Oh My Ghost! Chapter 9

© Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

“Bagaimana kalau kau bekerja denganku?”

Sooji mengernyitkan keningnya begitu mendengarkan ucapan Myungsoo. Apa? Bekerja? Ia bahkan belum lulus dari kuliahnya! Jadi, pekerjaan apa yang akan diberikan Myungsoo padanya? Atau jangan-jangan Myungsoo berniat menjualnya ke  luar negeri atau semacamnya? Oh Tuhan! Bae Sooji! Kembalilah ke akal sehatmu!

“Hei, kenapa diam?”

 “Eh, apa?” tanya Sooji, malah balik bertanya.

“Kutanya, bagaimana kalau kau bekerja denganku? Jangan khawatir. Aku tidak akan menjualmu ke luar negeri. Aku hanya ingin membantumu.”

Sial! Sepertinya Kim Myungsoo punya sifat cenayang. Buktinya lelaki itu bisa membaca pikirannya. “Tapi… sebagai apa?” tanyanya setelah terdiam beberapa saat.

 “Kau akan tahu besok. Ini kartu namaku,” serunya seraya menyerahkan benda persegi panjang itu. “Besok datang saja ke alamat yang ada disitu jam tujuh tepat. Ingat! Jam tujuh tepat! Jangan sampai terlambat. Kalau begitu, sampai berjumpa besok,” Myungsoo melambaikan tangannya lalu berlalu pergi.

Sedangkan Sooji hanya menatap punggung Myungsoo yang mulai menjauh. Apa yang kau pikirkan, Bae Sooji? Kenapa kau malah terjebak dengan Kim Myungsoo begini?

Seperti yang Myungsoo perintahkan, Sooji sudah berada di kantor Myungsoo pukul tujuh tepat. Salah seorang karyawan Myungsoo kemudian menyuruh gadis itu untuk menunggu Myungsoo diruangannya. Maka, disinilah ia sekarang. Di ruangan Myungsoo, sambil duduk, menunggu lelaki itu penuh harap.

Sooji mendengus kesal lalu melirik ke arah jam tangannya. Ya Tuhan! Ini sudah jam sebelas dan lelaki itu belum muncul juga? Lalu, kenapa lelaki itu menyuruhnya datang jam tujuh TEPAT semalam?! Bagus. Sekarang ia tahu maksud Myungsoo menawarinya pekerjaan. Hanya untuk membuatnya tersiksa. Baiklah. Kesabarannya sudah habis. Sooji kemudian memutuskan untuk segera pergi dari ruangan tersebut. Namun, baru saja gadis itu akan membuka pintu, Myungsoo sudah terlebih dahulu muncul dari balik pintu tersebut.

“Oh, kau sudah datang?”

Sooji sontak melotot tak percaya dengan pertanyaan Myungsoo. Pertanyaan apa itu? Tentu saja ia sudah datang! “Kim Myungsoo, kau sudah lupa kalau kau menyuruhku untuk datang TEPAT pukul tujuh?” katanya, menekan kata TEPAT.

Sooji dapat merasakan Myungsoo menahan senyumnya. Lelaki itu kemudian melirik arlojinya, seolah tak tahu bahwa sekarang sudah jam 11 lewat beberapa menit. “Oh, sudah jam sebelas ternyata.”

Apa? Hanya itu? Sooji membelalak tak percaya. Lelaki itu sudah terlambat selama 4 jam dan hanya itu yang bisa ia katakan? Dimana hati nuraninya sebenarnya?!

 Sooji tak sempat meluapkan kekesalannya pada Myungsoo karena lelaki tampan itu segera duduk di kursinya. Sooji hanya diam seraya memperhatikan Myungsoo yang kini sibuk membaca dokumen pekerjaannya. Sepertinya ia lupa bahwa Sooji berada di tempat ini. Namun, sedetik kemudian Sooji bisa melihat lelaki itu mengangkat kepalanya, menatap Sooji heran.

“Apa yang kau lakukan? Duduk!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sooji menatap lelaki itu tak percaya. Setidaknya Sooji tahu diri karena tidak duduk sebelum disuruh. Dan lelaki itu sepertinya menganggap Sooji bodoh atau apa? Tak ingin berdebat, Sooji memutuskan untuk duduk dihadapan Myungsoo.

Lelaki itu kemudian meletakkan bacaannya dan menatap Sooji lekat. “Pertama…,” katanya. “Panggil aku Tuan Kim. Bukan Myungsoo. Kedua, kau akan bekerja sebagai sekretarisku.”

Sooji tersenyum mendengar perkataan perkataan Myungsoo. Sekretaris? Baguslah. Ia sempat berpikir bahwa Myungsoo akan memperkerjakannya sebagai pembantu rumah. Setidaknya, pekerjaan sekretaris tidak terlalu berat. Bukankah begitu?

“Ketiga, gajimu adalah tanggung jawabku. Dan gajimu tergantung dengan kinerjamu. Semakin baik kau bekerja, semakin banyak kau mendapat bonus.”

Wow. Sepertinya pekerjaan Sooji kali ini tidaklah berat. Ia hanya perlu menjadi sekretaris Myungsoo dan bonus akan lansung berdatangan. Memangnya sesulit apa sih pekerjaan seorang sekretaris? Bukankah yang mereka kerjakan hanya mengatur jadwal dari sang bos? Setidaknya itu yang ia ketahui dari drama-drama yang sering ditontonnya.

Sooji mengepalkan kedua tangannya erat. Sangat erat. Jika saat itu ia memegang kaleng soda, bisa dipastikan benda itu akan meledak seketika. Pasalnya, bayangan Sooji tentang pekerjaan sekretaris yang “mudah” terpaksa buyar karena Kim Myungsoo yang menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal. Contohnya saja seperti yang dilakukan lelaki itu saat ini.

Ia menyuruh Sooji untuk membuatkan kopi. Kopi pertama, katanya kurang panas. Kopi kedua, panas sekali. Kopi ketiga, terlalu manis. Kopi keempat, tidak ada rasanya! Dan sekarang sudah kopi yang ke sepuluh, lelaki itu tetap saja mengeluh.

“Ini kopimu,” Sooji meletakkan kopi ke sebelas Myungsoo dengan kasar, membuat lelaki itu tersentak.

Namun, lelaki itu tak banyak berkomentar seperti yang biasa ia lakukan. Ia lebih memilih untuk menyeduh kopi buatan Sooji. Ia terdiam seketika, mengernyitkan keningnya lalu berkata,”Tidak buruk.”

Saat itu juga, Sooji mengehmbuskan nafasnya lega. Akhirnya penderitaannya berakhir juga. “Sekarang apa lagi yang harus kulakukan?”

“Tidak ada. Kau boleh duduk disana. Aku akan memanggilmu jika aku memerlukanmu.”

Sooji hanya diam seraya memperhatikan sofa ruangan Myungsoo yang ditunjuk lelaki itu. Sooji mengangkat kedua bahunya tak peduli. Setidaknya ia bisa beristirahat beberapa saat. Ia jadi bertanya-tanya, apa Myungsoo juga melakukan hal yang sama pada sekretarisnya yang sebelumnya?

Myungsoo menutup mulutnya seraya menguap. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa nyeri yang dirasakannya. Ia kemudian tersenyum simpul begitu melihat Sooji kini sedang berbaring, tertidur pulas di sofa. Gadis itu pasti lelah sekali. Apalagi Myungsoo tak henti-hentinya menyuruhnya. Sebetulnya, Myungsoo tidak terlalu memerlukan seorang sekretaris. Sampai saat ini, ia masih bisa mengerjakan semuanya sendiri. Namun, berhubung Sooji sangat membutuhkan pekerjaan, maka dari itu ia menawarkannya. Dan entah kenapa, Myungsoo selalu saja ingin menjahili Sooji. Rasanya menyenangkan melihat Sooji berusaha menahan amarahnya pada Myungsoo. Sebenarnya, kalau tidak ingat bahwa ia sedang menjahili Sooji, tawa Myungsoo pasti akan langsung meledak.

Myungsoo kemudian berjalan menghampiri Sooji. Ia berjongkok lalu menatap gadis itu lekat. Entah sudah ke berapa kali Myungsoo bertanya kepada dirinya sendiri. Kenapa ia merasa begitu dekat dengan Sooji? Meskipun ia baru mengenal gadis itu beberapa hari belakangan ini, ia merasa… nyaman?

Myungsoo menelan salivanya. Apa yang kau pikirkan, Kim Myungsoo?! Dan… hey! Berhenti menatap bibirnya! Myungsoo merutuki dirinya sendiri. Myungsoo menghembuskan nafasnya perlahan. Dipegangnya dadanya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada apa dengannya? Bahkan saat berkencan dengan Jung Soojung, ia tak pernah seperti ini. Setelah berdebat dengan otaknya sendiri, Myungsoo kemudian memejamkan matanya lalu mendekatkan wajahnya perlahan pada Sooji.

“Apa yang kau lakukan?”

Myungsoo sontak terjengkang ke belakang begitu mendengar suara nyaring Soojung yang entah sejak kapan sudah berada di ruangannya. Myungsoo lalu segera beranjak berdiri. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya tak suka.

“Aku? Tentu saja aku kesini untuk mengajkmu makan siang bersama. Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan dengan…” Soojung menghentikan perkataannya. Matanya membesar. Bukankah ini… “Bae Sooji? Apa yang ia lakukan disini?”

Myungsoo mengernyit heran. “Kau mengenalnya?”

“Tentu saja. Kami kuliah di universitas yang sama. Kami bahkan sempat sekelas beberapa kali.”

Sooji yang sedari tadi mendengar keributan disekitarnya mau tak mau harus terbangun. Ia sedikit terkejut mendapati Myungsoo dan Soojung kini ada dihadapannya. Ia segera beranjak bangun dari tidurnya. “Soojung-ssi…”

“Soojung-ah, karena kau sudah tau namanya, jadi… dia sekretaris baruku. Dan Bae Sooji, dia adalah mantan tunanganku,” ujar Myungsoo memperkenalkan keduanya, sambil menekankan kata “mantan”.

Oh, mantan? Yang Sooji tahu, Soojung adalah tunangan Myungsoo. Ia tak tahu bahwa hubungan keduanya sudah berakhir. Ia bahkan sempat berpikir bahwa Myungsoo kini sedang berbahagia dengan Soojung.

“Apa yang kau katakan?” Soojung tak terima. “Aku ini masih tunanganmu! Kau tidak ingat apa yang dikatakan ibumu? Dia masih mengharapkan aku menjadi menantunya.” Soojung menggandeng tangan Myungsoo.

 Ingin rasanya Sooji memuntahkan sarapannya saat itu juga melihat kelakuan centil Soojung terhadap Myungsoo. Tak ingin lebih sakit hati lagi, Sooji memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Namun, baru beberapa langkah, Myungsoo sudah terlebih dahulu menahan lengannya.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Makan siang. Kau tak lihat, sudah jam berapa ini?” Sooji mengangkat tangannya, menunjukkan arlojinya.

“Kalau begitu, makan siang denganku!”

Sooji tak sempat berkata apa-apa lagi karena Myungsoo sudah menarik lengannya, mengajaknya pergi dari tempat itu. Namun, ia masih bisa mendengar Soojung melemparkan sumpah serapahnya pada Myungsoo.

 Sooji hanya diam sambil menatap Myungsoo yang kini sibuk menyantap makan siangnya. Makannya lahap sekali. Ia seperti sudah tidak makan selama berhari-hari. Sooji jadi curiga, apa ia benar-benar pewaris tunggal dari Kim Group?

“Kenapa kau hanya menatapku? Tidak makan?”

Sooji memaksakan seulas senyumannya. “Tidak. Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang,” ujar Sooji menyindir.

Myungsoo hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli. “Kalau begitu, buatku saja.”

Sooji sontak menatap Myungsoo tak percaya. Ia sudah memakan cheeseburger jumbo-nya, dan sekarang lelaki itu juga mengambil miliknya? Tak bisa dipercaya!

“Sudah berapa hari sebenarnya kau tidak makan?” tanya gadis itu akhirnya.

Myungsoo menghentikan santappannya, lalu berpikir sejenak. “Semalam aku sarapan omurice buatan Bibi Jung. Siangnya aku makan di restaurant tempatmu berkerja. Lalu, malamnya aku makan steak. Ah, tadi pagi aku memang tak sempat sarapan,” ocehnya lalu kembali mengunyah.

Sooji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Omong-omong, siapa L?”

Sooji tertegun begitu mendengar pertanyaan Myungsoo. “L?” ulangnya, takut salah dengar.

Myungsoo mengangguk. “Bukankah kau memanggilku L saat kita pertama kali bertemu? Bahkan aku juga dipanggil begitu dengan anak SMA itu.”

“Dia…” Sooji menghentikan ucapannya.

Dia itu kau.

“Teman. Hanya teman,” Sooji tersenyum lirih.

“Dimana temanmu itu?”

“Dia sudah pergi. Pergi ke tempat yang sangat jauh. Jauh sekali.”

Kali ini giliran Myungsoo yang terdiam. Ia jadi merasa tak enak pada gadis itu. “Melihat reaksimu kemarin, sepertinya aku benar-benar mirip dengan orang itu ya. Omong-omong, aku sudah selesai. Ayo.”

Myungsoo beranjak berdiri. Namun lelaki itu tersentak begitu Sooji memeluknya dari belakang.

“Apa yang kau…”

“Sebentar. Hanya sebentar saja,” lirih gadis itu. “Berpura-puralah menjadi L-ku.”

Myungsoo tak menjawab. Ia lebih memilih untuk diam.

“Aku merindukanmu, L,” ujarnya pelan namun masih bisa didengar oleh Myungsoo.

Myungsoo bisa merasakan jasnya basah di bagian belakang. Gadis itu… menangis? Sedetik kemudian, Sooji melepaskan pelukannya lalu mengusap lembut pipinya yang kini telah basah.

“Terima kasih. Sekarang, ayo pergi. Aku akan menunggumu di mobil,” Sooji berjalan mendahului Myungsoo.

Sedangkan Myungsoo, ia masih terdiam ditempatnya. Ia lalu memegang dadanya. Lagi. Jantungnya kembali berdetak dua kali lebih cepat. Ada apa dengannya sebenarnya? Kenapa sepertinya ia nyaman sekali berada di dekat gadis itu?

TO BE CONTINUED

Sebenarnya aku pengen ngelanjutan chapter ini dari bulan Maret kemarin, cuma entah kenapa penyakit writer block-ku kambuh. Dan sebenarnya chapter ini mau aku buat panjang, tapi takutnya entar aku makin tambah lama ngepostnya.

Makasih ya buat yang masih nungguin bahkan nanyain ini kapan dilanjut *terhura deh* :’) Dan aku juga sebenarnya nggak tahu ff ini bakal dibawa kemana ceritanya .-. Tapi, pasti aku lanjut kok. Makanya jangan lupa ninggalin komentar ya ^^

Thank you *cium satu-satu*

38 responses to “Oh My Ghost! Chapter 9

  1. agak sedih gitu pas suzy meluk myungsoo dari belakang.. kasian banget suzy… myungsoo udah mulai bertanya2 terus siapa suzy pasti…
    mudah2 an myungsoo bisa inget kejjadian pas dia koma deh yah siapa tau

  2. Sedih melihat Myungsoo yg masih tidak bisa mengingat Suzy dan melihat Suzy yg harus pura2 tidak mengenal Myungsoo… tp hati tidak pernah bisa berbohong, saat mereka berdua bertemu dan bersama perasaan mereka akan terhubung…
    Semakin menarik dan semoga happy ending, gomawo author🙂

  3. Ceritanya makin seruu thor🙂
    Myung udh mulai ada tanda-tanda suka sama suzy niih. Suzy kasian banget dikerjain mulu sama myung. Apa myung bakalan inget sama suzy lagi??
    Author jjang
    Myungzy jjang

  4. Myung walo lupa ingatan jantung nya ga lupa kl suka ama sooji
    Tnggal tggu myung nya sadar kl dy suja ama sooji

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s