[Vignette] Recall

recall

July, 2016©

Bae Suzy and Kim Myungsoo | AU, College-life, Friendship, Romance, Sad | Vignette, (maybe) Stand-Alone | PG 13 |

disclaimer: beside the poster and story-line, I own nothing. The fan-fiction is made under Little Thief’s approval. Sooji and Myungsoo’s on this fan-fiction characterization belongs to Little Thief.

Must have checked them before read this one: Tard, Photos, Name and Signature, What He Dreamed of

.

.

Sooji melihat kenangan kosongnya. Di sana. Universitas Konkuk.

.

.

Terhitung sudah dua musim panas Sooji lewati di kota Helsinki. Ibukota negara Uni Eropa yang katanya terbilang cukup belia jika dibandingkan dengan kota-kota besar perlambang Eropa yang lain. Sinar mentari awal musim panas enggan melelehkan reruntuhan dingin musim salju yang tumbuh di hati Sooji.  Dingin itu terlanjur beku. Beku yang tersulam selimut padat menyelimuti satu dua babak memori dalam hati, bersama lelaki. Lelaki yang nun jauh beribu-ribu kilometer terhempas darinya.

Kelas pagi masih menyisakan dua jam untuk dimulai. Sooji memilih untuk melambatkan tempo converse semata kakinya menuju Hämeentie. Di sepanjang jalan, menjuntai deretan bangunan bergaya neo klasik yang mendekati mirip-mirip gaya Yunani klasik. Sooji menyadarinya karena telah menempuh beberapa ilmu dasar mengenai hal tersebut pada Ilmu Pengantar Arstitektur di semester awal.

Gedung bercorak putih bersih di samping kiri Suzy ditopang oleh kolom-kolom yang berdiri bebas dan asimetris. Garis atapnya horizontal, tidak dibubuhi menara fasade seperti arsitektur baroque Timur tengah atau minaret yang menyapa langit pada sentuhan renaissance. Jendela besar yang bersifat sculptural terbentang bukan sebagai hiasan semata, melainkan sebagaimana fungsinya untuk menyalurkan cahaya keemasan mentari pagi ke dalam ruangan. Sooji ketahui sudah lama, gedung berarsitektur neo klasik total ini adalah sebuah bank kota asuhan pemerintah.

Entah mengapa ia bisa terjun hingga terbuai ke dalam pesona arsitektur sedemikian rupa. Seperti halnya Sooji yang dulu benar-benar seratus delapanpuluh derajat berbeda dengan yang sekarang.

Soal keberadaan diri di tengah masyarakat, pengakuannya hanya tertumbuk di atas selembar kertas absen. Paling anti dengan kerumunan, mirip orang purba yang tidak suka keluar gua. Boros berdiam diri alias paling berat menggerakan mulut barang seinci. Boro-boro soal desain, memilih kursi yang bagus saja ia tidak mampu. Nama-nama beken yang menggandrungi Sooji semasa remaja paling mentok hanya Kang Dongwon, aktor idaman sepanjang masanya.

Sekarang titel mahasiswi penuh kawan segudang aktifitas menempelinya. Mengikuti kelas arsitektur mengundang sisi menyenangkan seorang Bae Sooji yang dibiarkan menyendiri begitu lama. Bagi para dosen, Bae Sooji adalah kesayangan dengan buntut prestasi akademik yang menentramkan hati. Nicholas Revett, Émile Gallé, Carlo Bugatti, Johann Winckelmann, Carl Larson, dan sebongkah arsitek serta penggiat karya seni seantero jagad lainnya pun penuh sesak di dalam otak, sudut-sudut catatan kuliahnya, serta menjadi referensi dirinya dalam berekspresi diri.

Andai boleh hatinya terkenang ke beberapa bulan yang lalu, saat mengikuti seminar internasional di kampung halaman, Korea selatan. Sooji ingin sekedar mengenang meski tahu ujungnya hanya sebuah kenangan kosong. Hampa yang dibiarkan menjadi-jadi. Ia pun kembali ke sana hanya sekedar singgah sementara. Diamanatkan oleh Dekan Fakultas atas rekomendasi langsung tentu pantang Sooji men-tidak-kannya. Berkata -tidak kepada petinggi kampus sama saja dengan makan buah khuldi.

Sooji melihat kenangan kosongnya. Di sana. Universitas Konkuk.

Ingin menyapa, menanyakan kabar, atau saking edannya ingin menghamburkan peluk kangen. Rindu yang melilit tak tanggung-tanggung. Namun gadis itu terlalu bingung. Sehingga dalam menit yang terbuang, Sooji hanya kuasa mengamatinya, merindukannya di bawah naungan pohon persik yang daunnya lebat dan rindang. Kim Myungsoo yang dirindukan oleh Sooji.

Tidak tanggung-tanggung kehampaan yang mengingtimidasi sekeping hati milik Sooji. Myungsoo yang sekejap terasa dekat dengannya tiba-tiba menjauh karena usaha gadis itu sendiri. Terlambat untuk menyadari betapa Myungsoo mengisi peran paling esensial dalam pagelaran drama hatinya. Tak ayal, memicu debit penyesalan mengisi penuh tangki kehidupannya. Mengapa tidak Suzy hampiri Myungsoo duluan saat itu?

Hai, Soo. Ini aku, Myungsoo. Bagaimana kabarmu? Rindu sekali rasanya.

Pesan yang tiba-tiba mengudara beserta notifikasi pertemanan yang diterima oleh Myungsoo menyisakan teka-teki. Teka-teki yang tidak butuh jawaban. Rindu yang saling bertepuk kedua tangan. Satu dua waktu, membuatnya semakin yakin jika seminar internasional yang akan dilalui adalah jalan menuju penuntasan rindu. Peniadaan waktu.

Akan tetapi, semua angan dan karsa setinggi Himalaya itu luluh lantak oleh bisikan durjana. Balas aksi bungkam balasan Myungsoo selagi perpisahan ke Finlandia, ia melakukan hal yang serupa. Namun, setelah pesan dan konfirmasi pertemanan, juga aksi pembalasan salah kaprah, Myungsoo belum menyapanya lagi. Sooji berpikir kembali, apakah mungkin ia yang harus mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada Myungsoo?

Berjalan selagi berangan-angan adalah pilihan yang tidak oke di sepanjang trotoar jalan sudut Helsinki. Tanpa sengaja, Sooji membentur bahu pria lansia yang berjalan di depannya. Pria itu pun lekas menoleh dan melayangkan tatapan tidak suka.

Titta en sådan där väg. Var försiktig, Fröken.ketus pria tua itu.

Jag är ledsen.2 Sooji berlisan sambil menunduk maaf. Tidak menggubris cemoohan Tuan Eropa itu tentang paradoks remaja yang menyusahkan kaum konvensional macam dirinya.

Sebetulnya, ingin Sooji berkata kasar kepada dirinya sendiri. Melamun soal Kim Myungsoo dan segala hal tentangnya takkan ada habisnya. Takaran hati masing-masing menjadi rahasia yang hanya bisa Tuhan terjemahkan. Sooji menarik napas dengan lambat dan menghempaskannya dengan kencang. Tipikal orang dungu dan si lebih dungu dalam hal percintaan, sama-sama dirundung ego.

Sekonyong-konyong tas tenteng berisi sepasang buku sketsa dan sekotak pensil warna Sooji dekap di atas dada. Ponsel yang terjerembab di bawah kertas orak-ariknya dia ambil. Jarinya lekas mengotak-atik menu di ponsel tersebut, membawanya menuju sebuah pesan singkat yang siap dikirim ke penerima. Akan tetapi Sooji urung menekan opsi kirim. Mematung lagi ia seperti Loie Fuller berlapis perungu, penari yang dijadikan model lampu meja oleh François-Raoul Larche.

Senyum setipis benang itu terpeta, menandakan perkara lain yang akan ambil alih cerita. Sooji menjauhkan diri dari tengah jalan trotoar agar tidak menjadi objek tubrukan pengguna jalan. Lambaian sinar mentari mulai merangsek melalui ranting dan dahan menguning pohon oak tepat di seberang jalan. Sorotnya seolah menegaskan Sooji harus menuntaskan perkara yang dibuat oleh hatinya dan Myungsoo itu.

Ponselnya berpindah posisi tepat di atas cuping telinga Sooji. Satu dua nada sambung terangkai dengan indah sebelum dipangkas oleh vokal berat khas orang tidur di sana.

“Ha-halo?”

“Myung, “

“…….”

Anu, rindunya boleh aku balas ‘kan. So, I miss you too, like a lot.

Setelahnya, sambungan suara internasional itu Sooji akhiri. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan jawaban yang pasti itu biar Myungsoo kirim lewat hati.

Tamat.

.

.

1: Perhatikan jalanmu. Hati-hati, Nona!”

2: Maaf. 


a/n:

Halo! Lama ngga berjumpa, haha. Dan setelah lama terhempas, saya balik dengan penuntasan janji (muuph banget lama jadinya, Nad,huhu) kepada Nadia a.k.a. Little Thief soal ketiga cerbung SoojixMyungsoo gubahannya. So, this is it!^^ semoga kamu suka ya, (harus suka pokoknya :””) haha. Dan sorry sekali, Sooji-nya kubuat agak mellow. Hihi.

dan untuk karib kesayanganku yang sedang hectic di sana, Ardani a.k.a. @missofbeatr thank you for the coolest bday gift ever like always^^

Anyway, thank you and Happy Eid Fitri. Selamat hari raya idul fitri, teman-teman! Atas nama pribadi, saya mohon maaf lahir dan batin kepada teman-teman atas segala ucapan dan perbuatan saya. Mari kita jadi insan yang lebih baik lagi, ok. ^^

Selamat berliburrrr!!~

22 responses to “[Vignette] Recall

  1. udah tamat beneran??? enggak kan thor.. minimal 1 ficlet lanjutan lagi ajaa.. ayolah… gemes nih kalo tamat disini…

  2. Mmg sdh gayanya kak Xian… punya penggambaran n monolog yg panjang dan dalam. Next ini ada kelanjutannya kan kak? Request u lebih perpanjang percakapan antara Myung n Sooji ya kak… u lbh menambah progress hub. Keduanya. Makasih byk n hbd kaka Xian

    • Hi, Nina~
      well thanks atas review-nya. hihi, untuk kelanjutannya bisa kamu tanya ke Little Thief ya :p

      aww thanks to you too, Nina! terimakasih atas ucapannya bday-nya jugaa🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s