[Freelance] A Game Chapter 2: Flight Kiss

Title : A Game  | Author : Dali&Picasso | Genre :  Angst, Romance | Rating : G | Main Cast :  Bae Suzy & Kim Myungsoo

When We Meet Again

.

 

(Myungsoo’s)

            Aku menatap bayangan dirinya disana, berdiri mematung menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti. Aku yang merindukannya yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia sudah berada dihadapanku. Aku tidak yakin apakah ini adalah sebuah karma yang memang pantas kudapatkan ataukah ini adalah bagian dari sebuah permainan hidup yang tidak akan pernah ku menangkan? Apakah seharusnya aku senang atau bahkan mengutuki takdir karena setelah dua bulan berlalu, setelah tepatnya aku mulai terbiasa dengan keabsenannya dalam hidupkuia malah kembali muncul dihadapanku?

Ingin rasanya aku berhenti, melangkah keluar dari mobilku, berlari menghampirinya dan merengkuhnya kedalam pelukanku. Tapi kemudian yang dapat kulakukan hanyalah terus mengendarai mobilku seraya menyaksikan bayangan anggunnya mengecil dan menghilang sempurna melalui kaca spion mobilku.

Aku tidak punya hak untuk membuatnya kembali. Aku tidak pantas, karena mungkin ia telah memandangku sebagai seorang pria yang lahir dari rahim seorang wanita yang kini resmi menjadi ibu tirinya. Dan mungkin keputusannya meninggalkanku dua bulan yang lalu adalah karena ia membenciku. Seperti orang bodoh, aku harus menerima kemungkinan itu. Kemungkinan pahit yang bahkan aku sendiri tidak tau kebenarannya.

Aku mulai memacu kendaraanku ketika aku berhasil keluar dari pakiran basement. Berharap bahwa dengan kecepatan tinggi, aku dapat mengalihkan pikiranku. Berharap bahwa dengan semakin cepat aku menjauh dari keberadaannya, aku dapat kembali terbiasa. Namun nyatanya, aku tidak bisa. Gambaran wajahnya masih terekam jelas didalam benakku dan seberapa keras pun aku mencoba aku tau aku tidak akan sanggup menghapusnya. Aku membanting kemudiku ke bahu jalan yang kemudian diiringi suara klaskson daripengemudi dibelakangku. Tapi aku tidak peduli karena sedetik kemudian waktu terasa mundur kebelakang, kebelakang, dan kebelakang hingga rasanya semua kenangan itu kembali diputar.

.

[Dua bulan yang lalu]

Apa yang kurasakan ketika undangan pernikahan ibuku sampai ditanganku? Aku dapat menjawabnya dengan kata-kata seperti ‘Wah, aku sangat terharu. Setelah sekian lama ibuku ingat juga padaku’ tapi nyatanya itu adalah sebuah kebohongan. Aku tidak terharu. Tidak sama sekali. Herannya, setelah menelantarkan aku diusia lima tahun dan bergonta-ganti pasangan hidup, ia masih berharap aku menghadiri acara pernikahannya itu? Aku selalu marah pada ibuku yang egois yang hanya mementingkan kebahagiaannya. Aku juga berhak bahagia tapi aku tidak bisa. Bagai hidup diatas bayangan ibuku, aku membenci itu. Seolah aku tidak rela melihatnya menjalani hidup bahagia tanpa diriku ataupun tanpa mengingatku didalam hidupnya. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku dapat berdiri sendiri walau tanpa dirinya didalam hidupku. Aku tau dia tidak menginginkanku. Dia mengandungku diluar kehendaknya, bahkan dia sendiri tidak tau siapa ayah kandungku.

Aku bisa saja berpura-pura tidak peduli, tapi jauh didalam lubuk hatiku aku masih menagih perhatian itu, perhatiannya sebagai seorang ibu yang tidak pernah kudapatkan selama ini.

 “Disini, Tuan Kim”

Seorang pramugari cantik dibalut seragam casual ketat serta rok panjang yang membelah disisi kanannya membimbingku pada kursiku. Tidak ingin menghalangi jalan yang kini mulai ramai, aku segera mengikutinya seraya menenteng koper kecil yang hanya berisi beberapa pakaian serta peralatan mandi. Aku mengucapkan terima kasih dan tersenyum padanya ketika kami sudah berdiri disamping kursiku. Pramugari berwajah eropa itu hanya tersipu, wajahnya yang sudah merah akibat blash-on bertambah merah karenanya. Aku tidak bisa menahan senyumku. Wanita memang mudah sekali di tebak. Terlalu membosankan.

 “Kalau kau memerlukan sesuatu, kau bisa memanggilku” ujarnya yang entah mengapa terdengar seperti rayuan ditelingaku, bukan salahku jika pramugari itu merasa tertarik.

Setelah ia berlalu untuk membantu penumpang lainnya, aku menoleh dan menemukan seorang wanita telah duduk disebelah kursiku. Wajahnya tertutup majalah Elle –sebuah majalah fashion terkenal yang covernya pada edisi tersebut menampilkan Lilly Colins sebagai modelnya. Aku tidak dapat mengamatinya lebih jauh karena setelah itu yang kulakukan adalah menaikkan koperku dan memasukkannya kedalam bagasi. Aku mulai sedikit penasaran padanya karena ia tak kunjung menoleh saat aku sudah duduk disebelahnya. Seolah ia terlalu asik dengan dirinya sendiri sampai-sampai ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi disekitarnya.

            “Apa ada yang salah?”

Tiba-tiba saja wanita itu menurunkan majalahnya dan menatapku dengan tatapan kesal. Untuk beberapa detik aku hanya bisa terpaku. Wanita itu benar-benar cantik. Kulitnya putih bersih, tidak terlalu pucat untuk ukuran orang korea. Bentuk pipinya yang tidak chubby maupun tidak tirus membuatnya nampak begitu mempesona. Matanya berwarna coklat tanah, tidak benar-benar bulat namun ujung ekor matanya sedikit meruncing, aku berani bertaruh mata itu akan membentuk bulan sabit terbalik jika wanita itu tersenyum. Alis tipisnya melengkung sempurna mengikuti bentuk matanya yang indah. Sedangkan hidungnya yang mancung sangat pas disandingkan dengan bibir tipisnya yang kini dipoles dengan lipstick berwarna merah darah. Rambutnya sendiri berwarna madu gelap, berombak besar serta panjang hingga menyentuh punggungnya.

“Apa ada yang salah sampai kau terus menatapku seperti itu?” tanyanya lagi kali ini menyuarakan ketidaksukaannya.

            Aku menautkan alis, sedikit sadar bahwa aku telah memperhatikannya sejak pertama aku duduk disebelahnya. Aku menghentikan niatku untuk membuka suara ketika suara ponselnya berbunyi. Sedetik kemudian ia sudah sibuk mencari ponselnya didalam tas, mengabaikanku yang seolah tidak pernah diajaknya bicara dan dengan cepat ia membaca pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya itu. Pesan itu seakan membawa dampak yang buruk baginya karena setelah itu raut wajah wanita itu berubah kecewa. Aku masih memperhatikannya ketika ia  mematikan ponselnya dengan kasar dan memasukkannya kembali kedalam tas.

Wanita itu kemudian membuang tatapannya keluar jendela, memperhatikan pesawat kami yang mulai lepas landas seiring dengan pemberitahuan dari co-pilot melalui speaker. Aku mengalihkan pandanganku pada seorang pramugara berkulit coklat yang kini tengah memberikan instruksi keadaan darurat didepan kabin. Dua belas jam lagi aku akan menginjakkan kaki di Paris, kota yang kata orang-orang adalah kota paling romantis didunia. Paris yang bagiku sendiri tidak lebih dari kota biasa. Atau mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi kota penuh kenangan buruk ketika ibuku meresmikan pernikananya disana. Ya, aku ingin tiba disana, dipernikahannya. Aku ingin memperlihatkan padanya hidupku yang baik-baik saja tanpa kehadirannya.

Setelah instruksi itu berakhir, aku memutuskan untuk tenggelam dialam mimpi ditemani oleh sepasang earphone yang memutarkan lagu jazz classic  kesukaanku.

I had really sweet dreams yesterday
I don’t wanna tell you now
Because I’m too shy – And also it’s known
not very good to tell someone this kind of thing

Dream that I can never have again
That was really sweet
I think you are just like the dream
Dream that I get to keep thinking
about all day – That was really sweet
That’s you

Lalalala hmm
Lalalala hmm

(Baekhyun ft. Suzy – Dream)

.

Aku membuka mata, dan hal pertama yang kulakukan adalah melirik jam tanganku yang kini sudah menunjukan pukul sepuluh malam yang berarti sudah empat jam aku tertidur. Lampu-lampu disepanjang jalan kabin sudah diredupkan, memberi suasana nyaman bagi para penumpang yang sebagian besar sudah terlelap dikursi mereka. Aku menoleh, meregangkan seluruh anggota tubuhku yang mati rasa karena terlalu lama tidur dalam posisi duduk dan menemukan kursi disebelahku kosong. Hanya ada majalah wanita itu yang diletakan secara sembarang diatas kursi.

            Aku berbalik, menolehkan pandanganku pada sepanjang jalan kabin yang mengarah ke toilet, tidak ada satu orang pun yang sedang menunggu antrian di toilet. Aku mematikan musik playerku, melepaskan earphoneku, dan meletakan kedua benda itu pada kantung kursi sebelum akhirnya berlalu menuju toilet. Pintu toilet sudah sedikit terbuka ketika aku sampai didepannya. Tanpa curiga aku melangkah masuk kedalamnya dan betapa kagetnya aku ketika menemukan wanita itu berada disana. Ia tengah berusaha menyeimbangkan dirinya namun gagal dan hampir jatuh jika aku tidak menangkapnya.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku seraya memegangi lengannya agar tidak terjatuh.

Wanita itu menaikkan wajah cantiknya yang ditutupi oleh helaian rambut untuk dapat melihatku. Sedetik kemudian, telunjuk wanita itu sudah terangkat kearahku. Ia menunjukku seperti orang bodoh sebelum akhirnya berkata, “Kau. Kau. Pria playboy yang duduk disebelahku”

            Aroma alkohol yang menyengatkan menguak keluar begitu wanita itu membuka suara, membuatku terpaksa menutup hidungku dengan tangan yang satunya. Wanita itu mabuk. Entah apa yang membuatnya nekat mabuk didalam pesawat seperti ini.

            “Kau tidak seharusnya minum didalam pesawat” nasehatku yang kemudian membuatnya terdiam dan menatapku lekat-lekat.

Selama beberapa detik yang dilakukannya hanya menatapku dalam diam. Sorot matanya yang dalam itu menampakkan kesedihan, seperti ada luka yang tidak kasat mata. Aku bisa merasakan itu karena jauh didalam mataku terdapat kesedihan yang sama. Kesedihan yang hanya untukku sendiri.

“Kau tidak terlihat semanis dan setampan ini tadi” jawab wanita itu asal, seolah memecahkan keheningan yang tercipta diantara kami, tangannya tiba-tiba saja sudah menyentuh pipiku menyebabkan sesuatu seperti sengatan listrik kecil menjalar keseluruh tubuhku.

Aku segera mundur dan merasa bingung atas apa yang baru saja wanita itu lakukan. Aku tidak pernah merasakan sengatan listrik itu sebelumnya. Rasanya aneh. Wanita itu sedikit kaget akan reaksi yang kuberikan, namun yang ia lakukan setelah itu hanyalah tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa.

            “Apa kau masih jual mahal bahkan setelah kau mengoda seorang pramugari didepanku?”

Aku tidak habis pikir dengan apa yang baru saja wanita itu katakan. Rupanya ia sadar akan ketertarikan yang ditunjukan pramugari tadi kepadaku. Tapi itu bukan salahku. Lagipula aku tidak menanggapinya. Jadi sekali lagi, bukan salahku kan jika pramugari itu merasa tertarik? Aku tidak melakukan apapun.

“Aku tidak mengoda pramugari itu” bantahku menyuarakan kebenaran tanpa berniat menjelaskan padanya lebih lanjut.

“Ya, kau mengodanya. Kau tau bahwa pramugari itu menyukaimu, kau menebarkan pesonamu padanya. Seharusnya kau tidak melakukan itu, tapi kau melakukannya. Pria memang sama saja” ungkap wanita itu dengan nada jengkel.

            Wanita itu berusaha menepis tanganku yang masih memegang lengannya namun ia tidak berhasil karena dengan tenaga yang lebih kuat aku menariknya sehingga tanpa sengaja ia masuk kedalam pelukanku. Kami terdiam. Aku bisa merasakan sengatan listrik itu kembali menjalar diseluruh tubuhku. Sekarang hal ini menjadi lebih mengerikan daripada yang bisa kubayangkan.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau terlihat pandai menilai seorang pria. Apa kau juga pandai menaklukannya?” ucapku tanpa sadar dan sedetik kemudian yang bisa kulakukan hanyalah mengutuki diriku sendiri atas pertanyaan bodoh yang meluncur keluar begitu saja.

Wanita itu terdiam untuk yang kesekian kalinya, ia bahkan tidak memberontak didalam pelukanku. Aku tau seharusnya dengan segera aku melepaskan pelukan tidak disengaja itu, namun entah bagaimana semua itu terasa pas. Rasanya begitu nyaman, seolah aku tidak rela bila wanita itu memisahkan dirinya dari pelukanku.

            “Apa itu berarti kau juga sudah takluk padaku?” jawab wanita itu memutar balikan pertanyaan yang kulontarkan secara enteng.

Pertanyaan itu seperti tamparan kecil dipipiku yang anehnya tidak dapat ku jawab dengan mudah. Wanita itu sangat mempesona bahkan dalam keadaan mabuk seperti itu tapi bukan berarti aku takluk padanya kan? Aku ini Kim Myungsoo, pria yang selalu berhasil menaklukan seorang wanita, bukan sebaliknya.

“Sayangnya tidak” jawabku sekenanya.

            Wanita itu menatapku tidak percaya seakan-akan aku baru saja berbohong padanya. Ia kemudian menarik tengkukku, mendekatkan bibirnya pada telingaku dan berbisik jelas disana, “Tapi sayangnya, aku tidak percaya. Tidak ada pria yang berani menolakku”

Sedetik kemudian bibir wanita itu sudah menyatu dengan bibirku. Aku hanya bisa membulatkan mata ketika sentuhan lembut bibirnya dibibirku terasa begitu nyata. Rasa sentuhan itu manis,  terdapat sedikit rasa pahit alkohol yang memabukkan dan aku tidak bisa menghindarinya. Aku pun tidak berniat menghindar. Wanita itu kini menutup matanya dan kembali menarik tengkukku untuk memperdalam ciuman kami, ia terlihat sangat ahli dalam hal ini. Aku bahkan berani bertaruh bahwa dia sudah sering mencium banyak pria sebelumnya. Tentu saja, pria pasti akan tertarik padanya seperti magnet disaat pertama kali mereka melihatnya. Membayangkan itu entah mengapa membuatku tiba-tiba merasa panas. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya terhadap seorang wanita dan hal ini sukses membuatku merasa tak berdaya. Tidak mungkin aku takluk padanya bukan? Itu tidak seperti diriku. Wanita hanyalah mainan untukku. Ya, tidak mungkin. Aku masih asik memungkiri kemungkinan itu sampai..

BRUK.

            Wanita itu pingsan dan sukses terjatuh dihadapanku sebelum aku sempat menangkapnya.

Flight Kiss End

.

Pertama-tama aku mau minta maaf karena FF ini baru keluar setelah sekian lama. Part 2 ini sebenernya udh selesai dari lama, tp tiba-tiba aja rasanya ada yg ga pas gt, pengen ku ubah total, tp krna ga ada wktu akhirnya ya begini jadinya. Mudah-mudahan aja kalian suka. Aku berharap tanggapan dari para readers, oke? Krna kalo commentnya kurang aku kurang semangat jg bikinnya. Wkwkws, anyway untuk versi Myungsoo yang ini belum terlalu panjang, karena ini masih bagian pembuka, saat Suzy dan Myungsoo ketemu pertama kali di pesawat, karena disini juga Suzynya masih jutek banget dan ga banyak ngomong karena suasana hatinya yang selalu extreme, apalagi setelah itu Suzy mabuk. Jadi maklum aja klo cuma dikit ya ff yg bagian ini. Ditunggu kelanjutannya!

P.S : untuk yg part 3 ga akan ada flash back, nnti ada flash back lagi di part selanjutnya.

 

Advertisements

14 responses to “[Freelance] A Game Chapter 2: Flight Kiss

  1. Ternyata myungsoo adalah saudara tirinya suzy,sebenarnya myungzy menyadari jika mereka saling cinta hanya saja mereka slalu menyangkalnya.dan soojung apakah dia akan membenci suzy? lalu myungsoo akankah ia mnjelaskan semuanya pda soojung dan mulai menghindari suzy?

  2. Ternyata begini awal pertemuan mereka, karena ketikdaksengajaan atau ini yg disebut takdir… saat kedua orang tua mereka menikah, mereka dipertemukan dan saling jatuh cinta tanpa tau cinta mereka terhalang status… ditambah Myungsoo jg adalah kekasih Soojung, sepupu Suzy… apakah hubungan Myungsoo dan Soojung masih berlanjut hingga sekarang? akankah masih ada jalan untuk cinta Myungsoo dan Suzy? sangat ditunggu next partnya, gomawo 🙂

  3. jadi ceritanya disini myungsoo jadi playboy dan suzy playgirl…lucu juga, nanti klo di gabungin kayak gimna yah?
    next part…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s