? semoga tidak terjadi hal buruk saat liburan nanti… selain itu jadi kepikiran jg dengan pertanyaan Myungsoo soal apakah Suzy akan kembali ke masa depan, dan kalau Suzy benar2 kembali, bagaimana dengan Myungsoo?
    Ditunggu next partnya, semangat author! gomawo🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s