[Freelance] New Destiny Chapter 14

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

…. 

 

CHAPTER 14

….

Joseon, 1365

Hari sudah petang tapi bukannya duduk diam di rumah, Myungsoo justru pergi keluar dari kediamannya. Ia terus berjalan dalam gelap hingga tiba-tiba langkah kakinya berhenti di depan sebuah bangunan. Ia segera masuk ke dalam bangunan tersebut.

“Myungsoo….”

Myungsoo segera menghampiri seseorang memanggilnya. “Woohyun-ah, ada apa kau tiba-tiba mengajakku untuk bertemu? Apa terjadi sesuatu?” tanya Myungsoo yang bingung karena Woohyun tiba-tiba mengirimkan surat untuk segera bertemu malam-malam.

“Tidak terjadi sesuatu. Tetapi aku menemukan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku baru saja dari dermaga di selatan kota karena mengikuti dayang mata-mata itu. yang mengejutkan adalah dayang itu berbicara dengan seseorang yang kemarin mengikutimu, Myungsoo. Setelah itu, pria itu menaiki kapal dan pergi. Begitu pula dayang itu.

“Aku akhirnya bertanya pada salah satu petugas di dermaga itu. Sebenarnya bukan petugas. Mungkin lebih tepat jika kusebut awak kapal. Aku bertanya tentang pria itu. Namanya Heo Jung Hwan. Dia tidak tinggal di Hanyang. Tapi setiap hari pertama dalam satu minggu, Ia selalu ke Hanyang kemudian akan pergi ke desa terpencil di selatan kota Hanyang pada sore hari. Kemudian kembali lagi ke Hanyang pada hari ke tujuh dalam minggu pertama dan kembali ke kota asalnya pada malam hari.”

“Lalu?”

“Aku merasa Ia pasti melakukan sesuatu di desa itu. Desa itu begitu terpencil dan penduduknya juga jarang. Untuk apa Ia kesana dalam waktu yang lama? Tak mungkin untuk bekerja karena Hanyang jelas tempat yang lebih baik untuk mencari nafkah sedangkan Ia tidak berasal dari daerah itu,” jelas Woohyun panjang lebar.

Myungsoo terdiam. Ia juga merasa aneh dengan pria itu. Jika pria itu bertemu dengan dayang mata-mata, bukankah itu berarti pria itu adalah kaki tangan Ibu Suri Park?

“Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Putri Mahkota Jung?” tanya Myungsoo.

“Aku juga berpikir begitu. Mungkin saja pria itu tahu dimana keberadaan Putri Mahkota yang asli. Karena itu aku berpikir untuk mengikutinya besok. Dia pasti akan kembali ke Hanyang besok pagi dan akan ke desa itu pada sore harinya,” kata Woohyun menjelaskan niatnya. “Geunde… setelah aku pikir lagi, aku tidak mungkin bisa pergi. Kau tahu aku adalah pegawai istana. Mereka bisa menghukumku jika aku ketahuan membolos kerja.”

Myungsoo berpikir sejenak. Woohyun benar. Pemuda itu juga punya pekerjaan yang wajib dilakukannya. Bukankah Woohyun mau membantunya sampai sejauh ini sudah bagus?

“Kalau begitu aku yang akan pergi.”

Woohyun terkejut mendengar Myungsoo akan pergi sendiri. Myungsoo sedang diikuti. Apa tidak akan mengundang curiga? Terutama orang-orang seperti Ibu Suri Park dan Menteri Park.

“Terlalu berbahaya jika kau pergi, apalagi seorang diri,” kata Woohyun. Ia kemudian berpikir sejenak. “Aku akan meminta kenalanku untuk menemanimu.”

Myungsoo memiringkan kepalanya. “Siapa? Apa bisa dipercaya?”

“Ya. Aku jamin dia bisa dipercaya.”

“Baiklah. Kalau begitu kau beritahu dia segera jadi besok kami bisa langsung berangkat. Kita bertemu besok sore di dermaga.”

….

Suzy sedang menata rambutnya sambil memandangi cermin saat tiba-tiba Nyonya Bae memberitahukan bahwa ada sesseorang yang mencarinya. Kening gadis itu berkerut. Siapa yang mencarinya sore-sore begini?

“Apa mungkin Krystal benar-benar menyuruh seseorang menjemputku?” gumam Suzy. “Myungsoo kah?”

Tak ingin berlama-lama menguras pikirannya untuk menebak siapa seseorang yang menemuinya itu, Suzy segera keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju tempat orang itu menunggunya.

“Apa Myungsoo ikut pergi?” gumam Suzy sambil menggerakkan kakinya.

Langkah Suzy berhenti begitu Ia melihat seseorang pria tengah berdiri membelakanginya. Suzy segera mendekati pria tersebut.

Chogiyo….”

Pria tersebut menoleh ke arah Suzy. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya memberi hormat yang secara spontan diikuti oleh Suzy. Gadis itu mengernyitkan kedua alisnya bingung karena Ia tak mengenal pemuda di hadapannya.

Annyeoghasimnikka. Saya Hwang Jun Young, salah satu pengawal istana. Yang Mulia Putra Mahkota memerintahkan saya untuk menjemput Anda sesuai keinginan Yang Mulia Putri Mahkota,” jelas pria bermarga Hwang itu.

Suzy menganggukkan kepalanya mengerti. “Ah… Ne…,” balasnya. Ia kemudian berpikir, bukankah Krystal berkata akan meminta Myungsoo? Tapi kenapa Hwang Jun Young yang muncul? Kemana Myungsoo?

“Emmm… Kim Myungsoo… maksudku Pengawal Kim, apa dia tidak ikut pergi?” tanya Suzy.

Jun Young membungkukkan tubuhnya. “Jwesonghamnida. Saya kurang tahu tentang itu, Agasshi. Saya hanya melaksanakan perintah Yang Mulia Putra Mahkota untuk menjemput Anda dan membawa Anda ke istana,” ucap Jun Young.

Suzy terdiam. Jadi… apa Myungsoo ikut? Atau tidak? Entahlah. Lebih baik Ia segera bersiap agar tak membuat Krystal lama menunggunya.

“Tunggulah disini sebentar. Aku harus mengambil barangku dulu dan juga berpamitan pada keluarga Bae. Aku tak akan lama.”

Ne, algeusseumnida.”

….

Suzy melongokkan kepalanya keluar jendela. Ia merasa begitu suntuk berada di dalam tandu. Sebenarnya Ia tidak berhak memakai tandu, apalagi perjalanan ini memakan waktu cukup lama jika berangkat dari istana. Namun atas bujukan Krystal yang beralasan kalau Suzy adalah temannya, akhirnya Howon mengijinkan Suzy untuk memakai tandu.

Krystal sendiri sekarang berada di tandu yang lebih besar bersama Howon. Sepertinya Putra Mahkota itu tidak mau dipisahkan dengan Krystal yang dikiranya adalah Putri Mahkota Jung.

“Membosankan,” dengus Suzy. “Apa masih lama?” gumamnya pelan sambil menutup kembali jendela tandu.

….

Myungsoo pergi menemui Woohyun seperti yang mereka janjikan kemarin. Ia akan segera berangkat ke dermaga bersama kenalan Woohyun. Mungkin nanti sore. Tergantung apakah Heo Jung Hwan akan berangkat ke desa tersebut sesuai yang mereka duga atau mungkin sedikit lebih malam.

“Heh… padahal aku sudah terlanjur memberitahu Suzy kalau kau ikut. Dia pasti kecewa kau tidak ikut.”

Myungsoo menghentikan langkahnya saat tiba-tiba suara Krystal muncul di kepalanya. Ia kemudian menghela nafas panjang kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi Ia memikirkan Suzy. Apakah gadis itu benar-benar kecewa karena Ia tidak ikut Putra Mahkota?

Langkah kaki Myungsoo kembali berhenti setelah Ia sampai di tempat Woohyun. Ia melongokkan kepalanya untuk mencari Woohyun.

“Myungsoo! Disini!”

Myungsoo segera menghampiri Woohyun yang tengah duduk sambil memakan sesuatu. Ia mengerutkan keningnya melihat seorang wanita cantik di samping Woohyun. Myungsoo pun mendudukkan dirinya di hadapan Woohyun dengan tatapan masih pada wanita tersebut.

“Kenapa menatapnya terus? Apa dia cantik?” goda Woohyun yang membuat Myungsoo menatapnya tajam. Woohyun hanya terkekeh melihatnya.

Myungsoo kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Woohyun kemudian berbisik di telinganya. “Kau bilang akan membawa kenalanmu, kenapa malah membawa seorang gisaeng?” bisik Myungsoo.

Woohyun yang dibisiki Myungsoo kemudian menoleh ke arah wanita di sampingnya. Sedetik kemudian tawanya meledak yang membuat Myungsoo – dan wanita tersebut – kebingungan.

Gisaeng mwoya? Myungsoo, dia ini kenalan yang aku maksudkan,” kata Woohyun.

Myungsoo kembali mengalihkan perhatiannya lagi pada wanita di samping Woohyun. Jadi wanita ini yang di maksud Woohyun? Apa benar wanita ini bisa dipercaya? Dan apa tidak sebaiknya laki-laki?

“Kau, ganti bajumu dulu. Aku akan memberitahu anak ini,” kata Woohyun pada wanita tersebut kemudian kembali beralih pada Myungsoo. “Kau sepertinya salah paham.”

Myungsoo mengernyitkan keningnya bingung.

“Dia laki-laki tulen.”

Mworaguyo?”

Woohyun terkikik melihat eksspresi Myungsoo yang tidak percaya pada apa yang baru saja Ia katakan. “Namanya Lee Sungjong. Dia memang sering berpakaian seperti itu jika sedang bekerja. Yah.. walaupun dia bukan Gisaeng seperti yang aku bilang tadi, tapi dia memang bekerja di rumah bordir sebagai pemain gayageum dan berpura-pura menjadi wanita. Aku kadang kasihan melihatnya harus seperti itu. Tapi dia bilang dia harus melakukannya untuk mendapatkan uang. Bukankah dunia ini kejam?”

Myungsoo masih tercengang mendengar penuturan Woohyun.

“Ah iya aku lupa memberitahumu. Aku berhasil mendapat ijin untuk libur dari kepala koki setelah berpura-pura sakit. Apalagi aku mendengar Putra Mahkota sedang berlibur dengan Putri Mahkota jadi aku pikir kau tidak bisa pergi sedangkan aku tak mungkin membiarkan Sungjong bergerak sendirian.”

“Aku tidak ikut bersama mereka.”

“Kenapa?” tanya Woohyun. Bukankah Myungsoo pengawal pribadi Putra Mahkota?

“Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk menemukan Putri Mahkota,” jawab Myungsoo. “Lagipula kau bilang kemarin tidak bisa.”

“Ah maaf. Aku tidak tahu kepala koki akan memberiku ijin,” ucap Woohyun. “Bukankah dengan begini kau bisa pergi dengan Putra Mahkota? Mereka sudah berangkat? Kau bisa menyusulnya kan?”

Myungsoo terdiam sejenak. Apa iya perlu menyusul. “Tapi kau dan Sungjong-ssi….”

“Ei.. gwaenchanhayo. Kami pasti bisa menangkap Heo Jung Hwan itu dan membuatnya buka mulut. Kau tenang saja. Walaupun aku bekerja di dapur, tapi aku bisa beladiri. Bukannya kita sering bertarung pedang dulu? Sungjong juga. Dia sebenarnya sangat gesit. Kau belum tahu saja bagaimana pintarnya Ia berlari dan bersembunyi.”

Walaupun Woohyun sudah menjelaskan pada Myungsoo, tapi sepertinya pemuda itu masih ragu. “Apa benar tak apa?” tanya Myungsoo.

“Keselamatan Putra Mahkota lebih penting, Myungsoo.”

….

Rombongan Putra Mahkota baru saja sampai di tempat tujuan mereka. Seorang gadis keluar dari sebuah tandu yang paling kecil. Suzy berdecak kagum begitu turun dari tandunya. Ia kini berada di halaman depan sebuah bangunan yang menghadap ke arah kolam buatan. Tepat di hadapannya, ada jembatan berwarna merah melintas di atas kolam tersebut.

Krystal yang melihat Suzy sudah turun dari tandu segera menghampirinya lalu menggamitnya dan mendekat ke arah Putra Mahkota.

“Ehem.” Howon berdeham pelan. “Sebaiknya kita masuk dulu,” ucapnya yang lebih terdengar seperti perintah. Para pengawal dan dayang yang ikut serta segera mengikuti Howon termasuk Krystal dan Suzy.

Suzy melangkahkan kakinya sambil sesekali menikmati pemandangan di sekitarnya. Tempat tersebut sejuk sekali. Bangunannya mungkin tidak terlalu besar tapi halamannya cukup luas dan banyak pohon rindang.

“Krystal-ah…,” panggil Suzy sepelan mungkin supaya tak ada yang mendengarnya.

Tanpa menolehkan kepalanya, Krystal mendekatkan telinganya ke arah Suzy. “Hmm?” gumamnya pelan, menyahut panggilan gadis itu.

“Tempat apa ini?” tanya Suzy.

“Istana pribadi Yang Mulia Ratu, ibunda dari Yang Mulia Putra Mahkota. Beliau sengaja menawarkan untuk berlibur disini. Desa ini tak begitu ramai dan letak istananya juga agak di pinggir desa jadi tempatnya tenang. Tapi tenang saja, di dekat sini ada pasar. Kita bisa kesana dan berbelanja, bagaimana?” jelas Krystal.

Suzy memiringkan kepalanya sejenak. Ia kemudian menatap Krystal dan sedetik kemudian senyumnya pun mengembang. “Oke, call….” balasnya sambil berbisik.

….

Beberapa rombongan berpakaian hitam tengah melajukan  kuda mereka sangat kencang. Mereka terus melaju menyusuri hutan. Mereka bahkan tak memberi sedikitpun istirahat untuk kuda-kuda mereka yang kelelahan dan terus memacu kuda-kuda itu

….

Suzy baru saja selesai meletakkan beberapa barang yang dibawanya di kamar yang akan Ia tempati. Ia kemudian mendekati jendela dan membukanya. Senyumnya mengembang saat matanya langsung dimanjakan pemandangan kolam buatan yang sempat dikaguminya saat baru sampai tadi. Dipejamkannya kedua matanya lalu dihirupnya kuat-kuat udara disana.

“Hah…. udaranya sejuk sekali padahal ini sudah sore. Coba saja di Seoul, pasti banyak polusi,” gumamnya. Ia kemudian menutup kembali jendelanya dan melangkahkan kakinya keluar kamar.

Langkah kaki Suzy terhenti saat melihat Krystal dan Howon yang sedang melangkah ke arah yang berlawanan dengannya. Buru-buru Ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat sebelum Howon menyadarinya.

Eoh, Suzy-ah, kami baru saja berencana untuk keluar. Sepertinya akan ke pasar. Kau mau ikut?” ajak Krystal.

Suzy terdiam. Ikut? Ke pasar? Dengan mereka? Ia pasti akan canggung. Pikir Suzy. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan.

“Animnida, Yang Mulia. Jwesonghamnida, tapi saya disini saja. Saya tidak mungkin mengganggu kebersamaan Anda dengan Yang Mulia Putra Mahkota,” jawab Suzy yang langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari Krystal.

Geuraeyo? Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang sebelum hari semakin gelap,” sahut Howon tiba-tiba sebelum Krystal sempat berkata apa-apa.

Mau tak mau Krystal pun menuruti perkataan Howon. “Ne, Choha.”

Tak perlu menunggu waktu yang lama, kedua orang itu pun pergi meninggalkan Suzy. Lebih tepatnya meninggalkan istana. Dan tinggallah Suzy sendiri di sana. Walaupun ada beberapa dayang dan pengawal yang tidak menemani Putra Mahkota, tapi tetap saja Suzy tidak mengenal mereka dan tak mungkin mengobrol bersama mereka.

Suzy kemudian melangkahkan kakinya dan berjalan mengitari bangunan istana. Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah gayageum yang ‘menganggur’. Suzy pun segera mendekati gayageum itu dan menganyentuhnya.

“Apa aku boleh memainkannya?” gumam Suzy.

Suzy kemudian mengangkat gayageum yang cukup berat itu dan mencari salah satu dayang istana.

“Permisi!” ucap Suzy begitu menemukan dua dayang yang berpapasan dengannya. “Apa aku boleh memainkan gayageum ini?” tanyanya.

Dayang-dayang tersebut terlihat bingung tapi kemudian menyiyakannya karena yang mereka tahu, Suzy adalah teman Putri Mahkota mereka, jadi tidak akan apa-apa jika gadis itu memainkannya.

“Ah, gamsahamnida. Annyeonghigyeseyo.”

Setelah mengucapkan dua kalimat itu, Suzy segera melangkahkan kakinya keluar istana. Ia kemudian berjalan menuju sebuah pohon yang terlihat begitu rindang lalu meletakkan gayageum-nya di sana. Ia pun mendudukkan dirinya dan memposisikan dirinya untuk mulai memetik senar-senar gayageum.

….

Krystal dan Howon berjalan keluar dari lingkungan istana dan menuju ke pasar yang cukup lengang hari itu. Mungkin karena letaknya yang bukan di pusat kota menjadikan pasar tersebut tak seramai di Hanyang.

Choha, sebaiknya kita lewat sini atau sini?” tanya Krystal sambil menunjuk dua jalan yang ada di hadapannya.

Tanpa menjawab pertanyaan Krystal, Howon langsung menggenggam tangan gadis itu – yang membuat para dayang dan pengawal memalingkan wajah mereka – dan menariknya ke jalan yang berada di sebelah kiri.

Mereka terus berjalan meninggalkan persimpangan tersebut hingga persimpangan itu sepi dari orang-orang istana yang mengikuti Howon dan Krystal.

Tak begitu lama setelah rombongan kerajaan itu lewat, seorang pemuda memacu kudanya melewati persimpangan itu. Ia terus melajukan kudanya menuju istana pribadi ratu.

….

Suzy memainkan gayageum-nya dengan telaten. Sesekali Ia berhenti dan memejamkan matanya untuk menikmati semilir angin. Ada untungnya juga Ia tidak ikut pergi bersama Krystal dan Howon, jadi Ia bisa memainkan gayageum sekaligus menikmati udara yang sejuk di desa itu.

Suzy kembali menggerakkan jari-jemarinya di atas senar gayageum. Namun tiba-tiba Ia menghentikan permainannya. Keningnya mengernyit saat mendengar sesuatu yang aneh. Dan suara itu semakin lama terdengar semakin dekat.

“Seperti suara derap langkah kaki kuda,” gumamnya.

Masih dengan kening berkerut, Suzy memalingkan pandangannya ke arah yang di rasanya merupakan sumber dari suara derap kaki kuda itu. Salah satu alisnya terangkat saat suara itu berhenti.

“Suaranya berhenti,” gumam Suzy lagi.

Matanya menyipit saat melihat sosok pemuda yang tinggi baru saja muncul dari balik bangunan istana. Sedetik kemudian bola mata itu membulat kala menyadari siapa yang baru saja datang. Ia bahkan langsung berdiri dari duduknya saking terkejutnya.

“Kau…,” gumam Suzy begitu pemuda itu sudah berada di hadapannya.

Pemuda itu tersenyum kemudian kembali mendekati Suzy.

Annyeong, Suzy-ah!”

“Kim Myungsoo…. apa yang kau lakukan disini? Bagaimana… kau… bisa ada disini?”

….

Pepohonan yang begitu rindang dengan batang yang besar-besar membuat jalanan di hutan itu sedikit kurang menerima cahaya matahari. Namun seorang pemuda yang tengah memacu kudanya melewati hutan itu tak peduli dan terus melajukan kudanya menembus hutan. Daripada melewati jalan yang biasanya, Ia lebih memilih untuk melewati jalan tersebut karena lebih cepat sampai ke tempat tujuannya.

Kedua sudut bibirnya terangkat saat akhirnya Ia menemukan jalan keluar dari hutan yang langsung bertepatan di desa yang ditujunya. Dikendurkannya pacuannya sehingga kudanya tak berlari sekencang tadi.

Ditelusurinya jalanan di sepanjang sungai yang di jumpainya begitu keluar dari hutan. Dari kejauhan Ia bisa melihat bangunan yang terlihat lebih megah dari bangunan-bangunan di sekitarnya dengan tembok kokoh yang menjulang tinggi sebagai pelindungnya.

Pemuda itu kemudian membelokkan kudanya begitu bangunan itu semakin dekat. Ia memutar jalannya hingga akhirnya bisa menemukan pintu gerbang yang kokoh. Ada beberapa orang pengawal di depan pintu gerbang. Ia pun menghentikan kudanya dan menghampiri salah satu pengawal.

“Aku Kim Myungsoo, pengawal pribadi Putra Mahkota,” ucap Myungsoo sambil menunjukkan identitasnya. Begitu melihat identitas yang dibawa Myungsoo, pengawal itu segera memberitahukan pengawal lainnya untuk membuka gerbang.

Myungsoo kemudian membungkukkan tubuhnya. Ia kembali menaiki kudanya dan memasuki halaman bangunan tadi. Ia melajukan kudanya tak sekencang tadi hingga telinganya menangkap sebuah suara.

 “Suara gayageum,” gumam Myungsoo sambil menyunggingkan senyumnya, menyadari darimana suara itu berasal. Ia mengernyitkan keningnya saat suara itu tiba-tiba berhenti.

Myungsoo kemudian menghentikan kudanya lalu di taruhnya kudanya di tempat kuda lalu berjalan ke arah suara itu. Langkah kakinya membawanya menuju halaman belakang bangunan yang merupakan istana itu. Bibirnya mengukir senyum saat menemukan seorang gadis dengan hanbok kuning gading tengah memangku gayageum. Ia bisa melihat mata gadis itu menyipit ke arahnya.

Myungsoo tersenyum simpul saat melihat tatapan kaget dari gadis itu. Ia terus melangkahkan kakinya menghampirinya. Ia bisa melihat gadis itu berdiri dari duduknya karena masih tak percaya melihat Myungsoo.

“Kau…,” gumam gadis itu begitu Ia sampai di hadapannya.

Ia kemudian tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya mendekati gadis itu.

Annyeong, Suzy-ah!” sapa Myungsoo pada gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Bae Suzy. Ia masih bisa melihat raut terkejut gadis itu.

Setelah berdiam cukup lama, Suzy akhirnya membuka suaranya. “Kim Myungsoo…. apa yang kau lakukan disini? Bagaimana… kau… bisa ada disini?” tanya Suzy yang membuat Myungsoo terkekeh pelan.

“Tentu saja aku bisa ada disini, Suzy. Kau tidak ingat? Aku adalah Pengawal Kim,” jawab Myungsoo.

Suzy yang mendengar jawaban Myungsoo menjadi bingung. Pasalnya, Krystal dan Howon bilang Myungsoo sedang ada urusan bersama keluarganya di luar kota. Tapi kenapa pemuda itu ada disini?

“Tapi Krystal bilang… kau tidak bisa…. Kau ada urusan keluarga, kan?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Suzy. “Urusanku memang belum selesai. Tapi aku mempunyai tugas lain disini, Suzy-ah,” jawab Myungsoo. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitarnya yang terlihat sepi. Dan sekali lagi hanya ada beberapa dayang dan pengawal yang hilir mudik di sekitar istana. “Dimana Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Myungsoo sambil menoleh kembali pada Suzy.

Mendengar pertanyaan Myungsoo membuatnya teringat kalau Ia ditinggal sendiri disini sedangkan Krystal dan Howon sedang menikmati kencan mereka.

“Mereka sedang pergi jalan-jalan,” jawab Suzy sambil mendudukkan dirinya kembali dan menatap gayageum-nya.

Myungsoo yang melihat Suzy duduk kemudian merendahkan tubuhnya dan berjongkok di hadapan gadis itu. “Kau tidak ikut dengan mereka?” tanyanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Suzy. “Waeyo?” tanya Myungsoo lagi.

“Aku pasti akan canggung sekali di antara mereka. Dan lagi, Yang Mulia Putra Mahkota pasti tak akan membiarkan Krystal jauh-jauh darinya sedikitpun. Aku jadi tak bisa mengobrol dengannya. Dengan kata lain aku akan seperti kambing nanti,” jelas Suzy.

Myungsoo memiringkan kepalanya saat mendengar kata ‘kambing’. “Kenapa kau jadi kambing?” tanyanya bingung.

“Kau tak akan mengerti walaupun kujelaskan. Itu… istilah modern!”

Myungsoo menganggukkan kepalanya seolah mengerti walaupun sebenarnya Ia sama sekali tak paham tentang ‘kambing’ itu. Ia kemudian beranjak berdiri yang membuat Suzy menoleh ke arahnya.

“Kau mau kemana?” tanya Suzy.

Myungsoo tersenyum simpul. “Ayo kita jalan-jalan juga!” ajak Myungsoo.

“Bukannya kau kesini untuk mengawal Putra Mahkota?” tanya Suzy bingung karena pemuda itu justru mengajaknya jalan-jalan, bukannya menemani Howon.

“Kau ingin aku menjadi ‘kambing’?”

Heoh? Aniyo,” sahut Suzy. Ia kemudian beranjak dari duduknya lalu menepuk roknya yang sedikit kotor karena rumput. “Memangnya kita akan kemana?” tanya Suzy.

Myungsoo mengedikkan bahunya. Ia sendiri juga tidak tahu kemana mereka akan pergi. Ia hanya… secara spontan mengajak gadis itu karena raut wajahnya yang terlihat ingin jalan-jalan juga.

“Kau mengajakku jalan-jalan tapi tak tahu mau kemana? Ck… dasar!” cibir Suzy.

“Hmm.. benar. Geure, apa kau pernah naik kuda?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

Suzy menaikkan salah satu alisnya. “M..mworaguyo? kuda? Aku tidak pernah naik kuda satu kalipun. Di duniaku berasal, kami tidak mengendarai kuda kemana-mana. Kami naik bus atau taksi.”

“Kau mau mencoba naik kuda?”

Ne?”

….

Seorang pemuda tengah memperhatikan satu objek tanpa berkedip sedikitpun. Ia tak memalingkan wajahnya barang sedetik dan terus menatap objek cantik yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu – yang menjadi objek si pemuda – tengah dengan telaten memilah-milah kain cantik berwarna-warni yang di tumpuk di rak-rak kain.

Gadis itu tersenyum begitu mendapatkan kain yang menarik perhatiannya. Kain dengan warna merah dan beberapa bordiran bunga dan kupu-kupu dari benang yang akan bergemerlapan saat terkena sinar.

Choha, bukankah ini bagus?” tanya gadis itu pada pemuda tadi yang tak lain adalah Putra Mahkota Howon.

Howon yang sedaritadi menatap paras gadis itu – Krystal – mau tak mau memalingkan perhatiannya pada lembaran kain berwarna merah yang ada di tangan Krystal. Ia kemudian mendekati gadis itu dan mengambil kain tersebut.

“Kalau begitu kita beli ini,” kata Howon sambil menyerahkan kain tersebut pada kasim Hong untuk ditransaksikan dengan penjualnya.

Krystal memanyunkan bibirnya saat Howon langsung membeli kain itu tanpa persetujuannya. Padahal kan Ia hanya menanyakan pendapat Howon tentang kain itu, apakah bagus atau tidak.

“Wajahmu terlihat tidak senang. Ada apa? Bukankah kau suka kain itu?” tanya Howon pada Krystal.

Masih dengan raut kesal, Krystal menjawab pertanyaan Howon. “Seharusnya Anda menjawab pertanyaan saya dulu dan mengatakan pendapat Anda sebelum membelinya, Choha. Kenapa Anda langsung membelinya tanpa mengatakan apa-apa?” protes Krystal.

“Bukankah kau menyukainya dan mengatakan kain itu bagus? Apa alasan itu tak cukup?”

“Tapi belum tentu Anda menyukainya, Choha.”

Howon menyunggingkan senyumannya. Ia kemudian mendekati Krystal dan mengulurkan tangannya sembari mengusap pipi kiri gadis itu, membuat para orang-orang yang ada di sekitar mereka memalingkan wajah mereka.

“Aku menyukai kain itu,” ucap Howon sambil menatap Krystal yang tak mampu bergerak, seolah mata pemuda itu kini mengunci tubuhnya. Sentuhan Howon di pipinya pun tak urung membuat wajahnya terasa panas.

“Tapi….”

Krystal mencoba memalingkan pandangannya, namun tangan Howon dengan cepat merengkuh kedua pipi Krystal dan… cup. Tanpa memedulikan orang-orang di sekitar mereka, Howon menempelkan bibirnya pada bibir gadisnya. Krystal yang terkejut dengan perlakuan Howon tak bisa berbuat apa-apa, sekujur tubuhnya lemas.

Tak lama kemudian Howon menjauhkan  bibirnya. Ia tersenyum melihat Krystal yang tak bergerak sedikitpun. Masih dari jarak yang sangat dekat, Howon menatap lekat wajah Krystal tepat di matanya.

“Dan aku… juga menyukaimu. Saranghae, Putri-ku.”

Sejurus kemudian Howon kembali mendekatkan bibirnya dan menempelkannya pada bibir Krystal sambil memejamkan matanya. Melihat Howon yang memejamkan matanya membuat Krystal terhipnotis untuk mengikuti apa yang dilakukan pemuda itu. Ia mulai memejamkan matanya dan ikut menggerakkan bibirnya membalas ciuman dari Putra Mahkota itu.

….

Suzy menatap kuda besar di hadapannya dengan ragu. Kuda berwarna coklat itu terlihat sangat kuat dan… menakutkan. Suzy tidak pernah naik kuda sekalipun dan Ia tak pernah terpikir olehnya untuk dapat menaiki kuda, apalagi yang sebesar ini.

“Myungsoo… lebih baik kita jalan saj-YA!”

Suzy terkejut saat tiba-tiba Myungsoo mengangkatnya dan mendudukkannya di atas kuda. Bagaimana pemuda itu bisa mendudukkannya dengan begitu mudah? Padahal kudanya kan tinggi. Dengan kedua tangan yang menggenggam tali kuda dengan erat, Ia menengokkan kepalanya ke belakang dan mendapati Myungsoo sudah duduk manis di belakangnya.

“Kau… hampir saja kau membuatku terkena serangan jantung!” omel Suzy sambil melayangkan pukulan pada Myungsoo. Namun belum sempat pukulannya mengenai pemuda itu, tiba-tiba kuda yang ditungganginya bersama Myungsoo bergerak yang membuatnya reflek berpegangan pada baju Myungsoo.

Myungsoo yang melihat raut Suzy yang takut hanya terkekeh geli. Ia kemudian mencoba melepaskan genggaman tangan Suzy pada bajunya.

Ya! Jangan dilepaskan! Aku bisa jatuh nan…ti.”

Suzy yang sudah akan mengomeli Myungsoo kemudian memelankan suaranya saat menyadari Myungsoo hanya memindahkan tangannya pada tali kuda. Myungsoo mau tak mau menjadi geli melihat tingkah Suzy.

“Jangan lepaskan peganganmu, Suzy-ah!”

Deg.

Jantung Suzy serasa berhenti berdetak saat mendengar suara Myungsoo begitu dekat di telinganya. Ia bisa merasakan punggungnya yang menempel pada dada pemuda itu dan dari sudut matanya, Ia juga bisa melihat kepala Myungsoo yang sedikit condong ke depan di samping kanannya. Lebih tepatnya di atas pundaknya.

Mwoya… kenapa aku jadi gugup begini. Batin Suzy sambil sesekali melirik Myungsoo. Ia bahkan tak sadar kalau kuda yang ditungganginya mulai berjalan.

“Pegangan yang erat, eoh!”

Mendengar suara Myungsoo, sontak Suzy langsung mengeratkan pegangannya. Ia bisa merasakan kuda yang dinaikinya mulai berjalan cepat. Namun anehnya Ia tidak takut sama sekali. Ia justru sibuk menurunkan detak jantungnya yang begitu kencang karena pemuda di belakangnya.

“Aku akan mempercepat kudanya jadi pegangan yang erat dan jangan dilepaskan!”

NE!!!!”

….

Krystal berjalan dengan kikuk di samping Howon. Sesekali Ia melirik tangan kanannya yang digenggam pemuda itu dengan sangat erat. Dalam hati Krystal merutuk perbuatan Howon yang membuatnya malu. Bagaimana tidak malu? Di sekitar mereka ada banyak dayang dan pengawal, dan jangan lupakan juga kasim Hong. Tapi Howon tak peduli itu dan terus menciumnya. Bodohnya lagi Ia justru membalas ciuman pemuda itu. Dan sekarang Ia harus berjalan dengan tangan yang bertaut erat dengan jemari pemuda itu.

Cho..choha, apa tidak sebaiknya kita kembali ke istana sekarang? Suzy.. dia pasti kesepian berada di istana sendirian,” kata Krystal membuka pembicaraan.

Howon menolehkan kepalanya ke arah Krystal kemudian menyunggingkan senyumnya. “Kalau begitu kita pulang sekarang,” ucap Howon seraya memberitahu kasim Hong kalau mereka akan kembali ke istana.

Rombongan itu pun mulai berjalan pulang. Mereka tak menyadari ada beberapa orang berpakaian seperti orang biasa yang mengikuti dan mengamati mereka sedaritadi. Orang-orang itu dengan lincah bersembunyi di balik rumah-rumah tanpa membuat rombongan istana curiga sedikitpun.

Begitu mereka memasuki istana, orang-orang itu segera memutar arah dan kemudian menghilang.

….

Myungsoo dan Suzy duduk berdua di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Di hadapan mereka ada sebuah sungai yang airnya cukup jernih. Myungsoo sedaritadi hanya diam sambil memperhatikan Suzy yang sibuk dengan bunga-bunga yang tadi sempat dipetiknya saat dalam perjalanan ke tempat itu.

Suzy dengan telaten merangkai bunga-bunga berwarna putih itu. Senyumnya semakin mengembang saat rangkaian bunganya sudah jadi.

“Myungsoo lihat. Mahkota buatanku cantik kan?” ujar Suzy sambil memperlihatkan flower crown buatannya. Ia kemudian memakai mahkota itu di atas kepalanya, membuatnya terlihat semakin cantik.

Myungsoo yang melihat Suzy semakin terpesona melihat kecantikannya. Gadis itu kini tersenyum ke arahnya sambil menunjuk-nunjuk mahkota bunga yang terpasang apik di puncak kepalanya.

“Myungsoo ini indah-”

Suzy menghentikan kalimatnya saat tangan Myungsoo menghentikan gerakan tangannya yang sedang menunjuk mahkotanya. Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang saat melihat wajah Myungsoo yang semakin mendekat. Matanya ikut terpejam saat melihat pemuda itu mulai memejamkan matanya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Myungsoo menerpa wajahnya. Semakin dekat dan semakin dekat.

Dan….

“Apa yang kalian lakukan?”

Suzy dan Myungsoo sontak membuka mata mereka saat mendengar suara seorang kakek di dekat mereka. Mereka kemudian mengalihkan pandangan mereka pada seorang kakek yang sepertinya adalah seorang biksu.

Dengan kikuk Myungsoo dan Suzy berdiri dari duduknya. Apalagi kakek itu kini berjalan mendekati mereka.

Annyeonghasimnikka,” ucap kedua orang itu bersamaan sambil membungkukkan tubuhnya pada si kakek biksu.

….

Krystal yang baru saja sampai di istana segera berpamitan pada Howon untuk menemui Suzy. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke kamar Suzy lalu membuka pintunya setelah mengetuk beberapa kali dan tidak ada sahutan.

Keningnya berkerut saat mendapati kamar tersebut kosong.

Krystal kemudian menggerakkan kembali kakinya meninggalkan kamar Suzy. Ia melangkahkan kakinya mengelilingi istana namun tak kunjung menemukan gadis itu. Tak mungkin kan Suzy hilang begitu saja?

“Dimana Suzy?” gumamnya bertanya-tanya.

Tiba-tiba Krystal mendengar sebuah suara. Suara gayageum. Ia tersenyum senang mendengar suara itu kemudian segera melangkahkan kakinya ke belakang istana yang dirasanya merupakan sumber suara itu.

“Apa Suzy bosan makanya Ia bermain gayageum?” pikir Krystal. Ia pun mulai meneriakkan nama Suzy, berharap sahabatnya itu akan mendengarnya lalu menyahut panggilannya.

“Suzy!”

….

Myungsoo dan Suzy berdecak kagum melihat bangunan kuil di hadapan mereka. Kuil itu memang tak begitu besar, tapi bangunannya cukup bagus. Dalam pikirannya Suzy mencoba mengingat apakah kuil ini merupakan salah satu tempat wisata di masanya.

“Masuklah.”

Kakek biksu tadi mempersilahkan Suzy dan Myungsoo memasuki kuil. Mereka semakin berdecak kagum melihat bagian dalam kuil yang sangat bagus. Banyak sekali ukiran-ukiran pada dinding kuil.

“Duduklah.”

Suzy dan Myungsoo segera mendudukkan diri mereka di hadapan si kakek biksu yang kini entah tengah melakukan apa. Kakek itu sedang memejamkan matanya sambil berkomat-kamit. Apakah kakek itu sedang berdoa? Batin Suzy dan Myungsoo.

“Gadis manis, apa kau berasal dari tempat yang jauh?” tanya kakek itu tiba-tiba begitu membuka matanya.

Suzy yangmendapat pertanyaan  seperti itu tentu saja terkejut. Pasalnya Ia tidak pernah bertemu kakek ini sebelumnya tapi mengapa kakek ini bisa tahu?

“Kakek, darimana Kakek tahu kalau aku berasal dari tempat yang jauh?” tanya Suzy namun kakek tersebut tidak menjawab pertanyaan Suzy dan justru mengalihkan pandangannya pada Myungsoo.

“Anak muda, pasti semua ini berat untukmu tapi kau harus menjalaninya. Kau hanya bisa memilih, mengubah takdirmu dan menjalani kehidupanmu yang baru atau tetap pada kehidupanmu yang lama.”

Myungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti mendengar penuturan si kakek. Ia kemudian menoleh ke arah Suzy dengan pandangan bertanya tapi gadis itu hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.

Kakek itu kemudian memejamkan matanya dan kembali berkomat-kamit.

“Sebaiknya kalian pulang sebelum hari semakin sore,” kata kakek itu masih sambil memejamkan matanya.

Suzy dan Myungsoo yang masih bingung akhirnya menuruti perintah kakek itu untuk pulang dan segera kembali ke istana tempat mereka menginap karena mungkin saja Howon dan Krystal sudah kembali.

“Kakek itu aneh. Apa dia gila?” celetuk Suzy sambil berjalan menghampiri kuda Myungsoo yang masih menikmati rumput di dekat sungai.

“Entahlah,” sahut Myungsoo. Ia kemudian menarik kudanya dan menoleh ke arah Suzy. “Naiklah.”

Suzy pun segera menuruti perkataan Myungsoo dan segera menaiki kuda dengan cara yang lebih wajar daripada sebelumnya.

….

Myungsoo dan Suzy memasuki halaman istana setelah beberapa saat menempuh perjalanan dari kuil. Mereka heran saat melihat dayang-dayang dan para pengawal hilir mudik di sekitar istana. Ia kemudian melihat kasim Hong dan segera  menghampirinya bersama Suzy.

“Kasim Hong, ada apa ini?” tanya Myungsoo.

Dengan panik kasim Hong mencoba memberitahu Myungsoo. “Yang Mulia Putri Mahkota… beliau… beliau menghilang,” jawab kasim Hong.

Mworaguyo?”

Myungsoo dan Suzy yang mendengarnya pun terkejut. Putri Mahkota hilang? Lagi?

….

Di sebuah ruangan di salah satu rumah sederhana, seorang wanita tengah terbaring lemah. Jemari tangannya yang lentik tiba-tiba saja bergerak dan sejurus kemudian, matanya yang bening mulai terbuka. Ia kemudian mencoba mendudukkan tubuhnya.

Cklek.

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Dua orang pemuda yang tak dikenalnya.

“Yang Mulia Putri Mahkota! Anda sudah sadar?”

“Kalian siapa? Dimana aku?”

….

TBC

….

11 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 14

  1. Apa yg dimaksud biksu itu? apakah Myungsoo harus memilih untuk tinggal di masa Joseon atau mengikuti Suzy ke masa depan, begitu?
    Jadi ini rencana ibu suri? dia menculik putri mahkota lagi, bagaimana nasib Krystal nanti?
    Ternyata sudah ada chapter 14 nya, dan langsung ikutan baca aja, gomawo author🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s