#5 All of Us

AOU5 copy

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Lee Min Ho, Bae Soo Ji

Support Cast : Yoon Eun Hye

Genre : Marriage Life, Romance

Rating : G

Length : Sequel | Chapter 5

God has perfect timing; never early, never late.  It takes a little patience and it takes a lot of faith but it’s worth the wait.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

.

Sulli menyebut ini waktunya

Naa He menyebut ini aneh

Min Ho menyebut ini kebetulan

Soo Hyuk menyebut ini sialan

Dan Soo Ji?  Oh… jangan tanyakan, wanita itu masih belum benar-benar mendapatkan pikirannya hingga tidak menemukan kata yang cocok.  Atau… saat semuanya telah kembali normal, iapun bingung harus menyebut ini apa.

***

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Kening Min Ho berkerut bingung dengan apron putih gading yang dikenakannya kaku.  Kedua tangan pria tinggi itu bersarungkan plastik bening yang jujur saja, tidak Min Ho ketahui apakah dirinya harus mengenakan ini atau tidak.  Namun beberapa orang—chef di televisi yang beberapa kali dilihatnya bersama Soo Ji dulu untuk menentukan menu sarapan ataupun makan malam, sering mereka menggunakan sarung tangan bening ketika memasak, dan Min Ho ikut melakukannya kini—sesuai dengan standar yang mereka kenakan meski tidak tahu apakah ini benar-benar harus dilakukan atau tidak.  Tampak lucu dan konyol, Min Ho juga dua orang dengan penampilan serupa, bahkan tidak peduli tentang bagaimana tampilannya saat ini dan melanjutkan hal bingung yang masih memenuhi diri mereka.

Satu majalah makanan yang entah Min Ho ketahui bisa Soo Ji dapatkan darimana, majalah makanan yang membuatnya berakhir didapur dengan segala hal membingungkan lainnya bersama Jun Ki dan Taesang yang masih mengantuk—sudah berada di sebelah tangannya.  Memperhatikan, membaca, mempraktekkan, dan membayangkannya bahkan—Min Ho, Taesang, dan Jun Ki.  3 pria berwajah bingung itu saling berpandangan saking benar-benar tidak tahunya mereka bagaimana cara membuat lasagna, makanan khas Itali yang Soo Ji tunjuk bersama wajah memohonnya tadi.

Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi ketika Soo Ji tiba-tiba bangun dan memukul pipi Min Ho pelan agar ikut bangun bersamanya.  Wanita itu bahkan menciumi beberapa kali wajah suaminya agar bangun dan keusilannya yang tiba-tiba muncul dengan menduduki perut Min Ho begitu saja, seolah tengah duduk diatas kuda dengan guncangan-guncangan kecil—membuat pria itu langsung bangun dengan segala keterkejutannya.

“Oppa~.”  Soo Ji memanggil dengan wajah berkerut dan pandangan yang hanya diterangi sinar rembulan dari luar.  Wanita itu, menarik majalah yang entah bagaimana berada disisinya dan langsung menunjukkannya pada Min Ho, lengkap dengan wajah sendu dan bibir mengerucutnya, mata memelas dengan kedua alis menyambung yang terangkat ujungnya, jelas wanita itu meminta makanan yang dilihatnya dalam gambar pada Min Ho apalagi sebelah tangan Soo Ji memegang perutnya menggambarkan seolah ia yang benar-benar kelaparan.

Min Ho senang, dirinya sama sekali tidak sedih melihat Soo Ji yang mulai berani meminta sesuatu padanya terlebih makanan.  Istrinya terlampau kurus meski sudah lebih berisi dibanding sebelumnya.  Meminta makanan, seolah selera makannya telah kembali sama sekali tidak menyusahkan Min Ho.

Namun masalahnya adalah, hal menyusahkannya adalah, matahari bahkan belum sedikitpun nampak ketika Soo Ji meminta lasagna padanya, rumah makan ataupun restoran belum ada yang buka, begitupun Bherta yang Min Ho hubungi tidak juga menjawab, membuatnya kebingungan bagaimana caranya menghadirkan makanan yang Soo Ji inginkan dan dengan terpaksa, dengan meminta bantuan dari dua orang asing dalam villa yang tinggal bersamanya—Min Ho membagi kebingungan dan ketidaktahuannya untuk menghadirkan satu makanan itu.

Jun Ki ataupun Taesang, mereka berdua tidak terlalu peduli sebenarnya.  Apakah Soo Ji akan makan atau tidak, apakah Soo Ji kelaparan atau tidak.  Namun Min Ho, mana bisa pria itu bersikap macam itu mengingat bahwa ini adalah permintaan pertama Soo Ji, bahwa ini adalah keinginan makan pertamanya setelah beberapa waktu panjang kemarin Soo Ji sangat sulit untuk mau memasukkan makanan dalam tubuhnya?

Rengutan wajah kurus istrinya ketika ia menolak dan menawari makanan lain, tunjukan jemari putih istrinya pada gambar lasagna yang memang tampak menggiurkan dalam majalah yang kini berada ditangannya menari dalam pandangan Min Ho, membuatnya bisa tidak bisa harus bisa menghadirkan lasagna yang membuat Soo Ji ingin makan hingga berakhir di dapur dengan keadaan macam ini sementara Soo Ji duduk manis sambil memeluk remote TV yang beberapa kali ia tekan tombolnya hingga acara TV hadapannya berubah berkali-berkali.

“Aku rasa kita bisa gunakan daging dalam kulkas.  Hanya tinggal digiling, atau kita cincang saja kan?”  Taesang bertanya pada Min Ho dengan mata kantuknya seolah meminta persetujuan dari pria yang bahkan buta akan dapur, alat masak, dan hanya mengetahui tentang bagaimana cara menghabiskan makanan tanpa tahu prosesnya itu.

“Ya, bisa.”  Angguk Min Ho tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari majalah yang sejak tadi dibacanya untuk mengetahui apa-apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana membuat lasagna.

Sungguh.  Jangankan Taesang ataupun Jun Ki yang sudah pasti tidak mungkin menyentuh dapur sebab profesi mereka, Min Ho sekalipun—yang seorang pria berkeluarga juga sama sekali belum pernah menyentuh dapur untuk memasak.  Soo Ji melakukan segala halnya sendiri, tanpa bantuannya dan wanita itu melarang keras Min Ho memasuki dapurnya—dapur adalah areaku, kau tidak boleh menyentuh apapun untuk memasak kata Soo Ji dulu, membuatnya benar-benar menurut dan bagaimana hidupnya dua tahun ini?  Min Ho menyewa seseorang yang selalu memasakkannya ataupun membeli makanan di luar.  Dapur di apartmentnya selalu bersih sebab tidak tersentuh.

Maka, mulailah 3 pria yang buta akan dapur dan cara memasak itu mengikuti langkah demi langkah cara membuat lasagna yang tertera dalam majalah.  Taesang menghaluskan daging, Min Ho memotong tomat, wortel, dan beberapa isiannya, sementara Jun Ki mengoleskan mentega pada wadah yang akan dijadikan tempat lasagna nanti, juga menyiapkan beberapa hal lainnya.  3 pria itu saling menoleh dan bertanya pada masing-masing, membaca berulang-ulang resep pada majalah dan mulai melakukan apa yang tertera disana dengan wajah bingung dan berkerut yang masih mendominasi.

 

 

Soo Ji menidurkan kepalanya pada bantalan sofa empuk yang ia duduki tanpa tahu keriuhan di area dapur sebabnya.  Mulai bosan, wanita menguap beberapa kali dengan tontonan TV yang sama sekali tidak menarik untuknya.  Suara berisik dari arah dapur yang makin terdengar kencang demi membuatkannya makanan tampak sudah tidak berguna, rasa lapar Soo Ji sudah menghilang sebab waktu terlampau lama yang mereka pakai dan Soo Ji bahkan tidak mau memikirkan itu.  Sekali lagi, wanita itu menguap dan menggosok hidungnya seolah rutinitas beruntun.  Mendecak—Soo Ji.  Bosannya sudah makin menjadi dan pikirannya bahkan tidak sampai untuk sekedar mendatangi Min Ho, meminta pria itu berhenti melakukan sesuatu pada dapur sebab laparnya telah hilang dan melakukan sesuatu hal menyenangkan lain untuk menghilangkan bosannya.

Namun bagaimanapun Soo Ji tetaplah Soo Ji, wanita itu tidak peduli atau mungkin pikirannya belum sampai kesana—mendekati Min Ho untuk berucap bahwa ia sudah tidak lapar.  Merentangkan dua tangannya selebar yang dimampu dengan bibir yang kembali menguap, pandangan terpejamnya yang sesekali tampak, munculnya sinar orange di langit gelap yang sebelumnya tidak Soo ji perhatikan, membuat Soo Ji terpaku seolah kagum.  Debur ombak pantai terdengar, menggantikan suara tidak jelas dari televisi dan sinar keemasan yang menyinari air laut hingga seolah-olah lautan dilapisi oleh emas permukaannya, makin memukaukan pandangan Soo Ji.

Acara TV tidak menarik, entah apa itu sudah Soo Ji tinggalkan segera.  Wanita itu lebih berfokus pada pemandangan dihadapannya hingga sedikit bibirnya terbuka seolah begitu terpana. Remote tv yang sejak tadi Soo Ji pegang, dilepasnya.  Tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari langit dan pantai indah diluar sana…. Soo Ji bangkit, berjalan perlahan mendekati area pantai yang dibatasi oleh pintu geser dari kaca.

Angin dingin pantai langsung menyambut Soo Ji tanpa permisi saat pintu hadapannya terbuka.  Soo Ji tersenyum senang, tampak girang—wanita itu bahkan bertepuk tangan.  Menarik nafasnya panjang, baru kali ini Soo Ji merasakan udara pagi pantai yang segar dan matanya segera menyipit sebab sinar matahari yang langsung menyapa.

Kedua tangan Soo Ji menyilang, memeluk dirinya sendiri yang tampak kedinginan dengan udara pagi ditambah angin pantai saat melanjutkan langkahnya menapaki pantai berpasir yang baru kali ini ia lihat keindahannya di pagi hari.  Andai Soo Ji tahu bahwa pemandangan pagi pantai akan semenakjubkan ini dengan warna keemasan di langit biru yang ikut menerpa warna biru laut, maka sudah pasti Soo Ji akan mendorong tubuh Min Ho yang selalu memeluknya dan menolak keinginan pria itu agar selalu melihatnya tanpa melihat arah lain.

76b8bdce2cdc8be5020c9e4a3ac61f4e

“Wahhh……..”  Soo Ji mengangakan mulutnya dengan suara terkagum-kagum yang baru pertama kali ini dikeluarkan dan wanita itu bahkan tersenyum lebar—untuk pertama kalinya.  Andai Min Ho tahu ini, andai Min Ho melihat mata berbinar istrinya, andai Min Ho melihat senyum istrinya sebab pemandangan pagi yang tidak pernah pria itu biarkan istrinya lihat, mungkin pria itu akan meloncat kegirangan dan tidak akan menahan Soo Ji saat pagi tiba agar tetap berada di ranjang bersamanya.

Soo Ji menutup mulutnya dengan kedua tangan putih menyembunyikan senyum cantiknya seolah malu pada matahari yang mengintip.  Wanita itu berlari kecil, makin mendekatkan dirinya pada bibir pantai sekedar penasaran dengan warna emas yang melapisinya, apakah itu benar-benar warna pantai di pagi hari?  Soo Ji menggeleng, tidak tahu.  Wanita itu masih bertahan dengan tawa tanpa suaranya dan ombak yang membuat kakinya basah mengagetkan Soo Ji.  Terlonjak, Soo Ji mundur beberapa langkah hingga cetakan telapak kakinya muncul pada pasir basah.

Entah bingung, atau mulai menggunakan otaknya untuk berpikir, Soo Ji tundukkan kepalanya sekedar melihat kakinya yang basah dan tidak berwarna emas seperti air dihadapannya yang setelah dilihatnya baik-baik, juga tidak berwarna emas.  Namun, Soo Ji tetap saja penasaran.  Bagaimana bisa air yang dilihatnya berwarna biru cerah ketika siang hari itu bisa berwarna emas saat ini?  Juga ombak yang mengelilinginya, bagaimana bisa air bergerak dengan bunyi sekeras itu?

Soo Ji mengusap hidung gatalnya.  Rambut halusnya ia tarik kebelakang telinga agar tidak terlalu menganggu sebab angin yang selalu berusaha menerbangkannya dan Soo Ji mulai kesal jika sudah begitu.  Memperhatikan seksama air pantai yang kembali mendekatinya, Soo Ji mundur beberapa langkah menghindari ombak yang seolah mengejarnya dan wanita itu meloncat kegirangan sebab kali ini air yang berusaha mendekatinya itu gagal.  Sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi.  Soo Ji mendekat beberapa kali dan mundur beberapa kali saat ombak datang seolah tengah bermain dan menurutnya, dirinya menang sebab hanya sekali ombak itu berhasil menyentuhnya yaitu saat pertama datang tadi.  Tawa Soo Ji terdengar begitu kencang dengan debur ombak yang menemaninya seolah ikut tertawa dan senang dengan bahagianya Soo Ji.  Matahari pagi tidak mau ketinggalan, sinarnya hampir menyembul sempurna menambah kebahagiaan Soo Ji dan entah angin dari arah mana, datang—menyapu apapun dihadapannya kencang hingga Soo Ji memejamkan mata demi melindungi pandangannya agar tidak satu pasirpun yang berhasil masuk, seperti kata Min Ho tiap kali mereka bermain di pantai dan ada angin datang tutup matamu rapat agar tidak kemasukan pasir.

Soo Ji memejamkan matanya rapat sesuai perkataan Min Ho yang terngiang dalam pendengarannya.  Barulah, saat angin kencang yang memeluknya tadi sudah tidak terasa—Soo Ji membuka lagi matanya namun—“Hmmm……?”  Soo Ji menggumam dengan wajah tertekuk bingung.  Helaian rambut panjangnya yang menari bebas didepan wajahnya tanpa ikatan langsung membuat Soo Ji merengut, tawanya hilang dan berganti sendu.  Wanita itu menyentuh rambut panjangnya yang sudah tergerai tanpa ikatan karya panjang Min Ho, angin membawa ikat rambutnya entah kemana dan sambil memegang rambutnya agar tidak menganggu,  Soo Ji telusuri daerah pantai sambil mencari ikat rambutnya yang entah kemana.

Melebarkan matanya, Soo Ji menoleh dan memperhatikan seksama untuk menemukan ikat rambut berwarna pink-nya yang ternyata—berada di tengah laut.  Mendecak kesal, sembari menginjak-injak kasar pasir halus dikakinya Soo Ji menggeleng.  Soo Ji tidak mau masuk kesana, dirinya tidak mau kalah dengan air laut yang sejak tadi sudah berhasil dikalahkannya namun dirinya sangat suka ikat rambut itu dan lebih tidak suka jika rambutnya terurai mengganggu seperti sekarang ini.

 

Woof—woof—woof

 

“Huh?!”  Soo Ji terperanjat seketika dengan mata melotot kaget mendengar suara asing yang baru kali ini didengarnya itu.  Bagai kaku, Soo Ji diam dengan posisi setengah membungkuk sisa dari pencariannya terhadap ikat rambut terlepasnya tadi dan mata jernihnya bergerak gelisah sebab takut.

 

Woof!  Woof!

 

“Oppa—.”  Getar Soo Ji dengan suara tercekat dan ketakutan menjadi yang sudah merasuki dirinya.  Tidak tahu suara apa itu, berasal darimana, dan seperti apa sosok suara nyaring yang baru kali ini didengarnya, bayangan Soo Ji—sang empunya suara adalah makhkluk menakutkan seperti yang dulu selalu mendekatinya dengan pakaian putih-putih dan membawa benda-benda dingin yang memasuki tubuhnya sakit, sosok yang berapa kalipun dirinya berkata sakit dan menangis tidak sekalipun mereka melepas benda-benda menyakitkan dari tubuhnya.  “Op—oppa hiks—hiks oppa, oppa… oppa….”  Soo Ji memanggil—lirih dan gemetar.  Air matanya sudah keluar tanpa hambatan seolah benar-benar takut dan wanita itu melihat sekitarnya khawatir tanpa sekalipun mau menggerakkan tubuh bergetarnya.  Keindahan apapun dihadapannya, Soo Ji sudah tidak peduli.  Wanita itu ingin oppa-nya, wanita itu ingin Min Ho segera menemukannya dan membawanya pergi dari tempat dimana suara asing yang makin nyaring kembali masuk dalam pendengarannya.

Menggigit bibirnya yang mulai ikut bergetar, Soo Ji memejamkan matanya rapat-rapat seolah yang dihadapinya adalah sesosok menakutkan yang selalu menyiksanya.  Perlahan, masih dengan gerak kaku dan bergetar, Soo Ji menoleh ke arah villanya yang berjarak agak jauh dari posisinya saat ini dan membuka mata pelan.  “Oppa,”  Sebut wanita itu—terisak dengan lehernya yang mulai tercekat hingga hampir tidak bisa mengeluarkan suara.

Menatap villanya, Soo Ji berharap bisa berlari kesana atau Min Ho melihatnya dan membantunya pergi dari sini.  Soo Ji menyesal, wanita itu berjanji tidak akan pergi kemanapun lagi tanpa Min Ho disampingnya, wanita itu berjanji akan menuruti segala hal yang Min Ho katakan, bahwa saat Min Ho berkata untuk dirinya tidak keluar demi menikmati pemandangan indah tadi dirinya benar-benar akan menurut dan tidak keluar.  Pemandangan indah apapun itu, sumpah demi apapun Soo Ji tidak akan mau menikmatinya lagi jika berakhir dengan keadaan macam ini dan sendiri pula.

 

Woof!  Woof!

 

Lagi.  Suara itu kembali terdengar dan Soo Ji makin menggigil takut.  Wanita itu terduduk lemas dan pasrah di pasir basah yang kemudian ombak berhasil menyentuh tubuhnya.  Soo Ji tidak peduli lagi pada permainannya bersama ombak, dirinya tidak peduli lagi jika kalah dalam permainan sebab seluruh tubuhnya telah basah kini.  dirinya, hanya ingin pergi dari sini, berharap Min Ho mendekat dan membawanya pergi.

 

Woof!  Woof!

 

“Oppa!  Min Ho oppa!  Hiks—hiks oppa!  Oppa!  Oppa!”  Teriak Soo Ji tidak tahan sambil menangis sejadinya.  Menutup wajah piasnya dengan kedua tangan, Soo Ji tidak bisa memikirkan apapun karena memang tidak pernah memikirkan apapun beberapa waktu ini.  Wanita itu memejamkan matanya erat, terlalu takut dengan apa yang akan dilihatnya bersama kepala yang mulai berdenyut sakit.  Sungguh, demi apapun Soo Ji ketakutan dan ingin segera dibawa lari dari tempat ini.

Tangis Soo Ji makin terdengar, beradu dengan ombak yang seolah kembali ingin berlomba dengan suaranya kencangnya dan tiba-tiba, saat Soo Ji masih dikuasai ketakutan—sapuan lembut pada ujung jari kakinya terasa, tampak basah dan sangat pelan bersama suara asing yang masih dirinya dengar.  Wanita itu tidak tahu apa yang menyentuhnya, wanita itu juga masih dipenuhi ketakutan meski tidak sebanyak tadi sebab mulai tersadar bahwa sapuan hangat itu tidak mungkin berasal dari orang-orang berpakaian putih sebab mereka dingin, tidak hangat.

Mengerutkan keningnya khawatir serta mata menyipit, Soo Ji mulai membuka tangannya yang menutup wajahnya sendiri penasaran dengan apa yang baru saja menyentuhnya.  Tangis Soo Ji masih terdengar meski isaknya tidak sekencang tadi, sambil merapikan rambutnya yang berantakan sebab angin—makhluk kecil berwarna coklat dengan mata bulat yang menatapnya, duduk dihadapannya entah bagaimana, kembali mengeluarkan suara yang sejak tadi membuat Soo Ji ketakutan.

f9c551b251f785fcba89fd8a5810afe0

Woof!  Woof!  Woof!

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Min Ho membuang nafas lega dengan tolehan kepala bersama senyum lebarnya pada Taesang juga Jun Ki yang menampakkan wajah lega sepertinya saat lasagna yang sejak tadi mereka buat akhirnya selesai juga.  Ketiga pria itu, setelah berjam-jam dikuasai kebingungan dan ketidak mengertian—akhirnya bisa menghirup udara dengan santai.  Entah nantinya Soo Ji akan suka hasil masakan mereka atau tidak, entah nantinya Soo Ji akan menghabiskannya atau tidak, biarlah itu menjadi cerita nanti.  Ketiganya tidak peduli pada rasanya dan sama-sama berpikir juga berharap bahwa Soo Ji tidak akan suka demi tidak meminta hal macam ini lagi, atau…. jikapun tetap meminta maka mereka berharap bahwa Soo Ji akan meminta disaat matahari nampak macam ini ataupun malam saat lampu-lampu jalanan masih menyala dengan orang-orang yang berjalan dibawahnya.

“Baiklah…..”  Min Ho bertepuk tangan puas dan melepas sarung tangannya.  Tanpa menunggu apapun lagi, pria itu berjalan untuk mengambil salah satu piring dari tumpukan yang tersusun rapi dalam lemari kecil tidak jauh dari sisinya.  Pisau yang sejak tadi Min Ho pegang seolah ahli, juga lasagna yang baru saja Jun Ki keluarkan dari dalam oven dengan asap yang masih mengepul, segera Min Ho potong dan bagi dalam beberapa bagian.  Hati-hati, Min Ho letakkan potongan-potongan lasagna ke atas piring berwarna putih bersih yang baru saja ia ambil.

“Apakah, Soo Ji-ssi mau memakannya?”  Taesang bertanya ragu, menatap miris makanan pertama yang berhasil dibuatnya dan membandingkan rupanya dengan gambar majalah yang sangat amat berbeda.  “Tampilannya menakutkan.”  Seru pria itu sambil meringis dan menatap kedua pria disampingnya berkerut.

Min Ho menatap lasagna yang satu bagiannya masih ia pegang, mengedipkan matanya beberapa kali, seolah menumbuhkan rasa percaya dirinya—pria itu tersenyum dan berkata, “Siapa yang peduli?  Yang penting rasanya enak.”

“Apa kau sudah merasakannya?”  Tanya Jun Ki cepat, merontokkan percaya diri Min Ho yang langsung tampak dari rengutan wajahnya berpadu gelengan.  Tidak dirinya, tidak Jun Ki ataupun Taesang yang sudah mencicipi lasagna buatan mereka ini dan tidak satupun dari mereka yang mau mencobanya barang sedikitpun.  “Yasudahlah, berikan saja dulu.  Soo Ji-ssi tampak kelaparan tadi.”  Jun Ki mengingatkan, menaikkan kembali kepercayaan diri Min Ho setelah dijatuhkannya begitu saja.  Lagipula, semua sudah selesai dan tidak mungkin mereka mengulangnya hanya karena tampilannya yang begitu menakutkan seperti kata Taesang ataupun kata Min Ho dan dirinya yang hanya mampu dikatakan dalam hati.

Min Ho, menatap miris makanan pertama yang berhasil dibuatnya sama seperti pandangan Taesang tadi.  Sebenarnya, jangankan memikirkan apakah Soo Ji akan mau atau tidak menyantap hasil buatan tangannya sendiri ini, dirinya sendiri bahkan—yang membuatnya, disodori berapa kalipun akan menolak keras dan lebih memilih makanan gosong.

“Ya…”  Min Ho menjawab enggan.  Masih dengan wajahnya yang kusut, pria itu berjalan ke arah ruang tengah dimana ia meninggalkan Soo Ji yang sedang menonton TV tadi.

Sedikit berteriak, Min Ho memanggil nama istrinya.  “Soo Ji-ya……. Soo Ji-ya….. makanan yang kau minta sudah aku buat.  Soo Ji-ya….  Bae—Soo—Ji—kemana?  Kenapa tidak ada?”  Ujar pria itu kebingungan dengan kepala celingukan kesana kemari sebab Soo Ji yang sudah tidak ada di sofa tempat ia tadi meninggalkannya.  Hanya tersisa remote TV di lantai seolah dibuang dan tidak berguna, juga TV yang masih menyala dengan tontonan tidak jelasnya.

Mengecek keseluruhan ruang tengah dan tidak mendapati sosok istrinya, Min Ho letakkan piring dalam genggamannya di meja dan melangkah menuju tangga—berpikir bahwa istrinya ada dalam kamar mereka di lantai dua.  Mungkin Soo Ji mengantuk dan kembali tidur, pikir Min Ho.  Namun,

m

“Kosong?  Tidak ada?  Kemana?”  Bingung Min Ho makin menjadi dengan keadaan kamarnya yang kosong dan serapi tadi ketika ia keluar, tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda bahwa Soo Ji kembali kedalam kamar dan kemudian mengacaknya seperti biasa.

Kamar mandi dalam kamar yang sering menjadi saksi bisu kebersamaan dirinya dan Soo Ji, Min Ho masuki.  Hasilnya?  Sama.  Kosong dan bersih seolah tidak tersentuh sejak dirinya keluar beberapa jam lalu.

“Soo Ji-ya……  Soo Ji-ya kau dimana?  Soo Ji-ya…………”  Teriak Min Ho mulai panik dan menyusuri satu persatu ruang dalam villa guna mencari keberadaan istrinya.  Pria itu, tidak peduli kamar Jun Ki ataupun Taesang, masuk saja tanpa permisi dengan teriakannya yang makin menjadi sebab Soo Ji tidak juga masuk dalam pandangannya.

 

Panik.  Jelas.  Pria itu sangat amat panik dengan ketidakberadaan sosok Soo Ji saat ini.  Pikiran macam appa-nya telah berhasil menemukan keberadaan dirinya dan kemudian membawa Soo Ji pergi, sudah merasuki hampir kesetiap sisi otak Min Ho yang tidak menemukan alasan lain dari menghilangnya Soo Ji dengan tiba-tiba.

 

“Ada apa?”  Taesang dan Jun Ki yang masih berada di dapur untuk membersihkan semua alat masak saling berpandangan bingung sebab teriakan menggema Min Ho bersama derap langkah kasarnya.

Taesang bergidik tidak tahu.  Menatap balik Jun Ki yang sudah diam ditempat dengan kepala menoleh kesana kemari entah mencari apa.

“Taesang-ssi, Jun Ki-ssi.  Taesang-ssi……….. Jun Ki-ssi………….”  Teriak Min Ho menggema, mengganti panggilan sebelumnya dan langkah kakinya terdengar makin jelas mendekati dua orang yang seolah menatap sekat tembok untuk menunggu kehadirannya tanpa kata jawab ataupun keinginan untuk melangkah dan membantu Min Ho agar tidak perlu berlari sekencang saat ini.  “Taesang-ssi, Jun Ki-ssi…”  Panggil Min Ho dengan nafas terputus-putus.  Berdiri dihadapan mereka berdua dengan keringat di pelipisnya, dan—dua orang yang masih belum mengerti itu berpandangan sebelum akhirnya, salah satunya mendekat.

“Ada apa?”  Taesang mendekati Min Ho dengan alis ikut menyambung seperti yang pria hadapannya tampakkan dan masih menggenggam serbet kering ditangannya.  “Kenapa wajahmu seperti itu?  Ada masalah?”

“Soo Ji tidak ada.”

“Ne?”

“Dia tidak ada!  Aku sudah periksa ke tiap ruangan dan dia tidak ada disini!” Teriak Min Ho panik dengan gurat khawatir di wajahnya, memandang Taesang tajam yang masih dikuasai kebingungan, seolah ucapan Min Ho barusan hanya candaan sebab—Soo Ji tidak mungkin kemanapun tanpa Min Ho.  Wanita itu, bahkan akan bersama Min Ho saat akan ke kamar mandi, memegang erat baju Min Ho hingga tampak akan sobek.  “Kau bercanda?”

“Kau yakin sudah memeriksa seluruh ruangan di rumah ini?”  Jun Ki bertanya serius, mengalihkan pertanyaan mengambang Taesang sebagai satu-satunya yang menganggap bahwa ini adalah candaan.  Pria itu, masih dengan apron juga serbet yang tersampir di pundaknya—mendekat hingga sama sekali tidak ada satupun hal konyol atau lucu ditubuhnya.

“Aku sudah mencarinya ke seluruh villa ini tapi dia tidak ada.”

“Mungkin dia—keluar?”  Celetuk Taesang, kembali mengambang dengan pandangan lurus pada pintu geser yang tadinya tertutup namun kini sudah terbuka lebar, dan arah pandang matanya—diikuti oleh dua orang lain disana.

Min Ho, tanpa menunggu ucapan salah satu diantara dua orang dihadapannya—segera berlari dengan meneriakkan nama Soo Ji hingga urat lehernya nampak.  Bersama ombak yang berderu, teriakan Min Ho bagai teman alam yang menambah suara sepi yang biasanya tercipta.  Pria itu jelas panik, luar biasa.  Soo Ji selalu bersamanya, Soo Ji belum terbiasa bertemu orang asing dan bagaimana jika benar dugaannya bahwa Soo Ji keluar kemudian bertemu orang asing?  Histeris?  Berteriak?  Mengamuk?  Kembali seperti dulu?  Seperti dua tahun ini?  Menyia-nyiakan usahanya selama satu bulan penuh yang mulai tampak.  Tidak.  Min Ho tidak bisa terima kenyataan itu dan satu pemikiran yang tadi memenuhinya kembali muncul.  Bagaimana jika abeoji-nya tahu dan membawa Soo Ji?  Bagaimana jika kebenarannya adalah Soo Ji bukan keluar dengan kakinya sendiri tapi diseret paksa oleh orang-orang abeoji-nya?  Bagaimana jika kebenarannya adalah begitu?  Tidak-tidak.  Min Ho segera menepis keras pikiran menakutkan macam itu dan kembali meneriakkan nama Soo Ji bersama air asin yang mulai menyentuh mata kakinya.

 

“Kita berpencar.”  Jun Ki berucap.  Menepuk pundak Taesang sebentar seolah menyadarkan rekannya itu yang masih terkejut dengan keadaan baru dihadapannya.  Segera, Jun Ki lepas apron juga serbet ditangannya yang langsung dilempar asal dan menyusul langkah Min Ho yang sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di pasir pantai, membuntuti pria itu dengan kekhawatiran bahwa Min Ho akan melakukan hal diluar batas jika melihat bagaimana selama ini perlakuannya pada Soo Ji.

 

 

“Soo Ji-ssi……………  SOO JI-SSI…………….”

“SOO JI-YA……. SOO JI-YA………………. BAE SOO JI……  SOO JI-YA………..”

“SOO JI-SSI………… SOO JI-SSI…………..”  Teriak Min Ho dan Jun Ki bersahutan dengan kedua tangan melingkar dikedua sisi bibir seolah memfokuskan teriakannya.

Baik Min Ho maupun Jun Ki, meski tidak yakin bahwa Soo Ji berada di pantai, mencari di dalam rumah juga tidak berguna dan satu-satunya tem pat yang mereka bisa pikir menjadi keberadaan Soo Ji adalah pantai meski sejauh pandangan mata—sama sekali mereka berdua tidak melihat sosok Soo Ji sedikitpun di luasnya pantai yang bisa dilihat jelas kecuali—

“Apa itu?”  Jun Ki merengut dengan bibir kering dan leher serak setelah berteriak cukup lama.  Pandangan matanya lurus, rengutan di keningnya kembali tampak dengan memperhatikan satu benda yang lumayan aneh mengambang di atas air laut, satu benda yang tampak tidak asing dan Min Ho—kembali, mengikuti arah pandang salah satu dari dua bodyguard yang selama ini selalu menjaganya bersama Soo Ji.  “Min Ho-ssi, bukankah itu—.”

“Tidak mungkin…”  Sahut Min Ho lemas dengan mata memandang tanpa berkedip, pada benda yang ia kenal betul sebab hampir tiap hari disentuhnya untuk mengikat rambut Soo Ji.  Benda itu, yang beberapa kali dipegangnya entah untuk mengikat rambut istrinya, atau untuk belajar bagaimana caranya mengikat rambut Soo Ji tanpa sakit dan berantakan mengambang bebas di tengah laut tanpa sosok istrinya yang terlihat dan pria itu akan gila, melebihi Soo Ji andai pukulan macam kematian memeluknya.

Min Ho tidak akan bisa hidup tanpa Soo Ji, itu yang dikatakannya saat Soo Hyun dengan wajah menyebalkannya datang bersama surat perceraian.  Min Ho tidak bisa hidup tanpa Soo Ji, dan itu yang membuatnya mau menikahi Naa He.  Min Ho, pria itu sudah kehilangan salah satu bagian dari dirinya dan tidak akan sanggup jika harus kehilangan bagian dari dirinya lagi.

Soo Ji bukan hanya sekedar cintanya, Soo Ji bukan hanya sekedar wanita yang dicintainya sebab cantik, pandai, dan sempurna—jauh sebelum keadaan menyedihkan ini datang.  Soo Ji bukan hanya ibu dari anak-anaknya, ataupun teman hidupnya.  Soo Ji adalah pahlawannya, itu yang Min Ho katakan saat bibir merah Soo Ji mengeluarkan kata-kata tidak terduga untuk menyumpal mulut pedas Nyonya Lee yang sebenarnya.  Soo Ji adalah idolanya, itu yang Min Ho katakan saat dengan tangan ringannya—Soo Ji membantu beberapa orang tanpa memikirkan dirinya sendiri.  Soo Ji adalah tawanya, itu yang Min Ho katakan saat melihat gelak tawa Soo Ji yang membuatnya terpana.  Soo Ji dan dirinya, cinta tidak datang begitu saja dalam hati mereka layaknya drama layar kaca meskipun kebersamaan tidak bisa dipisahkan dari drama yang selalu diisi tangis, kesedihan, kekonyolan, kelucuan, bahkan keusilan satu sama lain.

Semua hal ada prosesnya, begitupun cinta Min Ho yang tidak begitu saja muncul.  Cinta tidak datang begitu saja, begitupun cinta Soo Ji yang selalu ber—alaskan.

Min Ho bilang, Soo Ji terlalu banyak memberikannya sesuatu hal yang belum pernah dirasakannya.  Keluarga, tawa, bahagia, anak.  Hal-hal yang tampak biasa namun begitu sulit dicapai dan Min Ho dapatkan itu saat bersama Soo Ji.  Seperti katanya dulu, aku pasti akan bahagia bersamanya kata dan kalimat yang membuatnya mengutarakan perasaannya pada wanita berambut indah itu, kata dan kalimat yang Min Ho jadikan alasan untuk melamar Soo Ji dengan sedikit bantuan Soo Hyuk juga Soo Jung hingga wanita bermata cantik itu, menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Soo Hyun demi menikah dengannya.

Kehilangan putrinya, Min Ho terpukul dan sedih.  Dirinya mencintai putrinya sebagaimana dirinya mencintai Soo Ji, bahkan lebih—sebab pada diri putrinya, ada bagian antara dirinya dan Soo Ji yang berpadu, dan semua itu Soo Ji yang mewujudkannya.  Asal ada Soo Ji, asal Soo Ji bersamanya—Min Ho kembali berucap, tidak masalah asal ada Soo Ji.  Asal ada Soo Ji, aku masih memiliki keluarga utuh, kebahagiaan utuh, tawa utuh, dan munculnya anak.

 

“MIN HO-SSI!  MIN HO-SSI!”  Jun Ki berteriak sekencang yang dirinya tahu hingga lehernya serasa hampir putus kala Min Ho langsung berlari ketengah lautan dan sudah hampir mencapai batas ambang gila mendapati ikat rambut istrinya bagai berenang bebas diatas air asin.  “MIN HO-SSI!  MIN HO-SSI SADARLAH!”  Teriak Jun Ki berusaha menahan pria itu untuk tidak semakin ketengah lautan dan mengembalikan kesadarannya.

Namun siapapun tahu, saat seseorang sudah menggila, saat seseorang sudah terdesak—kelemahannya berubah menjadi kekuatan dan Jun Ki yang tiap harinya latihan angkat beban seolah tidak berdaya hingga beberapa kali terlempar begitu saja ke sisi lain dan bertemu dengan air asin saat Min Ho melepas paksa pegangannya dan mendorong tubuh berotot itu mudah.  “MIN HO-SSI!”

 

 

 

“HOOOII……………. MIN HO-SSI……….. JUN KI-YA……….. OIIIIII……….”  Taesang, tepat di bibir pantai dengan nafas terputusnya berteriak pada mereka berdua yang berada di tengah laut dengan kedua tangan melambai dan tubuh meloncat beberapa kali.  “AKU SUDAH MENEMUKAN SOO JI-SSI…… MIN HO-SSI…… AKU SUDAH TEMUKAN SOO JI-SSI………….” Teriaknya makin kencang, berusaha sekeras mungkin agar Min Ho dan Jun Ki yang entah sedang melakukan apa ditengah laut mendengarnya dan segera beranjak dari sana.  “MIN HO-SSI………. AKU SUDAH TEMUKAN SOO JI-SSI…………..”

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Soo Ji terisak, kedua kaki wanita itu penuh pasir yang sudah mengering dan tubuhnya masih bergetar sebagaimana tadi ketika beberapa orang mulai datang dan mengerubunginya dengan pandangan aneh.  Menutup kedua telinganya dengan wajah tertunduk, Soo Ji duduk bersandarkan tembok kayu yang baru kali ini dilihatnya dan kumpulan orang yang makin banyak disekelilingnya—bahkan tidak bisa membuatnya berteriak ataupun mengeluarkan tangis yang makin ditahan sebab takut mereka akan makin mengerubunginya.

Soo Ji ingin ditinggalkan, Soo Ji ingin diabaikan, oleh mereka semua yang mulai mengatakan kata-kata aneh dan beberapa mulai menyentuhnya.  “Aaaaaaaa………………”  Teriaknya kencang sambil memukul beberapa tangan yang tadi menyentuhnya bahkan mendorong seorang wanita cantik yang duduk dihadapannya keras.  Menatap mereka dengan tangis makin menjadi, Soo Ji memeluk dirinya sendiri seolah berlindung.  “Oppa, Min Ho oppa, oppa—.”  Getar Soo Ji memanggil orang yang diinginkannya muncul dan segera mengeluarkannya dari keadaan menakutkan ini.  “Oppa—,”

“SOO JI-YA……….”

“Oppa, oppa… oppa… oppa………”

“Astaga Bae Soo Ji….”  Lenguh Min Ho lelah mendapati Soo Ji yang sudah duduk terpekur dengan air mata menggenang dan itu cukup untuk menghilangkan emosi juga kesalnya sebab Soo Ji menghilang tiba-tiba.  Marahnya bahkan, yang sudah Min Ho timbun bersama khawatirnya langsung lenyap seketika mendapati keadaan Soo Ji macam ini.

“Oppa….. Min Ho oppa…”  Sebut Soo Ji tercekat bagai mengadu dengan bibir merahnya dan mata berair mengulurkan dua tangannya pada pria yang datang dengan wajah merah padam dan tubuh basahnya.  “Oppa, Min Ho oppa… hiks—.”

“Bagaimana kau bisa ada disini?”  Tanya Min Ho pelan dengan perasaan lega dan menggapai dua tangan terulur Soo Ji kemudian menggendongnya bagai appa menggendong anaknya.

Mengalungkan kedua tangannya erat pada leher Min Ho, Soo Ji menenggelamkan wajahnya seolah bersembunyi pada lekukan leher suaminya dari orang-orang yang beberapa sudah berjalan pergi setelah Jun Ki dan Taesang—entah mengatakan apa pada mereka.  Masih menangis, bahkan makin kencang—Min Ho usap perlahan punggung kurus istrinya dengan kata-kata menenangkan lain yang sebenarnya, dirinyapun butuh kata penenang setelah hampir jantungan tadi.

“Kita pulang ya?”  Usul Min Ho.  Bertanya dengan lembut dan Soo Ji mengangguk cepat tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi kecuali tangis yang makin menjadi dan pelukan yang makin mengerat tidak mau lepas.  “Ayo….”  Berdiri perlahan, masih dengan Soo Ji yang berada dalam gendongannya, pria itu mulai melangkah pelan—kembali menyusuri pantai dengan Soo Ji yang berada dalam gendongannya.  “Maaf aku datang terlalu lama, kau pasti sudah menunggu.”  Mengangguk—Soo Ji.  Tangisnya yang memelan perlahan, dengan tengokan mata mengintip dari dada Min Ho yang sejak tadi dijadikannya perisai—menatap lurus tempatnya tadi ia berada dengan kumpulan orang menakutkan, membuat matanya kembali berair dan Soo Ji menenggelamkan lagi wajahnya pada lekukan leher Min Ho seolah tidak mau melihat tempat itu lagi.

6ce940c859fb6164e7428eeab596ae30

Berjalan—mereka.  Menyusuri pantai yang masih dipenuhi Burung Camar, ombak lembut dengan buih yang menyentuh, angin semilir, dan matahari yang sudah muncul sempurna.  Mengantar keduanya kembali ke villa yang selama ini dijadikan tempat berlindung.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Selesai mengganti baju kotor Soo Ji, juga baju miliknya sendiri—masih dengan keadaan dirinya menggendong Soo Ji sebab wanita itu kembali pada kebiasaannya menunduk dan berwajah sendu tanpa satupun kata-kata lagi bahkan oppa, Min Ho bawa Soo Ji ke ruang tengah dimana sepiring lasagna yang tadi diletakkannya diatas meja untuk Soo Ji, kini sudah dingin.

“Soo Ji-ya….”  Panggil Min Ho, mendudukkan Soo Ji dalam pangkuannya namun yang dipanggilnya tetap menunduk, tidak menoleh sebagaimana akhir-akhir ini yang langsung menoleh dengan mata berbinar tiap dipanggil.  “Lihat aku.  Soo Ji-ya…”

“Ngh……..”  Pekiknya menyingkirkan tangan Min Ho yang menyentuh wajahnya agar menoleh seperti keinginannya.  Soo Ji, dengan rambut panjangnya yang belum dipotong entah untuk berapa lama itu—kembali tertunduk hingga wajahnya tertutup helai demi helai rambut panjang dan lebatnya.

Hening, Min Ho bahkan tidak tahu harus bagaimana atau harus memulai semuanya darimana.  Riak sedih dimata Soo Ji masih tersisa begitupun keengganannya untuk bicara.  “Kau marah padaku?”  Tanya Min Ho, sepelan dan sesabar biasanya.  “Kau marah karena aku datang menjemputmu terlalu lama?”

Mungkin begitu.  Mungkin tebakan Min Ho kali ini benar dengan mata berair Soo Ji dan kepalanya yang makin tertunduk tidak mau melihatnya.  Wanita itu memang melihat villa tempatnya tinggal bersama Min Ho dari kejauhan sejak lolongan anjing yang untuk pertama kalinya didengar dengan harapan bahwa Min Ho akan muncul.  Begitupun saat anjing kecil dan lucu yang mulai menjadi teman bermainnya hingga membawa ia kemana dan kemudian berhadapan dengan banyak orang, penampakan villa yang bahkan sudah tidak lagi terlihat mengiris-iris hati Soo Ji dan berharap bahwa kali ini Min Ho akan benar-benar datang.  Benar Min Ho datang, namun berapa lama Soo Ji menunggu dan berharap, hanya wanita itu seorang yang tahu.

“Mianhe.”  Min Ho bersuara, sebagaimana ia yang memang hanya satu-satunya orang yang bersuara dalam dialog antara mereka berdua.  “Aku janji tidak akan lama menjemputmu lagi.  Aku janji tidak akan terlambat seperti tadi.  Soo Ji-ya…. lihat aku, bukankah kita suami istri?  Aku tidak pernah bohong padamu.  Aku janji, hari seperti ini tidak akan pernah datang lagi.”

“Be—nar—kah?”  Sebut Soo Ji hampir tidak terdengar dengan kepala menoleh kaku sementara Min Ho membulatkan mata terkejut dengan kata yang baru saja Soo Ji ucapkan dan dengan jarak mereka yang sedekat ini—bohong jika dirinya tidak mendengar.  Mengejutkan sekaligus membuat Min Ho ingin berloncat-loncat bahagia andai tidak ingat bahwa wanita yang kini tengah melihatnya dengan pandangan memelas masih berada dalam pangkuannya, Min Ho hanya bisa tunjukkan bahagianya dengan tawa lebar yang langsung tampak.

“Eo—Eo…… tentu saja..”  Ucap Min Ho segera dengan penuh semangat hingga terdengar bagai berteriak.  Pria itu, tertawa sepuasanya hingga gigi putih dan rapinya tampak.  Mencium kening Soo Ji beberapa kali—Min Ho meluapkan bahagianya.  “Katakan sekali lagi.  Ucapkan satu kata lagi.  Bicara padaku seperti tadi, ayolah…. Soo Ji-ya…”

“Lapar.”

“Lapar?  Kau lapar?  Aigo…….. uri Soo Ji lapar…..”  Teriak Min Ho masih meluapkan bahagianya dan Soo Ji tergelak pelan dengan tangan menutup mulutnya seolah malu dengan sikap Min Ho didepannya.  Wanita itu, tidak pernah melihat binar bahagia macam ini dimata suaminya.  Wanita itu, selama yang dirinya sadar juga tidak pernah melihat teriakan yang diselingi tawa senang suaminya.

Min Ho tertawa, melihat Soo Ji berkali-kali dengan bahagia membuncah dalam dadanya setelah dua kata baru yang istrinya keluarkan.  Entah kini ia harus bersyukur atau tidak dengan menghilangnya Soo Ji tadi, entah keadaan tadi adalah membuat istrinya mulai berbicara atau tidak, namun Min Ho akan menandai hari ini sebagai salah satu hari bahagianya.

“Ini, kau minta ini tadi.  Masih mau makan ini?”  Tanya Min Ho dengan sepiring lasagna di tangannya dan Soo Ji mengangguk pelan.  “Tidak-tidak.  Aku tidak mau anggukan.  Katakan satu kalimat, ne oppa, aku mau.  Coba katakan seperti itu.”

“Ng…..”  Soo Ji merunduk.  Dua alisnya bersambung dan menggeleng pelan menolak keinginan Min Ho yang memintanya kembali berkata-kata.  Wanita itu, entah bagaimana mengerutkan keningnya dan melihat Min Ho enggan.

“Baiklah-baiklah.  Jangan katakan apapun lagi dan makan ini.”  Ujar pria itu tidak mau menghancurkan suasana menyenangkan yang sudah tercipta dan satu sendok lasagna, ia arahkan pada bibir terkatup Soo Ji.  “Buka mulutmu, aaaa…….”  Perintah Min Ho dengan mulut ikut terbuka dan Soo Ji kembali menarik sebelah ujung bibirnya melihat tingkah konyol Min Ho.  Membuka mulutnya sebagaimana yang Min Ho perintahkan, wanita itu segera mengunyah lasagna buatan suaminya dengan cepat.  Entah Soo Ji memang kelaparan hingga makan dengan cepat, atau memang lasagna buatan suaminya dan dua orang pria lain disana memang enak hingga wanita itu terus membuka mulutnya tiap Min Ho memberikan padanya tanpa satupun protes.  Membuat dua pria yang sejak tadi memperhatikan mereka, mengerutkan keningnya.

“Mungkin lasagna buatan kita enak.”

“Mungkin.”  Angguk Jun Ki masih dengan kedua tangan terlipat kedepan memperhatikan pasangan suami istri didepannya yang saling berbagi bahagia dan Taesang, pria berkulit putih bagai susu itu melangkah menuju dapur untuk memakan lasagna tersisa saking penasarannya dan Jun Ki menoleh.  “Bagaimana?”

“Tidak buruk kok.  Mau?”

“Tidak.  Terimakasih.”  Tolak Jun Ki segera dengan mata memicing horror pada potongan lasagna ditangan Taesang.  Mengerikan.

 

 

Knock—knock—knock  “Permisi….”

Jun Ki, Taesang, Min Ho dan Soo Ji bahkan.  Empat orang itu saling menegang dengan mata melihat satu sama lain gusar kecuali Soo Ji yang sudah memeluk Min Ho kembali dengan wajah disembunyikan dalam dada suaminya.

“Siapa?”  Tanya Taesang tanpa suara pada Jun Ki yang langsung menggeleng tidak tahu dan mengarahkan tangannya kedepan bibir dengan mata mengarah pada Min Ho agar diam dan tidak bersuara.

Mereka berdua, Jun Ki dan Taesang bersiaga.  Sudah hampir dua bulan keduanya tinggal disini dan tidak pernah ada seorangpun yang mengetuk pintu rumah, juga kedatangan Bherta yang hingga saat ini belum muncul padahal sudah ditelfon tadi—menimbulkan isi kepala penuh curiga akan sesuatu hal yang tidak diinginkan.

 

Knock—knock  “Permisi, ada orang?”  Tanya suara jernih itu lagi bersama sosoknya yang mulai Jun Ki lihat tengah melihat kesana kemari seolah mencari pemilik rumah. “Permisi….”

00081413

“Ada orang?”

 

“Ya.”  Sahut Jun Ki cepat sebelum wanita yang dilihatnya tengah memegang nampan berisi kue itu melangkah masuk.  “Siapa?”  Tanya Jun Ki mendekat dengan mata penuh selidik sementara Taesang berjaga didepan tubuh Min Ho dan Soo Ji.  “Ada perlu apa?”

“Oh.  Ini—”  Ucap wanita itu menyodorkan nampan penuh kuenya pada Jun Ki yang tentu langsung membuatnya heran.

“Untuk?”

“Aku baru kemari semalam.  Rumahku disebelah rumah ini dan tadi, aku pikir anjingku sudah melakukan hal buruk pada salah satu penghuni rumah ini jadi, kue ini sebagai permintaan maafku.”  Menaikkan sebelah alisnya—Jun Ki melirik bergantian kue yang bahkan tidak diterimanya dengan tangan terbuka itu juga wanita dihadapannya yang bahkan tidak pernah ia lihat.  “Namaku Yoon Eun Hye.  Kau juga orang Korea kan?  Aku tadi melihatmu berbicara Korea bersama teman-temanmu.”  Sambungnya masih seriang tadi dan kerutan di kening Jun Ki mulai menghilang sedikit demi sedikit, bersama tangannya yang mengambil perlahan nampan berisi kue di tangan Eun Hye.

“Ya, aku Han Jun Ki.  Terimakasih kuenya.”

“Oh iya.”  Seru Eun Hye lagi, menghentikan langkah Jun Ki saat akan berbalik.  “Nanti malam aku mengundangmu dan semua di rumah ini untuk makan bersama.  Bisakah?  Untuk mengakrabkan hubungan tetangga.”

Jun Ki berpikir.  Sebenarnya ia tidak masalah dengan datang makan malam di rumah seseorang jika orang itu mengundangnya.  Tapi dengan keadaan Soo Ji yang seperti itu, dan dirinya juga bukan tuan rumah disini, mana bisa dirinya langsung mengangguk?

“Ya, akan kami usahakan jika bisa.”

“Baguslah.  Aku membuat banyak masakan.”  Seru Eun Hye senang sebelum akhirnya mengucap permisi dan pergi dari hadapan Jun Ki yang masih mematung dengan nampan penuh kue ditangannya.

“Siapa?”  Tanya Taesang segera setelah Eun Hye pergi.  “Itu kue apa?”

“Ini kue darinya karena tadi anjingnya membuat Soo Ji takut atau entahlah… aku tidak mengerti.  Dia tetangga sebelah.  Baru kemari semalam dan mengundang kita makan malam di rumahnya.”

“Jawabanmu?”

“Aku bilang padanya akan aku usahakan.”  Jujur Jun Ki sebagaimana yang tadi dirinya katakan.  Menengok pada Min Ho yang sudah pasti mendengar semua percakapan barusan, Jun Ki bertanya—.  “Kau akan datang, Min Ho-ssi?”

“Bagaimana?  Kau pergi Soo Ji-ya?”  Bagai melempar-lempar kata, Jun Ki bertanya pada Min Ho dan bukannya menjawab, Min Ho justru bertanya pada Soo Ji yang memang pusat dari banyak keputusan saat ini.  “Kau mau pergi ke rumah tetangga?”

Menggaruk kepalanya, Soo Ji melihat Min Ho sambil mengerutkan keningnya.  Wanita itu tidak mengatakan apapun, tidak mengangguk juga tidak menggeleng.  Alih-alih memberikan jawaban, Soo Ji justru lebih memilih mengalungkan tangannya kembali ke leher Min Ho dan menempelkan bibirnya pada bibir suaminya hingga kembali memerahkan wajah Taesang dan Jun Ki yang langsung berpaling dan membalik tubuhnya dengan gerutuan yang kembali tampak dari bibir komat kamit mereka tanpa suara.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Dress bunga berbahan ringan sepanjang mata kaki yang dipadukan dengan cardigan coklat hangat, hasil pilihan Bherta—adalah apa yang saat ini Soo Ji kenakan.  Jika biasanya rambut wanita itu tergerai bebas atau diikat sebisa Min Ho, maka kali ini tampak lebih rapi dengan sanggul hasil buatan Bherta.

Memenuhi undangan Eun Hye siang tadi, Min Ho, Soo Ji, Jun Ki, dan Taesang sudah bersiap.  Keempatnya, dengan pakaian santainya masing-masing berjalan beriringan dengan Min Ho dan Soo Ji yang berjalan paling belakang sebab langkah enggan Soo Ji dengan dua tangannya yang menggandeng Min Ho erat.  Wanita itu, beberapa kali menatap Min Ho seolah memelas agar tidak kesana namun tidak satupun kata atau penolakan yang ditunjukkan dan berakhir dengan rangkulan tangan Min Ho hingga wanita itu bisa memeluk suaminya sambil berjalan—memenuhi ruang nafasnya dengan aroma Min Ho.

“Akhirnya kalian datang juga…..”  Pekikan Eun Hye yang menyambut mereka dipintu masuk rumahnya menyapa telinga masing-masing orang yang masih berjalan di atas pasir itu.  Dengan seorang anak kecil setinggi pinggangnya, dan anjing yang tadi menarik perhatian Soo Ji bahkan hingga saat ini, Eun Hye berjalan mendekat.  “Aku pikir kalian tidak akan datang dan membuat makananku terbuang percuma.”  Ucapnya seramah tadi dengan senyum terkembang dan Jun Ki, satu-satunya orang yang pernah berbicara dengan Eun Hye membalas senyumnya sambil memperkenalkan orang-orang disisinya.

“Ini temanku Kim Taesang, pria dibelakangku adalah Lee Min Ho, dan wanita disampingnya adalah Bae Soo Ji, istrinya.”

“A~.”  Eun Hye mengangguk mengerti beberapa kali tanpa mengurangi senyumnya.  Menyentuh puncuk kepala anak kecil disampingnya, Eun Hye seolah ikut mengenalkan keluarganya.  “Ini anakku, Kim Hee Joon dan suami—ku… appa ada dimana Hee Joon-ah?  Bukankah tadi disini?”  Tanya Eun Hye dipenuhi kebingungan sama seperti Min Ho pagi tadi saat menemukan pasangannya menghilang.

Menoleh kesana kemari, Eun Hye mengedarkan pandangannya kesegala arah dan—  “Itu…. itu appa, eomma.”  Pekik Hee Joon nyaring dengan sebelah tangan menunjuk satu sosok pria tampan dengan senyum mempesonanya yang tengah berjalan ke arah mereka dengan seorang gadis asing yang hampir semua orang disana belum pernah lihat hingga Eun Hye—menampakkan wajah bingungnya.

“Dia siapa Jaejoong-ah?”  Tanya Eun Hye melangkah beberapa kali pada suaminya yang sudah hampir mencapai tempatnya, mengarahkan pandangannya pada gadis tinggi berambut panjang disebelah suaminya yang sudah melempar senyum lebar pada semua orang disana.

“Kenalkan, dia adalah Sulli.  Salah satu tetangga kita juga.  Aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika sedang mencari karang tadi.”

 

 

 

“Dilingkungan villaku itu ada dua rumah lagi kan?  Jika ada yang bernama Choi Jin Ri diantara mereka, katakan padaku.”

Ucapan Soo Hyuk beberapa waktu lalu, mengalun tiba-tiba dalam pendengaran Min Ho.  Disadarinya, tidak ada satupun nama Choi Jin Ri seperti yang Soo Hyuk katakan padanya sebagai nama dari seseorang yang tidak boleh dan tidak ingin ditemuinya meski sebenarnya hingga kini Min Ho tidak mengerti dengan maksud Soo Hyuk.  Mendengar nama itu saja bahkan baru ketika Soo Hyuk menyebutnya.  Lalu bagaimana bisa dirinya tidak ingin bertemu dengan pemilik nama Choi Jin Ri itu?

“Oppa—.”  Panggil Soo Ji setengah berbisik, mendongakkan wajahnya pada Min Ho yang langsung mengangguk dan tersenyum.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”  Sahut Soo Ji pelan dan makin mengeratkan pelukannya bersama dinginnya angin laut yang kembali menyapa, menarik senyum Min Ho makin lebar dengan tanggapan bagus yang kembali Soo Ji berikan padanya—baru saja.

Mengusap puncuk kepala Soo Ji seolah hanya ada dirinya dan Soo Ji ditempatnya berada, satu kecupan singkat Min Ho sampai untuk kesekian kalinya pada kening Soo Ji yang menarik kedua ujung bibir wanita itu bagai ia telah kembali menjadi dirinya yang dulu tanpa satupun cacat dalam pikirannya.

 

 

20 responses to “#5 All of Us

  1. Memang kenapa dgn Choi jin ri?kenapa soo hyuk mecari orng itu?bukankah sulli adalah choi jin ri…apa dia berbahaya?
    Kemajuan yg cukup besar pada suzy trjadi hari ini,,,setidaknya suzy telah mampu mngucapkan kata selain oppa.next partnya ditunggu author fighting

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s