#4 All of Us

AOU4 copy

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Min Ho, Bae Soo Ji

Support Cast : Lee Soo Hyuk, Kim Naa He

Genre : Marriage Life, Romance

Rating : G

Length : Sequel | Chapter 4

All story is mine

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

Westpun, Curacao

Langit biru cerah menaungi Curacao, seperti biasa.  Debur ombak sebab angin yang berhembus adalah daya tarik pantai kebanyakan, semilir angin laut yang begitu memabukkan bahkan juga dimiliki oleh satu daerah Curacao, Westpun—tempat Min Ho dan Soo Ji tinggal selama hampir satu bulan ini.

Matahari hangat menyapa, berniat untuk mencerahkan hari tiap orang didaerah itu yang sayangnya—sama seperti tempat lain dimana ada si miskin dan si kaya, si jelek dan si cantik, si pendek dan si tinggi, si pandai dan si berbakat, si beruntung dan si sial, tiap tanah pasti memiliki orangnya yang berbeda dalam berbagai hal.  Villa besar dengan arsitektur berbeda jika dibandingkan hunian lain di Westpun, villa bergaya minimalis modern dengan warna putih yang mendominasi, villa yang terletak hampir di ujung pantai Westpun, villa yang baru dihuni oleh orang selain penjaganya selama satu bulan ini, villa itupun—ada perbedaan mencolok disana.  Si bahagia, dan si kesal.

Duduk diam bersama wajah lesu, atau lelah, atau kesal?  Atau—entahlah, sulit untuk dikatakan bagaimana ekspresi tidak nyaman mereka yang bercampur aduk.  Bekerja sepanjang hari dengan mata terbuka sudah biasa, dipukul dan memukul sudah biasa, berhadapan dan memegang senjata berbahaya sudah biasa, berada dan membuat situasi menghimpit hingga bertaruh nyawa bahkan juga sudah biasa.  Namun berada dalam situasi canggung dan tidak nyaman macam ini—meskipun pernah, namun pengalaman ini adalah untuk pertama kalinya.

Taesang berhadapan dengan Jun Ki sebagai satu-satunya orang yang bisa diajak bicara selama berada di Curacao.  Dua orang bodyguard yang tidak ada bedanya dengan turis sebab penampilan berubah mereka itu, memakai kapas pada masing-masing telinganya.  Mereka sedang tidak mengikuti trend mode Curacao dengan menyumbat kedua telinga menggunakan kapas, sudah pasti bukan itu sebab jika memang karena itu—wajah kesal dan hal melelahkan lainnya itu tidak akan ada pada mereka.  Tampak menggumpal, sama sekali mereka tidak berniat untuk mengurangi tumpukan kapas dalam lubang telinganya seolah begitu penting dan berguna, bahkan jika perlu—mereka akan menjejalinya lagi.

Keduanya saling melempar pandangan jengah, Taesang terutama.  Pria itu terlalu biasa berada dalam situasi yang memacu adrenaline, hingga jika berada dalam keadaan diam dan menenangkan seperti ini, kepalanya pening.  Salah, Taesang meralat kata diam dan tenang.  Ini bukanlah suasana diam dan tenang, sama sekali bukan—ujarnya.

 

“Sudah selesai?”  Jun Ki berujar, tidak jelas pada siapa sebab sama seperti dirinya yang tidak bisa mendengar apapun—rekan dihadapannya juga tidak bisa mendengar apapun selama gumpalan kapas putih masih menutup dua lubang pendengaran.

Jun Ki lepaskan kapas di salah satu lubang telinganya, mencari suara yang menjadi alasannya dan Taesang bersikap macam tuli selama hampir satu bulan ini.  Seolah meniru perilaku Jun Ki yang cukup lama membuka salah satu kapas di telinganya, Taesang melakukan hal serupa.

“Akhirnya……”  Taesang mendesah lega, melepas satu lagi kapas di telinganya dan begitupun Jun Ki.  Gelengan kepala Taesang tampak, “Mereka tidak waras.”  Rutuknya.

Jun Ki melirik Taesang, sedikit senyumnya tampak dengan perkataan Taesang seolah memaklumi keadaan saat ini meski dalam hati, ia juga berkata macam Taesang.

“Jika bukan karena Tuan Muda, sudah lama aku pergi dari villa ini.”  Lanjut Taesang mengingat keadaan sepanjang waktu mereka menjaga pasangan yang mulai disebutnya gila.

“Tidak ada bedanya dengan Tuan Muda kan?”  Jun Ki membela, merujuk pada Kim Joon yang juga berprilaku sama seperti orang yang tengah mereka bicarakan saat ini.  “Orang tua mengatakan bahwa orang baik berteman dengan orang baik, orang jahat berteman dengan orang jahat.  Mereka bertiga, bukankah sama?  Tuan Muda Kim, dan kedua Tuan Muda Lee.  Bukankah mereka sama saja?”

Taesang kembali mendesah, lebih panjang kali ini seolah membenarkan.  Wadah kecil seukuran lingkar jari orang dewasa yang terbuat dari kaca bening Taesang ambil.  Perkataan Jun Ki tidak terlalu berpengaruh pada mood-nya meski ia akui itu adalah benar.  Kesal—wajah pria itu bahkan masih mengembung seperti sebelum-sebelumnya dan entah kapan akan kembali normal.  Taesang lempar dua kumpulan kapas yang lumayan membantunya dari suara-suara yang harusnya bersifat pribadi tadi pada wadah tersebut dan Jun Ki melakukan apa yang rekannya lakukan.

“Bagaimana bisa mereka melakukannya selama dan sekencang itu?  Setidaknya mereka perlu tahu bahwa kita berdua selalu berdiri tepat didepan pintu kamarnya, tidakkah mereka malu?  Ini sudah satu bulan dan tidak ada yang berubah dengan mereka.  Menghabiskan waktu seharian di dalam kamar, keluar saat sore untuk makan dan menghabiskan waktu di pantai, kemudian kembali masuk ke dalam kamar hingga besok sorenya.  Tidakkah mereka bosan?  Bherta bahkan tidak tinggal disini lagi dan datang hanya jika kita memanggilnya untuk membersihkan rumah atau untuk memasak makanan.  Rasa-rasanya aku ingin keluar juga dari rumah ini.  Tidak ada hal yang mengancam bahkan selama satu bulan ini.  Kita seperti apa saja mengawasi pasangan suami istri yang gila sex.”  Gerutu Taesang belum berakhir, melihat jam dinding berukuran besar tidak jauh dari tempatnya dan Jun Ki berada, sumpah—mereka melakukannya selama berjam-jam?  Selama 1 bulan?  Waraskah?

“Hei…. kita mana tahu cerita mereka?  Jangan merutuk macam itu.”  Jun Ki kembali membela, menyenggol pundak tegap Taesang.

“Tapi mereka benar-benar tidak tahu keadaan.”  Sesal Taesang, bangkit—berdiri dari duduknya pada sofa yang mulai menjadi tempat favoritnya jika hari macam satu bulan ini terjadi.  Berjalan pria itu menuju tempat sampah di dapur dan membuang kapas bergunanya yang akan terus berguna entah hingga kapan.  “Haruskah kita pisah rumah dengan mereka?  Atau haruskah kita pasangkan pengedap suara di kamar mereka?”

Jun Ki tergelak.  Pria berpotongan rambut sangat pendek itu ikut bangkit, bukan menyusul Taesang ke dapur namun berdiri di depan pintu kamar Min Ho dan Soo Ji seperti seharusnya.  Berjaga-jaga dari hal tidak diinginkan seperti yang Kim Joon perintahkan satu bulan lalu hingga mereka keluar dan barulah saat itu ia atau Taesang bisa berpindah tempat meski tidak jauh-jauh dari satu-satunya pasangan dalam villa ini.  “Tidur sana, kau mengomel saja sejak tadi.  Hari ini biar aku yang jaga sendiri.”

Taesang menoleh, tidak ditolaknya ucapan Jun Ki.  Dirinya memang harus mengistirahatkan badan dari keadaan yang sama sekali tidak penting.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Min Ho tersenyum dengan Soo Ji yang menjadi satu-satunya pusat ia memandang apapun.  Istrinya itu tidur menyamping dengan melihatnya dan ikut tersenyum Soo Ji, sebagaimana ia yang beberapa waktu ini melakukan apapun yang suaminya lakukan—kali inipun Soo Ji menirukan perilaku Min Ho meski ia tidak tahu kenapa harus tersenyum.

Sesekali Soo Ji terlelap, kelopak matanya tertutup beberapa kali namun wanita itu kembali membukanya paksa.  Rasa kantuk sudah merayapinya sejak beberapa menit terakhir, namun untuk menuruti matanya yang ingin terpejam—Soo Ji menolak.  Entah Soo Ji menolak untuk tidur sebab Min Ho tidak tertidur atau karena ia menikmati visual sempurna suaminya.

“Soo Ji-ah,”

“Oppa.”  Sahut Soo Ji segera, sebatas oppa sebagaimana sebulan ini.

Wanita itu selalu mengeluarkan kata oppa, hanya oppa dan bukan kata lain meski pembicaraan yang Min Ho lontarkan tidak melulu butuh jawaban oppa.  “Kau masih tidak mau berhenti memanggil oppa untuk setiap pertanyaanku?”

“Mmhh….Oppa.”  Soo Ji menggeliat dalam pelukan Min Ho seolah mencari posisi nyaman dengan tanggapan oppa-nya yang entah kapan akan meningkat.

Tidak peduli apapun pertanyaannya, jawaban oppa selalu Soo Ji berikan seperti perbincangan terakhir mereka barusan.  Min Ho menggeleng, tidak paham dan tidak mengerti.  Seperti apapun dirinya menambahkan kosa kata untuk Soo Ji sebut, istrinya ini hanya menyebut kata oppa tanpa mau menggunakan kata-kata lain.

“Kau lelah?  Ingin tidur?”

“Oppa,”  Soo Ji menggeleng pelan dengan menutup matanya, entah apa maksudnya itu sebab menurut Min Ho—menggeleng untuk tidak dan memejamkan mata untuk iya.  Lalu apa maksud dari istrinya ini barusan?

“Hm?”  Min Ho mendekatkan wajahnya, menghapus keringat di kening istrinya dan mencium kening putih wanita itu.

Soo Ji menarik nafas panjang dan menyingkirkan helai rambut di wajahnya yang kemudian Min Ho bantu.  Selanjutnya, wanita itu menarik tubuh Min Ho untuk lebih dekat dan masuk ia dalam pelukan suami yang dibuatnya seolah ia adalah siput yang berlindung dalam cangkangnya.

Min Ho tersenyum lebar, pria itu usap pelan kepala istrinya untuk makin cepat tertidur dan kebiasaan sore yang selalu mereka habiskan di pantai untuk kemudian menyaksikan sunset tampaknya harus terlewat kali ini.  Soo Ji terlelap, melewatkan makannya dan sama seperti istrinya yang tidak memasukkan apapun kedalam perutnya, meski lapar Min Ho tidak ingin makan tanpa Soo Ji.  Tengah malam nanti, mungkin istrinya akan bangun sebab lapar.

Min Ho eratkan pelukannya dan mengikuti istrinya yang memejamkan mata.  Langit biru yang mulai berubah senja dengan mudahnya melihat mereka sebab dinding kaca yang membuat semuanya tampak jelas, seolah ikut tersenyum dengan menampakkan warna cantiknya di angkasa—diberikannya pemandangan cantik itu untuk penglihatan terakhir Min Ho dan Soo Ji sebelum memejamkan matanya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Seoul, Korea Selatan

Beda dengan bahagianya Min Ho dan Soo Ji di Curacao, suasana Seoul yang mereka tinggalkan satu bulan lalu tidak sebaik dan sebahagia keadaan mereka.  Bagi Soo Hyuk setidaknya, pria itu selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan kota ataupun toko buku, entah… apa yang sedang dicari sebab bacaannya tidak ada satupun yang berhubungan dengan otomotif.

tumblr_nf4yyy67kS1u2nj0ro2_r1_500

“Choi Jin Ri.”  Soo Hyuk menggumam dengan pena yang ia ketukkan perlahan pada meja hadapannya saat menemukan nama yang dicarinya selama hampir sebulan ini.

Pria itu menggigit bibir bawahnya pelan, wajahnya jelas tampak berkonsentrasi dan jelas berhubungan dengan nama yang baru saja dirinya sebutkan.  Choi Jin Ri, ulang Soo Hyuk beberapa kali dalam hatinya.  “Bagaimana mungkin?”  Kesal pria itu melepas buku dalam genggamannya dan bersandar lelah sebab tidak menemukan tali penyambung dari apa yang dicarinya.

Soo Hyuk tarik nafas dalam-dalam hingga membusungkan dada bidangnya, garukan tangan pelan pada kepala tidak gatalnya serta mata terpejam diselingi kerutan pada celah antara dua alisnya tampak.

 

 

“Maaf, apakah benar anda Lee Soo Hyuk-ssi?”  Suara jernih yang masuk dalam pendengarannya mengalihkan perhatian Soo Hyuk.  Pria itu segera membuka matanya dan menoleh.  Seorang wanita berpenampilan anggun dan berkelas yang ia tahu siapa sudah berada di sisinya—entah bagaimana.  Menatap ia dengan sungguh-sungguh seolah akan berbicara penting.

“Ne—.”  Soo Hyuk menjawab bingung sebab dipenuhi pertanyaan untuk apa dia menemuiku?

“Bisa keluar dan bicara sebentar?”  Lanjut wanita itu bertanya penuh pengharapan, tidak lupa—senyum manis ia umbar seolah itu akan berguna pada Soo Hyuk yang kemudian menaikkan sebelah alisnya—makin dipenuhi kebingungan dengan awalan kalimat kenapa?  Dan untuk?

Penuh selidik, mata tajam Soo Hyuk melihat sosok dihadapannya mulai bawah hingga atas tidak peduli rasa risih lawan bicaranya itu.  “Kim Naa He-ssi?”

“Ne.”  Naa He mengangguk cepat jika Soo Hyuk menyebut namanya sebab untuk meyakinkan diri apakah seorang Kim Naa He yang kini berada dihadapannya dan menyapa.  Tidak wanita itu singgung ketidak sopanan Soo Hyuk tadi yang melihatnya bagai ditelanjangi, tidak dipedulikannya juga darimana Soo Hyuk bisa mengetahui nama hingga dirinya, wanita itu rasa dirinya cukup populer hingga banyak yang mengenalnya.  “Kumohon, sebentar saja.”  Naa He menangkupkan kedua tangannya meski tahu bahwa tanpa perlu lakukan itu, siapapun tidak akan menolak permintaannya.

Soo Hyuk mengangguk pelan dengan ekspresi wajah dingin dan acuh yang ditunjukkannya, Naa He maklum.  Menganggap bahwa itu adalah ciri khasnya.

Soo Hyuk menutup buku dihadapannya dan melihat sekitarnya seolah takut ada yang mengintai dan sekali lagi, dilihatnya Naa He—kembali wanita itu lempar senyumnya seolah merayu.  Soo Hyuk mendesah pelan—makin malas.  Namun seperti yang Naa He yakini, tidak ada seorangpun yang menolak keinginannya meski Soo Hyuk memiliki alasan berbeda kenapa menuruti keinginan Naa He.  Segera pria itu berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku celana—angkuh.  Berjalan segera Soo Hyuk menuju pintu keluar tanpa satu kata apapun pada Naa He yang menyusul dibelakangnya dengan sedikit berlari sebab langkah panjang pria itu.

“Ada apa?”  Soo Hyuk bertanya tepat di pintu utama perpustakaan.  Berbalik ia menghadap Naa He yang baru saja menghentikan langkah terburunya dengan tatapan remeh yang kali ini mudah di baca.

Naa He menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri sebab perilaku menyebalkan pria dihadapannya ini.  Beberapa kali, wanita itu berkata dalam hati tenangkan emosimu—beda derajat, beda status, beda gaya hidup, beda tata krama.  Naa He tunjukkan lagi senyumnya setelah berhasil menekan emosi sebab perilaku mengesalkan Soo Hyuk yang tidak menyambut sikap baiknya dengan sikap baik pula.  Wanita itu berucap tanpa niat untuk basa-basi, “Min Ho oppa, kau tahu dia ada dimana?  Aku harus bertemu dengannya.”

“Tidak.”  Soo Hyuk menggeleng bersama jawaban singkat dan wajah datarnya yang langsung muncul.

Naa He mengernyit, apakah pria dihadapannya ini seorang aktor hingga begitu lihai mengolah ekspresi wajah hingga bisa berubah drastis?  Entah, Naa He bahkan belum bisa memikirkan hal jauh tentang sikap Soo Hyuk saat pria itu tiba-tiba langsung berbalik.

 

Merasa urusannya bersama Naa He usai, sama seperti ketika tadi dirinya yang langsung berdiri dan pergi mendahului Naa He untuk memenuhi keinginan wanita itu yang ingin berbicara, kali inipun Soo Hyuk kembali melangkah tanpa beban berat dipundaknya meninggalkan Naa He—wajar rasanya, namun menyinggung hati wanita itu untuk kali ini.

“HEI!”  Naa He langsung berteriak, melupakan tata krama yang sejak tadi ia ucapkan dalam hati saking kesalnya.  “SETIDAKNYA UCAPKAN PERMISI SAAT AKAN PERGI.  APA BEGINI PERILAKUMU?!  AKU BAHKAN BELUM KATAKAN BAHWA URUSAN KITA SUDAH SELESAI!”  Sungut Naa He kesal, seumur hidup tidak pernah ada yang menatapnya remeh ataupun berperilaku menghina yang baru kali didapatnya melalui Soo Hyuk.  Naa He terbiasa di hormati dan dilayani, hingga saat keadaan tadi menimpanya—apalagi saat terakhir Soo Hyuk langsung pergi, wanita itu tidak terima.

Sadar teriakan Naa He untuknya, Soo Hyuk menghentikan langkahnya dan menoleh, membalas pandangan tajam Naa He datar.  “Ya, begini perilakuku.  Kenapa?”

“Hah?!”  Naa He melonjak tidak percaya, membulatkan matanya kesal dan Soo Hyuk—sekali lagi pria itu tidak peduli, membungkam mulut Naa He yang akan kembali berteriak sebab sosok tersebut sudah kembali masuk dan duduk ditempatnya tadi.  “Dasar.  Orang miskin!  Tidak punya aturan!  Tidak punya etika!  Tidak punya tata krama!”  Geram Naa He mengepalkan dua tangan mungilnya menatap Soo Hyuk yang bahkan melihatnya lagipun tidak.

Seolah tidak cukup dengan teriakan tadi yang begitu menarik perhatian orang disana…. Naa He pergi dengan hentakan kesal langkah kakinya tanpa peduli pada etika yang selama ini keluarganya ajarkan saat berada ditempat umum.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Westpun, Curacao

Min Ho mengerang—kesal, matanya masih mengantuk dan tubuhnya juga masih lelah butuh istirahat.  Dering ponsel miliknya di atas nakas terdengar, cukup banyak membuat tidurnya terganggu dan pria itu mengerutkan kening.

“Nghh……”  Soo Ji ikut bereaksi, bergerak gelisah dalam pelukan Min Ho dengan kedua alisnya yang tersambung.

“Shhht…..shhhttt…….”  Tenang Min Ho mengusap pundak istrinya dan menutup sebelah telinga wanita itu agar tidak terganggu serta kembali tidur.  Dengan setengah mata terpejam, Min Ho raba nakas tempat ponselnya berdering

 

Lee Soo Hyuk

 

Begitu nama yang tampil di layar ponselnya dan segera Min Ho bangkit perlahan, lengannya yang masih jadi bantalan Soo Ji segera ia gantikan bantal sesungguhnya dan selimut yang tadinya hanya menyelimuti kaki mereka, Min Ho tarik hingga menutupi seluruh tubuh istrinya.

“Apa?”  Min Ho bertanya tanpa satupun kata sapaan sebelumnya, cukup mampu membuat lawan bicaranya memasang wajah sinis tanpa bisa ia lihat.

“Apa begini caramu menjawab telfonku?”

“Aku sedang tidur.”  Min Ho menjawab sambil menguap.  “Ada apa?”  Tanyanya lagi dan Soo Hyuk merubah panggilannya menjadi video call.

“Wah………”  Soo Hyuk mendesah panjang.  “Kau benar-benar sedang tidur?  Disana belum pagi?”  Herannya melihat wajah bengkak Min Ho seperti yang dimiliki siapapun ketika bangun tidur.

“Ya.”  Min Ho mengangguk dan mengarahkan ponselnya pada keadaan diluar kamarnya.  “Masih gelap disini, ada apa?”  Ulang Min Ho bagai berbicara pada Soo Ji sebab Soo Hyuk tidak juga menjawab pertanyaannya.

“Soo Ji juga masih tidur?”

“Tentu.”  Min Ho mengangguk lagi, kembali pria itu arahkan layar ponselnya untuk menunjukkan pada Soo Hyuk bahwa Soo Ji masih tidur sebagaimana ia yang menunjukkan keadaan malam Curacao tadi.

“Mana?”

“Apanya?”  Min Ho balik bertanya dan menghadapkan kembali layar ponsel pada dirinya.  “Apanya yang mana?”

“Soo Ji.”

“Barusan aku sudah tunjukkan padamu.”

“Aku hanya melihat rambut dan tangan.”

“Kau hanya boleh melihat itu, yang lainnya hanya aku yang boleh lihat.”

Soo Hyuk mendecak, menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya pada layar seolah mengamati Min Ho.  “Jangan katakan bahwa kau menidurinya.”

“Kalau iya, kenapa memang?”

“Hei!”

“Apa?”  Balasnya cepat dan turun dari ranjang, “Sebentar aku pakai baju.”  Ujar Min Ho membungkam ucapan Soo Hyuk yang kembali akan terlontar.  Min Ho letakkan ponselnya di atas nakas kembali dan mengambil jubah tidurnya—memakainya, baru kemudian ia ambil lagi ponselnya dan berjalan ke arah beranda kamar yang langsung mempertemukannya dengan laut malam.  “Jadi?  Ada apa kau menelfonku malam-malam begini?”

“Bagaimana keadaan disana?  Aman?  Nyaman?”

“Sempurna.”  Jawab pria itu dengan satu kata yang mampu menjawab seluruh perasaannya selama ada di Curacao.  Sekali lagi, senyum lebar Min Ho muncul diselingi mata berbinarnya jika mengingat bagaimana perubahan Soo Ji.

“Wah…. kau tampak sangat bahagia.”  Soo Hyuk menyela dengan wajah kesal yang dibuat-buat.  “Soo Ji ada kemajuan?  Kau tidak menghubungiku satu bulan ini, teganya.”

“Maaf.”  Min Ho berujar untuk kalimat terakhir Soo Hyuk.  “Setidaknya dia tidak menangis, berteriak, dan memukul lagi.  Kemajuannya, Soo Ji mulai berbicara meski hanya berbatas oppa.  Hal lain macam dia khawatir pada orang lain, masih berlaku dan butuh waktu untuknya terbiasa dengan kehadiran beberapa orang baru.”  Jelas Min Ho penuh semangat, dilihatnya Soo Ji yang tubuhnya tertutup selimut dan tawa renyah Min Ho kembali muncul.

“Oke aku ada banyak informasi dan sesuatu untukmu.”

“Apa?”  Tanya Min Ho langsung teralihkan lagi pada layar yang sudah menampilkan Soo Hyuk sedang duduk di sofa ruang kerjanya.

“Eomma-mu ada di kuil bersama halmeoni-mu, menurutku dia sedang mendoakanmu.  Appamu tetap memerintahkan beberapa orang untuk mencarimu.  Kemarin Naa He menemuiku untuk menanyakan keberadaanmu, dan—.”

“Dan?”  Min Ho menyambung tergesa—tidak sabar dengan kalimat gantung Soo Hyuk.

“Dilingkungan villaku itu ada dua rumah lagi kan?”

“Ya, lalu?”

“Kau mengenal siapa yang tinggal disana?”

“Tidak.”  Geleng Min Ho.  “Kenapa memangnya?”

“Jika ada yang bernama Choi Jin Ri diantara mereka, katakan padaku.”

“Choi Jin Ri?  Siapa?  Kenapa?  Ada apa?”

“Aku tidak bisa katakan karena aku masih selidiki ini.”

“Kau berubah profesi jadi detektif ya?”  Gelak Min Ho melihat Soo Hyuk yang sudah memalingkan wajah kesal namun kembali menoleh—tajam kali ini.  “Apa?  Apa kau lihat aku seperti itu?”  Sungut Min Ho sebab tatapan mencurigakan yang sahabatnya lempar.

“Kau tidur dengan Soo Ji?  Kau menidurinya?  Bagaimana bisa kau lakukan semua itu?  Apakah kau ikut gila?  Tidak bisakah kau menahannya seperti 2 tahun ini?”

“Hei…. mana bisa kau berkata begitu?  Normal saja aku melakukannya dengan istriku.”

“2 tahun ini tidak.”

“Karena aku tidak memiliki kesempatan dan dia bahkan tidak bisa disentuh.  Semuanya terjadi begitu saja sebulan  ini.”

“Dasar serigala.”

“Hahahahaha….. kau pikir dirimu tidak?”

“Oh ayolah aku sedang serius jangan tertawa dan membalik pertanyaan.”  Soo Hyuk meninggikan suaranya pada Min Ho yang menaikkan kedua alisnya heran masih dengan tawa tersisa.

“Ada apa denganmu sebenarnya?  Menelfonku tengah malam dan kemudian marah-marah?  Benar-benar!”

“Kau melakukannya selama satu bulan ini?”

“Astaga Lee Soo Hyuk!  Ada apa denganmu?  Kenapa kau jadi menanyakan hal-hal tidak penting macam ini padaku?!”  Min Ho menatap sahabatnya tidak percaya meski kedua sudut bibirnya tersenyum geli.  “Ada apa denganmu?”

“Tidak apa…..”  Soo Hyuk mengibaskan tangan seolah Min Ho mampu melihatnya.  “Aku hanya khawatir saja jika Soo Ji hamil.  Bayangkan dia dengan keadaan macam itu dan hamil.  Kau tidak memikirkannya?”

Tidak,

Soo Hyuk mendesah pelan pada wajah pucat Min Ho yang sudah menunjukkan jelas jawaban dari pertanyaannya.  “Berbahagialah.”  Giliran Soo Hyuk yang kali ini tertawa dan berucap begitu tiba-tiba sambil memutus sambungan telfon diantara mereka sepihak—setelah sukses menjungkir balikkan suasana hati Min Ho.

 

 

Bagaimana jika Soo Ji hamil?  Pikir Min Ho sebab ucapan Soo Hyuk tadi.  Berpikir mengenai ini saat ini, sama sekali tidak ada dalam otak Min Ho.  Kenapa dirinya tidak memikirkan ini sebelumnya?  Benar dirinya ingin Soo Ji kembali hamil, tapi dengan keadaan saat ini—bagaimana bisa?  Bodoh.  Min Ho merutuki dirinya sendiri.

 

“Oppa,”

Reflek.  Min Ho langsung menoleh ke arah sumber suara tanpa menunggu apapun.  Soo Ji—istrinya, entah sejak kapan wanita itu bangun dari tidurnya dan tiba-tiba sudah duduk di atas ranjang dengan pandangan lurus padanya.

“Oppa,”  Soo Ji kembali memanggil, rautnya pias dan wanita itu mengulurkan dua tangannya ke arah Min Ho dengan mata berkaca-kaca persis balita meminta digendong.

“Ada apa?”  Min Ho segera bangkit, berjalan ke arah istrinya dan menggapai tangan Soo Ji yang langsung memegangnya erat.

Soo Ji menggigit bibirnya dengan suara ringisan yang tidak Min Ho mengerti.  “Soo Ji-ah, ada apa?  Jangan buat aku takut dan khawatir.”  Kata Min Ho membalas pegangan tangan istrinya lebih erat dan Soo Ji menarik tangan pria itu mengikuti arahannya—perut?  “Ada apa dengan perutmu?”  Min Ho bertanya cepat—gusar.  Perkataan Soo Hyuk tadi masih memenuhi kepalanya dan sumpah, kepala pria itu banyak dipenuhi keadaan-keadaan yang sejujurnya tidak mungkin macam, Soo Ji tidak menyentuhkan tanganku ke perutnya sebab ia berkata bahwa hamil bukan?  Oh ayolah Lee Min Ho, gunakan otakmu.  Wanita normal saja tidak tahu apakah di perutnya ada bayi atau tidak tanpa alat tes kehamilan.

“Oppa,”  Soo Ji memanggil disertai ringisan tangis yang membingungkan Min Ho.  Air muka wanita itu makin pucat dan setetes air matanya keluar.  Ada apa?

“Perutmu sakit?  Atau apa?”  Min Ho menebak asal ditengah bingungnya ia dan Soo Ji mengangguk.  “Apa?”  Tanya pria itu lagi makin kencang sebab dua pertanyaan yang ia ajukan dan Soo Ji hanya mengangguk.  “Perutmu sakit?”

“Ng…”  Soo Ji mengangguk pelan dengan rengekan yang mulai terdengar. Mata berairnya memandang Min Ho seolah meminta tolong.

“Coba, sini kulihat.  Kau tidak terluka kan?”  Pria itu merebahkan kembali istrinya dan menarik selimut yang Soo Ji gunakan menutup tubuhnya.  Menekan kebingungan dan rasa takutnya sendiri.

 

Terkejut, Min Ho membulatkan matanya—lega, untuk ucapan Soo Hyuk yang kali ini tidak terjadi, dan untuk ketakutannya jika Soo Ji terluka yang nyatanya tidak.  “Hei, tamumu datang.  Ayo ke kamar mandi, aku bersihkan dan ajarkan caranya mengatasi ini.  Kali ini kau harus melihatnya dan belajar melakukannya sendiri.”

Min Ho tersenyum simpul dan mengusap rambut halus istrinya yang kembali bisa dirasakannya.  Pria itu gendong segera istrinya dan membawanya masuk dalam kamar mandi untuk kemudian melakukan apa yang tadi dikatakannya.

Min Ho tidak tahu bahwa hal macam ini selalu didahului rasa sakit sebab sebelumnya Soo Ji tidak pernah mengeluh sakit atau mungkin dirinya yang tidak tahu.  Sepanjang Soo Ji mengalami ini beberapa tahun kemarin, ia hanya membersihkannya persis seperti yang mertua perempuannya ajarkan—dan dengan paksaan sebab Soo Ji yang sudah bisa ditebak, tidak suka disentuh.

Jangan tanyakan bagaimana bisa atau jangan tanyakan apakah tidak merasa jijik.  Beberapa hal menjijikkan terasa menyenangkan sebab tidak semua orang bisa lakukan itu.

 

 

-oo—ooooooo-

11 responses to “#4 All of Us

  1. Aigoo,sehrsny minho pengertian ada 2 pria hg d sana,kkkkk,apa yg mw d bicrkn naa he?jgn2 hamil pula..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s